Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit yang bukan
disebabkan oleh proses infeksi (tidak infeksius) dan tidak dapat ditularkan kepada
orang lain. Penyakit tidak menular biasanya terjadi karena faktor keturunan dan
gaya hidup yang tidak sehat. PTM menjadi penyebab utama kematian secara
global. Data WHO menunjukkan bahwa dari 36 juta kematian yang terjadi di
dunia pada tahun 2013, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan
oleh PTM. Pelaksanaan layanan paket PTM di Puskesmas awalnya dilakukan di
daerah percontohan yang didukung oleh WHO pada tahun 2012. Integrasi ini
diperluas untuk menanggung masalah hipertensi dan diabetes mellitus, kemudian
menanggung juga masalah kardiovaskular, asma, PPOK, stroke, kanker.1,2
Data PTM dalam Riskesdas 2013 meliputi asma, penyakit paru obstruksi
kronis (PPOK), kanker; DM, hipertiroid, hipertensi, jantung koroner, gagal
jantung, stroke, gagal ginjal kronis, batu ginjal, dan penyakit sendi/rematik.
Prevalensi asma dan kanker lebih tinggi pada perempuan. Prevalensi DM
Indonesia berdasarkan diagnosis atau gejala sebesar 2,1%. Prevalensi hipertensi
pada umur ≥18 tahun di Indonesia yang didapat melalui jawaban pernah
didiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4%, sedangkan yang pernah didiagnosis
tenaga kesehatan atau sedang minum obat hipertensi sendiri sebesar 9,5%. Jadi,
terdapat 0,1% penduduk yang minum obat sendiri, meskipun tidak pernah
didiagnosis hipertensi. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil
pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8%. Jadi cakupan nakes hanya 36,8
%, sebagian besar (63,2%) kasus hipertensi di masyarakat tidak terdiagnosis.
Prevalensi DM, hipertiroid, dan hipertensi pada perempuan cenderung lebih tinggi
daripada laki-laki.3
Data kesakitan beberapa penyakit tidak menular di Kalimantan Tengah yang
diperoleh dari Riskesdas 2013 yaitu gagal jantung 0,07%, hipertiroid 0,2%, gagal ginjal
kronis 0,2%, penyakit jantung koroner 0,3%, batu ginjal 0,4%, kanker 0,7%, diabetes
1,2%, PPOK 4,3%, asma 5,7%, stroke 6,2%, penyakit sendi 12,6% dan, hipertensi 26,7%.

1
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa hipertensi merupakan penyakit tidak menular
tertinggi yang terdapat di Kalimantan Tengah.3
Data Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Kota Palangka Raya tahun
2016 menunjukan bahwa jumlah penduduk yang berusia ≥ 18 tahun adalah 1.697.795
orang. Jumlah yang diukur tekanan darah adalah 307.249 orang (18.10%). Dari hasil
pengukuran tekanan darah pada penduduk yang berusia ≥ 18 tahun terdapat 76.168 orang
(24,79%) yang menderita hipertensi.4
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Marina Permai sebagai
puskesmas pusat memiliki program-program pengembangan, salah satunya adalah Pos
Pembinaan Terpadu (Posbindu). Posbindu merupakan salah satu program dengan
mengupayakan peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan
pemantauan faktor risiko PTM yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik.
Data kesakitan beberapa penyakit tidak menular di Puskesmas Marina Permai yang
diperoleh dari kunjungan di Poli umum bulan Januari-Agustus 2018 yaitu asma 1,8%,
tonsilitis 4,4 %, diabetes mellitus 4,9%, dermatitis kontak alergi kontak 6,3%, diare 6,6%,
myalgia 6,8%, faringitis akut 9,6%, gastritis 12,2%, hipertensi 15,3%, dan ISPA 31,6%. 5,6
Faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) meliputi merokok, konsumsi
minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik, obesitas, stres,
hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterol serta menindak lanjuti secara dini faktor risiko
yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan dasar. Tujuan dari posbindu adalah meningkatkan peran serta masyarakat
dalam pencegahan dan penemuan dini faktor resiko PTM. Sasaran utama adalah
kelompok masyarakat sehat, beresiko dan penyandang PTM berusia 15 tahun ke atas. 1
Posbindu yang terdapat pada wilayah kerja Puskesmas Marina Permai ada
6, yaitu posbindu, yaitu Cinta Kasih, Lansia Kecipir, Pelita Hati, dan Borneo
Barigas. Posbindu-posbindu tersebut masih belum melakukan beberapa bentuk
kegiatan yang sesuai dicanangkan oleh Kemenkes RI, yaitu kegiatan pemeriksaan
paru dan kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfemin urin.
Mengingat peran Puskesmas Marina yang cukup strategis berada di daerah pusat
kota Palangka Raya, ketidaktercapaian tersebut menimbulkan pertanyaan
sehingga dapat dijadikan sebagai program yang dapat evaluasi berdasarkan
pedoman-pedoman yang mengatur pelaksanaan program pencegahan penyakit
tidak menular di Indonesia.5

2
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pelaksanaan program Posbindu dalam pencegahan
Penyakit Tidak Menular di wilayah kerja UPT Puskesmas Marina
Permai Palangka Raya?
2. Bagaimanakah komponen proses pelaksanaan program Posbindu di
wilayah kerja UPT Puskesmas Marina Permai Palangka Raya?
3. Apakah terdapat masalah dalam pelaksanaan program Posbindu dalam
pencegahan Penyakit Tidak Menular di wilayah kerja UPT Puskesmas
Marina Permai Palangka Raya?

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui pelaksanaan program Posbindu dalam pencegahan Penyakit
Tidak Menular di wilayah kerja UPT Puskesmas Marina Permai Palangka
Raya.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Diketahuinya komponen proses pelaksanaan program Posbindu di
wilayah kerja UPT Puskesmas Marina Permai Palangka Raya.
2. Diketahuinya masalah dalam pelaksanaan program Posbindu dalam
pencegahan Penyakit Tidak Menular di wilayah kerja UPT Puskesmas Marina
Permai Palangka Raya.

1.4. Manfaat
1. Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya
Sebagai bahan masukan untuk mengetahui pelaksanaan program
Posbindu di wilayah kerja UPT Puskesmas Marina Palangka Raya
dengan berdasarkan Petunjuk Teknis Pos Pembinaan Terpadu Penyakit
Tidak Menular (Posbindu PTM).
2. Puskesmas Marina Permai Palangka Raya
Sebagai evaluasi untuk pemenuhan standar pelayanan yang berkualitas.
3. Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya
Bagi instansi pendidikan yang berlatar belakang kesehatan agar
menjadikan sebagai masukan untuk bahan penelitian selanjutnya.

3
4. Penulis
Memberikan pengetahuan dan pengalaman yang kelak bermanfaat
untuk memperbaiki sistem program kerja selanjutnya khususnya yang
berhubungan dengan program pencegahan penyakit tidak menular.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Puskesmas
2.1.1 Definisi

4
Berdasarkan Kepmenkes RI No. 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar
Puskesmas, Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah kerja.7
1. Unit Pelaksana Teknis sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota (UPT), puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari
tugas teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit
pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di
Indonesia.7
2. Pembangunan Kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa
Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
optimal.7
3. Penanggung jawab penyelenggaraan penanggung jawab utama
penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah
kabupaten/kota adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sedangkan
puskesmas bertanggung jawab hanya sebagian upaya pembangunan kesehatan
yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan
kemampuannya.7
4. Wilayah Kerja secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu
kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari dari satu
puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas,
dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW).7

2.1.2 Fungsi
Fungsi Puskesmas berdasarkan Kepmenkes RI No. 128 Tahun 2004 tentang
Kebijakan Dasar Puskesmas terdiri dari:
1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan Puskesmas selalu
berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan

5
sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di samping
itu puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari
penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya.7
2. Pusat pemberdayaan masyarakat Puskesmas selalu berupaya agar perorangan
terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha
memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan
masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan
kepentingan kesehatan termasuk pembiayaannya, serta ikut menetapkan,
menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.
Pemberdayaan ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi,
khususnya sosial budaya masyarakat setempat.7
3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama Puskesmas bertanggung jawab
menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh,
terpadu dan berkesinambungan.7 Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi:
a. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi
dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan
perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan
penyakit.7
b. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik
dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain
promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan,
perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana,
kesehatan jiwa serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.7,8

2.1.3 Kegiatan Puskesmas


Berdasarkan Buku Pedoman Kerja Puskesmas yang terbaru ada beberapa
usaha pokok kesehatan yang dapat dilakukan oleh puskesmas, itupun sangat

6
tergantung kepada faktor tenaga, sarana dan prasarana serta biaya yang tersedia.
Pelaksanaan kegiatan pokok diarahkan kepada keluarga sebagai satuan
masyarakat terkecil. Oleh karena itu kegiatan pokok puskesmas ditujukan untuk
kepentingan keluarga sebagai bagian dari masyarakat di wilayah kerjanya.
Kegiaian-kegiatan yang dilaksanakan oleh petugas dan kegiatan pokok di atas
adalah:7,8
a. Upaya kesehatan ibu dan anak
1. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyusui, serta bayi,
anak balita dan anak prasekolah.
2. Memberikan nasehat tentang makanan guna mencegah gizi buruk karena
kekurangan protein dan kalori dan lain-lain kekurangan, serta bila ada
pemberian makanan tambahan vitamin dan mineral.
3. Pemberian nasehat tentang perkembangan anak dan cara stimulasinya.
4. Immunisasi tetanus toksoid 2 kali pada ibu hamil dan BCG, DPT 3X, polio
3X, dan campak lX pada bayi.
5. Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan
program KIA.
6. Pelayanan keluarga berencana kepada pasangan usia subur dengan
perhatian khusus kepada mereka yang dalam keadaan bahaya karena
melahirkan anak berkali-kali dan golongan ibu berisiko tinggi.
7. Pengobatan bagi ibu, bayi, anak balita dan anak prasekolah untuk macam-
macam penyakit ringan.
8. Kunjungan rumah untuk mencari ibu dan anak yang memerlukan
pemeliharaan, memberikan penerangan dan pendidikan tentang kesehatan,
dan untuk mengadakan pemantauan pada mereka yang lalai mengunjungi
puskesmas dan meminta agar mereka datang ke puskesmas lagi
9. Pengawasan dan bimbingan kepada taman kanak-kanak dan para dukun
bayi
b. Upaya keluarga berencana
1. Mengadakan kursus keluarga berencana untuk para ibu dan caton ibu yang
mengunjungi KIA.

7
2. Mengadakan kursus keluarga berencana kepada dukun yang kemudian
akan bekerja sebagai penggerak calon peserta keluarga berencana.
3. Mengadakan pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga berencana kapan
saja ada kesempatan, baik di puskesmas maupun sewaktu mengadakan
kunjungan rumah.
4. Memasang IUD, cara-cara penggunaan pit, kondom dan cara-cara lain
dengan memberi sarananya.
5. Melanjutkan mengamati mereka yang menggunakan sarana pencegahan
kehamilan.
c. Upaya perbaikan gizi
1. Mengenali penderita-penderita kekurangan gizi dan mengobati mereka
2. Mempelajari keadaan gizi masyarakat dan mengembangkan program
perbaikan gizi 
3. Memberikan pendidikan gizi kepada masyarakat dan secara perseorangan
kepada mereka yang membutuhkan, terutama dalam rangka program KIA
4. Melaksanakan program perbaikan gizi keluarga (suatu program
menyeluruh yang mencakup pembangunan masyarakat) melalui
kelompok-kelompok penimbangan pos pelayanan terpadu
5. Memberikan makanan tambahan yang mengandung protein dan kalori
yang cukup kepada anak-anak di bawah umur 5 tahun dan kepada ibu yang
menyusui 
6. Memberikan vitamin A kepada anak-anak di bawah umur 5 tahun.
d. Upaya kesehatan lingkungan
1. Penyehatan air bersih
2. Penyehatan pembuangan kotoran
3. Penyehatan lingkungan perumahan
4. Penyehatan air buangan/limbah
5. Pengawasan sanitasi tempat umum
6. Penyehatan makanan dan minuman
7. Pelaksanaan peraturan perundangan
d. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular  
1. Mengumpulkan dan menganalisa data penyakit

8
2. Melaporkan kasus penyakit menular
3. Menyelidiki di lapangan untuk melihat benar atau tidaknya laporan yang
masuk, untuk menemukan kasus-kasus baru dan untuk mengetahuyi
sumber penularan
4. Tindakan permulaan untuk menahan penularan penyakit
5. Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi
6. Pemberian immunisasi
7. Pemberantasan vektor
8. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
e. Upaya pengobatan
 Melaksanakan diagnosa sedini mungkin melalui:
1. Mendapatkan riwayat penyakit
2. Mengadakan pemeriksaan fisik 
3. Mengadaan pemeriksaan laboratorium 
4. Membuat diagnosa
 Melaksanakan tindakan pengobatan
 Melakukan upaya rujukan bila dipandang perlu, rujukan tersebut dapat
berupa:
1. Rujukan diagnostik
2. Rujukan pengobatan/rehabilitasi 
3. Rujukan lain.
f. Upaya penyuluhan kesehatan masyarakat
1. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari tiap-tiap program puskesmas. Kegiatan penyuluhan
kesehatan dilakukan pada setiap kesempatan oleh petugas, apakah di
klinik, rumah dan kelompok-kelompok masyarakat.
2. Di tingkat puskesmas tidak ada petugas penyuluhan tersendiri, tetapi di
tingkat kabupaten diadakan tenaga-tenaga koordinator penyuluhan
kesehatan. Koordinator membantu para petugas puskesmas dalam
mengembangkan teknik dan materi penyuluhan di Puskesmas.
g. Upaya kesehatan sekolah

