Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

SELULITIS

Dosen Pembimbing : Ns.Lestari Makmuriana,M.Pd.,M.Kep

Disusun Oleh :
Nama : S U S A N T I
NIM : SRP20317125

PROGRAM STUDI NERS TAHAP PROFESI REGULER B KHUSUS

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMADIYAH

PONTIANAK

TAHUN AJAR 2020/2021


LAPORAN PENDAHULUAN
SELULITIS

I. KONSEP PENYAKIT

A. Definisi

Selulitis adalah peradangan akut terutama menyerang jaringan subkutis, biasanya


didahului luka atau trauma dengan penyebab tersering Streptokokus
betahemolitikus dan Stafilokokus aureus. Sellulitis adalah peradangan pada
jaringan kulit yang mana cenderung meluas kearah samping dan ke dalam (Herry,
1996). Selulitis merupakan inflamasi jaringan subkutan dimana proses inflamasi,
yang umumnya dianggap sebagai penyebab adalah bakteri S.aureus dan atau
Streptococcus ( Arif Muttaqin, hal 68, 2011 ).

Selulitis merupakan suatu penyebaran infeksi bakteri ke dalam kulit dan jaringan
di bawah kulit. Infeksi dapat segera menyebar dan dapat masuk ke dalam
pembuluh getah bening dan aliran darah. Jika hal ini terjadi, infeksi bisa menyebar
ke seluruh tubuh.Selulitis merupakan infeksi pada lapisan kulit yang lebih dalam.
Dengan karakteristik sebagai berikut :

1. Peradangan supuratif sampai di jaringan subkutis.


2. Mengenai pembuluh limfe permukaan.
3. Plak eritematus, batas tidak jelas dan cepat meluas.
B. Klasifikasi

Selulitis dapat dibagi menjadi 3 yaitu selulitis sirkumskripta serous akut, selulitis
sirkumskripta supuratif akut dan selulitis difus akut.

1. Selulitis Sirkumskripta Serous Akut

Selulitis yang terbatas pada daerah tertentu yaitu satu atau dua spasia fasial, yang
tidak jelas batasnya.Infeksi bakteri mengandung serous, konsistensinya sangat
lunak dan spongius.Penamaannya berdasarkan ruang anatomi atau spasia yang
terlibat.

2. Selulitis Sikrumskripta Supuratif Akut

Prosesnya hampir sama dengan selulitis sirkumskripta serous akut, hanya infeksi
bakteri tersebut juga mengandung suppurasi yang purulen. Penamaan berdasarkan
spasia yang dikenainya.Jika terbentuk eksudat yang purulen, mengindikasikan
tubuh bertendensi membatasi penyebaran infeksi dan mekanisme resistensi lokal
tubuh dalam mengontrol infeksi.

3. Selulitis Difsus Akut

Selulitis difus yang paling sering dijumpai adalah Phlegmone / Angina Ludwig’s .
Angina Ludwig’s merupakan suatu selulitis difus yang mengenai spasia
sublingual, submental dan submandibular bilateral, kadang-kadang sampai
mengenai spasia pharyngeal. Selulitis dimulai dari dasar mulut.Seringkali
bilateral, tetapi bila hanya mengenai satu sisi/ unilateral disebut Pseudophlegmon.
C. Anatomi Fisiologi

Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar karena posisinya


yang terletak di bagian paling luar. Luas kulit dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-
kira 15% berat badan.

