Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

AKHLAK TASAWUF

STANDAR BAIK DAN BURUK BERDASARKAN AJARAN


AKHLAK, MORAL, DAN ETIKA

Dosen Pengampu :
Asman, S. Pd. I, M. Ag

OLEH:

MUHAMMAD ERWIN
NIM. 302.2019.014
RAKA NOVAL KHARISMA
NIM. 302.2019.052
Semester : III
Kelompok : 3

PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA


FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM SULTAN MUHAMMAD
SYAFIUDDIN
SAMBAS
2020 M/ 1442 H
DAFTAR ISI
Halaman :

DAFTAR ISI...................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.....................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Standar Baik Dan Buruk Berdasarkan Ajaran Akhlak,
Moral, Dan Etika.................................................................................2
B. Konsep Baik Dan Buruk Menurut Aliran............................................3
1. Hedonisme.....................................................................................3
2. Naturhalism....................................................................................4
3. Idealism..........................................................................................4
4. Ilmu Kalam....................................................................................4
5. Tasawuf..........................................................................................5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..........................................................................................7
B. Saran....................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................8

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhlak  Menurut Imam Al-Ghazali adalah sifat yang melekat diri
seseorang yang menjadikannya dengan mudah bertindak tanpa banyak
pertimbangkan lagi. Ada pula sebagian ulama mengatakan bahwa akhlak itu
adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang dimana sifat itu akan
timbul dengan mudah karena sudah menjadi kebiasaan.
Pengertian baik menurut ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu
tujuan. Sebaliknya, yang tidak berharga tidak berguna untuk tujuan, apabila
yang merugikan, atau yang menyebabkan, tidak tercapainya tujuan adalah
”buruk”.
Tujuan dari masing-masing sesuatu,walaupun berbeda-beda,semuanya
akan bermuara kepada satu tujuan yang dinamakan baik,semuanya
mengharapkan mendapatkan yang baik dan bahagia,tujuan yang akhir yang
sama ini dalam ilmu ethik ”kebaikan tertinggi”, yang dengan istilah latinnya
di sebut Summum Bonum atau bahasa arabnya Al-khair al-Kully.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan
permasalahannya sebagai berikut :
1. Bagaimana standar baik dan buruknya berdasarkan ajaran akhlak,
moral, dan etika ?
2. Bagaimana konsep baik dan buruknya menurut aliran ?
3. Bagaimana penerapan akhlak tasawuf di ligkungan muslim dan
nonmuslim ?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Standar Baik Dan Buruk Berdasarkan Ajaran Akhlak, Moral, Dan


Etika
Akhlak  Menurut Imam Al-Ghazali adalah sifat yang melekat diri
seseorang yang menjadikannya dengan mudah bertindak tanpa banyak
pertimbangkan lagi. Ada pula sebagian ulama mengatakan bahwa akhlak itu
adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang dimana sifat itu akan
timbul dengan mudah karena sudah menjadi kebiasaan.
‫ق عَا َدةُ ْا ِإل َر َد ِة‬
ُ ُ‫اَ ْل ُخل‬
“ Khuluq (akhlak) ialah membiasakan kehendak.”
Pengertian baik menurut ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu
tujuan. Sebaliknya, yang tidak berharga tidak berguna untuk tujuan, apabila
yang merugikan, atau yang menyebabkan, tidak tercapainya tujuan adalah
”buruk”.1
Tujuan dari masing-masing sesuatu,walaupun berbeda-beda,semuanya
akan bermuara kepada satu tujuan yang dinamakan baik,semuanya
mengharapkan mendapatkan yang baik dan bahagia,tujuan yang akhir yang
sama ini dalam ilmu ethik ”kebaikan tertinggi”, yang dengan istilah latinnya
di sebut Summum Bonum atau bahasa arabnya Al-khair al-Kully.
Kebaikan tertinggi ini bisa juga di sebut kebahagiaan yang universal atau
Universal Happiness. Allah Berfirman :
ِ ‫ فَا ْستَبِقُوا ْال َخ ْي َرا‬. ‫َولِ ُكلِّ ِوجْ هَةٌ هُ َو ُم َولِّهَا‬
)١٤٨ : ‫ت ( البقرة‬
”dan setiap sesuatu (niat) mempunyai tujuan yang ingin di capainya,maka
berlomba-lombalah kalian ( membuat ) kebaikan”
Pengertian benar, menurut etika (ilmu akhlak) ialah hal-hal yang
sesuai/cocok dengan peraturan-peraturan. Sebaliknya pengertian salah
menurut etika ialah hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan
yang berlaku.

1 Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf(Bandung : Penerbit Pustaka Setia, 2010), 70.

2
3

Kebenaran yang objektif, yang merupakan kebenaran yang pasti dan satu
itu adalah kebenaran yang didasarkan kepada peraturan yang dibuat oleh yang
Maha satu, Maha mengetahui akan segala sesuatu yang Maha benar. Karena
itu, satu-satunya kebenaran yang objektif adalah kebenaran yang dibuat oleh
yang Maha satu yang Maha benar itu. Dan peraturan yang dibuat manusia
yang bersifat relatif itu adalah benar apabila tidak bertentangan dengan
peraturan yang obyektif yang dibuat oleh yang maha satu yang maha benar.
Yakni peraturan yang tidak bertentangan dengan wahyu, karena kebenaran
mutlaq adalah kebenaran dari yang maha benar.2
Di dalam akhlak islamiyah,untuk mencapai tujuan baik harus dengan jalan
yang baik dan benar. Sebab ada garis yang jelas antara yang boleh dan tidak
boleh; ada garis damarkasi anatar yang boleh di lampaui dan yang tidak boleh
di lampaui, garis pemisah antara yang halal dan yang haram. Semua orang
muslim harus melalui jalan yang di bolehkan dan tidak boleh melalui jalan
yang dilarang. Bahkan antara yang hala dan yang haram tidak jelas, disebut
Syubhat,orang muslim harus berhati-hati, jangan sampai jatuh di daerah yang
Syubhat, sebab di khawatirkan akan jatuh di daerah yang haram.
Jadi, menurut akhlak islam, perbuatan itu disamping baik juga harus benar,
yang benar juga harus baik. Sebab dalam ethik yang benar belum tentu baik,
dan yang baik belum tentu benar.3

B. Konsep Baik Dan Buruk Menurut Aliran


1. Hedonisme
Hedonisme merupakan aliran filsafat tua yang berakar dai
pemikiran filsafat Yunani. Menurut aliran ini sesuatu yang dikategorikan
baik itu adalah sesuatu yang bisa mendatangkan kenikmatan nafsu
biologis. Sedangkan sesuatu yang buruk itu adalah sesuatu yang tidak
memberikan kenikmatan nafsu biologis. Sehingga aliran ini
menitikberatkan bahwa kebahagian itu terletak pada kepuasan biologis

2 Ibid., 71.
3 Ibid., 71.
4

dan hal itu merupakan tujuan hidup bagi mereka yang beraliran
hedonisme.4
2. Naturalism
Aliran ini memandang bahwa untuk menilai sesuatu yang baik dan
buruk itu dapat dipengaruhi oleh pembawaan manusia sejak lahir
kedunia. Dengan kata lain manusia sejak anak-anak dapat menilai sesutau
itu baik ataupun buruk, akan tetapi dia belum bisa menganalisis mengapa
sesuatu itu baik ataupun buruk. Untuk bisa menganalisis sesuatu itu baik
dan buruk diperlukan pengalaman hidup yang lama, karena semakin lama
pengalaman hidupnya maka semakin matang pemahamannya terhadap
sesuatu yang baik dan buruk. Dengan ini dapat ditegaskan bahwa menilai
sesuatu itu ditentukan oleh kebutuhan  dan kondisi wilayah yang
ditempati oleh manusia.
3. Idealisme
Aliran ini memandang bahwa kebenaran yang hakiki tidak dapat
dilihat melalui panca indra semata, karena semua sesuatu yang tampak
melalui panca indra hanya merupakan kepalsuan belaka dan bukan
sesuatu yang sebenarnya. Jadi kesimpulan dari aliran ini, bahwa  untuk
mengetahui sesuatu itu baik atau buruk maka dapat diukur dengan cita.
4. Ilmu Kalam
Pada dasarnya mu’tazilah adalah merupakan aliran yang
mngetengahkan pendapatnya-pendapatnya yang rasionalistis tentang
berbagai macam masalah, sungguh menurut mereka akallah yang sangat
berperan ketimbang wahyu, salah satu pendapatnya yang rasionalistis
adalah pandangannya tentang perbuatan baik dan buruk manusia, pada
prinsipnya masalah ini berkaitan erat dengan perinsip keadilan dmana
Tuhan Maha adil yang menunjukkan kesempurnaan pada segala hal pada
manusia ajaran ini bertujuan ingin menunjukkan Tuhan benar-benar adil
menurut sudut pandang manusia karna alam semesta ini diciptakan untuk
kepentingan manusia.

4 Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf(Bandung : Penerbit Pustaka Setia, 2010), 77.


