Anda di halaman 1dari 147

MATERI UTS

ILMU DASAR KEPERAWATAN 7


Ragil Setiyabudi

PRODI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
GENAP, 2019/2020

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 0


BAB I
KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT

A. Sejarah Kesehatan Masyarakat


Berbicara kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani yaitu Asclepius
dan Higeia. Berdasarkan cerita Mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang
dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa
yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan
melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu dengan baik.

Hegeia, seorang asistenya yang juga istrinya juga telah melakukan upaya kesehatan. Bedanya
antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan/penanganan masalah kesehatan adalah ;

a. Asclepius melakukan pendekatan (pengobatan penyakit), setelah penyakit tersebut terjadi


pada seseorang.
b. Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan melalui
“hidup seimbang”, seperti mengindari makanan/minuman yang beracun, makan makanan
yang bergizi (baik) cukup istirahat dan melakukan olahraga. Apabila orang sudah jatuh sakit
Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya secara alamiah untuk menyembuhkan
penyakitnya tersebut, antara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya dengan makanan
yang baik, daripada dengan pengobatan/pembedahan.
Dari cerita dua tokoh di atas, berkembanglah 2 aliran/pendekatan dalam menangani masalah
kesehatan. Kelompok pertama cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang
selanjutnya disebut pendekatan kuratif/pengobatan. Kelompok ini pada umumnya terdiri terdiri
dari dokter, dokter gigi, psikiater dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan fisik,
mental maupun sosial. Sedangkan kelompok kedua, seperti halnya pendekatan Higeia,
cenderung melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan
(promosi) sebelum terjadi penyakit. Ke dalam kelompok ini termasuk para petugas kesehatan
masyarakat lulusan-lulusan sekolah/institusi kesehatan masyarakat dari berbagai jenjang.

Dalam perkembangan selanjutnya, seolah-olah terjadi dikotomi antara kelompok kedua profesi,
yaitu pelayanan kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan pencegahan/preventif
(preventive health care). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan pendekatan :

a. Pendekatan kuratif :
1) Dilakukan terhadap sasaran secara individual.
2) Cenderung bersifat reaktif (menunggu masalah datang, misal dokter menunggu
pasien datang di Puskesmas/tempat praktek).
3) Melihat dan menangani klien/pasien lebih kepada sistem biologis
manusia/pasien hanya dilihat secara parsial (padahal manusia terdiri dari bio-
psiko-sosial yang terlihat antara aspek satu dengan lainnya.

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 2


b. Pendekatan preventif
1) Sasaran/pasien adalah masyarakat (bukan perorangan).
2) Menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu masalah datang,
tetapi mencari masalah. Petugas turun di lapangan/masyarakat mencari dan
mengidentifikasi masalah dan melakukan tindakan.
3) Melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan holistik.
Terjadiya penyakit tidak semata karena terganggunya sistem biologis tapi
aspek bio-psiko-sosial.
B. Periode-periode perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia

Abad Ke-16 Pemerintahan Belanda mengadakan upaya pemberantasan cacar dan kolera yang
sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu. Sehingga berawal dari wabah kolera
tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya kesehatan
masyarakat.
Tahun 1807 Pemerintahan Jendral Daendels, telah dilakukan pelatihan dukun bayi dalam praktek
persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka upaya penurunan angka kematian bayi
pada waktu itu, tetapi tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih.
Tahun 1888 Berdiri pusat laboratorium kedokteran di Bandung, yang kemudian berkembang pada
tahun-tahun berikutnya di Medan, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta.
Laboratorium ini menunjang pemberantasan penyakit seperti malaria, lepra, cacar,
gizi dan sanitasi.
Tahun 1925 Hydrich, seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda mengembangkan daerah
percontohan dengan melakukan propaganda (pendidikan) penyuluhan kesehatan di
Purwokerto, Banyumas, karena tingginya angka kematian dan kesakitan.
Tahun 1927 STOVIA (sekolah untuk pendidikan dokter pribumi) berubah menjadi sekolah
kedokteran dan akhirnya sejak berdirinya UI tahun 1947 berubah menjadi FKUI.
Sekolah dokter tersebut punya andil besar dalam menghasilkan tenaga-tenaga
(dokter-dokter) yang mengembangkan kesehatan masyarakat Indonesia.
Tahun 1930 Pendaftaran dukun bayi sebagai penolong dan perawatan persalinan.

Tahun 1935 Dilakukan program pemberantasan pes, karena terjadi epidemi, dengan
penyemprotan DDT dan vaksinasi massal.
Tahun 1951 Diperkenalkannya konsep Bandung (Bandung Plan) oleh Dr.Y. Leimena dan dr Patah
(yang kemudian dikenal dengan Patah-Leimena), yang intinya bahwa dalam
pelayanan kesehatan masyarakat, aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan.
Tahun 1952 Pelatihan intensif dukun bayi dilaksanakan
Tahun 1956 Dr.Y.Sulianti mendirikan “Proyek Bekasi” sebagai proyek percontohan/model
pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat pelatihan, sebuah
model keterpaduan antara pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.
Tahun 1967 Seminar membahas dan merumuskan program kesehatan masyarakat terpadu sesuai

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 3


dengan masyarakat Indonesia. Kesimpulan seminar ini adalah disepakatinya sistem
Puskesmas yang terdiri dari Puskesmas tipe A, tipe B, dan C.
Tahun 1968 Rapat Kerja Kesehatan Nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas adalah merupakan
sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah
(Depkes) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas
disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan
kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau, dalam
wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan di kotamadya/kabupaten.
Tahun 1969 Sistem Puskesmas disepakati 2 saja, yaitu tipe A (dikepalai dokter) dan tipe B
(dikelola paramedis)
Tahun 1979 Tidak dibedakan antara Puskesmas A atau B, hanya ada satu tipe Puskesmas saja,
yang dikepalai seorang dokter dengan stratifikasi puskesmas ada 3 (sangat baik, rata-
rata dan standard). Selanjutnya Puskesmas dilengkapi dengan piranti manajerial yang
lain, yaitu Micro Planning untuk perencanaan, dan Lokakarya Mini (LokMin) untuk
pengorganisasian kegiatan dan pengembangan kerjasama tim.
Tahun 1984 Dikembangkan program paket terpadu kesehatan dan keluarga berencana di
Puskesmas (KIA, KB, Gizi, Penaggulangan Diare, Immunisasi)

C. Definisi Kesehatan Masyarakat

Menurut Winslow (1920) bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan Seni :
mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-usaha
Pengorganisasian masyarakat“ untuk :

a. Perbaikan sanitasi lingkungan


b. Pemberantasan penyakit-penyakit menular
c. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
d. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis
dini dan pengobatan.
e. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi
kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.
Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara,
melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian
masyarakat.

Dari batasan kedua di atas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari
hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan
sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 4


D. Ruang lingkup Kesehatan masyarakat
Disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat antara lain, mencakup :
1. Ilmu biologi
2. Ilmu kedokteran
3. Ilmu kimia
4. Fisika
5. Ilmu Lingkungan
6. Sosiologi
7. Antropologi
8. Psikologi
9. Ilmu pendidikan
Oleh karena itu ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu yang multidisiplin.
Secara garis besar, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut
sebagai pilar utama Ilmu Kesehatan Masyarakat ini antara lain sbb :
1. Epidemiologi.
2. Biostatistik/Statistik Kesehatan.
3. Kesehatan Lingkungan.
4. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
5. Administrasi Kesehatan Masyarakat.
6. Gizi Masyarakat.
7. Kesehatan Kerja.
8. Kesehatan Reproduksi Masyarakat
9. Sistem Informasi Kesehatan

E. Usaha-usaha Kesehatan Masyarakat (Notoatmodjo, 2003)


Masalah Kesehatan Masyarakat adalah multikausal, maka pemecahanya harus secara
multidisiplin. Oleh karena itu, kesehatan masyarakat sebagai seni atau prakteknya mempunyai
bentangan yang luas. Semua kegiatan baik langsung maupun tidak untuk mencegah penyakit
(preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik, mental, dan sosial) atau
kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik, mental, sosial) adalah upaya kesehatan
masyarakat.

Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan sebagai seni atau penerapan ilmu
kesehatan masyarakat antara lain sebagai berikut :

a. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.


b. Perbaikan sanitasi lingkungan
c. Perbaikan lingkungan pemukiman
d. Pemberantasan Vektor
e. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat
f. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 5


g. Pembinaan gizi masyarakat
h. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum
i. Pengawasan Obat dan Minuman
j. Pembinaan Peran Serta Masyarakat

F. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat


Banyak teori yang menyatakan tentang faktor yang memengaruhi derajat kesehatan, misalnya
teori HL. Blum , bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor :
1. Heriditas
2. Pelayanan Kesehatan
3. Lingkungan
4. Perilaku

Soal latihan:
Jelaskan dan berikan contoh penyakit atau masalah kesehatan berdasarkan teori HL Blum !

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 6


BAB II
KONSEP DAN PRINSIP EPIDEMIOLOGI

1. Konsep dasar epidemiologi


Penggunaan epidemiologi tidak terbatas pada kajian penyakit menular / wabah, meluas berbagai
bidang kajian baik pengetahuan kesehatan & kedokteran juga diluar bidang tersebut.
Batasan epidemilogi tidak pernah dapat memberikan definisi yang sama menyesuaikan dengan
perkembangan manuasia. Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu (Epi=pada,
Demos=penduduk, logos = ilmu), dengan demikian epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari
hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat.
2. Definisi epidemiologi
Greenwood ( 1934 )
Mengatakan bahwa Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian
yang mengenai kelompok (herd) penduduk. Kelebihannya adalah adanya penekanan pada
Kelompok Penduduk yang mengarah kepada Distribusi suatu penyakit.
Brian Mac Mahon ( 1970 )
Epidemiology is the study of the distribution and determinants of disease frequency in man.
Epidemiologi adalah Studi tentang penyebaran dan penyebab frekwensi penyakit pada manusia
dan mengapa terjadi distribusi semacam itu. Di sini sudah mulai menentukan Distribusi Penyakit
dan mencari Penyebab terjadinya Distribusi dari suatu penyakit.
Wade Hampton Frost ( 1972 )
Mendefinisikan Epidemiologi sebagai Suatu pengetahuan tentang fenomena massal ( Mass
Phenomen ) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah ( Natural History ) penyakit menular.
Di sini tampak bahwa pada waktu itu perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah
penyakit infeksi yang terjadi/mengenai masyarakat/massa.
Abdel R. Omran ( 1974 )
Epidemiologi adalah suatu ilmu mengenai terjadinya dan distribusi keadaan kesehatan, penyakit
dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya serta akibat – akibat yang terjadi
pada kelompok penduduk.
Last (1988)
Ilmu tentang distribusi dan determinan-determinan dari keadaan atau kejadian yang
berhubungan dengan kesehatan di dalam populasi tertentu, serta penerapan dari ilmu ini guna
mengendalikan masalah-masalah kesehatan.
3. Ruang lingkup epidemiologi
a. Masalah kesehatan sebagai subjek dan objek epidemiologi
Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit saja,
tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat.
Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 7


tenaga kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek
dan objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan.
b. Masalah kesehatan pada sekelompok manusia
Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data
dari hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah
penyakit, keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui
penyebabnya dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya.
c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam
merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan.
Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan
penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi dan
penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat.
Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat
dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.
4. Macam-macam epidemiologi
Secara sederhana, studi epidemiologi dapat dibagi menjadi dua kelompok sebagai berikut
:
1. Epidemiologi deskriptif, yaitu Cross Sectional Study/studi potong lintang/studi
prevalensi atau survei.
2. Epidemiologi analitik : terdiri dari :
a. Non eksperimental/observasi :
1) Studi kohort / follow up / incidence / longitudinal / prospektif studi. Kohort
diartiakan sebagai sekelompok orang. Tujuan studi mencari akibat
(penyakitnya).
2) Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif. Tujuannya mencari
faktor penyebab penyakit.
3) Studi ekologik. Studi ini memakai sumber ekologi sebagai bahan untuk
penyelidikan secara empiris faktor resiko atau karakteristik yang berada
dalam keadaan konstan di masyarakat. Misalnya, polusi udara akibat sisa
pembakaran BBM yang terjadi di kota-kota besar.
b. Eksperimental. Dimana penelitian dapat melakukan manipulasi/mengontrol
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dan dinyatakan sebagai
tes yang paling baik untuk menentukan cause and effect relationship serta tes
yang berhubungan dengan etiologi, kontrol, terhadap penyakit maupun untuk
menjawab pertanyaan masalah ilmiah lainnya. Studi eksperimen dibagi menjadi
2 (dua) yaitu :
1) Clinical Trial. Contoh :
a) Pemberian obat hipertensi pada orang dengan tekanan darah tinggi
untuk mencegah terjadinya stroke.

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 8


b) Pemberian Tetanus Toxoid pada ibu hamil untuk menurunkan frekuensi
Tetanus Neonatorum.
2) Community Trial. Contoh : Studi Pemberian zat flourida pada air minum.
5. Kegunaan epidemiologi (peran epidemiologi)
a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit atau masalah
kesehatan dalam masyarakat.
b. Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan mengambil
keputusan.
c. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah
dilakukan.
d. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya
untuk mengatasi atau menanggulanginya.
e. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu
dipecahkan.
6. Model faktor kausal/penyebab terjadinya penyakit
A. Segitiga Epidemiologi (The Epidemiologic Triagle)
Gordon pada tahun 1950 menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada manusia
dipengaruhi oleh tiga faktor utama yakni:
1. Agen Penyakit
Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan faktor mekanis. Kadang-
kadang untuk penyakit tertentu, penyebabnya tidak diketahui seperti penyakit ulkus peptikum,
coronary hearts dan lain-lain. Agen penyakit dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok
yaitu :
a. Agen Biologis, misalnya : Virus ; misal HIV, H5N1, bakteri (misal: TBC), fungi
(misal:Candida albicans), rickettsia, protozoa (misal ; plasmodium falciparum) dan
metazoa (misal:ascaris, tricuris sp, dll)
b. Agen nutrien, misalnya : Protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.
c. Agen fisik, misalnya : Panas, radiasi, dingin, kelembaban, tekanan
d. Agen chemis, misalnya : Dapat bersifat endogenous seperti asidosis, diabetes
(hiperglikemia), uremia, dan eksogenous seperti zat kimia, alergen, gas, debu, dan lain-
lain.
e. Agen Mekanis, misalnya : Gesekan, benturan, pukulan yang dapat menimbulkan
kerusakan jaringan tubuh.
2. Host (Pejamu)/Induk semang
Adalah semua faktor yang terdapat pada diri manusia yang dapat mempengaruhi
timbulnya serta perjalanan suatu penyakit. Faktor tersebut banyak macamnya antara lain :
a. Umur
Angka kesakitan dan kematian dalam hampir semua keadaan menunjukkan
hubungan dengan umur. Keadaan ini berkaitan dengan :
1) Fungsi dari proses umur, perkembangan, immunitas, dan keadaan fisiologis.

