Anda di halaman 1dari 9

I.

LB
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. lstilah ini secara tradisonal telah
digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair
diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air (Depkes RI, 1995, hal 6).
Berbagai krim untuk kosmetik diantaranya krim jerawat, krim pemutih, dan krim anti kerut
wajah (Bandem, 2013, hal 47).
Paparan sinar matahari membuat kulit akan lebih coklat (hiperpigmentasi) sehingga
dibutuhkan kosmetik yang dapat mengatasi hiperpigmentasi (Supriyanti, 2009, hal 1). Bahan
aktif yang dapat digunakan sebagai pencerah kulit adalah alpha arbutin. Alpha arbutin
merupakan penghambat pembentukan melanin dan digunakan dalam beberapa produk
pencerah kulit (Pertiwi D, dkk., 2020, hal 92). Alpha arbutin direkomendasikan karena
hasilnya yang cepat dan hanya memiliki sedikit efek samping seperti alergi dermatitis.
Namun arbutin tidak mudah berpenetrasi melalui barrier kulit yang hidrofobik karena sifat
hidrofiliknya yang tinggi sehingga dibutuhkan bahan tertentu seperti surfaktan dan alkohol
untuk meningkatkan sistem penghantaran senyawa arbutin lebih banyak (Won & Jin, 2014,
1775).
Praktikum kali ini dibuat sediaan krim alpha tipe A/M karena waktu kontak yang lebih
lama dan lokasi kerjanya yang ditujukan pada lapisan epidermis yang bersifat lipofilik. , serta
zat aktif yang larut dalam air akan terlindungi fase minyak. Krim memiliki keuntungan antara
lain mudah dioleskan pada kulit, mudah dicuci setelah dioleskan, dapat digunakan pada kulit
dengan luka yang basah, dan terdistribusi merata. Hal inilah yang melatarbelakangi
praktikum pada kali ini.
II. Preformulasi ZA
Alpha arbutin

Struktur kimia

(SCCS, 2016, hal 7)


Rumus molekul C12H16O7 (SCCS, 2016, hal 7)
Sinonim α-D-Glucopyranoside, 4-hydroxyphenyl, Hydroquinone O-α-D-
glucopyranoside (SCCS, 2016, hal 7)
Nama kimia α-Arbutin (SCCS, 2016, hal 7)
Berat molekul 272. 25 g/mol (SCCS, 2016, hal 7)
Pemerian Bubuk putih (SCCS, 2016, hal 7)
Kelarutan Larut dalam air (SCCS, 2016, hal 8)
Titik leleh 201±0.5℃ (SCCS, 2016, hal 8)
Inkompatibilitas -
Stabilitas Stabil pada rentang pH 3,5-6,5. Disimpan 28 hari pada 50 ° C tetap
 Panas stabil (pemulihan 100%) (SCCS, 2016, hal 8)

 Hidrolisis/oksidasi
 Cahaya

Kesimpulan : alpha arbutin merupakan bubuk putih yang larut dalam air dan stabil
pada rentang pH 3.5-6.5.
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : Asam (SCCS, 2016, hal 8)
Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : Krim
Cara sterilisasi sediaan: -
Kemasan : pot krim

III. Pendekatan Formula

No Bahan Jumlah (%) Fungsi/alasan penambahan bahan


.
1. Alpha arbutin 2% Sebagai zat aktif yang berfungsi untuk
mencerahkan kulit
2. Vaseline flavum 20% Sebagai basis krim
3. Span 80 8.4% Sebagai emulgator
4. Cetyl alkohol 5% Sebagai peningkat stabilitas
5. Tween 80 1.6% Sebagai emulgator
6. Propil paraben 0.2% Sebagai pengawet
7. Alfa tokoferol 0.05% Sebagai antioksidan
8. Aquadest Ad 100% Sebagai pelarut

IV. Preformulasi eksipien


Vaseline flavum

Fungsi Emolient, basis salep (Rowe RC, et al.,2009, hal 482)


