Anda di halaman 1dari 6

KONSEP RETARDASI MENTAL

DIPOSTING OLEH EKOBLOGSPOTDI 12.163 KOMENTAR

Konsep Retardasi Mental Menurut (Kaplan Sadock and Grebb, 2010)


a.      Definisi retardasi mental
The American Association of Mental deficiency (AAMD) dan Dianostic and Statistical
Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSM - IV) mendefinisikan retardasi mental sebagai
fungsi intelektual keseluruhan yang secara bermakna di bawah rata – rata yang menyebabkan
atau berhubungan dengan gangguan pada perilaku adaptif dan bermanifestasi selama periode
perkembangan yaitu, sebelum usia 18 tahun.  Fungsi intelektual keseluruhan ditentukan dengan
menggunakan tes kecerdasan yang dibakukan, dan istilah “secara bermakna di bawah rata – rata”
didefinisikan sebagai nilai kecerdasan IQ kira – kira 70 atau lebih rendah atau dua simpangan
baku di bawah rata – rata untuk tes tertentu. untuk tes tertentu.
1.      Klasifikasi retardasi mental
Retardasi mental ringan (DSM – IV )
IQ 50 – 70 dinilai “mampu didik”. Mereka biasanya dikenali saat masuk sekolah (dan diberikan
tes) dan membutuhkan pendidikan khusus. Merupakan 85% dari jumlah penderita retardasi
mental (tetapi ini adalah kelompok yang menurun dan jelas saat dewasa). Kebanyakan dapat
membantu diri sendiri, dengan bantuan, walaupun mereka mempunyai pertimbangan, sensitivitas
sosial, dan tilikan yang terbatas.
2.      Retardasi mental sedang (DSM-IV)
IQ 35 – 50 merupakan 10% dari seluruh jumlah penderita retardasi mental. Biasanya sudah
dikenali saat tahun – tahun prasekolah. Meraka dinilia (Mampu dilatih) dapat mempelajari
ketrampilan kerja yang sederhana, dapat membaca setingkat kelas 2 sekolah dasar dan berbicara
sederhana, dan dapat  secara sebagian membantu diri sendiri di dalam lingkungan panti. Mereka
cenderung terlihat kikuk dan tidak terkoordinasi.
3.      Retardasi mental berat (DSM-VI)
20 – 35 3% - 4% dari seluruh jumlah penderita retardasi mental. Mereka termasuk
penderita retardasi yang dependen : mampu berbicara yang paling sederhana, tetapi
membutuhkan suatu institusi atau pengasuhan suportif yang intens. Sering ditemukan
malinformasi dan cacat fisik yang berat.
4.      Retardasi mental sangat berat (DSM-IV)
IQ di bawah 20 merupakan 1% dari seluruh jumlah penderita retardasi mental. Mereka
bergantung secara total kepada orang lain dan biasanya mempunyai kerusakan neurologi yang
bermakna, tidak dapat berjalan atau berbicara.
b.      Etiologi retardasi mental
Penyebab yang khas (biasanya biologik) diidentifikasikan pada kurang dari 50 %,
sebagian besar terdapat pada pasien dengan retardasi mental sedang-sangat berat. Penyebab lain
termasuk faktor – faktor lingkungan (misal, problem pranatal dan perinatal, penyakit pada masa
bayi, penelantaran psikososial, malnutrisi), dengan suatu keterlibatan poligeni yang belum jelas
pada beberapa kasus. Retardasi sedang – sangat berat tersebar secara merata dan sama pada
semua lapisan sosial, sedangkan retardasi mental ringan (biasanya dari etiologi sosiokultural)
dianggap suatu gangguan yang bersifat familial (genetik atau lingkungan) resiko terdapatnya
retardasi mental pada seorang anak dengan orangtua dan saudara kandung yang adalah kurang
dari 2%, sedangkan jika kedua orangtua dan saudara kandungnya menderita retardasi mental
resikonya menjadi sebesar 40%-70%
1.      Penyebab Biologis meliputi :
a)      Kelainan kromosomal – banyak jenis termasuk sindrom down trisomi 21 merupakan kelainan
yang terbanyak yang lazim terdapat pada ibu – ibu dengan usia yang lebih tua 10%-16% dari
jumlah penderita retardasi mental sebagian besar menderita penyakit Alzheimer pada usia sekitar
30-an atau 40-an)
b)      Pewarisan faktor genetik yang dominan – Neurofibromatosis (penyakit Von Recklinghausen),
khorea Huntington (dengan awitan masa kanak), sindrom Sturge – weber, tuberous sclerosis.
c)      Gangguan metabolik – Fenilketonuria (PKU) (deteksi dini sangat penting), penyakit Hartup,
intoleransi fruktosa, galaktosemia, penyakit wilson, sejenis gangguan lipid, hipotiroidisme,
hipoglikemia.
d)     Gangguan pranatal – Rubela materna (terutama pada trimester pertama), sifilis, toksoplasmosis,
atau herpes simpleks, penyalahgunaan alkohol pada ibu (sindrom fetal alkohol) dan penggunaan
beberapa obat (misal, talidomid), toksemia pada kehamilan, eritoblastosis fetalis, malnutrisi pada
ibu.
e)      Trauma kelahiran – proses kelahiran yang sulit dengan trauma fisik atau anoksia, prematuritas.
f)       Trauma otak – tumor, infeksi (terutama ensefalitis, menigitis, neonatal), kecelakaan, toksin
(misal, plumbun, merkuri) hidrosefalus, bermacam – macam jenis kelainan kranial.
2.      Penyebab sosial menyebabkan sebagian besar retardasi mental ringan dan meliputi tingkat