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 9


2) Perubahan kebiasaan makan dari tiap-tiap golongan umur atau dengan perjalanan
waktu
3) Perubahan daya tahan tubuh
4) Penyakit-penyakit tertentu yang menyerang umur-umur tertentu seperti penyakit
smallpox pada anak-anak, penyakit kanker pada usia pertengahan, dan penyakit
artelosklerosis pada usia lanjut.
b. Jenis Kelamin
Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa adanya penyakit-penyakit yang
menyerang jenis kelamin tertentu. Misalnya pada perempuan seperti, kanker payudara,
risiko kehamilan dan penyakit hipertrifi prostat hanya dijumpai pada laki-laki. Perbedaan
faktor ini sangat dipengaruhi oleh :
1) Faktor dari dalam diantaranya adalah :
(a) Keturunan (herediter)
(b) Perbedaan hormonal
2) Faktor dari luar diantaranya adalah:
(a) Perokok
(b) Peminum alkohol
(c) Pekerja berat
(d) Pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya
c. Ras
Hubungan antara ras dengan penyakit berkaitan dengan kebiasaan makan, susunan
genetika, gaya hidup, perkembangan adat-istiadat dan kebudayaan, sehingga terdapat
penyakit yang hanya dijumpai pada ras tertentu seperti sikle cell anemia pada ras negro.
d. Genetik
Ada penyakit tertentu yang diturunkan secara hederiter seperti: mongolism,
fenilketonuria, buta warna, hemofilia, dan lain-lain
e. Pekerjaan
Jenis pekerjaan tertentu mempunyai hubungan erat dengan penyakit tertentu,
diantaranya adalah:
1) Faktor lingkungan yang berhubungan dengan penyakit, misalnya bahan kimia, gas-
gas beracun, benda-benda fisik yang menimbulkan kecelakaan antara lain silikosis,
asbestosis, bysinosis (berasal dari debu kapas) dan lain-lain. Banyak pekerja
tambang di Indonesia yang terpapar oleh pajanan-pajanan yang dapat menimbulkan
Pneumoconiosis. Pajanan tersebut di antaranya batu bara, mineral, silica dan
asbestos. Penelitian menunjukkan, sekitar 9 persen penambang batu bara di
Indonesia menderita Pneumoconiosis. Tak hanya industri pertambangan,
Pneumoconiosis pun diderita oleh sejumlah kecil pekerja di pabrik semen.
2) Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress, misalnya ulkus peptikum, hipertensi
dan sebagainya.
f. Status kekebalan

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 10


Reaksi tubuh terhadap penyakit tergantung dari status kekebalan yang dimiliki
sebelumnya, seperti kekebalan terhadap penyakit virus yang tahan lama dan seumur
hidup.
g. Kebiasaan hidup
Seseorang yang terbiasa hidup kurang bersih, tentunya lebih mudah terkena penyakit
infeksi, dan seseorang dengan gaya hidup sedentary (tidak banyak gerak), akan lebih
mudah terkena risiko penyakit-penyakit degeneratif.
h. Penghasilan
Penghasilan akan erat kaitannya dengan kemampuan orang untuk memenuhi
kebutuhan gizi, perumahan yang sehat, pakaian dan kebutuhan lain, yang berkaitan
dengan pemeliharaan kesehatan.
i. Status perkawinan/marital
Dari penelitian-penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara angka kesakitan
dan angka kematian dengan status perkawinan, kematian yang lebih tinggi bagi orang
yang tidak kawin, keadaan ini disebabkan karena :
1) Orang-orang yang tidak kawin kebanyakan kurang sehat.
2) Orang-orang yang tidak kawin lebih banyak berhubungan dengan penyebab penyakit
3) Perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup.
3. Lingkungan (environment)
Lingkungan adalah agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang
mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Lingkungan hdup manusia
pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu lingkungan hidup internal berupa keadaan yang
dinamis dan seimbang yang disebut homeostatis, dan lingkungan hidup eksternal di luar
tubuh manusia yang terdiri dari tiga komponen yaitu :
a. Lingkungan fisik
Bersifat abiotik atau benda mati seperti udara, tanah, cuaca, makanan, sinar, radiasi
dan lain-lain. Lingkungan fisik ini berinteraksi secara konstan dengan manusia sepanjang
waktu dan masa, serta memegang peranan penting dalam proses terjadinya penyakit pada
masyarakat.
b. Lingkungan non fisik
Yaitu lingkungan yang muncul sebagai akibat adanya interaksi antar manusia, antara
lain faktor sosial budaya, norma, nilai dan adat istiadat. Peranan lingkungan dalam
menyebabkan timbul tidaknya penyakit dapat bermacam-macam. Salah satunya sebagai
reservoir yaitu tempat hidup yang dipandang paling sesuai bagi penyakit. Dikenal dengan
istilah environment reservoir, jenis reservoir yang lain yaitu : human reservoir, animal
reservoir, anthropode reservoir.
Interaksi antara Agent, Host dan lingkungan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Interaksi agent - environment
Keadaan dimana agent dipengaruhi secara langsung oleh lingkungan (tanpa
menghiraukan karakteristik dari host), umumnya pada periode prepatogenesa yang seringkali

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 11


dilanjutkan sampai pada tahap patogenesa. Keadaan tersebut misalnya ketahanan dari suatu
bakteri terhadap sinar matahari, stabilitas vitamin di dalam lemari pendingin dan seterusnya.
2. Interaksi host - environment
Keadaan dimana suatu agent dipengaruhi oleh lingkungan (tanpa menghiraukan
faktor agent), terjadi pada saat prepatogenesa dan patogenesa. Misalnya : kerentanan
terhadap salah satu agent, ketersediaan fasilitas kesehatan dan lain sebagainya.
3. Interaksi host- agent
Keadaan dimana salah satu agent telah berada di diri host, bermukim dengan baik,
berkembangbiak, dan mungkin telah menstimulasi respon dari host, dengan timbulnya tanda-
tanda dan gejala-gejala klinis seperti demam, perubahan jaringan dst, termasuk produksi zat-
zat kekebalan atau mekanisme pertahanan lainnya. Interaksi ini dapat berakhir dengan
kesembuhan, gangguan sementara, kematian, atau hilangnmya tanda-tanda dan gejala-
gejala klinis tanpa eliminasi dari agent (menjadi carier).
4. Interaksi agent-host-environment
Keadaan dimana agent, host, dan lingkungan saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya terhadap timbulnya proses penyakit, terjadi baik pada tahap prepatogenesa maupun
patogenesa. Misalnya pada kontaminasi feses dari penderita tipus pada sumber air minum
dst.
Dari hal tersebut di atas terlihat bahwa interaksi Agent (bibit penyakit), Host (pejamu)
dan Environment (lingkungan) dalam menimbulkan penyakit amat komplek dan majemuk.
Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi, dimana pejamu dan bibit penyakit saling
berlomba untuk menarik kemungkinan lingkungan. Untuk memberikan gambaran lebih lanjut
mengenai hal ini. John Gordon menggambarkan dengan timbangan keseimbangan. Disini
pejamu dan bibit penyakit berada di ujung masing-masing tuas, sedangkan lingkungan
sebagai penumpunya. Seseorang disebut dalam kedaan sehat, jika tuas pejamu berada
dalam keadaan seimbang dengan tuas bibit penyakit. Sebaliknya bila bibit penyakit lebih
berhasil menarik keuntungan dari lingkungan, maka orang tersebut berada dalam keadaan
sakit. Hubungan antara ketiga faktor ini secara sederhana dapat digambarkan sebagai
berikut:

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 12


Sehat. Dimana keadaan penjamu,
Pejamu Bibit Penyakit lingkungan dan bibit penyakit dalam
Lingkungan keseimbangan.

Menderita penyakit karena daya


Pejamu tahan pejamu berkurang.
Bibit Penyakit Contoh : Peningkatan jumlah anak
Lingkungan yang rentan terhadap campak.

Menderita penyakit karena


Pejamu Bibit Penyakit kemampuan bibit penyakit meningkat.
Contoh :
Lingkungan Mutasi avian influenza virus
Menderita penyakit karena lingkungan
berubah
Pejamu Bibit Penyakit Contoh : Akibat banjir banyak terkena
Lingkungan diare

Adapun proses terjadinya penyakit menular karena interaksi antara pejamu, agent dan
lingkungan, meliputi 6 komponen, yaitu:
a Penyebab penyakit
Ada 6 golongan penyebab penyakit yang bersifat biologis, yaitu:
(1) Protozoa
Binatang bersel satu yang dapat menimbulkan penyakit antara lain malaria,
disentri amuba dan lain-lain, memerlukan perkembangan di luar tubuh manusia yang
ditularkan melalui vektor.
(2) Metazoa
Jenis parasit jenis multiseluler yang menyebabkan penyakit trikinosis, cacing
tambang dan sebagainya, memerlukan perkembangan di luar tubuh manusia,
sehingga penularannya terjadi secara tidak langsung.
(3) Bakteria
Merupakan tumbuh-tumbuhan bersel tunggal yang menyebabkan bermacam-
macam penyakit seperti TBC, Tipus abdominatis, miningitis dan sebagainya.
Berkembangbiak di lingkungan sekitar manusia, dapat ditularkan dari orang ke orang
atau mendapatkannya dari lingkungan orang tersebut.
(4) Virus

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 13


Penyebab penyakit yang mempunyai ukuran yang sangat kecil, dapat
menimbulkan penyakit flu burung, cacar, morbili, hepatitis, rabies dan sebagainya.
Penyakit tersebut umumnya ditularkan secara langsung.
(5) Fungi (jamur)
Tumbuhan yang bersifat uniseluler maupun multiseluler yang dapat
menimbulkan penyakit seperti jamur kulit, histoplamosis, blastomikosis. Reservoir
dari penyakit jamur adalah tanah dan tidak ditularkan langsung dari orang ke orang.
(6) Riketsia
Parasit yang sifatnya intraseluler dengan ukuran besar berada diantara
bakteri dan virus, sifatnya sama dengan virus, ia membutuhkan sel hidup untuk
pertumbuhan dan perkembangannya. Misalnya penyakit scrub tifus yang ditularkan
oleh pinjal tikus.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan
penyakit adalah :
(1) Kerentanan pejamu
(2) Kemampuan mikroba untuk hidup dan berkembang biak
(3) Tingkat virulensinya
b Reservoir dari penyebab penyakit
Reservoir adalah habitat normal bagi agent penyebab penyakit dimana ia hidup,
berkembangbiak dan tumbuh dengan baik. Habitat tersebut dapat berupa:
(1) Manusia
(2) Binatang
(3) Lingkungan (tumbuh-tumbuhan, tanah, air di lingkungan sekitar kita).
c Tempat keluarnya penyakit-penyakit tersebut dari pejamu
Disebut juga dengan portal of exit. Yang dimaksudkan disini adalah cara keluarnya
dari reservoir manusia dan binatang, dapat melalui:
(a) Saluran pernafasan, seperti penyakit TBC, pilek atau influenza, bronkopneumonia dan
sebagainya
(b) Saluran pencernaan, seperti penyakit tifus abdominalis, kolera, desentri hepatitis dan
sebagainya
(c) Saluran perkemihan, seperti penyakit gonore, sifilis, leptospirosis dan sebagainya
(d) Melalui kulit, seperti cacar, hepatitis serum melalui suntikan, gigitan antropoda seperti
demam berdarah.
d Cara trasmisi dari orang ke orang
Penularan penyakit dapat terjadi melalui 2 cara yaitu:
(1) Secara langsung
(2) Secara tidak langsung
e Tempat masuknya penyebab penyakit tersebut ke pejamu yang baru

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 14


Tempat masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh manusia sama dengan tempat
keluarnya bibit penyakit yaitu melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran
perkemihan, kulit dan sebagainya.
f Kerentanan pejamu
Kerentanan atau kepekaan pejamu terhadap penyakit sangat tergantung kepada:
1) Faktor genetik (keturunan).
2) Daya tahan tubuh pejamu terhadap penyakit.
3) Keadaan gizi.
4) Pola hidup dan sebagainya.

B. Konsep Penyebab Ganda dan Tunggal


Timbulnya suatu penyakit karena salah satu unsur saja dikenal dengan istilah penyebab
tunggal (one causation of desease), namun dalam kenyataan sehari-hari, dalam mempengaruhi
timbulnya penyakit, unsur-unsur yang terdapat dalam 3 faktor (host, agent, environment)
memegang peranan yang amat penting, dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya,
sehingga dalam kenyataannya penyebab tersebut tidak hanya satu unsur saja, melainkan dapat
sekaligus dari beberapa unsur yang dikenal dengan istilah multiple causation of deseases
(penyebab ganda).

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 15


1. Web of causation dari kurang gizi (model )

Dampak KURANG GIZI

Penyebab Makan
Penyakit Infeksi
langsung Tidak Seimbang

Sanitasi dan Air


Penyebab Tidak Cukup Pola Asuh Anak Bersih/Pelayanan
Tidak langsung Persediaan Pangan Tidak Memadai Kesehatan Dasar
Tidak Memadai

Kurang Pendidikan, Pengetahuan dan Keterampilan

Pokok Masalah Kurang pemberdayaan wanita


di Masyarakat dan keluarga, kurang pemanfaatan
sumberdaya
Sumber : UNICEF masyarakat
(1988) dengan Penyesuaian

Pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan

Akar Masalah
Krisis Ekonomi, Politik,
(nasional)
dan Sosial

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 16


2. Web of causation dari penyakit AIDS
Wanita
Faktor sosial ekonomi Faktor keluarga

Lapangan kerja terbatas Pergaulan bebas

Gaya hidup kota Ganti-ganti pasangan

Frustrasi

Pekerja seks
Hubungan seksual

Penyakit AIDS

Iseng/hobi

Laki-laki

Gambar Model Web of causation dari penyakit AIDS


C. The Wheel (model roda)
Model ini menggambarkan bahwa penyakit timbul akibat hubungan manusia dan lingkungannya
sebagai roda. Terlihat pada gambar berikut :

Inti genetik

Lingkungan Fisik Host

Lingkungan

Biologis

Lingkungan sosial

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 17


Gambar Model roda menggambarkan Hubungan manusia dengan lingkungan.
Terlihat pada gambar di atas, roda tersebut terdiri atas manusia dengan substansi genetik pada
bagian intinya, dan komponen lingkungan biologi, sosial, fisik mengelilingi manusia. Ukuran
komponen model roda bersifat relatif, tergantung problem spesifik penyakit bersangkutan.
Contoh : pada penyakit herediter proporsi inti genetik relatif besar, sedang pada penyakit
campak, status imunitas penjamu serta lingkungan biologik lebih berperan daripada faktor
genetik. Peranaan lingkungan sosial lebih besar daripada yang lainnya pada stress mental, dan
peranan lingkungan biologis lebih besar daripada yang lainnya pada penyakit malaria.

-oOo-

Soal latihan;
Gambarkan dengan bagan (kotak, garis dan anak panah) sebuah penyakit menular atau
penyakit tidak menular dengan model web of causation ! jelaskan bagan tersebut.

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 18


BAB III
PENYELIDIKAN WABAH/KEJADIAN LUAR BIASA

A.Pengertian wabah dan KLB


1. Wabah
Merupakan kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular di masyarakat yang
jumlah penderitanya secara nyata meningkat melebihi dari pada keadaan yang lazim
pada waktu dan daerah tertentu serta menimbulkan malapetaka (UU N0 4, 1984).
2. KLB
Merupakan timbulnya atan meningkatnya kejadian keseakitan, kematian yang
bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu
(peraturan mentri kesehatan RI, No, 560/MENKES/PER/VII/1989).

B. Kriteria KLB
Suatu kejadian penyakit dapat dikatakan KLB apabila memenuhi syarat sebagai berikut;
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada tidak dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit /kematian terus menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian penyakit 2 kali atau lebih dibanding dengan periode
sebelumnya (jam, minggu, bulan, tahun)
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukan kenaikan 2 kali atau lipat
atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata penularan dalam tahun
sebelumnya.
5. Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukan kenaikan 2 kali lipat
atau lebih jika dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dari tahun
sebelumnya.
6. Case fatality rate suatu penyakit dalam kurun waktu tertentu menunjukan
kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan CFR dari periode sebelumnya.
7. Proporsional rate penderita baru dari suatu penyakit menular menunjukan kenaikan 2
atau lebih dibanding periode kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

C. Penyakit menular potensial KLB


Penyakit-penyakit yang memerlukan kewaspadaan ketat dan merupakan penyakit
wabah atau potensi wabah atau yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa sesuai
dengan undang-undang wabah tahun No 4 tahun 1984 yaitu : Pes, kolera, demam
bolak balik, demam kuning, DHF, campak, difteri, rabies, pertusis, polio mielitis,

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 19


malaria, influenza, antraxs, hepatitis, typus abdominalis, typus bercak wabah,
meningitis, enchepalitis.
Sesuai dengan perkembangan penyakit maka termasuk golongan penyakit potensial
wabah adalah : SARS, flu burung, HIV/AIDS, keracunan.
Jika ada wabah/KLB dilaporkan dalam waktu 24 jam dengan mengunakan formulir W1.
kemudian KLB atau wabah yang berlangsung juga dilaporkan dengan laporan mingguan
dengan form W2.

D. Tata cara pelaporan KLB


1. Dilaporkan dalam 24 jam
Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya penderita atau tersangka penderita
penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Yang diharuskan menyampaikan laporan
adalah:
a. Orang tua penderita atau tersangka penderita yang tinggal serumah dengan
penderita kepada kepala RT/RW/kepala dusun
b. Dokter, petugas kesehatan yang memeriksa penderita.
c. Kepala unit pemerintah atau swasta.
d. Nahkoda kendaraan air atau udara.
Laporan kewaspadaan disampaikan kepada lurah atau unit kesehatan terdekat
selambat-lambatnya 24 jam sejak mengetahui adanya penderita baik dengan cara
lisan maupun tulisan. Kemudian laporan tersebut harus diteruskan kepada kepala
puskesmas setempat.
Isi laporan kewaspadaan adalah:
a. nama penderita /penderita yang meninggal
b. golongan umur
c. tempat dan alamat kejadian
d. jumlah yang sakit dan meninggal

2. Laporan kejadian luar biasa (W1) dilaporkan dalam waktu 24 jam


Merupakan salah satu laporan kewaspadaan yang dibuat unit kesehatan, segera
setelah mengetahui adanya KLB penyakit tertentu/keracunan makanan. Laporan ini
digunakan untu melaporakan KLB sebagai laporan pengamatan dini kepada pihak-
pihak yang menerima laporan akan adanya KLB penyakit tertentu disuatu wilayah
tertentu. Laporan ini harus memperhatikan asas dini, tepat, cepat, dapat dipercaya
dan bertanggung jawab yang dapat dilakukan dengan lisan dan tulisan. Unit
kesehatan yang membuat laporan adalah puskesmas, dinas kesehatan

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 20


kabupaten/kota dan dinas kesehatan provinsi dengan berpedoman pada laporan
KLB W1.