9
1. Membina sarana keteladanan di sekolah, berupa sarana keteladanan gizi
berupa kantin dan sarana keteladanan kebersihan lingkungan
2. Membina kebersihan perseorangan peserta didik
3. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan secara aktif
dalam pelayanan kesehatan melalui kegiatan dokter kecil
4. Penjaringan kesehatan peserta didik kelas I
5. Pemeriksaan kesehatan periodik sekali setahun untuk kelas II sampai VI
dan guru berupa pemeriksaan kesehatan sederhana
6. Immunisasi peserta didik kelas I dan VI
7. Pengawasan terhadap keadaan air
8. Pengobatan ringan pertolongan pertama
9. Rujukan medik
10. Penanganan kasus anemia gizi
11. Pembinaan teknis dan pengawasan di sekolah
12. Pencatatan dan pelaporan.
h. Upaya kesehatan olah raga
1. Perneriksaan kesehatan berkala
2. Penentuan takaran latihan
3. Pengobatan dengan latihan dan rehabilitasi
4. Pengobatan akibat cedera latihan
5. Pengawasan selama pemusatan latihan.
i. Upaya perawatan kesehatan masyarakat
1. Asuhan perawatan kepada individu di puskesmas maupun di rumah
dengan berbagai tingkat umur, kondisi kesehatan, tumbuh kembang dan
jenis kelamin.
2. Asuhan perawatan yang diarahkan kepada keluarga sebagai unit terkecil
dari masyarakat (keluarga binaan)
3. Pelayanan perawatan kepada kelompok khusus diantaranya: ibu hamil,
anak balita, usia lanjut dan sebagainya
4. Pelayanan keperawatan pada tingkat masyarakat
j. Upaya peningkatan kesehatan kerja
 Identifikasi. masalah, meliputi:

10
1. Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala untuk para pekerja
2. Pemeriksaan kasus terhadap pekerja yang datang berobat ke puskesmas
Peninjauan tempat kerja untuk menentukan bahaya akibat kerja
 Kegiatan peningkatan kesehatan tenaga kerja melalui peningkatan gizi
pekerja, Iingkungan kerja, dan kegiatan peningkatan kesejahteraan.
 Kegiatan pencegahan kecelakaan akibat kerja, meliputi:
1. Penyuluhan kesehatan
2. Kegiatan ergonomoik, yaitu kegiatan untuk mencapai kesesuaian antara
alat kerja agar tidak terjadi stres fisik terhadap pekerja 
3. Kegiatan monitoring bahaya akibat kerja 
4. Pemakaian alat pelindung
 Kegiatan pengobatan kasus penyakit akibat kerja
 Kegiatan pemulihan kesehatan bagi pekerja yang sakit
 Kegiatan rujukan medik dan kesehatan terhadap pekerja yang sakit.
k. Upaya kesehatan gigi dan mulut
1. Pembinaan/pengembangan kemampuan peran serta masyarakat dalam
upaya pemeliharaan diri dalam wadah program UKGM
2. Pelayanan asuhan pada kelompok rawan
3. Pelayanan medik gigi dasar
4. Pencatatan dan pelaporan.
l. Upaya kesehatan jiwa
1. Kegiatan kesehatan jiwa yang terpadu dengan kegiatan pokok
puskesmas
2. Penanganan pasien dengan gangguan jiwa
3. Kegiatan dalam bentuk penyuluhan serta pembinaan peran serta
masyarakat
4. Pengembangan upaya kesehatanjiwa di puskesmas melalui
pengembangan peran serta masyarakat dan pelayanan melalui kesehatan
jiwa
5. Pencatatan dan pelaporan.
m. Upaya kesehatan mata

11
 Upaya kesehatan mata, pencegahan kesehatan dasar yang terpadu dengan
kegiatan pokok Iainnya
 Upaya kesehatan mata
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan visus dan mata luar, tes buta warna, tes tekanan bola mata,
tes saluran air mata, tes lapangan pandang, funduskopi, dan pemeriksaan
laboratorium 
3. Pengobatan dan pemberiaan kacamata
n. Upaya pembinaan peran serta masyarakat
1. Penggalangan dukungan penentu kebijaksanaan, pimpinan wilayah,
limas sektoral dan berbagai organisasi kesehatan. yang dilaksanakan
melalui dialog. seminar dan lokakarya, dalam rangka komunikasi,
informasi, dan motivasi dengan memanfaatkan media massa dan sistem
informasi kesehatan
2. Persiapan petugas penyelenggara melalui latihan, orientasi atau
sarasehan kepemimpinan di bidang kesehatan
3. Persiapan masyarakat, melalui rangkaian kegiatan untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat dalam mengenal dan memecahkan masalah
kesehatan, dengan menggali dan menggerakkan sumber daya yang
dimilikinya
4. Pelaksanaan kegiatan kesehatan oleh dan untuk masyarakat melalui
kader yang telah dilatih
5. Pengembangan dan pelestarian kegiatan oleh masyarakat.
o. Upaya pembinaan pengobatan tradisional
1. Melestarikan bahan-bahan tanaman yang dapat digunakan untuk
pengobatan tradisional
2. Melakukan pembinaan terhadap cara-cara pengobatan tradisional.
2.2 Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu)
2.2.1 Definisi
Selain posyandu, pelayanan kesehatan dapat dilakukan melalui Posbindu.
Posbindu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber daya
Masyarakat (UKBM) yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan

12
kebutuhan masyarakat itu sendiri. Salah satu kegiatan posbindu yang dilaksanakan
adalah Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) terhadap faktor resiko penyakit
tidak menular seperti obesitas, hipertensi, hiperkolesterol, hiperglikemia, rematik,
dan merokok berupa peran serta aktif kelompok masyarakat dalam upaya
pencegahan sekaligus peningkatan pengetahuan untuk pencegahan penyakit.
Kegiatan ini dikembangkan sebagai bentuk kewaspadaan dini mengingat hampir
semua faktor resiko PTM tidak menunjukkan gejala pada yang mengalaminya.1
2.2.2 Kegiatan Posbindu
Bentuk Kegiatan Posbindu PTM meliputi 10 kegiatan yaitu:
1. Kegiatan penggalian informasi faktor resiko dengan wawancara sederhana
tentang riwayat PTM pada keluarga dan diri peserta, aktivitas fisik, merokok,
kurang makan sayur dan buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan dalam
rumah tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk identifikasi
masalah kesehatan berkaitan dengan tejadinya PTM. Akitivitas ini dilakukan
saat pertama kali kunjungan dan berkala sebulan sekali.1
2. Kegiatan pengukuran berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh (IMT),
lingkar perut, analisis lemak tubuh dan tekanan darah sebaiknya
diselenggarakan satu bulan sekali. Analisa lemak tubuh hanya dapat dilakukan
pada usia 10 tahun ke atas.1
3. Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana diselenggarakan 1 tahun sekali
bagi yang sehat, sementara yang berisiko 3 bulan sekali dan penderita
gangguan paru-paru dianjurkan 1 bulan sekali. Pemeriksaan Arus Puncak
Ekspirasi dengan peakflowmeter pada anak dimulai usia 13 tahun. Pemeriksaan
fungsi paru sederhana sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah
terlatih.1
4. Kegiatan pemeriksaan gula darah bagi individu sehat paling sedikit
diselenggarakan 3 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor resiko
PTM atau penyandang diabetes mellitus paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk
pemeriksaan glukosa darah dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat,
bidan, analis laboratorium dan sebagainya).1
5. Kegiatan pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida bagi individu sehat
disarankan 5 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor resiko PTM 6

13
bulan sekali dan penderita dislipidemia atau gangguan lemak dalam darah
minimal 3 bulan sekali. Untuk pemeriksaan gula darah dan kolesterol darah
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ada di lingkungan kelompok masyarakat
tersebut.1
6. Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dilakukan minimal
5 tahun sekali bagi individu sehat setelah hasil IVA positif dilakukan tindakan
pengobatan krioterapi diulangi setelah 6 bulan. Jika hasil IVA positif dilakukan
tindakan pengobatan krioterapi kembali. Pemeriksaan IVA dilakukan oleh
bidan atau dokter yang telah terlatih dan tatalaksana lanjutan dilakukan oleh
dokter terlatih di Puskesmas.1
7. Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfemin urin bagi
kelompok pengemudi umum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter,
perawat, bidan, analis laboratorium dan lainnya).1
8. Kegiatan konseling dan penyuluhan harus dilakukan setiap pelaksanaan
posbindu PTM. Hal ini penting dilakukan karena pemantauan faktor resiko
kurang bermanfaat bila masyarakat tidak tahu cara mengendalikannya.1
9. Kegiatan aktifitas fisik dan atau olahraga bersama sebaiknya tidak hanya
dilakukan jika ada penyelenggaraan Posbindu PTM namun perlu dilakukan
rutin setiap minggu.1
10. Kegiatan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan dasar di wilayahnya dengan
pemanfaatan sumber daya tersedia termasuk upaya respon cepat sederhana
dalam penanganan pra-rujukan.1

2.2.3 Pelaksana Posbindu PTM


Tujuan Posbindu PTM, yaitu:
1. Memberikan pengetahuan tentang PTM, faktor resiko, dampak dan
pengendalian PTM
2. Memberikan pengetahuan tentang Posbindu PTM
3. Memberikan kemampuan dan keterampilan dalam memantau faktor
resiko PTM

14
4. Memberikan keterampilan dalam melakukan konseling serta tindak
lanjut lainnya.1

Tahapan Kegiatan Posbindu1


1. Meja 1: Pendaftaran, pencatatan
2. Meja 2 : Teknik wawancara terarah
3. Meja 3 : Pengukuran TB, BB, IMT, lingkar perut dan analisia lemak
tubuh
4. Meja 4 : Pengukuran kadar gula darah, kolesterol total dan trigliserida
 Darah, pemeriksaan klinis payudara, uji fungsi paru sederhana,
 IVA test, kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin.
5. Meja 5 : Konseling, edukasi dan tindak lanjut lainnya

Sarana dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan Posbindu


PTM adalah sebagai berikut:
1. Untuk standar minimal lima set meja kursi, pengukur tinggi badan,
timbangan berat badan, pita pengukur lingkar perut, dan tensimeter serta
buku pintar kader tentang cara pengukuran tinggi badan dan berat badan,
pengukuran lingkar perut, alat ukur analisa lemak tubuh dan pengukuran
tekanan darah dengan ukuran manset dewasa dan anak, alat uji fungsi paru
sederhana (peakflowmeter) dan media bantu edukasi.1
2. Sarana standar lengkap diperlukan alat ukur kadar gula darah, alat ukur
kadar kolesterol total dan trigliserida, alat ukur kadar pernafasan alkohol,
tes amfetamin urin kit dan IVA kit.1
3. Untuk kegiatan deteksi dini kanker leher Rahim (IVA) dibutuhkan
ruangan khusus dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
telah terlatih.1
4. Untuk pelaksanaan pencatatan hasil pelaksanaan Posbindu PTM
diperlukan kartu menuju sehat faktor resiko penyakit tidak menular (KMS
FR-PTM) dan buku pencatatan.1

15
5. Untuk mendukung kegiatan edukasi dan konseling diperlukan media KIE
(Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang memadai, seperti serial buku
pintar kader, leaflet, brosur, model makanan dan lainnya.1

Setiap kader pelaksana dilatih untuk melakukan kegiatan Posbindu yaitu :


1. Melaporkan kepada pimpinan organisasi atau lembaga atau pimpinan
wilayah
2. Mempersiapkan dan melengkapi sarana yang dibutuhkan
3. Menyusun rencana kerja
4. Memberi informasi kepada sasaran
5. Melaksanakan wawancara, pemeriksaan, pencatatan dan rujukan bila
diperlukan setiap bulan
6. Melaksanakan konseling
7. Melaksanakan penyuluhan berkala
8. Melaksanakan kegiatan aktifitas fisik bersama
9. Membangun jejaring kerja
10. Melakukan konsultasi dengan petugas bila diperlukan1

2.2.4 Pengelompokan Tipe Posbindu


Berdasarkan jenis kegiatan deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut yang
dapat dilakukan oleh Posbindu PTM, maka dapat dibagi menjadi 2 kelompok tipe
Posbindu PTM, yaitu:
a. Posbindu PTM Dasar, meliputi pelayanan deteksi dini faktor risiko sederhana,
yang dilakukan dengan wawancara terarah melalui penggunaan instrumen
untuk mengidentifikasi riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga dan
yang telah diderita sebelumnya, perilaku berisiko, potensi terjadinya cedera
dan kekerasan dalam rumah tangga, pengukuran berat badan, tinggi badan,
lingkar perut, Indeks massa tubuh (IMT), alat analisa lemak tubuh, pengukuran
tekanan darah, paru sederhana serta penyuluhan mengenai pemeriksaan
payudara sendiri.1
b. Posbindu PTM Utama, yang meliputi pelayanan Posbindu PTM Dasar
ditambah pemeriksaan gula darah, kolesterol total dan trigliserida, pemeriksaan

16
klinis payudara, pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat), pemeriksaan
kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin bagi kelompok pengemudi
umum, dengan pelaksana tenaga kesehatan terlatih (Dokter, bidan, perawat
kesehatan/tenaga analis laboratorium/lainnya) di desa/kelurahan, kelompok
masyarakat, lembaga/institusi. Untuk penyelenggaraan Posbindu PTM Utama
dapat dipadukan dengan Pos Kesehatan Desa atau Kelurahan siaga aktif,
maupun di kelompok masyarakat/lembaga/institusi yang tersedia tenaga
kesehatan tersebut sesuai dengan kompetensinya.1

2.3 Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM)


