Anda di halaman 1dari 15

DIAGNOSTIK

KESULITAN BELAJAR(
DKB)
1 JANUARI 2017 / HENDRAWANSYAHPTA

A. Pengertian Kesulitan Belajar


Kesulitan belajar adalah suatu kondisi yang menimbulkan hambatan dalam proses
belajar seseorang. Hambatan itu menyebabkan orang tersebut mengalami kegagalan
atau setidak-tidaknya kurang berhasil dalam mencapai tujuan belajar. Dari pengertian
kesulitan belajar di atas jelaslah bahwa salah satu hal yang bisa dijadikan kriteria
untuk menentukan apakah seseorang mengalami kesulitan belajar adalah sampai
sejauh mana ia terhambat dalam mencapai tujuan belajar.

Sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tujuan belajar mempunyai tingkat-tingkat


tertentu yang harus dicapai dalam priode (waktu) tertentu pula. Karena itu, untuk
menentukan apakah seorang siswa atau mahasiswa mengalami kesulitan belajar atau
tidak, diperlukan suatu tindakan khusus yang disebut diagnosis kesulitanbelajar.

Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu usaha yang dilakukan untuk menentukan
apakah seorang siswa mengalami kesulitan belajar atau tidak dengan cara melihat
indikasi-indikasi sebagai berikut.

1. Nilai mata pelajaran di bawah sedang. Indikasi inimerupakan indikasi yang


paling mudah dilihat danpaling umum dipakai oleh siswa atau
mahasiswa,pengajar dan orang tua. Jika seorang siswa ataumahasiswa sering
mendapat nilai di bawah enam, atau di bawah nilai C (cukup), dapatlah
dikatakan bahwa siswa atau mahasiswa tersebut mengalami kesulitan belajar.
2. Nilai yang diperoleh siswa atau mahasiswa sering di bawah nilai rata-rata kelas.
Indikasi ini dapat juga menunjukkan bahwa seorang siswa atau mahasiswa.
mengalami kesulitan belajar. Indikasi ini sebenarnya tidak berlaku mutlak. Di
sekolah-sekolah favorit tempat berkumpulnya siswa-siswa pandai, mungkin
saja nilai rata-rata kelas mencapai nilai 6,7. Siswa yang mendapat nilai 6,4
belum bisa dipastikan mengalami kesulitan belajar, karena walaupun berada di
bawah rata-rata kelas, nilai tersebut masih berada di atas sedang (di atas nilai
6).
3. Prestasi yang dicapai tidak seimbang dengan tingkat intelegensi yang dimiliki.
Misalnya saja seorang siswa atau mahasiswa yang prestasi belajarnya sedang
sedang saja, tetapi mempunyai tingkat intelegensi di atas rata-rata. Siswa atau
mahasiswa seperti ini dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar.
4. Perasaan siswa atau mahasiswa yang bersangkutan. Misalnya seorang siswa
atau mahasiswa yang memang merasa mengalami kesulitan belajar,
mengungkapkan kesulitan belajarnya itu kepada pengajarnya, orang tuanya,
guru, konselor, psikolog, dan sebagainya.
5. Kondisi kepribadian siswa atau mahasiswa yang bersangkutan. Seorang siswa
atau mahasiswa dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar jika dalam proses
belajar mengajar siswa atau mahasiswa tersebut menunjukkan gejala-gejala
tidak tenang tidak betah diam, tidak bisa berkonsentrasi, tidak bersemangat,
apatis, dan sebagainya.
Sesudah seorang siswa atau mahasiswa dipastikan mengalami kesulitan belajar,
tindakan selanjutnyaadalah melakukan usaha mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan belajar bukanlah suatu usaha yang sederhana.
Hal ini sesuai dengan yang telah diuraikan pada Bab II bahwa keberhasilan belajar itu
ditentukan oleh banyak faktor yang berarti bahwa kesulitan belajar itu pun dapat
disebabkan banyak faktor pula.