3. Dilaporkan mingguan
Laporan mingguan wabah (W2) merupakan bagian dari sistem kewaspadaan dini
KLB yang dilaksanakan oleh unit kesehatan terdepan (puskesmas). Sumber data
laporan mingguan adalah data rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas,
puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu dan masyarakat dan rumah
sakit pemerintas atau swasta. Sikap waspada terhdap penyakit potensial KLB ini
juga diikuti oleh siaga TIM professional logistik dan cara penanggulangan termasuk
sarana komunikasi dan administrasi.

E. Langkah-langkah penyidikan KLB


1. Persiapan
a. Konfirmasi informasi
Informasi yang didapat kadang-kadang tidak lengkap bahkan tidak jelas, untuk itu
diperlukan upaya konfirmasi tentang kejelasan informasi.
- Sumber informasi dapat diperoleh dari masyarakat baik lisan maupun tulisan
dan fasilitas kesehatan.
- Gambaran tentang kasus meliputi gejala, pemeriksaan yang dilakukan untuk
diagnosis dan hasil konfirmasi ada tidaknya komplikasi, kecacatan,
kelumpuhan bahkan kematian.
- Situasi geografi dan sarana transportasi yang ada.
b. Pembuatan rencana kerja
Kegiatan ini meliputi;
1. Definisi kasus
Definisi kasus sangat berguna untuk mengarahkan pencarian kasus, paling
baik ditentukan berdasarkan hasil konfirmasi laboratorium. Perumusan
diagnosis kasus dalam kalimat yang jelas merupakan hal yang penting oleh
karena itu akan menjadi pedoman bagi tim penyelidikan lapangan dalam
penemuan kasus.
2. Hipotesis mengenai penyakit, penyebab, sumber dan cara penularan.
3. Data /informasi yang diperlukan misalnya jumlah kasus, jumlah penduduk,
kebiasaan penduduk, data lingkungan.
4. Cara memperoleh data/ informasi

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 21


kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengunakan data fasilitas pelayanan
kesehatan, mencari informasi di instansi non kesehatan, dan melalui survey
di masyarakat.
5. Tim dan sarana yang diperlukan sesuai dengan jenis KLB, misal sanitasi,
entomolog, analis dll
2. Pelaksanaan
a. Penegakan diagnosis
Penegakan diagnosis dilakukan dengan cara menghitung distribusi frekuensi dari
tanda dan gejala yang ditemukan pada kasus dengan membuat daftar gejala
yang ada pada kasus dan menghitung persentasenya. Susunan berdasarkan
pada frekuensi gejala dan tanda penderita kemudian dicocokan dengan tanda
dan gejala klinis penderita penyakit tertentu, sehingga kejadian ini dapat
dikelompokan menjadi kasus atau bukan.
Penentuan laboratorium diperlukan untuk konfirmasi diagnosis dan menentukan
type prganisme penyebab sakit serta pengobatan yang cepat dan tepat.
b. Penentuan KLB
Penentuan KLB bertujuan menetapkan apakah kejadian tesebut merupakan KLB
atau bukan, dilakukan dengan membandingkan insiden penyakit yang telah
berjalan dengan insiden penyakit dalam keadaan biasa pada populasi yang
berisiko pada tempat dan waktu tertentu.
Hal ini dapat dilakukan dengan melihat pola maksimum dan minimum 5 tahunan
atan 3 tahunan, membandingkan penyakit pada minggu.bulan/tahun sebelumya.
Untuk memastikan KLB sebaiknya dilakukan pola analisis secara komperhensif
tidak hanya kasus tetapi termasuk informasi Vektor, lingkungan dan prilaku
penduduk.
c. Identifikasi kasus dan paparan
Identifikasi kasus yang paling baik adalah berdasarkan hasil konfirmasi
laboratorium, namun demikian berdasarkan gejala klinis dapat dipakai sebagai
identifikasi kasus di lapangan saat penyidikakan. Identifikasi paparan dapat
ditentukan melalui analisis kurva epidemic sehingga dapat diperkirakan indeks
kasus (siapa yang pertama kali terkena) dan waktu paparan (kapan penularan
itu terjadi).
Informasi yang penting adalah landasan teori tentang cara penularan penyakit.
Identifikasi paparan akan membantu mengidentifikasi penularan serta membantu
mendiagnosa dengan lebih baik.

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 22


d. Diskripsi menurut orang, tempat, dan waktu
Dari hasil pengumpulan data penderita kemudian dikelompokan. Pengelompokan
menurut tempat mengambarkan dimana mereka terkena, yang perlu
mengelompokan tidak harus tempat tinggal, bisa sekolah, tempat kerja, desa
atau kota, gunung dan pantai dll.
Pengelompokan berdasarkan orang seperti umur, sex, jenis kelamin, jenis
pekerjaan, perilaku.
e. Merumuskan hipotesis
Setelah di ketahui adanya laporan kemudian diambil hipotesis dengan merujuk
teori yang telah ada.

F. Surveilans
Berdasarkan cara pengumpulan data, sistem surveilans dapat dibagi menjadi:
1. Surveilans aktif
Pada sistem surveilans ini dituntut keaktifan dari petugas surveilans dalam
mengumpulkan data, baik dari masyarakat maupun ke unit-unit pelayanan kesehatan.
Sistem surveilans ini memberikan data yang paling akurat serta sesuai dengan kondisi
waktu saat itu. Namun kekurangannya, sistem ini memerlukan biaya lebih besar
dibandingkan surveilans pasif.
2. Surveilans pasif
Dasar dari sistem surveilans ini adalah pelaporan. Dimana dalam suatu sistem
kesehatan ada, ada sistem pelaporan yang dibangun dari unit pelayanan kesehatan di
masyarakat sampai ke pusat, ke pemegang kebijakan. Pelaporan ini meliputi pelaporan
laporan rutin program serta laporan rutin manajerial yang meliputi logistik, administrasi
dan finansial program (laporan manajerial program).

G. Pengertian sistem surveilans


Sistem surveilans merupakan kegiatan terus menerus yang meliputi pengumpulan
data, análisis, interpretasi, dan diseminasi yang digunakan untuk perencanaan,
implementasi, dan evaluasi kebijakan. WHO mendefinisikan surveilans sebagai suatu
kegiatan sistematis berkesinambungan, mulai dari kegiatan mengumpulkan, menganalisis
dan menginterpretasikan data yang untuk selanjutnya dijadikan landasan yang esensial
dalam membuat rencana, implementasi dan evaluasi suatu kebijakan kesehatan
masyarakat.
Program pencegahan dan pemberantasan penyakit akan sangat efektif bila
didukung oleh sistem surveilans yang efektif, karena fungsi sistem surveilans yang utama
adalah menyediakan informasi epidemiologis yang peka terhadap perubahan yang terjadi

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 23


dalam pelaksanaan pemberantasan penyakit yang menjadi prioritas pembangunan.
Surveilans dapat digunakan untuk menentukan prioritas, kebijakan, perencanaan,
pelaksanaan dan penggerakan sumber daya program pembangunan kesehatan, serta
prediksi dan deteksi dini kejadian luar biasa. Surveilans juga dapat digunakan untuk
monitoring dan evaluasi, sehingga surveilans menjadi alat dalam mengambil keputusan
masalah kesehatan. Selain itu data yang dihasilkan sistem surveilans dapat digunakan
untuk menilai faktor risiko dan juga faktor kausal dari suatu penyakit, dengan demikian
melalui sistem surveilans timbulnya penyakit baru dapat teridentifikasi.

H. Komponen sistem surveilans


Kerangka konsep system surveilans-respon yang dikembangkan oleh WHO adalah
sebagai berikut;

Struktur Fungsi
Surveilans Pokok
Surveilans

Mutu Fungsi
Surveilans Pendukung
Surveilans

Gambar Kerangka Konsep Sistem Surveilans-respon WHO

Terdapat 4 sub kelompok besar yang berada dalam sistem surveilans, adapun kelompok
tersebut antara lain struktur surveilans, fungsi pendukung surveilans, fungsi pokok
surveilans dan mutu surveilans.
Materi yang dikembangkan dalam kegiatan penyusunan sistem surveilans di dinas
kesehatan Provinsi dan Kabupaten meliputi; pengertian sistem surveilans respons,
perjalanan alamiah penyakit, pembentukan unit pendukung sistem surveilans, sumber
daya untuk unit pendukung surveilans (tenaga fungsional), sistem penganggaran untuk
unit pendukung surveilans, dan peningkatan kemampuan petugas surveilans dalam
penyidikan kejadian luar biasa.

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 24


I. Sasaran Sasaran Penyelengaraan Sistem Surveilans Respon
Sasaran penyelengaraan sistem surveilans kesehatan meliputi masalah-
masalah yang berkaitan dengan perogram kesehatan yang ditetapkan berdasarkan
prioritas yang ditetapkan secara nasional, bilateral, regional, penyakit potensial wabah,
bencana dan komitmen lintas sektoral (KepMenKes, 2003).
1. Surveilans Penyakit Menular
a Surveilans Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)
b Surveilans AFP
c Surveilans Penyakit Potensial Wabah dan keracunan
d Surveilans Penyakit demam berdarah dan demam berdarah dengue.
e Surveilans Malaria
f Surveilans Penyakit-penyakit zoonosis, antraks, rabies, leptospirosis.
g Surveilans Penyakit Filariasis
h Surveilans Penyakit Tuberkulosis
i Surveilans penyakit diare, tipus perut, kecacingan dan dan penyakit perut lainya.
j Surveilans penyakit kusta
k Surveilans penyakit frambusia
l Surveilans penyakit HIV/AIDs
m Surveilans penyakit menular lainya
n Surveilans penyakit pneumonia, termasuk penyakit penemonia akut berat.

2. Surveilans Penyakit Tidak Menular


a Surveilans hipertensi, stroke dan jantung koroner
b Surveilans diabetes militus
c Surveilas neoplasma
d Surveilans penyakit paru obstruksi kronis
e Surveilans gangguan mental
f Surveilans kesehatan akibat kecelakaan

3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Prilaku


a Surveilans sarana air bersih
b Surveilans tempat-tempat umum
c Surveilans permukiman dan lingkungan perumahan
d Surveilans limbah industri, rumah sakit dan kegiatan lainya.
e Surveilans vektor penyakit

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 25


f Surveilans kesehatan dan keselamatan kerja
g Surveilans rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainya, termasuk infeksi
nosokomial.

4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan


a Surveilans gizi dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPD)
b Surveilans gizi mikro kurang zodium, anemia gizi besi, kekurangan vit A.
c Surveilans gizi lebih
d Surveilans kesehatan ibu dan anak termasuk reproduksi
e Surveilans kesehatan lanjut usia
f Surveilans penyalah gunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan
berbahaya.
g Surveilans pengunaan sediaan farmasi, obat, obat tradisional, bahan kosmetika,
serta peralatan.
h Surveilans kualitas makanan dan bahan tambahan makanan.

5. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra


a Surveilans kesehatan haji
b Surveians kesehatan pelabuhan dan lintas batas perbatasan
c Surveilans bencana dan masalah sosial
d Surveilans kesehatan matra laut dan udara
e Surveilans kejadian luar biasa penyakit dan keracunan

Soal latihan:
Apa yang terjadi jika kegiatan surveilans (pengumpulan data, análisis, interpretasi, dan
diseminasi) tidak dilakukan secara terus menerus ?

Diktat Ajar IDK 7_Genap 2019/2020_Prodi Ilmu Keperawatan_UMP________ 26


ILMU DASAR KEPERAWATAN VII
PROMOSI KESEHATAN
PENGERTIAN PROMOSI KESEHATAN

OTTAWWA CHARTER (1986)

HEALTH PROMOTIONS IS THE PROCESS OF ENABLING PEOPLE TO INCREASE CONTROL OVER, AND IMPROVE, THEIR HEALTH. TO REACH
A STATE OFCOMPLETE PHYSICAL, MENTAL, AND SOCIAL, WELL BEING, AN INDIVIDUAL OR GROUP MUST BE ABLE TO IDENTIFY AND
REALIZE ASPIRATIONS, TO SATISFY NEEDS, AND TO CHANGE OR COPE WITH THE ENVIRONMENT .

THE ADELEIDE CONFERENCE (1988)

HEALTH PROMOTION IS PROGRAMS ARE DESIGNED TO BRING ABOUT CHANGE “ WITHIN PEOPLE, ORGANIZATION,COMMUNITIES AND
THEIR ENVIRONMENT”.

VICTORIA HEALTH FOUNDATION, (1996)

PROMOSI KESEHATAN ADALAH SUATU PROGRAM YANG DIRANCANG UNTUK MERUBAH PERILAKU, ORGANISASI MASYARAKAT DAN
LINGKUNGANNYA

GREEN DAN OTTOSON (1998)

PROMOSI KESEHATAN ADALAH KOMBINASI BERBAGAI DUKUNGAN MENYANGKUT PENDIDIKAN, ORGANISASI, KEBIJAKAN DAN
PERATURAN PERUNDANGAN UNTUK PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN PERILAKU YANG MENGUNTUNGKAN KESEHATAN
VISI DAN MISI PROMOSI KESEHATAN
• VISI DAN MISI PROMOSI KESEHATAN
• VISI
• TUMBUHNYA GERAKAN HIDUP SEHAT DI MASYARAKAT YANG DIDASARI KESADARAN UNTUK BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, SERTA
KEPEDULIAN UNTUK BERPERAN AKTIF DALAM UPAYA KESEHATAN MENUJU TERWUJUDNYA KABUPATEN/PROPINSI/INDONESIA SEHAT
• DASAR VISI PROMOSI KESEHATAN (UU KES NO 23/1999)
• “ MENINGKATNYA KEMAMPUAN DAN KEMAUAN MASYARAKAT UNTUK MEMELIHARA DAN MENINGKATKAN KESEHATANNYA”
• MISI
• MEMAMPUKAN (ENABLE)
• MENDORONG TUMBUHNYA MASYARAKAT INDONESIA BARU YANG BERBUDAYA HIDUP BERSIH DAN SEHAT, SERTA BERPERAN AKTIF DALAM UPAYA
KESEHATAN DI MASYARAKAT
• MENJEMBATANI (MEDIATE)
• MENSOSIALISASIKAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN KEPADA MASYARAKAT LUAS
• MENGADVOKASI (ADVOCATE)
• MELAKUKAN ADVOKASI KEBIJAKAN PUBLIC YANG BERDAMPAK POSITIF PADA KESEHATAN

• PEMBINAAN PERILAKU
• PENGEMBANGAN PERILAKU DARI YANG BAIK MENJADI LEBIH BAIK
• PERUBAHAN PERILAKU
• DENGAN DEMIKIAN PROMOSI KESEHATAN MENCAKUP 3 PENGERTIAN:
• ADAPUN PERILAKU YANG KONDUSIF MENCAKUP:
• PENINGKATAN
• MENAWARKAN/MEMASARKAN
• PENDIDIKAN

• TUJUAN PROMOSI KESEHATAN


• TERSOSIALISASINYA PROGRAM-PROGRAM KESEHATAN
• TERWUJUDNYA MASYARAKAT YANG BERBUDAYA HIDUP BERSIH DAN SEHAT
• TERWUJUDNYA GERAKAN HIDUP SEHAT DI MASYARAKAT
• TERWUJUDNYA KABUPATEN/KOTA SEHAT, PROPINSI SEHAT DAN INDONESIA SEHAT 2010
SASARAN PROMOSI KESEHATAN

• SASARAN PRIMER
• SASARAN PRIMER DALAM PROMOSI KESEHATAN ADALAH MASYARAKAT PADA UMUMNYA. SESUAI
DENGAN MASALAH KESEHATAN, MAKA SASARAN INI DAPAT DIKELOMPOKAN MENJADI : KEPALA
KELUARGA UNTUK MASALAH KESEHATAN UMUM, IBU HAMIL DAN MENYUSUI UNTUK MASALAH KIA
(KESEHATAN IBU DAN ANAK), ANAK SEKOLAH UNTUK KESEHATAN REMAJA DAN SEBAGAINYA.
UPAYA PROMOSI YANG DILAKUKAN TERHADAP SASARAN PRIMER INI SEJALAN DENGAN STRATEGI
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
• SASARAN SEKUNDER (SECONDARY TARGET)
• SASARAN SEKUNDER DALAM PROMOSI KESEHATAN ANTARA LAIN PARA TOKOH MASYARAKAT,
TOKOH AGAMA, TOKOH ADAT DAN SEBAGAINYA. DI SEBUT SASARAN SEKUNDER
No Sasaran Kegiatan
1 Individu/Keluarga 1. Memperoleh informasi kesehatan melalui berbagai saluran baik langsung maupun tidak langsung
2. Mempunyai pengetahuan, kemauan dan kemampuan, untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya
3. Mempraktekan perilaku hidup bersih dan sehat menuju keluarga sehat
4. Berperan aktif dalam kegiatan kesehatan