1. Lapisan Epidermis (kutikel) Lapisan epidermis terdiri dari :


a. Stratum Korneum (lapisan tanduk)
Lapisan kulit paling luar yang terdiri dari sel gepeng yang mati, tidak berinti,
protoplasmanya berubah menjadi keratin (zat tanduk).
b. Stratum Lusidum
Terletak di bawah lapisan korneum, lapisan sel gepeng tanpa inti, protoplasmanya
berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini lebih jelas tampak pada
telapak tangan dan kaki.
c. Stratum Granulosum (lapisan keratohialin)
Merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan
terdapat inti di antaranya. Butir kasar terdiri dari keratohialin. Mukosa biasanya
tidak mempunyai lapisan ini.
d. Stratum Spinosum (stratum Malphigi) atau prickle cell layer (lapisan
akanta )
Terdiri dari sel yang berbentuk poligonal, protoplasmanya jernih karena banyak
mengandung glikogen, selnya akan semakin gepeng bila semakin dekat ke
permukaan. Di antara stratum spinosum, terdapat jembatan antar sel (intercellular
bridges) yang terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau keratin. Perlekatan antar
jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero.
Di antara sel spinosum juga terdapat pula sel Langerhans.
e. Stratum Basalis
Terdiri dari sel kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-
epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Sel basal bermitosis dan berfungsi
reproduktif.
f. Sel kolumnar
Protoplasma basofilik inti lonjong besar, di hubungkan oleh jembatan antar sel.
g. Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell
Sel berwarna muda, sitoplasma basofilik dan inti gelap, mengandung pigmen
(melanosomes

2. Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin)


Terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa pada dengan elemen-elemen selular dan
folikel rambut.
a. Pars Papilare
Bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh
darah.
b. Pars Retikulare
Bagian bawah yang menonjol ke subkutan. Terdiri dari serabut penunjang seperti
kolagen, elastin, dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri dari cairan kental
asam hialuronat dan kondroitin sulfat, dibagian ini terdapat pula fibroblas. Serabut
kolagen dibentuk oleh fibroblas, selanjutnya membentuk ikatan (bundel) yang
mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat elastin,
seiring bertambahnya usia, menjadi kurang larut dan makin stabil. Retikulin mirip
kolagen muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf, dan
mudah mengembang serta lebih elastis.
3. Lapisan Subkutis (hipodermis)
Lapisan paling dalam, terdiri dari jaringan ikat longgar berisi sel lemak yang
bulat, besar, dengan inti mendesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah.
Sel ini berkelompok dan dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel
lemak disebut dengan panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan.
Di lapisan ini terdapat saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Lapisan
lemak berfungsi juga sebagai bantalan, ketebalannya berbeda pada beberapa
kulit. Di kelopak mata dan penis lebih tipis, di perut lebih tebal (sampai 3 cm).
Vaskularisasi di kulit diatur pleksus superfisialis (terletak di bagian atas dermis)
dan pleksus profunda (terletak di subkutis).

D. Fisiologi kulit

1. Fungsi Proteksi

Kulit punya bantalan lemak, ketebalan, serabut jaringan penunjang yang dapat
melindungi tubuh dari gangguan :

a. fisis/ mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.

b. kimiawi : iritan seperti lisol, karbil, asam, alkali kuat

c. panas : radiasi, sengatan sinar UV

d. infeksi luar : bakteri, jamur

Beberapa macam perlindungan :


a. Melanosit melindungi kulit dari pajanan sinar matahari dengan
mengadakan tanning (penggelapan kulit)

b. Stratum korneum impermeable terhadap berbagai zat kimia dan air.

c. Keasaman kulit kerna ekskresi keringat dan sebum merupakan


perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun jamur

d. Proses keratinisasi sebagai sawar (barrier) mekanis karena sel mati


melepaskan diri secara teratur.

2. Fungsi Absorpsi

Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit ikut
mengambil fungsi respirasi. Kemampuan absorbsinya bergantung pada ketebalan
kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme, dan jenis vehikulum. PEnyerapan dapat
melalui celah antar sel, menembus sel epidermis, melalui muara saluran kelenjar.

3. Fungsi Ekskresi

Mengeluarkan zat yang tidak berguna bagi tubuh seperti NaCl, urea, asam urat,
dan amonia. Pada fetus, kelenjar lemak dengan bantuan hormon androgen dari
ibunya memproduksi sebum untuk melindungi kulitnya dari cairan amnion, pada
waktu lahir ditemui sebagai Vernix Caseosa.

