Anda di halaman 1dari 5

Tazkia Shifa A.

1806234256
HATAH PAR B

UJIAN TENGAH SEMESTER

1. Quasi International Privaarecht menurut Andre De La Porte merupakan


salah satu bagian dari Hukum Intern dimana Hukum Perdata Internasional
(HPI) sangat mempengaruhi Hukum Antar Golongan (HAG) dan dikatakan
bahwa penyelesaian dari masalah Hukum Antar Golongan dapat secara baik
dicapai dengan menjiplak hasil-hasil dari Hukum Perdata Internasional. Saya
sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Sudargo Gautama dalam Buku
Hukum Antar Tata Hukum, yang mana pada HAG tidak sebenarnya
dipengaruhi oleh titik-titik pertalian yang ada pada HPI karena sebenarnya
mereka berbeda. Lebih lanjut, HPI cenderung lebih mempengaruhi dan
mendekati Hukum Antar Tempat (HAT) daripada HAG karena HAT dikaitkan
dengan letak teritoir yang berbeda-beda sehingga antara HPI dan HAT sama-
sama dikatakan Hukum Perselisihan. Jadi dalam HAT terdapat suasana Intern-
Nasional (dalam negri, intern), sedangkan dalam HPI terdapat suasana
Internasional yang mana dapat mempengaruhi HAT. Berbeda dengan HAG
yang mana penyebutannya saja adalah Verschillend Personeel Recht,
sedangkan HPI penyebutannya adalah Verschillend Territorial Recht.

2. Selain Titik Taut Penentu adalah Titik Pertalian Primer dan Sekunder, terdapat
Titik Pertalian Lebih Lanjut yang dapat dipilih Hakim untuk menentukan
hukum mana yang berlaku. Adapun Titik Pertalian Lebih Lanjut terbagi lagi
menjadi Kumulatif, Alternatif, Pengganti / Subsidair, Tambahan, Accesoir.

Pertama, titik pertalian kumulatif terjadi apabila terdapat penumpukan atau


kumulasi dari titik-titik pertalian dimana dalam suatu persoalan hukum
tertentu, dipergunakan dua atau lebih stelsel hukum. Lebih lanjut, kumulasi ini
dapat terjadi antara (i) stelsel hukum sendiri dengan stelsel hukum asing dan
(ii) antara dua stelsel hukum yang kebetulan dipertautkan. Contohnya adalah
ketika WNI menikah di luar negeri. Di satu sisi ia harus tunduk pada hukum
Indonesia karena Indonesia menganut prinsip nasionalitas, namun disatu sisi ia
Tazkia Shifa A.
1806234256
HATAH PAR B
juga harus tunduk hukum dimana perkawinan itu berlangsung.

Kedua, titik pertalian alternatif terjadi apabila terdapat lebih dari satu titik
pertalian, yang mana salah satu dari faktor yang ada dapat dipilih menjadi
faktor yang menentukan hukum yang berlaku. Contoh kasusnya misalnya,
berdasarkan HPI negara Jerman, seseorang dapat ditaruh dibawah perwalian
Jerman apabila ia berdomisili atau memiliki tempat kediaman di Jerman.
Dengan demikian, faktor domisili atau tempat kediaman di Jerman memiliki
bobot yang sama sebagai titik pertalian dalam mana perseroan perwalian
terjadi.

Ketiga, titik pertalian pengganti terjadi apabila tidak ditemukannya suatu


titik pertalian yang dibutuhkan dalam suatu peristiwa HPI. Titik pertalian ini
biasanya banyak dipakai terhadap kasus tentang penentuan status personal
orang. Misalnya, seorang pria yang sedang sedang liburan di negara Inggris
kemudian dia meninggal dunia di negar tersebut dan tidak diketahui
kewarganegaraannya. Sehingga, dalam menentukan status personilnya
menggunakan Hukum Inggris yang menganut prinsip domisili. Hal ini
dikarenakan titik pertalian pengganti digunakan untuk menentukan hukum
yang berlaku bagi status personal orng tersebut dengan menggunakan prinsip
domisili.

Keempat, titik pertalian tambahan terjadi apabila titik peralian sekunder


yang berlaku ternyata tidak mencukupi. Berbeda dengan titik pertalian
pengganti, erat kaitannya dengan apartride atau tidak diketahui
kewarganegaraannya, pada titik taut ini dipakai dalam hal terjadinya kasus
bipatride atau dua kewarganegaraan. Contohnya adalah ketika X warga negara
Australia sekaligus warga negara Canada, namun ia sudah berdomisili selama
17 tahun di Inggris. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan status personil
manakah yang berlaku dalam kasus tersebut. Sehingga, untuk
menyelesaiaknnya, dipergunakanlah domisili X yang berperan sebagai titik
pertalian tambahan.

Kelima dan terakhir adalah titik pertalian accesoir terjadi apabila


Tazkia Shifa A.
1806234256
HATAH PAR B
penempatan suatu hubungan hukum di bawah satu stelsel hukum yang sudah
berlaku untuk lain hubungan hukum yang lebih utama. Mengenai
yurisprudensinya adalah ketika seorang WNA hendak membuat rekening di
Bank Mandiri. Oleh karena, Bank Mandiri tunduk pada hukum perbankan
yang ada di Indonesia, WNA tersebut harus mengikuti ketentuan-ketentuan
hukm perbankan Indonesia juga.

3. Doktrin Act of State diberlakukan di Inggris dimana Hakim (lembaga


yudikatif) tidak menilai satu tindakan ketertiban umum atau tidak melainkan si
Pemerintah Inggrisnya (lembaga eksekutif) yang menilai karena Hakim
menganggap dirinya tidak bewenang. Ketika Pemerintah Inggris sudah
menetapkan bahwa suatu tindakan adalah melanggar ketertiban umum maka
Hakim harus mengikutinya. Namun, perlu diketahui ketidakwenangan Hakim
dalam menentukan kewenangan ini adalah sepanjang suatu negara yang
bersangkutan diakui kedaulatannya oleh Inggris. Contohnya adalah dalam
kasus Luther v Sagos dimana telah terjadi sengketa pencabutan hak milik
yang tidak disertai dengan pemberian ganti kerugian oleh Uni Soviet. Hakim
Scrutton L.J berpendapat bahwa apabila Hakim yang menentukan apakah
suatu tindakan negara lain melanggar ketertiban umum atau tidak adalah
pelanggaran serius terhadap rasa hormat internasional. Hal tersebut
dikarenakan negara tersebut telah diakui kedaulatannya oleh Inggris.

4. Berdasarkan RUU Perdata Internasional, principle of Frays Omnia Corrumpt


mengakibatkan perbuatan tersebut keseluruhannya tidak berlaku. Hal ini
dikarenakan prinsip ini merupakan suatu mekanisme korektif terhadap
penerapan negara hukum yang mutlak dan tidak terbatas melalui
ketergantungan pada standar moral yang fundamental, seperti itikad baik dan
keadilan. Contoh yuriprudensinya adalah Putusan MA No. 32/PK/PDT/2011
dimana seorang WN Jerman meminjam nama orang Indonesia (nominee
arrangement) dan membuat seakan-seakan orang Indonesia tersebut berhutang
sebidang tanah dengannya. Hakim mengatakan bahwa perjanjian tersebut
adalah Penyelundupan Hukum, dan kontraknya dianggap tidak pernah ada
(batal demi hukum dan melanggar Pasal 1320 KUHPer). Yurisprudensi lain
adalah pada kasus Putri De Bauffremont yang mana menurut Hakim proses
Tazkia Shifa A.
1806234256
HATAH PAR B
naturalisasi yang dilakukan hanya untuk ia meloloskan diri daripada hukm
yang berlaku secara memaksa bagi dirinya. Sehingga pernikahan keduanya
yang didasari oleh proses naturalisasi tsb dianggap tidak sah karena
merupakan penyelundupan hukum dan menurut Hakim adalah “fraude a la loi
francaise”

5. Oom en Nicht adalah kasus dimana warga negara Swiss yang terdiri dari
seorang Paman dan Keponakan Perempuan melangsungkan pernikahan di
Moscow, Rusia yang mana merupakan domisili mereka berdua. Perkawinan
tersebut sah karena menggunakan hukum Rusia, yang mana menganut prinsip
domisili. Lebih lanjut, menurut HPI Swiss perkawinan ini memang harus
tunduk pada Hukum Rusia berdasarkan Pasal 7f Gezets betreffend die
Zivilrechtlichen Verhältnisse der Niedergelassenen und Aufenthaler (NAG).
Hal ini dikarenakan berdasarkan Pasal 100 ZBG, perkawinan seperti kasus
Oom en Nicht adalah dilarang.

Namun, persoalan timbul ketika pihak wanita mengajukan gugatan cerai ke


Pengadilan Jerman dimana merupakan domisili terbaru mereka sebelum
mengajukan gugatan cerai. Sedangkan pihak pria mengajukan perkawinan
tersebut batal berdasarkan Pasal 100 ZGB. Atas hal tersebut, Hakim Jerman
harus menggnakan Teori Penunjukkan Lebih Lanjut. Jerman menganut prinsip
nasionalitas sehingga Hakim Jerman menunjuk Hukum Swiss untuk
menyelesaikan permasalahan mereka, sedangkan kemudian Hukum Swiss
menunjuk Hukum Rusia sebagai tempat dimana perkawinan tersebut
dilaksanakan. Atas hal tersebut maka terjadilah Penunjukan Lebih Jauh. Untuk
menjawab apakah pelajaran yang dapat kita ambil dalam kasus Oom en Nicht
ini saya rasa dengan adanya yurisprudensi ini dapat menjadi acuan Hakim-
Hakim di masa sekarang untuk menentukan hukum mana yang berlaku. Hal
ini menurut saya agar tidak terjadinya inkosistensi putusan pada kasus yang
serupa karena yurisprudensi ini telah menjadi dasar adanya teori Penujukkan
Lebih Lanjut.

6. Contoh sederhana yang saya akan berikan adalah apabila misalnya saya seorang
warga negara Thailand namun berdomisili di Indonesia. Kemudian, saya melakukan
Tazkia Shifa A.
1806234256
HATAH PAR B
perbuatan hukum. Disini terdapat single renvoi mengenai hukum mana yang
diberlakukan dikarenakan Thailand menganut prinsip domisili sedangkan Indonesia
menganut prinsip kewarganegaraan. Sehingga, mengenai hukum mana yang
diberlakukann, Thailand menunjuk hukum Indonesia karena saya telah berdomisili
disana, namun Indonesia menunjuk Hukum Thailand karena berdasarkan prinsip
nasionalitas. Sehingga, karena Thailand merupakan negara yang menerima renvoi
maka hukum yang diberlakukan adalah Hukum Thailand. Untuk menentukan apakah
ini peristiwa HPI atau tidak, pertama kita melihat pada Titik Pertalian Primernya
dimana di kasus ini mencipatakan hubungan HPI antara Thailand dengan Indonesia
berkaitan dengan kewarganegaraan saya. Sehingga akhirnya menimbulkan Titik
Pertalian Sekunder untuk menentukan hukum mana yang berlaku dan karena adanya
renvoi tersebut akhirnya Hukum Thailand yang berlaku.

Sumber:

1. Pengantar Hukum Perdata Internasional, Sudargo Gautama


2. Hukum Antar Tata Hukum, Sudargo Gautama
3. Hukum Perdata Internasional, Prof. Dr. Zulfa Djoko Basuki, S.H., M.H.