2 Ormas/Organisasi profesi/LSM 1. Menggalang potensi untuk mengembangkan gerakan kesehatan


2. Bergotong royong untuk mewujudkan lingkungan sehat

3 Petugas/Program/Institusi Kesehatan 1. Melakukan promosi kesehatan dalam setiap program kesehatan yang diselenggarakan
2. Mendukung timbulnya gerakan hidup sehat di masyarakat
3. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat

4 Lembaga pemerintah/Lintas sector/Polisi/Swasta 1. Peduli dan mendukung upaya kesehatan, minimal dalam mengembangkan lingkungan dan perilaku sehat
2. Membuat kebijakan yang memperhatikan dampak di bidang kesehatan

5 Tatanan lain 1. Adanya kader kesehatan untuk masing-masing tatanan


2. Mewujudkan tatanan yang sehat menuju terwujudnya kawasan sehat
STRATEGI PROMOSI KESEHATAN
• STRATEGI PROMOSI KESEHATAN
• ADALAH CARA ATAU LANGKAH YANG DIPERLUKAN UNTUK MENCAPAI, MEMPERLANCAR ATAU MEMPERCEPAT
PENCAPAIAN TUJUAN PROMOSI KESEHATAN.
• STRATEGI DALAM PROMOSI KESEHATAN ANTARA LAIN :
• ADVOKASI
• MERUPAKAN STATEGI YANG DITUJUKAN KEPADA PARA DECISION MAKING (PENGAMBIL KEBIJAKAN), SEKUTU ATAU
TEMAN, KELOMPOK YANG MENOLAK ATAU LAWAN UNTUK MENDORONG SUATU PERUBAHAN DALAM KEBIJAKAN,
PROGRAM DAN PERATURAN DAN SECARA AKTIF MENDUKUNG SUATU MASALAH/ISSUE SERTA MENCOBA
MENDAPATKAN DUKUNGAN DARI PIHAK LAIN.
• BINA SUASANA
• STATEGI DENGAN MENCIPTAKAN SUASANA KONDUSIF UNTUK MENUNJANG PEMBANGUNAN KESEHATAN, SEHINGGA
MASYARAKAT TERDORONG MELAKUKAN PERILAKU HIDUP SEHAT
• GERAKAN MASYARAKAT
• MEMANDIRIKAN MASYARAKAT SECARA PRO AKTIF, MEMPRAKTEKAN HIDUP BERSIH DAN SEHAT SECARA MANDIRI
RUANG LINGKUP PENDIDIKAN KESEHATAN / PROMOSI
KESEATAN
DAPAT DILIHAT DARI BERBAGAI DIMENSI, ANTARA LAIN : DIMENSI SASARAN
PENDIDIKAN KESEHATAN, TEMPAT PELAKSANAAN DAN TINGKAT
PELAYANAN KESEHATAN.
1. SASARAN PENDIDIKAN KESEHATAN
A. PENDIDIKAN KESEHATAN INDIVIDUAL
B. PENDIDIKAN KESEHATAN KELOMPOK
C. PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT
2. TEMPAT PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN
A. PENDIDIKAN KESEHATAN DI SEKOLAH
B. PENDIDIKAN KESEHATAN DI PELAYANAN KESEHATAN
C. PENDIDIKAN KESEHATAN DI TEMPAT-TEMPAT KERJA
3. TINGKAT PELAYANAN PENDIDIKAN KESEHATAN
BERDASARKAN FIVE LEVELS OF PREVENTION (LEAVEL & CLARK), YAITU:
A. PROMOSI KESEHATAN (HEALTH PROMOTION), MISAL: PENINGKATAN GIZI
B.PERLINDUNGAN KHUSUS (SPECIFIC PROTECTION), MISAL : IMMUNISASI,
PERLINDUNGAN KECELAKAAN TEMPAT KERJA
C.DIAGNOSA DINI DAN PENGOBATAN SEGERA (EARLY DIAGNOSIS AND
PROMPT TREATMENT), MISAL : PENCARIAN KASUS, SURVEILLANCE,
PENCEGAHAN PENYEBARAN PENYAKIT MENULAR
D.PEMBATASAN KECACATAN (DISABILITY LIMITATION) MISAL : PERAWATAN
UTK MENGHENTIKAN PENYAKIT, PENCEGAHAN KOMPLIKASI LBH LANJUT
E.PEMULIHAN (REHABILITATION), MISAL : LATIHAN PENDERITA PATAH
TULANG, PENDIDIKAN MASYARAKAT UTK MENGGUNAKAN TENAGA CACAT
T IPE-TIPE BELAJAR
DALAM BIDANG KESEHATAN MASYARAKAT, TERADAPAT TIGA
MACAM TIPE BELAJAR YANG BIASA DIHADAPI PETUGAS
KESEHATAN, YAITU : PROGRAM KEBUTUHAN (REQUIRE
PROGRAM), PROGRAM REKOMENDASI (RECOMMENDED
PROGRAM), PROGRAM KELOLA DIRI(SELF DIRECTED PROGRAM)

1. PROGRAM KEBUTUHAN (REQUIRE)


SITUASI YG MEMBUTUHKAN (REQUIRE) SUATU TINDAKAN / SIKAP
TETENTU UTK DIPELAJARI, BIASANYA BERLANGSUNG CEPAT KRN
INDIVIDU TDK DIBERI ALTERNATIF LAIN. DLM HAL INI TIM
KESEHATAN HARUS MERUMUSKAN PENDIDIKAN DAN KRITERIA
KEBERHASILAN PROGRAM

2. PROGRAM REKOMENDASI (RECOMMENDED)


DLM SITUASI INI PERILAKU TERTENTU DISARANKAN UTK DIPELAJARI,
ANGGOTA MASYARAKAT YG DIJADIKAN SASARAN PENDIDIKAN BOLEH
MENERIMA PERILAKU YG DISARANKAN ITU

3. PROGRAM KELOLA DIRI (SELF DIRECTED)


TUJUAN YANG AKAN DICAPAI HARUS DITENTUKAN SENDIRI OLEH
SASARAN PENDIDIKAN, PETUGAS KESEHATAN HANYA MEMBERI BANTUAN
PETUNJUK, PENGARAHAN DAN BIMBINGAN KEPADA MASYARAKAT.
PRINSIP BELAJAR-MENGAJAR
DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR HENDAKNYA PENDIDIK
MEMPERHATIKAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENDUKUNG BELAJAR,
ANTARA LAIN:
1. MOTIVASI
KEINGINAN UTK BELAJAR YG DPT MEMPENGARUHI BAGAIMANA
SEORANG BELAJAR, PADA UMUMNYA MENINGKAT KETIKA
SESEORANG MENGENAL KEBUTUHANNYA AKAN BELAJAR
2. KESIAPAN
KESIAPAN MEREFLEKSIKAN KEINGINAN & KEMAMPUAN SESEORANG
UTK BELAJAR. PERAN PETUGAS KESEHATAN ADALAH MENDORONG
PERKEMBANGAN KESIAPAN TERSEBUT.
3. PELIBATAN AKTIF (ACTIVE INVOLVEMENT)
JIKA PESERTA DIDIK AKTIF DLM PERENCANAAN DAN DISKUSI,
PEMBELAJARAN AKAN LEBIH CEPAT & LEBIH BAIK
4. UMPAN BALIK (FEED BACK)
UMPAN BALIK POSITIF AKAN MEMBERIKAN DUKUNGAN / SEMANGAT
PESERTA DIDIK UTK BERBUAT LEBIH BAIK
5. DARI SEDERHANA KE YANG KOMPLEKS
BELAJAR DILENGKAPI DGN MATERI YG SECARA LOGIKA DIOLAH
DARI YG SEDERHANA AKAN MENGURANGI KEBINGUNGAN
6. PENGULANGAN (REPETITION)
PENGULANGAN KONSEP KUNCI DAN FAKTA DPT LEBIH
MEMFASILITASI PEMAHAMAN MATERI YANG BARU DI PELAJARI
7. WAKTU (TIMING)
SESEORANG AKAN MEMPERTAHANKAN INFO & KETRAMPILAN
PSIKOMOTOR SCR BAIK JIKA WAKTU PEMBELAJARAN TDK TERLALU
LAMA, KRN INTERVAL WAKTU YG LAMA ORANG AKAN SERING LUPA
PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN lanjutan…

3. MEMILIH STRATEGI BELAJAR


MEMILIH METODE MENGAJAR HENDAKNYA COCOK
UTK INDIVIDU, COCOK DGN MATERI YANG
DIPELAJARI, DAN COCOK DGN PENGAJAR DAN
BERBAGAI FAKTOR LAIN YANG PERLU
DIPERTIMBANGKAN
4. MEMILIH ALAT BANTU MENGAJAR
ALAT BANTU MENGAJAR SANGAT DITENTUKAN OLEH
TUJUAN BELAJAR YANG HENDAK DICAPAI. OLEH
KARENA ITU PILIHLAH ALAT BANTU SECARA HATI-
HATI, LIHAT KEMBALI KEGUNAAN DAN KECOCOKAN
PENGGUNAAN ALAT BANTU
5. MEMBUAT RENCANA EVALUASI
RENCANA EVALUASI HARUS DISEBUTKAN DALAM
PERENCANAAN KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN,
MISALNYA WAKTU DAN SASARAN YANG AKAN
DIEVALUASI DAN INDIKATOR APA YANG AKAN DIPAKAI
DALAM EVALUASI ITU
M
ETODE DAN M EDIA PENDIDIKAN KESEHATAN
➢ METODE
1. CERAMAH
2. SEMINAR
3. SIMPOSIUM
4. DISKUSI KELOMPOK
5. CURAH PENDAPAT
6. BERMAIN PERAN

➢ MEDIA
1. BOOKLET, SUATU MEDIA UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN-PESAN KESEHATAN
DALAM BENTUK BUKU BAIK BERUPA TULISAN MAUPUN GAMBAR
2. LEAFLET, BENTUK PENYAMPAIAN INFO ATAU PESAN KESEHATAN MELALUI
LEMBARAN YANG DILIPAT. ISI INFO DPT DLM BENTUK KALIMAT MAUPUN
GAMBAR
3. FLYER, SELEBARAN BERBENTUK LEAFLET TETAPI TIDAK BERLIPAT
4. FLIF CHART (LEMBAR BALIK), MEDIA PENYAMPAIAN PESAN KESEHATAN
DLM BENTUK LEMBAR BALIK, BIASANYA DLM BENTUK BUKU DIMANA TIAP
HALAMAN BERISI GAMBAR PERAGAAN DAN LEMBARAN BALIKNYA BERISI
KALIMAT SBG PESAN/INFO YG BERKAITAN DGN GAMBAR TERSEBUT
5. RUBRIK, TULISAN SURAT KABAR ATAU MAJALAH YG MEMBAHAS SUATU
MASALAH KESEHATAN, ATAU HAL YANG BERKAITAN DGN KESEHATAN
6. POSTER, IALAH BENTUK MEDIA CETAK YANG BERISI PESAN ATAU INFO
KESEHATAN YG BIASA DITEMPEL DITEMBOK/ TEMPAT UMUM/ KENDARAAN
UMUM
7. FOTO, TELEVISI, RADIO, VIDEO, SLIDE, FILM STRIP
Tabel Daftar Kata Kerja Terpilih untuk Tujuan Belajar

DOMAIN
KOGNITIF AFEKTIP PSIKOMOTOR
Membandingkan Merubah Beradaptasi
Membedakan Menjawab Memulai
Mendefinisikan Menentukan
Merangkai
Menguraikan Memilih
Menghitung
Menggambarkan Melengkapi
Menjelaskan Menyepakati Mengalikan
Mengidentifikasi Menuruti/mengikuti Merubah
Memberi tanda Mempertahankan Membangun
Mengurutkan Mendiskusikan Menciptakan
Menjodohkan Membantu Mendemonstrasikan
Menamakan Bekerjasama
Memanipulasi
Menyiapkan Berpartisipasi
Mengukur
Merencanakan Merespon
Meletakkan kembali Memperbaiki Menggerakkan
Menyatakan kembali Memverifikasi Mengorganisir
Memecahkan Bereaksi
Merangkum Menunjukkan
Menggarisbawahi Mengerjakan
Menulis
Strategi Promosi
Kesehatan

Ada 3 (tiga) strategi dasar promosi kesehatan, yaitu Gerakan


Pemberdayaan sebagai ujung tombak, yang didukung oleh Bina
Suasana dan Advokasi.

Kesemuanya diarahkan agar masyarakat mampu mempraktikkan


perilaku mencegah dan mengatasi masalah kesehatannya
1. Pemberdayaan Masyarakat
Proses pemberian informasi secara bertahap untuk mengawal
proses perubahan pada diri sasaran, dari tidak tahu menjadi
tahu, dari tahu menjadi mau, dan dari mau menjadi mampu
mempraktikkan PHBS.
Setiap fase perubahan memerlukan informasi yang berbeda. Tetapi
yang paling menentukan adalah fase pertama, di mana kita harus
dapat menyadarkan sasaran bahwa suatu masalah kesehatan
adalah masalah bagi yang bersangkutan.
Sebelum ini berhasil dilakukan, maka informasi selanjutnya tidak
akan ada artinya . Kalau ini sudah berhasil dilakukan, maka
periode kedua akan dijumpai pada fase perubahan dari mau ke
mampu.

Banyak orang yang sudah mau berperilaku tertentu (misalnya


memeriksakan kehamilannya ke Puskesmas), tetapi tidak mampu
melakukan karena tidak adanya dukungan sarana (misalnya tidak
punya uang untuk transport)
Sehingga tdk memeriksakan kesehatanya, maka kehamilanya tdk
trkontrol dg baik, atau nutrisi ibu hamil yg kurang.
Advokasi untuk mengupayakan subsidi dari pemerintah dan atau
bantuan dana dari penyandang dana.
Bagi mereka perlu dibuat dan diterapkan peraturan perundang-
undangan. Untuk itu, Advokasi kepada pengambil keputusan (bupati
/walikota, DPRD, dll) diperlukan.
Bina Suasana (Social Support)
Strategi dasar ke-2 adalah Bina Suasana. Yaitu upaya
untukmenciptakan lingkungan sosial yang mendorong
perubahan perilaku sasaran. Menurut teori, perubahan perilaku
seseorang akan lebih cepat terjadi, jika lingkungan sosialnya
berperan sebagai pendorong, atau penekan (pressure).
Advokasi
Strategi dasar ke-3 adalah Advokasi. Sebagaimana disebutkan di awal,
Advokasi diperlukan untuk mendapatkan dukungan baik berupa
peraturan perundang-undangan, dana maupun sumber
daya lain. Advokasi tidak boleh dilakukan alakadarnya, karena
Advokasi sebenarnya merupakan upaya/proses strategis dan
terencana, menggunakan informasi yang akurat & teknik yang tepat.
Kemitraan
Kemitraan adalah suatu kerjasama yang formal
antara individu-individu,kelompok-kelompok atau
organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas
atau tujuan tertentu. Dalam kerjasama ada
kesepakatan tentang komitmen dan harapan
masing-masing, tentang peninjauan kembali
terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah
dibuat, dan berbagi baik dalam risiko maupun
keuntungan. Kemitraan inilah yang mendukung dan
menyemangati penerapan 3 (tiga) strategi dasar.
Penerapan 3 (tiga) strategi dasar tersebut perlu metode dan teknik masing-
masing, yaitu dengan pendekatan-pendekatan individual, kelompok, maupun
masyarakat. Pendekatan individu biasanya berupa pemberian informasi dan
edukasi, konseling, mencari faktor risiko (risk assessment) terutama untuk
pencegahan penyakit. Pendekatan individu lebih cocok dilaksanakan di rumah
sakit, praktik dokter, dan bidan, serta posyandu dan puskesmas.
Pendekatan kelompok, biasanya lebih efisien dan efektif serta
lebih luas jangkauannya. Metode bermacam-macam seperti
ceramah, seminar, lokakarya, konferensi. Pendekatan massa atau
populasi, untuk menjangkau masyarakat luas.

Metodenya: Pemakaian media massa,pengembangan masyarakat,


kebijakan public dan legislasi, pengembangan organisasi.
Referensi
1. School of Public Health and Tropical Medicine James Cook
University 2002 : Introduction to Health Education and
Health Promotion.
2. WHO, 1986, : The Ottawa Charter for Health Promotion.
3. Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI, 1998: Dari Alma Ata ke
Deklarasi Jakarta.
4. Green and Kreuter, 1992:
5. Bangkok Charter, Agustus 2005.
6. Vancouver Charter 2007.
IDK VII - KEBIJAKAN KESEHATAN

PROG. STUDI ILMU KEPERAWATAN S.1 FIKES UMP


Konsep Dasar Kebijakan Kesehatan
• Kebijakan?

• kebijaksanaan?

