Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS KELOLAAN PADA Ny.

R
DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

Oleh kelompok B :

1. Ni Putu Ayu Dina Febriani (18101110003)

2. Kadek Ayu Indra Lestari (18101110004)

3. Kadek Ayu Pitari Dewi (18101110005)

4. Ni Putu Eka Cintya Dewi (18101110006)

5. Ni Made Marthesa Dwicahyani (18101110007)

STIKES ADVAITA MEDIKA TABANAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN NERS

2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

I. MASALAH UTAMA
Defisit Perawatan Diri
II. TERJADINYA PENYAKIT PROSES
A. Definisi
Pewatan diri adalah salah satu kemampuan manusia dalam memenuhi
kebutuhannya sehari-hari guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan
kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien bisa dinyatakan
terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri
sendiri (Depkes, 2000 dalam Direja, 2011).
Perawatan Diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan
kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya. (Depkes, 2000 dalam
Wibowo, 2009).
Poter, Perry (2005), dalam Anonim (2009), mengemukakan bahwa
Personal Higiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Wahit Iqbal Mubarak
(2007), juga mengemukakan bahwa higiene personal atau kebersihan diri
adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan dan kesehatan dirinya
untuk memperolah kesejahteraan fisik dan psikologis.
Seseorang yang tidak dapat melakukan perawatan diri dinyatakan
mengalami defisit perawatan diri. Nurjannah (2004), dalam Wibowo
(2009),mengemukakan bahwa Defisit Perawatan Diri adalah gangguan kemam
puan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan,
toileting). Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000), dalam Anonim(2009),
Kurang Perawatan Diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu
melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.
Pasien yang mengalami gangguan jiwa kronik seringkali tidak
memperdulikan perawatan diri. Hal ini menyebabkan pasien dikucilkan dalam 
keluarga dan masyarakat (Keliat, 2009).
B. Rentang Respon
Menurut Dermawan (2013), adapun rentang respon defisit perawatan diri
sebagai berikut :

Adaptif Maladaptif

Pola perawatan diri Kadang perawatan diri Tidak melakukan


Seimbang Kadang tidak perawatan diri saat stres

Gambar 2.1 Rentang Respon

a. Pola perawatan diri seimbang : saat klien mendapatkan stresor dan


mampu untuk berprilaku adaptif, maka pola perawatan yang
dilakukan klien seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
b. Kadang perawatan diri kadang tidak: saat klien mendapatkan stresor
kadang – kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya,
c. Tidak melakukan perawatan diri : klien mengatakan dia tidak peduli
dan tidak bisa melakukan perawatan saat stresor.
C. Etiologi
Menurut Depkes (2000, dalam Dermawan, 2013), penyebab defisit perawatan
diri adalah :
a. Faktor predisposisi
1. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan
klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
2. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
3. Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan
kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian
dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
4. Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan
kemampuan dalam perawatan diri.
5.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri adalah kurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah
yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu
melakukan perawatan diri. Menurut Depkes (2000, dalam Dermawan,
2013), faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:
1. Body image Gambaran individu terhadap dirinya sangat
mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya
perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan
dirinya.
2. Praktik sosial Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan
diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal
hygiene.
3. Status sosial ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan
bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi
yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
4. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya
pada pasien menderita diabetes melitus ia harus menjaga
kebersihan kakinya.
5. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak
boleh dimandikan.
6. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan
produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun,
sampo dan lain-lain.
7. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan
untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk
melakukannya.

D. Tanda dan Gejala Defisit Perawatan Diri


Menurut Depkes (2000, dalam Dermawan, 2013) tanda dan gejala klien dengan
defisit perawatan diri adalah :
a. Fisik
1. Badan bau, pakaian kotor.
2. Rambut dan kulit kotor.
3. Kuku panjang dan kotor.
4. Gigi kotor disertai mulut bau.
5. Penampilan tidak rapi.
b. Psikologis
1. Malas, tidak ada inisiatif.
2. Menarik diri, isolasi diri.
3. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c. Sosial
1. Interaksi kurang.
2. Kegiataan kurang.
3. Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
4. Cara makan tidak teratur, BAK dan BAB di sembaraang tempat, gosok
gigi dan mandi tidak mampu mandiri.