4. Fungsi Persepsi

Kulit mengandung ujung saraf sensori di dermis dan subkutis. Saraf sensori lebih
banyak jumlahnya pada daerah yang erotik.

a. Badan Ruffini di dermis dan subkutis peka rangsangan panas

b. Badan Krause di dermis peka rangsangan dingin

c. Badan Taktik Meissner di papila dermis peka rangsangan rabaan

d. Badan Merkel Ranvier di epidermis peka rangsangan rabaan

e. Badan Paccini di epidemis peka rangsangan tekanan


f. Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh (termoregulasi)

Dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi)


pembuluh darah kulit. Kulit kaya pembuluh darah sehingga mendapat nutrisi yang
baik. Tonus vaskuler dipengaruhi oleh saraf simpatis (asetilkolin). Pada bayi,
dinding pembuluh darah belum sempurna sehingga terjadi ekstravasasi cairan dan
membuat kulit bayi terlihat lebih edematosa (banyak mengandung air dan Na).

5. Fungsi Pembentukan Pigmen

Karena terdapat melanosit (sel pembentuk pigmen) yang terdiri dari butiran
pigmen (melanosomes).

6. Fungsi Keratinisasi

Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan, sel basal yang
lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin
ke atas sel makin menjadi gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin
lama inti makin menghilang dan keratinosit menjadi sel tanduk yang amorf.
Proses ini berlangsung 14-21 hari dan memberi perlindungan kulit terhadap
infeksi secara mekanis fisiologik.

7. Fungsi Pembentukan Vitamin D

Kulit mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tapi


kebutuhan vit D tubuh tidak hanya cukup dari hal tersebut. Pemberian vit D
sistemik masih tetap diperlukan.

E. Etiologi

Penyakit Selulitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur, namun
ada beberapa penyebab lain dari selulitis yaitu :

1. Infeksi bakteri dan jamur

a. Disebabkan oleh Streptococcus grup A dan Staphylococcus aureus


b. Pada bayi yang terkena penyakit ini dibabkan oleh Streptococcus grup B

c. Infeksi dari jamur Aeromonas Hydrophila, tapi Infeksi yang diakibatkan jamur
termasuk jarang.

d. S. Pneumoniae (Pneumococcus)

e. Penyebab lain :

1) Gigitan binatang, serangga, atau bahkan gigitan manusia.


2) Kulit kering
3) Eksim
4) Kulit yang terbakar atau melepuh
5) Diabetes
6) Obesitas atau kegemukan
7) Pembekakan yang kronis pada kaki
8) Penyalahgunaan obat-obat terlarang
9) Menurunnya daya tahan tubuh
10) Cacar air
11) Malnutrisi

12) Gagal ginjal

F. Faktor -faktor yang memperparah perkembangan selulitis :

1. Usia

Semakin tua usia, kefektifan sistem sirkulasi dalam menghantarkan darah


berkurang pada bagian tubuh tertentu. Sehingga abrasi kulit potensi mengalami
infeksi seperti selulitis pada bagian yang sirkulasi darahnya memprihatinkan.

2. Melemahnya sistem immun (Immunodeficiency)

Dengan sistem immune yang melemah maka semakin mempermudah terjadinya


infeksi. Contoh pada penderita leukemia lymphotik kronis dan infeksi HIV.
Penggunaan obat pelemah immun (bagi orang yang baru transplantasi organ) juga
mempermudah infeksi.
3. Diabetes mellitus

Tidak hanya gula darah meningkat dalam darah namun juga mengurangi sistem
immun tubuh dan menambah resiko terinfeksi. Diabetes mengurangi sirkulasi
darah pada ekstremitas bawah dan potensial membuat luka pada kaki dan menjadi
jalan masuk bagi bakteri penginfeksi.

4. Cacar dan ruam saraf

Karena penyakit ini menimbulkan luka terbuka yang dapat menjadi jalan masuk
bakteri penginfeksi.