Penyakit tidak menular merupakan penyakit yang bukan disebabkan oleh
proses infeksi (tidak infeksius). Program penyakit tidak menular (PPTM) adalah
suatu upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular. Kerangka
konsep pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular didasari oleh
kerangka dasar Blum, bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh faktor keturunan,
lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan. Kebijakan pencegahan dan
penanggulangan PTM ini ditujukan pada penyakit-penyakit yang mempunyai
faktor resiko yang sama, yaitu jantung, stroke, hipertensi, diabetes melitus,
penyumbatan saluran napas kronis.7
Program Pengendalian PTM di Indonesia meliputi pengendalian diabetes
dan penyakit metabolik, penyakit kronik dan degeneratif, penyakit jantung dan
pembuluh darah, penyakit kanker dan gangguan akibat kecelakaan dan tindak
kekerasan. Pengendalian PTM dilaksanakan melalui upaya pengendalian faktor
risiko, survailans epidemiologi, deteksi dini dan tatalaksana.7

b.3.1 Upaya Pelayanan PTM di Puskesmas


Puskesmas melakukan upaya pengendalian PTM melalui kegiatan primer,
sekunder, dan tersier. Pencegahan primer adalah segala kegiatan yang dapat
menghentikan atau mengurangi faktor risiko kejadian penyakit sebelum penyakit
tersebut terjadi. Pencegahan primer dapat dilaksanakan di puskesmas, melalui
berbagai upaya meliputi: promosi PTM untuk meningkatkan kesadaran serta
edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam pengendalian PTM.
Promosi PTM dapat dilakukan melalui berbagai upaya, seperti kampanye
17
pengendalian PTM pada hari-hari besar PTM (Hari Kanker Sedunia, Hari Tanpa
Tembakau Sedunia, Hari Diabetes Sedunia, Pekan Keselamatan di Jalan, dan lain-
lain).7
Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada kegiatan deteksi dini untuk
menemukan penyakit. Bila ditemukan kasus maka dapat dilakukan pengobatan
dini agar penyakit tersebut tidak menjadi parah. Pencegahan sekunder dapat
dilaksanakan melalui skrining/uji tapis dan deteksi dini.7
Pencegahan tersier adalah suatu kegiatan yang difokuskan kepada
mempertahankan kualitas hidup penderita yang telah mengalami penyakit yang
cukup berat yaitu dengan cara rehabilitasi dan paliatif. Pencegahan tersier
merupakan upaya yang dilaksanakan pada penderita sesegera mungkin agar
terhindar dari komplikasi yang lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas hidup
dan memperpanjang lama ketahanan hidup. Pencegahan tersier dapat dilaksanakan
melalui tindak lanjut dini dan tata laksana kasus termasuk penanganan respon
cepat, dimana menjadi hal yang utama agar kecacatan dan kematian dini akibat
PTM dapat tercegah dengan baik.7

b.4 Penentuan Prioritas Masalah


Prioritas adalah sebuah pilihan yang dipilih dari sekian banyak pilihan yang
ada dalam fikiran dan benak kita sesuai dengan keaadaan atau situasi tertentu,
pilihan ini pada umumnya bersifat kecenderungan dalam menentukan pilihan
mana yang lebih penting (menurut si pemilih) dalam menentukan pilihanya, ini
juga berkaitan dengan keaadaan kondisi secara fisik serta mental.8
Prioritas juga dapat menetukan penempatan nasib di hari depan, dimana
serta kapan ia ditempatkan dalam suatu dimensi yang sama atau berbeda,
contohnya seorang mahasiswa yang menentukan sebuah jurusan dalam
universitasnya.8

2.4.1 Metode-metode Penentuan Prioritas


Penetapan prioritas masalah menjadi bagian penting dalam proses
pemecahan masalah dikarenakan dua alasan. Pertama, karena terbatasnya sumber
daya yang tersedia, dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan semua

18
masalah.Kedua, karena adanya hubungan antara satu masalah dengan masalah
lainnya, dan karena itu tidak perlu semua masalah diselesaikan.8
Ada beberap teknik atau metode yang dapat digunakan untuk menetapkan
prioritas masalah baik dengan menggunakan pendekatan kuantitatif maupun
kualitatif sebagai berikut.8

1. Metode Kuantitatif
A. Teknik Kriteria Matriks (Criteria Matrix Technique)
Kriteria yang dipergunakan banyak macamnya. Secara umum dapat
dibedakan atas tiga macam:
a. Pentingnya masalah8
Makin penting (importancy) masalah tersebut, makin diprioritaskan
penyelesaiannya. Beberapa ukuran pentingnya masalah sebagai berikut:
1. Besarnya masalah (prevalence)
2. Akibat yang ditimbulkan oleh masalah (severity)
3. Kenaikan besarnya masalah (rate of increase)
4. Derajat keinginan masyarakat yang tidak dipenuhi (degree of unmeet
need)
5. Keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit)
6. Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern)
7. Suasana politik (political climate)
b. Kelayakan teknologi8
Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah (technical feasibility), makin diprioritaskan masalah tersebut.

c. Sumber daya yang tersedia8


Makin tersedia sumberdaya yang dapat dipakai seperti tenaga, dana dan
sarana untuk mengatasi masalah (resource ability) makin diprioritaskan masalah
tersebut.

19
Nilai skor antara 1 (tidak penting) sampai 5 (sangat penting) untuk setiap
kriteria yang sesuai. Prioritas masalah adalah yang jumlah nilainya paling besar.
Contoh sederhana adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Prioritas Masalah
Jumla
Daftar I T R h Prioritas
No
Masalah IxTxR
P S RI DU SB PB PC
1 A 1 4 2 3 4 3 1 3 2 1.729 III
2 B 2 3 4 1 5 2 4 2 1 1.920 II
3 C 4 2 5 2 3 1 3 1 4 2.880 I

B. Metode Delbeq
Pada metode ini diprioritaskan masalah dilakukan dengan memberikan
bobot (yang merupakan nilai maksimum dan berkisar antara 0 sampai 100)
dengan kriteria:
a. Besar masalah yaitu % atau jumlah atau kelompok penduduk yang ada
kemungkinan terkena masalah serta keterlibatan masyarakat dan instansi
terkait.
b. Kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas dan mortalitas,
kecenderungannya dari waktu ke waktu.
c. Biaya/dana yaitu besar atau jumlah dana yang diperlukan untuk mengatasi
masalah baik dari segi instansi yang bertanggung jawab terhadap
penyelesaian masalah atau dari masyarakat yang terkena masalah.
d. Kemudahan yaitu tersediannya tenaga, sarana/peralatan, waktu serta cara
atau metode dan teknologi penyelesaian masalah seperti tersediannya
kebijakan/peraturan, petunjuk pelaksanaan (juklak), petunjuk teknis
(juknis) dan sebagainnya.8

Langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut:8


a. Tentukan dahulu bobot masing-masing kriteria (nilai 0-10)

20
b. Isi setiap kolom dengan hasil perkalian antara bobot dengan skor masing-
masing masalah. Besarnya skor tidak boleh melebihi bobot yang telah
disepakati. Bila ada perbedaan pendapat dalam menentukan besarnya
bobot dan skor yang dipilih reratanya.
c. Jumlahkan nilai masing-masing kolom dan tentukan prioritasnya
berdasarkan jumlah skor yang tertinggi sampai terendah.
Tabel 2.2 Contoh sederhana metode Delbeg adalah sebagai berikut :
Jumlah
Kriteria dan Bobot maksimum Prioritas
Daftar Skor
No
masalah Besar Kegawata Kemudaha
Biaya
masalah n n
Rata-
Bobot 8 8 6 7
rata
1 A 8x8=64 9x8=30 5x6=30 6x7=42 208 I
2 B 7x8=56 8x8-64 5x6=30 6x7=42 192 II
3 C 6x8=48 6x8=48 5x6=30 6x7=42 168 III

C. Metode Hanlon (Kuantitatif)


Metode ini hampir sama dengan metode Delbeq, dilakukan dengan
memberikan skor atas serangkaian kriteria A, B, C dan D (PEARL).8
A = Besar masalah yaitu % atau jumlah atau kelompok penduduk yang terkena
masalah serta keterlibatan masyarakat dan instansi terkait. Skor 0-10 (kecil-
besar).
B = Kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas dan mortalitas,
kecenderungannya dari waktu ke waktu. Skor 0-10 (tidak gawat - sangat
gawat).
C = Efaktifitas atau kemudahan penanggulangan masalah, dilihat dari
perbandingan antara perkiraan hasil atau manfaat penyelesaian masalah
yang akan diperoleh dengan sumber daya (biaya, sarana dan cara) untuk
menyelesaikan masalah. Skor 0-10 (sulit – mudah).
D = PEARL. Berbagai pertimbangan dalam kemungkinan pemecahan masalah.
Skor 0 = tidak dan 1 = ya.

P = Propriatness yaitu kesesuaian masalah dengan prioritas berbagai


kebijaksanaan/program/kegiatan instansi/organisasi terkait.
21
E = Economic feasibility yaitu kelayakan dari segi pembiayaan.
A=Acceptability yaitu situasi penerimaan masyarakat dan instansi
terkait/instansi lainnya.
R = Resource availability yaitu ketersediaan sumber daya untuk memecahkan
masalah (tenaga, sarana, peralatan, waktu)
L = Legality yaitu dukungan aspel hukum/perundang-undangan/peraturan terkait
seperti peraturan pemerintah/juklak/juknis/protap.

Setelah kriteria tersebut berhasil diisi, maka selanjutnya menghitung nilai


NPD dan NPT dengan rumus sebagai berikut :
NPD = Nilai Prioritas dasar = (A + B) x C
NPT = Nilai Prioritas Total = (A + B) x C x D
Prioritas pertama adalah masalah dengan skor NPT tertinggi. Metode
Hanlon (Kuantitatif) ini lebih efektif bila digunakan untuk masalah yang bersifat
kuantitatif.
Tabel 2.3. Prioritas Masalah
PEAR NP Prioritas
Kriteria dan bobot maksimum
Daftar L T Masalah
No masalah B=Kegawa NP
A=Besar C=Kemudahan
tan D
1 A 9 9 8 144 11111 144 I
2 B 9 8 8 136 11111 136 II
3 C 8 7 7 105 11111 106 III

D. Metode Hanlon (Kualitatif)


Metode Hanlon (Kualitatif) ini lebih efektif dipergunakan untuk masalah
yang bersifat kualitatif dan data atau informasi yang tersediapun bersifat kualitatif
miaslkan peran serta masyarakat, kerja sama lintas program, kerja sama lintas
sektor dan motivasi staf.

Prinsip utama dalam metode ini adalah membandingkan pentingnya


masalah yang satu dengan yang lainnya dengan cara “matching”. Langkah-
langkah metode ini adalah sebagai berikut:8

22
a. Membuat matriks masalah.
b. Menuliskan semua masalah yang berhasil dikumpulkan pada sumbu
vertikal dan horisontal.
c. Membandingkan (matching) antara masalah yang satu dengan yang
lainnya pada sisi kanan diagonal dengan memberi tanda (+) bila masalah
lebih penting dan memberi tanda (-) bila masalah kurang penting.
d. Menjumlahkan tanda (+) secara horisontal dan masukan pada kotak total
(+) horizontal.
e. Menjumlahkan tanda (-) secara vertikal dan masukan pada kotak total (-)
vertikal.
f. Pindahkan hasil penjumlahan pada total (-) horisontal di bawah kotak (-)
vertikal.
g. Jumlah hasil vertikal dan horisontal dan masukan pada kotak total.
h. Hasil penjumlahan pada kotak total yang mempunyai nilai tertinggi adalah
urutan prioritas masalah.
Tabel 2.4. Penggunaan metode Hanlon (Kualitatif):
Total Horisontal
Masalah A B C D E
(+)
A + + + + 4
B + - + 2
C - - 0
D + 1
E 0
Total vertikal (-) 0 0 0 2 1
Total horisontal
4 2 0 1 0
(+)
Total 4 2 0 3 1
Prioritas Masalah I III V II IV

E. Metode CARL
Metode CARL merupakan metode yang cukup baru di kesehatan.Metode
CARL juga didasarkan pada serangkaian kriteria yang harus diberi skor 0-10.
Kriteria CARL tersebut mempunyai arti :

C = Capability yaitu ketersediaan sumber daya (dana, sarana dan peralatan)


A = Accessibility yaitu kemudahan, masalah yang ada mudah diatasi atau
tidak. Kemudahaan dapat didasarkan pada ketersediaan
23
metode/cara/teknoloi serta penunjang pelaksanaan seperti peraturan
atau juklak.
R = Readiness yaitu kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan
sasaran, seperti keahlian atau kemampuan dan motivasi.
L = Leverage yaitu seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang
lain dalam pemecahan masalah yang dibahas.

Setelah masalah atau alternatif pemecahan masalah diidentifikasi, kemudian


dibuat tabel kriteria CARL dan diisi skornya. Bila ada beberapa pendapat tentang
nilai skor yang diambil adalah rerata.
Nilai total merupakan hasil perkalian: C x A x R x L
Tabel 2.5. Metode CARL
Daftar Total
No C A R L Urutan
Masalah Nilai
1 A 9 8 8 8 4608 I
2 B 8 8 8 8 4096 II
3 C 8 6 7 7 2352 III

F. Metode Reinke
Metode Reinke juga merupakan metode dengan mempergunakan skor. Nilai
skor berkisar 1-5 atas serangkaian kriteria:9
M =Magnitude of the problem yaitu besarnya masalah yang dapat dilihat dari %
atau jumlah/kelompok yang terkena masalah, keterlibatan masyarakat serta
kepentingan instansi terkait.
I = Importancy atau kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas dan
mortalitas serta kecenderunagn dari waktu ke waktu.
V = Vulnerability yaitu sensitif atau tidaknya pemecahan masalah dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sensitifitas dapat diketahui dari
perkiraan hasil (output) yang diperoleh dibandingkan dengan pengorbanan
(input) yang dipergunakan.
C = Cost yaitu biaya atau dana yang dipergunakan untuk melaksanakan
pemecahan masalah. Semakin besar biaya semakin kecil skornya.
P = Prioritas atau pemecahan masalah.