pendidikan yang di bawah standard, deprivasi lingkungan, penelantaran dan kekerasan pada
masa kanak, dan aktivitas yang terhambat. Singkirkan gangguan pekembangan pervasif,
demensia, dan skizofrenia residual.
d.      Diagnosis retardasi mental
Diagnosis sendiri tidak menyebutkan penyebab atau prognosisnya. Suatu riwayat penyakit
dan wawancara psikiatrik adalah berguna untuk mendapatkan gambaran longitudinal
perkembangan dan fungsi dunia anak, dan pemeriksaan stigma fisik, kelainan neurologis, dan tes
laburatorium dapat digunakan untuk memastikan penyebab dan prognosis.
1.      Riwayat penyakit
Riwayat penyakit paling sering didapatkan dari orang tua atau pengasuh, dengan perhatian
khusus pada ibu kehamilan ibu, persalinan, dan kelhitan dan adanya riwayat keluarga retardasi
mental.
2.      Wawancara Psikiatrik.
Dua faktor memiliki kepentingan yang sangat tinggi jika mewawancarai pasien sikap
pewawancara dan cara berkomunikasi dengan pasien. Pewancara tidak boleh diatur oleh usia
mental pasien, seakan – akan tidak dapat sepeuhnya mengkarakterisasi orang. Kemampuan
verbal pasien termasuk data reseftif dan ekspresif, harus di nilai sesegera mungkin  dengan
mengobservasi komunikasi verbal dan nonverbal antara pengasuh dan pasien dan dari riwayat
penyakit.
3.      Pemeriksaan fisik
Berbagai bagian tubuh mungkin memiliki karakteristik tertentu yang sering ditemukan pada
orang retardasi mental memiliki penyebab prenatal. Tanda – tanda fasial tersebut adalah
hipetelorisme, tulang hidung yang datar, alis mata yang menonjol, lipatan epikantus, opasitas
kornea, perubahan retina, telinga yang letaknya lebih rendah atau bentuknya aneh, lidah yang
menonjol, dan gangguan gigi geligi. Ekspresi wajah, seperti penampilan dungu, mungkin
menyesatkan dan tidak boleh diandalkan tanpa bukti – bukti yang mendukung lainya.
4.      Pemeriksaan neurologis
Gangguan sensorik sering terjadi pada orang retardasi mental, sebagai contoh, sampai 10 persen
orang retardasi mental mengalami gangguan pendengaran pada suatu tingkat yang empat kali
lebih tinggi dibandingkan popilasi normal. Jika ditemukan abnormalitas neurologis, insidensi dan
keparahanya biasanya meningkat dalam proporsi dengan derajat retardasi mental.
5.      Pemeriksaan pendengaran dan pembicaraan
Pemeriksaan pendengaran dan pembicaraan harus dilakukan secara rutin.perkembangan bicara
mungkin merupakan kriteria yang paling dapat di percaya dalam memeriksa retardasi mental.
Berbagai gangguan pendengaran sering kali ditemukan pada orang retardasi mental.
6.      Pemeriksaan Psikologis
Tes psikologi, dilakukan oleh ahli psikologi yang berpengalaman, adalah bagian retardasi
mental.  Untuk anak – anak Stanford Binet dan Wechsler Intelligence Scale for Children
Revised. Adalah tes yang paling sering digunakan di Indonesia.
7.      Gambaran klinis
a)      Retardasi Mental Ringan
Retardasi mental ringan mungkin tidak terdiagnosis sampai anak yang terkena memasuki
sekolah, karena keterampilan sosial dan komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun – tahun
prasekolah. Walaupun demikian orang teretardai mental ringan mampu dalam fungsi akademik
pada tingkat pendidikan dasar dan keterampilan kejuruanya memadai untuk membantu dirinya
sendiri.
b)      Retardasi Mental Sedang
Retardasi mental sedang kemungkinan didiagnosis pada usia yang lebih muda dibandingkan
retardasi mental ringan karena keterampilan komuniksi berkembang lebih lambat pada orang
retardasi mental sedang, dan isolasi sosial dirinya mungkin dimulai pada tahun – tahun usia
sekolah dasar.
c)      Retardasi Mental Berat
Retardasi mental berat biasanya jelas pada tahun – tahun prasekolah, karena biacara pada anak
retardasi mental berat terbatas dan perkembangan motoriknya buruk.
d)     Retardasi mental sangat berat.
Anak – anak dengan retardasi mental sangat berat memerlukan pengawasan yang terus –
menerus dan sangat terbatas dalam keterampilan komunikasi motorikna.
e.       Terapi retardasi mental
Terapi yang terbaik untuk retardasi mental adalah pencegahan primer, sekunder dan tersier
1.      Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan atau
merupakan kondisi yang menyebabkan perkembangan  gangguan yang disertai dengan retardasi
mental. Tindakan tersebut termasuk :
a)      Pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat umum tentang retardasi
mental.
b)      Usaha terus menerus dari profesional bidang kesehatan untuk menjaga dan memperbaruhi
kebijaksanaan kesadaran masyarakat.
c)      Aturan untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal dan anak yang optimal.
d)     Eradikasi gangguan yang diketahui disertai dengan kerusakan sistem saraf pusat.
2.      Pencegahan sekunder dan tersier
Pencegahan sekunder dan tersier meliputi :