5

Ajaran tentang keadilan ini terkait erat dengan perbuatan manusia,


manusia menurut mu’tazilah melakukan dan menciptakan perbuatannya
sendiri, terlepas dari kehendak dan kekuasaan Tuhan baik secara langsung
atau tidak . Perbuatan apa saja yang di lahirkan adalah perbuatan manusia
itu sendiri kecuali dalam mempersepsi warna, bau, dan sesuatu lainnya
yang dialaminya tidak diketahui manusia. Pemahaman dan pengetahuan
yang timbul dengan selain melalui informasi dan instruksi itu diciptakan
sendiri oleh Allah dan bukan perbuatan manusia. Kalau dilihat pendapat
ini memang Allah maha adil atas segala makhluknya karna alam ini
berserta isinya diciptakan untuk manusia tapi dalam masalah perbuatan,
sudah pasti ada campur tangan Tuhan karena apapun yang dikerjakan oleh
manusia bukan karena kehendaknya sendiri akan tetapi ada yang
menggerakkan sehingga ia berbuat .
5. Tasawuf
Baik atau kebaikan adalah segala sesuatu yang berhubungan denga
yang luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Sedangkan
yang disebut buruk adalah syar dalam bahasa Arab, atau sesuatu yang
dinilai sebaliknya dari yang baik, sesuatu yang hina, rendah,
menyusahkan dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia.5

C. Penerapan Akhlak Tasawuf Di Lingkungan Muslim Dan Nonmuslim


Kehidupan masyarakat saat ini nampak tumbuh dan berkembang sifat-sifat
materialistik dan hedonisme, gejala ini ditandai dengan menjadikan materi
sebagai tolak ukur untuk mencapai kesuksesan dan kebahagian. Masyarakat
berlomba-lomba mencari dan mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.
Dorongan seperti ini berdampak kecenderungan masyarakat bertindak tanpa
kontrol demi mendapatkan apa yang diinginkan dengan menghalalkan segala
cara tanpa memperdulikan sesama, hilangnya kepedulian sosial,
kecenderungan individualistis, materialistis, kapitalis dan hedonis. Tasawuf
dalam kehidupan sosial mempunyai pengaruh yang signifikan dalam

5 Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II (Jakarta : Kalam Mulia, 2010), 39.


6

menuntaskan permasalahan dan penyakit sosial yang ada, amalan yang


terdapat dalam ajaran tasawuf akan membimbing seseorang dalam
mengarungi kehidupan dunia menjadi manusia yang arif, bijaksana dan
profesional dalam kehidupan bermasyarakat dan memberikan nilai-nilai
spiritual dan sosial yang jelas. Bentuk ajaran yang ditawarkan untuk
membersikan jiwa dan penyakit sosial tersebut dalam ajaran tasawuf dapat
dilakukan dengan melalui tiga tahapan yaitu Takhalli membersihkan diri dari
sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin yang mengotori hati
manusia seperti iri dan dengki, buruk sangka, sombong, membanggakan diri,
pamer, pemarah dan sifat-sifat tercelah yang lain. Tahalli mensucikan atau
menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan taat lahir dan taat batin.6

6 Ibid., 40.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang melekat pada diri kita sejak
kita terlahir di dunia. Banyak ulama’ maupun tokoh – tokoh yang
memaparkan definisi kebaikan dan keburukan. Seperti Louis Ma’luf
berpendapat bahwa baik, lawan buruk, adalah menggapai kesempurnaan
sesuatu. Buruk, lawan baik, adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang
tercela atau dosa.
Kebaikan dan keburukan juga dapat diukur atau ditentukan dengan
berbagai aliran. Seperti aliran Idealisme, Naturalisme, Hedonisme, dan
Modern. Masing-masing dari aliran ini mengemukakan penentuan baik dan
buruk berbeda-beda. Dan masing-masing aliran ini pula mempunyai tokoh-
tokoh yang memperkuat masing- masing aliran tersebut.

B. Saran
Makalah kami jauh dari kata sempurna dan masih banyak kesalahan-
kesalahan yang perlu dibenahi dari makalah kami ini. Oleh karena itu, kami
meminta kritik dan saran yang membangun agar makalah kami menjadi lebih
baik dan sempurna, semoga makalah ini juga bermanfaat bagi para pembaca
sekalian.

7
DAFTAR PUSTAKA

Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf(Bandung : Penerbit Pustaka Setia, 2010),


70.
Ibid., 71.
Ibid., 71.
Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf(Bandung : Penerbit Pustaka Setia, 2010),
77.
Mahjuddin, Akhlak Tasawuf II (Jakarta : Kalam Mulia, 2010), 39.
Ibid., 40.

Anda mungkin juga menyukai