Anda di halaman 1dari 20

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN BPH


(BENIGNA PROSTAT HYPERTHROPI )

I. KONSEP DASAR

PENGERTIAN

Benigna prostat hypertropi adalah pertumbuhan kelenjar fibroadenomatosa


majemuk dalam prostat ( Price, 1992 : ).

A. Proses terjadinya pembesaran kelenjar prostat ini secara progresif. Angka


kejadian BPH sekitar 50% dialami oleh pria yang berusia lebih dari 50 tahun.

ETIOLOGI

Sebab dari BPH tidak diketahui. Tetapi ada teori yang menyatakan bahwa dengan
bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan testoteron estrogen,
karena produksi testosteron menurun dan konversi testosteron menjadi estrogen
pada jaringan adiposa di perifer.

PATOFISIOLOGI

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah
inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah
kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram. Menurut Mc Neal
(1976) yang dikutip dan bukunya Purnomo (2000), membagi kelenjar prostat
dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional,
zona fibromuskuler anterior dan periuretra (Purnomo, 2000). Sjamsuhidajat
(2005), menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan
keseimbangan testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan
terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer.
Purnomo (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung
pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan
dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar
prostat.

Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya


perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan
patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh
kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan
kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem
parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis.
Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang
bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan
mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor
menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan
sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok).
Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang
kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan
detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila
keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi
urin.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan
iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup
lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi),
miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas
setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau
pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering
berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot
detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency,
disuria).

Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak
mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari
tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow
incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi.
ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan
traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita
harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan
intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam
vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi
dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media
pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi
refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005)

PATHWAY BPH
Etimologi

Penuaan

Mesenkim sinus
Perubahan keseimbangan
uragential
testosterone + estrogen
Mitrotrouma : trauma, Kebangkitan /
ejakulasi, infeksi Prod. Testosteron ↓
reawakening

↑ stimulasi sel stroma yang BPH Berproliferasi


dipengaruhi GH

Pre operasi Post operasi

Terjadi kompresi utera TURP. Prostatektomi

Trauma bekas Folley cateter


Penekanan serabut-
↑ resistensi leher V.U danKerusakan mukosa
urogenital serabut syaraf insisi
daerah V.U
Obstruksi oleh
↑ ketebalan otot Dekstrusor (fase jendolan darah
kompensasi) MK : MK :
Nyeri Penurunan MK : resiko post OP
↓ kemampuan
Kelemahan ototResidu
Terbentuknya fungsi
urin
Dekstrusor
sakula/ Media pertumbuhan
MK : gangguangangguan MK : resiko
eliminasirasa pertahanan
intoleransi tubuh injury :
Hidronefrosis
Refluk urin
V.Uberlebihan
trabekula kuman
urin : retensi urin nyeri terjadi infeksipendarahan
nyaman
MANIFESTASI KLINIS

Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu
obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi
dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah,
rasa tidak puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy),
harus mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu
miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena
overflow.

Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau


pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering
berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot
detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun
untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak
(urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer, 2000)

Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4


stadium :

a) Stadium I

Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai
habis.
b) Stadium II

Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun
tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak
BAK atau disuria dan menjadi nocturia.

c) Stadium III

Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.

d) Stadium IV

Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes
secara periodik (over flow inkontinen).

Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa :

Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan


ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yang turun
dan harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine
terus menerus setelah berkemih), retensi urine akut.

Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :

a. Rectal Gradding

Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :

- Grade 0 : Penonjolan prosrar 0-1 cm ke dalam rectum.

- Grade 1 : Penonjolan prosrar 1-2 cm ke dalam rectum.

- Grade 2 : Penonjolan prosrar 2-3 cm ke dalam rectum.

- Grade 3 : Penonjolan prosrar 3-4 cm ke dalam rectum.

- Grade 4 : Penonjolan prosrar 4-5 cm ke dalam rectum.

b. Clinical Gradding

Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh
kencing dahulu kemudian dipasang kateter.

