Anda di halaman 1dari 36

KELOMPOK 1

1. Kasus I
Pasien selanjutnya datang dengan keluhan nyeri dada bagian kiri yang dirasakan
begitu hebat seperti tertusuk disertai penjalaran ke leher bahkan terasa ke bagian
belakang.Saya raba tangan pasien dirasakan dingin, pembuluh darah nadipun
saya hitung meningkat.sebagai penanganan pertama, pasien sudah diberikan
terapi dari perawat berkolaborasi dengan dokter. Diagnosa sementara pasien
terkena serangan penyakit jantung koroner.(Coronary Heart Disease).Sebagai
perawat apakah tindakan yang dianjurkan selanjutnya untuk melengkapi
pengkajian pasien tersebut?
A. Tes darah, elektrokardiogram (EKG), angiografi koroner, CT scan,
Echocardiography serta MRI scan.
B. Analisa darah di laboratorium dan pengkajian ulang
C. Pemeriksaan EKG
D. Pemeriksaan EKG dan Gula darah sewaktu
E. Pemasangan infus untuk mencegah syok akibat serangan jantung

Jawaban : A

Pembahasan :

1. Pemeriksaan EKG di lakukan untuk :


a. Mengetahui kelainan-kelainan irama jantung (aritmia),
b. Mengetahui kelainan-kelainan miokardium (infark, hypertrophy atrial
dan ventrikel),
c. Mengetahui adanya pengaruh atau efek obat-obat jantung,
d. Mengetahui adanya gangguan elektrolit,
e. Mengetahui adanya gangguan pericarditis
2. Pemeriksaan Echocardiography
Echocardiography atau echo menggunakan gelombang suara untuk membuat
gambar bergerak dari jantung Anda. Gambar menunjukkan ukuran dan
bentuk jantung dan seberapa baik bilik jantung dan katup bekerja.
Echo juga dapat menunjukkan daerah aliran darah yang buruk ke jantung,
daerah otot jantung yang tidak berkontraksi secara normal, dan cedera
sebelumnya pada otot jantung yang disebabkan oleh aliran darah yang buruk.

3. Tes darah
Tes darah memeriksa kadar lemak tertentu, kolesterol, gula, dan protein
dalam darah Anda. Tingkat abnormal mungkin menjadi tanda bahwa Anda
berisiko untuk penyakit jantung koroner.

2. Kasus II
Ny.fiona. seorang ibu rumah tangga. umur 55 tahun.TB 158 cm, BB 65 Kg. di
bawa kerumah sakit karena lelah dan sesak napas jika berjalan sejak 4 hari yang
lalu,nyeri dada, ia sudah pernah mengalami hal yang sama 1/2 tahun yang lalu
dan dirawat selama 3 hari dengan diagnosa angina pektoris. ia merasa serangan
kali ini lebih lama dan lebih hebat. Tekanan darah 165/100 mmhg.diagnosa
dokter :miokard infark akut.
Ia sudah tidak mempunyai rahim sejak kelahiran anaknya.yg terakhir 20 tahun
yg lalu. ia sangat aktif dalam bidang sosial di LSM kantor suaminya selain
kesibukannya sebagai ibu rumah tangga.
Ia sangat suka makan cemilan seperti goreng-gorengan dan minuman manis
seperti sirup, ice cream dan kue-kue. ia tidak suka tempe atau tahu , tetapi ia
suka susu kedele, kurang suka makan ikan terutama ikan laut.
Hasil pemeriksaan laboratorium :
Hb : 10%
Kolestrol total 250 mm/hg
HDL : 35 mg/dl
LDL : 135 mg/dl
Saat ini pasien diruang ICU. Berdasarkan kasus diatas Apa faktor pencetus yang
paling besar menyebabkan penyakit tersebut ?
A. Kolestrol khususnya HDL
B. Faktor keturuan penyakit keluarga
C. Gaya hidup makanan berlemak yang kurang sehat
D. Hipertensi
E. Faktor stress
Jawaban : C

Penjelasan :
Kolesterol yang menimbun di dinding bagian dalam pembuluh darah, dapat
mengakibatkan pembuluh darah mengalami penyempitan dan aliran darahpun
menjadi tersumbat.Akibatnya, fungsi jantung terganggu karena harus bekerja
lebih keras untuk memompa aliran darah.Seiring perjalanan waktu, arteri-arteri
koroner makin sempit dan mengeras.Inilah yang disebut aterosklerosis.

3. Kasus III
Tn. B, 43 tahun, ketika sedang menonton TV tiba-tiba nyeri dada di belakang
sternum, nyeri dirasakan seperti tertekan benda berat, nyeri menjalar ke leher
dan bahu, nafas sesak, nadi cepat, kulit dingin, pucat, mual sampai muntah,
riwayat merokok (+). Tn. B segera di bawa ke RS. Dokter memberinya
nitrogliserid sub lingual dan O2 lembab, dan dilakukan pemeriksaan EKG dan
laboratorium.
Fungsi penggunaan nitroliserid dalam penangan pertama adalah :
A. Membuat otot pada tubuh berelaksasi
B. Mengendurkan pembuluh-pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.
sehingga dapat mengurangi permintaan otot jantung untuk oksigen, jadi
membebaskan angina dan pasien dapat beristirahat
C. Sebagai pereda nyeri jantung
D. Menangani kejadian syok agar tidak terjadi komplikasi
E. Untuk pengukuran EKG agar mendapatkan hasil yang maksimal ketika
jantung di EKG.
Jawaban : B
KELOMPOK 2

Kasus 1
Tn. S usia 53 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sakit kepala dan tengkuk
terasa tegang sejak 3 hari yang lalu dan minum obat bodrex yang dibeli di warung. 10
tahun yang lalu Tn. S didiagnosa hipertensi tetapi pasien jarang mengontrolkan diri.
Menurut Tn. S mempunyai kebiasaan merokok sejak di bangku SMP dan suka makanan
yang berlemak. Orangtua (ibu) Tn.S meninggal karena hipertensi. Hasil Pemeriksaan
Fisik : Tekanan darah 160/110 mmHg, nadi = 80 x/menit, suhu = 36oC, dan pernapasan
= 20 x/menit.

Kasus 2

Kasus Coronary Artery Disease (CAD)


Tn. O usia 45 tahun dirawat di ruang ICCU dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri. 2
bulan yang lalu Tn. O merasakan dada kiri terasa panas, menjalar hingga leher dan
kepala, badan terasa sering lemah, jari-jari ekstermitas bawah kadang-kadang terasa
kesemutan dan dibawa oleh keluarga ke poli jantung dan didiagnosa Coronary Artery
Disease (CAD). Tn. O mempunyai kebiasaan merokok dan minum kopi. Orang tua
(ayah) meninggal karena stroke. Tanda Vital : Tekanan darah 150/100 mmHg, nadi = 64
x/menit, RR = 20 x/menit, suhu = 36oC. Terapi : Aspilet 1 x 2 tablet, ISDN 3 x 1 menit,
Diazepam 3 x 1, captopril 3 x1. Hasil Laboratorium : Hb 13,6 gr%; leukosit 10 rb/mm3;
GDS 65; kreatinin 1,22; ureum 29; uric acid 7,2 mg/dl;trigliserida 263 mg/dl; kolesterol
205 md/dl; LDL 134 mg/dl; HDL 38 mg/dl. Hasil foto rontgen : LVH (CTR 57%) Hasil
EKG : sinus bradicardi, left ventricular hypertrophy, non specific ST abnormality. Hasil
Echocardiography : CAD disfungsi diastolic ringan.