B. Kedudukan Diagnosis Kesulitan Belajar Dalam Pembelajaran


Sistem penilaian berbasis kompetensi yang direncanakan dalam kurikulum KTSP
adalah sistem penilaian yang bekelanjutan dan sistem penilaian akhir (Dirjen
Dikdasmen dalam Sukmara, 2007:174). Dalam sistem berkelanjutan, seluruh indikator
dibuat soalnya, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar
yang telah dikuasai dan yang belum dikuasai, serta kesulitan-kesulitan yang dialami
siswa. Hasil analisis ujian digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan berupa
program remedial. Apabila sebagian besar siswa belum menguasai suatu kompetensi
dasar, maka dilakukan lagi proses pembelajaran, sedang yang telah menguasai
kompetensi dasar tertentu diberi tugas untuk pengayaan.

Menurut Sukmara (2007 : 175) sistem penilaian berkelanjutan, dicirikan dengan


adanya tindak lanjut dari hasil pengujian, yakni :

1. Remedial, diperuntukan siswa yang belum mencapai batas ketuntasan minimal


2. Pengayaan, untuk siswa yang telah mencapai ketuntasan minimal.
3. Percepatan, yakni bagi siswa yang telah mencapai ketuntasan maksimum.
Demikian juga, evaluasi sebagai salah satu komponen proses kegiatan belajar
mengajar dalam kurikulum merupakan umpan balik dalam kegiatan belajar mengajar,
salah satu fungsi evaluasi dipergunakan untuk pelaksanaan program pengajaran
remedial bila tujuan program pengajaran tidak tercapai.

Dengan melihat uraian di atas maka pengajaran remedial atau remedial


teachingmemegang peranan, khususnya dalam rangka mencapai hasil belajar yang
optimal. Pengajaran remedial merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara
keseluruhan dan merupakan bagian program yang tak terpisahkan dari program
pembelajaran. Oleh karena itu, menurut Ahmadi & Supriyono (2004:150), pengajaran
remedial perlu dikuasai setidak-tidaknya dikenal oleh guru mata pelajaran maupun
guru BK di setiap satuan pendidikan.

C. Faktor-faktor Kesulitan Belajar


Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya
kinjerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat
dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) siswa seperti kesukaan
berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk
sekolah, dan sering kabur dari sekolah. secara garis besar, factor-faktor penyebab
timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam.

1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang berasal dari
dalam diri sendiri.
2. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar
diri siswa.
Kedua faktor ini meliputi aneka ragam hal dan keadaan yang antara lain tersebut di
bawah ini.

 Faktor Intern Siswa


Faktor intern siswa meliputi gangguan dan kekurangmampuan psikofisik siswa, yakni:

 Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas
intelektual atau inteligensi siswa;
 Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
 Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-
alat indera penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).
 Faktor Ekstern Siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak
mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat dibagi tiga macam, yaitu:
 Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah
dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga;
 Lingkungan perkampuan atau masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan
kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
 Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang
burukseperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas
rendah.
Selain faktor-faktor yang bersifat umum diatas, ada pula faktor-faktor lain yang juga
menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang
sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability
(ketidakmampuan belajar). Sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai
indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan
belajar itu.

1. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca.


2. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis.
3. Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.
Akan tetapi, siswa yang mengalami sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya
memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan
diatas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang mengalami sindrom-
sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu
gangguan ringan pada otak (Lask, 1985: Reber, 1988).

 D. Langkah-langkah Mengatasi Kesulitan Belajar


Berikut adalah langkah-langkah untuk mengatasi kesulitan belajar:

1. Lakukan diagnosis kesulitan belajar untuk menentukan apakah seorang siswa


atau mahasiswa mengalami kesulitan belajar atau tidak. Untuk dapat menentu
kannya gunakan indikasi-indikasi sebagaimana yang telah diuraikan di atas.
2. Pahamilah kembali faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
keberhasilan belajar. Selanjutnyalakukan analisis terhadap siswa atau
mahasiswa tersebut untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yangkiranya
menjadi sumber kesulitan belajarnya. Mungkin kesulitan itu bersumber kepada
faktor internal, atau mungkin juga bersumber pada faktor eksternal. Kesulitan
belajar yang bersumber pada faktor internal, terutama pada faktor psikologis,
biasanya memerlukan suatu penanganan khusus yangmungkin saja memerlukan
bantuan orang lain yang ahli dalam bidangnya.
3. Setelah sumber latar belakang dan penyebab kesulitan belajar siswa atau
mahasiswa tersebut dapat diketahui dengan tepat, selanjutnya tentukan pula
jenis bimbingan atau bantuan yang perlu diberikankepadanya.
4. Sesuai dengan jenis kesulitan belajar yang dialami siswa atau mahasiswa dan
jenis bimbingan yang perlu diberikan kepadanya, tentukan pula kepada siapa
kiranya ia perlu berkonsultasi. Mungkin ia perluberkonsultasi dengan guru atau
dosen bidang studi tertentu, konselor, psikolog, atau psikiater.
5. Setelah semua langkah untuk rmengatasikesulitanbelajar dilaksanakan dengan
baik, lakukan evaluasiuntuk mengetahui sejauh mana kesulitan belajarsiswa
atau mahasiswa tersebut telah dapat diatasi. Evaluasi tersebut hendaknya
dilakukan secarakontinu sampai kesulitan belajar siswa atau mahasiswa
tersebut telah benar-benar dapat diatasi dengantuntas, dan telah menunjukkan
kesembuhan yangpermanen.
6. Apabila evaluasi yang dilakukan menunjukkan bahwakesulitan belajar siswa
atau mahasiswa tersebuttelah dapat diatasi, tindakan selanjutnya
adalahmelakukan perbaikan untuk meningkatkan prestasibelajarnya, sesuai
dengan potensi yang ada padadirinya. Proses perbaikan atau peningkatan
prestasiini pun memerlukan evaluasi yang kontinu.
Demikianlah garis besar langkah-langkah yang dapatdilakukan untuk mengatasi
kesulitan belajar. Memangtindakan untuk mengatasi kesulitan belajar ini adakalanya
bukan merupakan hal yang mudah. Karena itusekali lagi perlu kami anjurkan agar
semua faktor yangdapat mempengaruhi keberhasilan belajar benar-benardipahami.
Pemahaman terhadap semua faktor yangmempengaruhi keberhasilanbelajar tersebut
merupakanhal yang sangat penting untuk dapat mengetahui secaratepat penyebab dan
latar belakang dari kesulitan belajaryang dialami oleh seorang siswa atau mahasiswa.

 E. Pengertian Remedial


Remedial merupakan suatu treatmen atau bantuan untuk mengatasi kesulitan belajar.
Berikut adalah beberapa program asesmen yang bisa dijalankan atau dijadikan acuan
dalam melakukan pengajaran remedial. Yang antara lain dalam bidang berhitung,
membaca pemahaman dan menulis.Remediasi mempunyai padanan remediation
dalam bahasa Inggris. Kata ini berakar kata ‘toremedy’ yang bermakna
menyembuhkan. Remediasi merujuk pada proes penyembuahan. Remedial merupakan
kata sifat. Karena itu dalam bahasa Inggris selalu bersama dengan kata benda,
misalnya ‘remedial work’, yaitu pekerjaan penyembuhan, ‘remeial teaching’ –
pengajaran penyembuhan. Dsb. Di Indonesia, istilah ‘remedial’ sering ditulis berdiri
sendiri sebagai kata benda. Mestinya dituliskan menjadi pengajaran remeial, atau
kegiatan remedial dsb. Dalam bagian ini istilah remediasi dan remedial digunakan
bersama-sama, yang merujuk pada suatu proses membantu siswa mengatasi kesulitan
belajar terutama mengatasi miskonsepsimiskonsepsi yang dimiliki.

Dalam random House Webster’s College Dictionary (1991), remediasi diartikan


sebagai intended to improve poor skill in specified field. Remediasi adalah kegiatan
yang dilaksanakan untuk membetulkan kekeliruan yang dilakukan siswa. Kalau
dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran, kegiatan remediasi dapat diartikan sebagai
suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang
kurang berhasil. Kekurangberhasilan pembelajaran ini biasanya ditunjukkan oleh
ketidakberhasilan siswa dalam menguasai kompetensi yang diharapkan dalam
pembelajaran.

Tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu siswa yang


mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang telah ditentukan agar mencapai
hasil belajar yang lebih baik. Secara umum tujuan kegiatan remdiasi adalah sama
dengan pembelajaran pada umumnya yakni memperbaiki miskonsepsi siswa sehingga
siswa dapat mncapai kompetensi yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang
berlaku. Secara khusus kegiatan remediasi bertujuan membantu siswa yang belum
tuntas menguasai kompetensi ditetapkan melalui kegiatan pembelajaran tambahan.
Melalui kegiatan remediasi siswa dibantu untuk mengatasi kesulitan belajar yang
dihadapinya.

 F. Prosedur Kegiatan Pembelajaran Remedial


Untuk lebih jelasnya, di sini akan diuraikan secara singkat langkah-langkah atau
prosedur kegiatan pembelajaran remedial yang dikemukakan oleh Julaeha (2007),
yaitu:

1. Analisis hasil diagnosis


Diagnosis kesulitan belajar merupakan proses memeriksa siswa yang mengalami
kesulitan belajar. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara menganalisis nilai/hasil
evaluasi atau uji kompetensi yang telah dilakukan. Dari hasil analisis ini akan
diketahui siapa diantara siswa yang belum menguasai kompetensi yang telah
ditetapkan. Tentu saja siswa tersebut tidak harus mengalami kesulitan yang sama.
masing-masing siswa bisa saja mengalami kesulitan belajar yang berbeda-beda.
Dalam hal ini guru sudah mendapat gambaran dari masing-masnig siswa dengan
kesulian yang dialaminya.

2. Menemukan penyebab kesulitan


Sebelum merancang kegiatan remedial, guru harus telah mengetahui penyebab
kesulitan yang dialami siswa. Perlu diingat bahwa kesulitan sama yang dialami
masing-masing siswa bisa disebabkan oleh faktor yang berbeda. Selain faktor yang
berasal dari diri siswa, faktor penyebab kesulitan lain yang sangat mungkin adalah
dari guru sendiri. Dalam hal ini guru perlu melakukan refleksi dan introspeksi diri
dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran. Dengan mengetahui penyebab
kesulitan yang dialami siswa secara pasti maka guru akan dengan mudah
merencanakan kegiatan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam
menguasai pelajaran secara tepat.

3. Menyusun rencana kegiatan remedial


Langkah selanjutnya yang dilakukan guru setelah mengetahui siapa siswa yang
memerlukan bantuan, kompetensi mana yang belum dikuasai siswa, dan penyebab
kesulitan adalah menyusun rencana pembelajaran remedial. Komponennya sama
seperti pada rencana pelaksanaan pembelajaran biasai, yaitu; merumuskan
kompetensi/tujuan pembelajaran; menentukan materi pelajaran sesuai dengan tujuan
yang telah dirumuskan; memilih metode penyampaian sesuai dengan karakteristik
siswa; merencanakan waktu yang diperlukan untuk menyampaikan materi pelajaran;
menentukan jenis, prosedur, dan alat penilaian untuk mengetahui tingkat keberhasilan
siswa.

4. Melaksanakan kegiatan remedial


Langkah selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah
disusun. Kapan dilaksanakan? Biasanya di luar jam belajar biasa dan sedapat mungkin
laksanakanlah kegiatan remedial sesegera mungkin begitu rencana telah selesai
disiapkan. Karena semakin cepat bantuan diberikan kepada siswa maka semakin besar
kemungkinan siswa akan terbantu dan berhasil dalam belajarnya.

5. Menilai kegiatan remedial (evaluasi)


Penilaian dapat dilakukan dengan mengkaji kemajuan siswa. Apabila kemajuan yang
ditunjukkan siswa sesuai dengan yang diharapkan maka kegiatan yang dilaksanakan
sudah cukup efektif. Tetapi apabila siswa tidak mengalami kemajuan atau tidak
mencapai kompetensi yang diharapkan maka kegiatan yang dilaksanakan tidak efektif.
Singkatnya, kegiatan penilaian ini sebenarnya bertujuan untuk mengetahui keefektifan
kegiatan yang telah dilaksanakan. Jika dari hasil evaluasi kegiatan remedial ternyata
siswa masih belum bisa mencapai kompetensi yang diharapkan, maka guru harus
mengulang merencanakan kegiatan remedial kembali. Kalau di sekolah tempatku
bertugas disepakati hanya sebanyak dua kali saja kegiatan pembelajaran remedial
dilaksanakan. Kalau mau yang ketiga, guru sudah diberikan uang lelah atau dalam
bahasa yang lebih jelas jika remedialnya ketiga dan seterusnya sudah dihitung les
tambahan.

G. Pendekatan Dan Metode Dalam Pengajaran Remedial


1. Pendekatan yang Bersifat Kuratif
Pendekatan ini diadakan mengingat kenyataannya ada seseorang atau sejumlah siswa,
bahkan mungkin seluruh anggota kelompok belajar tidak mampu menyelesaikan
program secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan dalam proses belajar
mengajar. Program dalam proses itu dapat diartikan untuk setiap pertemuan, unit
pelajaran, atau satuan waktu tertentu. Untuk mencapai sasaran pencapaian dapat
menggunakan pendekatan:

  a. Pengulangan
Pengulangan ini dapat dilakukan dengan berbagai tingkatan sesuai dengan
diagnostiknya, yaitu:

1. Pada setiap akhir pertemuan.


2. Pada setiap akhir unit pelajaran tertentu.
3. Pada akhir setiap satuan program studi.
Pelaksanaannya dapat secara:

1. Individual kalau ternyata yang mengalami


2. Kelompok kalau ternyata sejumlah siswa dalam bidang studi tertentu
mempunyai jenis/sifat kesalahan atau kesulitan bersama.
Waktu dan cara pelaksanaannya:

 Bila kelas mengalami kesulitan pertemuan kelas biasa berikutnya.


 Bahan dipresentasikan kembali.
 Diadakan latihan/penugasan/soal bentuknya sejenis.
 Diadakan pengukuran kembali untuk mendeteksi peningkatan ke arah kriteria
keberhasilan.
 Diadakan di luar jam pertemuan biasa.
 Diadakan jam pelajaran tambahan bila yang mengalami kesulitan hanya
sejumlah orang tertentu istirahat, dan sebagainya).
 Diberikan pekerjaan rumah dan di korekso oleh gurunya sendiri.
 Diadakan kelas remedial (kelas khusus)
 Bagi siswa yang mengalami kesulitan khusus dengan bimbingan khusus.
 Diadakan pengulangan secara total kalau ternyata jauh di bawah kriteria
keberhasilan minimal.
b. Pengayaan/pengukuhan.
Layanan ini dikenakan pada siswa yang kelemahannya ringan dan secara akademik
mungkin termasuk berbakat dengan cara:

 Pemberian tugas/pekerjaan rumah.


 Pemberian tugas/soal dikerjakan di kelas.
Layanan ini ditujukan kepada siswa yang berbakat menunjukkan kesulitan psikososial
(ego emosional).
 Bila ternyata keseluruhan bidang studi unggul dibandingkan kelompoknya
dapat dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi.
 Bila hanya beberapa bidang studi untuk bidang ini dapat diteruskan (maju
berkelanjutan/continous program).
2. Pendekatan yang Bersifat Preventif
Pendekatan ini ditujukan kepada siswa tertentu yang berdasarkan informasi
diprediksikan atau diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu
program studi tertentu yang akan ditempuhnya. Prediksi itu dikategorikan menjadi
tiga, yaitu:

 Bagi yang termasuk kategori normal mampu menyelesaikan program belajar


mengajar biasa sesuai dengan waktu yang disediakan
 Bagi mereka yang diperkirakan terlambat atau tidak menyelesaikan program
dengan layanan batas waktu yang ditetapkan. Berdasarkan prediksi tersebut
maka layanan pengajaran perbaikan dapat dalam bentuk:
 Bentuk kelompok belajar homogen
 Bentuk individual
 Bentuk kelompok dengan kelas remedial
3. Pendekatan yang Bersifat Pengembangan
Pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar
berlangsung (during teaching diagnostic).

Sasaran pokok dari pendekatan ini ialah agar siswa dapat mengatasi hambatan-
hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama proses belajar
mengajar berlangsung. Karena itu diperlukan peranan bimbingan dan penyuluhan agar
tujuan pengajaran telah dirumuskan berhasil.

H. Metode dalam Pengajaran Perbaikan (Remedial)


Metode yang digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu yang dilaksanakan dalam
keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai
dengan tindak lanjut.

Metode yang dapat digunakan, yaitu:

1. Tanya jawab.
Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan
sifat kesulitannya.

Dalam rangka perbaikan serangkaian tanya jawab dapat membantu siswa dalam:
 memahami dirinya;
 mengetahui kelebihan/kekurangannya;
 memperbaiki cara-cara belajar.
Tanya jawab dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Kebaikan
metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu memungkinkan terbinanya
hubungan guru-siswa.

 meningkatkan motivasi belajar


 merupakan kondisi yang menunjang pelaksanaan penyuluhan
 rasa harga diri.
2. diskusi

Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar individu dalam kelompok
untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh kelompok siswa.Kebaikan ini
dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu sebagai berikut.

 Setiap individu dalam kelompok dapat mengenal diri dan kesulitannya dan
menemukan jalan pemecahannya.
 Interaksi dalam kelompok menumbuhkan sikap mempercayai.
 Mengembangkan kerja sama antar-pribadi.
 Menumbuhkan kepercayaan diri.
 Menumbuhkan rasa tanggung jawab.
3. Metode diskusi
Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan dalam rangka
pemberian bantuan.Dengan pemberian tugas-tugas tertentu baik secara individual
maupun secara kelompok siswa yang mengalami kesulitan dapat ditolong.Dengan
metode ini siswa dapat diharapkan:

 Lebih memahami dirinya;


 Dapat memperluas/memperdalam materi yang dipelajari.
 Dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.
4. Kerja kelompok.
Metode ini hampir bersamaan dengan metode pemberian tugas dan metode diskusi.
Yang penting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi
perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar karena:

 Adanya pengaruh anggota kelompok yang cakap dan berpengalaman.


 Kehidupan kelompok dapat meningkatkan minat belajar.
 Kehidupan kelompok memupuk tanggung jawab, saling memahami diri.
5. Metode tutor
Tutor adalah siswa yang sebaya yang ditunjuk temannya yang kesulitan belajar,
karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru
siswa.Dengan petunjuk-petunjuk dari guru tutor ini membantu temannya yang
mengalami kesulitan.Pemilihan tutor ini didasarkan atas prestasi, punya hubungan
sosial baik dan cukup disenangi oleh teman-temannya.Tutor berperan sebagai
pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.Dengan tutor ini ada
kebaikannya, yaitu sebagai berikut:

 Adanya hubungan yang lebih dekat dan akrab.


 Tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi
belajar.
 Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.
6. Pengajaran individual.
Pengajaran individual adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam
proses belajar mengajar. Pendekatan metode ini bersifat individual sesuai dengan
kesulitan yang dihadapi siswa. Materi yang diberikan mungkin pengulangan, mungkin
materi baru dan mungkin pengayaan apa yang telah dimiliki siswa.

Pengajaran individual ini bersifat teraputik, artinya mempunyai penyembuhan dengan


cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Untuk melaksanakan pengajaran individual
ini guru dituntut memiliki kemampuan membimbing dan rela, bertanggung jawab,
bersikap sabar, ulet, menerima dan memahami, dan sebagainya.Hasil yang diharapkan
dalam pengajaran ini di samping adanya perubahan prestasi belajar juga perubahan
dalam pemahaman diri siswa.

I. Prosedur Pelaksanaan Remedial Teaching


Remedial teaching yang merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat
dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut.

 Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan kegiatan


berikutnya. Tujuan penelitian kembali kasus ini adalah agar memperoleh
gambaran yang jelas mengenai kasus tersebut, serta cara dan kemungkinan
pemecahannya. Berdasarkan atas penelitian kasus akan dapat ditentukan murid-
murid yang perlu mendapatkan remedial teaching. Kemudian ditentukan
besarnya kelemahan yang dialami dan dalam bidang studi apa saja mengalami
kelemahan.
Selanjutnya meneliti dalam domain apa mengalami kesulitan apa-kah kognitifnya
seperti hafalan, pemahaman ataukah aplikasinya: efektif seperti penganggapan, sikap
maupun penghargaan, ataukah psikomotornya: keterampilan, kemampuan ekspresinya
dan lain-lainnya.

Dalam langkah pertama ini juga dibahas mengenai faktor-faktor penyebab kesulitan
murid, baik yang berasal dari diri sendiri maupun yang berasal dari luar dirinya. Yang
berasal dari dalam diri misalnya:

 tingkat kecerdasannya;
 motivasi untuk berprestasi;
 sikap dalam belajar,
 kebiasaan belajar,
 penguasaan pengetahuan dasar.
Sedang penyebab yang berasal dari luar:

 Keterbatasan sumber belajar


 Kecocokannya dengan program yang diambil
 Kurang tepat cara mengajar;
 Fasilitas yang terbatas,
 Kurang serasi hubungan guru dan murid
 Pengaruh lingkungan terhadap belajar;
 Tuntutan dari lembaga (program) yang terlalu tinggi dan
lain-lain.
 Menentukan tindakan yang harus dilakukan. Dalam langkah ini sebagai
kelanjutan langkah pertama di atas dilakukan usaha. Usaha untuk menentukan
karakteristik kasus yang ditangani tersebut. Apakah kasus tersebut termasuk
klasifikasi berat, cukup atau ringan. Kasus yang cukup bila murid telah mampu
menemukan pola belajar tetapi belum dapat berhasil karena ada hambatan
psikologis.
Kasus yang ringan bila murid belum menemukan cara belajar yang baik. Kasus yang
berat adalah di samping belum memiliki cara belajar yang baik juga memiliki
hambatan emosional.

Setelah karakteristik harus ditentukan, maka tindakan pemecahan perlu dipikirkan,


yaitu sebagai berikut.

1. Kalau kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan remedial


teaching.
2. Kalau kasusnya cukup dan berat, maka sebelum diberikan remedial teaching
harus diberi layanan konseling lebih dahulu, yaitu untuk mengatasi hambatan-
hambatan emosional yang mempengaruhi cara belajarnya.
Berdasarkan atas karakteristik kasus tersebut, maka pada tahap kedua ini dalah
membuat keputusan tentang cara mana yang harus dipilih di antara a atau b tersebut.

Untuk itu beberapa pertimbangan yang dapat dipakai dalam mengambil keputusan
adalah sebagai berikut.

1. Faktor efektivitas, yaitu ketepatan tercapainya tujuan remedial teaching.


2. Faktor efisiensi, yaitu sedikitnya tenaga, bea, dan yang dipergunakan namun
hasilnya seoptimal mungkin.
3. Faktor kesusilaan dengan jenis masalah, sifat individu, fasilitas dan kesempatan
yang tersedia. Berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan tersebut, dan
memperhatikan masalah etika dan moral, maka langkah ke-2 dilakukan.
 Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling. Tujuan layanan
khusus bimbingan penyuluhan ini adalah usahakan agar murid yang menjadi
kasus itu terbatas dari hambatan mental emosional (ketegangan batin), sehingga
kemudian siap menghadapi kegiatan belajar secara wajar. Dalam hal ini
konselor ang oleh BP atau psikolog ataupun ahli dalam bidangnya. Atau dapat
juga bentuk konseling di sini adalah psikoterapi yang dilakukan oleh ahlinya
(psikiater). Tetapi ada kalanya kasus ini dapat dilakukan oleh guru sendiri bila
masalah yang dihadapi ada sebagai berikut.
1. Kasus yang mempunyai latar belakang kurang motivasi dan minat belajar.
Dalam hal ini cara yang ditempuh adalah berikut ini.
2. Menghindarkan anak dari pernyataan-pertanyaan yang negatif yang dapat
melemahkan semangat belajar.
3. Menciptakan suasana kompetitif yang sehat.
4. Memberikan dorongan agar lebih berhasil dalam belajar pada waktu-waktu
berikutnya.
5. Memberikan hukuman bila terjadi kealpaan secara bijaksana dan adil.
6. Memberi pujian secara wajar.
7. Kasus yang mempunyai latar belakang sikap negatif terhadap guru. Untuk ini
langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
8. Menciptakan hubungan yang hangat antara guru dengan murid dan murid
dengan murid.
9. Menciptakan iklim sosial yang sehat dalam kelas.
10.Memberikan pengalaman yang menyenangkan.
11.Kasus yang mempunyai latar belakang kebiasaan belajar yang salah. Dalam hal
ini cara yang dapat dilakukan adalah berikut ini:
12.Menunjukkan akibat dari kebiasaan belajar yang salah.
13.Memberikan kesempatan berlatih dengan pola pola belajar yang baru.
14.Kasus yang berlatar belakang ketidakcocokan antara keadaan pribadi dengan
lingkungannya dan programnya. Untuk ini dapat diberikan saran:
15.Memberi bimbingan informasi dalam memilih program dan cara belajar.
16.Pengenalan dengan memberikan wawasan tentang program yang ditempuh.
Mengenai berhasil tidaknya layanan pada langkah ke-3 ini beberapa indikator dapat
dipakai, yaitu berikut ini.