24
Sama seperti metode yang lain dengan menggunakan skor, maka untuk
mempermudah pengerjaan diperlukan adanya tabel. Hasil skor masing-masing
masalah kemudian dihitung dengan rumus:9
P = (M x V x I) : C
Prioritas masalah atau pemecahan masalah diperoleh dengan mengurutkan
jumlah nilai P dari yang tertinggi sampai terendah.8
Tabel 2.6. Metode Reinke
Daftar
No M I V C Total Urutan
Masalah
1 A 5 4,6 5 3 38,33 I
2 B 5 4,2 3 5 12,60 III
3 C 4,6 4 3,5 3,2 20,13 II

G. Metode Bryant
Metode Bryant juga menggunakan skoring yang didasarkan pada kriteria:
P = Prevalence atau besar masalah yaitu jumlah atau kelompok masyarakat
yang terkena masalah.
S = Seriousness atau kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas
atau mortalitas serta kecenderungannya.
C = Community concern yaitu perhatian atau kepentingan masyarakat dan
pemerintah atau instansi terkait terhadap masalah tersebut.
M =Managebility yaitu ketersediaan sumber daya (tenaga, dana, sarana dan
metode/cara)
Skor masing-masing kriteria berkisar 1-5.

2. Metode Kualitatif
A. Metode Delphi8

25
a. Teknik survei kepada para peserta yang relatif homogen baik pendidikan,
keahlian dan pengalaman serta masing-masing peserta mempunyai data
yang cukup.
b. Daftar pertanyaan (kuesioner) dikirimkan beberapa kali kepada peserta:
Kuesioner pertama: pertanyaan-pertanyaan umum
Kuesioner kedua: lebih khusus
Kuesioner ketiga: Khusus
c. Kosensus peserta dapat dipercepat dengan pengambilan suara.
d. Diperlukan kecermatan dan kesabaran pihak pemberi kuesioner.

B. Metode Diskusi atau Brainstorming Technique9


a. Pemimpin diskusi adalah fasilitator.
b. Diperlukan fasilitator yang handal dan menguasai masalah.
c. Peserta diskusi ditantang untuk mengemukakan pendapat sebanyak-
banyaknya tetapi menghindari saling kritik.
d. Peserta memiliki keahlian atau kemampuan dan pengalaman yang relatif
sama.
e. Waktu efektif 1 jam dan peserta maksimal 10-12 orang.

C. Metode Brainwriting8
a. Peserta 6-8 orang dengan keahlian dan latar belakang pendidikan dan
pengalaman yang relatif sama atau setara.
b. Pimpinan diskusi mengajukan masalah pada secarik kertas dan diletakkan
di atas kertas.
c. Semua peserta membacanya kemudian menuliskan pendapatnya pada pada
kertas-kertas yang ada. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai lengkap.
d. Kertas-kertas dibagikan lagi, kemudian peserta menambah atau
mengurangi pendapatnya.
e. Semua pendapat ditulis di kertas atau di papan tulis kemudian didiskusikan
untuk dicari pendapat yang terbanyak.
2.4.2 Metode Penentuan Masalah Yang Umum Digunakan

26
Beberapa metode penentukan prioritas masalah yang umum digunakan oleh
Puskesmas ataupun instansi lain dalam menyusun Program tahunan, yaitu:8,9
A. Metode Hanlon
1. Mengusahakan agar para perencana atau pembuat keputusan dapat
mengidentifikasikan faktor-faktor luar yang dapat diikutsertakan
dalam proses penentuan prioritas masalah.
2. Mengelompokkan faktor-faktor yang ada dan memberi bobot
terhadap faktor tersebut.
3. mungkinkan anggota untuk mengubah faktor dan nilai sesuai
keperluan.

B. Metode MCUA
Metode MCUA digunakan apabila pelaksana belum terlalu siap dalam
penyediaan sumber daya, serta pelaksana program atau kegiatan menginginkan
masalah yang diselesaikan adalah masalah yang ada di masyarakat.8,9
Definisi:
a. MCUA adalah suatu teknik atau metode yang digunakan untuk
membantu tim dalam mengambil keputusan atas beberapa alternatif.
b. Alternatif dapat berupa masalah pada langkah penentuan prioritas
masalah atau pemecahan masalah pada langkah penetapan prioritas
pemecahan masalah.
c. Kriteria adalah batasan yang digunakan untuk menyaring alternatif
masalah sesuai kebutuhan.

C. Metode USG
Metode USG merupakan cara dalam menetapkan urutan prioritas, dengan
memperhatikan urgensinya, keseriusannya dan adanya kemungkinan
berkembangnya masalah.8,9

D. Metode CARL
Metode CARL merupakan suatu cara untuk menentukan prioritas masalah
jika data yang tersedia adalah data kualitatif. Dilakukan dengan menentukan skor

27
atas kriteria tertentu, yaitu Capability, Accessability, Readiness dan Leverage
(CARL), semakin besar skor maka semakin besar masalahnya, sehingga semakin
tinggi letaknya pada urutan prioritas.8,9

2.4.5 Menetapkan Prioritas Masalah Menggunakan Metode Hanlon


Metode yang dijelaskan di sini memberikan cara untuk membandingkan
berbagai masalah kesehatan dengan cara yang relatif, tidak absolut/mutlak,
memiliki kerangka, sebisa mungkin sama/sederajat, dan objektif.8,9
Metode ini, yang disebut dengan Metode Hanlon maupun Sistem Dasar
Penilaian Prioritas (BPRS), dijelaskan dalam buku Public Health: Administration
and Practice (Hanlon and Pickett, Times Mirror/Mosby College Publishing) dan
Basic Health Planning (Spiegel and Hyman, Aspen Publishers).8,9
Metode ini memiliki tiga tujuan utama:8,9
* Memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengidentifikasi
faktor-faktor eksplisit yang harus diperhatikan dalam menentukan
prioritas
* Untuk mengorganisasi faktor-faktor ke dalam kelompok yang memiliki
bobot relatif satu sama lain
* Memungkinkan faktor-faktor agar dapat dimodifikasi sesuai dengan
kebutuhan dan dinilai secara individual.

Formula Dasar Penilaian Prioritas


Berdasarkan tinjauan atas percobaan berulang yang dilakukan dalam
mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan, pola kriteria yang konsisten
menjadi kelihatan jelas. Pola tersebut tercermin pada komponen-komponen dalam
sistem ini.8,9
Komponen A = Ukuran/Besarnya masalah
Komponen B = Tingkat keseriusan masalah
Komponen C = Perkiraan efektivitas solusi
Komponen D = PEARL faktor ((propriety, economic feasibility,
acceptability, resource availability, legality--Kepatutan,

28
kelayakan ekonomi, dapat diterima, ketersediaan sumber
daya, dan legalitas).
Semua komponen tersebut diterjemahkan ke dalam dua rumus yang
merupakan nilai numerik yang memberikan prioritas utama kepada mereka
penyakit / kondisi dengan skor tertinggi.8,9
1. Nilai Dasar Prioritas/Basic Priority Rating (BPR)> BPR = (A+B) C/3
2. Nilai Prioritas Keseluruhan/Basic Priority Rating (OPR)> OPR = [(A+B)
C/3]xD
Perbedaan dalam dua rumus akan menjadi semakin nyata ketika Komponen
D (PEARL) dijelaskan. Penting untuk mengenal dan menerima hal-hal tersebut,
karena dengan berbagai proses seperti itu, akan terdapat sejumlah besar
subyektivitas. Pilihan, definisi, dan bobot relatif yang ditetapkan pada komponen
merupakan keputusan kelompok dan bersifat fleksibel. Lebih jauh lagi, nilai
tersebut merupakan penetapan dari masing-masing individu pemberi nilai. Namun
demikian, beberapa kontrol ilmiah dapat dicapai dengan menggunakan definisi
istilah secara tepat, dan sesuai dengan data statistik dan akurat. 8,9
1. Komponen A - Ukuran/Besarnya Masalah
Komponen ini adalah salah satu yang faktornya memiliki angka yang
kecil.Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi yang secara langsung
terkena dampak dari masalah tersebut, yakni insiden, prevalensi, atau tingkat
kematian dan angka. 8,9
Ukuran/besarnya masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih dari satu
cara. Baik keseluruhan populasi penduduk maupun populasi yang
berpotensi/berisiko dapat menjadi pertimbangan. Selain itu, penyakit –penyakit
dengan faktor risiko pada umumnya, yang mengarah pada solusi bersama/yang
sama dapat dipertimbangkan secara bersama-sama. Misalnya, jika kanker yang
berhubungan dengan tembakau dijadikan pertimbangan, maka kanker paru-paru,
kerongkongan, dan kanker mulut dapat dianggap sebagai satu. Jika akan dibuat
lebih banyak penyakit yang juga dipertimbangkan, penyakit cardiovascular
mungkin juga dapat dipertimbangkan. Nilai maksimal dari komponen ini adalah
10. Keputusan untuk menentukan berapa ukuran/besarnya masalah biasanya
merupakan konsensus kelompok. 8,9

29
2. Komponen B – Tingkat Keseriusan Masalah
Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin dan
menentukan tingkat keseriusan dari masalah. Sekalipun demikian, angka dari
faktor yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas. Kelompok harus
berhati-hati untuk tidak membawa masalah ukuran atau dapat dicegahnya suatu
masalah ke dalam diskusi, karena kedua hal tersebut sesuai untuk dipersamakan di
tempat yang lain. 8,9
Maksimum skor pada komponen ini adalah 20. Faktor-faktor harus
dipertimbangkan bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati.Dengan menggunakan
nomor ini (20), keseriusan dianggap dua kali lebih pentingnya dengan
ukuran/besarnya masalah. 8,9
Faktor yang dapat digunakan adalah:
1. Urgensi: sifat alami dari kedaruratan masalah; tren insidensi, tingkat
kematian, atau faktor risiko; kepentingan relatif terhadap masayarakat; akses
terkini kepada pelayanan yang diperlukan.
2. Tingkat keparahan: tingkat daya tahan hidup, rata-rata usia kematian,
kecacatan/disabilitas, angka kematian prematur relatif.
3. Kerugian ekonomi: untuk masyarakat (kota / daerah / Negara), dan untuk
masing-masing individu.8,9

Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Sebagai contoh, bila


menggunakan empat faktor, bobot yang mungkin adalah 0-5 atau kombinasi
manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20. Menentukan apa yang akan
dipertimbangkan sebagai minimum dan maksimum dalam setiap faktor biasanya
akan menjadi sangat membantu. Hal ini akan membantu untuk menentukan batas-
batas untuk menjaga beberapa perspektif dalam menetapkan sebuah nilai numerik.
Salah satu cara untuk mempertimbangkan hal ini adalah dengan menggunakannya
sebagai skala seperti:8,9

0 = tidak ada
1 = beberapa
2 = lebih (lebih parah, lebih gawat, lebih banyak, dll)
3 = paling
30
Misalnya, jika kematian prematur sedang digunakan untuk menentukan
keparahan, kemudian kematian bayi mungkin akan menjadi 5 dan gonorea akan
menjadi 0.8,9

3. Komponen C - Efektivitas dari Intervensi


Komponen ini harus dianggap sebagai "Seberapa baikkan masalah ini dapat
diselesaikan?" Faktor tersebut mendapatkan skor dengan angka dari 0 - 10.
Komponen ini mungkin merupakan komponen formula yang paling subyektif.
Terdapat sejumlah besar data yang tersedia dari penelitian-penelitian yang
mendokumentasikan sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama
ini.
Efektivitas penilaian, yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilan yang
diketahui dari literatur, dikalikan dengan persen dari target populasi yang
diharapkan dapat tercapai.
Contoh: Berhenti Merokok
Target populasi 45.000 perokok
Total yang mencoba untuk berhenti 13.500
Efektivitas penghentian merokok 32% atau 0,32
Target populasi x efektivitas 0,30 x 0,32 = 0,096 atau 0,1 atau 1
Contoh: Imunisasi
Target populasi 200.000
Jumlah yang terimunisasi yang diharapkan 193.000
Persen dari total 97% atau 0,97
Efektivitas 94% atau 0,94
Populasi yang tercapai x efektivitas 0,97 x 0,94 = 0,91 atau 9,1

Sebuah keuntungan dengan mempertimbangkan populasi target dan jumlah


yang diharapkan adalah akan didapatkannya perhitungan yang realistis mengenai
sumber daya yang dibutuhkan dan kemampuan yang diharapkan untuk memenuhi
tujuan yang ditetapkan. 8,9

4. Komponen D - PEARL

31
PEARL yang merupakan kelompok faktor itu, walaupun tidak secara
langsung berkaitan dengan masalah kesehatan, memiliki pengaruh yang tinggi
dalam menentukan apakah suatu masalah dapat diatasi.
P – Propierity/Kewajaran. Apakah masalah tersebut berada pada lingkup
keseluruhan misi kita?
E – Economic Feasibility/Kelayakan Ekonomis. Apakah dengan
menangani masalah tersebut akan bermakna dan memberi arti secara
ekonomis? Apakah ada konsekuensi ekonomi jika masalah tersebut
tidak diatasi?
A – Acceptability. Apakah dapat diterima oleh masyarakat dan / atau
target populasi?
R – Resources/Sumber Daya. Apakah tersedia sumber daya untuk
mengatasi masalah?
L – Legalitas. Apakah hukum yang ada sekarang memungkinkan masalah
untuk diatasi?
Masing-masing faktor kualifikasi dipertimbangkan, dan angka untuk setiap
faktor PEARL adalah 1 jika jawabannya adalah "ya" dan 0 jika jawabannya
adalah "tidak." Bila penilaian skor telah lengkap/selesai, semua angka-angka
dikalikan untuk mendapatkan jawaban akhir terbaik.Karena bersama-sama, faktor-
faktor ini merupakan suatu produk dan bukan merupakan jumlah. Singkatnya, jika
salah satu dari lima faktor yang "tidak", maka D akan sama dengan 0. Karena D
adalah pengali akhir dalam rumus , maka jika D = 0, masalah kesehatan tidak
akan diatasi dibenahi dalam OPR, terlepas dari seberapa tingginya peringkat
masalah di BPR. Sekalipun demikian, bagian dari upaya perencanaan total
mungkin termasuk melakukan langkah-langkah lanjut yang diperlukan untuk
mengatasi PEARL secara positif di masa mendatang. Misalnya, jika intervensi
tersebut hanya tidak dapat diterima penduduk, dapat diambil langkah-langkah
bertahap untuk mendidik masyarakat mengenai manfaat potensial dari intervensi,
sehingga dapat dipertimbangkan di masa mendatang.8,9