Kasus 3

Tn. A usia 50 tahun, seorang supir, masuk ke ICCU dengan keluhan utama sesak nafas
dan berkurang jika posisi setengah duduk atau tidur menggunakan 2 bantal atau lebih,
sesak napas terkadang dirasakan pada malam hari batuk kadang-kadang. Pada
didiagnosa : Decompensasi Cordis Tn. A mempunyai kebiasaan merokok. 5 tahun yang
lalu Tn. A didiagnosa hipertensi, tetapi pernah memeriksakan diri secara teratur. Orang
tua Tn. A (ayah) menderita hipertensi dan DM. Pada peneriksaan fisik ditemukan :
tanda vital 140/90 mmHg, Hr 100 x/menit, RR 24 x/menit, suhu 36oC Tb 160 cm, BB
75 kg, bunyi jantung S1 & S2 normal, murmur (-), gallop (+), JVP meningkat, suara
napas, wheezing -/-, ronchi +/+, akral dingin, CRT>2 detik, edema pedis (2+/2+). Hasil
laboratorium : Hb 11,9 gr%: leukosit 5.200/menit3, GDS 100 md/dl, kolesterol 235
mg/dl, trigliserida 251 mg/dl, HDL: 49 mg/dl, LDL 150 mg/dl, SGOT 32 U/L, natrium
144 mmol/L, kalium 3.9 mmol/L, klorida 101 mmol/L.Analisa gas darah (AGD) :
pH7.437, PCO2 33.9, PO2 102, HCO3 22.8, O2 Sat 97.7, BE -0.3, total CO2 23.9.
Hasil ECG : gelombang QRS membesar Hasil foto thorax : + 75% Hasil USG Jantung :
LV dilatasi, mitral stenosis, aorta stenosis/aorta insufisiensi. Terapi : Oksigen 3
ltr/menit, Infus D5% : 15 tts/mnt, inhalasi ventolin : bisolvon : NaCl 0,9% (1:1:1),
digoxin 1 x 1 tab, furosemin 1 x 40 mg, ceptopril 2 x 12,5 mg, Simvastatin 10 mg 1 x 1,
Antasida syrup 3 x1.

KELOMPOK 3

Anda diminta untuk mengawasi stress latihan (exercise stress test) pada seorang pria
berusia 65 tahun. Ia bertemu dengan dokternya minggu lalu untuk keluhan nyeri dada
saat menjalani aktivitas dan dispnea ringan. Ia telah mengalami rasa tidak nyaman di
dada selama sekitas setahun, namun frekuensi angina yang meningkat mendesaknya
untuk menemui dokter. Ia mengalami nyeri dada bila berjalan lebih dari satu blok, dan
bila ia melanjutkan berjalan akan timbul sesak napas. Ia tidak pernah mengalami nyeri
dada atau dispnea saat istirahat. Ia tidak mengalami pembengkakan pergelangan kaki,
ortopnea, atau dispnea nokturnal paroksismal. Saat anda memeriksanya sebelum test
stress, tekanan darahnya 120/86 mmHg, laju denyut jantung 82 kali/menit dan teratur,
tekanan vena jugularis 5 cmH2o, dan paru-paru bersih. Denyut apeks sedikit lateral dari
garis midklavikular dan sedikit menetap. Ia memiliki S1 normal dan S2 tunggal.
Ditemukan adanya gallop S4, ia memiliki murmur sistolik lambat kresendo-dekresendo,
paling baik terdengar dapa tepi sternum kanan atas, menjalar ke karotis dan apeks.
Denyut karotis tertunda dan menghilang.

Anda menghubungi dokter rujukan untuk mendiskusikan tanda-tanda dan gejala,


membatalkan test stress dan melakukan ekokardiogram.

1. Apa kemungkinan diagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik? apakah


mekanisme patofisiologiyang mendasari temuanini?
2. Ia hanya memiliki murmur sistolik lambat, bila anda sudah mengetahui bahwa
murmur ini tahun lalu keras dan lebih kasar intensitasny, apakah ini telah
meyakinkan anda? Apakah kesalahan yang mungkin terjadi bila pasien tetap
melakuka tes stress?
3. Apakah kemungkinan yang biasa diamati pada ekokardigram dan mengapa?

Data kateterisasi pasien secara resmi dirujuk kepada anda, dan anda
merekomendasikan penggantian katup, ia menjalani kateterisasi jantung, dan data
hemodinamik ditunjukan dalam gambar. Curah jantung 5,2 L/menit dan laju denyut
jantung 77. Tidak ada penyakit arteri koroner yang signifikan.

4. Area katup aorta dapat diperkirakan menggunakan formula yang


disederhanakan:
Area katup = curah jantung/√ gradiantekanan
Berdasarkan data yang diberikan, berapakah perkiraan area katupnya?
5. Saat dirawat untuk pembedahan, ia mengeluhkan nyeri dada. Dokter juga
meminta nitrogliserin sublingual untuknya. Mengapa ini merupaan ide yang
buruk? Apakah penyebab nyeri dadanya? Apakah pilihan terapi yang tersedia
untuk nyeri dada hebat pada kasus ini?.

Jawaban kasus penyakit katup jantung

1. Iakemungkinan mengalami stinosis aorta berat. Murmur sistolik kresendo-


dekresendo biasanya muncul baik dari stenosis katup aorta atau dari catup
pulmonal. Katup yang mengalami stenosis menyebabkan terbentuknya
turbulensi selama ejeksi yang menyebabkan murmur. Murmur bentambah
kencang saat aliran meningkat selama ejeksi, kemudian menghilang saat aliran
menurun. Murmur ini diteruskan ke arteri karotis karenakecepatan yang tinggi
dari darah yang diejeksi. Murmur di apeks kemungkinan disebabkan oleh
getaran berfrekuensi tinggi dari katup aorta selama ejeksi dan kadang dapat lebih
kencang daripada murmur pada tepi sternum.
Stenosis aorta menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri, yang bergeser
denyut apeks ke lateral.Denyut apeks dapat menetap karena ventrikel
membutuhkan waktu lebih lama untuk mengosongkan isinya.Kontur denyut
karotis mencerminkan aliran yang melewati katup aorta.Karena aliran ejeksi
puncak tertunda dan menurun pasa stenosis aorta, maka nadi karotis tertunda dan
menghilang.

2. Kencangnya bunyi murmurbergantung pada aliran yang melewati katup; oleh


sebab itu tidak mencerminkan beratnyastenosis katub. Dalam kasus stenosis
aorta, parameter pemeriksaan fisik lainnya lebih menunjukan beratnya stenosis
katup. Ketika area katup menjadi lebih kecil, punvak kerasnya suara murmur
terjadi belakangan saat sistol. Hal ini kemungkinan akibat kesulitan pembukaan
katup. Pada stenosis aorta berat, isi secakup ventrikel kiri menurun. Ini
bermanifestasi sebagai pulsasi karotis beramplitudo rendah dengan puncak
tertunda (pulsus parvus et tardus).
Normalnya katup aorta menutup sebelum katup pilmonal.Menyebabkan
splitting S2.Selama inspirasi, lebih banyak darah kembali kejantung kanan dan
katup pilmonal menutup setelahnya.Peningkatan splitting S2 selama inspirasi
disebut splitting fisiologis.Pada stenosis aorta berat, waktu ejeksi menjadi lebih
lama, dan katup aorta menutup setelahnya.Hal ini dapat menghilangkan splitting
S2 (S2 tunggal), atau menciptakan splitting paradoksikal.
Selama latihanpembuluh daran berdilatasi dan resistensi perifer
menurun.Saat resistensi perifer menurun, tekanan darah cenderung
menurun.Individu normal mengkompensasi dengan meningkatkan isi sekuncup
dan laju denyut jantung.Namun demikian, pasien ini tidak dapat meningkatkan
isi sekuncupnyakarena katup aortanya yang ketat.Saat tekanan darah menurun,
perfusi koroner berkurang dan area subendokardium ventrikel yang hipertrofi
tidak mendapat perfusi secara adekuat.Saat laju denyut jantung dan kebutuhan
oksigen meningkat, ketidakcocokan antara pasokan dan kebutuhan dapat
menburuk dan menyebabkan iskemia.Bila sebagian miokardium terkena secara
bermakna, maka curah jantung dapat menurun, menyebabkan penurunan perfusi
koroner lebih lanjut dan pemburukan iskemia lebih lanjut.Siklus merugikan ini
dapat berlanjut hingga pasien tiba-tiba meninggal, suatu kejadian yang mungkin
tampak sangat tidak baik untuk catatan anda.