Pemerian Kuning pucat sampai kuning, tembus cahaya, massa tidak beraturan
yang lembut, tidak berbau, dan tidak berasa (Rowe RC, et al.,2009,
hal 482)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam aseton, etanol, etanol panas atau dingin
(95%), gliserin, dan air; larut dalam benzena, karbon disulfida,
kloroform, eter, heksana, dan sebagian besar minyak tetap dan
mudah menguap (Rowe RC, et al.,2009, hal 482)
Persentase yang 10-30% (Rowe RC, et al.,2009, hal 482)
digunakan
Stabilitas Inheren stabil karena sifat komponen hidrokarbonnya yang tidak reaktif.
Jika terkena cahaya, dapat teroksidasi untuk mengubah warna petrolatum
 Panas
dan menghasilkan bau yang tidak diinginkan ( Rowe RC, et al.,2009, hal
 Hidrolisis/oksidasi 482)
 Cahaya
Inkompatibilitas Bahan inert dengan sedikit inkompbilitas (Rowe RC, et
al.,2009, hal 482)
Alasan pemilihan Sebagai basis krim
eksepien:
Cara sterilisasi: Iradiasi gamma (Rowe RC, et al.,2009, hal 482)

Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, sejuk dan


Kemasan:
kering (Rowe RC, et al.,2009, hal 482)

Span 80

Fungsi Agen dispersing; agen pengemulsi; surfaktan nonionik; solubilizing


agent; suspending agent; agen pembasah (Rowe RC, et al.,2009, hal
675)
Pemerian Cairan kental berwarna kuning dengan bau dan rasa yang khas
(Rowe RC, et al.,2009, hal 676)
Kelarutan Larut dan tersebar dalam minyak atau pelarut organik. Dalam air,
meskipun tidak terlarut, mereka umumnya dapat tersebar (Rowe RC,
et al.,2009, hal 676)
Persentase yang 1-15% (Rowe RC, et al.,2009, hal 676)
digunakan
Stabilitas Stabil dalam asam atau basa lemah (Rowe RC, et al.,2009, hal 677)
 Panas
 Hidrolisis/oksidasi
 Cahaya
Inkompatibilitas -

Alasan pemilihan Sebagai agen pengemulsi fase minyak dalam sediaan


eksepien:
Cara sterilisas i: -

Dalam wadah tertutup baik, sejuk dan kering (Rowe RC, et


Kemasan:
al.,2009, hal 677)

Cetyl alcohol

Fungsi Agen pelapis, agen pengemulsi, agen pengkaku (Rowe RC, et


al.,2009, hal 155)
Pemerian Berbentuk lilin, serpihan putih, butiran, kubus atau coran, dan
memiliki bau khas yang samar dan rasa yang hambar (Rowe RC, et
al.,2009, hal 155)
Kelarutan Larut bebas dalam etanol (95%) dan eter, praktis tidak larut dalam
air. Bercampur bila dilebur dengan lemak, cairan dan parafin padat,
dan isopropil miristat (Rowe RC, et al.,2009, hal 156)
Persentase yang 2-5% (Rowe RC, et al.,2009, hal 155)
digunakan
Stabilitas Stabil dengan adanya asam, basa, cahaya, dan udara; itu tidak menjadi
tengik (Rowe RC, et al.,2009, hal 156)
 Panas
 Hidrolisis/oksidasi
 Cahaya
Inkompatibilitas Dengan oksidator kuat (Rowe RC, et al.,2009, hal
156)
Alasan pemilihan Sebagai peningkat kestabilan
eksepien:
Cara sterilisasi: -

wadah tertutup baik, sejuk dan kering (Rowe RC, et


Kemasan:
al.,2009, hal 156)