2.5 Metode Fishbone diagram


Menurut Besterfield (2009), diagram sebab akibat adalah gambar yang

32
terdiri atas garis dan simbol-simbol untuk merepresentasikan hubungan yang
penting antara sebab dan akibat. Perhatian penting dapat menghasilkan hasil yang
lebih akurat dan berguna:9
1. Partisipasi dari setiap orang dari tim diperlukan dimana setiap orang
memberikan ide pada saat bersamaan. Jika seseorang tidak dapat berpikir
penyebab minor, maka orang tersebut dapat melewati tahap tersebut. Ide
lain dapat terbentuk pada tahap berikutnya. 8,9
2. Kuantitas dari ide lebih baik daripada kualitas. Ide seseorang akan
memicu ide orang lain, dan akan terbantuk rantai reaksi. Biasanya, ide-ide
sederhana akan membawa ke solusi terbaik. 8,9
3. Tidak diperbolehkan untuk mengkritik ide. Seharusnya ada keadaan bebas
bertukar informasi yang membebaskan imajinasi. 8,9
4. Faktor utama dari partisipasi adalah kemungkinan dilihatnya diagram.
Untuk mencari penyebab minor diperlukan dua atau tiga lembar kertas. 8,9
5. Membuat suasana berorientasi solusi dan bukan sesi keluhan. Fokus pada
penyelesaian masalah daripada mendiskusikan bagaimana itu dimulai.
Pemimpin tim seharusnya bertanya menggunakan mengapa, apa, dimana,
dimana, siapa, dan bagaimana tekniknya. 8,9
6. Biarkan ide selama beberapa waktu dan lakukan tahap brainstorming lagi.
Siapkan tim dengan banyak ide setelah tahap pertama. Saat tidak ada ide
yang terkumpullagi, brainstorming dihentikan. Setelah diagram sebab
akibat selesai, harus ditentukan penyebab yang paling sering. Kegiatan
ini dipenuhi di tahap yang berbeda. Prosedumya dengan setiap orang
memilih penyebab minor. Tim member dapat memilih lebih dari satu
penyebab minor, dan mereka tidak perlu memilih dari penyebab yang
mereka diberikan. Penyebab yang paling banyak terpilih dilingkari, dan
keempat dan kelima penyebab paling sering ditentukan. 8,9
Diagram sebab akibat berguna pada: 8,9
1. Menganalisis kondisi sebenamya dengan tujuan perbaikan produk atau
jasa, lebih efisien menggunakan sumber daya dan mengurangi biaya. 8,9
2. Menghilangkan kondisi-kondisi penyebab produk cacat atau jasa dan
customer complaint.

33
3. Mengstandarkan operasi yang ada dan yang diusulkan. 8,9
4. Pendidikan dan pelatihan personil dalam membuat keputusan dan kegiatan
tindakan perbaikan. Ada tiga jenis diagram sebab dan akibat yaitu, tipe
penyebab enumeration, dispersion analisis, dan proses analisis. Perbedaan
dari ketiga tipe tersebut adalah pada organisasi dan penyusunan. Penyebab
enumeration, seperti yang disebutkan Gitlow di atas. Dispersion analisis
terlihat seperti penyebab enumeration pada saat keduanya selesai.
Perbedaannya pada pendekatan untuk membangun diagram. Untuk tipe
ini, setiap cabang utama diisi lengkap sebelum memulai pekerjaan pada
cabang lain. Juga, tujuannya untuk menganalisa penyebab dari dispersion
atau variablity. Proses analisis adalah tipe ketiga, dan ter!ihat berbeda dari
kedua tipe lainnya. Dalam tujuan membangun diagram ini, diperlukan
menulis setiap langkah dalam proses produksi. Langkah-langkah pada
proses produksi seperti mengangkut, memotong, dan lain-lain menjadi
penyebab utama. Penyebab minor kemudian dihubungkan ke penyebab
utamanya. Diagram sebab akibat ini untuk elemen-elemen termasuk di
dalam suatu operasi. Kemungkinan lain adalah operasi di dalam proses,
suatu proses perakitan, dan lain-lain. Keuntungan dari diagram ini
adalah mudah untuk dibuat dan sederhana, dimana hanya mengikuti
urutan produksi. 8,9

34
Gambar 2.1 Fishbone Diagram/Ishikawa Diagram8,9

Menurut Hardipurba (2008) diagram Fishbone dari Ishikawa menjadi


satu tool yang sangat populer dan dipakai di seluruh penjuru dunia dalam
mengidentifikasi faktor penyebab problem/masalah. Alasannya sederhana.
Fishbone diagram tergolong praktis, dan memandu setiap tim untuk terus
berpikir menemukan penyebab utama suatu permasalahan. Diagram “tulang ikan”
ini dikenal dengancause and effect diagram. Rangka analisis diagram Fishbone
bentuknya ada kemiripan dengan ikan, dimana ada bagian kepala (sebagai
effect).9
Menurut Tague, Fishbone diagram(diagram tulang ikan — karena
bentuknya seperti tulang ikan)sering juga disebut Cause-and-Effect Diagram atau
Ishikawa Diagram diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa, seorang ahli
pengendalian kualitas dari Jepang, sebagai satu dari tujuh alat kualitas dasar (7
basic quality tools). Fishbone diagram digunakan ketika kita ingin
mengidentifikasi kemungkinan penyebab masalah dan terutama ketika sebuah
team cenderung jatuh berpikir pada rutinitas. 8,9
Diagram tulang ikan atau Fishbone diagram adalah salah satu metode /
tool di dalam meningkatkan kualitas. Sering juga diagram ini disebut dengan
diagram Sebab-Akibat atau cause effect diagram. Fishbone diagram akan
mengidentifikasi berbagai sebab potensial dari satu efek atau masalah, dan
menganalisis masalah tersebut melalui sesi brainstorming . Masalah akan dipecah
menjadi sejumlah kategori yang berkaitan, mencakup manusia, material,
mesin, prosedur, kebijakan, dan sebagainya. Setiap kategori mempunyai sebab-
sebab yang perlu diuraikan melalui sesi brainstorming. 8,9
Berikut diberikan contoh yang bias dijadikan panduan untuk merumuskan
faktor-faktor utama dalam mengawali pembuatan Diagram Cause and Effect.
a) The 5 M’s (digunakan untuk perusahaan manufaktur)
1) Machine (Equipment),
2) Method (Process/Inspection)
3) Material (Raw,Consumables etc.)
4) Man power.

35
5) Mother Nature
b) The 8 P’s (digunakan pada industri jasa)
1) People
2) Process
3) Policies
4) Procedures
5) Price
6) Promotion
7) Place/Plant
8) Product
c) The 4 S’s (digunakan pada industri jasa):
1) Surroundings
2) Suppliers
3) Systems
4) Skills
d) 4 P (pendekatan manajemen pemasaran)
1) Price
2) Product
3) Place
4) Promotion

Dengan adanya diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect


(Sebab dan Akibat)/ Ishikawa ini sebenarnya memberi banyak sekali keuntungan
bagi dunia bisnis. Selain memecahkan masalah kualitas yang menjadi perhatian
penting perusahaan. Masalah–masalah klasik lainnya juga terselesaikan.
Masalah–masalah klasik yang ada di industri manufaktur khususnya antara lain
adalah: 8,9
a) keterlambatan proses produksi
b) tingkat defect (cacat) produk yang tinggi
c) mesin produksi yang sering mengalami trouble
d) output lini produksi yang tidak stabil yang berakibat kacaunya plan
produksi

36
e) produktivitas yang tidak mencapai target
f) complain pelanggan yang terus berulang.
Pada dasarnya diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab
dan Akibat)/ Ishikawa dapat dipergunakan untuk kebutuhan-kebutuhan berikut: 8,9
a) Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah
b) Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah
c) Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut
d) Mengidentifikasi tindakan (bagaimana) untuk menciptakan hasil yang
dinginkan
e) Membahas issue secara lengkap dan rapi
f) Menghasilkan pemikiran baru

Penerapan diagram Fishbone (Tulang Ikan) / Cause and Effect (Sebab


dan Akibat)/ Ishikawa ini dapat menolong kita untuk dapat menemukan akar
“penyebab” terjadinya masalah khususnya di industri manufaktur dimana
prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam variabel yang berpotensi
menyebabkan munculnya permasalahan. Apabila “masalah” dan “penyebab”
sudah diketahui secara pasti, maka tindakan dan langkah perbaikan akan lebih
mudah dilakukan. Dengan diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan
memungkinkan kita untuk dapat melihat semua kemungkinan “penyebab” dan
mencari “akar” permasalahan sebenarnya. 8,9
Apabila ingin menggunakan Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and
Effect (Sebab dan Akibat)/Ishikawa, kita terlebih dahulu harus melihat, di
departemen, divisi dan jenis usaha apa diagram ini digunakan. Perbedaan
departemen, divisi dan jenis usaha juga akan mempengaruhi sebab – sebab yang
berpengaruh signifikan terhadap masalah yang mempengaruhi kualitas yang
nantinya akan digunakan. 8,9

2.5.1 Tujuan dan Manfaat Fishbone diagram


Tujuan dari penerapan Fishbone Diagrams (Diagram Tulang Ikan) adalah
diagram sebab-akibat yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi
masalah kinerja atau menemukan penyebab masalah baik penyebab utama

37
maupun penyebab lainnya. Diagram tulang ikan menyediakan struktur untuk
diskusi kelompok sekitar potensi penyebab masalah tersebut. Tujuan utama dari
diagram tulang ikan adalah untuk menggambarkan secara grafik cara hubungan
antara penyampaian akibat dan semua faktor yang berpengaruh pada akibat ini.8,9
Fishbone Diagrams adalah alat analisis yang menyediakan cara sistematis
melihat efek dan penyebab yang membuat atau berkontribusi terhadap efek
tersebut. Karena fungsi diagram Fishbone, dapat disebut sebagai diagram sebab-
akibat. Fungsi dasar diagram tulang ikan adalah untuk mengidentifikasi dan
mengorganisasi penyebab-penyebab yang mungkin timbul dari suatu efek
spesifik dan kemudian memisahkan akar penyebabnya. Dengan menggunakan
Fishbone diagram akan diketahui penyebab yang saling berkaitan. Dengan
demikian akan didapat kejelasan dari permasalahan yang ada dimana perbaikan
dapat dilakukan dengan mencari masalahnya dan menyelesaikan permasalahan
tersebut.8,9
Dengan adanya diagram tulang ikan ini sebenarnya memberi banyak sekali
keuntungan bagi dunia bisnis. Selain memecahkan masalah kualitas yang menjadi
perhatian penting perusahaan, masalah-masalah klasik yang dapat diselesaikan di
industri antara lain:
a. Keterlambatan proses produksi.
b. Tingkat defect (cacat) produk yang tinggi.
c. Mesin produksi yang sering mengalami masalah.
d. Output lini produksi yang tidak stabil yang berakibat kacaunya rencana
produksi.
e. Produktivitas yang tidak mencapai target.
f. Komplain pelanggan yang terus berulang.

Namun, pada dasarnya diagram tulang ikan dapat dipergunakan untuk


kebutuhan-kebutuhan berikut:
1. Membantu mengidentifikasi akar penyebab masalah dari suatu masalah.
2. Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah.
3. Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut.
4. Mengidentifikasi tindakan untuk menciptakan hasil yang diinginkan.

38
5. Membuat issue secara lengkap dan rapi.
6. Menghasilkan pemikiran baru.
Beberapa manfaat lainnya dari membangun diagram tulang ikan adalah
membantu menentukan akar penyebab masalah atau karakteristik kualitas
menggunakan pendekatan terstruktur, mendorong partisipasi kelompok dan
memanfaatkan pengetahuan kelompok proses, serta mengidentifikasi area dimana
data harus dikumpulkan untuk studi lebih lanjut.8,9

2.5.2 Kelebihan dan Kekurangan Fishbone diagram


Kelebihan Fishbone diagrams adalah dapat menjabarkan setiap masalah
yang terjadi dan setiap orang yang terlibat di dalamnya dapat menyumbangkan
saran yang mungkin menjadi penyebab masalah tersebut. Sedangkan kekurangan
Fishbone diagrams adalah opinion based on tool dan di desain membatasi
kemampuan tim/pengguna secara visual dalam menjabarkan masalah yang
menggunakan metode “level why” yang dalam, kecuali bila kertas yang
digunakan benar-benar besar untuk menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut.
Serta biasanya voting digunakan untuk memilih penyebab yang paling mungkin
yang terdaftar pada diagram tersebut. Masalahnya dan menyelesaikan
permasalahan tersebut.8,9

BAB III
METODE EVALUASI

Metode evaluasi yang digunakan dalam laporan evaluasi program Penyakit


Tidak Menular di UPT Puskesmas Marina Permai Tahun 2018 terbagi dalam
beberapa tahap. Berikut ini adalah uraian dari tahap-tahap dalam evaluasi program
tersebut.

3.1. Penetapan Tolak Ukur dari Unsur Keluaran

39
Penetapan tolak ukur dalam evaluasi program Penyakit Tidak Menular di
UPT Puskesmas Marina Permai Tahun 2018 disusun berdasarkan sumber rujukan
laporan pelaksana program.