3. Ekokardiogram menunjukan hipertrofi ventrikel kiri yang seragam. Fraksi ejeksi


ventrikel kirinya diperkirakan 45%, dan katup aorta tampak terkalsifikasi dengan
pergerakan daun katup yang terganggu. Studi Doppler menunjukan bahwa
gradien puncak segera yang melewati katup aorta adalah 98 mmHg dengan
gradien rata-rata 68 mmHg. Perkiraan area katup aorta adalah 0,6cm2.
Penyebab stenosis aortapaling umum pada kelompok usia ini adalah
degenerasi kalsifikasi pada daun katup aorta. Patologi katup menyebabkan
terjadinya hipertrofi ventrikel kiri, suatu gradien tekana dan gangguan
pengosongan rongga, yang seluruhnya ditunjukan pada ekokardiogram.
4. Dengan menggunakan rumus, perkiraan area katup adalah 0,62 cm 2. Rumus ini
merupakan versi rumus Gorlin yang disederhanakan, yang menyatakan bahwa
area katup berhubungan dengan curah jantung, dan berlawanan dengan gradien
tekanan rata-rata, periode ejeksi sistolik dan konstanta percepatan (akselerasi)
gravitasi. Pada sebagia besar kasus, periode ejeksi sistolik dikalikan dengan
konstanta akselerasi adalah mendekati 1, sehingga istilah tersebut tidak
digunakan dalam rumus perkiraan.
5. Ventrikel kiri pasien (LV) membutuhkan semua bantuan untuk mengejeksi
suplai darah yang adekuat melalui katup aorta berukuran kepala jarum.
Nitrogliserin terutama merupakan venodilator, dan akan mengumpulkan
darahnya dalam vena. Nitrogliserin akan mengurangi darah yang kembali ke
jantung dan menurunkan preload.walaupun fraksi ejeksi hanya 45%, namun LV
yang tebal tetap memiliki kontraktilitas tinggi dan ada suatu hubungan volume-
tekanan akhir-sistolik yang curam. Hal ini berarti bahwa ia sangat sensitif
terhadap perubahan preload dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan,
yang akan menurunkan perfusi koroner, membentuk iskemia subendokard,
merupakan disfungsi sistolik, menurunkan tekanan darah, dan lain-lain. Oleh
sebab itu, nitrat merupakan ide yang buruk. Bloker adrenergik beta atau bloker
kanal kalsium juga tidak baik karena obat tersebut dapat menurunkan
kontraktilitas. Bloker kanal kalsium juga dapat mendilatasi arteriol perifer dan
menurunkan tekanan darah lebih lanjut.

Apa yang dapat anda lakukan? Anda sebenarnya dapat memberi cairan tertentu
untuk meningkatkan preload dan meningkatkan curah jantung. Terapi lainnya, bila
katup tisak dapat segera diganti, adalah intra-aortic ballon counterpulsation. Ini dapat
memperbaiki perfusi koroner pada beberapa kasus dan meredakan iskemia subendokard.

KESIMPULAN

Penggantian katup paling baik dilakukan sebelum perkembangan disfungsi


vemtrikel atau hipertensi pulmonal.Baik jaringan (xenograft, umumnya dari babi)
maupun katup mekanis dapat digunakan. Meskipun katup mekanis pemakaiannya lebih
kuat dan tahan lama, namun katup ini dapat memicu thrombosis sehingga terapi
antikoagulan akan dibutuhkan.

KELOMPOK 4

Seorang laki-laki berusia 57 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada,
keletihan, pusing, mual, muntah, dan pandanganya tampak kabur, sedang pasien tidak
sedang habis beraktivitas, setelah dilakukan pengukuran tanda-tanda vital didapatkan
hasil yaitu, TD 160/95 mmHg, N: 78 x/m, R: 25 x/m, T: 37,5ºC. Tentukan diagnosa
yang tepat!

a. Penyakit jantung koroner


b. Krisi hipertensi
c. Hipertensi
d. Pasien dengan gangguan paru-paru
e. Pasien gagal jantung

Tn. K adalah seorang pelayan toko yang berusia 43 tahun, TB 165 dan BB 60 kg.
mempunyai kebiasaan makan 3x sehari dan mengemil kripik kentang paling tidak 1
bungkus/hari @ 250gr, biasa mengkonsumsi alkohol dan merokok,serta kurang makan
sayur dan buah. Dia sering mengalami sakit kepala dan lemas.Dia sudah didiagnosis
menderita hipertensi sejak dua tahun yang lalu.Saat ini saja tekanan darahnya mencapai
180/100 mmHg.Tentukan intervensi yang sesuai untuk Tn.K!

a. Penkes penyakit hipertensi


b. Penkes diet rendah garam
c. Penkes Gizi seimbang
d. Penkes modifikasi gaya hidup sesuai penyakit
e. Penkes toleransi aktivitas

Nn. R 27 tahun datang kerumah sakit dengan keluhan sakit kepala hebat dan tiba-tiba,
penglihatannya kabur, anoreaksia, muntah-muntah, nyeri dada, separuh wajahnya tidak
bisa digerakkan. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan hasil TD 200/140 mmHg,
terdapat proteinuria dan hasil pemeriksaan EKG terlihat hipertrofi ventrikel kiri.
Tentukan diagnosa yang tepat!
a. Gagal ginjal kronis
b. Gagal jantung
c. Krisis hipertensi
d. Hipertensi
e. Hipertrofi ventrikel kiri

KUNCI JAWABAN

1. C
2. D
3. C
KELOMPOK 5

1. Seorang laki-laki usia 47 tahun, TB 164 cm dan BB 73 kg sedang dirawat di ICU


sebuah rumah sakit di Banjarmasin dengan keluhan: gangguan irama jantung
dan tiba-tiba pasien tersebut mengatakan sesak nafas bahkan tidak bisa
bernafas. Beberapa menit selanjutnya pasien kehilangan kesadaran dan terjadi
perubahan pada monitor EKG. Ners G yang melakukan perawatan terhadap
pasien tersebut.

Pertanyaan:

1. Sebenarnya sebelum kehilangan kesadaran apa yang dialami oleh pasien tersebut
dan jelaskan alasannya !

2. Apa yang dialami pasien tersebut saat ini !

3. Tindakan apa yang segera harus dilakukan oleh Ners G untuk menyelamatkan
pasien tersebut!

4. Tindakan apa yang harus dilakukan Ners G untuk mengembalikan irama jantung
pasien tersebut!

5. Sebenarnya Ners G melakukan analisa dari segi patofisiologi, apa penyebab pasien
tersebut kehilangan kesadaran!

6. Ners G melakukan evaluasi perbaikan kondisi pasien, maka apa yang harus
dilakukannya!

7. Tindakan pemeriksaan diagnostik apa yang secara rutin dan berkala dilakukan
Ners G, untuk mengevaluasi kondisi pasien tersebut!

Penyelesaian:

1. Sebenarnya sebelum kehilangan kesadaran apa yang dialami oleh pasien tersebut
dan jelaskan alasannya !
Jawab : 
Sebelum kehilangan kesadaran pasien tersebut mengalami sesak nafas bahkan
tidak dapat bernafas disebabkan oleh terjadinya gangguan listrik jantung sehingga
terjadi penurunan CO.Akibatnya dapat terjadi kekurangan aliran darah ke otak,
arteri koroner dan bagian tubuh lainnya yang akan menyebabkan letih dan sesak
nafas. Aliran darah yang kurang ke otak dapat menyebabkan pusing atau hilang
kesadaran atau pingsan(syncope). Suplai darah yang kurang ke arteri koroner
menyebabkan angina .