Tween 80

Fungsi Agen dispersing; agen pengemulsi; surfaktan nonionik; solubilizing


agent; suspending agent; agen pembasah (Rowe RC, et al.,2009, hal
550)
Pemerian Cairan minyak berwarna kuning, bau khas dan rasa hangat, agak
pahit (Rowe RC, et al.,2009, hal 550)
Kelarutan Larut dalam air dan etanol; tidak larut dalam minyak mineral dan
organik (Rowe RC, et al.,2009, hal 551)
Persentase yang 1-10% (Rowe RC, et al.,2009, hal 551)
digunakan
Stabilitas Stabil dalam asam atau basa lemah; mengalami penyabunan dalam asam
atau basa kuat. Sensitif terhadap oksidasi, penyimpanan berkepanjangan
 Panas
dapat membentuk peroksida (Rowe RC, et al.,2009, hal 551)
 Hidrolisis/oksidasi
 Cahaya
Inkompatibilitas Perubahan warna yang terjadi dengan berbagai zat, terutama fenol,
tanin. Aktivitas antimikroba pengawet paraben berkurang terhadap
polisorbat (Rowe RC, et al.,2009, hal 551)
Alasan pemilihan e Sebagai campuran agen pengemulsi sediaan
ksepien:
Cara sterilisas i: -

Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, sejuk dan kering
Kemasan:
(Rowe RC, et al.,2009, hal 551)

1. Na metabisulfit

Fungsi Pengawet antimikroba; antioksidan (Rowe RC, et al.,2009, hal 654)


Pemerian bubuk garis kristal tidka berwarna, putih hingga putih krem,
memiliki bau sulfur dioksida dan rasa asam, garam(Rowe RC, et
al.,2009, hal 654.
Kelarutan Praktis tidak larut dalam eter; sangat larut dalam etanol (95%),
metanol, propanol, aseton dan air (Rowe RC, et al.,2009, hal 654).
Persentase yang dig 0.01-1.0% (Rowe RC, et al.,2009, hal 654).
unakan
Stabilitas Saat terpapar udara dan kelembapan, teroksidasi perlahan menjadi
 Panas natrium sulfat dengan hancurnya kristal. Larutan natrium
metabisulfit encer juga terurai di udara, terutama pada pemanasan.
 Hidrolisis/oksidasi (Rowe RC, et al.,2009, hal 654).
 Cahaya

Inkompatibilitas bereaksi dengan simpatomimetik dan obat lain turunan alkohol orto-
atau para-hidroksibenzil. Inkompatibel dengan kloramfenikol(Rowe
RC, et al.,2009, hal 654).
Alasan pemilihan Sebagai pengawet dengan pH 4-8
eksepien:
Cara sterilisasi: Dengan autoklaf (Rowe RC, et al.,2009, hal 654).

wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat yang


Kemasan: sejuk dan kering (Rowe RC, et al.,2009, hal 654).

Alfa tokoferol

Fungsi Antioksidan dan agen terapi (Rowe RC, et al., 2009, hal 31)
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna atau coklat kekuningan, kental dan
berminyak (Rowe RC, et al., 2009, hal 31)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air; larut bebas dalam aseton, etanol, eter, dan
minyak nabati (Rowe RC, et al., 2009, hal 32)
Persentase yang 0.001-0.05% (Rowe RC, et al., 2009, hal 31)
digunakan
Stabilitas Dioksidasi perlahan oleh oksigen atmosfer dan dengan cepat oleh garam
besi dan perak. Ester tokoferol lebih stabil terhadap oksidasi daripada
 Panas
tokoferol bebas tetapi akibatnya antioksidan kurang efektif ( Rowe RC,
 Hidrolisis/oksidasi
et al., 2009, hal 32)
 Cahaya

Inkompatibilitas Tidak cocok dengan peroksida dan ion logam, terutama besi, tembaga,
dan perak (Rowe RC, et al., 2009, hal 32)
Alasann pemilihan Sebagai antioksidan (Rowe RC, et al., 2009, hal 31)
eksepien:
Cara sterilisasi: -

Disimpan di bawah gas inert, wadah kedap udara, sejuk,


Kemasan: kering dan terlindung dari cahaya (Rowe RC, et al., 2009, hal
32)

Aquadest

Fungsi Pelarut (Rowe RC, et al., 2009, hal 337)


