Anda di halaman 1dari 9

Belajar 

Pembelajaran
Diposkan pada 3 September 2015 oleh kokopriantopembelajar
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Perbedaan belajar dan pembelajaran:


Belajar – Proses individu-Perubahan
Belajar: Proses yang dilakukan individu dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti
menjadi ngerti (mengalami perubahan).
Pembelajaran- Tindak mengajar- Kesadaran belajar.
Pembelajaran : Tindak mengajar untuk menarik siswa memahami materi/inovation agar peserta
didik mau belajar.
Hakekat belajar dan pembelajaran:
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman belajar bukan suatu
hasil melainkan proses.
Belajar adalah memperoleh pengetahuan latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara
otomatis. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan.
Belajar:    –    Proses mental dan emosional.
 Penyebab perubahan pengetahuan dan perilaku.
 Mengalami sendiri, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.
 Perubahan bersifat relatif permanen.
 Perubahan akibat reaksi dan bukan karena kematangan.
Belajar bagaikan air mengalir disebuah sungai, mengalir, dinamis, penuh resiko,
menggairahkan. Kesalahan, kreativitas, potensi, dan ketakjuban mengisi tempat itu.
Pengertian belajar berdasarkan pandangan-pandangan:
1. Psikologis Klasik
Belajar adalah proses pengembangan dan latihan jiwa.

Pakar pendukung psikologis klasik : J.J. Rosseou dan Pestalzzi, Jhon Lock

2. Psikologis Daya
belajar adalah melatih daya-daya agar dapat berfungsi dengan baik.

3. Mental State
Belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat indera yang disampaikan dalam bentuk
perangsang-perangsang dari luar.

4. Behavioristik
Belajar adalah membentuk hubungan stimulus respon dengan latihan-latihan.

Pakar pendukung behavioristik :Edward Lee Thorndike, J.B Watson, Carck Hull, Edwin
Guithrie, B.F Skinner, Albert Bandura, Ivan Petrovich Pavlov, Robert Gagne.
 
5. Psikologis Kognitif
Belajar adalah proses-proses pusat otak atas struktur kognitif (fakta) dalam bentuk pemahaman
dan pemecahan masalah.

Pakar pendukung psikologis kognitif: Bruner, Piaget, David P.Ausubel

6. Gestal
Belajar adalah akibat interaksi antara individu dengan lingkungan berdasarkan keseluruhan dan
pemahaman.

Pakar pendukung pandangan psikologis gestalt: Max Wertheimer Kurt Koffka dan Wolfgang
Kohler

Dua pandangan tentang belajar:


1.Belajar dianggap sama dengan menghafal.
Karakteristik:a. Belajar berarti menambah sejumlah pengetahuan
1. Belajar berarti mengembangkan kemampuan intelektual.
2. Belajar adalah hasil bukan proses.
3. Belajar dianggap sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
pengalaman dan latihan.
Karakteristik:a. Belajar adalah aktivitas yang dirancang dan bertujuan.
1. Tujuan belajar adalah perubahan tingkah laku secara utuh.
c.Belajar bukan hanya sebagai hasil, akan tetapi juga sebagai proses pemecahan masalah.

Pembelajaran :
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusiawi, material,
fasilitas, perlengkapan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
Pembelajaran:
*Student oriented, (siswa bukan obyek, tetapi subyek belajar) Bukan diukur sejauhmana siswa
menguasai materi, tetapi sejauhmana siswa beremansipasi terhadap proses belajar.
*Berlangsung dimana saja.
*Mencapai TUJUAN TERTENTU, yaitu bukan hanya kognitif saja, tetapi juga afektif dan
psikomotorik.
Proses pembelajaran:
-Interaktif ( bersikap aktif).

-Inspiratif.

-Menyenangkan

-Menantang
-Memotivasi

Mengajar:
Mengajar bagaikan “tukang bersih sungai” agar air dapat mengalir bebas hambatan

 Mengangkat sampah, kotoran lain


 Mengeruk lumpur, pasir
 Memindahkan batu, kayu
Ketulusan hati, kesetiaan, kemesraan, kesabaran, cinta, sukacita, improvisasi, pengendalian diri
memenuhi pekerjaan itu
 
Kurikulum 2013:
Perubahan yang mempengaruhi pola pikir: proses
1.Pembelajaran disusun seimbang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan
2.Lintasan yang berbeda untuk proses pembentukan tiap kompetensi
3.Pembelajaran melalui pendekatan scientific:
– Mengamati

– Menanya

– Mencoba

– Menalar

– Mengkomunikasikan (berlaku untuk semua mapel/tema).

