Anda di halaman 1dari 5

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS NUSA CENDANA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
Jl. Adisucipto Penfui Kupang – NTT

SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER


MATA KULIAH KODE ETIK
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI / SEMESTER III
NAMA : Jufeminenty R. Asbanu
NIM : 1907020143

ESAY!
Jawablah pertanyaan berikut ini.
1. Jelaskan pengertian kode etik?
2. Jelaskan pengertian dari
a. Psikolog dan Ilmuan Psikolog
b. Profesi Psikolog
3. Jelaskan ruang lingkup dan layanan psikologi?
4. Jelaskan dan berikan contoh penyalahgunaan dalam kode etik psikologi?
5. Dalam pasal 17 AD ART Kode Etik Psikologi Indonesia dijelaskan bahwa anggota dapat
diberhentikan karena bertindak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang telah
ditetapkan oleh organisasi serta bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik Himpsi.
Berilah contoh 5 tindakan tersebut?
6. Praktik psikologi adalah kegiatan yang dilakukan oleh psikolog dalam memberikan
jasa/praktik kepada masyarakat dalam pemecahan masalah psikologis yang bersifat individu
maupun kelompok dengan menerapkan prinsip diagnostik. Berilah contoh masalah psikologis
yang bersifat individu maupun kelompok masing-masing 5!
7. Bagaimana sikap Ilmuwan Psikologi dan Psikolog dalam menggunakan hewan sebagai obyek
riset! Jelaskan!
8. Persiapan apa yang Anda lakukan saat ini untuk menjadi Ilmuwan Psikologi dan Psikolog
yang dapat memberikan kontribusi positif di masyarakat!

 JAWABAN
1. Pengertian kode etik adalah :
a.) Kode etik merupakan suatu sistem norma, nilai serta aturan profesional secara tertulis
yang dengan tegas menyatakan hal baik dan juga benar, serta apa yang tidak benar dan
juga tidak baik bagi profesional. Pengertian kode etik  lainnya adalah suatu aturan yang
tertulis, secara sistematik dengan sengaja di buat, berdasarkan prinsip-prinsip moral yang
ada serta ketika dibutuhkan bisa di fungsikan sebagai alat yang dapat digunakan
menghakimi berbagai macam dari tindakan yang pada umumnya dinilai menyimpang dari
kode etik yang ada.
b.) Kode Etik Psikologi adalah seperangkat nilai-nilai untuk ditaati dan dijalankan
dengan sebaik-baiknya dalam melaksanakan kegiatan sebagai psikolog dan
ilmuwan psikologi di Indonesia.
2. Pengertian dari :
a.) Psikolog adalah lulusan pendidikan profesi yang berkaitan dengan praktik
psikologi dengan latar belakang pendidikan Sarjana Psikologi lulusan program
pendidikan tinggi psikologi strata 1 (S1) sistem kurikukum lama atau yang
mengikuti pendidikan tinggi psikologi strata 1 (S1) dan lulus dari pendidikan
profesi psikologi atau strata 2 (S2) Pendidikan Magister Psikologi (Profesi
Psikolog). Dan Ilmuwan Psikolog adalah ahli dalam bidang ilmu psikologi dengan
latar belakang pendidikan strata 1 dan/atau strata 2 dan/atau strata 3 dalam
bidang psikologi.
b.) Profesi psikolog merupakan satu program pendidikan kelanjutan seseorang psikolog
yang nanti memiliki hal mempunyai gelar M.Psi, Psikolog.
3. Ruang Lingkup & Layanan Psikologi :
 Ruang Lingkup Psikolog memiliki kewenangan untuk memberikan layanan
psikologi yang meliputi bidang-bidang praktik klinis dan konseling;
penelitian; pengajaran; supervisi dalam pelatihan, layanan masyarakat,
pengembangan kebijakan; intervensi sosial dan klinis; pengembangan
instrumen asesmen psikologi; penyelenggaraan asesmen; konseling;
konsultasi organisasi; aktifitas-aktifitas dalam bidang forensik; perancangan
dan evaluasi program; serta administrasi. Psi- kolog DIWAJIBKAN
MEMILIKI IZIN PRAKTIK PSIKOLOGI sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Sedangkan Ilmuwan psikologi memiliki kewenangan untuk
memberikan layanan psikologi yang meliputi bidang-bidang pe- nelitian;
pengajaran; supervisi dalam pelatihan; layanan masyarakat; pengembangan
kebijakan; intervensi sosial; pengembangan instrumen asesmen
psikologi; pengadministrasian asesmen; konseling sederhana;konsultasi
organisasi; peran- cangan dan evaluasi program. Ilmuwan Psikologi
dibedakan dalam kelompok ilmu murni (sains) dan terapan.

 Layanan Psikologi adalah segala aktifitas pemberian jasa dan praktik


psikologi dalam 13 rangka menolong individu dan/atau kelompok yang
dimaksudkan untuk pencegahan, pengem- bangan dan penyelesaian
masalah-masalah psikologis. Layanan psikologi dapat berupa praktik
konseling dan psikoterapi; penelitian; pengajaran; supervisi dalam
pelatihan; layanan masyarakat; pengembangan kebijakan; intervensi sosial
dan klinis; pengembangan instrumen asesmen psikologi;
penyelenggaraan asesmen; konseling karir dan pendidikan; konsultasi
organisasi; aktifitas-aktifitas dalam bidang fo- rensik; perancangan dan
evaluasi program; dan
administrasi.