- Normal : Tidak ada sisa

- Grade I : sisa 0-50 cc

- Grade II : sisa 50-150 cc


- Grade III : sisa > 150 cc

- Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing.

KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan
semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak
mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan
apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000)

Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik


mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid.
Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah
keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria
menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan
sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).

PENATALAKSANAAN MEDIS

Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH


tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis

a. Stadium I

Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan


pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti
alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera
terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat.
Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk
pemakaian lama.

b. Stadium II

Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan


biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)
c. Stadium III

Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila


diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai
dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan
terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.

d. Stadium IV

Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita


dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu,
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian
terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka.

Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan


pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan
obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah
dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.

Menurut Mansjoer (2000) dan Purnomo (2000), penatalaksanaan pada


BPH dapat dilakukan dengan:

a. Observasi

Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan,


kurangi kopi, hindari alkohol, tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa
kencing dan colok dubur.

b. Medikamentosa

1) Mengharnbat adrenoreseptor α

2) Obat anti androgen

3) Penghambat enzim α -2 reduktase

4) Fisioterapi

c. Terapi Bedah

Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan


fungsi ginjal, infeksi saluran kemih berulang, divertikel batu saluran
kemih, hidroureter, hidronefrosis jenis pembedahan:

1) TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)

Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat


melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui
uretra.

2) Prostatektomi Suprapubis

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat


pada kandung kemih.

3) Prostatektomi retropubis

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen


bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki
kandung kemih.

4) Prostatektomi Peritoneal

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi


diantara skrotum dan rektum.

5) Prostatektomi retropubis radikal

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula


seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada
abdomen bagian bawah, uretra dianastomosiskan ke leher kandung
kemih pada kanker prostat.

d. Terapi Invasif Minimal

1) Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)

Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang


disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang
melalui/pada ujung kateter.

2) Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy


(TULIP)

3) Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada


pasien dengan BPH adalah :

a. Laboratorium
1). Sedimen Urin

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi


saluran kemih.

2). Kultur Urin

Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus


menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang
diujikan.

b. Pencitraan

1). Foto polos abdomen

Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa


prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi
urin yang merupakan tanda dari retensi urin.

2). IVP (Intra Vena Pielografi)

Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa


hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar
prostat, penyakit pada buli-buli.

3). Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)

Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau


mengukur sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel,
tumor.

4). Systocopy

Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra


parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum

 ASUHAN KEPERAWATAN
(a) Non surgical
1. Pengkajian
 Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan/dorongan aliaran urin ; tetesan,
Ragu-ragu berkemih, nokturia, disuria, hematuria.
Tanda : Massa padat dibawah abdomen bawah ( Distensi
Kandung kemih, nyeri tekan kandung kemih ).

 Nyeri/ kenyamanan
(2) Gejala : Nyeri suprapubis, panggul,punggung bawah

 Sirkulasi : Peninggian tekanan darah

 Psikososial : Ekspresi takut akibat inkontinensia, gangguan


Seksualitas.

 Pemeriksaan Diagnostik
2. Urinalisa : Warna kuning,coklat gelap,merah gelap atau terang
( berdarah ),PH 7 atau lebih.
Kultur urin :Ada staphylococcus
Aureus,E.Colly,Proteus,
Pseudomonas.
BUN/Kreatinin : Meningkat pada gangguan ginjal
SDP : Lebih dari 11.000
Ultrasonografi transrektal dan suprapubic untuk mengetahui ukuran
prostat.

2. Diagnosa keperawatan
 Retensi Urin ( Akut/kronik ) b.d. obstruksi mekanik; pembesaran
prostat ; dekompensasi otot detrusor ; ketidakmampuan kandung kemih
untuk berkontraksi dengan adekuat.

Data pendukung :
• Frekuensi,keragu-raguan, ketidakmampuan mengosongkan kandung
kemih dengan lengkap, inkontinensia/menetes.
• Distensi kandung kemih,residu urin lebih dari 50 cc.

Hasil yang diharapkan :


Pasien menunjukan :
• Peningkatan pola BAK
• Tidak teraba distensi abdomen
• Menunjukan residu setelah berkemih kurang dari 50 ml, tidak adanya
tetesan/kelebihan aliran.

Intervensi/tindakan:
1) Dorong pasien untuk berkemih tiap 2 – 4 jam atau bila pasien tiba-tiba
merasa untuk berkemih.
R/ Meminimalkan terjadinya retensi urin yang berlebihan pada kandung
kemih.
2) Awasi dan catat waktu, jumlah setiap berkemih, perhatikan penurunan
haluaran urin.
R/ Untuk mengetahui kemampuan ginjal untuk berfungsi secara normal

3) Palpasi area supra pubik.


R/ Retensi urin dapat diketahui dengan palpasi daerah suprapubik, yaitu
teraba adanya masa pada daerah abdomen bawah.
4) Anjurkan pasien untuk mengintake cairan 3000 ml/hari ( 10 – 15
gelas perhari.
R/ Peningkatan intake cairan dapat mempertahankan perfusi keginjal dan
kandung kemih dari pertumbuh bakter
5) Observasi tanda-tanda vital setiap jam.Awasi terjadinya hipertensi,
edema perifer, perubahan mental.Timbang berat badan setiap hari,ukur
intake dan output cairan setiap hari.
R/ Kehilangan fungsi ginjal menyebabkan penurunan eliminasi cairan dan
akumulasi sisa toksik ; dapat berlanjut pada terjadinya gagal ginjal
total.

6) Lakukan kompres hangat atau rendam duduk.


R/ Untuk meningkatkan relaksasi otot, menurunkan edema dan
merangsang untuk berkemih.
7) Tindakan kateterisasi menggunakan Kateter coude
R/ Mengurangi dan mencegah retensi urin. Kateter Coude diperlukan
karena ujungnya lengkung sehingga memudahkan masuknya selang
melalui uretra prostat.
8)Kolaborasi pemberian antispasmodik misalnya oksibutinin klorida
(Ditropan ).
R/ Menghilangkan spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi
kateter.
9)Memberiakan antibiotik
R/ Untuk melawan infeksi.
10) Siapkan untuk drainase urin, misalnya sistostomy.
R/ untuk mengalirkan urin selama episode akut dengan azotemia.
11) Lakukan hipertermi transuretral ( pemanasan bagian sentral prostat
dengan memasukan elemen pemanas melalui uretra)
R/ Mengecilkan prostat ( 1 - 2 kali/ minggu )

 Nyeri Akut b. d. irirtasi mukosa ; distensi kandung, kolik ginjal; infeksi


urinaria; terapi radiasi.
Data Pendukung :
Keluhan nyeri,penyempitan ureter; perubahan tonus otot, meringis, gelisah,
respon otonomik.
Kriteria evaluasi / hasil yang diharapkan :
Pasien akan :
•Memberitahukan nyeri hilang/ terkontrol
•Tampak rileks
•Istirahat dengan tenang.
1. Kaji dan catat kualitas, lokasi dan durasi nyeri. Gunakan skala nyeri
(0-10) 0 (tidak ada nyeri) 10 (nyeri yang paling hebat).
2. Jelaskan penyebab rasa sakit dan cara menguranginya
3. Kolaborasi terapi dengan pemberian Analgesik sesuai program.
4. Ajarkan teknik mengatasi rasa nyeri : napas dalam untuk menurunkan
stress dan membantu rilaks otot yang tegang
5. Kompres es pada daerah yang sakit untuk mengurangi nyeri
6. Ciptakan lingkungan yang tenang

 Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b.d. pasca obstruksi


diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara
kronis ; Endokrin, ketidakseimbangan elektrolit ( disfungsi ginjal )
Data pendukung : ( Tidak dapat diterapkan ; adanya tanda-tanda dangejala-
gejala membuat diagnosa aktual ).
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi :
Pasien akan mempertahankan hidrasi yang adekuat yang dibuktikan dengan
tanda-tanda vital dalam batas normal, pengisian kapiletr baik, dan membran
mukosa lembab.
Intervensi/ rencana tindakan :
1 Monitor pengeluaran urin tiap jam.
R/ Diuresis dapat meneyababkan kekurangan volume cairan, karena natrium
tidak cukup diabsorbsi dalam tubulus ginjal.
2 Monitor tanda-tanda vital : nadi, tekanan darah; evaluasi pengisian kapiler
danmembran mukosa oral
R/ untuk mendeteksi terjadinya hipovolemik.
3 Motivasi pasien untuk meningkatkan intake cairan peroral
R/ untuk mengimbangi cairan yang keluar akibat diuresis
4 Berikan posisi semi fowler kepaa pasien
R/ Menurunkan kerja jantung, memudahkan homeostasis sirkulasi.
5 Berikan cairan IV
R/ Menggantikan cairan yang hilang.

 Ketakutan / ansietas b.d perubahan status kesehatan : kemungkinan


prosedur/ malignansi

Data pendukung :
Perut tegang
Hasil yang diharapkan :
• Rasa takut dan tegang berkurang
• Pasien tampak rileks
Intervensi :
1. Selalu bersama – sama dengan pasien bina hubungan saling percaya
R/ : Menunjukan perhatian dan keinginan untuk membantu
2. Berikan informasi tentang tanda / prosedur dan tes khusus seperti pemasangan
kateter, urin berdarah, iritasi pada kandung kemih.
R/ : Meningkatkan pemahaman pasien tentang tujuan dari apa yang dilakukan,
sehingga dapat mengurangi rasa takut dan kecemasan
3. Anjurkan kepada pasien untuk mengungkapkan peraaannya kepada orang
terdekat
R/ : mengurangi kecemasan

 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


b.d kurang terpapar terhadap informasi, tidak mengenal sumber informasi

Data pendukung :
Pasien sering bertanya tentang penyakit, pasien tidak melakukan intervensi sesuai
instruksi.
Hasil yang diharapkan /Kriteria evaluasi :
1. Pasien akan memahami tentang proses penyakit
2. Pasien akan dapat mengidentifikasi tentang tanda dan gejala proses
penyakit
3. Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan.

Tindakan/Intervensi :
Pada pendidikan kesehatan.
Pendidikan Kesehatan
1. Berikan informasi tentang penyakit : pengertian,etiologi, tanda dan
gejala penyakit.
2. Berikan informasi kepada pasien bahwa penyakit ini tidak ditulakan
secara seksual/ atau melalui hubungan seksual.
3. Anjurkan pasien untuk menghindari makanan berbumbu, kopi
alkohol, mengemudikan dalam waktu yang lama, karena dapat
menyebabkan iritasi dan meningkatkan produksi urin sehingga terjadi
distensi otot bladder.`
4. Berikan latihan berkemih kepada pasien post pemasangan kateter.
5. Anjurkan kepada pasien untuk melakukan kunjungan ulang selama 6
bulan sampai 1 tahun.

SURGICAL:
(a) Prostatektomi

1. Pengertian
Prostatektomi adalah bedah reseksi pada bagian portio kelenjar prostat untuk
memperbaiki aliran urin yang mengalami retensi.
2. Jenis- jenis pembedahan prostat :
• Transuretral Resection of the prostate ( TURP )
Jaringan prostat obstruktif dari lobus medial sekitar uretra diangkat .
• Suprapubic/open Prostatectomy
Diindikasikan untuk massa lebih dari 60 gr. Penghambat jaringan prostat
diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih.

• Retropubic prostatectomy
Massa jaringan prostat yang hipertropi ( Lokasi tinggi dibagian pelvis )
Diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan kandung
kemih.
• Perineal Prostatectomy
Massa pada prostat yang terletak dibawah pelvis diangkat melalui insisi
diantara skrotum dan rektum.

Asuhan Keperawatan :
1. Pengkajian
Data dasar dalam pengkajian pasien dengan prostatectomy :
Sirkulasi :
Gejala: Riwayat penyakit jantung, edema paru, penyakit vaskuler perifer
Integritas Ego :
Gejala: Cemas,takut,marah.
Tanda: Tidak dapat beristirahat,peningkatan ketegangan.
Makanan/Cairan :
Gejala: Insufisiensi pankreas / DM, malnutrisi, membran mukosa kering
Pernapasan:
Gejala : Infeksi, batuk kronis, merokok.
Keamanan :
Gejala : Alergi terhadap obat, makanan, plester ; defisiensi imun ; riwayat
penyakit hepatik
Tanda : Adanya tanda-tanda infeksi.
Pemeriksaan diagnostik :
Waktu koagulasi : adanya pemanjangan faktor koagulasi akan
mempengaruhi intraoperasi/pascaoperasi
EKG : Adanya keabnormalan pada hasil EKG
akan mempengaruhi dalam pemberian anastesi.

2. Diagnosa keperawatan
 Perubahan eliminasi urin b.d. Obstruksi mekanikal : Bekuan
darah,edema ; Tekanan dan iritasi kateter/balon ; Hilang tonus
kandung kemih sehubungan dengan distensi berlebihan praoperasi.

(i) Data Pendukung :


Frekuensi, urgensi, disuria, inkontinensia, retensi, kandung kemih
penuh,ketidaknyamanan suprapubik.

Hasil yang diharapkan :


Pasian akan memperbaiki pola berkemih yang normal tanpa retensi.
Pasien akan dapat mengontrol pola berkemih.

Tindakan/ Intervensi :
1. Kaji pengeluaran urin khususnya selama irigasi kandung kemih
R/ Retensi dapat terjadi karena edema area bedah, bekuan darah, dan
spasme kandung kemih.
2. Perhatikan waktu, jumlah berkemih, setelah kateter dilepas. Perhatikan
keluhan rasa penuh kandung kemih; ketidakmampuan berkemih,
urgensi.
R/ Kateter biasanya dilepas 2 5 hari setelah pembedahan, tetapi keluhan
penuh pada bladder masih tetap terjadi karena adanya edema pada
uretra.
3. Motivasi pasien untuk berkemih jika ada keinginan untuk berkemih.
R/ Mencegah terjadinya retensi urin.
4. Anjurkan pasien untuk minum 3000 ml setiap hari. Batasi cairan pada
malam hari, setelah kateter dilepas.
R/ Mempertahankan hidrasi yang adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran
urin.
5. Instruksikan pasien untuk latihan perineal, contoh mengencangkan
bokong, menghentikan dan memulai aliran urin.
R/ Membantu meningkatkan kontrol kandung kemih/ sfingter,
meminimalkan inkontinensia.
6. Pertahankan irigasi kandung kemih secara kontinu sesuai indikasi pad
periode pasca operasi.
R/ Mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan debris untuk
mempertahankan aliran urin.

 Risiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. area bedah


vaskuler ; kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukan
preoperasi

Data pendukung :
( Tidak dapat diterapkan : adanya tanda-tanda dan gejala membuat diagnosa
aktual )

Hasil yang diharapkan :


Mempertahankan hidrasi yang dekuat dengn tandavital stabil, ndi perifer
teraba , pengisian kapiler baik, membran mukosa lembab dan keluaran urin
tetap serta tidak ada perdarahan aktif.