3.2. Pengumpulan Data


Data-data yang digunakan terdiri dari:
a. Data primer, yaitu data yang didapatkan melalui:
Wawancara dengan pelaksana program Penyakit Tidak Menular di UPT
Puskesmas Marina Permai Tahun 2018.
b. Data sekunder, mencakup data yang didapatkan dari:
Penelusuran laporan pelaksana program Penyakit Tidak Menular di UPT
Puskesmas Marina Permai Tahun 2018.

3.3. Identifikasi Masalah


Identifikasi masalah dilakukan dengan membandingkan data variabel
program di UPT Puskesmas Marina Permai Tahun 2018 dengan tolak ukur unsur-
unsur program untuk mencari adanya kesenjangan. Untuk memilih prioritas
masalah dapat digunakan teknik kriteria matriks, yaitu melihat pentingnya
masalah (Importance/I), ditinjau dari besarnya masalah (Prevalence/P), akibat
yang ditimbulkan (Severity/S), dan kenaikan besarnya masalah (Rate of
Increase/RI) dan sebagainya. Selain itu juga dilihat kelayakan teknologi
(Technology/T) dan ketersediaan sumber daya (Resource/R) untuk menetapkan
prioritas masalah.
3.4. Pembuatan Kerangka Konsep dari Masalah yang Diprioritaskan
Tujuan pembuatan kerangka konsep adalah mencari faktor-faktor yang
kemungkinan menjadi penyebab dari masalah yang diprioritaskan. Diharapkan
dengan menggunakan kerangka konsep maka semua faktor penyebab dapat
diidentifikasi tanpa ada yang terlewat, untuk kemudian dicari alternatif jalan
keluar yang terbaik.

3.5. Identifikasi Penyebab Masalah

40
Kemungkinan penyebab masalah diidentifikasi dengan membandingkan
data atau hasil masukan, proses dan umpan balik program dengan tolak ukurnya
masing-masing.

3.6. Perencanaan Penyelesaian Masalah


Perencanaan penyelesaian masalah disusun berupa rancangan program
yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah di masa yang akan datang.

3.7. Penentuan Prioritas Penyelesaian Masalah


Penentuan prioritas penyelesaian masalah dilakukan untuk memilih
alternatif penyelesaian masalah yang paling menjanjikan. Sebelum melakukan
pemilihan sebaiknya dicoba memadukan berbagai alternatif penyelesaian masalah
terlebih dahulu. Bila tidak dapat dilaksanakan barulah dilakukan pemilihan. Cara
pemilihan yang dianjurkan adalah dengan menggunakan teknik kriteria matriks.
Kriteria yang dimaksud adalah:

3.7.1. Efektivitas Penyelesaian Masalah


Cara ini dilakukan dengan memberikan nilai 1 untuk alternatif
penyelesaian masalah yang paling tidak efektif sampai nilai 5 untuk yang paling
efektif. Untuk menentukan efektifitas ini digunakan kriteria tambahan sebagai
berikut:
a. Besarnya masalah yang dapat diselesaikan/magnitude (M). Makin besar
masalah yang dapat diatasi, makin tinggi prioritas jalan keluar tersebut.
b. Pentingnya penyelesaian masalah, yang dikaitkan dengan kelanggengan
selesainya masalah/importance (I). Pentingnya jalan keluar dikaitkan
dengan kelanggengan masalah. Makin lama masa bebas masalahnya,
makin penting jalan keluar tersebut.
c. Sensitivitas, yang dikaitkan dengan kecepatan dalam menyelesaikan
masalah/vulnerability (V). Sensitivitas dikaitkan dengan kecepatan jalan
keluar mengatasi masalah. Makin cepat masalah teratasi, makin sensitif
jalan keluar tersebut.

41
3.7.2. Efisiensi Penyelesaian Masalah
Nilai efisiensi dikaitkan dengan biaya/cost (C) yang diperlukan untuk
melaksanakan penyelesaian masalah. Semakin besar biaya dianggap semakin
tidak efisien (dinilai sampai dengan 5), sedangkan makin kecil biaya dianggap
semakin efisien (diberi nilai 1).
Prioritas (P) didapat dengan membagi hasil perkalian nilai M x I x V
dengan nilai C. Penyelesaian masalah dengan nilai P tertinggi adalah prioritas
penyelesaian masalah yang dipilih. Lebih jelas rumus untuk menghitung prioritas
jalan keluar dapat dilihat dibawah ini:

P= MxIxV
C

Keterangan:
P = Priority
M = Magnitude
I = Importancy
V = Vulnerability
C = Cost

BAB IV
PENYAJIAN DATA

4.1 Profil Puskesmas


A. Data Puskesmas
UPT Puskesmas Marina Permai merupakan salah satu dari 10 Puskesmas
yang ada di kota Palangka Raya yang terletak di sebelah utara kota Palangka
raya yang berjarak 5 kilometer dari Bundaran Besar, dengan waktu tempuh 10
menit menggunakan kendaraan roda 4. Keadaan geografis dataran rendah

42
dengan suhu maksimum 32 derajat celsius, dengan curah hujan tertinggi pada
bulan Desember.5
Dengan Wilayah kerja 2 Kelurahan yaitu
- Sebagian Kelurahan Langkai
- Sebagian Kelurahan Panarung
- Kelurahan Tanjung Pinang
Secara administrasi UPT Puskesmas Marina Permai berbatasan dengan :
- Sebelah utara : berbatasan dengan wilayah RSUD Kota Palangka Raya.
- Sebelah Selatan : berbatasan dengan wilayah UPT Puskesmas Menteng.
- Sebelah Timur : berbatasan dengan wilayah UPT Kereng Bengkirai.
- Sebelah Barat : berbatasan dengan wilayah UPT Puskesmas Panarung.

Keterjangkauan pelayanan kesehatan salah satunya dapat dilihat dari


geografis wilayah, dimana secara geografis dapat digambarkan jarak dan waktu
tempuh ke fasilitas kesehatan. Daerah – daerah yang ada di wilayah kerja UPT
Puskesmas Marina Permai pada dasarnya dapat dijangkau dengan kendaraan roda
2 atau 4, hanya saja ada beberapa wilayah di desa Talio dan Tanjung Pinang
Seberang masih menggunakan akses jalan melewati alur sungai.5

A. ANALISIS DEMOGRAFI
1. Jumlah Penduduk
UPT Puskesmas Marina Permai pada tahun 2017 mempunyai jumlah
penduduk sebanyak 23.087 jiwa terdiri dari laki-laki 11.827 jiwa perempuan
sebanyak 11.260 jiwa.5
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Per Kelurahan Di Wilayah UPT Puskesmas Marina
Permai tahun 2017
No Nama Kelurahan Jumlah Penduduk
1 Langkai & Panarung (sebagian) 18.062 jiwa
2 Tanjung Pinang 5.025 jiwa
Jumlah 23.087 jiwa

43
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa jumlah penduduk paling banyak
berada di Kelurahan Langkai dikarenakan wilayah ini merupakan pusat kota dan
pusat pembelanjaan sehingga mobilisasi penduduknya sangat tinggi.5
2. Sarana Pendidikan
Sarana Pendidikan yang berada pada wilayah kerja UPT Puskesmas Marina
Permai terdapat Taman Kanak – kanak, SD/MI, SMP/MTS dan SMA/MA.5
Tabel 4.2. Jumlah Sarana Pendidikan Di Wilayah UPT Puskesmas Marina Permai
tahun 20175
No Tingkat Sarana Pendidikan Jumlah Sarana
1 Taman Kanak – Kanak 6 Sekolah
2 SD/MI 7 Sekolah
3 SMP/MTS 3 Sekolah
4 SMA/MA 1 Sekolah
Berdasarkan data di atas dapat terlihat bahwa dalam wilayah kerja UPT
Puskesmas Marina Permai terdapat Taman kanak – kanak terdapat 6 sekolah dan
SD/MI terdapat 7 sekolah, SMP/MTS terdapat 3 sekolah dan SMA/MA terdapat 1
sekolah. Sarana pendidikan tersebut tersebar di 3 kelurahan yang berada dalam
wilayah kerja UPT Puskesmas Marina Permai.5
3. UKBM (Usaha Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat)
Salah satu contoh partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan dalam
bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat salah satunya adalah Posyandu :
Tabel 4.3 Jumlah Jenis UKBM di wilayah kerja UPT Puskesmas Marina Permai5
NO JENIS UKBM JUMLAH
1 Posyandu Bayi/Balita 10
2 Posyandu Lansia 4
3 Posbindu 1

B. ANALISIS KONDISI SUMBER DAYA KESEHATAN


1. Ketenagaan
Upaya pembangunan kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna bila
kebutuhan sumber daya kesehatan terpenuhi, gambaran mengenai situasi sumber
daya kesehatan di UPT Puskesmas Marina Permai dapat terlihat pada tabel di
bawah ini.5
Tabel 4.4. Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Profesi dan Status Kepegawaian Di
UPT Puskesmas Marina Permai Tahun 20175
No Jenis Ketenagaan Jumlah Status Kepegawaian
PNS PTT Kontrak TKS

44
Daerah
1 Dokter Umum 3 2 1
2 Perawat 9 9
3 Bidan 13 12 1
4 Kesehatan Masyarakat 1 1
5 Perawat Gigi 1 1
6 Gizi 1 1
7 Analis Kesehatan 1 1
8 Sanitarian 1 1
9 Fungsional Umum 3 3
10 Asisten Apoteker 1 1
11 Administrasi 1 1
12 Cleaning Service 1 1
JUMLAH 36 31 2 2 1
Berdasarkan data tabel 4 diatas, dapat terlihat bahwa UPT Puskesmas
Marina Permai tidak memiliki dan sangat memerlukan Tenaga berupa Dokter Gigi
dan Apoteker.5

Tabel 4.5 Fasilitas Gedung Kesehatan UPT Puskesmas Marina permai5


No. Fasilitas Jumlah Kondisi
1 Ruang Tunggu 1 Baik
2 Loket pendaftaran 1 Baik
3 Ruang rawat inap - -
4 Ruang IGD 1 Baik
5 Ruang poli umum 1 Baik
6 Ruang poli anak - -
7 Ruang poli gigi 1 Baik
8 Ruang poli imunisasi 1 Baik
9 Ruang laboratorium 1 Baik
10 Ruang KIA 1 Baik
11 Ruang apotek 1 Baik

Tabel 4.6 Ketersediaan 18 Program Pokok Puskesmas5


Tidak
No. Program Puskesmas Ada
ada
1 Upaya kesehatan ibu dan anak 
2 Upaya keluarga berencana 
3 Upaya peningkatan gizi 
4 Upaya kesehatan lingkungan 
5 Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit 
menular
6 Upaya pengobatan termasuk pelayanan darurat 
karena kecelakaan
7 Upaya penyuluhan kesehatan 
8 Upaya kesehatan sekolah 

45
9 Upaya kesehatan olahraga 
10 Upaya perawatan kesehatan masyarakat 
11 Upaya kesehatan kerja 
12 Upaya kesehatan gigi dan mulut 
13 Upaya kesehatan jiwa 
14 Upaya kesehatan mata 
15 Upaya laboratorium sederhana 
16 Upaya pencatatan dan pelaporan dalam rangka 
sistem informasi kesehatan
17 Upaya kesehatan lanjut usia 
18 Upaya pembinaan pengobatan tradisional 

2. Sarana Kesehatan
Sarana Kesehatan yang ada dalam wilayah kerja UPT Puskesmas Marina
Permai berupa 1 (satu) Puskesmas, 1 (satu) Puskesmas Pembantu dan 1 (satu)
Poskesdes. Untuk Puskesmas sarana kesehatan kondisi bangunannya bagus,
karena baru dibangun dan masih dalam kondisi perawatan. Sedangkan untuk
Pustu dan Poskesdes dalam keadaan rusak ringan dan sedang.5
Pada masing – masing sarana kesehatan tersedia tenaga kesehatan, pada
pustu terdapat 2 orang bidan dan pada poskesdes terdapat 1 orang perawat dan 1
orang bidan.5

A. VISI & MISI


1. VISI
Visi merupakan pandangan jauh ke depan dan cita-cita yang ingin diraih
dalam jangka waktu tertentu atau suatu gambaran yang menantang tentang
keadaan masa depan yang ingin dituju. Guna mendukung cita-cita dimaksud, yaitu
terselenggarnya pelayanan kesehatan yang prima, diperlukan suatu kinerja
Puskesmas yang didukung oleh tenaga kesehatan yang professional maka
dirumuskan visi UPT Puskesmas Marina Kota Palangka raya sebagai berikut

46
“Mewujudkan Puskesmas yang memberikan pelayanan dengan profesional
kepada masyarakat di wilayah kerja UPT Puskesmas Marina Permai”.5
2. MISI
Berdasarkan rumusan visi tersebut diatas, maka ditetapkan misi yang harus
dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu :5
a. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang adil dan bermutu.
b. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya pembangunan
kesehatan.
c. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor.

3. Tujuan dan Sasaran


a. Tujuan
Tujuan dari misi tersebut adalah sebagai berikut :5
1) Terwujudnya kualitas pelayanan kesehatan yang
terjangkau oleh masyarakat.
2) Meningkatkan akses dan jangkauan pelayanan
kesehatan.
3) Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dasar.
4) Adanya kemandirian dari masyarakat untuk hidup
bersih dan sehat.
5) Berupaya dalam menjalin kerjasama tentang upaya
kesehatan yang bersumber daya masyarakat.

b. Sasaran
Adapun sasarannya adalah sebagai berikut :5
1) Menurunnya AKB, AKI, dan AKABA.
2) Menurunnya angka kesakitan penyakit menular dan menular.
3) Terpenuhinya kebutuhan tenaga medis dan paramedic.
4) Menurunnya angka gizi buruk menjadi 0 (nol).

47
5) Aktifnya peran serta masyarakat dalam berpartisipasi mewujudkan
pembangunan kesehatan.