• Kebijakan ≠ Kebijaksanaan
Kebijakan
• “Bijak” selalu menggunakan akal budi, pandai,
mahir, cerdik, cakap
• Kebijakan kemampuan seseorang seseorang
menggunakan akal budi, kepandaian, atau
kecerdikan, kecakapanya utk menghadapi suatu
kesulitan/dilema
• Kebijakan policy aturan
• Kebijaksanaan (wisdom)  melanggar segala sesuatu
yg pernah ditetapkan karena alasan tertentu
Kebijakan
• Kebijakan adl pedoman utk bertindak. Suatu
deklarasi mengenai suatu dasar pedoman bertindak,
suatu arah tindakan tertentu, suatu program
mengenai aktivitas-aktivitas tertentu atau suatu
rencana (PBB, 1975)
Karakteristik kebijakan
• Spesifik dlm bidang kegiatan tertentu
• Usulan-usulan atau proposal khusus
• Memiliki tujuanutk menyelesaikan masalah
• Memiliki nilai2 dan cara2 tertentu utk mencapai
tujuan
• Merupakan keputusan pemerintah atau keputusan
formal shg bersifat mengikat dan harus ditaati olh
para pelakunya
• Program kegiatan yg berkesinambungan
Kebijakan publik (public policy)
• Merupakan aturan yg mengatur kehidupan bersama
yg harus ditaati & berlaku serta mengikat seluruh
warganya.
• Setiap pelanggaran akan diberi sanksi sesuai bobot
pelanggaran yg dilakukan dan sanksi dijatuhkan di
depan masyarakat olh lembaga yg bertugas.
Faktor utama pendukung keefektifan kebijakan
publik

1. Adanya perangkat hukum peraturan perundang-


undangan diketahui olh publik apa yg diputuskan
2. Kebijakan harus jelas struktur pelaksanaan &
pembiayaanya
3. Adanya kontrol publik mekanisme dmn publik
mengetahui pelaksanaanya menyimpang atau tidak
Kebijakan kesehatan
• Kesehatan keadaan seimbang antara fisik, mental,
sosial, spiritual yg tdk ada tanda2 penyakit atau
kelainan shg hidup produktif scra sosial ekonomi

• Kebijakan kesehatan rangkaian konsep, asas,


keputusan yg diambil olh pelaku politik yg mjd
pedoman & dasar pelaksanaan keg. utk mencapai
keadaan yg seimbang dan dinamis antara fisik,
mental, sosial, spiritual dg indikasi tdk ada
keluhan/tanda2 penyakit atau kelainan agar masy
dpt hidup produktif baik sosial/ekonomi
Tujuan dari kebijakan kesehatan
• Preventif/Pola pencegahan
• Promotif/Pelayanan yg terfokus pd pemeliharaan
kesehatan
• Kuratif/Pengobatan penyakit

• Rehabilitasi/Pemulihan kesehatan
• Perlindungan thd kaum rentan thd bbg masalah
kesehatan & bertujuan jangka panjang
Pelaksanaan Kebijakan Kesehatan
Klasifikasi Kebijakan Kesehatan

1. Substantive & 2. Distributive,


procedural redistributive &
policies regulatory policies

4. Public goods &


3. Material
private goods
policies
policies
1. Substantive & procedural policies

• Substantive kebijakan kesehatan yg dilihat


dari substansi masalah yg dihadapi

• Procedural policies pihak2 yg terlibat dlm


perumusannya (policy stake
holder)Pemerintah Pusat (Presiden+DPR),
Kementerian Kesehatan
2. Distributive, redistributive & regulatory policies
• Distributive policy pemberian pelayanan atau
keuntungan kpd individu, kelompok, atau swasta
APBD utk membiayai pembangunan PUSKESMAS

• Redistributive policymenarik sesuatu dari


masyarakat utk selanjutnya didistribusikan kembali
iuran asuransi kes, pajak

• Regulatory policybersifat mengatur, mengandung


paksaan & harus diterapkanEx: pembatasan jml
anak pd program KB
4. Public goods & private goods policies
• Public goods policy penyediaan barang/jasa utk
kepentingan org byk.
Cth:
– Prog. Imunisasi
– Penyuluhan kes
– penyediaan obat dlm prog JAMKESMAS

• Private goods policypenyediaan barang/jasa utk


kepentingan perorangan dg imbalan tertentu
Cth:
– Bangsal VIP
– Operasi perorangan
– Bedah plastik
KEBIJAKAN KESEHATAN BERDASARKAN TINGKAT
KEBIJAKANNYA

Kebijakan
Nasional

Kebijakan
Umum

Kebijakan
Pelaksana
an
KEBIJAKAN KESEHATAN BERDASARKAN TINGKAT
KEBIJAKANNYA
1. Kebijakan Nasional
a. Bersifat fundamental & strategis
b. Bertujuan utk mencapai tujuan nasional
c. merupakan wewenang Presiden, MPR, DPR, DPD
d. Kebijakan dlm bentuk UUD, TAP MPR, UU, PERPU
 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
KEBIJAKAN KESEHATAN BERDASARKAN TINGKAT
KEBIJAKANNYA
2. Kebijakan Umum
a. Bersifat menyeluruh & berskala nasional
b. Merupakan pelaksanaan UUD, TAP MPR, UU
c. Merupakan wewenang Presiden
d. Kebijakan dlm bentuk PP, Kepres / Perpres,
Inpres
PP No 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi
Pangan
Perpres No 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional
KEBIJAKAN KESEHATAN BERDASARKAN TINGKAT
KEBIJAKANNYA
3. Kebijakan pelaksanaan
a. Merupakan penjabaran dari kebijakan umum
b. Sbg strategi pelaksanaan di bidang tertentu
c. Merupakan wewenang: Menteri, pejabat
setingkat menteri dan pimpinan Lembaga
Pemerintah Non Departemen
TAHAPAN KEBIJAKAN KESEHATAN

Perumusan
Evaluasi
masalah

Perumusan
Implementasi
kebijakan

Penentuan
kebijakan
James Anderson
Tahapan kebijakan kesehatan melibatkan bbg
unsur:
Eksekut Legisl
if atif

Para Media
ahli massa

Akade Prakti
misi si kes.
MANFAAT STUDI KEBIJAKAN KESEHATAN

Pengembangan Meningkatkan
ilmu profesionalisme Tujuan politik
pengetahuan praktisi KS
Kebijakan Kesehatan Nasional (SKN) di Indonesia; PP No. 72
Tahun 2012 ttg Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
Daftar Pustaka
• Rahmat, Alyakin Dachi.2017.Proses dan analisis
kebijakan kesehatan; Suatu pendekatan
konseptual.Yogyakarta:Deepublish
• www.depkes.go.id
SIGN

Pengantar
Kesehatan Lingkungan

Dr. Muhammad Ikhtiar, SKM, M.Kes


Pengantar Kesehatan Lingkungan
Penulis
Muhammad Ikhtiar, SKM, M.Kes
ISBN: 978-602-61042-2-9

Desain Sampul dan Tata Letak


Abd. Kahar Muzakkir

Penerbit
CV. Social Politic Genius (SIGn)
Redaksi
: Jln. Muh. Jufri No. 1, Makassar 90215
: 082291222637
: sign.institute@gmail.com
: CV. SIGn

Cetakan Pertama, Februari 2017


viii + 52 hal.; 14,5 cm x 20.5 cm

Hak cipta dilindungi undang-undang.


Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk
dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR

‫اﻟرﺣﻣن اﻟرﺣ ْﯾ ِم‬ ‫ﺑﺳ ِم‬


‫ِِﷲ‬
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan penyusunan Buku Pengantar
Kesehatan Lingkungan.

Kami sangat berharap buku ini dapat berguna dalam rangka


menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai ruang
lingkup kesehatan lingkungan, ADKL, teori simpul, dan elemen
jalur pemajanan. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi
siapapun yang membacanya. Sekiranya buku yang telah disusun
ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang lain.

Makassar, 12 Januari 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. v


DAFTAR ISI ........................................................................................... vii

BAB I. DEFINISI............................................................................. 1
A. Higiene Sanitasi Tempat-Tempat Umum ........................ 2
B. Sanitasi Terminal Pelabuhan................................................. 5
C. Peranan dan Manfaat Sanitasi bagi Terminal
Pelabuhan ........................................................................................ 6
BAB II. PARADIGMA KESEHATAN LINGKUNGAN .................... 21
A. Situasi di Indonesia ..................................................................21
B. Paradigma Kesehatan Lingkungan ...................................21
C. Identifikasi dan Evaluasi Jalur Pemajanan ...................31
D. Konsep Dasar Penilaian, Pengukuran
Pemajanan dan Pengukuran Dampak
Kesehatan Lingkungan, maupun Pelaksanaan
Sistem Pemantauan ..................................................................37
BAB III. PENERAPAN ADKL DALAM AMDAL .............................. 39
A. Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
(ADKL) ............................................................................................39
B. Penerapan ADKL dalam AMDAL........................................41
C. Analisis Dampak Lingkungan (Andal) ............................41
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 45
RIWAYAT HIDUP ................................................................................ 47

viii
BAB I. DEFINISI

Ilmu kesehatan lingkungan adalah ilmu multidisipliner yang


mempelajari dinamika hubungan interaktif antara sekelompok
manusia atau masyarakat dengan berbagai perubahan komponen
lingkungan hidup manusia yang diduga dapat menimbulkan
gangguan kesehatan pada masyarakat dan mempelajari upaya
untuk penanggulangan dan pencegahannya (Chandra, 2007).

Salah satu aplikasi pemahaman ekosistem manusia dalam


proses kejadian penyakit atau patogenesis penyakit, patogenesis
penyakit dipelajari oleh bidang kesehatan lingkungan. Ilmu
kesehatan lingkungan mempelajari hubungan interaktif antara
komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit
dengan berbagai variabel kependudukan seperti perilaku,
pendidikan dan umur. Dalam hubungan interaksi tersebut, faktor
komponen lingkungan seringkali mengandung atau memiliki
potensial timbulnya penyakit. Hubungan interaktif manusia serta
perilakunya dengan komponen lingkungan yang memiliki potensi
bahaya penyakit dikenal sebagai proses kejadian penyakit atau
patogenesis penyakit. Dengan mempelajari patogenesis penyakit,
kita dapat menentukan pada simpul mana kita bisa melakukan
pencegahan.
Pengantar Kesehatan Lingkungan

A. Higiene Sanitasi Tempat-tempat Umum

Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yang


menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau
manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada.
Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang
menitikberatkan kegiatan kepada upaya kesehatan lingkungan
hidup manusia (Widyati R, 2002). Tempat-tempat umum adalah
tempat untuk melakukan kegiatan bagi umum yang dilakukan
oleh badan-badan pemerintah, swasta atau perorangan yang
langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat
dan kegiatan yang tetap serta memiliki fasilitas (Depkes RI, 2007).

Sanitasi tempat-tempat umum merupakan masalah


kesehatan masyarakat yang paling cukup mendesak karena
tempat umum merupakan tempat bertemunya segala macam
masyarakat dengan segala penyakit yang dimiliki oleh masyarakat
tersebut. Oleh sebab itu maka tempat umum merupakan tempat
menyebarnya segala penyakit terutama penyakit-penyakit yang
medianya makanan, minuman, udara dan air. Dengan demikian
maka sanitasi tempat-tempat umum harus memenuhi syarat-
syarat kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan
mempertinggi derajat kesehatan masyarakat (Mukono, 2006).

Tempat-tempat umum mempunyai potensi sebagai tempat


terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan, ataupun
gangguan kesehatan lainnya. Pengawasan atau pemeriksaan

2
Definisi

sanitasi tempat-tempat umum dilakukan untuk mewujudkan


lingkungan tempat-tempat umum yang bersih guna melindungi
kesehatan masyarakat dari berbagai kemungkinan penularan
penyakit dan gangguan kesehatan lainnya.

Tujuan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, antara


lain:

1. Untuk memantau sanitasi tempat-tempat umum secara


berkala.
2. Untuk membina dan meningkatkan peran aktif masyarakat
dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat di
tempat-tempat umum (Chandra, 2007).

Sedangkan manfaat dan pentingnya sanitasi adalah sebagai


berikut:

1. Mencegah penyakit menular.


2. Mencegah kecelakaan
3. Mencegah timbulnya bau yang tidak sedap
4. Menghindari pencemaran
5. Mengurangi jumlah (persentase) sakit
6. Lingkungan menjadi bersih, sehat dan nyaman (Widyati R,
2002).

Untuk membedakan dan menerapkan apakah sebuah tempat


termasuk tempat umum atau bukan, diterapkan batas-batas
ataupun syarat-syarat sebagai berikut:

3
Pengantar Kesehatan Lingkungan

1. Ada tempat dan kegiatan permanen


2. Dilakukan kegiatan-kegiatan atau aktifitas yang dapat
menimbulkan terjadi penyakit menular, penyakit akibat kerja
dan kecelakaan
3. Tempat tersebut diperuntukkan bagi masyarakat umum.
4. Terdapat fasilitas-fasilitas atau perlengkapan yang dapat
menimbulkan penyakit atau kecelakaan.
5. Tempat tersebut diperuntukkan bagi masyarakat umum
6. Terdapat fasilitas atau perlengkapan yang dapat
menimbulkan penyakit atau kecelakaan.

Sesuai dengan ruang lingkupnya, maka tempat umum


dikelompokan Atas 4 bagian, yaitu:

1. Yang berhubungan dengan sarana pariwisata dan jenis


jenisnya adalah hotel, penginapan, kolam renang, pemandian
umum, restoran, rumah makan, bioskop, gedung pertemuan
dan taman hiburan
2. Yang berhubungan dengan sarana perhubungan. Jenis-
jenisnya adalah terminal angkutan darat, angkutan laut,
pelabuhan udara dan stasiun kereta api
3. Yang berhubungan dengan sanitasi sosial. Jenis-jenisnya
adalah tempat-tempat beribadah dan pasar
4. Yang berhubungan dengan komersial lainnya. Jenis-jenisnya
adalah tempat salon kecantikan dan panti pijat.

Dari ruang lingkup yang telah diuraikan di atas maka

4
Definisi

pelabuhan termasuk tempat umum yang berhubungan dengan


sarana perhubungan yang harus mendapat pengawasan sesuai
peraturan yang ada.

Pelabuhan adalah tempat dan termasuk fasilitas yang


didatangi oleh masyarakat untuk menunggu, naik, atau turun dari
kapal, mengangkut barang-barang keluar dan masuk pelabuhan
(Chandra, 2007).

B. Sanitasi Terminal Pelabuhan

Sebelum menguraikan mengenai sanitasi pelabuhan, maka


perlu diuraikan pengertian sanitasi dan sanitasi juga tidak lepas
dari Higiene. Istilah sanitasi dan Higiene mempunyai tujuan yang
sama yaitu mengusahakan hidup sehat sehingga terhindar dari
penyakit. Tetapi dalam penerapannya memiliki arti yang berbeda.
Usaha sanitasi lebih menitik beratkan kepada faktor lingkungan
hidup manusia, sedangkan higiene lebih menitik beratkan kepada
usaha-usaha individu.

Istilah sanitasi dan hygiene ini terdapat juga didalamnya


istilah kesehatan lingkungan. Berdasarkan Undang-Undang RI No.
23 tahun 1992 pasal 22 ayat 2 yaitu:

“Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum,


lingkungan pemukiman, pemukiman kerja, angkutan umum, dan
lingkungan lainnya.”

5
Pengantar Kesehatan Lingkungan

Dalam pelaksanaannya kesehatan lingkungan tersebut,


pelabuhan termasuk didalamnya yang dimana kesehatan atau
sanitasi lingkungannya harus tetap dilaksanakan dengan baik dan
benar, terus menerus dan berkesinambungan. Sanitasi pelabuhan
adalah suatu usaha untuk membuat wilayah pelabuhan tidak
menjadi sumber penularan atau habitat yang subur bagi
perkembangbiakan kuman/vektor dan penyakit (Depkes RI,
2007).

C. Peranan dan Manfaat Sanitasi bagi Terminal Pelabuhan


1. Peranan Sanitasi bagi Terminal Pelabuhan
a. Peranan fisik

Menjamin kebersihan umum lingkungan pelabuhan.