a)      Pendidikan untuk anak


Lingkungan pendidikan untuk anak  - anak retardasi mental harus termasuk program yang
lengkap yang menjawab latihan keterampilan adaptif, latihan keterampilan sosial, dan latihan
kejuruan.
b)      Terapi perilaku , kognitif, dan psikodinamika.
Terapi perilaku telah digunakan selama bertahun – tahun untuk membentuk dan meningkatkan
perilaku sosial, untuk mengendalikan serat menekan perilaku agresif dan destruktif pasien.
Terapi kognitif seperti menghilangkan keyakinan palsu dan latihan relaksasi dengan instruksi
dari diri sendiri, juga telah dianjurkan untuk pasien retardasi mental yang mampu mengikut
instruksi. Terapi psikodinamika telah digunakan pada pasien retardasi mental  dan keluarganya
untuk menurunkan konflik tentang harapan yang menyebabkan kecemasan, kekerasan, dan
depresi yang menetap.
c)      Pendidikan Keluarga
Pendidikan keluarga dengan pasien retardase mental tentang cara meningkatkan  kompetensi dan
harga diri sambil mempertahankan harapan yang realistik untuk pasien. Keluarga sering kali
merasa kemandirian dan memberikan lingkungan yang mangasuh dan suportif bagi anak
retardasi mental, yang kemungkinan mengalami suatu tingkat
d)     Intervensi farmakologis
Beberapa penelitian telah memusatkan perhatian pada pemakaian medikasi untuk sindrom
perilaku berikut ini yang sering terjadi diantara retardasi mental :
1)      Agresi dan perilaku melukai diri sendiri.
Beberapa bukti penelitian terkendali dan tidak terkendali telah menyatakan bahwa lithium
(Eskalith) berguna dalam menurunkan agresi dan perilaku melukai diri sendiri. Antagonis
narkotik seperti naltrexone (Trexan) menurunkan perilaku melukai diri sendiri pada retardsi
mental degan diagnostik untuk gangguan autistik infantil. Carbama zepine (Tegretol) dan
valproic acid (depakene) adalah medikasi yang juga bermanfaat pada beberapa kasus perilaku
melukai diri sendiri.
2)      Gerakan motorik streotipik
Madikasi antipsikotik, seperti haloperidol (haldol) dan chlorpromazine (Thorazine), menurunkan
perilaku mulasi diri yang berulang pada pasien retardasi mental.
3)      Perilaku kemarahan eksplosif
Penghambat – β, seperti propranolol dan buspirone (BuSpar), telah dilaporkan menyababkan
penurunan kemarahan eksplosif di antara pasien dengan retardasi mental dan gangguan autistik.
4)      Gangguan defisit – atensi/hiperaktifitas
Penelitian terapi methylphenidate pada pasien teretardasi mental dengan gangguan defisit –
atensi/hiperaktifitas telah menunjukan perbaikan.

Beri Nilai