Data yang biasa ditemukan dalam defisit perawatan diri adalah :

a. Data subyektif
1. Pasien merasa lemah.
2. Malas untuk beraktivitas.
3. Merasa tidak berdaya.
b. Data obyektif
1. Rambut kotor, acak-acakan.
2. Bdan dan pakaian kotor dan bau.
3. Mulut dan gigi bau.
4. Kulit kusam dan kotor.
5. Kuku panjang dan tidak terawat.

E. Dampak Defisit Erawatan Diri


Menurut Dermawan (2013) dampak yang sering timbul pada masalah personal
hygiene ialah :
a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang
sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa
mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman , kebutuhan dicintai dan mencinti, kebutuhan harga
diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

F. Mekanisme koping
Pada pasien dengan defisit perawatan diri adalah sebagai berikut:
a. Regresi, menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali,
seperti pada perilaku perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah
proses informasi dan upaya untuk mengulangi ansietas (Dermawan, 2013).
b. Penyangkalan ( Denial ), melindungi diri terhadap kenyataan yang tak
menyenangkan dengan menolak menghadapi hal itu, yang sering dilakukan
dengan cara melarikan diri seperti menjadi “sakit” atau kesibukan lain serta
tidak berani melihat dan mengakui kenyataan yang menakutkan (Yusuf dkk,
2015).
c. Menarik diri, reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun
psikologis, reaksi fisk yaitu individu pergi atau lari menghindar sumber
stresor, misalnya: menjauhi, sumber infeksi, gas beracun dan lain-lain.
Reaksi psikologis individu menunjukkan perilaku apatis, mengisolasi diri,
tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan (Dermawan,
2013).
d. Intelektualisasi, suatu bentuk penyekatan emosional karena beban emosi
dalam suatu keadaan yang menyakitkan, diputuskan, atau diubah (distorsi)
misalnya rasa sedih karena kematian orang dekat, maka mengatakan “sudah
nasibnya” atau “sekarang ia sudah tidak menderita lagi” (Yusuf dkk, 2015)
G. Pohon Masalah
Isolasi Sosial Effect

Defisit Perawatan Diri Core Problem

Harga Diri Rendah Kronis Causa


Gambar 2.3 Pohon Masalah Defisit Perawatan Diri (Fitria, 2012)

III. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas
Biasanya identitas terdiri dari: nama klien, umur, jenis kelamin, alamat,
agama, pekerjaan, tanggal masuk, alasan masuk, nomor rekam medik,
keluarga yang dapat dihubungi.
b. Alasan Masuk
Biasanya apa yang menyebabkan pasien atau keluarga datang, atau
dirawat dirumah sakit. Biasanya masalah yang di alami pasien yaitu
senang menyendiri, tidak mau banyak berbicara dengan orang lain,
terlihat murung, penampilan acak-acakan, tidak peduli dengan diri
sendiri dan mulai mengganggu orang lain.
c. Faktor Predisposisi
Pada pasien yang mengalami defisit perawatan diri ditemukan adanya
faktor herediter mengalami gangguan jiwa, adanya penyakit fisik dan
mental yang diderita pasien sehingga menyebabkan pasien tidak mampu
melakukan perawatan diri. Ditemukan adanya faktor perkembangan
dimana keluarga terlalu melindungi dan memanjakan pasien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu, menurunnya kemampuan realitas
sehingga menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri serta didapatkan kurangnya dukungan dan
situasi lingkungan yang mempengaruhi kemampuan dalam perawatan
diri.
d. Pemeriksaan Fisik
Biasanya pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan tandatanda
vital (TTV), pemeriksaan secara keseluruhan tubuh yaitu pemeriksaan
head to toe yang biasanya penampilan klien yang kotor dan acak-acakan
e. Psikososial
1. Genogram Biasanya menggambarkan pasien dengan anggota
keluarga yang mengalami gangguan jiwa, dilihat dari pola
komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
2. Konsep diri
a. Citra tubuh Biasanya persepsi pasien tentang tubuhnya,
bagian tubuh yang disukai, reaksi pasien terhadap bagian
tubuh yang disukai dan tidak disukai.
b. Identitas diri Biasanya dikaji status dan posisi pasien
sebelum pasien dirawat, kepuasan pasien terhadap status dan
posisinya, kepuasan pasien sebagai laki-laki atau perempuan
, keunikan yang dimiliki sesuai dengan jenis kelamin dan
posisinnya.
c. Peran diri Biasanya meliputi tugas atau peran pasien dalam
keluarga/ pekerjaan/ kelompok/ masyarakat, kemampuan
pasien dalam melaksanakan fungsi atau perannya, perubahan
yang terjadi saat pasien sakit dan dirawat, bagaimana
perasaan pasien akibat perubahan tersebut.
d. Ideal diri Biasanya berisi harapan pasien terhadap kedaan
tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran dalam keluarga,
pekerjaan atau sekolah, harapan pasien terhadap lingkungan
sekitar, serta harapan pasien terhadap penyakitnya
e. Harga diri Biasanya mengkaji tentang hubungan pasien
dengan orang lain sesuai dengan kondisi, dampak pada
pasien berubungan dengan orang lain, fungsi peran tidak
sesuai harapan, penilaian pasien terhadap pandangan atau
penghargaan orang lain.
f. Hubungn sosial Biasanya hubungan pasien dengan orang
lain sangat terganggu karena penampilan pasien yang kotor
sehingga orang sekitar menghindari pasien. Adanya
hambatan dalam behubungan dengan orang lain, minat
berinteraksi dengan orang lain.
g. spiritual
1. Nilai dan keyakinan Biasanya nilai dan keyakinan
terhadap agama pasien terganggu karna tidak
menghirauan lagi dirinya.
2. Kegiatan ibadah Biasanya kegiatan ibadah pasien
tidak dilakukan ketika pasien menglami gangguan
jiwa.
h. Status mental
1. Penampilan Biasanya penampilan pasien sangat tidak
rapi, tidak tahu cara berpakaian, dan penggunaan
pakaian tidak sesuai.
2. Cara bicara/ pembicaraan Biasanya cara bicara
pasien lambat, gagap, sering terhenti/bloking,
apatisserta tidak mampu memulai pembicaraan.
3. Aktivitas motorik Biasanya klien tampak lesu,
gelisah, tremor dan kompulsif.
4. Alam perasaan Biasanya keadaan pasien tampak
sedih, putus asa, merasa tidak berdaya, rendah diri
dan merasa dihina.
5. Afek Biasanya afek pasien tampak datar, tumpul,
emosi pasien berubah-ubah, kesepian, apatis,
depresi/sedih dan cemas.
6. Interaksi selama wawancara Biasanya respon pasien
saat wawancara tidak kooperatif, mudah tersinggung,
kontak kurang serta curiga yang menunjukan sikap
atau peran tidak percaya kepada pewawancara atau
orang lain.
7. Persepsi Biasanya pasien berhalusinasi tentang
ketakutan terhadap hal-hal kebersihan diri baik
halusinasi pendengaran, penglihatan serta halusinasi
perabaan yang membuat pasien tidak mau
membersihkan diri dan pasien mengalami
depersonalisasi.
8. Proses pikir Biasanya bentuk pikir pasien otistik,
dereistik, sirkumtansial, kadang tangensial,
kehilangan asosiasi, pembicaraan meloncat dari topik
satu ke topik lainnya dan kadang pembicaraan
berhenti tiba-tiba.
i. Kebutuhan pasien pulang
1. Makan Biasanya pasien kurang makan, cara makan
pasien terganggu serta pasien tidak memiliki
kemampuan menyiapkan dan membersihkan alat
makan.
2. Berpakaian Biasanya pasien tidak mau mengganti
pakaian, tidak bisa menggunakan pakaian yang
sesuai dan tidak bisa berdandan.
3. Mandi Biasanya pasien jarang mandi, tidak tahu cara
mandi, tidak gosok gigi, tidak mencuci rambut, tidak
menggunting kuku, tubuh pasien tampak kusam dan
bdan pasien mengeluarkan aroma bau.
4. BAB/BAK Biasanya pasien BAB/BAK tidak pada
tempatnya seperti di tempat tidur dan pasien tidak
bisa membersihkan WC setelah BAB/BAK.
5. Istirahat Biasanya istirahat pasien terganggu dan
tidak melakukan aktivitas apapun setelah bangun
tidur.
6. Penggunaan obat Apabila pasien mendapat obat,
biasanya pasien minum obat tidak teratur.
7. Aktivitas dalam rumah Biasanya pasien tidak mampu
melakukan semua aktivitas di dalam maupun diluar
rumah karena pasien selalu merasa malas.
j. Mekanisme koping
1. Adaptif Biasanya pasien tidak mau berbicara dengan
orang lain, tidak bisa menyelesikan masalah yang
ada, pasien tidak mampu berolahraga karena pasien
selalu malas.
2. Maladaptif Biasanya pasien bereaksi sangat lambat
atau kadang berlebihan, pasien tidak mau bekerja
sama sekali, selalu menghindari orang lain.
3. Masalah psikososial dan lingkungan Biasanya pasien
mengalami masalah psikososial seperti berinteraksi
dengan orang lain dan lingkungan. Biasanya
disebabkan oleh kurangnya dukungan dari keluarga,
pendidikan yang kurang, masalah dengan sosial
ekonomi dan pelayanan kesehatan.
4. Pengetahuan Biasanya pasien defisit perawatan diri
terkadang mengalami gangguan kognitif sehingga
tidak mampu mengambil keputusan.
k. Sumber Koping Sumber koping merupakan suatu evaluasi
terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu
dapat mengatasi stress dan ansietas dengan menggunakan
sumber koping yang ada di lingkungannya. Sumber koping
tersebut dijadikan sebagai modal untuk menyelesaikan
masalah. Dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat
membantu seorang mengintegrasikan pengalaman yang
menimbulkan stressdan mengadopsi strategi koping yang
efektif