2.  Apa yang dialami pasien tersebut saat ini !


Jawab :
Pasien tersebut saat ini mengalami kehilangan kesadaran,disebabkan karena
terjadinya gangguan lisrik jantung yang menyebabkan  penurunan daya
kontaktilitas jantung  sehingga terjadi penurunan CO,Penurunan SV.sehingga
darah  yang diedarkan mengalami penurunan.akibatnya pasokan darah yang
diedarkan ke seluruh tubuh tidak  terpenuhi terutama ke otak.sehingga terjadilah
penurunan kesadaran dan kehilangan kesadaran.

3. Tindakan apa yang segera harus dilakukan oleh Ners G untuk menyelamatkan
pasien tersebut!
Jawab :
Tindakan yang harus segera dilakukan oleh Perawat G untuk menyelamatkan
pasientersebut adalah melakukan tindakan  Memonitoring EKG,tujuan
pemonitoringan EKG12 lead tersebut adalah untuk mengetahui menunjukkan pola
cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan
efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung. Sehingga setelah melakukan
EKG kita dapat melakukan tindakan selanjutnya yaitu pemberian oksigen.

Tes EKG dalam keadaan istirahat adalah perekaman yang singkat aktivitas listrik
jantung, umumnya dilakukan ditempat praktek dokter. Tes EKG ini hanya berguna
jika aritmia yang menyebabkan palpitasi terjadi waktu tes EKG ini diadakan.
Sering tes EKG ini tidak dapat menangkap aritmia, maka monitor Holter
diperlukan. Monitor 24 jam Holter adalah cassete tape yang dipakai pasien terus
menerus ketika ia mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Pasien bersamaan membuat
catatan harian dari palpitasi atau gejala lain selama periode perekaman ini. Gejala
palpitasi kemudian dapat dikorelasikan dengan adanya atau tidak adanya aritmia
pada Holter tape. Jika kecurigaan adanya aritmia yang menyebabkan palpitasi juga
masih belum bisa ditangkap oleh 24 jam monitor Holter, maka sebuah monitor
kejadian yang kecil dipakai oleh pasien untuk waktu 1 sampai 2 minggu. Jika
pasien mengalami palpitasi maka ia akan menekan tombol merekam ritme jantung
sebelum, selama dan sesudah periode ini. Kemudian rekaman ini dapat dievaluasi
oleh dokter.

4.  Tindakan apa yang harus dilakukan Ners G untuk mengembalikan irama jantung
pasien tersebut!
Jawab :

Tindakan yang harus dilakukan  mengembalikan konduksi jantung adalah


melakukan tindakan kejut listrik ,digunakan dengan alat defibrilator dengan tujuan
nya adalah dapat menyebabkan depolarisasi sementara dari jantung yang denyutnya
tidak teratur, sehingga memungkinkan timbulnya kembali aktifitas listrik jantung
yang terkoordinir danm mengembalikan irama jantung. Energi dialirkan melalui
suatu elektrode yang disebut paddle. Defibrilator diklasifikasikan menurut 2 tipe
bentuk gelombangnya yaitu monophasic dan biphasic. Defibrilator monophasic
adalah tipe defibrilator yang pertama kali diperkenalkan, defibrilator biphasic
adalah defibrilator yang digunakan pada defibrilator manual yang banyak
dipasarkan saat ini.

5. Sebenarnya Ners G melakukan analisa dari segi patofisiologi, apa penyebab pasien
tersebut kehilangan kesadaran!
Jawab :

Dilihat dari segi patofisiologi nya,penyebab pasien tersebut kehilangan kesadaran


adalah pada aritmia terjadi penyumbatan arteri koroner yang menyebabkan
terganggunya konduksi listrik jantung.sehingga terjadi penurunan CO, penurunan
sv.sehingga pasokan darah dalam tubuh sedikit. Darah yang di alirkan mengalami
penurunan. Penurunan aliran darah ke otak akan menyebabkan kehilangan
kesadaraan dan penurunan aliran darah ke tubuh menyebabkan lemas dan pusing.

6.  Ners G melakukan evaluasi perbaikan kondisi pasien, maka apa yang harus
dilakukannya!
Jawab :
a. EKG :menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan
tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.

b.Monitor Holter :Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan
dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (di
rumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi pacu
jantung/efek obat antidisritmia.

c. Foto dada :Dapat menunjukkan pembesaran bayangan jantung sehubungan


dengan disfungsi ventrikel atau katup

d.  Skan pencitraan miokardia :Dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan


miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan
dinding dan kemampuan pompa.

e.  Tes stress latihan : Dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan yang
menyebabkan disritmia.

f.  Elektrolit :Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat


mnenyebabkan disritmia.

g. Pemeriksaan obat :Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat


jalanan atau dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.

h. Pemeriksaan tiroid : Peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum dapat


menyebabkan.meningkatkan disritmia.
i. Laju sedimentasi :Peninggian dapat menujukkan proses inflamasi akut contoh
endokarditissebagai faktor pencetus disritmia.

j.GDA/nadi oksimetri :Hipoksemia dapat menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia.

7.  Tindakan pemeriksaan diagnostik apa yang secara rutin dan berkala dilakukan Ners
G, untuk mengevaluasi kondisi pasien tersebut!

Jawab :

EKG : Menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan


tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.

2. Pasien Tn. Dj, 27 tahun, dirawat diruang perawatan CCU (coronary care unit)
dengan gangguan irama jantung. Pada pengkajian gambaran EKG, irama
dasar sinus rhtym tetapi kadang-kadang muncul gambaran ventrikel ekstra
sistol dan ventrikel takikardi. Pada riwayat penyakit, pasien pernah dirawat
dengan masalah yang sama dan elektrolyt imbalance. Hasil pemeriksaan
kalium : 1,8 mmol/L, Na : 134 mmol/l, Clorida : 100mmol/l.

Data Subjektif Data Objektif


- Pasien mengeluh pusing yang - Denyutan nadi lemah
disertai pingsan (sinkop) - Hemodinamik (peredaran darah)
- Pasien mengatakan kaki dan menurun
tangannya dingin dan berkeringat - Sianosis
- Pasien cepat lelah dan sesak nafas - TD : 100/60 mmHg
- EKG : Ventrikel extrasistol
- Kalium : 1,8 mmol/L
- Na : 134 mmol/l
- Clorida : 100 mmol/l

  ANALISA DATA DAN DIAGNOSA

NO Data Fokus Problem Etiologi


1. DS : - Pasien mengeluh pusing yang Penurunan curah Kelistrikan
disertai pingsan (sinkop) jantung jantung

- Pasien mengatakan kaki dan


tangannya dingin dan berkeringat

DO : - Denyutan nadi lemah


- Hemodinamik (peredaran darah)
menurun
- Sianosis
- TD : 100/60 mmHg
- EKG : Ventrikel extrasistol

2. Gangguan Kurangnya
DS : - Pasien mengeluh pusing yang
keseimbangan keseimbangan
disertai pingsan (sinkop)
elektrolit Kalium
- Pasien cepat lelah dan sesak nafas

DO : - Denyutan nadi lemah


- Hemodinamik (peredaran darah)
menurun
- TD : 100/60 mmHg
- EKG : Ventrikel extrasistol
- Kalium : 1,8 mmol/L
- Na : 134mmol/l
- Clorida : 100 mmol/l

3. DS : - Pasien mengeluh pusing yang Intoleransi Kekurangan


disertai pingsan (sinkop) aktifitas suplai oksigen
- Pasien cepat lelah dan sesak nafas (O2)

DO : - Denyutan nadi lemah


- Hemodinamik (peredaran darah)
menurun
- TD : 100/60 mmHg
- EKG : Ventrikel extrasistol
- Kalium : 1,8 mmol/L
- Na : 134mmol/l
- Clorida : 100 mmol/l

INTERVENSI
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kelistrikan jantung
Intervensi:
-Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo dan simetris.
Rasional : untuk mengetahui nadi

-Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra,penurunan
nadi.

