Anda di halaman 1dari 12

VITAMIN A DALAM PENCEGAHAN XEROPHTHALMIA

Sejak jaman dahulu, para ahli kesehatan Mesir dan Yunani telah mengerti bahwa nilai
penyembuhan dari hati yang merupakan sumber vitamin A adalah untuk buta senja yang merupakan
manifestasi awal dari kekurangan vitamin A. Sejak tahun 1920 telah diketahui hubungan vitamin A
dengan pertumbuhan, Xerophthalmia, diferensiasi dari jaringan normal dan resistensi dari suatu
penyakit.
Vitamin A adalah suatu istilah nutrisi yang menjelaskan famili dari senyawa larut lemak
esensial yang secara struktur dan aktivitas berkaitan dengan retinol. Kita tidak langsung mendapatkan
bentuk vitamin A dari makanan, tetapi tubuh mensintesis vitamin A dari bentuk lain vitamin A yang
kita dapat dari diet seperti Retnyl Ester atau carotenoid atau beta karotin. Makanan sumber vitamin A
adalah hati, sayuran hijau dan jingga, telur, dan produk susu. Vitamin A paling banyak ditemukan di
hati dan minyak ikan.
Metabolisme perubahan dari retinyl ester atau provitamin A menjadi vitamin A (retinol) terjadi
di hati lalu diedarkan ke organ – organ melalui suatu carrier. Di mata vitamin A membentuk pigmen
penglihatan sehingga mencegah buta senja (xerophthalmia). Vitamin A dibutuhkan dalam
pertumbuhan normal dan proliferasi berbagai jenis sel epitel yang berbeda dalam tubuh. Makalah ini
membatasi pembahasan hanya pada metabolisme Vitamin A dalam tubuh dan pembentukan pigmen
penglihatan di mata.

Skema reaksi perubahan retinyl ester dan carotenoid

1
METABOLISME

Skema Metabolisme Retinyl Ester

Provitamin A yang dimakan awalnya diproses di dalam usus halus. Nilai absorpsi dari vitamin
A adalah 70 – 90 % dari seluruh provitamin A yang kita makan dan penyerapan akan tetap tinggi
sesuai dengna jumlah provitamin A yang kita konsumsi. Lebih dari 90% retinol memasuki tubuh
dalam bentuk retynil ester (RE) yang diangkut oleh kilomikron. Kilomikron di plasma lalu diangkut ke
dalam hati yang berperan sebagai pusat pembersihan dan penyimpanan vitamin A. Hati merupakan
tempat utama dimana terjadi oxidasi retinoid dan katabolisme, juga bertanggung jawab terhadap
pengaturan sekresi retinol terikat RBP (Retinol Binding Protein). Jaringan target dari retinol ini adalah
semua jaringan yang dapat memetabolisme lebih lanjut retinoid tersebut seperti usus halus, ginjal,
kulit, mata dan jaringan lainnya.
Di lumen usus halus, vitamin A dicerna sebagai retinyl esters, retinol, atau karotenoid lalu
diikuti penyerapan molekul ini oleh sel penyerapan usus. Vitamin A bersatu dengan lipid yang baru
diserap menjadi kilomikron untuk keperluan transpor melalui pembuluh limfe dan plasma menuju ke
hati. Beberapa siklus hidrolisis dan reesterifikasi terjadi dalam metabolisme vitamin A di usus, hati,
dan jaringan lain.
Retinol yang dimakan harus dilepaskan dari bahan makanan dengan cara dicerna, kemudian
diemulsi dengan asam empedu dan lipid sebelum diabsorpsi.