Yang dimaksud kebersihan tidak terbatas hanya kepada
kebersihan sanitasinya saja tetapi kebersihan fisik
pelabuhan disini mengandung maksud yang lebih luas,
yaitu kebersihan air atau penyediaan air bersih, sanitasi
makanan dan minuman, pembuangan air limbah, WC,
bebas dari serangga dan tikus, tersedia tempat
pembuangan sampah.

b. Peranan Psikologi

Dapat melayani masyarakat yang menggunakan


layanan pelabuhan dan mendapatkan kepuasan, begitu
juga dengan para karyawannya dalam hal keamanan,

6
Definisi

perlindungan dan kebebasan. Terminal/stasiun


merupakan tempat berkumpulnya manusia dari berbagai
tempat untuk dating dan pergi. Dengan demikian upaya
kegiatan serta bidang pengawasannya akan menyangkut
berbagai aspek, yaitu:

a) Aspek Sosial

Pendekatan pada aspek sosial adalah merupakan


pendekatan edukatif yang ditujukan kepada pengelola
dan karyawan sangat diperlukan, sebab berhasil
tidaknya program kegiatan higiene dan sanitasi
terminal pelabuhan tergantung atas kesadaran
pengelola dan karyawan terminal. Diharapkan
mereka mengerti dan secara sadar mengetahui bahwa
terminal pelabuhan yang tidak memenuhi syarat
higiene dan sanitasi akan dapat menimbulkan
penyakit bagi masyarakat luas. Partisipasi aktif
terutama diharapkan dari pihak pengelola sebagai
unsure penentu dan pengawas langsung. Usaha
peningkatan pengertian dan kesadaran tentang
pentingnya higiene dan sanitasi di terminal pelabuhan
akan meningkatkan pula kualitas kesehatan
karyawan, pengunjung dan anggota masyarakat
lainnya (Mukono, 2006).

7
Pengantar Kesehatan Lingkungan

b) Aspek Teknis

Pada dasarnya usaha higiene dan sanitasi pada


terminal adalah merupakan usaha yang dilakukan
untuk kepentingan bersama, baik untuk masyarakat
umum maupun pengelolanya sendiri. Dengan
demikian perlu adanya suatu peraturan atau
persyaratan yang relevan untuk menjaga agar usaha
higiene dan sanitasi tidak merugikan masyarakat luas.
Dalam pelaksanaannya penerapan dari peraturan
sering mengalami hambatan oleh karena beberapa
faktor, antara lain:

1. Kurang ada pengertian atau kesadaran dari


karyawan terminal tentang peraturan yang
menyangkut higiene dan sanitasi khususnya
dalam rangka pemeliharaan kesehatan
2. Adanya sikap apatis dari sebagian masyarakat
tentang adanya peraturan atau persyaratan dari
tempat-tempat umum khususnya higiene dan
sanitasi terminal pelabuhan.
c) Aspek Administrasi dan Manajemen

Agar dapat berhasil dengan baik maka upaya


higiene sanitasi diperlukan perencanaan program
yang baik pula. Perlu diingat bahwa program ini akan
melibatkan beberapa instansi lain (lintas sektoral),

8
Definisi

petugas kesehatan, petugas keamanan, petugas


kebersihan dan petugas lain (Mukono, 2006).

2. Manfaat Sanitasi Bagi Terminal Pelabuhan


a. Dari Segi Kesehatan
1. Menjamin tempat kerja yang bersih
2. Melindungi pengunjung dan karyawan dari faktor-
faktor lingkungan pelabuhan yang merugikan
kesehatan fisik maupun mental
3. Mencegah timbulnya berbagai jenis penyakit
menular dan penyakit akibat kerja
4. Menjamin kesehatan karyawan dan pengunjung
pelabuhan serta mencegah terjadinya kecelakaan
kerja.
b. Dari Segi Operasional Pelabuhan
1. Keadaan pelabuhan yang bersih membuat
pengunjung merasa bebas dan senang
menggunakan jasa pelabuhan
2. Mutu pelabuhan ditentukan dari kebersihannya
3. Sanitasi pelabuhan dilaksanakan, yaitu memenuhi
persyaratan sanitasi dan kebersihannya.

Adapun persyaratan sanitasi dan pelabuhan yang


harus dipenuhi antara lain:

1. Bagian Luar
a. Tempat parkir Harus bersih, tidak ada sampah

9
Pengantar Kesehatan Lingkungan

berserakan, dan tidak ada genangan air


b. Tempat sampah Tersedia tempat penampungan
sampah sementara yang tertutup dan kedap air
serta dalam jumlah yang cukup
c. Pencahayaan Penerangan harus cukup dan tidak
menyilaukan mata, terutama pada pintu masuk
dan keluar tempat parkir
2. Bagian Dalam
a. Ruang tunggu
1. Ruangan harus bersih
2. Tempat duduk harus bersih dan bebas dari kutu
busuk
3. Pencahayaan harus cukup dan tidak
menyilaukan (minimal 10 fc) sehingga dapat
digunakan untuk membaca
4. Penghawaan harus cukup, minimal 10% dari
luas lantai
5. Lantai tidak licin, kedap air, dan mudah
dibersihkan
6. Tersedia tempat penampungan sampah
sementara yang tertutup, kedap air, dan dalam
jumlah yang cukup
b. Pembuangan kotoran manusia
1. Tersedia jamban yang memenuhi syarat (tipe
leher angsa) minimal 1 jamban untuk 100

10
Definisi

pengunjung, atau minimal 2 buah jamban


2. Tersedia peturasan yang baik, minimal 1
peturasan untuk 200 pengunjung dan tersedia
pasokan air yang cukup
3. Harus ada tanda yang jelas untuk membedakan
antara jamban pria dan wanita
4. Jamban dan peturasan harus dalam keadaan
bersih dan tidak berbau
c. Pembuangan sampah
1. Harus tersedia tempat penampungan sampah
sementara yang tertutup, kedap air, dan dalam
jumlah yang cukup
2. Pengangkutan sampah dilakukan setiap hari
sehingga tidak ada sampah yang menumpuk
d. Pembuangan air limbah Air limbah dan air hujan
dialirkan melalui saluran tertutup dan dibuang ke
septic tank atau ke saluran air kotor perkotaan
e. Tempat cuci tangan Harus tersedia tempat cuci
tangan yang baik, minimal satu dilengkapi dengan
sabun atau kain serbet.
3. Lain-lain
a. Tersedia alat perlengkapan untuk P3K
b. Tersedia alat pemadam kebakaran (Chandra,
2007).

11
Pengantar Kesehatan Lingkungan

3. Persyaratan Higiene Sanitasi Terminal Pelabuhan

Persyaratan higiene sanitasi yang harus dipenuhi


pelabuhan seperti yang ditetapkan oleh Departemen
Kesehatan RI, 2007 adalah:

1. Penyediaan Air Bersih

Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas


(uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara
alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga
wujudnya tersebut. Satu molekul air tersusun atas dua
atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu
atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa
dan tidak berbau pada kondisi standar (Allafa, 2008).

Persyaratan air yang harus dipenuhi di pelabuhan


adalah:

a. Tersedia air dengan kualitas yang sesuai dengan


standar air minum internasional yaitu memenuhi
syarat fisik antara lain air tidak berasa, tidak
berwarna dan tidak berbau, memenuhi syarat
kimia, dan bakteriologis
b. Kapasitas air harus memenuhi persyaratan
c. Konstruksi dan keadaan reservoir atau menara air,
tangki-tangki air, hydran dan pipa-pipa penyalur
dalam keadaan baik
d. Air bersih tersedia untuk setiap kegiatan secara

12
Definisi

berkesinambungan Air memiliki peranan yang


sangat penting bagi kehidupan manusia.
Kebutuhan manusia akan sangat kompleks antara
lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan
sebagainya. Menurut perhitungan WHO di negara-
negara maju tiap orang memerlukan air antara 60
– 120 liter air per hari. Sedangkan di negara-
negara berkembang memerlukan air antara 30 –
60 liter per hari (Notoadmodjo, 2007).

Adapun kegunaan air antara lain:

a. Air untuk minum


b. Air untuk keperluan rumah tangga
c. Air untuk industri
d. Air untuk mengairi sawah
e. Air untuk kolam perikanan, dll (Wardhana, 2004)

Perkiraan jumlah orang yang kurang dapat


menjangkau suplai air yang aman dan memadai serta
sanitasi yang cukup baik menunjukkan secara paling
tepat berapa jumlah orang yang terpapar oleh risiko
penyakit berkaitan dengan air. Suplai air yang aman yang
mencukupi serta sanitasi yang memadai di pelabuhan
akan menurunkan tingkat kejadian penyakit-penyakit
yang perantaranya melalui air. Angka-angka jumlah
masyarakat yang tidak terlayani secara memadai dengan

13
Pengantar Kesehatan Lingkungan

penyediaan air dan sanitasi cenderung tidak


mengungkapkan seluruh permasalahan yang ada (WHO,
2001).

2. Pembuangan Air Limbah

Salah satu penyebab terjadinya pencemaran air


adalah air limbah yang dibuang tanpa pengolahan ke
dalam badan air. Menurut Peraturan Pemerintah RI
Nomor 82 tahun 2001, air limbah adalah sisa dari suatu
usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Air limbah
dapat berasal dari rumah tangga maupun industri.

Syarat higiene dan sanitasi di pelabuhan untuk


pembuangan air limbah adalah:

a. Tersedia fasilitas untuk pembuangan air kotor atau


kotoran cair (liquid waste)
b. Sarana-sarana atau sanitasi dasar tersedia dalam
jumlah yang cukup:
a) Pembuangan air kotor atau kotoran cair
b) Persediaan air yang cukup untuk kebutuhan
umum
c) WC, urinoir, tempat cuci tangan, dan lain-lain
dalam jumlah yang cukup
c. Organisasi kebersihan yang berfungsi dengan
efisien
d. Air kotor dari pelabuhan disalurkan melalui sistem

14
Definisi

saluran atau pipa yang tertutup atau riol dan


konstruksi dibuat sedemikian rupa agar tidak
mengganggu aliran air
1) Kemiringan dalam ukuran yang cukup
2) Dasar selokan diplester dan berbentuk U
3) Pemeliharaan selokan harus baik dan teratur
agar tidak ada genangan air akibat sampah dan
batu atau dinding yang ambruk
e. Pembuangan kotoran manusia dari WC umum
disalurkan ke septic tank (Depkes RI, 2007).

Menurut Depkes RI (2007), syarat sanitasi


terminal angkutan air (pelabuhan) untuk WC atau
toilet adalah:

a. Bersih
b. Tidak berbau sengit
c. Bukan tempat penyimpanan
d. Tersedia air yang cukup dan tidak ada jentik
e. Terpisah antara laki-laki dan perempuan
f. Lantai kedap air
g. Lantai miring ke arah pembuangan tidak ada
genangan tidak terlihat banyak nyamuk
tersedia tempat sampah
h. Tersedia sabun
i. Tersedia pengering
j. Tersedia peralatan pembersih dan penerangan

15
Pengantar Kesehatan Lingkungan

yang cukup

Menurut Widyati dan Yuliarsih (2002), cara-cara


pembuangan air limbah demi terciptanya kehidupan
masyarakat yang sehat dan lingkungan yang nyaman,
perlu metode untuk pembuangan air limbah adalah
sebagai berikut:

a. Dillution (pengenceran) adalah mengencerkan


air limbah lebih dahulu sebelum dibuang ke
badan-badan air.
b. Irigasi luas adalah cara yang digunakan untuk
mengalirkan air limbah ke parit-parit terbuka
yang digali pada sebidang tanah dan air
merembes masuk ke dalam tanah.
c. Septic tank adalah cara terbaik yang dianjurkan
WHO, tetapi harganya mahal. Merupakan cara
yang memuaskan dalam pembuangan ekskreta
untuk sekelompok kecil lembaga yang memiliki
persediaan air yang mencukupi tetapi tidak
memiliki hubungan dengan sistem penyaluran
limbah masyarakat.
d. Sistem roil adalah cara pembuangan air limbah
yang dialirkan ke roil.

Menurut Soeparman dan Suparmin (2002), sistem


penyaluran limbah cair menurut asal airnya adalah

16
Definisi

sebagai berikut:

a. Sistem terpisah, yaitu limbah cair dan air hujan


disalurkan dari sumber yang terpisah. Sistem
ini mengharuskan pemisahan antara
penyaluran limbah cair dan air hujan serta
komponen limbah cair lainnya.
b. Sistem tercampur, yaitu limbah cair dan air
hujan serta komponen limbah cair lainnya
disalurkan dalam satu saluran.
c. Sistem kombinasi, yaitu limbah cair dan air
hujan disatukan penyalurannya pada musim
kemarau atau pada saat curah hujan rendah.
Namun, pada musim hujan penyalurannya
dipisah menggunakan interceptor.
3. Pembuangan Sampah

Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak


dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang
berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan
sendirinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
jumlah sampah adalah sebagai berikut:

a. Jumlah penduduk
b. Sistem pengumpulan atau pembuangan sampah
yang dipakai
c. Pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah

17
Pengantar Kesehatan Lingkungan

untuk dipakai kembali


d. Faktor geografis
e. Faktor waktu
f. Faktor sosial, ekonomi dan budaya
g. Kebiasaan masyarakat
h. Kemajuan teknologi
i. Jenis sampah (Chandra, 2007).

Agar sampah tidak membahayakan kesehatan


manusia perlu pengaturan pembuangan sampah. Hal-hal
yang dapat diakibatkan oleh sampah antara lain sebagai
berikut:

a. Menimbulkan penyakit
b. Tidak enak dipandang mata
c. Menyebabkan polusi udara (bau yang tidak enak)
d. Pembuangan dan pengolahan sampah

Penampungan sampah dalam bak sampah, yaitu:

a. Membedakan antara sampah basah dan sampah


kering
b. Membuang sampah kering dalam bak sampah dari
kayu/plastik
c. Sampah basah diletakkan pada bak sampah dari
plastik tebal atau logam ringan yang tahan karat
dan kedap air
d. Dasar bak sampah setengah bulat agar mudah

18
Definisi

dibersihkan
e. Sampah yang telah ditampung harus dapat
diangkat oleh satu orang (Widyati R, 2002).

Syarat higiene sanitasi pembuangan sampah di terminal


pelabuhan adalah sebagai berikut:

1. Di pelabuhan harus tersedia fasilitas untuk


pembuangan sampah yang strategis dan berkapasitas
cukup. Sampah ini diakibatkan adanya kegiatan di
pelabuhan dan sampah yang berasal dari kapal.
2. Organisasi atau unit kebersihan yang mengawasi atau
mengelola sampah harus berfungsi dengan baik untuk
menangani masalah penampungan sampah,
pengangkutan dan pembuangan sampah secara
berkesinambungan.

Syarat tempat sampah di terminal pelabuhan adalah


sebagai berikut:

1. Tempat sampah tertutup


2. Selalu dibersihkan setiap hari
3. Wadah kedap air/terbungkus plastik
4. Terpisah antara sampah organik dan anorganik
5. Tersedia pada setiap ruangan
6. Tidak ada sampah membusuk di tempat pembuangan
sampah.

19
BAB II. PARADIGMA KESEHATAN LINGKUNGAN

A. Situasi Di Indonesia

Penyakit berbasis lingkungan masih menjadi permasalahan


hingga saat ini. ISPA dan diare yang merupakan penyakit berbasis
lingkungan selalu masuk dalam 10 besar penyakit di hampir
seluruh Puskesmas di Indonesia.

Menurut Profil Dirjen PP&PL tahun 2006, 22,30% kematian


bayi di Indonesia akibat pneumonia. sedangkan morbiditas
penyakit diare dari tahun ke tahun kian meningkat dimana pada
tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk, lalu meningkat
menjadi 301 per 1000 penduduk pada tahun 2000 dan 347 per
1000 penduduk pada tahun 2003. Pada tahun 2006 angka
tersebut kembali meningkat menjadi 423 per 1000 penduduk.

B. Paradigma Kesehatan Lingkungan

Konsep dasar paradigma kesehatan lingkungan adalah,


bahwa terjadinya derajat status kesehatan karena interaksi antara
agen, pejamu dan lingkungan

1. Interaksi agen dan lingkungan: Ketahanan bakteri terhadap


sinar matahari Stabilitas vitamin di dalam lemari pendingin
Pengantar Kesehatan Lingkungan

2. Interaksi agen dan pejamu: Timbulnya gejala dan tanda


penyakit
3. Interaksi pejamu dan lingkungan: Ketersediaan fasilitas
kesehatan Kebiasaan penyiapan makanan Keadaan ruangan
(panas, dingin)

Pemahaman ekosistem manusia adalah proses kejadian


penyakit atau patogenesis penyakit. Patogenesis penyakit
dipelajari oleh bidang kesehatan yang dikenal sebagai kesehatan
lingkungan. komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya
penyakit. Ilmu kesehatan lingkungan mempelajari hubungan
interaktif antara komponen lingkungan yang memiliki potensi
bahaya penyakit dengan berbagai variabel kependudukan seperti
perilaku, pendidikan, dan umur.

Sumber penyakit adalah titik yang secara konstan


mengeluarkan atau meng”emisikan” agents penyakit. Agents
penyakit adalah komponen lingkungan yang dapat menimbulkan
gangguan penyakit melalui kontak secara langsung atau melalui
media perantara (yang juga komponen lingkungan).

Media Transmisi Penyakit

1. Udara
2. Air
3. Tanah/Pangan
4. Binatang/serangga
5. Manusia/langsung

22
Paradigma Kesehatan Lingkungan

Media transmisi tidak akan memiliki potensi penyakit kalau


didalamnya tidak mengandung bibit penyakit atau agent penyakit.