Rasional : untuk mengetahui tekanan nadi dan frekuensi jantung


-Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis.
Rasional : Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak
adekuatnya curah jantung, vasokontriksi dan anemia.

2. Gangguan keseimbangan elektrolit berhubungan dengan kurangnya keseimbangan kalium

Intervensi:

-Monitor pengeluaran urin, catat jumlah, konsentrasi , dan warna

Rasional : untuk mengetahui jumlah pengeluaran urine setiap hari

-Ukur keseimbangan cairan masuk dan keluar dalam 24 jam

Rasional : untuk mengetahui keseimbangan cairan yang masuk ke dalam dan


cairan yang keluar

- Beri terapi oksigen


Rasional : agar kebutuhan oksigen terpenuhi

3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kekurangan suplai oksigen (O2)


Intervensi:
- Anjurkan pasien untuk mengindari aktifitas yang berlebihan

Rasional : untuk mengurangi kebutuhan oksigen yang berlebihan.

3. Tn. B, 50 th, 2 bulan ini tidak bisa lagi ke pasar karena kedua kakinya bengkak.
Menurutnya, kurang lebih 1 tahun belakangan ini Tn. A semakin sering
mengalami nyeri dada dan pusing pasien juga mengeluh sesak nafas dan
kadang disertai batuk berdahak. Pasien juga mempunyai riwayat hipertensi
dan jarang memeriksakan diri. Pada pemeriksaan TD: 150/110 MmHg irama
jantung tidak teratur dan pasien mengalami sianosis. Dan hasil dari foto dada
adalah adanya pembesaran bayangan jantung.

PENGKAJIAN
a. Airway
  Saluran pernafasan pasien dihalangi oleh sputum
b. Breathing
  Inspeksi: pola nafas cepat/sesak, pengembangan dada tidak simetris
  Palpasi : tidak ada bunyi krepitasi
  Perkusi : hipersonor
  Auskultasi: mengi

c. Circulation
  TD:150/110 MmHg, nadi: 70x/menit, RR: 37x/menit, suhu: 36,50C
  GCS: 13
  Pupil: responnya bagus terhadap cahaya

d. Data Subjektif :
-   Pasien mengatakan nyeri pada dada
-   Pasien mengatakan sering mengalami pusing
-   Pasien mengatakan sering mengalami sesak nafas
-   Pasien mengatakan batuknya disertai sputum
-   Pasien mengatakan mempunyai riwayat hipertensi

  e. Objektif:
-  TD:150/110 MmHg, nadi: 70x/menit, RR: 37x/menit, suhu: 36,50C
-   Irama jantung terdengar tidak teratur
-   Pasien terlihat mengalami sianosis
-   Pengembangan dada pasien tidak semetris
-   Pola nafas pasien terlihat cepat
-   Suara jantung hipersonor

DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN


1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
kontraktilitas miokardium
         Tujuan dan Kriteria hasil
  Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x 24 jam diharapkan:
  Criteria hasil: mempertahankan/ meningkatkan curah jantung adekuat
         Intervensi Keperawatan:
  Pantau tanda-tanda vital dan kaji keadekuatan
  Tentukan tipe aritmia dan catat irama
  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat dan O2
         Prinsip-prinsip tindakan dan rasional
  Untuk mengetahui adanya gangguan curah jantung
  Untuk mengetahui intervensi selanjutnya
  Untuk menjaga/memperbaiki irama jantung dan untuk meningkatkan
jumlah sediaan O2 pada jantung.

KELOMPOK 6

Kasus I :

Tn.M usia 50 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas kurang lebih
sejak 5 hari yang lalu, dengan aktifitas yang biasa, napas cepat, dangkal, sering pusing,
dan kelemahan. Klien tampak pucat, segala aktifitas klien dibantu oleh keluarga dari
hasil pemeriksaan fisik terdapat TD : 130/90 mmHg, Suhu : 37,5◦c , R : 29x/mn,

N : 120x/mnt. Dari pemeriksaan Lab didapatkan hasil PH darah : 7,5 PaCO2 : 50mmHg,
PaO2 : 75mmHg, HB : 10 g/dl , Ht : 40%. Setelah di auskultasi terdengar suara cracle
pada paru dan trakea, kemudian dokter mengatakan bahwa terjadi penumpukan
cairan pada paru-paru pasien tepatnya pada aveoli paru. Pengembangan dada klien
abnormal. Klien memiliki riwayat penyakit pneumonia 3 bulan yang lalu.

Kasus II :

Nama pasien : Tn. CSUmur : 79 Tahun

jenis Kelamin : Laki-laki

NO. CM : 44 11 33 Masuk RS : 28 Juli 2009 (00.30)Ruang : HerbraII.

ANAMNESISA : dengan Pasien pada tanggal 28 Juli 2009 (19.00)

Keluhan Utama : Sesak nafas & Nyeri dada kiri


Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke RSD dengan keluhan sesak nafas sejak 1
Minggu, sesak nafas ini dirasakan kambuh-kambuhan sejak 2 tahun terakhir, sesak
nafas dirasakan saat istirahat, memberat bila pasien bekerja sehingga membuat pasien
membatasi pekerjaan. Saat muncul gejala, dada dirasakan nyeri, terutama sebelah kiri
menyebar hingga seluruh dada. Sesak nafas muncul jika pasien kecapean, udara dingin
dan bekerja terlalu berat. Saat sesak nafas muncul bunyi mengi, namun sekarang
sudah tidak. Malam hari pasien kadang-kadang terbangun karena sesak nafas, dengan
posisi tidur bantal ditinggikan membuat pasien agak lega. Mual juga dikeluhkan,
muntah 1x sebelum dibawa ke rumah sakit. BAB dan BAK lancar normal. 

Riwayat Penyakit Dahulu :Pasien pernah menderita penyakit serupa kambuh-


kambuhan sejak 2 tahun yang lalu.Riwayat hipertensi ada, Riwayat penyakit gula
disangkal, Riwayat penyakit asma disangkal pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga :Tidak ada anggota keluarga yang menderita gejala serupa
dengan pasien.

PEMERIKSAAN FISIK :

Keadaan Umum : lemah, tampak sesak napas.

Kesadaran : Compos Mentis

Vital Sign :Tekanan Darah : 130 / 90 mmHg ; Nadi : 92 x / menit

Suhu : 36,6 º C ; Respirasi : 30 x / menit.

Kasus III :

Pasien adalah Ny. M, 26 tahun, masuk RS (IGD) pada tanggal 31/1/10 jam 02.00 dan
masuk ICU pada tanggal 31/ 1/10 jam 05.00 dengan keluhan utama sesak napas.

Sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien sering merasa sesak terutama bila
melakukan peker-jaan rumah sehari-hari. Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit
pasien merasa sesak yang semakin bertambah berat. Sesak tidak disertai batuk,
demam dan tidak berbunyi. Beberapa jam sebelum masuk merasa sesak semakin
bertambah hebat. Pasien hamil cukup bulan, ANC teratur ke bidan. Sejak usia
kehamilan 4 bulan pasien dikatakan darah tinggi. Riwayat kaki bengkak, air kencing
berbuih disangkal. Gerak janin ma-sih dirasakan, pandangan kabur disangkal. Riwayat
penyakit dahulu pasien sebagai berikut. Sejak kecil dikatakan denyut jantung OS
tampak keras. Sejak 3 tahun ini os sering merasa sesak bila malam hari sehingga
harus !dur dengan 2 bantal

Penyelesaian :

Kasus I :

DS : Pasien mengeluh sesak napas sejak 5 hari yang lalu

DO :

 Klien tampak pucat, segala aktifitas klien dibantu oleh keluarga dari hasil
pemeriksaan fisik:
 TD : 130/90 mmHg
 Suhu : 37,5◦c
 R : 29x/mnt
 N : 120x/mnt
 Dari pemeriksaan Lab didapatkan hasil PH darah : 7,5 PaCO2 : 50mmHg,
PaO2 : 75mmHg, HB : 10 g/dl , Ht : 40%.
Diagnosa Keperawatan :

- Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane aveolar-


kapiler.
Tujuan Keperawatan :

- Pasien dapat bebas dari tanda-tanda distress pernapasan


- Pasien tidak mengalami napas dangkal atau ortopnea
Intervensi keperawatan :

 Managemen jalan napas


 Pemantauan tanda-tanda vital
 Ventilasi mekanis
Penatalaksanaan :
- Auskultasi suara napas, catat apabila ada suara tambahan
- Monitor rata-rata kedalaman, irama, usaha respirasi
- Identifikasi pasien perlunya pemasagan alat jalan napas buatan
- Monitor kelelahan otot diagfragma
- Monitor pola napas klien

Penyelesaian Kasus II :

DS :

- pasien mengeluh sesak napas saat beraktivitas


- pasien mengatakan nyeri di bagian dada sebelah kiri hingga menjalar keseluruh
dada
- sebelum kerumah sakit pasien mengatakan mual dan muntah 1x
DO :

- Keadaan Umum : lemah, tampak sesak napas.