4. Model Pembelajaran:
–Discovery learning (Sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan
dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri).
–Project based learning (metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai
media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi (pendapat), sintesis (kesatuan),
dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar).
-Collaborative learning (pembelajaran dilakukan dengan kelmpok).
Perubahan pola pikir kurikulum 2013:
1. Guru dan Buku Teks bukan satu-satunya sumber belajar.(bisa berdasarkan pengalaman).
2. Kelas bukan satu-satunya tempat belajar.
3. Belajar dapat dari lingkungan sekitar .
4. Mengajak siswa mencari tahu, bukan diberi tahu.
5. Membuat siswa suka bertanya, bukan guru yang sering bertanya.
6. Menekankan pentingnya kolaborasi Guru dan siswa adalah rekan belajar.
7. Proses nomer satu, hasil nomer dua.
8. Teaching (mengajar) – Tutoring (les).
Standar kompetensi lulusan (SKL KURIKULUM 2013)
1.SIKAP/AFEKTIF (Krathwohl) :
-Pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial, alam sekitar, serta dunia dan peradabannya

-Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati + Mengamalkan

Taksonomi Domain Afektif (Krathwohl)


 Mengenai perasaan,
 Emosi,
 Psikologis (kurang nyata dalam sesuatu mata pelajaran)
 Perasaan murid yang suka, atau benci akan sesuatu mata pelajaran amat penting dalam
pengajaran guru.
 Guru harus memupuk perasaan suka dan minat dikalangan murid dalam mata pelajaran
yang diajarnya.
 Perasaan afektif seperti suka dan minat adalah lebih kekal dan mendalam kesannya
daripada kebolehan kognitif.
 Domain afektif ini meliputi berbagai perasaan yang menuju ke peringkat yang paling
tinggi, yaitu perwatakan.
Indikator hasil belajar (sesuai dengan TUJUAN yg ada dalam Kurikulum/SNP) AFEKTIF
DOMAIN (Taxonomi KRATHWOHL)
2. KETERAMPILAN/PSIKOMOTORIK (Dyers) :
 pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah
abstrak dan konkret
 Mengamati + Menanya + Mencoba + Menalar + Menyaji + Mencipta
Indikator hasil belajar PSIKOMOTOR DOMAIN (Taxonomi DYERS dkk)
3. PENGETAHUAN/COGNITIVE (Bloom):
 pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan berwawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
 Mengetahui + Memahami + Menerapkan + Menganalisa + Mengevaluasi +Mencipta
Indikator hasil belajar kognitif domain (Taxonomi BENJAMIN S. BLOOM)
 
Pendekatan ilmiah (scientific): Pendekatan ilmiah berarti konep dasar yang menginspirasi atau
melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah.
Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari pendekatan
pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode
ilmiah.
Pengertian Pendekatan Integratif atau terpadu adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran
bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan,
menghubungkan, atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau
terpisah-pisah.
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan
beberapa mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada
siswa.
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
1. Prinsip Perhatian dan Motivasi
Tindak PEMBELAJAR untuk menumbuhkan PERHATIAN & MOTIVASI pebelajar:

 Merancang & menyiapkan bahan ajar dengan baik


 Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yg menyenangkan
 Meyakinkan pebelajar bahwa mereka mampu dan bisa berprestasi
 Meyakinkan bahwa ilmu yg dipelajari bermanfaat
 Siswa belajar lebih banyak, jika setiap langkahnya segera diberi
penguatan (reinforcement)
Perhatian merupakan pemusatan psikis, salah satu aspek psikologis yang tertuju pada suatu
objek yang datang dari dalam dan luar diri individu. Dengan perhatian dapat digunakan untuk
meramalkan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Dalam
kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri
siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar,
sehingga diharapkan tujuan yang ada dapat tercapai.
Jenis-jenis motivasi:

1. Motivasi intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada
paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi intrinsik dalam
belajar, biasanya berhubungan dengan, ”Keinginan untuk mencapai tujuan yang terkandung di
dalam perbuatan belajar itu. Dalam belajar telah terkandung tujuan menambah pengetahuan”
2. Motivasi ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu,
apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga keadaan demikian
siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. Motivasi ekstrinsik dalam belajar, biasanya berkaitan
dengan, ”Mencari penghargaan berupa angka, hadiah dan sebagainya”.
3. Prinsip Transfer dan Retensi
Implikasi tindak PEMBELAJAR, bahwa :

 Retensi pebelajar menguat bila pebelajar mengetahui tujuan belajarnya.


 Retensi pebelajar menguat bila bahan yang diajarkan “BERMAKNA”
 Retensi sangat tergantung pada kondisi psikis dan fisik
 Transfer pengetahuan berjalan optimal jika pembelajar berhasil menciptakan situasi
kondusif sesuai dengan kebutuhan pebelajar
3. Prinsip Keaktifan
Membangun KEAKTIFAN pebelajar, adalah pekerjaan yg maha dahsyat
Implikasi tindak PEMBELAJAR :

 Memberi kesempatan dan peluang yang luas untuk berkreasi (termasuk inkuiri dan
eksperimen)
 Memberi tugas individu dan kelompok, melalui kontrol guru
 Memberikan pujian (reward) baik verbal/non verbal atas kreasi pebelajar (terutama
keberanian bertanya dan menjawab)
 Menggunakan multi metode dan multi media dalam pembelajaran
4. Keterlibatan Langsung
Hasil Penelitian : 60% hasil belajar diperoleh jika siswa terlibat langsung dalam proses belajar

Implikasi tindak PEMBELAJAR :

 Mengaktifkan peran individu/kel kecil dlm penyelesaian tugas


 Menggunakan media yg penggunaannya melibatkan pebelajar Memberikan kesempatan
pebelajar untuk bereksperimen
 Memberikan tugas praktik
5. Prinsip Pengulangan
Stephen R. Covey : Kebiasaan merupakan titik pertemuan antara PENGETAHUAN (apa yang
harus dilakukan dan mengapa), KETERAMPILAN (bagaimana melakukan )dan KEINGINAN
(mau melakukan).

Implikasi tindak PEMBELAJAR :

 Memilah pembelajaran yg berisi pesan yg butuh pengulangan


 Merancang kegiatan pengulangan
 Mengembangkan soal-soal latihan
 Kegiatan pengulangan yang bervariasi
6. Prinsip Tantangan (flow)
Milahy Csikszentmihalyi : “suatu keadaan di mana seseorang sangat terlibat dalam sebuah
kegiatan, sehingga hal-hal lain seakan tak berarti lagi (diabaikan)”
Goleman : “jika tuntutan terlalu sedikit, orang akan menjadi bosan, dan jika terlalu banyak
tuntutan mereka akan menjadi cemas”
Kurt Lewin (Field Theory/ Teori Medan):
-Siswa di dalam situasi belajar, berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis.

-Satu sisi berhadapan dengan cita-cita yang ingin dicapai, sisi lain dihadapkan pada hambatan
yaitu bahan yg harus dipelajari

Implikasi tindak PEMBELAJAR :