Perilaku pemajanan adalah jumlah kontak antara manusia


dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi bahaya
penyakit. Agent penyakit dengan atau tanpa menumpang
komponen lingkungan lain, masuk ke dalam tubuh melalui satu
proses yang kita kenal sebagai proses ”hubungan interaktif”.
Hubungan interaktif antara komponen lingkungan dengan
penduduk berikut perilakunya, dapat diukur dalam konsep yang
disebut sebagai perilaku pemajanan atau “behavioral exposure”.

Paradigma hidup sehat H.L. Blum menjelaskan empat faktor


yang mempengaruhi status kesehatan individu atau kelompok
masyarakat. Keempat faktor tersebut bisa dikaitkan dengan faktor
determinan (penentu) timbulnya gangguan kesehatan pada
individu atau kelompok masyarakat. Keempat faktor tersebut
adalah faktor perilaku atau gaya hidup (life style), faktor
lingkungan (politik, ekonomi, sosial, budaya, fisik, kimia, dan
sebagainya), faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan,
kelengkapan, mutu, dan sebagainya), dan faktor genetic
(keturunan). Keempat faktor saling berinteraksi satu sama lain
secara dinamis dan berpengaruh terhadap kesehatan (well being)
perorangan atau kelompok masyarakat. Di antara keempat faktor
tersebut, faktor lingkungan adalah faktor determinan yang
terbesar dan paling sulit ditanggulangi. Faktor berikutnya adalah
faktor perilaku atau life style. Faktor lingkungan dianggap lebih

23
Pengantar Kesehatan Lingkungan

dominan pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat


dibandingkan dengan faktor perilaku karena kompleksnya faktor
lingkungan yang bisa mempengaruhi kesehatan manusia
(eksploitasi lingkungan). Munculnya faktor ini juga berkaitan
dengan faktor gaya hidup, perilaku, atau ulah manusia yang
merusak lingkungannya.

Paradigma belum dapat dimanfaatkan untuk pengembangan


program intervensi PH. Tujuan intervensinya adalah untuk
meningkatkan kualitas dan kenyamanan hidup manusia, termasuk
menyeimbangkan lingkungan hidup manusia agar manusia dapat
hidup lebih sehat dan harmonis. Tujuan jangka panjang intervensi
PH adalah menghasilkan keturunan manusia yang lebih sehat.
Budaya masyarakat yang terbentuk dari perilaku manusia akan
membawa pengaruh besar pada lingkungan hidup manusia
(contohnya, pemanasan global). Ketersediaan sumber daya pada
institusi pelayanan kesehatan juga mempengaruhi cakupan dan
mutu pelayanan kesehatan. Faktor genetik menjadi perhatian
pada intervensi PH khususnya di bidang kependudukan.

Dalam upaya pengendalian penyakit berbasis lingkungan,


maka perlu diketahui perjalanan penyakit atau patogenesis
penyakit tersebut, sehingga kita dapat melakukan intervensi
secara cepat dan tepat.

24
Paradigma Kesehatan Lingkungan

Patogenesis penyakit dapat digambarkan seperti di bawah


ini:

Dengan melihat skema di atas, maka patogenesis penyakit


dapat diuraikan menjadi 4 (empat) simpul, yakni:

Simpul 1: Sumber Penyakit

Sumber penyakit adalah sesuatu yang secara konstan


mengeluarkan agent penyakit. Agent penyakit merupakan
komponen lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan
penyakit baik melalui kontak secara langsung maupun melalui
perantara.

Beberapa contoh agent penyakit:

Agent Biologis: Bakteri, Virus, Jamur, Protozoa, Amoeba, dll

25
Pengantar Kesehatan Lingkungan

Agent Kimia: Logam berat (Pb, Hg), air pollutants (Irritant: O3,
N2O, SO2, Asphyxiant: CH4, CO), Debu dan serat (Asbestos,
silicon), Pestisida, dll
Agent Fisika: Radiasi, Suhu, Kebisingan, Pencahayaan, dll

Simpul 2: Komponen Lingkungan Sebagai Media Transmisi,

Komponen lingkungan berperan dalam patogenesis penyakit,


karena dapat memindahkan agent penyakit. Komponen
lingkungan yang lazim dikenal sebagai media transmisi adalah:

– Udara
– Air
– Makanan
– Binatang
– Manusia/secara langsung

Simpul 3: Penduduk

Komponen penduduk yang berperan dalam patogenesis


penyakit antara lain:

– Perilaku
– Status gizi
– Pengetahuan
– dll

Konsep ADKL mengacu pada Paradigma Kesehatan


Lingkungan, yang mencakup 4 simpul pengamatan dinamika
perubahan komponen lingkungan yang berpotensi timbulnya

26
Paradigma Kesehatan Lingkungan

dampak kesehatan masyarakat, yaitu:

a. Simpul 1 (sumbernya)

Pengamatan, pengukuran, dan pengendalian sumber


pencemar: emisi untuk pencemaran udara (mobil, industri,
pembangkit listrik dan lain-lain), sumber penyakit menular
(penderita TB, penderita DBD, penderita malaria, dll). Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam simpul 1 antara lain adalah:

1) Jenis dan volume kegiatan yang dilakukan di lokasi


2) Lamanya kegiatan di lokasi
3) Bahaya fisik yang ada di lokasi
4) Perubahan-perubahan yang dilakukan baik dalam
ukuran maupun bentuk
5) Kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan
yang telah dikerjakan.
6) Laporan pelaksanaan pengendalian mutu
b. Simpul 2 (media lingkungan)

Pengamatan, pengukuran, dan pengendalian bila


komponen lingkungan tersebut sudah berada di sekitar
manusia seperti konsentrasi parameter pencemaran di udara,
kadar kandungan residu pestisida dalam sayur mayur,
bakteri E coli dalam air minum, dll). Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam simpul 2 antara lain:

1) Riwayat latar belakang


a) Deskripsi lokasi

27
Pengantar Kesehatan Lingkungan

b) Rona geografik lokal


c) Situasi lokasi dalam kaitannya dengan masyarakat
d) Gambar visual ruang (RUTR, peta topografi, peta
udara)
e) Lamanya pencemar telah ada di lokasi
f) Perubahan yang dilakukan, baik dalam ukuran
maupun bentuk
g) Kegiatan pembersihan yang direncanakan dan
yang telah dikerjakan
2) Kepedulian kesehatan masyarakat
a) Keluhan terhadap lingkungan yang kotor dan
tercemar
b) Gangguan kesehatan ringan maupun berat dan
tindakan yang telah dilakukan untuk mengatasinya
baik oleh masyarakat maupun pemerintah
3) Penduduk
a) Demografi (jumlah & sifat penduduk)
b) Sosio–psikologi
4) Penggunaan lahan dan sumber daya alam
a) Akses terhadap lokasi dan akses terhadap media
tercemar
b) Daerah industri
c) Daerah pemukiman
d) Daerah rekreasi
e) Daerah produksi makanan

28
Paradigma Kesehatan Lingkungan

f) Penggunaan air permukaan


g) Penggunaan air tanah
h) Sarana pemancingan
5) Pencemaran lingkungan
a) Konsentrasi bahan kimia
b) Inventarisasi B3 (bahan berbahaya & beracun)
yang terlepaskan
6) Jalur penyebaran pencemar di lingkungan
a) Topografi
b) Jenis tanah dan lokasi
c) Permukaan tanah penutup
d) Curah hujan tahunan
e) Kondisi suhu
f) Faktor lain: kecepatan angin
g) Komposisi hidrogeologi dan struktur
h) Lokasi badan air permukaan dan penggunaan
badan air
c. Simpul 3 (tubuh manusia)

Pengamatan dan pengukuran kadar parameter bahan


pencemar di dalam tubuh manusia (dalam darah, urine,
rambut, lemak, jaringan, sputum). Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam hal ini adalah:

1) Fitrah pemajanan

Fitrah pemajanan perlu dicatat secara detail spesifik

29
Pengantar Kesehatan Lingkungan

untuk menjamin teramatinya adanya asosiasi dan


memungkinkan untuk dilakukan inferensi aetologik
spesifik. Variabel harus spesifik sehingga dapat dipisah-
pisahkan ke dalam tingkat klasifikasi pemajanan.

2) Dosis

Dosis dapat diukur dalam dosis total atau dalam


kecepatan pemajanan atau pemajanan kumulatif. Dosis
perlu dinyatakan sehubungan dengan terjadinya
pemajanan pada subyek, apakah dosis ambient dalam
interval waktu pendek atau lama.

3) Waktu

Setiap pemajanan perlu dijelaskan kapan pemajanan


itu terjadi dan kama akhirnya terhenti dan bagaimana
pemajanan itu tersebar selama periode itu (periodik,
kontinyu, bervariasi).

4) Dosis representatif dan waktu pemajanan

Dosis representatif umumnya diwakili oleh tiga


macam yaitu pemajanan puncak, pemajanan kumulatif,
dan pemajanan rata-rata.

d. Simpul 4 (dampak kesehatan)

Pengamatan, pengukuran, dan pengendalian prealensi


penyakit menular dan tidak menular yang ada pada kelompok
masyarakat (keracunan, kanker paru, kanker kulit, penderita

30
Paradigma Kesehatan Lingkungan

penyakit menular, dll). Data terbaik dampak kesehatan


adalah community base, berdasarkan survei, dapat juga
dengan data sekunder dari Dinas Kesehatan, Rumah sakit
ataupun Puskesmas. Data tersebut berupa: rekam medis, data
kesakitan & kematian, pencatatan kanker dan penyakit lain,
statistik kelahiran dan data surveilans.

C. Identifikasi dan Evaluasi Jalur Pemajanan

Elemen 1 – Sumber Pencemar

Elemen 2 – Media Lingkungan dan transport

Elemen 3 – Titik Pemajanan

Elemen 4 – Lintas Pemajanan

Elemen 5 – Populasi Reseptor

a. Jalur pemajanan
• Suatu proses dimana seseorang terpajan oleh
pencemar.
• Bukan media lingkungan dan lintas pemajanan
• Mencakup semua elemen yang menghubungkan suatu
sumber pencemar dengan populasi terpajan
• Bisa ada di masa lalu, masa kini dan yang akan datang
b. Identifikasi Elemen 1 – Sumber Pencemar
• Sumber pencemar: suatu nama yang ditetapkan
sebagai asal pencemaran lingkungan.

31
Pengantar Kesehatan Lingkungan

• Tempat pembakaran terbuka, daerah peledakan,


tanah terbuka penampung buangan B3,
kolam/empang penampung limbah,
landfill/tumpukan tangki/drum, pabrik/cerobong
pabrik, sumur injeksi, timbunan sampah,
incinerator/boiler, saluran pembuangan.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam


memutuskan apakah pencemaran sudah terjadi, sedang
berlangsung atau akan terjadi

• Titik lokasi atau pelepasan


• Riwayat penyimpanan, pembuangan atau pelepasan
• Pencemar dan komposisi pada sumbernya
• Kecepatan emisi
• Frekuensi pelepasan
• Periode pengoperasian/kegiatan
• Kondisi yang sedang berlangsung

Bandingkan Konsentrasi pencemar pada Titik pelepasan


dengan Konsentrasi latar belakang sampel media lingkungan

di: bagian hulu aliran air, udara atau daerah yang
lebih tinggi.
• Konsentrasi media lingkungan di: bagian hilir aliran
air, udara atau daerah yang lebih rendah atau aliran
air tanah.

32
Paradigma Kesehatan Lingkungan

Analisisnya ?

Bila konsentrasi pencemar menurun menurut jarak ke


hilir dari suatu titik pelepasan atau area yang dicurigai
sebagai sumber pencemar dan tidak meningkat pada arah
yang berlawanan, MAKA, titik atau area pelepasan yang
dicurigai itu DAPAT dikategorikan sebagai SUMBER
PENCEMAR.

c. Identifikasi Elemen 2 – Media Lingkungan dan


Transport
• Media lingkungan: bahan buangan, rembesan, gas
tanah, lumpur, permukaan tanah, air tanah (sumur
pribadi, sumur umum, sumur pemantau), udara, biota.
• Transformasi dan mekanisme transport
• Faktor kimiawi spesifik yang mempengaruhi
transformasi dan transport lingkungan
• Faktor lokasi spesifik yang mempengaruhi
transformasi dan transport lingkungan
• Representasi dan kecukupan sampling lingkungan
yang dilaksanakan di lokasi
• Model transport lingkungan

Transport dan mekanisme transformasi

• Emisi (pelepasan riel atau buangan dari bahan


pencemar dari suatu sumber)
• Konveksi (migrasi normal atau perpindahan

33
Pengantar Kesehatan Lingkungan

pencemar melalui suatu media: aliran air, aliran


udara, erosi tanah, gerakan tanah dan perpindahan
massa)
• Dispersi (penyebaran pencemar pada fase cair, gas
atau padat)
• Attenuasi (penghambatan, degradasi atau adsorbsi
dari suatu pencemar)

Faktor kimiawi spesifik

• Kelarutan dalam air


• Tekanan uap
• Konstanta hukum Henry II (berat molekul, kelarutan,
daya penguapan suatu bahan)
• Koefisien partisi karbon organik (tendensi senyawa
organik diadsorbsi oleh tanah & endapan)
• Koefisien partisi air/oktanol (potensi bahan kimia
yang terakumulasi dalam jaringan lemak hewan)

Faktor lokasi spesifik

• Curah hujan tahunan


• Suhu
• Arah dan kecepatan angin
• Kondisi musiman dan harian
• Sifat geomorfologi
• Sifat hidrologik
• Saluran air permukaan

34
Paradigma Kesehatan Lingkungan

• Sifat tanah
• Penutup permukaan tanah
• Hewan & tumbuhan
• Obyek buatan manusia

Faktor Representasi & kecukupan sampling

• Air permukaan
• Air tanah
• Udara
• Endapan & lumpur
• Biota

Model transport lingkungan

• Untuk evaluasi dan rekomendasi lokasi sampling


• Untuk Identifikasi kesenjangan data dan informasi
• Untuk menjelaskan trend temporal & spasial
konsentrasi pencemar
• Untuk memperkirakan durasi pemajanan
• Untuk memperkirakan konsentrasi pencemar
d. Identifikasi Elemen 3 – Titik Pemajanan
• Titik pemajanan: titik dimana seseorang kontak
dengan media tercemar, meliputi:
– Air tanah (sumur, kolam renang, rekreasi)
– Air permukaan (irigasi, penyediaan air u umum,
industri, ternak)
– Tanah

35
Pengantar Kesehatan Lingkungan

– Udara (pencemar yang mudah menguap)


– Rantai makanan dan media lain
e. Identifikasi Elemen 4 – Lintas Pemajanan
• Alat atau cara dengan mana pencemar masuk ke
dalam tubuh manusia, antara lain:
1. Tertelannya pencemar dalam air tanah, air
permukaan, tanah dan makanan
2. Inhalasi pencemar dalam air tanah atau air
permukaan melalui uap dan aerosol, udara atau
tanah
3. Kontak kulit dengan pencemar dalam air, tanah,
udara, makanan dan pencemar lain.
f. Identifikasi Elemen 5 – Populasi reseptor
• Populasi yang terpajan atau berpotensi terpajan
melalui lintas pemajanan yang telah diidentifikasi
dengan pencemar pada titik pemajanan.

36
Paradigma Kesehatan Lingkungan

D. Konsep dasar penilaian, pengukuran pemajanan dan


pengukuran dampak kesehatan lingkungan, maupun
pelaksanaan sistem pemantauan

Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 22


ayat (1) bahwa “setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak
penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Amdal” dan
Pasal 34 ayat (1) bahwa “setiap usaha dan/atau kegiatan yang
tidak termasuk dalam kriteria wajib Amdal, wajib memiliki UKL–
UPL”. Dokumen lingkungan ini digunakan sebagai instrumen
pencegahan pencemaran dan untuk meminimalisasi dampak yang
dihasilkan dari usaha, maka setiap pemrakarsa yang usahanya
menghasilkan dampak negatif ke lingkungan baik fisik maupun
non fisik diwajibkan untuk membuat dokumen kelayakan
lingkungan sebelum usaha tersebut berjalan. Setelah
mendapatkan rekomendasi UKL–UPL dan kegiatan berjalan maka
pemrakarsa harus melakukan pelaporan secara periodik kepada
instansi lingkungan hidup di wilayah administratifnya.

Instansi yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup


mempunyai kewenangan dalam pengendalian dampak
lingkungan, pencemaran, dan kerusakan lingkungan serta
pengawasan pelaksanaan UKL–UPL di daerahnya.

Peran yang efektif dari pemerintah diperlukan dalam


dokumen lingkungan, agar dapat lebih meningkatkan kualitas dan
integritas dokumen lingkungan. Koordinasi/hubungan dan

37
Pengantar Kesehatan Lingkungan

mekanisme kerja antar pusat, provinsi, dan kabupaten/kota


sangat diperlukan, sehingga terdapat kejelasan mandat, untuk
menghindarkan terjadinya kerancuan dan tumpang-tindihnya
wewenang dan tanggung jawab di bidang pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan. Sosialisasi dan komunikasi
menjadi kunci penting bagi implementasi pembangunan
berwawasan lingkungan.