- Kesadaran : Compos Mentis
- Vital Sign :Tekanan Darah : 130 / 90 mmHg ; Nadi : 92 x / menit
Suhu : 36,6 º C ; Respirasi : 30 x / menit.

Diagnosa Keperawatan :

 Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan nyeri

Tujuan/kriteria hasil :

- Pasien menunjukkan pola napas efektif yang dibuktikan status pernapasan ,


status ventilasi dan pernapasan yang tidak terganggu.

Intervensi :

- Pemantauan tanda-tanda vital


- Pemantauan pernapasan
- Managemen jalan napas

Penatalaksanaan :
- Mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskular, pernapasan, dan suhu
tubuh pasien untuk menentukan dan mencegah komplikasi.
- Memastikan kepatenan jalan napas dan pertukaran gas yang adekuat.
- Memfasilitasi kepatenan jalan napas
- Auskultasi suara napas , perhatikan area penurunan / tidak adanya ventilasi dan
adanya suara napas tambahan.

KELOMPOK 7

Kasus 1

Tn.K 25 tahun, BB 50 Kg Post- Kraniotomi e.c stroke hemoragik dirawat di ICU. Hari
ke-5 dengan menggunakan settingan ventilator:

Mode : volume control MV : 5,5 Liter/menit FiO2 : 60%

RR : 12x/m Pc : 12 mmHg

Pasien gelisah, alarm ventilator berbunyi, TTV pasien

TD : 130/80 mmHg HR : 80x/m

RR : 30x/m Suhu : 36o

1. Pengkajian apa saja yang perlu dilakukan dan tindakan apa yang dilakukan
perawat ketika alarm ventilator Tn. K berbunyi?

2. Tindakan apa yang perlu dilakukan oleh perawat?

Jika diketahui hasil AGD pasien

pH: 7,49

pCO2 : 20

HCO3 : 18

PO2 : 200 mmHg

BE : -4

SaO2 : 98%
Jawaban Kasus

1. Pengkajian Kasus
Post Kraniotomi b.d Stroke Hemoragik
Kraniotomi ialah mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan
untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial.Prosedur ini dilakukan
untuk menghilangkan tumor, mengurangi TIK, mengevakuasi bekuan darah
dan mengontrol hemoragi.(Brunner and Suddarth).

Trauma kepala (trauma eraniocerebral) dapat terjadi karena cedera kulit


kepala, tulang kepala, jaringan otak, baik terpisah maupun
seluruhnya.Beberapa variabel yang mempengaruhi luasnya cedera kepala
adalah sebagai berikut:
1. Lokasi dan arah dari penyebab benturan.
2. Kecepatan kekuatan yang datang.
3. Permukaan dari kekuatan yang menimpa.
4. Kondisi kepala ketika mendapat penyebab benturan.
Cedera bervariasi dari luka kulit yang sederhana sampai geger otak.
Luka terbuka dari tengkorak ditandai kerusakan otak. Luasnya luka bukan
merupakan indikasi berat ringannya gangguan. Pengaruh umum cedera
kepala dari tingkat ringan sampai tingkat berat adalah edema otak, defisit
sensori dan motorik, peningkatan intra kranial. Kerusakan selanjutnya timbul
herniasi otak, isoheni otak dan hipoxia.
Cedera pada otak bisa berasal dari trauma langsung atau tidak langsung
pada kepala. Trauma tidak langsung disebabkan karena tingginya tahanan
atau keluaran yang merobek terkena pada kepala akibat menarik leher.
Trauma langsung bila kepala langsung terluka. Semua ini berakibat
terjadinya akselerasi-deselerasi dan pembentukan rongga (dilepasnya gas,
dari cairan lumbal, darah, dan jaringan otak). Trauma langsung juga
menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya, rusaknya otak oleh kompresi,
goresan atau tekanan.
Cedera akselerasi terjadi bila kepala kena benturan dari objek yang
bergerak dari objek yang bergerak dan menimbulkan gerakan. Akibat dari
kekuatan akselerasi, kikiran atau kontusi pada lobus oksipital dan frontal,
batang, otak dan cerebelum dapat terjadi.
Cedera deselerasi bila kepala membentur bahan padat yang tidak
bergerak dengan deselerasi yang cepat dari tulang tengkorak, otak
berdeselrasi lebih lambat.
Ada beberapa tipe patah tulang:
1. Linear-retak sederhana pada tulang
2. Pecah-retaknya satu atau lebih dari dua fragmen.
3. Depresi-tulang terdorong sampai di bawah permukaan tulang normal.
4. Hancur-bisa linear, banyak potongan atau tertekan.
Perdarahan akibat trauma cranio cerebral dapat terjadi pada lokasi-lokasi
tersebut: kulit kepala, epidural, subdural, intracerebral, intraventricular.
Hematom subdural dapat diklasifikasi sebagai berikut:
1. Akut: terjadi dalam 24 jam sampai 48 jam.
2. Subakut: terjadi dalam 48 jam sampai 2 minggu.
3. Kronis: terjadi setelah beberapa minggu atau bulan dari terjadinya
cedera.
a. Perdarahan intracerebral biasanya timbul pada daerah frontal atau
temporal. Kebanyakan kematian cedera kepala akibat edema yang
disebabkan oleh kerusakan dan disertai destruksi
Conscussion/comosio/memar
Merupakan cedera kepala tertutup yang ditandai oleh hilangnya
kesadaran, perubahan persepsi sensori, karakteristik gejala: sakit
kepala, pusing, disorientasi.
b. Contusio cerebri
Termasuk didalamnya adalah luka memar, perdarahan dan edema.
Dapat terlihat pada lobus frontal jika dilakukan lumbal pungkri
maka lumbal berdarah.
c. Lacertio cerebri
Adanya sobekan pada jaringan otak sehingga dapat terjadi tidak
sarah/pingsan, hemiphagia, dilatasi pupil, primer pusat vital.
Edema otak merupakan penyebab utama peningkatan TIC.
Klasifikasi cedera kepala:
a. Pengkajian
a) Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
 Keluhan nyeri pada kepala
 Keadaan luka dan balutan : tidak ada perdarahan
b) Pola nutrisi metabolik
 Keluhan mual, muntah
 Kesulitan mengunyah/menelan

c) Pola aktifitas
 Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan
 Perubahan kesadaran, letargi
 Hemiparese
 Cedera (trauma)
 Kehilangan tonus otot.
d) Eliminasi
Inkontinensia kandung kemih atau mengalami gangguan
fungsi
e) Pola persepsi sensori dan kognitif
 Pusing
 Gelisah
 Adanya keluhan napas (sesak, ronchi, apnea)Diagnosa
Keperawatan yang mungkin dialami post kraniotomi