2
Proses awal kilomikron yang mengangkut vitamin A. Kilomikron trigliserid pertama
dimetabolisme di perifer melalui kerja lipoprotein lipase, membentuk kilomikron remnant yang akan
masuk ke dalam hepatosit (sel hepar) melalui receptor-mediated endocytosis.
Enzim REH (Retinyl Ester Hidrolase) membran plasma akan berfungsi, baik yang di
permukaan hepatosit maupun di vesikel dalam sel, untuk menghidrolisis retinyl ester (RE) yang baru
diabsorpsi menjadi retinol. Ketika status vitamin A kita adekuat, diperkirakan 50-85% retinol yang
berada di dalam tubuh tersimpan di dalam hati, dan lebih dari 90%-nya dalam bentuk retinyl ester
(RE). RE yang tersimpan di hati akan dihidrolisis menjadi retinol oleh Retinyl Ester Hidrolase dan
akan berikatan dengan retinol binding protein (RBP) yang akan dilepas ke sirkulasi. Hubungan antara
TTR (Transthyretin, prealbumin yang mengkat retinol) dengan RBP menstabilisasi ikatan retinol
dengan RBP.
Retinol yang berikatan tadi akan disebarkan ke jaringan tubuh. Mekanisme masuknya retinol
ke dalam jaringan masih belum pasti, ada 2 kemungkinan mekanisme: (a) RBP berikatan dengan
reseptor di membran plasma di sel target lalu memfasilitasi pengambilan retinol. (b) retinol lepas dari
RBP menjadi retinol bebas lalu masuk ke dalam jaringan dengan berdifusi.

MEKANISME VITAMIN A DALAM PERANGSANGAN SEL BATANG

Vitamin A diperlukan mata dalam dua bentuk, yaitu :


1. 11-cis retinal, berfungsi dalam mekansme transduksi sinar ke dalam syaraf yang pentng untuk
penglihatan.
2. Asam retinoat, berfungsi untuk conjunctiva, kornea, dan struktur okular lainnya untuk
mencegah xerophthalmia.

Terdapat dua sel fotoreseptor pada retina yaitu :


1. Sel Batang (Rod), yang berfungsi khusus untuk deteksi gerak dan penglihatan dalam gelap
2. Sel Kerucut (cone), yang berfungsi untuk melihat warna dalam terang. Sel kerucut dibagi
menjad sel cone sensitif merah, hijau, dan biru.

3
Unit absorpsi-cahaya terdiri dari 11-cis-retinal terikat protein yang disebut opsin. Sel Batang dan
kerucut memiliki opsin yang berbeda sesuai spesialisasinya pada struktur membran disk Opsin pada
sel batang dinamakan rodopsin dan sel pada kerucut dinamakan iodopsin.