38
BAB III. PENERAPAN ADKL DALAM AMDAL

A. Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL)

ADKL pada dasarnya merupakan model pendekatan guna


mengkaji dan atau menelaah secara mendalam untuk mengenal,
memahami dan memprediksi kondisi karakteristik lingkungan
yang berpotensi terhadap timbulnya resiko kesehatan, dengan
mengembangkan tatalaksana terhadap sumber perubahan media
lingkungan, masyarakat terpajan dan dampak kesehatan yang
terjadi.

Dengan demikian penerapan ADKL dapat dilakukan guna


menelaah rencana usaha atau kegiatan dalam tahapan
pelaksanaan maupun pengelolaan kegiatan serta melakukan
penilaian guna menyusun atau mengembangkan upaya
pemantauan maupun pengelolaan untuk mencegah, mengurangi,
atau mengelola dampak kesehatan masyarakat akibat suatu usaha
atau kegiatan pembangunan.

Proses ADKL dapat dikembangkan dalam dua hal pokok


yaitu:

1. Kajian aspek kesehatan masyarakat dalam rencana usaha


atau kegiatan pembangunan baik yang wajib atau tidak wajib
menyusun studi AMDAL.
Pengantar Kesehatan Lingkungan

2. Kajian aspek kesehatan masyarakat dan atau kesehatan


lingkungan dalam rangka pengelolaan kualitas lingkungan
hidup yang terkait erat dengan masalah kesehatan
masyarakat.

Telaah ADKL sebagai pendekatan kajian aspek kesehatan


masyarakat meliputi:

1. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak


rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan.
2. Proses dan potensi terjadinya pemajanan
3. Potensi besarnya dampak/risiko terjadinya penyakit (angka
kesakitan dan angka kematian).
4. Karakteristik penduduk yang beresiko.
5. Sumber daya kesehatan.
6. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses
penyebaran penyakit.

Telaah tersebut dilakukan dengan penilaian/analisis pada:

1. Sumber dampak atau sumber emisi (simpul 1).


2. Media lingkungan sebelum kontak dengan manusia (simpul
2)
3. Penduduk terpajan. (simpul 3)
4. Potensi Dampak Kesehatan (simpul 4)

40
Penerapan ADKL dalam AMDAL

B. Penerapan ADKL dalam AMDAL

Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor:


876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis
Dampak Kesehatan Lingkungan bahwa penerapan ADKL pada
Rencana Usaha atau kegiatan yang wajib AMDAL, ADKL
diterapkan dalam menilai dokumen yang meliputi:

1. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA – ANDAL).


2. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL).
3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).
4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

C. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)

ANDAL adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang


dampak besar dan penting suatu rencana usaha/kegiatan

Dalam penilaian dokumen ANDAL yang perlu dicermati


adalah apakah dalam proses penyusunannya telah sesuai dengan
KA – Andal yang telah disusun sebelumnya.

Hal-hal yang ditelaah:

1. Identifikasi dampak Potensial yang diperkirakan


akan timbul, yang meliputi:
a. Yang berhubungan dengan cemaran/polutan.
1) Sumber cemaran.
2) Penyebaran bahan pencemar di media lingkungan.

41
Pengantar Kesehatan Lingkungan

3) Jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi.


4) Kelompok masyarakat yang akan terpajan.
b. Yang berhubungan dengan perindukan vektor:
1) Perubahan lahan yang dapat menimbulkan
genangan air
2) Perubahan vegetasi yang menunjang atau
menghambat berkembang biaknya vektor.
c. Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat:
1) Kebiasaan pemanfaatan air.
2) Kebiasaan penggunaan insektisida.
3) Kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi.
2. Prakiraan dampak besar dan penting.

Prakiraan dampak besar dan penting hendaknya


dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan
menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan
terjadi. Pada umumnya dampak kesehatan akan timbul
setelah periode waktu tertentu. Hal-hal yang perlu ditelaah
adalah:

a. Penyebab timbulnya (sumber) dampak.


b. Prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara
menganalisis perbedaan kondisi/perubahan
kesehatan lingkungan antara sebelum dan setelah
adanya usaha/kegiatan.
c. Sifat penting dampak terhadap kesehatan lingkungan
mengacu pada 6 kriteria pengukuran dampak penting.

42
Penerapan ADKL dalam AMDAL

3. Evaluasi dampak besar dan penting.

Hal penting dalam evaluasi dampak besar dan penting


adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau
informasi dari hasil analisis prakiraan dampak besar dan
penting yang secara khusus dijelaskan hubungan antara
rencana kegiatan, rona lingkungan awal dan kemungkinan
timbulnya dampak kesehatan, baik langsung maupun tidak
langsung.

Hasil telaahan evaluasi dampak besar dan penting


hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan
diarahkan pada alternatif tindakan yang harus diambil untuk
mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan
kemungkinan timbulnya dampak.

Evaluasi dampak bertujuan untuk mempelajari dampak


yang dinilai tidak relevan, sehingga diperoleh dampak besar
dan penting hipotetik, yaitu prediksi yang menggambarkan
potensi besarnya dampak tersebut yang kemungkinan dapat
timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan
masyarakat terpajan (Population At Risk) .

Ukuran atau nilai dari evaluasi dampak potensial


didasarkan pada pertimbangan besar atau luasnya rencana
usaha/kegiatan yang:

a. Dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan


yang memungkinkan berkembang biaknya vektor

43
Pengantar Kesehatan Lingkungan

penyakit.
b. Memerlukan pengerahan sumber daya manusia
(lokal/pendatang) sehingga memungkinkan
terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki
potensi untuk menimbulkan penyakit menular.
c. Membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan
mempunyai potensi untuk menimbulkan resiko
kesehatan baik akut maupun kronis.
d. Menurunkan kualitas sumber daya manusia karena
daya dukung lingkungan yang tidak memadai lagi
sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat

44
DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Dr. Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Hal. 124,dan 144–147.

Ricki, M. 2005. Kesehatan Lingkungan, Cetakan Pertama.


Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu. Hal. 46–51.

Rahardjo, S., Dina, L., dan Suyono. 2006. Pengendalian Dampak


Lingkungan. Surabaya: Penerbit Airlangga.
RIWAYAT HIDUP

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Muhammad Ikhtiar, SKM, M.Kes

Jenis Kelamin : Laki– laki

TTL : Sinjai, 6 Februari 1971

Agama : Islam

Pekerjaan : Dosen FKM UMI

Alamat : BTN Griya Asri Sakinah Blok E1/16 Gowa

Perguruan Tinggi : FKM Universitas Muslim Indonesia

Alamat : Jl. Urip Sumoharjo Km 5 Makassar

Telp./Faks. : 0411–425607/0411–425607

Telp./Hp. : 085343723079

E– mail : ikhtiarkesling@gmail.com

Menerangkan dengan sesungguhnya:

1. Riwayat Pendidikan:
a. SD : Negeri Pembangunan III Tahun 1984
b. SLTP : Negeri X Tahun 1987
c. SLTA : Negeri XI Tahun 1990
Pengantar Kesehatan Lingkungan

d. Perguruan Tinggi
 Sarjana (S1) : FKM Unhas Tahun 1997
 Magister (S2) : PPs Unhas Tahun 2005
 Doktor (S3) : PPs Unhas Tahun 2014

2. Riwayat Pekerjaan
a. Dari tahun 1997 – 2000 mengajar pada STIKMA
Makassar
b. Dari tahun 1999 – 2000 mengajar pada Hiperkes
Unismuh
c. Dari tahun 2001 –sekarang staf pengajar pada FKM UMI
Makassar
d. Dari tahun 2006 – 2010 menjabat sebagai Wakil Dekan
III pada FKM UMI Makassar
e. Dari tahun 2008 – 2010 menjabat sebagai Wakil Dekan I
pada FKM UMI Makassar
f. Dari Tahun 2016 – sekarang menjabat sebagai Wakil
Dekan I pada FKM UMI Makassar

3. Pengalaman Organisasi
a. Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kab. Selayar Pada Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2007– 2008
b. Sekretaris Umum Ikatan Alumni FKM Unhas 2001 – 2010
c. Pengurus Yayasan Indonesia Sehat 2001 – 2005
d. Pengurus Lembaga Lingkungan Hidup UMI 2001 – 2005

48
Riwayat Hidup

e. Pengurus Himpunan Masyarakat Sinjai 2001 – 2005


f. Pengurus Daerah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat
Indonesia (IAKMI) Periode Tahun 2010 – 2014
g. Pengurus Daerah Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan
(HAKLI) Periode Tahun 2012 – 2014
h. Pengurus Perhimpunan Sarjana Kesehatan masyarakat
(Persakmi) Provinsi Sulawesi Selatan Periode 2014 –
2018
i. Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat
(IAKMI) Provinsi Sulawesi Selatan Periode 2015 – 2019

4. Pengalaman Penelitian
a. Studi Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Pengangkut
Sampah Makassar Tahun 1997 (tidak dipublikasi)
b. Analisis Residu Pestisida pada Air Sumur di desa Pucak
Maros Tahun 2005 (dipublikasi pada jurnal Ilmiah
Prospek edisi 40 Februari 2007)
c. Analisis Hubungan Kondisi Rumah dengan Kejadian ISPA
Pada Balita di Kelurahan Pampang Tahun 2009
(dipublikasi pada jurnal ilmiah Prospek edisi XII, 1
Januari 2010)
d. Memetakan Pola Kematian Ibu dengan Pendekatan
Determinan Sosial Kesehatan di kabupaten Gowa Tahun
2013 (International Journal of Scientific and Research
Publications Volume 4, issue 6, June 2014)

49
Pengantar Kesehatan Lingkungan

5. Pengalaman Kegiatan Ilmiah


a. Mengikuti Musyawarah Nasional II AIPTKMI di
Purwokerto September 2006
b. Mengikuti Training of Trainer (TOT) Penyusunan
Proposal Program Kreatifitas Mahasiswa oleh Dirjen
Dikti di Jakarta, Agustus 2006
c. Mengikuti Training of Trainer (TOT) Riset Kesehatan
Dasar oleh Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Gizi dan Makanan di Bogor, Juni 2007
d. Menjadi Penanggung Jawab Teknis (PJT) untuk
Kabupaten Selayar Sulawesi Selatan dalam pelaksanaan
Riset Kesehatan Dasar tahun 2007.
e. Mengikuti On the international seminar “Halal Science”
yang dilaksanakan oleh FKM UNHAS di Makassar,
November 2007
f. Mengikuti seminar nasional Peran Institusi Kesehatan
Masyarakat dalam Membangun Masyarakat Sehat oleh
FKM Unhas di Makassar, November 2007
g. Mengikuti pertemuan nasional dan pelatihan Asuhan dan
Dukungan Gizi pada ODHA dan Keluarganya di
Masyarakat di Surabaya, Februari 2007
h. Mengikuti diskusi panel Paradigma Baru Pendidikan dan
Ilmu dalam Perspektif Al–Qur’an oleh UMI di Makassar,
Januari 2009

50
Riwayat Hidup

i. Mengikuti pelatihan Metodologi Penelitian tingkat


Intermediate oleh Lembaga Penelitian dan Sumber Daya
UMI di Makassar, Maret 2009
j. Mengikuti MUNAS III AIPTKMI di Medan, Agustus 2009
k. Mengikuti Seminar Nasional Pra Munas X BKS–PTIS se
Indonesia di Makassar, Desember 2009
l. Mengikuti Pelatihan Dosen Supervisi KKN UMI tahun
2009
m. Mengikuti seminar kesehatan cegah Kanker Sejak Dini
dengan Gizi Seimbang oleh UMI di Makassar, Januari
2010
n. Mengikuti Seminar Internasional HIV–AIDS dengan tema
Social Aspects, challenges and Policies oleh FKM Unhas di
Makassar, Februari 2010.

Demikian daftar riwayat hidup ini saya buat untuk


dipergunakan sebagaimana mestinya.

Makassar, 6 Februari 2016

Yang Menyatakan,

Muhammad Ikhtiar, SKM, M.Kes

51
Dr. Muhammad Ikhtiar, SKM, M.Kes, lahir di Sinjai Sulawesi
Selatan tanggal 6 Pebruari 1971. Memperoleh gelar Sarjana
Strata 1 (SKM) pada Fakulultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin tahun 1997. Memperoleh gelar
Magister Kesehatan (M.Kes) pada Program Pascasarjana
Universitas Hasanuddin tahun 2005. Memperoleh gelar
Doktor (Dr.) pada Program Pascasarjana Universitas
Hasanuddin tahun 2014.

Dari tahun 2001 s/d sekarang staf pengajar pada FKM UMI
Makassar. Tahun 2016 s/d sekarang menjabat sebagai
Wakil Dekan I pada FKM UMI Makassar.

SIGN
9 786026 104229

View publication stats


KONSEP KESEHATAN LINGKUNGAN
PENGERTIAN KESEHATAN LINGKUNGAN

 Ilmu yang mempelajari berbagai masalah kesehatan sebagai hubungan


interaksi antara berbagai bahan, kekuatan, kehidupan, zat yang memiliki
potensi penyebab sakit yang timbul akibat adanya perubahan lingkungan
dengan masyarakt serta menerapkan upaya pencegahan gangguan
kesehatan yang ditimbulkan.
HYGIENE DAN SANITASI

Hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi


kebersihan subjeknya seperti mencuci tangan dengan air bersih dan sabun untuk
melindungi kebersihan tangan, mencuci piring untuk kebersihan piring, membuang
bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan
(Depkes RI, 2004).
Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan
lingkungan dari subyeknya. Misalnya menyediakan air yang bersih untuk keperluan
mencuci tangan, menyediakan tempat sampah untuk mewadahi sampah agar tidak
dibuang sembarangan (Depkes RI, 2004).
TUJUAN KESLING

 1. Melakukan korelasi, memperkecil terjadinya bahaya dari lingkungan


terhadapa kesehatan serta kesejahteraan hidup manusia.
 2. Untuk pencegahan, dengan cara mengefisienkan pengaturan berbagai
sumber lingkungan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hidup
manusia serta untuk mencegah dari bahaya penyakit
PENYEDIAAN AIR BERSIH

 Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum
adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung
diminum. Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
 a. Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
 b. Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan
(maks 500 mg/l)
 c. Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)
PEMBUANGAN KOTORAN DAN HEWAN

 Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat berikut ini :
 a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
 b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur
 c. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
 d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
 e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi
seminimal mungkin
 f. Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
 g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
RUMAH SEHAT

 Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup,
terhindar dari kebisingan yang mengganggu
b. Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota
keluarga dan penghuni rumah
c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni rumah dengan penyediaan
air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus,
kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan
minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup
d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar
maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak
mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.
PEMBUANGAN SAMPAH

Teknik pengelolaan sampah yang baik dan benar harus memperhatikan faktor-faktor /unsur, berikut :
a. Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan
kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan
teknologi
b. Penyimpanan sampah
c. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali
d. Pengangkutan
e. Pembuangan
Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan urgensinya masing-
masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.
SANITASI MAKANAN DAN MINUMAN

Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin
makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga,
rumah makan/restoran, dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi :
a. Persyaratan lokasi dan bangunan
b. Persyaratan fasilitas sanitasi
c. Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan
d. Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi
e. Persyaratan pengolahan makanan
f. Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
g. Persyaratan peralatan yang digunakan
h. Pencemaran Lingkungan
POLUSI UDARA

 Polusi udara adalah Ketidakseimbangan kondisi udara yang disebabkan oleh


partikel kimia, biologis, maupun fisik merupakan tanda dari pencemaran udara
 Penggulangan
 1. gunakan angkutan umum
 2. hemat energi
 3. pahami dan praktek reduce , reuse, recycle
 4. gunakan sumber energi ramah lingkungan
 5. gunakan perangkat listrik/teknologi hemat energi
SANITASI TEMPAT UMUM

Sanitasi tempat umum adalah : suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari
1. Water supply
2. Solid waste disposal
3. Sawage & excreta disposal
4. Food hygiene & Sanitation
5. Housing/Konstruksi bangunan
6. Vector control
7. Physical Pollution
8. Industrial Hygiene & sanitation
UNTUK MENCEGAH PENULARAN PENYAKIT DI TEMPAT-TEMPAT
UMUM PERLU DILAKUKAN PENGAWASAN TERHADAP :

 Pengawasan dan pemeriksaan faktor lingkungandari tempat-tempat umum dan


faktor manusianya sendiri yang melakukan kegiatan
 Penyuluhan terhadap masyarakat (edukasi), terutama yang menyangkut
pengertian dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang timbul
dari tempat-tempat umum.
PEMBASMIAN PENGENDALIAN VEKTOR
 Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian disebut
sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk
penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex
sp untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut
diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff
(rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk
Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan air
untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau dengan
pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.
 Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan
penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit
penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis
dari kencing yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab