Anda di halaman 1dari 7

BAB II

LANDASA TEORI

1. Definisi

a. Plasenta previa adalah yang ada didepan jalan lahir, (prae: didepan;

vias: jalan). Jadi yang dimaksud adalah plasenta yang implantasinya tidak

normal ialah rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian osium

internum. Implantasi plasenta yang normal ialah pada dinding depan atau

dinding belakang rahim didaerah fundus uteri.

Plasenta previa dibagi kedalam tiga bagian yaitu:

1) Plasenta previa totalis: seluruh internum tertutup oleh plasenta.

2) Plasenta previa lateralis: hanya sebagian dari ostium tetutup oleh plasenta.

3) Plaseta previa marginalis: hanya pada pingir ostium terdapat jaringan

plasenta. (Obsterti Patologi, Edisi 1984).

b. Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen

bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum.

(pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2001).

c. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya subnormal, yaitu pada

segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi seluruh atau sebagian jalan

lahir. (Mansjoer, A,Et al.2001).

2. Etiologi

Belum diketahui pasti, frekuensi plasenta previa menigkat pada grade multi

para. Primigravida tua. Bekas seksiosesarea, bekas aborsi, kelainan janin dan

leiomioma uteri. (Mansjoer, A. Et. Al, 2001).

4
a. Anamnesis: Perdarahan jalan lahir berwana merah segar tanpa rasa nyeri.

Tanpa sebab terutama pada multi para.

b. Pemeriksaan fisik

1) Pemeriksaan luar, bagian tebawah janin biasanya belum masuk pintu atas

panggul. Ada kelainan letak jain.

2) Pemeriksaan inspekulo, perdarahan berasal dari usteum uteri eksternum.

c. Penentun letak plasenta secara lansung baru dikerjakan jika fasilitas lain tidak

ada dan dilakukan dalam keadaan siap operasi, disebut dalam pemeriksaan

dalam meja operasi(PDMO), caranya sebagai berikut:

1) Perabaan fornik, hanya bermakna jika janin persentasi kepala. Sambil

mndorong sedikit kepala janin kearah pintu atas panggul. Perlahan-lahan

raba seluruh forniks dengan jari. Perabaan lunak jika antara jari dan kepala

terdapat plasenta.

2) Pemeriksaan melalui kanalis servikalis, setelah pada perabaan forniks

dicurigai adanya plasenta previa. Bila kanalis servikalis telah terbuka,

perlahan-lahan masukan jari sekali-sekali berusaha menyusuri pinggir

plasenta seterusnya karena mungkin plasenta akan terlepas dari inersinya.

(Mansjoer A.Et al.2001).

3. Pemeriksaan diagnostic

Jika seorang wanita hamil terjadi perdarahan pada triwulan terahir maka

plasenta previa dan solusio plasenta harus diduga. (Obstetri Patologi, edisi 1984).

Jika dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dalam pada perdarahan

antepartum. Pemeriksaan inspekulo secara hati-hati dan benar dapat menentukan

5
sumber perdarahan dari kanalis servisis atau sumber lain. (Servisis, Poli,

Keganasan, laserasi atau trauma).

Pemeriksaan ultra sonografi; dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan

inplantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium. Bila jarak tepi

tersebut kurang dari 5 cm disebut plasenta previa. Lakukan pemeriksaan

inspekulo untuk melihat sumber perdarahan lain. (Servik, Forniks, atau dinding

vagina).

Diagnosa plasenta previa secara definitive dilakukan dengan PDMO, yaitu

melakukan perabaan plasenta secara lansung melalui pembukaan serviks. Pada

perdarahan yang sangat banyak dan pada ibu dengan anemia berat tidak

dianjurkan dilakukan PDMO (melakukan perabaan plasenta secara lansung

melalui pembukaan serviks). Sebagai upaya menentukan diagnosis.

(Pelayanan kesehatan meternal dan neonatal 2001).

Sebelum tersedia darah dan kamar operasi siap tidak boleh dilakukan

pemeriksaan dalam, karena pemeriksaan dalam itu dapat menimbulkan

perdarahan yang membahayakan.