Gambar Sel Batang dan Kerucut

Gambar regenerasi 11-cis-retinal dar RPE ke sel fotoreseptor

4
Untuk terjadinya siklus penglihatan 11-cis–retinal harus diregenerasi, dalam vertebrata, proses ini
melalui sistem termal, bukan proses yang dikatalisis oleh cahaya (‘dark reactions’). Proses regenerasi
tersebut terjadi di sel fotoreseptor , tetapi 11-cis retinal didapatkan dari epitel pigmen retina / Retinal
Pigment Epithelium (RPE) keduanya dipisahkan oleh ruangan interfotoreseptor. Perubahan dari retinol
ke 11-cis retinal jaga membutuhkan suatu proses. Proses yang terjadi di RPE ini dikatalisis oleh
berbagai enzim. Awalnya retinol yang terikat RBP dari plasma masuk ke RPE . Retinol dalam RPE
berubah menjadi bentuk all-trans-Retinol. All-trans-retinol lalu diesterifikasi melalui reaksi oleh
Lecithin Retinol Acyl Transferase (LRAT) yang membentuk pool retinyl ester yang bila diperlukan
dihidrolsis dan di isomerisasi menjadi bentuk 11-cis-retinol . Lalu 11-cis-retinol diesterifikasi oleh
LRAT atau di oksidasi oleh 11-cis-retinol dehidrogenase menjadi 11-cis-retinal yang akan ditransport
ke sel fotoreseptor dan diubah menjadi rodopsin bila terkena rangsang cahaya. Pergerakan retinol
dalam ruang interfotoreseptor menggunakan suatu carrier yang dinamakan IRBP (Interstitial Retinol
Binding Protein). Perlu diperhatikan bahwa walaupun simpanan RE di RPE dapat dikatakan sangat
sedikit bila dibandingkan dengan cadangan dalam tubuh tetapi , pool ini menyediakan sumber vitamin
A konsentrasi tinggi yang digunakan untuk membentuk 11-cis-retinal bila diperlukan.
Telah diketahui sebelumnya bahwa sel batang mempunyai protein bernama rodopsin yang
merupakan pigmen peka cahaya. Bila rodopsin sudah mengabsorpsi energi cahaya, maka rodopsin
akan segera terurai dalam waktu sepertrilyun detik. Penyebabnya adalah fotoaktivasi elektron pada
bagian retinal dari rodopsin , yang menyebabkan perubahan segera dari bentuk cis menjadi bentuk all-
trans, yang tetap mempunyai struktur kimiawi yang sama dengan bentuk cis namun struktur fisiknya
bebeda, yaitu lebih merupakan molekul lurus daripada molekul melengkung. Oleh karena orientasi
tiga dmensi dar tempat reaksi retnal all-trans tidak lagi cocok dengan tempat protein skotopsin. Produk
yang segera terbentuk adalah batorodopsin, yang merupakan senyawa yang tidak stabil dan dalam
waktu sekian nanodetk akan berubah menjadi lumirodopsin. Lumirodopsin akan berubah menjad
metarodopsin I dalam waktu beberapa mikrodetik. Dalam satu milidetik akan menjadi metarodopsin
II, biasa disebut sebagai rodopsin teraktivasi, yang merangsang perubahan elektrik dalam sel batang
yang kemudian menjalarkan bayangan visual ke sistem syaraf pusat . Walaupun dalam perangsangan
energi termal dari cahaya perubahan dari rodopsin ke rodopsin teraktivasi hanya membutuhkan
waktu beberapa detik tapi regenerasi rodopsin dari 11-cis retinal membutuhkan waktu beberapa
menit, sehingga dapat dimengerti mengapa ketika kita berada di tempat gelap setelah dari tempat
terang kita membutuhkan waktu beberapa menit beradaptasi untuk mengenal bentuk suatu benda.

5
energi
cahaya
Rodopsin Batorodopsin
(p det) (n det)

Lumirodopsin
(μ det)

(menit)
Metarodopsin I
(m det)

Metarodopsin II
(det)

Skotopsin

Isomerase
II-cis-Retinal all-trans-Retinal

Isomerase
II-cis-Retinol all-trans-Retinol
(Vitamin A)

Bagan Penguraian Rodopsin

Pada keadaan gelap atau tidak teraktivasi, rodopsin memiliki sistem pengaliran Natrium keluar
dari segmen dalam membran (inner membrane), dan alirannya kembali masuk melalui segmen luar
membran sel batang (outer membrane) melalui saluran Natrium yang terbuka pada segmen luar sel
batang, sehingga aliran natrium ini terus menerus keluar masuk sel batang, dan dengan demikian akan
menetralkan seluruh negativitas dalam seluruh sel batang. Namun ketika keadaannya terang dan terjadi
penguraian rhodopsin, terjadi juga penurunan konduktansi natrium ke dalam sel batang, yang
disebabkan tertutupnya saluran saluran natrium dalam bagian segmen luar sel batang, karena itu,

6
terjadi peningkatan kenegatifitasan dalam sel, karena jumlah natrium yan keluar lebih banyak
daripada yang kembali masuk. Hal ini juga akan mengakibatkan peningkatan derajat polarisasi, dan
penurunan potensial membrannya hingga mendekati -70 hingga -80 miliVolt, yang merupakan
potensial keseimbangan agar ion kalium dapat masuk dan melewati membran.
Sistem fotokimiawi pada sel batang ini memiliki sifat yang istimewa, karena dalam keadaan
yang sangat gelap, jumlah cahaya yang ada untuk merangsang fotoreseptor mata jumlahnya sangat
kecil, namun sistem fotoreseptor dalam sel batang memiliki sistem amflifikasi yang sangat efektif,
sehingga 30 unit foton (unit kuantal terkecil dari energi cahaya) saja sudah dapat menimbulkan
saturasi pada sebagian sel sel batang karena sistem fotoreseptor ini memiliki serangkaian sifat kimiawi
yang sangat sensitif yang memperkuat efek perangsangan sekitar sejuta kali.