2. Pohon Masalah

Isolasi Sosial Effect

Defisit Perawatan Diri Core Problem

Harga Diri Rendah Kronis Causa


Gambar 2.3 Pohon Masalah Defisit Perawatan Diri (Fitria, 2012)
3. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan defisit
perawatan diri menurut Fitria (2012), adalah sebagai berikut:
a. Defisit perawatan diri
b. Harga diri rendah
c. Isolasi sosial

4. Intervensi Keperawatan
Berdasarkan Nursing Intervention Classification & Nursing Outcome
Clsasification (2016) :

Dioagnosa Perencanaan Intervensi


keperawatan
Tujuan Kriteria evaluasai

Defisit TUM: Ekspresi wajah Bina hubungan


perawatan Pasien dapat bersahabat, saling percaya
diri memelihara menunjukkan rasa dengan prinsip
kesehatan diri secara senang, klien komunikasi
mandiri bersedia berjabat terapeutik
TUK: tangan, klien 1. Sapa klien
1. Klien dapat bersedia dengan ramah
membina menyebutkan baik verbal
hubungan saling nama, ada kontak maupun
percaya mata, klien nonverbal
bersedia duduk 2. Perkenalkan diri
berdampingan dengan sopan
dengan perawat, 3. Tanyakan nama
klien bersedia lengkap klien
mengutarakan dan nama
masalah yang panggilan
dihadapinya 4. Jelaskan tujuan
pertemuan
5. Jujur dan
menepati janji
6. Tunjukan sikap
empati dan
menerima klien
apa adanya
7. Beri perhatian
pada pemenuhan
kebutuhan dasar
klien
2. Mengidentifikasi Klien dapat 1. Kaji
kebersihan diri menyebutkan pengetahuan
klien. dirinya klien tentang
kebersihan diri
dan tandanya
2. Beri kesempatan
klien untuk
menjawab
pertanyan
3. Berikan pujian
terhadap
kemampuan
klien menawab
pertanyaan.