Peme rian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa (Rowe
RC, et al., 2009, hal 337).
Kelarutan Sedikit larut dalam etanol (95%), larut bebas dalam gliserin, larut
dalam air dengan 1:1,9 bagian, 1:1,2 bagian di 100C (Rowe RC, et
al., 2009, hal 337)
Persentase yang -
digunakan
Stabilitas Stabil dalam semua keadaan baik dingin ataupun panas (Rowe RC, et
 Panas al., 2009, hal 337)
 Hidrolisis/oksidasi
 Cahaya

Inkompatibilitas Dalam formulasi sediaan, air dapat bereaksi dengan obat dan bahan
tambahan lainnya terurai atau terhidrolisis .air juga dapat bereaksi
dengan logam alkali, kalsium dioxid dan magnesium oxid (Rowe RC, et
al., 2009, hal 337)
Alasann pemilihan Sebagai pelarut (Rowe RC, et al., 2009, hal 337)
eksepien:
Cara sterilisasi: H2O2 0,1% (Depkes RI, 1979, hal 97)
Dalam wadah tertutup (Rowe RC, et al., 2009, hal 337)
Kemasan:

V. Perhitungan

VI. Prosedur kerja

Disiapkan alat dan bahan

Ditimbang bahan-bahan yang akan digunakan

Dipanaskan tipe air (na metabisulfit, aquadest dan tween 80) diatas penangas
air sampai melebur sempurna

Dipanaskan tipe minyak (vaselin flavum, cetyl alcohol, span 80) diatas
penangas air sampai melebur sempurna

Dimasukkan fase air kedalam lumpang, lalu dimasukkan fase minyak sedikit
demi sedikit ke dalam fase air sambil digerus hingga terbentuk basis krim

Dimasukkan alpha arbutin ke basis krim yang telah terbentuk sambil diaduk
homogen kemudian didiamkan pada suhu kamar