Rangkaian perangsangan dan amplifikasi sensitive foton ini antara lain:

1. Foton mengaktivasi elektronpada bagian 11-cis retinal dari rodopsin; yang kemudian
aktif dan terbentuk metarodopsin II ( Rodopsin yang telah teraktivasi )
2. Rodopsin yang telah teraktivasi ini berguna sebagai enzim yang berguna untuk
mengaktivasi banyak molekul trandusi, yaitu protein yang terdapat pada membran
lempeng optik dan membran sel batang.
3. Trandusin teraktivasi akan mengaktivasi banyak sekali molekul
fosfodiesterase(FDE)
4. molekul FDE yang teraktivasi kemudian akan menghidrolisis banyak sekali molekul
cGMP(siklik Guanosin Monophosphat).cGMP ini awalnya berikatan dengan protein
penyangga saluran natrium, sehingga ketika cGMP terhidrolisis oleh FDE pada
keadaan terang, maka ratusan saluran natrium menjadi tertutup.Akibatnya aliran
natrium yang masuk menjadi terhambat dan menurun jumlahnya, sedangkan
pengeluaran natrium dari dalam sel batang masih berlangsung, yang mengakibatkan
negativitas meningkat dalam sel batang seperti yang telah dijelaskan diatas

7
Gambar Rangkaian perangsangan dan amplifikasi sensitive foton dalam sel batang

XEROPHTHALMIA

Sebelum tahun 1970 Indonesia dijuluki sebagai ‘Home of Xerophthalmia’ karena Indonesia
merupakan negara yang angka penderita xerophthalmianya tinggi. Dari survey xerophthalmia nasional
didapatkan bahwa dari 23 propinsi prevalensi dari X1B adalah sekitar 1 % dimana angka masalah
kesehatan masyarakat menurut WHO adalah > 0.5 %. Dan 15 provinsi teridentifikasi mempunyai
masalah kesehatan masyarakat dalam hal defisensi vitamin A. Konsekuensi dari defisiensi vitamin A
dapat mempengaruhi konjunctiva, kornea dan retina.
Berbagai tipe sel di retina, kornea, dan epitel conjunctiva mengandung beberapa Cellular
Retinoid Binding Protein (CRBP) dan Nuclear Retinoid Receptor yang keberadaannya menunjukkan
bahwa struktur sel tersebut tergantung adanya asam retinoat seperti pada sel epitel pada jaringan yang
lain. Struktur integritas dari kornea , jaringan avascular, tergantung dari pengiriman vitamin A lewat
air mata. Kelenjar air mata dapat mensintesa dan mensekresikan RBP, yang sangat penting dalam
melarutkan retinol pada air mata.

8
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan kekurangan asam retinoat sehingga akan terjadi
kerkeringan membran konjunctiva dan kornea (xerosis) dan terbentuknya bintik Bitot’s (Bitot’s Spot)
yaitu deposit dari sel dan bakteri di kuadrant luar dari mata yang berbentuk busa. Perubahan ini
bersifat reversibel dengan vitamin A. Bila defisiensi vitamin A berkelanjutanmaka kornea akan
menjadi lunak (keratomalacia) dan menjadi ulkus, dan berlanjut ke kebutaan yang sifatnya
irreversibel.