Tindakan/ Intervensi :
1. Observasi intake dan output
R/ Indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian.
2. Observasi drainase kateter dan perhatikan perdarahan yang berlebihan/
berlanjut.
R/ dengan mengetahui adanya perdarahan dapat menentukan intervensi
yang diberikan sebagai evaluasi medik.
3. Observasi tanda-tanda vital
R/ Perubahan tanda-tanda vital akibat perdarahan dapat menunjukan
terjadinya syok hipovolemik.
4. Tingkatkan pemasukan cairan 3000 ml Perhari kecuali jika ada
R/ kontraindikasi membilas ginjal / kandung kemih dari bakteri dan
debris tetapi dapat mengakibatkan intoksikasi cairan / kelebihan
cairan bila tidak diawasi dengan ketat.
5. Observasi hasil laboratorium sesuai indikasi [ Hb,Ht,jumlah sel darah
merah.
R/Berguna dalam mengevaluasi kehilangan darah dan kebutuhan
penggantiannya.

 Risiko tinggi terhadap infeksi b.d. prosedur invasif : alat selama


pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih yang sering ; trauma
jaringan, insisi bedah.

Data pendukung :
( tidak dapat diterapkan ; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala
membuat diagnosa aktual ).

Hasil yang diharapkan/ kriteria evaluasi :


Pasien tidak menunjukan terjadinya tanda-tanda infeksi.

Tindakan/Intervensi :
- Berikan perawatan kateter secara teratur .
R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi.
- Mengganti balutan dengan sering
R/ balutan yang basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media
untuk pertumbuhan bakteri
- Observasi tanda-tanda vital, tanda-tanda infeksI
- Pemberian antibiotik sesuai indikasi
R/ Untuk mencegah terjadinya infeksi.

 Nyeri ( akut ) b.d. iritasi mukosa kandung kemih; refleks spasme


otot sehubungan dengan prosedur bedah dan/atau tekanan dari balon
kandung kemih.

Data pendukung :
Nyeri spasme kandung kemih
Wajah meringis,gelisah

Hasil yang diharapkan :


- Pasien akan melaporkan nyeri hilang / terkontrol
- Pasien akan menunjukan penggunaan ketrampilan relaksasi dan
aktivitas teraupetik sesuai indikasi untuk situasi individu.
- Pasien akan tampak rileks, tidur/istirahat dengan tenang.

Tindakan / intervensi :
- Pertahankan posisi kateter. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan
bekuan.
R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkan
risiko distensi/ spasme kandung kemih.

- Tingkatkan pemasukan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi.


R/ Menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan secara
tetap ke mukosa kandung kemih.

- Berikan rendam duduk atau lampu penghangat


R/ Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema dan
meningkatkan penyembuhan.

- Berikan antispamodik.
R/ Merilekskan otot polos, untuk menurunkan spasme.

 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan


pengobatan b.d. Kurang mengingat, salah interpretasi data ; kurang terpapar
terhadap informasi.

Data Pendukung :
Pasien selalu menanyakan tentang penyakitnya ; Tidak akurat mengikuti
instruksi.
Hasil yang diharapkan/ Kriteria evaluasi :
Pasien akan memahami tentang prosedur bedah dan pengobatan,
Pasien akan akan berpartisipasi dalam program pengobatan.

Pendidikan Kesehatan

1. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake nutrisi; dorong pasien untuk


konsumsi buah-buahan,meningkatkan diet tinggi serat
2. Anjurkan kepada pasien untuk membatasi aktifitas misalnya menghindari
mengangkat beban berat, latihan keras, duduk yang terlalu lama, memanjat
tangga.
3. Motivasi latihan berkemih
4. Ajarkan tentang cara perawatan kateter

DAFTAR PUSTAKA
1. Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

4. Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Editor, Irawati. S,


Edisi : 9, EGC ; Jakarta.
5. Schwartz, dkk, 2000, Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom
Shires dkk, EGC ; Jakarta.
6. Jong, Wim de, dan Syamsuhidayat R, 1998, Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor :
R. Syamsuhidajat, Wim De Jong, Edisi revisi : EGC ; Jakarta.