Sementara boleh dilakukan pemeriksaan fornices dengan hati-hati; jika

tulang kepala dan suturae-suturaenya dapat teraba dengan mudah, maka

kemungkinan plasenta previa kecil, sebaiknya jika antara jari-jari kita dan kepala

teraba bantalan (ialah jaringan plasenta), maka kemungkinan plasenta previa besar

sekali.

Diagnosisi pasti kita buat dengan pemeriksaan dalam dikamar operasi dan

kalau sudah ada pembukaan. (obsterti patologi edisi 1984)

6
4. Penatalaksanaan

a. Terapi ekopektif

1) Tujuan terapi ekopektif ialah supaya janin tidak terlahir premature,

penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis

servikalis. Upaya diagnosis dilakukan secara non-infansif pemantauan

klinis dipantau secara ketat dan baik.

Syarat-syarat terapi ekopektif:

a) Kehamilan preterm dan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.

b) Belum ada tanda-tanda inpartu.

c) Keadaan umum ibu cukp baik.

d) Janin masih hidup.

2) Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotic profilaksis.

3) Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui inplantasi plasenta, usia

kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi janin.

4) Berikan tokolitik jika ada kontaraksi.

a) MgSO4 4 grm iv dosis awal dilanjutkan 4grm setiap 6 jam.

b) Betametason 24 mg iv dosis tunggal untuk pematangan paru janin.

5) Uji pematangan paru janin dengan tes kocok(bubble tes) dan hasil

amniosentesis.

6) Bila setelah usia kehamilan diatas 24 minggu, plasenta masuh berada

disekitar ostium uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi

jelas, sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi

kemungkinan keadaan gawat janin.

7
b. Terapi aktif

1) Wanita hamil diatas 2 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif

dan banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang

maturnitas janin.

2) Untuk diagnosis plasenta previa dan menetukan cara menyelesaikan

persalinan, setelah semua persyaratan terpenuhi, lakukan PDMO jika:

a) Infuse atau tranfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap.

b) Kehamilan ≥ 37 minggu (BB 2500 grm) dan inpartu.

c) Janin telah meniggal atau terdapat anomaly konginetal mayor (missal:

anensefali).

d) Perdarahan dengan bagian bawah janin telah jauh melewati pintu atas

panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).

Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa adalah:

1) Seksio sesarea

a) Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk

menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tidak

punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilaksanankan.

b) Tujuan seksio sesarea.

 Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera

berkontraksi dan menghentikan perdarahan.

 Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks

uteri, jika janin dilahirkan pervaginam.

8
c) Tempat inplantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi

sehingga serviks uteri dan sekmen bawah rahim menjadi tipis dan

mudah robek. Selain itu, bekas tempat inplantasi plasenta sering

menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi

dan susunan stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu

d) Lakukan perawatan lanjut paska bedah termaksud pemantauan

perdarahan, infeksi dan keseimbangan cairan masuk, keluar.

2) Melahirkan pervaginam

Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta.

Penekanan dapat dilakukan sebagai berikut:

a) Amniotomi dan akselerasi

Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/marginalis dengan

pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecahkan

ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan

oleh kepal bawah janin. Jika kontraksi uteri belum ada atau masih

lemah, aselerasi dengan infuse oksitosin.

b) Versi Braxton hicks

Tujuan melakukan brakton hicks ialah mengadakan tamponade

plasenta dengan bokong dan kaki janin. Versi brakton hicks tidak

dilakukan pada janin yang masih hidup.

c) Traksi dengan cunamwillet.

Kulit kepala janin dijepit dengan cynam willet, kemudian beri beban

secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif

9
untuk menekan plasenta dan sering kali menyebabkan perdarahan kulit

kepala. Tindakan ini dikerjakan pada janin sudah meninggal dan

perdarahan yang tidak aktif.

5. Komplikasi

Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan. Anemia

akibat perdarahan plasentitis, dan endometriosis. Pasca persalinan pada janin

biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasi seperti aspeksia berat.

(Manjoer A,Et al 2001).

10