Tindakan yang dilakukan perawat sesaat setelah alarm berbunyi

Ventilator mekanis adalah alat pernapasan bertekanan negatif atau


positif yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen selama
waktu yang lama (Smeltzer & Bare, 2001).Ventilasi mekanis diindikasikan
pada klien kritis yang mengalami hipoksemia dan hiperkapnea (Tanjung,
2003).Ventilator digunakan untuk mendukung kehidupan klien yang
mengalami gangguan pernapasan, neurovaskular, dll.
Pada ventilator terdapat sistem alarm yang berfungsi untuk
mewaspadakan perawat tentang adanya masalah yang terjadi pada klien.
Pada ventilator, terdapat beberapa jenis bunyi alarm. Adapun bunyi alarm
tersebut, yaitu;
a. Alarm tekanan rendah menandakan adanya pemutusan dari klien
(ventilator terlepas dari klien)
b. Alarm tekanan tinggi menandakan adanya peningkatan tekanan, misalnya
klien batuk, cubing tertekuk, dll.
c. Alarm volume rendah menandakan kebocoran

Jadi, alarm ventilator berbunyi pada Tn. K bisa disebabkan oleh


terlepasnya ventilator dari klien. Hal ini dikarenakan pada kasus klien
mengalami kegelisahan. Jenis bunyi alarm tersebut adalah alarm tekanan
rendah. Tindakan yang dilakukan oleh perawat ketika alarm ventilator
berbunyi pada Tn. K adalah;
a. Memantau penyebab alarm ventilator berbunyi
b. Mengukur tanda-tanda vital klien. Hal tersebut dilakukan oleh
perawat untuk melihat apakah TTV klien berada dalam rentang
normal atau tidak. Umumnya, jika alarm ventilator berbunyi maka
akan terjadi gangguan fungsi ventilator sehingga bisa mengakibatkan
frekuensi pernapasan klien menjadi naik atau turun :
a) Kaji kondisi klien (seperti gelisah, ansietas, takikardia, dll)
b) Dengarkan bunyi napas klien
c) Lihat status neurologis klien
d) Periksa volume tidal, ventilasi satu menit, kapasitas vital kuat
Selain tindakan di atas, perawat juga melakukan pengecekan pada
peralatan ventilator. Ventilator juga harus dikaji untuk memastikan bahwa
ventilator berfungsi dengan tepat dan bahwa pengesetannya telah dibuat
dengan tepat. Meskipun perawat tidak benar-benar bertanggung jawab
terhadap penyesuaian pengesetan pada ventilator atau dalam pengukuran
parameter ventilator (biasanya pemasangan ventilator merupakan tanggung
jawab dari ahli terapi pernapasan), sedangkan perawat bertanggung jawab
terhadap klien dan harus mengevaluasi bagaimana ventilator mempengaruhi
status klien secara keseluruhan. Dalam memantau ventilator, perawat harus
memperhatikan hal-hal berikut, yaitu:
a. Jenis ventilator yang dipakai oleh klien (ventilator negatif atau ventilator
positif)
b. Cara pengendalian (kontrol, bantu/kontrol, intermittent mandatory
ventilation)
c. Pengesetan volume tidal dan frekuensi
d. Pengesetan FiO2 (fraksi oksigen yang diinspirasi)
e. Tekanan inspirasi yang dicapai dan batasan tekanan
f. Pengesetan sigh (biasanya 1,5 kali dari volume tidal dan berkisar dari 1
sampai 3/jam) jika memungkinkan
g. Adanya air dalam selang, terlepasnya sambungan atau terlipatnya selang
h. Humidifikasi (humidifier dengan air)
i. Alarm (fungsi yang sesuai)
j. PEEP (tekanan akhir-ekspiratori positif) atau tingkat dukungan tekanan,
jika memungkinkan
Peran perawat dalam tindakan ventilator
- Menetapkan ventilasi mekanik siap pakai
- Menentukan setting mode ventilator
- Menetukan parameter mode ventilator
- Alarm pada posisi ON
- Klien merasa nyaman.

2. Pengkajian dan tindakan perawat setelah hasil AGD keluar


Analisa gas darah digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-
pasien penyakit berat yang akut dan menahun.Pemeriksaan gas darah dipakai
untuk menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, Kadar oksigenasi
dalam darah, Kadar karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan analisa gas
darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan “ASTRUP”, yaitu suatu
pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri. Lokasi
pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A. Femoralis.

Hasil Analisa Gas Darah (AGD)


Perubahan satu atau dua komponen dalam hasil AGD
mengindikasikan terjadinya gangguan asam dan basa. Penilaian keadaan
asam dan basa berdasarkan hasil analisa gas darah membutuhkan pendekatan
yang sistematis. Penurunan keasaman (pH) darah < 7,35 disebut asidosis,
sedangkan peningkatan keasaman (pH) > 7,45 disebut alkalosis. Jika
gangguan asam basa terutama disebabkan oleh komponen respirasi (PCO2)
maka disebut asidosis/alkalosis respiratorik, sedangkan bila gangguannya
disebabkan oleh komponen HCO3 maka disebut asidosis/alkalosis
metabolik. Disebut gangguan sederhana bila gangguan tersebut hanya
melibatkan satu komponen saja (respirasi atau metabolik), sedangkan bila
melibatkan keduanya (respirasi dan metabolik) disebut gangguan asam basa
campuran. Berikut ini langkah-langkah untuk menilai gas darah:
1. Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia
dengan dua sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik, jika
meningkat klien mengalami alkalemia dengan dua sebab alkalosis
metabolik atau alkalosis respiratorik)
2. Perhatikan variabel pernafasan (PCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang
berhubungan dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan
primer bersifat respiratorik, metabolik atau campuran (PCO2 normal,
meningkat, atau menurun; HCO3 normal, meningkat, atau menurun).
a. Jika klien dalam kondisi asidosis
 Lanjutkan dengan melihat nilai PCO2, untuk memastikan apakan
sistem pernapasan penyebabnya; jika PCO2>45 mmHg, maka
kondisinya adalah asidosis respiratorik
 Jika penyebabnya bukan pernapasan, maka perhatikan nilai
HCO3; jika HCO3<22 mmol/L, maka kondisinya adalah asidosis
metabolik.
b. Jika klien dalam kondisi alkalosis
 Perhatikan nilai PCO2, jika PCO2<35 mmHg, maka kondisinya
adalah alkalosis respiratorik
 Jika penyebabnya bukan pernapasan, maka perhatikan nilai
HCO3; jika HCO3>26 mmol/L, maka kondisinya adalah alkalosis
metabolik (Cree & Rischmiller, 2006)
Pada gangguan asam basa sederhana, PCO2 dan HCO3 selalu berubah
dalam arah yang sama; penyimpangan dari HCO3 dan PCO2 dalam
arah yang berlawanan menunjukkan adanya gangguan asam basa
campuran)
3. Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah
terjadi (hal ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer,
jika nilai bergerak yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang
berjalan).