Secara berurutan gejala xerophthalmia dapat digambarkan sebagai berikut :

Salah satu fungsi vitamin A adalah diferensiasi selular, pada defisiensi vitamn A sel epitel
menjadi menipis , membesar dan berkurang dalam jumlah atau bahkan hilang. Perubahan pada
konjunctiva ini merupakan reaksi pertama sebelum gejala lainnya terjadi.
Gejala selanjutnya adalah kekeringan mata (xerosis) yang mengenai struktur epitel dari
seluruh bagian mata, terutama konjunctiva dan konea. Bitot’s spot adalah gejala akhir yang mengenai
konjunctiva bulbar. Sisi temporal yang pertama terkena dan bitot’s spot banyak ditemukan di daeah
itu, lalu menjalar ke sisi nasal. Bila pemberian vitamin A tidak tidak responsive dapat dismpulkan
bahwa Bitot’s spot tersebut bukan karena defisiens vitamin A. Xerophthalmia yang sudah terdapat
gejala Bitot’s Spot mempunyai istilah XIB.
Proses Xerosis lalu menyebar ke kornea dikenal dengan istilah Xerosis Kornea (X2) . Gejala
paling berat adalah melembeknya kornea yang disebut sebagai keratomalacia (X3A,X3B) .
Defisensi vitamin A di retina menyebabkan tidak terbentuknya rodopsin seperti yang
dijelaskan sebelumnya sehingga gejala yang terjadi adalah rabun senja (XN)

9
Klasifikasi Xerophthalmia :
X 1 A Conjunctival xerosis
X 1 B Bitot’s spot + X 1 A
X2 Corneal xerosis
X 3 A Corneal Ulceration + xerosis
X 3 B Keratomalacia
XS Corneal Scar
XN Night Blindness
XB Bitot’s spot

Conjunctival Xerosis Bitot’s Spot Corneal Xerosis

Corneal Xerosis Corneal Scar Keratomalacia

10
Food Sources of Vitamin A

Food Sources of Vitamin A ranked by micrograms Retinol Activity Equivalents (RAE) of vitamin A
per standard amount; also calories in the standard amount. (All are >- 20% of RDA for adult men,
which is 900 mg/day RAE.)

Food, Standard Amount Vitamin A Calories

(μg RAE)
Organ meats (liver, giblets), various, cooked, 3 oza 1490-9126 134-235
Carrot juice, ¾ cup 1692 71
Sweetpotato with peel, baked, 1 medium 1096 103
Pumpkin, canned, ½ cup 953 42
Carrots, cooked from fresh, ½ cup 671 27
Spinach, cooked from frozen, ½ cup 573 30
Collards, cooked from frozen, ½ cup 489 31
Kale, cooked from frozen, ½ cup 478 20
Mixed vegetables, canned, ½ cup 474 40
Turnip greens, cooked from frozen, ½ cup 441 24
Instant cooked cereals, fortified, prepared, 1 packet 285-376 75-97
Various ready-to-eat cereals, with added vit. A, ~1 oz 180-376 100-117
Carrot, raw, 1 small 301 20
Beet greens, cooked, ½ cup 276 19
Winter squash, cooked, ½ cup 268 38
Dandelion greens, cooked, ½ cup 260 18
Cantaloupe, raw, ¼ medium melon 233 46
Mustard greens, cooked, ½ cup 221 11
Pickled herring, 3 oz 219 222
Red sweet pepper, cooked, ½ cup 186 19
Chinese cabbage, cooked, ½ cup 180 10

11
a
High in cholesterol.

DAFTAR PUSTAKA

Shils ME.,Olson JA.,Shike M., Ross AC. ; Modern Nutrton in Health and Disease ; 9th ed ;
Lippincott Williams & Wilkins ; 1999

Guyton AC., Hall JE. ; Fisiologi Kedokteran ; 9th ed ;

Martini

Physiology of The Eye CD

http://www.karl-may-stiftung.de/blind4.html

http://province.moph.go.th/chiangmai/VitAWebProj/vit_a.htm

http://www.uchc.edu/dsp/resIntro.htmlhttp://www.Hoptechno.com/bookfoodsourceA.htm

http://education.vetmed.vt.edu/Curriculum/VM8054/EYE/RODCONE.HTM

http://www.med-ed.virginia.edu/public/CourseSitesDocs/CellandTissueStructure/
handouts/unrestricted/original/MMHndt_Eye.html

12