 Merancang dan mengelola kegiatan inquiri dan eksperimen


 Memberikan tugas pemecahan masalah
 Mendorong pebelajar membuat kesimpulan pada setiap sesi pembelajaran
 Mengembangkan bahan pelajaran yang menarik
 Membimbing untuk menemukan fakta, konsep, prinsip dan generalisasi
 Merancang dan mengelola kegiatan diskusi
7. Prinsip Balikan dan Penguatan
Sniker melalui Teori Operant Conditioning (Thorndike dalam Low of Effect)
 Hasil belajar yang baik, memberikan balikan yg menyenangkan dan berpengaruh positif
kepada proses belajar selanjutnya.
 Hasil belajar yang tidak menyenagkan (negatif) juga dapat memberikan balikan yang
memperkuat kelanjutan proses belajar berikutnya.
 Penguatan positif dan negatif dapat memperkuat belajar.
Jenis PENGUATAN yg bisa dilakukan PEMBELAJAR :
 Penguatan VERBAL
 Penguatan GESTURAL (berupa gerak tubuh/mimik muka yang memberikan arti/kesan
baik kepada peserta didik)
 Penguatan dengan cara mendekati
 Penguatan dengan cara sentuhan
 Penguatan dg cara memberikan kegiatan yang menyenangkan
 Penguatan berupa tanda atau benda (termasuk di dalamnya, komentar tertulis atas karya
peserta didik, hadiah, piagam, lencana dsb)
8. Prinsip Perbedaan Indiviual
Roy Killen, 1998 (Effective Teaching Strategies): keberagaman faktor, seperti sikap pebelajar,
kemampuan dan gaya belajar, pengetahuan serta kemampuannya dan konteks pembelajaran
merupakan komponen yang memberikan dampak yang sangat penting terhadap apa yang
sesungguhnya harus dipelajari pebelajar.
Karakteristik belajar pebelajar :
*Kelompok VISUAL : sering ditandai dengan mencoret-coret saat berbicara, lebih suka melihat
peta/gambar dari pada mendengar, berbicara dengan tepat dan to the point, dst….
*Kelomok AUDITORIAL : Suka berbicara sendiri, lebih suka mendengar ceramah/seminar
dari pada membaca buku, lebih suka berbicara dari pada menulis.
*Kelompok KINESTETIK: Berfikir lebih baik saat berjalan/bergerak, banyak bergerak saat
berbicara, sulit untuk duduk dan diam.
Implementasi PEMBELAJAR :
 Pebelajar harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya untuk
selanjutnya mendapatkan perlakuan dan layanan kegiatan belajar yg mereka butuhkan.
 Pebelajar harus terus didorong untuk mampu memahami potensi dirinya dan untuk
selanjutnya mampu merencanakan dan melaksanakan kegiatan
 Pebelajar membutuhkan variasi layanan, tugas, bahan dan metode yang selaras dengan
minat, tujuan, dan latar belakang mereka.
 Pebelajar harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya serta
pemenuhan kebutuhan belajar maupun bimbingan yang berbeda dengan peserta didik lainnya.
 Pebelajar yang telah mengetahui/memahami kekuatan dirinya, cenderung memiliki
motivasi belajar yg lebih tinggi
PRINSIP PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013
Sesuai dengan STANDAR KOMPETENSI LULUSAN dan STANDAR ISI, maka prinsip
pembelajaran yang digunakan:

1.  Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu; pembelajaran mendorong siswa
menjadi pembelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak berusaha untuk meberitahu siswa
karena itu materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk final. Pada awal pembelajaran guru
membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu fenomena atau fakta lalu mereka
merumuskan ketidaktahuannya dalam bentuk pertanyaan. Jika biasanya kegiatan pembelajaran
dimulai dengan penyampaian informasi dari guru sebagai sumber belajar, maka dalam
pelaksanaan kurikulum 2013 kegiatan inti dimulai dengan siswa mengamati fenomena atau fakta
tertentu. Oleh karena itu guru selalu memulai dengan menyajikan alat bantu pembelajaran untuk
mengembangkan rasa ingin tahu siswa dan dengan alat bantu itu guru membangkitkan rasa ingin
tahu siswa dengan bertanya.
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka
sumber; pembelajaran berbasis sistem lingkungan. Dalam kegiatan pembelajaran membuka
peluang kepada siswa  sumber belajar seperti informasi dari buku siswa,  internet, koran,
majalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada metode proyek, pemecahan
masalah, atau inkuiri siswa dapat memanfaatkan sumber belajar di luar kelas. Dianjurkan pula
untuk materi tertentu siswa memanfaatkan sumber belajar di sekitar lingkungan masyarakat.
Tentu dengan pendekatan ini pembelajaran tidak cukup dengan pelaksanaan tatap muka dalam
kelas.
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan
pendekatan ilmiah; pergeseran ini membuat guru tidak hanya menggunakan sumber belajar
tertulis sebagai satu-satunya sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa hanya dalam bentuk
teks. Hasil belajar dapat diperluas dalam bentuk teks, disain program, mind maping, gambar,
diagram, tabel, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mempraktikan sesuatu yang dapat
dilihat dari lisannya, tulisannya, geraknya, atau karyanya.
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis
kompetensi; pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar, tetapi dari aktivitas dalam
proses belajar. Yang dikembangkan dan dinilai adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; mata pelajaran dalam
pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi komponen sistem yang terpadu. Semua materi
pelajaran perlu diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi lulusan.
Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama, menentukan karya siswa
bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata pelajaran bersama-sama, agar
beban belajar siswa dapat diatur sehingga tugas yang banyak, aktivitas yang banyak, serta
penggunaan waktu yang banyak tidak menjadi beban belajar berlebih yang kontraproduktif
terhadap perkembangan siswa.
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran
dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; di sini siswa belajar menerima kebenaran
tidak tunggul. Siswa melihat awan yang sama di sebuah kabupaten. Mereka akan melihatnya dari
tempatnya berpijak. Jika ada sejumlah siswa yang melukiskan awan pada jam yang sama dari
tempat yangberjauhan, mereka akan melukiskannya berbeda-beda, semua benar tentang awan
itu, benar menjadi beragam.
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; pada waktu lalu
pembelajaran berlangsung ceramah. Segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk lisan guru, fakta
disajikan dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus lihat faktanya, gambarnya,
videonya, diagaramnya, teksnya yang membuat siswa melihat, meraba, merasa dengan panca
indranya. Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar, namun dengan menggunakan panca
indra lainnya.
8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan
keterampilan mental (softskills); hasil belajar pada rapot tidak hanya melaporkan angka dalam
bentuk pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi menyangku perkembangan sikapnya dan
keterampilannya. Keterampilan yang dimaksud bisa keterampilan membacan, menulis, berbicara,
mendengar yang mencerminkan keterampilan berpikirnya. Keterampilan bisa juga dalam bentuk
aktivitas dalam menghasilkan karya, sampai pada keterampilan berkomunikasi yang santun,
keterampilan menghargai pendapat dan yang lainnya.
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan  dan pemberdayaan siswa
sebagai pembelajar sepanjang hayat; ini memerlukan guru untuk mengembangkan
pembiasaan sejak dini untuk melaksanakan norma yang baik sesuai dengan budaya masyarakat
setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa perlu mengembangkan kecakapan berpikir,
bertindak, berbudi sebagai bangsa, bahkan memiliki kemampuan untuk menyesusaikan dengan
dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global. Kebiasaan membaca, menulis,
menggunakan teknologi, bicara yang santun  merupakan aktivitas yang tidak hanya diperlukan
dalam budaya lokal, namun bermanfaat untuk berkompetisi dalam ruang lingkup global.
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing
ngarso sung tulodo),  membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan
mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); di sini
guru perlu menempatkan diri sebagai fasilitator yang dapat menjadi teladan, meberi contoh
bagaimana hidup selalu belajar, hidup patuh menjalankan agama dan prilaku baik lain. Guru di
depan jadi teladan, di tengah siswa menjadi teman belajar, di belakang selalu mendorong
semangat siswa tumbuh mengembangkan pontensi dirinya secara optimal.
11. Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; karena itu
pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak dan memanfaatkan
ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya memanfaatkan waktu dalam kelas.
12. Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah
siswa, dan di mana saja adalah kelas. Prinsip ini menadakan bahwa ruang belajar siswa tidak
hanya dibatasi dengan dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar adalah kelas besar
untuk siswa belajar. Lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang sangat ideal untuk
mengembangkan kompetensi siswa. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya dapat
mengembangkan sistem yang terbuka.
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (tIK) untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran; di sini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa
untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum memiliki kapasitas yang mumpuni siswa dapat
belajar dari siapa pun. Yang paling penting mereka harus dapat menguasai TIK sebabab
mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan menghadapi tantangan
dalam hidupnya menjadi pengguna TIK. Jika sekolah tidak memfasilitasi pasti daya kompetisi
siswa akan jomplang daripada  siswa yang memeroleh pelajaran menggunakannya.
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa; cita-cita,
latar belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara
berpikir, keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat perbedaan
itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang
memiliki unsur keragaman. Hargai semua siswa, kembangkan kolaborasi, dan biarkan siswa
tumbuh menurut potensinya masing-masing dalam kolobarasi kelompoknya.

Beri Nilai