3. Menjelaskan Klien dapat 1. Menjelaskan


pentingnya memahami pentingnya
kebersihan diri pentinya kebersihan diri
kebersihan diri 2. Meminta klien
menjelaskan
kembali
pentingnya
kebersihan diri
3. Diskusikan
dengan klien
tentang tentang
kebersihan diri
4. Beri penguatan
positif atas
jawabannya
4. menjelaskan Klien dapat 1. Menjelaskan
peralatan yang menyebutkan dan alat yang
digunakan untuk dapat dibutuhkan dan
menjaga mendemonstrasikan cara
kebersihan diri dengan alat membersihkan
dan cara kebersihan diri
melakukan 2. Memperagakan
kebersihan diri cara
membrsihkan
diri dan
mempergunakan
alat untuk
membersihkan
diri
3. Meminta klien
untuk
memperagakan
ulang alat dan
cara kebersihan
diri
4. Beri pujian
positif terhadap
klien
5. Menjelaskan Klien dapat 1. Menjelaskan
cara makan yang mengerti cara cara makan
benar makan yang benar yang benar
2. Beri
kesempatan
klien untuk
bertanya dan
mendemonstrasi
kan cara benar
3. Memberikan
pujian positif
terhadap klien

6. Menjelasakan Klien dapat 1. Menjelaskan


cara mandi yang mengerti cara cara mandi
benar mandi yang benar yang benar
2. Beri
kesempatan
klien untuk
bertanya dan
mendemonstrasi
kan cara yang
benar
3. Memberi pujian
positif terhdap
klien
7. Menjelaskan Klien dapat 1. Menelskan cara
cara berdandan mengerti cara berdandan yang
yang benar berdandan yang benar
benar 2. Beri
kesempatan
klien untuk
bertanya dan
mendemonstrasi
kan cara yang
benar
3. Memberi pujian
positif terhdap
klien
8. Menjelaskan Klien dapat 1. Menjelaskan
cara toileting toileting yang benar cara toileting
yang benar yang benar
2. Beri
kesempatan
klien untuk
bertanya dan
mendemonstrasi
kan cara yang
benar
3. Memberi pujian
positif terhdap
klien
9. Mendiskusikan Keluarga dapat 1. Menjelsakan
masalah yang mengerti tentang kepada keluarga
dirasakan merawat klien tentang
pengertian tanda
dan gejala tanda
defisit
perawatan diri,
dan jenis
perawatan diri.
DAFTAR PUSTAKA

Stuart, W. Gail. (2016). Keperawatan Kesehatan Jiwa. Singapore: Elsevier


Yusuf, Ah, Rizky Fitryasari PK dan Hanik Endang Nihayati. (2015). Buku Ajar
Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika
Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN(Basic
Course). Jakarta: EGC
Fitria Nita.2009.Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan
Srategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan(LP dan SP).Jakarta:Salemba Medika.
Damaiyanti Mukhripah,dkk.2012.Asuhan Keperawatan Jiwa.Bandung: PT Refika
Aditama
Hoesny, Rezkiyah,.2011. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Defisit Perawatan
Diri diakses dari http://repositori.uin-alauddin.ac.id/3358/1/Rezkiyah%20Hoesny.pdf
pada 14 Juni 2018
Neri, Silvia,.2018. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan diakses dari
https://www.academia.edu/6822348/STRATEGI_PELAKSANAAN_TINDAKAN_K
EPERAWATAN_SP-1 _Pasien_Defisit_Perawatan_Diri_Pertemuan_Ke-1 pada 14
Juni 2018
Shinzu, Bekti,.2018. Defisit Perawatan Diri LP SP diakses dari
https://www.academia.edu/35135428/Defisit_Perawatan_Diri_LP_SP