1. Menunjukkan minat untuk mencari pemecahan masalah


2. Menunjukkan kesediaan kerja sama dengan petugas-petugas BP
3. Adanya sikap terbuka karena ketegangan mulai berkurang.
4. Mulai menyadari masalahnya secara realistis.
5. Menunjukkan sikap yang positif dalam memilih langkah pemecahan
berikutnya.
6. Menunjukkan kesediaan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan
 Langkah pelaksanaan remedial teaching. Setelah terciptanya pra-kondisi seperti
pada langkah (c), maka kemudian dapat dilakukan remedial teaching
(pengajaran perbaikan). Sasaran pokok pada langkah ini adalah peningkatan
prestasi maupun kemampuan menyesuaikan diri sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan sebelumnya oleh guru.
 Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar. Dengan pelaksanaan
remedial teaching, maka dilakukan pengukuran terhadap perubahan pada diri
murid yang bersangkutan. Apakah dia sudah dapat mencapai apa yang telah
direncanakan dalam kegiatan remedial teaching atau belum. Untuk mengetahui
hal itu dilakukan pengukuran terhadap prestasinya kembali dengan alat tes
sumatif seperti yang dipergunakan pada proses belajar mengajar yang
sesungguhnya.
 Melakukan re-evalusi dan re-diagnostik. Hasil pengukuran yang dilakukan
pada langkah ke-5 kemudian ditafsirkan dengan membandingkan dengan
kriteria seperti pada proses belajar mengajar yang sesungguhnya. Adapun hasil
penafsiran itu dapat terjadi 3 kemungkinan, yaitu ini:
1. Kasus menunjukkan kenaikan prestasi yang dihasilkan sesuai dengan kriteria
yang diharapkan.
2. Kasus menunjukkan kenaikan prestasi, namun belum memenuhi kriteria yang
diharapkan.
3. Kasus belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam hal prestasi.
Sebagai tindak lanjut dari langkah remedial teaching adalah adanya 3 kemungkinan:

1. Bagi kasus yang berhasil, maka selanjutnya diteruskan ke program berikutnya.


2. Bagi kasus yang belum berhasil sepenuhnya diserahkan pada pembimbing
untuk diadakan pengayaan lagi.
3. Bagi yang belum berhasil, perlu didiagnosis untuk mengetahui letak kelemahan
remedial teaching untuk selanjutnya diadakan ulangan dengan alternatif yang
sama.
 
Referensi
www.rifalnurkholiq.com/2013/06/makalah-diagnostik-kesulitan-belajar.html
www.yuninuraeniyna.blogspot.co.id/2015/06/konsep-dasar-diagnostik-kesulitan.html
www.inihisyam.wordpress.com/2015/06/15/konsep-dasar-pengajaran-remedial-
definisi-prosedur-strategi-dan-teknik-dan-evaluasi-pengajaran-remedial/
www.muhammadkhoirulroziqin.blogspot.co.id/2013/04/konsep-dasar-pengajaran-
remedial.html
www.gurukelas.com/2012/04/prosedur-kegiatan-pembelajaran-remedial.html
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2013. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Hakim Thursan. 2005. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Pustaka Pembangunan
Swadaya Nusantara.

Beri Nilai