4. Buat penafsiran tahap akhir


Jenis Gangguan pH PaCO2 HCO3
Asidosis Murni N
Respiratorik
Terkompensasi
Sebagian
Terkompensasi N
Penuh
Asidosis Metabolik Murni N
Terkompensasi
Sebagian
Terkompensasi N
Penuh
Asidosis Respiratorik
dan Metabolik
Alkalosis Murni N
Respiratorik
Terkompensasi
Sebagian
Terkompensasi N
Penuh
Alkalosis Murni N
Metabolik
Terkompensasi
Sebagian
Terkompensasi N
Penuh
Alkalosis Respiratorik
dan Metabolik

Sumber: Bidang pendidikan dan pelatihan, pusat jantung dan pembuluh

Berdasarkan data di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:


1. Alkalosis respiratorik terjadi akibat penurunan PaCo2
2. Asidosis respiratorik terjadi akibat peningkatan PaCo2
3. Alkalosis metabolik terjadi akibat peningkatan HCO3
4. Asidosis metabolik terjadi akibat penurunan HCO3 (Sherwood, 2001)

Kasus:
Pada kasus terlihat adanya peningkatan nilai pH, penurunan PaCO 2, yang
juga disertai dengan penurunan HCO3. Peningkatan nilai pH (>7,45)
mengindikasikan terjadinya kondisi alkalosis, penurunan nilai PaCO2 (<35
mmHg) mengindikasikan terjadinya gangguan respiratorik, dan penurunan
HCO3 yang menyertainya menandakan bahwa proses kompensasi sedang
berjalan. Berdasarkan hasil AGD tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
pasien mengalami alkalosis respiratorik terkompensasi sebagian.
Alkalosis respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa
karena pernafasan yang cepat dan dalam sehingga menyebabkan kadar
karbondioksida
dalam darah menjadi rendah. Pernafasan yang cepat dan dalam disebut
hiperventilasi yang menyebabkan terlalu banyaknya jumlah karbondioksida
yang dikeluarkan dari aliran darah. Penyebab hiperventilasi yang paling
sering ditemukan adalah kecemasan. Penyebab lain dari alkalosis
respiratorik adalah asma, pneumonia, ansietas, atau abnormalitas kendali
pernapasan akibat trauma atau tumor (Cree & Rischmiller, 2000).
Jika ventilasi paru meningkat melebihi kecepatan produksi CO 2, maka CO2
yang dikeluarkan akan terlalu banyak. Akibatnya H2CO3 yang terbentuk
akan berkurang dan [H+] menurun (Sherwood, 2001). Mekanisme
kompensasi pada tahap awal dilakukan oleh ginjal dengan mengeluarkan
bikarbonat, Na+, dan K+ sehingga urin menjadi basa. Sedangkan H+ dan
anion-anion ditahan. Karena K+ banyak dikeluarkan melalui urin, maka
diperlukan pemberian cairan yang mengandung K+ dan untuk mengganti
kedudukan HCO3 yang hilang, diperlukan cairan yang mengandung Cl-.

Hasil AGD Keterangan Nilai normal

pH = 7,49 Meningkat 7,35-7,45

PaO2 = 200 mmHg Meningkat 80-100 mmHg

PaCO2 = 20 mmHg Menurun 35-45 mmHg

HCO3 = 18 Menurun 22-26 mEq/L

Be = -4 Tidak Normal -2 s.d 2 mEq/L

SaO2 = 95% Normal 95%-100%

Kasus 2

Tn. F dirawat di Rumah Sakit dengan keadaan kritis terpasang ventilator jantung
sehingga sangat rentan akan resiko decubitus.

1. Apa diagnosa keperawatan untuk kasus tersebut dan bagaimana tindakan


keperawatannya ?

Jawaban :

Diagnosa Keperawatan :

a. Gangguan mobilitas fisik.


Tujuan (NOC)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam klien
menunjukan :
a) Mampu mandiri total
b) Membutuhkan alat bantu
c) Membutuhkan bantuan orang lain
d) Membutuhkan bantuan orang lain dan alat
e) Tergantung total
Dalam hal :
a) Penampilan posisi tubuh yang benar
b) Pergerakan sendi dan otot
c) Melakukan perpindahan atau ambulasi; miring kanan, miring kiri,
berjalan, kursi roda
b. Intervensi (NIC)
a) Latihan kekuatan
Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program
latihan secara rutin
b) Latihan untuk ambulasi
 Ajarkan teknik ambulasi dan perpindahan yang aman pada
klien dan keluarga
 Sediakan alat bantu untuk klien seperti kursi roda, walker,
atau kruk
 Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan
yang aman

c) Latihan mobilisasi dengan kursi roda


 Ajarkan klien dan keluarga tentang pemakayan kursi roda dan
cara berpidah dari tempat tidur ke kursi roda atau sebaliknya
 Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat otot
tubuh
d) Latihan keseimbangan
Ajarkan pada kliean dan keluarga untuk dapat mengatur posisi secara
mandiri dan menjaga keseimbangan selama latihan ataupun aktifitas
sehari-hari
e) Perbaikan posisi tubuh yang benar
 Ajarkan pada kliean dan keluarga untuk memperhatikan
postur tubuh yang benar untuk menghindari kelelahan, keram
atau cedera
 Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan

KELOMPOK 8

1. Pada jam 11.20 Tn.K datang ke rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan pasien
mengalami shock septic yang ditandai dengan nadi 116x/menit teraba cepat dan
kuat, tekanan darah 81/44 mmHg, akral teraba dingin dan kunjungtiva terlihat
pucat dan suhu 40,8C. untuk pemantauan keadaan pasien akan dilakukan
pemasangan pasien monitor. Jenis bedside yang tepat untuk Tn.K adalah…
a. Pasien monitor vital sign
b. Pasien monitor 4 parameter
c. Pasien monitor 5 parameter
d. Pasien monitor 6 parameter
e. Pasien monitor 7 parameter

Jawaban C

Keterangan :

pasien monitor 5 parameter ini bisa melakukan pemeriksaan seperti EKG,


respirasi, tekanan darah atau NIBP, kadar oksigen dalam dalam / saturasi darah /
SpO2, dan temperatur

2. Tuan X datang ke IGD RSUDZA dibawa oleh istrinya pasca kecelakaan di jalan
raya.Beliau mengalami fraktur os femur bagian dextra. Sebagai penolong, hal
apa saja yang pelu dimonitoring pada tuan X…

a. Nadi

b. Saturasi O2

c. Tekanan Darah

d. Perdarahan
e. Benar semua

Jawaban: E

3. Berikut ini yang merupakan hal yang dapat menimbulkan perburukan pada
pasien saat penanganan pasien kritis adalah…

1. Terlepasnya EKG

2. Terlepasmya jalur IV pada pasien dehidrasi berat

3. Terlepasnya ventilator

4. Kegagalan monitoring karena kurang sumber daya yang terlatih

Jawaban:E E

KELOMPOK 9

1. Tn.A dengan umur 52 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri
dada. Sebelumnya Tn.A memiliki stroke iskemik dan memiliki riwayat
penyakit diabetes mellitus (DM). Beliau mengatakan akhir-akhir ini beliau
stres dan susah tidur karena memikirkan pekerjaannya. Setelah di lakukan
TTV diketahui TD: 170/90 mmHg, suhu: 39°C, BB: 90 kg, HDL: 35 mg/dl,
LDL: 150 mg/dl. Diagnosa yang muncul pada kasus di atas kecuali
a. Gangguan Perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan
sirkulasi
b. Nyeri berhubungan dengan gangguan kemampuan pembuluh darah
menyuplai oksigen ke jaringaqn
c. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan
sirkulasi
d. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal
e. Kurang pengetahuan tentang modifikasi gaya hidup berhubungan
dengan kurang informasi
Jawaban : D

2. Wanita 25 tahun datang ke klinik untuk medical check up karena adanya


keluhan cepat lelah dan berdebar-debar akhir-akhir ini. Pemeriksaan fisik
keadaan umum baik. TD: 120/80 mmHg, nadi 90 kali/menit. BJ I Normal;
BJ II =wide fixed split, EKG menunjukkan irama sinus dengan tanda-tanda
RVH (Right ventrikel hypertrophi). Pertanyaan apa diagnosis sementara
pasien ini?
a. MR
b. ToF
c. ASD
d. VSD
e. MVP ( Mitral Valve Prolaps
Jawaban : C

3. Seorang pasien wanita 23 tahun mengeluh sesak nafas. Hasil pemeriksaan


ekokardiografi menunjukkan ada mitral stenosis berat. Dokter menganjurkan
operasi mitral valve repairment tetapi pasien menolak. Dokter memberi
warfarin 2 mg/hari. Salah satu tujuan pemberian warfarin pada kasus di atas
adalah?
a. Cegah aritmia fatal
b. Mengurangi stenos mitral
c. Mencegah komplikasi stroke
d. Mengurangi gagal jantung berat
e. Mencegah kejadian PJK
Jawaban : C