4. Contoh Penyalahgunaan dalam kode etik psikologi :


Psikolog G adalah seorang psikolog yang memiliki izin praktek secara resmi dari
HIMPSI wilayah jawa tengah, dia juga telah melakukan praktek selama 1 tahun
dan menangani beberapa konseling terkait dengan masalah psikis. Untuk
memperkenalkan diri ke masyarakat, psikolog G bekerjasama dengan biro iklan
yang cukup ternama di wilayahnya. Dalam kerjasamanya, psikolog G
memberikan sejumlah uang kepada biro iklan sebagai kompensasi pemberitaan
tentang dirinya. Pihak sponsor menerima tawaran tersebut, kemudian
mengiklankan psikolog G sebagai psikolog nomor satu di indonesia dengan
kualifikasi dan keahlian yang berlebihan dan tidak semua psikolog memiliki
kemampuan seperti dirinya. Iklan tersebut juga mengatakan bahwa psikolog G
telah berpengalaman menangani anak dengan gangguan klinis lebih dari 10
tahun. Mengetahui pemberitahuan itu, psikolog G senang dan membiarkan iklan
tersebut dipublikasikan kepada masyarakat.
Berdasarkan peristiwa diatas maka psikolog G melakukan pelanggaran kode etik
psikologi pasal 29 ayat 2 & 3 serta pasal 32 tentang “Keterlibatan Pihak Lain
Terkait Pernyataan Umum” & “Iklan Diri Yang Berlebihan”. Seorang psikolog
seharusnya tidak membuat pernyataan yang dapat dikategorikan sebagai
penipuan berkenaan dengan jasa layanan psikologi. Psikolog dan/ ilmuwan
psikologi seharusnya menjelaskan kemampuan atau keahliannya dengan jujur,
wajar dan bijaksana sehingga tidak menimbulkan kekeliruan dalam masyarakt.
Dalam kasus ini, psikolog G telah melakukan penipuan terkait dengan
pernyataan yang ungkapkan pada iklan. Selanjutnya, psikolog G juga
memberikan sejumlah uang (kompensasi pada biro iklan tersebut, padahal pada
pasal 29 ayat 3 dijelaskan bahwa (Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak
memberikan kompensasi pada karyawan pers, baik cetak maupun elektronik atau
media komunikasi lainnya sebagai imbalan untuk publikasi pernyataannya dalam
berita.)
Oleh karena itu, maka dalam kasus ini psikolog G melanggar kode etik pasal 29
ayat 2 & 3 serta pasal 32.
5. Contoh tindakan melanggar pasal 17 :
a.) Membiarkan pelanggaran kode etik terjadi, kasusnya dengan pengangkatan jabatan
di perusahaan dengan meminta tempat untuk suami untuk imbalan atas jasa yang
telah dilakukan.
b.) Seorang psikolog laki-laki melakukan psikotes untuk penerimaan pramugari untuk
suatu perusahaan penerbangan terkemuka tempatnya bekerja. Ia tertarik dengan
salah seorang perempuan cantik yang menjadi calon pramugari tersebut, namun
ternyata ia gagal dalam tes. Psikolog tersebut melihat bahwa perempuan tersebut
sangat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Calon
pramugari itu kemudian menawarkan bahwa ia mau melakukan hubungan seksual
dengan psikolog itu, dengan syarat ia dapat diterima di perusahaan itu. 
c.) Malpraktek psikologi
d.) penyimpangan publikasi
e.) penyimpangan dalam hubungan profesional
6. Masalah Psikologi Individu & Kelompok :
a.) Individu : Masalah KDRT antar suami dan istri, tidak diterima dalam keluarga, putus
cinta, dipukul orang tua dan trauma.
b.) Kelompok : masalah penerimaan sosial, tidak bisa menyesuaikan diri, ditolak dalam
kelompok tertentu, adanya kecurangan yang mengakibatkan seseorang tertekan, dan
terjebak dalam kelompok sosial yang salah.
7. Sikap psikolog dan ilmuwan psikolog dalam menggunakan hewan sebagai
obyek riset :
Dalam pasal 52 “penggunaan hewan untuk penelitian” dijelaskan bahwa Psikolog
dan/atau Ilmuwan Psikologi yang melakukan penelitian dengan hewan harus
terlatih dan dapat memperlakukan hewan tersebut dengan baik, mengikuti
prosedur yang berlaku, bertanggung jawab untuk memastikan kenyamanan,
kesehatan dan perlakuan yang berperikemanusiaan terhadap hewan tersebut.
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang sedang melakukan penelitian dengan
hewan perlu memastikan bahwa penelitian, perawatan dan penanganan hewan yang
digunakan, sebatas keperluan penelitian, dan sesuai perannya. Prosedur yang
jelas diperlukan sebagai panduan untuk menangani seberapa jauh hewan ’boleh’
disakiti dan terhindar dari perlakuan semena-mena.
8. Persiapan saya untuk menjadi seorang psikolog dan atau ilmuwan psikolog
dimasa depan yaitu belajar dengan giat dengan memahami materi, mulai
mengenal situasi atau masalah psikologis apa saja yang dialami dimasyarakat
dan bagaimana penanganannya.

Anda mungkin juga menyukai