5. Pembangkakan kronis pada lengan dan tungkai (lymphedema)

Pembengkakan jaringan membuat kulit terbuka dan menjadi jalan masuk bagi
bakteri penginfeksi.

6. Infeksi jamur kronis pada telapak atau jari kaki

Infeksi jamur kaki juga dapat membuka celah kulit sehinggan menambah resiko
bakteri penginfeksi masuk

7. Penggunaan steroid kronik

Contohnya penggunaan corticosteroid.

8. Penyalahgunaan obat dan alcohol

Mengurangi sistem immun sehingga mempermudah bakteri penginfeksi


berkembang.

9. Malnutrisi

Selain pengaruh dari nutrisi yang buruk, lingkungan tropis, panas, banyak debu
dan kotoran, mempermudah timbulnya penyakit ini.

G. Patofisiologi
Invasi bakteri masuk melalui trauma, luka, gigitan serangga berinvasi
streptokokus dan staphylococcus aureus melalui barier epidermal yang rusak
menyerang kulit dan subkutan, masuk ke jaringan yang lebih dalam dan menyebar
secara sistemik yang menyebabkan terjadinya reaksi infeksi/inflamasi yang
merupakan respon dari tubuh sehingga muncul nyeri, pembengkakan kulit, lesi
kemerahan dan demam.

Bakteri pathogen yang menembus lapisan luar menimbulkan infeksi pada


permukaan kulit atau menimbulkan peradangan. Penyakit infeksi sering berjangkit
pada orang gemuk, rendah gizi, orang tua dan pada orang dengan diabetes
mellitus yang pengobatannya tidak adekuat.

Gambaran klinis eritema lokal pada kulit dan sistem vena serta limfatik
pada ke dua ekstremitas atas dan bawah. Pada pemeriksaan ditemukan kemerahan
yang karakteristi hangat, nyeri tekan, demam dan bakteri.

Selulitis yang tidak berkomplikasi paling sering disebabkan oleh


streptokokus grup A, streptokokus lain atau staphilokokus aereus, kecuali jika
luka yang terkait berkembang bakterimia, etiologi microbial yang pasti sulit
ditentukan, untuk abses lokalisata yang mempunyai gejala sebagai lesi kultur pus
atau bahan yang diaspirasi diperlukan. Meskipun etiologi abses ini biasanya
adalah stapilokokus, abses ini kadang disebabkan oleh campuran bakteri aerob
dan anaerob yang lebih kompleks. Bau busuk dan pewarnaan gram pus
menunjukkan adanya organisme campuran.

Ulkus kulit yang tidak nyeri sering terjadi. Lesi ini dangkal dan
berindurasi dan dapat mengalami infeksi. Etiologinya tidak jelas, tetapi mungkin
merupakan hasil perubahan peradangan benda asing, nekrosis dan infeksi derajat
rendah.

H. Manifestasi Klinis
Selulitis menyebabkan kemerahan atau peradangan yang terlokalisasi.
Kulit tampak merah, bengkak, licin disertai nyeri tekan dan teraba hangat. Ruam
kulit muncul secara tiba-tiba dan memiliki batas yang tegas. Bisa disertai memar
dan lepuhan-lepuhan kecil. Gejala lainnya adalah :

1. Demam

2. Nyeri kepala

3. Nyeri otot

4. Tidak enak badan

5. Malaise

6. Edema

7. Lesi

I. Komplikasi

1. Bakteremia

2. Nanah atau local Abscess

3. Superinfeksi oleh bakteri gram negative

4. Lymphangitis

5. Trombophlebitis

6. Sellulitis pada muka atau Facial cellulites pada anak menyebabkan


meningitis sebesar 8%.

7. Dimana dapat menyebabkan kematian jaringan (Gangrene), dan


dimana harus melakukan amputasi yang mana mempunyai resiko
kematian hingga 25%.