4. Kebijakan dan Program


a. Kebijakan
Kebijakan UPT Puskesmas Marina Permai Kota Palangka Raya ditujukan
untuk merealisasikan pernyataan visi dan misi dengan pertimbangan kondisi,
potensi dan permasalahan yang dihadapi. Adapun kebijakannya adalah sebagai
berikut :5
1. Meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan
2. Meningkatkan efesiensi pelayanan kesehatan
3. Meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
4. Meningkatkan skill masing-masing setiap petugas untuk pelayanan
kesehatan.
5. Mengupayakan penyelenggara pelayanan terlindungi dengan kemungkinan
adanya gugatan hukum
6. Meningkatkan koordinasi dengan lintas sektor dalam upaya meningkatkan
pembangunan kesehatan.

b. Program
Untuk meningkatkan visi, misi dan kebijakan UPT Puskesmas Marina
Permai Kota Palangka Raya telah disusun program adalah upaya Kesehatan
dalam UPT Puskesmas Marina Permai yaitu Upaya Kesehatan Masyarakat
(UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP).5

 Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) meliputi :5


1. UKM Esensial
a. Pelayanan Promosi Kesehatan;
b. Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak dan Keluarga Berencana;
c. Pelayanan Kesehatan Lingkungan;
d. Pelayanan Gizi;

48
e. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
2. UKM Pengembangan
a. Pelayanan Kesehatan Lansia;
b. Pelayanan Kesehatan Kerja;
c. Pelayanan Kesehatan Olahraga;
d. Pelayanan Kesehatan Gigi Masyarakat (UKS/UKGS);
e. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Kesehatan Jiwa;
f. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja;

 Pelayanan Kesehatan secara Promotif & Preventif. Upaya Kesehatan


Perorangan (UKP) meliputi :5
1. Loket Pendaftaran dan Rekam Medis;
2. Ruangan Pemeriksaan Umum;
3. Ruangan Tindakan;
4. Ruangan KIA/KB;
5. Ruangan Konseling;
6. Ruangan Kesehatan Gigi & Mulut;
7. Ruangan Gizi & Tumbuh Kembang;
8. Ruangan Imunisasi;
9. Ruangan Laboratorium
10. Pelayanan Kefarmasian

BAB V
HASIL PENILAIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Indikator dan Tolak Ukur


Penilaian mutu program pengendalian penyakit tidak menular ini
menggunakan standar yang jelas yaitu Petunjuk Teknis Penyelenggaraan

49
Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Puskesmas Tahun 2012 program
Posbindu terdiri dari 10 bentuk, yaitu:1
1. Kegiatan penggalian informasi faktor resiko dengan wawancara sederhana
tentang riwayat PTM pada keluarga dan diri peserta, aktivitas fisik, merokok,
kurang makan sayur dan buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan dalam
rumah tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk identifikasi
masalah kesehatan berkaitan dengan tejadinya PTM. Akitivitas ini dilakukan
saat pertama kali kunjungan dan berkala sebulan sekali.1
2. Kegiatan pengukuran berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh (IMT),
lingkar perut, analisis lemak tubuh dan tekanan darah sebaiknya
diselenggarakan satu bulan sekali. Analisa lemak tubuh hanya dapat
dilakukan pada usia 10 tahun ke atas.1
3. Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana diselenggarakan 1 tahun sekali
bagi yang sehat, sementara yang berisiko 3 bulan sekali dan penderita
gangguan paru-paru dianjurkan 1 bulan sekali. Pemeriksaan Arus Puncak
Ekspirasi dengan peakflowmeter pada anak dimulai usia 13 tahun.
Pemeriksaan fungsi paru sederhana sebaiknya dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang telah terlatih.1
4. Kegiatan pemeriksaan gula darah bagi individu sehat paling sedikit
diselenggarakan 3 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor resiko
PTM atau penyandang diabetes mellitus paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk
pemeriksaan glukosa darah dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat,
bidan, analis laboratorium dan sebagainya).1
5. Kegiatan pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida bagi individu sehat
disarankan 5 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor resiko PTM
6 bulan sekali dan penderita dislipidemia atau gangguan lemak dalam darah
minimal 3 bulan sekali. Untuk pemeriksaan gula darah dan kolesterol darah
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ada di lingkungan kelompok
masyarakat tersebut.1
6. Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dilakukan minimal
5 tahun sekali bagi individu sehat setelah hasil IVA positif dilakukan tindakan
pengobatan krioterapi diulangi setelah 6 bulan. Jika hasil IVA positif

50
dilakukan tindakan pengobatan krioterapi kembali. Pemeriksaan IVA
dilakukan oleh bidan atau dokter yang telah terlatih dan tatalaksana lanjutan
dilakukan oleh dokter terlatih di Puskesmas.1
7. Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfemin urin bagi
kelompok pengemudi umum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter,
perawat, bidan, analis laboratorium dan lainnya).1
8. Kegiatan konseling dan penyuluhan harus dilakukan setiap pelaksanaan
posbindu PTM. Hal ini penting dilakukan karena pemantauan faktor resiko
kurang bermanfaat bila masyarakat tidak tahu cara mengendalikannya.1
9. Kegiatan aktifitas fisik dan atau olahraga bersama sebaiknya tidak hanya
dilakukan jika ada penyelenggaraan Posbindu PTM namun perlu dilakukan
rutin setiap minggu.1
10. Kegiatan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan dasar di wilayahnya dengan
pemanfaatan sumber daya tersedia termasuk upaya respon cepat sederhana
dalam penanganan pra-rujukan.1

Tabel 5.1 Kegiatan di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Marina Permai Januari-
Agustus Tahun 2018
No. Indikator Ketersediaan Kegiatan Keterangan
1 Kegiatan penggalian informasi Dilakukan Ada dilakukan saat Sesuai
faktor resiko dengan kunjungan pasien ke
standart
wawancara sederhana tentang puskesmas dan juga
riwayat PTM pada keluarga follow up oleh
dan diri peserta, aktivitas fisik, tenaga kesehatan.
merokok, kurang makan sayur

51
dan buah, potensi terjadinya
cedera dan kekerasan dalam
rumah tangga, serta informasi
lainnya yang dibutuhkan untuk
identifikasi masalah kesehatan
berkaitan dengan tejadinya
PTM. Akitivitas ini dilakukan
saat pertama kali kunjungan
dan berkala sebulan sekali.1
2 Kegiatan pengukuran berat Dilakukan Sudah dilakukan Sesuai
badan, tinggi badan, Indeks setiap ada program standart
Massa Tubuh (IMT), lingkar PTM di awal bulan
perut, analisis lemak tubuh dan
tekanan darah sebaiknya
diselenggarakan satu bulan
sekali. Analisa lemak tubuh
hanya dapat dilakukan pada
usia 10 tahun ke atas.1
3 Kegiatan pemeriksaan fungsi Tidak Dilakukan Ketidaksediaan alat Tidak sesuai
paru sederhana untuk dilakukan standart
diselenggarakan 1 tahun sekali pemeriksaan
bagi yang sehat, sementara
yang berisiko 3 bulan sekali
dan penderita gangguan paru-
paru dianjurkan 1 bulan sekali.
Pemeriksaan Arus Puncak
Ekspirasi dengan
peakflowmeter pada anak
dimulai usia 13 tahun.
Pemeriksaan fungsi paru
sederhana sebaiknya dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang
telah terlatih.1
4 Kegiatan pemeriksaan gula Dilakukan Sudah dilakukan Sesuai
darah bagi individu sehat pemeriksaan setiap standart
paling sedikit diselenggarakan tiga bulan sekali
3 tahun sekali dan bagi yang pada program PTM
telah mempunyai faktor resiko
PTM atau penyandang diabetes
mellitus paling sedikit 1 tahun
sekali. Untuk pemeriksaan
glukosa darah dilakukan oleh
tenaga kesehatan (dokter,
perawat, bidan, analis
laboratorium dan sebagainya).1
5 Kegiatan pemeriksaan Dilakukan Sudah dilakukan Sesuai
kolesterol total dan trigliserida pemeriksaan setiap standart
bagi individu sehat disarankan tiga bulan sekali

52
5 tahun sekali dan bagi yang pada program PTM
telah mempunyai faktor resiko
PTM 6 bulan sekali dan
penderita dislipidemia atau
gangguan lemak dalam darah
minimal 3 bulan sekali. Untuk
pemeriksaan gula darah dan
kolesterol darah dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang ada di
lingkungan kelompok
masyarakat tersebut.1
6 Kegiatan pemeriksaan IVA Tidak Dilakukan Tidak dilakukan Tidak sesuai
(Inspeksi Visual Asam Asetat) karena sumber daya standart
dilakukan minimal 5 tahun kesehatan, promosi
sekali bagi individu sehat kesehatan, dan
setelah hasil IVA positif kader yang masih
dilakukan tindakan pengobatan kurang
krioterapi diulangi setelah 6
bulan. Jika hasil IVA positif
dilakukan tindakan pengobatan
krioterapi kembali.
Pemeriksaan IVA dilakukan
oleh bidan atau dokter yang
telah terlatih dan tatalaksana
lanjutan dilakukan oleh dokter
terlatih di Puskesmas.1
7 Kegiatan pemeriksaan kadar Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak sesuai
alkohol pernafasan dan tes karena standart
amfemin urin bagi kelompok ketidaksediaan alat
pengemudi umum yang untuk pemeriksaan
dilakukan oleh tenaga
kesehatan (dokter, perawat,
bidan, analis laboratorium dan
lainnya).1
Kegiatan konseling dan
penyuluhan harus dilakukan
setiap pelaksanaan posbindu
PTM. Hal ini penting
dilakukan karena pemantauan
faktor resiko kurang
bermanfaat bila masyarakat
tidak tahu cara
mengendalikannya.1
8 Kegiatan aktifitas fisik dan atau Dilakukan Dilakukan Sesuai
olahraga bersama sebaiknya penyuluhan pada standart
tidak hanya dilakukan jika ada setiap kunjungan
penyelenggaraan Posbindu posbindu
PTM namun perlu dilakukan

53
rutin setiap minggu.
9 Kegiatan aktifitas fisik dan atau Dilakukan Dilakukan kegiatan Sesuai
olahraga bersama sebaiknya aktivitas fisik pada standart
tidak hanya dilakukan jika ada setiap kunjungan
penyelenggaraan Posbindu posbindu
PTM namun perlu dilakukan
rutin setiap minggu.
10 Kegiatan rujukan ke fasilitas Dilakukan Dilakukan rujukan Sesuai
layanan kesehatan dasar di pada setiap standart
wilayahnya dengan kunjungan pasien
pemanfaatan sumber daya yang tidak bisa
tersedia termasuk upaya respon ditangani dan
cepat sederhana dalam keterbatasan alat
penanganan pra-rujukan. penunjang
5.2. Penetapan Prioritas Masalah
Berdasarkan tabel setelah melakukan identifikasi masalah, menurut hasil
yang didapat dari observasi dan survei yang tertera pada tabel di atas, terdapat
temuan masalah di bagian pada program pengendalian penyakit tidak menular.
Temuan masalah yang didapat lalu dipilah mana yang akan menjadi prioritas
menggunakan tabel sebagai berikut:
a) Pentingnya masalah (importancy) yang terdiri dari:
1. Besarnya masalah (Prevalence = P)
2. Akibat yang ditimbulkan masalah (severity) = S
3. Kenaikan besarnya masalah (rate of increase) = RI
4. Keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit) = SB
5. Derajat keinginan masyarakat tidak terpenuhi (degree of unmeet needs) =
DU
6. Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern) = PB
7. Suasana politik (political climate) = PC
b) Kelayakan teknologi (technical feasibility) = T
c) Sumber daya yang tersedia (Resources availability) = R
Untuk setiap kriteria diberikan nilai dalam rentang 1-5 dengan
keterangan berdasarkan criteria matrix technique, yaitu:
 1 : tidak penting
 2 : kurang penting
 3 : cukup penting
 4 : penting

54
 5 : sangat penting
Masalah yang menjadi prioritas utama ialah masalah dengan nilai tertinggi.
Tabel 5.2 Penetapan Prioritas Masalah
No Masalah I T R ITR
P S R DU SB PB PC
I
1 Kegiatan pemeriksaan 3 3 3 4 3 3 2 3 3 189
fungsi paru sederhana
diselenggarakan 1 tahun
sekali bagi yang sehat,
sementara yang berisiko
3 bulan sekali dan
penderita gangguan paru-
paru dianjurkan 1 bulan
sekali
2 Kegiatan pemeriksaan 3 3 3 4 4 2 2 4 5 420
IVA (Inspeksi Visual
Asam Asetat)
3 Kegiatan pemeriksaan 2 3 3 4 4 2 2 4 5 400
kadar alkohol pernafasan
dan tes amfemin urin bagi
kelompok pengemudi
umum yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan
Dari penetapan prioritas berdasarkan teknik kriteria matriks diatas maka
prioritas masalah yang dipilih adalah Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual
Asam Asetat) dilakukan minimal 5 tahun sekali bagi individu sehat setelah hasil
IVA positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi diulangi setelah 6 bulan.
Jika hasil IVA positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi kembali. Adapun
urutan prioritas masalah yang berhasil ditetapkan adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dilakukan
minimal 5 tahun sekali bagi individu sehat setelah hasil IVA positif
dilakukan tindakan pengobatan krioterapi diulangi setelah 6 bulan. Jika
hasil IVA positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi kembali.
Pemeriksaan IVA dilakukan oleh bidan atau dokter yang telah terlatih dan
tatalaksana lanjutan dilakukan oleh dokter terlatih di Puskesmas.
2. Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfemin urin bagi
kelompok pengemudi umum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