Dimasukkan ke dalam pot krim dan diberi etiket

VII. Evaluasi sediaan


1. Uji tipe emulsi
a. Metode pengenceran
Krim yang telah dibuat dimasukkan kedalam gelas kimia kemudian diencerkan
dengan aquadest, jika emulsi tidak tercanpurkan dengan air maka emulsinya tipe
A/M. Uji ini dilakukan sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat.
b. Metode dispersi zat warna
Sediaan dimasukkan ke dalam vial, kemudian masing-masing ditetesi beberapa
tetes larutan metilen biru di atasnya. Jika warna biru segera terdispersi ke seluruh
emulsi, maka tipe emulsinya minyak dalam air (M/A), sedangkan jika warna biru tidak
terdispersi ke seluruh emulsi maka tipe emulsinya air dalam minyak (A/M) (Tahir KA,
dkk., 2017, hal 68).
c. Metode konduktivitas
Sediaan dihubungkan dengan alat konduktometer. Tes ini didasarkan prinsip
bahwa air menghantarkan aliran listrik sedangkan minyak tidak. Apabila jarumnya
bergerak maka tipe emulsinya adalah minyak dalam air (M/A). Jika sistem tidak
menghantarkan aliran listrik atau jarumnya tidak bergerak maka emulsi tersebut
bertipe air dalam minyak (A/M) (Tahir KA, dkk., 2017, hal 68).
2. Uji organoleptis
Pengamatan organoleptis yang dilakukan terhadap sediaan krim yang telah
dibuat meliputi pengamatan perubahan warna (Riski R, dkk., 2017, hal 234).
3. Uji pH
Pengukuran pH dilakukan terhadap sediaan krim yang telah dibuat dengan pH
meter. Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah krim diberi kondisi penyimpanan
dipercepat (Riski R, dkk., 2017, hal 235).
4. Uji viskositas
Pengukuran kekentalan dilakukan terhadap sediaan krim yang telah dibuat
sebelum dan setelah diberi kondisi penyimpanan dipercepat. Pengukuran kekentalan
dilakukan dengan menggunakan Viskometer Brookfield. Spindle terpilih dicelupkan
kedalam krim yang telah dibuat. Hasil viskositas krim dapat dilihat dari angka yang
ditunjukkan oleh alat (Riski R, dkk., 2017, hal 235).
5. Uji daya sebar
Pengamatan ini dilakukan sebelum dan sesudah diberi kondisi penyimpanan
dipercepat selama 10 siklus. Sebanyak 0,25 g sediaan krim diletakkan di pusat antara 2
lempeng gelas. Kemudian dicatat diameter lingkaran yang ada sebelum dan sesudah
diberi beban dari berat beban 50 g hingga 250 g selama 1 menit (Riski R, dkk., 2017, hal
235).
6. Uji daya lekat
Pengamatan ini dilakukan sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat
selama 10 siklus. Sebanyak 0,5 g sediaan diletakkan dipusat antara 2 lempeng.
Kemudian diberikan beban 250 g dan dibiarkan selama 5 menit. Setelah 5 menit beban
diangkat dan ditarik dengan beban lainnya (Riski R, dkk., 2017, hal 235).
7. Uji homogenitas
Sebanyak 1 gram krim dioleskan pada sekeping kaca transparan. Kemudian
diamati sediaan harus menunjukan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya
butiran kasar. Pengujian dilakukan dengan replikasi sebanyak tiga kali untuk masing-
masing formula (Lumentut N, dkk., 2020, hal 43).
8. Uji stabilitas sediaan
Uji stabilitas dilakukan dengan metode cycling test. Krim disimpan pada suhu ±
4oC selama 24 jam dan kemudian suhu ± 40oC selama 24 jam. Pengujian dilakukan
selama 6 siklus, dimana tiap siklus diamati perubahan fisik krim meliputi organoleptik,
homogenitas, pH, daya sebar dan daya lekat (Lumentut N, dkk., 2020, hal 43).
VIII. Daftar pustaka
Bandem, Ary Widhyasti, 2013, Analisis Pemilihan Terapi Kelainan Kulit Hiperpigmentasi,
26(2), Medicinus, 47.
Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Dirjen POM Departemen Kesehatan
RI, 97.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Dirjen POM Departemen Kesehatan
RI, 6.
Lumentut N, dkk., 2020, Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Krim Ekstrak Etanol Kulit
Buah Pisang Goroho (Musa acuminafe L.) Konsentrasi 12.5% Sebagai Tabir Surya, 9(2),
Jurnal MIPA, 43.
Pertiwi D, dkk., 2020, Pengaruh pH Terhadap Stabilitas Alpha Arbutin dalam Gel Niosom,
9(1), Majalah Farmaseutik, 92.
Riski R, dkk., 2017, FORMULASI KRIM PEMUTIH DARI FITOSOM EKSTRAK DAUN MURBEI
(Morus alba L.), 5(4), JF FIK UINAM, 234-235.
Rowe RC, et al., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi VI,
Pharmaceutical Press, 31-32., 61-62., 155-156., 337., 482., 550-551., 676-
677.
SCCS, 2016, Opinion on the Safety of the Use of α-Arbutin in Cosmetic
Products, 74, Regulatory Toxicology and Pharmacology, 7-8.
Supriyanti F, 2009, Pemanfaatan Senyawa Bioaktif Dari Ekstrak Kulit Batang Artocarpus Sp
Sebagai Inhibitor Tirosinase Pada Pigmentasi Kulit, 13(1), Jurnal Pengajaran MIPA, 1.
Tahir KA, dkk., 2017, PENGARUH KONSENTRASI PROPILEN GLIKOL TERHADAP STABILITAS
FISIK KRIM ANTIOKSIDAN FITOSOM EKSTRAK KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao
L.), 5(2), JF FIK UINAM, 68.

Won & Jin, 2014, Improvement of Arbutin Trans-Epidermal Delivery Using Radiofrequency
Microporation. 13(11), Tropical Journal of Pharmaceutical Research, 1775.

Anda mungkin juga menyukai