J. Penatalaksanaan
Pengobatan yang tepat dapat mencegah penyebaran infeksi ke darah dan
organ lainnya. Diberikan penicillin atau obat sejenis penicillin (misalnya
cloxacillin). Jika infeksinya ringan, diberikan sediaan per-oral (ditelan). Biasanya
sebelum diberikan sediaan per-oral, terlebih dahulu diberikan suntikan antibiotik
jika:

1. Penderita berusia lanjut

2. Selulitis menyebar dengan segera ke bagian tubuh lainnya

3. Demam tinggi.

Jika selulitis menyerang tungkai, sebaiknya tungkai dibiarkan dalam posisi


terangkat dan dikompres dingin untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.

K. Pencegahan Selulitis :

Jika memiliki luka

1. Bersihkan luka setiap hari dengan sabun dan air

2. Oleskan antibiotic

3. Tutupi luka dengan perban

4. Sering-sering mengganti perban tersebut

5. Perhatikan jika ada tanda-tanda infeksi

Jika kulit masih normal

1. Lembabkan kulit secara teratur

2. Potong kuku jari tangan dan kaki secara hati-hati

3. Lindungi tangan dan kaki


4. Rawat secara tepat infeksi kulit pada bagian superficial
L. WOC
M. Pemeriksaan Penunjang
Jika sudah mengalami gejala seperti adanya tanda systemic, maka untuk
melakukan diagnosis membutuhkan penegakan diagnosis tersebut dengan
melakukan pemeriksaan lab seperti :

1. Complete blood count, menunjukkan kenaikan jumlah leukosit dan


rata-rata sedimentasi eritrosit. Sehingga mengindikasikan adanya infeksi
bakteri.
2. BUN level.
3. Creatinine level.
4. Culture darah

II. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


A. Pengkajian

1. Identitas Diri Klien

Meliputi tanggal pengkajian, ruangan, nama (inisial), nomor MR, umur,


pekerjaan, agama, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk RS, alasan masuk RS,
cara masuk RS, penanggung jawab.

2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama

Biasanya pada klien dengan limfadenopati keluhan utamanya yaitu klien


mengatakan nyeri pada luka, terkadang disertai demam, menggigil dan
malaise.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya klien mengalami luka pada bagian tubuh tertentu dengan


karakteristik berwarna merah, terasa lembut, bengkak, hangat, terasa nyeri,
kulit menegang dan mengilap

c. Riwayat Kesehatan Dahulu

Kaji penyebab luka pada pasien dan pernahkah sebelumnya mengidap


penyakit seperti ini, adakah alergi yang dimiliki dan riwayat pemakaian obat.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Biasanya dikeluarga pasien terdapat riwayat mengidap penyakit selulitis atau