55
3. Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana diselenggarakan 1 tahun
sekali bagi yang sehat, sementara yang berisiko 3 bulan sekali dan
penderita gangguan paru-paru dianjurkan 1 bulan sekali.
Kenaikan besar masalah (Rate of Increase/RI). Berdasarkan hasil
penetapan prioritas masalah didapatkan Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi
Visual Asam Asetat) dengan nilai tertinggi. Hal ini disebabkan karena masih
kurangnya sumber daya manusia yang sangat diperlukan untuk melaksanakan
program kegiatan pemeriksaan IVA, seperti tenaga kesehatan dan kader yang
terlatih.
Derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (Degree of unmeet
need/DU). Masalah rendahnya angka cakupan masyarakat melakukan deteksi dini
berupa IVA lebih tinggi poinnya bila dibandingkan dengan cakupan pemeriksaan
kadar alkohol dan pemeriksaan fungsi paru.
Keuntungan sosial (social benefit/SB) yang diperoleh jika masalah tidak
adanya deteksi dini dari pemeriksaan IVA dapat diselesaikan akan bernilai lebih
tinggi karena dengan adanya pemeriksaan dapat mengetahui deteksi dini kanker
serviks serta melakukan pengobatan yang tepat hingga komplikasi kanker serviks
dapat terhindarkan.
Perhatian masyarakat (public concern/PB). Masyarakat masih belum
memiliki perhatian dengan program tersebut. Begitu pula dengan poin PC
(political climate) memiliki nilai yang sama pada program-program tersebut
karena terkait kebijakan dan prosedural. Dari penilaian teknis (technical
feasibility), kelayakan teknologi yang digunakan untuk ketiga indikator masih
belum memadai tetapi pada IVA test ini tidak memerlukan peralatan yang sulit.
Sehingga menjadi perhatian yang lebih pada IVA test ini, dimana peralatan yang
masih mudah didapatkan tetapi belum masih dilaksanakannya IVA test. Selain itu
belum tersedianya tempat yang privasi untuk melakukan IVA test. Selain itu,
kesadaran masyarakat untuk mengikuti kegiatan Posbindu sangat kurang,
sehingga deteksi dini dan penanganan untuk kanker serviks serta mencegah
komplikasi tidak menjangkau banyak masyarakat.
Untuk ketersediaan sumber daya (resources availability), berkaitan dengan
keberadaan kader di lapangan, karena puskesmas sebenarrnya memiliki kader,

56
namun belum melakukan pelayanan pendeteksian dini secara penuh, karena selain
tugas promosi kesehatan lainnya juga banyak, serta masih kurangnya pemahaman
kader dalam pembagian tugas, sementara tidak ada penambahan jumlah kader
khusus untuk program tersebut.

5.3. Identifikasi Penyebab Masalah


5.3.1. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dibuat dengan menggunakan pendekatan analisis, hal ini
bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab masalah tidak pada kegiatan
pemeriksaan IVA pada beberapa Posbindu. Kerangka konsep yang telah
dipikirkan untuk masalah tersebut dapat dilihat pada lampiran gambar.
5.3.2. Estimasi Penyebab Masalah
Masalah dalam pelaksanaan tidak dilakukanya kegiatan pemeriksaan IVA
pada Posbindu akan dibahas sesuai dengan pendekatan sistem yang
mempertimbangkan seluruh faktor baik dari unsur man, money, method, machine.
Daftar masalah berdasarkan kerangka konsep yaitu:
1. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dalam pemeriksaan deteksi dini
IVA masih kurang pada Posbindu.
2. Pemahaman kader masih kurang.
3. Kurangnya sumber daya manusia.
4. Pembagian kerja kader yang kurang jelas.
5. Kurangnya sarana dan prasarana seperti dana tersedia yang masih kurang
untuk kader dan tidak tersedianya tempat yang tertutup atau privasi untuk
melakukan IVA Test.
Terdapat 5 penyebab masalah yang kemudian masalah tersebut dipilih
berdasarkan sistem scoring oleh seluruh anggota kelompok. Masing-masing
anggota kelompok memilih estimasi penyebab masalah tersebut dengan penetapan
peringkat, dimana penyebab setiap penyebab masalah yang berada di peringkat
pertama memiliki score 2, peringkat kedua memiliki score 1. Sistem scoring yang
telah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut. Selain itu dapat dilihat pada
gambar 5.1 dibawah ini.

57
Man
Material
Pemahaman
Kurangnya
kader kurang
kesadaran
Dana yang
masyarakat
tersedia kurang
Kurangnya
Kurangnya sarana
sumber daya
dan prasarana Tidak rutin dilakukan
manusia
pemeriksaan IVA Test

Pembagian kerja kader


Tidak
kurang jelas
tersedianya
tempat
pemeriksaan
IVA Test

Method
Milieu/Mother Nature

Gambar 5.1 Kerangka Fishbone

58

5.4. Prioritas estimasi Penyebab Masalah


Tabel 5.3 Prioritas Estimasi Penyebab Masalah
Matriks
Penyebab Masalah Contributio Technical Resources Total
n Feasibility Availability

58
Kesadaran masyarakat 2 2 2 8
terhadap kesehatan dalam
deteksi dini pemeriksaan
IVA masih kurang pada
Posbindu
Pemahaman kader masih 2 1 2 4
kurang

Kurangnya sumber daya 1 1 1 3


manusia

Pembagian kerja kader 1 1 1 3


kurang jelas

Kurangnya sarana dan 1 1 1 3


prasarana

Berdasarkan sistem scoring yang telah dilakukan, didapatkan 2 estimasi


penyebab masalah yang memiliki score paling tinggi yaitu:
1. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dalam deteksi dini pemeriksaan
IVA masih kurang pada Posbindu
2. Pemahaman kader masih kurang
Sehingga prioritas estimasi penyebab masalah yang terpilih adalah
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dalam deteksi dini pemeriksaan IVA
masih kurang pada Posbindu.

5.5. Alternatif Jalan Keluar


5.5.1. Alternatif Penyelesaian Masalah
a. Meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan kegiatan
dilakukan dengan membuat berbagai upaya unik dan menarik untuk
mengatasi masalah ketidaktahuan, ketidakmauan, dan ketidakmampuan
yang ada di masyarakat agar mandiri dalam hidup sehat. Jalan keluar untuk
mengatasi misalnya dengan mengadakan arisan posbindu yang melibatkan
masyarakat dengan anggota keluarga. Pembuatan dan penyebaran media
promosi 3-4x tiap tahun dilakukan untuk mengatasi penyebab masalah
berupa kurangnya kesadaran masyarakat mengenai manfaat pemeriksaan

59
IVA serta komplikasi dari kanker serviks. Media promosi yang digunakan
dapat berupa leaflet, banner, spanduk atau melalui media sosial internet.
b. Setiap kader diharapkan dapat menyampaikan aspirasinya setiap kegiatan
posbindu PTM sampai selesai, sehingga dapat diketahui sejauh mana
pemahaman kader terhadap kegiatan tersebut, karena itu penting dilakukan
evaluasi setiap selesai kegiatan. Diharapkan setelah itu setiap kader dapat
membantu setiap kegiatan posbindu agar berjalan dengan baik. Salah satu
upaya inovatif lainnya yang dapat dilaksanakan oleh Puskesmas adalah
mengadakan gathering atau kegiatan jalan sehat, untuk meningkatkan
kebersamaan antar kader dan anggota serta sebagai sarana refreshing untuk
kader beserta anggota, sehingga timbul kesadaran untuk mengupayakan
kesehatan bersama. Selain itu, diberikan pengetahuan dan pelatihan
kepada kader tentang pemeriksaan deteksi dini IVA.

5.6. Prioritas Penyelesaian Masalah


Adapun penentuan alternatif jalan keluar yang dapat dihitung dengan
menggunakan metode scoring dengan mempertimbangkan Magnitude (M),
Improtancy (I), Vulnerability (V) dan Cost (C) yang secara langsung dapat
diperhatikan pada program.
a) Efektifitas jalan keluar, yang terdiri dari M, I dan V
 Besarnya masalah yang dapat diselesaikan (Magnitude) = M
 Pentingnya jalan keluar (Importancy) = I
 Sensitivitas jalan keluar (Vulnerabillity) = V
b) Biaya jalan keluar (Cost) = C
Prioritas dihitung dengan rumus :
MxIxV
C
Alternatif jalan keluar yang dipilih sebagai prioritas adalah yang memiliki
hasil perhitungan tertinggi. Hasil perhitungan alternatif jalan keluar yang
ditawarkan dapat diperhatikan pada tabel berikut.

Tabel 5.4 Prioritas Penyelesaian Masalah


Alternatif Jalan Keluar M I V C Prioritas
60
Jalan Keluar:
P=(MxIxV)/C
Meningkatkan inovasi dan kreativitas
dalam pelaksanaan kegiatan dilakukan
dengan membuat berbagai upaya unik dan
menarik untuk mengatasi masalah 4 4 5 5 16
ketidaktahuan, ketidakmauan, dan
ketidakmampuan yang ada di masyarakat
agar mandiri dalam hidup sehat.
Setiap kader diharapkan dapat
menyampaikan aspirasinya setiap kegiatan
posbindu PTM selesai dan diberikan 4 4 4 5 12,8
pengetahuan serta pelatihan tentang
pemeriksaan deteksi dini kanker serviks

Dari tabel matriks di atas diketahui bahwa yang mendapat nilai terbesar
yaitu kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dalam deteksi tekanan darah
masih kurang pada Posbindu PTM. Sehingga penyelesaian jalan keluar terpilih
adalah meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan kegiatan
dilakukan dengan membuat berbagai upaya unik dan menarik untuk mengatasi
masalah ketidaktahuan, ketidakmauan, dan ketidakmampuan yang ada di
masyarakat agar mandiri dalam hidup sehat.
Jalan keluar untuk mengatasi masalah misalnya dengan mengadakan
arisan Posbindu yang melibatkan masyarakat dengan anggota keluarga. Kegiatan
ini dapat mengatasi penyebab masalah kurangnya minat masyarakat untuk datang
ke posbindu. Jalan keluar ini dapat secara cepat meningkatkan minat dan jumlah
kedatangan ke Posbindu/Puskesmas. Salah satu upaya inovatif lainnya yang dapat
dilaksanakan oleh Puskesmas adalah mengadakan gathering atau kegiatan jalan
sehat, untuk meningkatkan kebersamaan antar kader dan anggota serta sebagai
sarana refreshing untuk kader beserta anggota, sehingga timbul kesadaran untuk
mengupayakan kesehatan bersama.
Pembuatan dan penyebaran media promosi 3-4x tiap tahun juga dapat
dilakukan untuk mengatasi penyebab masalah berupa kurangnya kesadaran
masyarakat mengenai manfaat pemeriksaan IVA rutin serta komplikasi dari
kanker serviks. Media promosi yang digunakan dapat berupa leaflet, banner,
spanduk atau melalui media sosial internet.

61
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

62
1. UPT Puskesmas Marina Permai Palangka Raya mempunyai Program
Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang merupakan salah satu program
pengembangan di puskesmas.
2. Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular UPT Puskesmas Marina
Permai Palangka Raya mempunyai 10 indikator dengan tolak ukur yang
berbeda-beda.
3. Masalah utama dalam Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular di
Posbindu Puskesmas Marina Permai Palangka Raya adalah kesadaran
masyarakat terhadap kesehatan dalam deteksi dini kanker serviks masih
kurang pada Posbindu.
4. Didapatkan prioritas estimasi penyebab masalah adalah kesadaran
masyarakat terhadap kesehatan dalam deteksi dini kanker serviks masih
kurang pada Posbindu.
5. Alternatif jalan keluar untuk estimasi penyebab masalah yang ada
berdasarkan sistem matriks dan mendapat nilai terbesar adalah
Meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan kegiatan dilakukan
dengan membuat berbagai upaya unik dan menarik untuk mengatasi masalah
ketidaktahuan, ketidakmauan, dan ketidakmampuan yang ada di masyarakat
agar mandiri dalam hidup sehat.

6.2. Saran
1. Bagi Kader

63
a. Setiap kader diharapkan dapat menyampaikan aspirasinya setiap kegiatan
posbindu PTM selesai dan diberikan pengetahuan serta pelatihan tentang
pemeriksaan deteksi dini kanker serviks.

2. Bagi Puskesmas
a. Memantau dan meninjau kembali program pengendalian penyakit tidak
menular yang dilaksanakan agar terus membaik sesuai dengan pedoman
yang diberikan pemerintah.
b. Memprioritaskan kegiatan dan aktivitas yang berorientasi pada
peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini faktor
resiko penyakit tidak menular serta konsekuensinya apabila tidak rutin
melakukan pemeriksaan.

3. Bagi Pemerintah
a. Menyediakan wadah mapun media bagi setiap pihak yang berperan
penting dalam penyelenggaraan deteksi dini faktor resiko PTM sehingga
koordinasi setiap pihak (petugas puskesmas, kader posyandu, praktik
klinik, rumah sakit dan masyarakat) untuk melakukan pertemuan setiap
suatu periode tertentu sehingga keberlangsungan kegiatan dapat berjalan
dengan baik.
b. Mendukung dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan berorientasi pada
masyarakat tentang pendeteksian dini faktor resiko PTM yang diadakan
oleh UPT Puskesmas maupun Posbindu/Posyandu di Puskesmas Marina
Permai Palangka Raya.

DAFTAR PUSTAKA

64
1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan
Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Puskesmas. Jakarta: Dirjen
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat
Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Riskesdas. 2012

2. Azwar, A., Basuk, E., Soerawidjaja, R.A. Evaluasi Program


Kedokteran/Kesehatan Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta:
Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI. 2009.

3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar.


Kementerian Kesehatan RI: Jakarta. 2013. Hal. 83.

4. Depkes Provinsi Kalimantan Tengah. Profil Kesehatan 2016 Provinsi


Kalimantan Tengah. 2016

5. Profil UPTD Puskesmas Marina Permai Tahun 2017.

6. Buku Rekam Medis Kunjungan Pasien di Poli Umum Puskesmas Marina


Permai Bulan Januari-Agustus 2018

7. Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan
Masyarakat. Jakarta. 2004.

8. Rahajeng Ekawati. Upaya pengendalian PTM di Indonesia. Data dan


Informasi Kesehatan Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. 2012.

9. Chriswardani S. Metode Penentuan Prioritas Masalah. Bahan Kuliah


Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Diponegoro.

65