penyekit kulit lainnya

3. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan Umum Klien

1) Tingkat kesadaran : Biasanya Composmentis

2) Berat badan : Biasanya normal

3) Tinggi badan : Biasanya normal


b. Tanda-Tanda Vital
1) TD : Biasanya menurun (< 120/80mmHg)
2) Nadi : Biasanya menurun (<90x/i)
3) RR : Biasanya normal (18-24 x/i)
4) Suhu : Biasanya meningkat (>37.5 °C)
4. Pemeriksaan Head to Toe
a. Kepala
Inspeksi : Bentuk, karakteristik rambut serta kebersihan kepala
Palpasi : Adanya massa, benjolan ataupun lesi
b. Mata
Inspeksi : Sklera, conjungtiva, iris, kornea serta reflek pupil dan tanda-tanda
iritasi
c. Telinga
Inspeksi : Daun telinga, liang telinga, membran tympani, adanya serumen
serta pendarahan
d. Hidung
Inspeksi : Lihat kesimetrisan, membran mukosa, tes penciuman serta alergi
terhadap sesuatu
e. Mulut
Inspeksi : Kebersihan mulut, mukosa mulut, lidah, gigi dan tonsil
f. Leher
Inspeksi : Kesimetrisan leher, pembesaran kelenjar tyroid dan JVP
Palpasi : Arteri carotis, vena jugularis, kelenjar tyroid, adanya massa atau
benjolan
g. Thorax / Paru
Inspeksi : Bentuk thorax, pola nafas dan otot bantu nafas
Palpasi : Vocal remitus
Perkusi : Batas paru kanan dan kiri
Auskutasi : Suara nafas
h. Kardiovaskuler
Inspeksi : Ictus cordis
Palpasi : Ictus cordis
Perkusi : Batas jantung kanan dan kiri
Auskultasi: Batas jantung I dan II
i. Abdomen
Inspeksi : Asites atau tidak
Palpasi : Adanya massa atau nyeri tekan
Perkusi : Tympani
Auskultasi : Bising usus
j. Kulit
Inspeksi : Warna kulit, turgor kulit, adanya jaringan parut atau lesi dan
CRT. Gejala awal berupa kemerahan dan nyeri tekan yang terasa di suatu
daerah yang kecil di kulit. Kulit yang terinfeksi menjadi panas dan bengkak,
dan tampak seperti kulit jeruk yang mengelupas (peau d’orange). Pada kulit
yang terinfeksi bisa ditemukan lepuhan kecil berisi cairan (vesikel) atau
lepuhan besar berisi cairan (bula), yang bisa pecah.
k. Ekstremitas
Kaji nyeri, kekuatan dan tonus otot

5. Diagnosakeperawatan
a. Nyeri akut
b. Kerusakan integritas kulit
c. Ganguan citra tubuh

6. Intervensi

No Diagnosa NOC NIC


1 Nyeri akut  Pain level  Pain Management
 Pain control comfort
level  Lakukan pengkajian
nyeri secara
Kriteria Hasil : komprehensif
 Observasi reaksi
 Mampu mengontrol nonverbal dari
nyeri ketidak nyamanan
 Mampu mengenali  Gunakan teknik
nyeri komunikasi
 Mampu teraupetik
menggunakan teknik  Evaluasi
non farmakologi pengalaman nyeri
untuk mengurangi masa lampau
nyeri  Ajarkan teknik
 Melaporkan bahwa relaksasi
nyeri berkurang  Kolaborasi dengan
dengan dokter dalam
menggunakan pemberian therapy
manajemen nyeri 
 Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang

2
Kerusakan integritas
kulit  Tissue integrity
 Membranes
 Hemodyalis akses

Kriteria Hasil : Pressure Management

 Integritas kulit yang  Anjurkan pasien


baik bisa diperbaiki menggunakan
 Tidak ada luka/lesi pakaian yang
pada kulit longkar
 Perfusi jaringan baik  Jaga kebersihan kulit
agar tetap bersih
 Monitor kulit akan
adanya kemerahan

3. Gangguan citra tubuh  Body image  Nutrion Management


 Self esteem
 Kaji secara verbal
Kriteria Hasil : dan non verbal
respon klien
 Body image positif terhadap tubuhnya
 Mampu  Jelaskan tentang
mengidentifikasi pengobatan,
kekuatan personal perawatan, kemajuan
 Tidak terjadi dan prognosis
pengurangan berat penyakit
badan yang berarti  Dorong klien
mengungkapkan
perasaannya

7. Implementasi
Implementasi merupakan wujud nyata dari rencana keperawatan yang telah
dibuat sebelumnya.
8. Evaluasi
Evaluasi merupakan pengkajian sejauh mana pencapaian dari tindakan
keperawatan yang telah diberikan kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Huda Amin Nurarif dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA & NIC NOC. Jogjakarta : Mediaction.
Heather T. Herdman & Shigemi Kamitsuru. 2015. Diagnosis Keperawatan :
Definis & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10 Terjemahan Indonesia. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC
M. Gloria Bulechek, dkk. 2016. Nursing Intervention Classification (NIC).
Singapore : El Sevier.
Moorhead Sue, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapore :
El Sevier.

Anda mungkin juga menyukai