Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH PERAN TARI MASA KINI

BAGI PERKEMBANGAN
PARIWISATA DI INDONESIA

DISUSUN OLEH

NADIRA NAILA RATU RAYA

10 IPS 1

Guru Pengajar

Ine Suandani,Spd

SMAN 1 KOTA SUKABUMI

2021
Jl. Rh. Didi Sukardi No.124, Citamiang, Kec.
Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43143
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul [Peran tari masa kini
bagi perkembangan pariwisata di Indonesia] ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas [Ibu Ine
Suandani,S.Pd.] pada [mata pelajaran Seni Budaya] Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang [Peran tari masa kini bagi
perkembangan pariwisata di Indonesia dan Tari apa saja yang berpengaruh bagi
perkembangan pariwisata di Indonesia pada masa kini ] bagi para pembaca dan juga
bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada [Ibu Ine Suandani,S.Pd]selaku [guru mata
pelajaran Seni Budaya] yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah
pengetahuan dan wawasan sesuai dengan Bab mata pelajaran yang saya pelajari.

Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………….…… i

KATA PENGANTAR…………………………ii

DAFTAR ISI…………………….…………….. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang ………..…………………..… 1

B. Rumusan Masalah…………………………….1

C. Tujuan…………………………………………1

BAB II PEMBAHASAN

A. PERAN TARI MASA KINI BAGI


PERKEMBANGAN PARIWISATA DI
INDONESIA……………………………………2

B. JENIS TARI MASA KINI YANG BERPENGARUH

BAGI PERKEMBANGAN PARIWISATA

DI INDONESIA …………………………………..7

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan……………………………………26

B. Saran…………………………………………..26

C.Daftar Pustaka………………………………...26
BAB I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Seni tari merupakan bagian dari bentuk seni, dan seni (kesenian) merupakan bagian dari
kebudayaan manusia. Seni tari merupakan ungkapan manusia yang dinyatakan dengan
gerakan-gerakan tubuh manusia.

Indonesia adalah Negara yang kaya akan budaya, salah satunya kaya akan seni tari. Setiap
daerah di Indonesia memiliki tarian yang berbeda-beda. Sehingga menjadi salah satu daya
tarik wisatawan dari luar pulau dan dari luar Negara untuk mengunjungi Indonesia. Salah satu
tari yang terkenal di Indonesia adalah tari Kecak dan Pendet dari pulau Bali. Fungsi seni tari
selain sebagai ritual, hiburan, dan pertunjukan adalah seni tari sebagai pariwisata

B.RUMUSAN MASALAH

1.Apa saja peran tari masa kini bagi perkembangan pariwisata di Indonesia?

2.Apa saja tari yang berpengaruh bagi perkembangan pariwisata di Indonesia pada masa kini?

C.TUJUAN

1.Mengetahui peran tari masa kini bagi perkembangan pariwisata di Indonesia

2.Mengetahui tari apa saja yang berpengaruh bagi perkembangan pariwisata diIndonesia pada
masa kini
BAB II PEMBAHASAN

A.PERAN TARI MASA KINI BAGI PERKEMBANGAN PARIWISATA DI INDONESIA

Saat terbentuknya UU No. 22, tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Undang-undang ini
bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi pemda mengembangkan daerah dan
perekonomian masyarakatnya. Dan dengan demikian, pembangunan masyarakat dan sumber
daya alam dapat dioptimalisasikan untuk kepentingan masyarakat daerah itu sendiri. Agar
kegiatan pariwisata dapat berjalan baik, maka dikeluarkan pula peraturan daerah mengenai aset
wisata. Objek wisata haruslah menjadi tempat yang bisa menarik wisatawan baik wisatawan
asing maupun wisatawan domestik.

Hal tersebut sudah dicantumkan dalam Undang-Undang No. 9 tahun 1990. Daya tarik sasaran
yang bisa dijadikan tempat wisata adalah sebagai berikut:

1. Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud keadaan alam serta flora dan fauna,
seperti pemandangan alam, panorama indah, hutan rimba dengan tumbuhan tropis, serta
binatang-binatang langka.

2. Karya manusia yang berwujud: museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah,


seni budaya, wisata (agro) pertaminina, wisata tirta (air) wisata petualangan taman rekreasi dan
tempat hiburan.

3. Sasaran wisata minat. Berhubungan dengan hobi, seperti: berburu, mendaki gunung,
industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat ibadah ziarah dan
lain-lain.

Selain alamnya, kesenian dan unsur kebudayaan suatu daerah dan perkembangan di daerahnya
dapat dijadikan sasaran wisatawan. Dengan melakukan promosi dan kerjasama dengan
beberapa pihak, maka pariwisata di Indonesia (daerah-daerah) akan mengalami kemajuan.

Pariwisata seni tari termasuk ke dalam pariwisata budaya. Manfaat pariwisata sebagai berikut.

1. Menciptakan lapangan kerja.


2. Meningkatkan penghasilan bagi masyarakat, baik dari pelayanan jasa maupun dari
penjualan barang cinderamata.

3. Meningkatkan pendapatan negara.

4. Mendorong pembangunan daerah.

5. Menanamkan rasa cinta tanah air dan budaya bangsa.

di Jawa Barat sendiri unsur seni sangat erat hubungannya dengan agama, misalnya ketika
terjadinya pengembangan agama islam di Jawa Barat, di situ nampak unsur seni dijadikan
sebagai media penyampaiannya, hal tersebut terlihat sampai sekarang pada bentuk seni tradisi
rakyat seperti seni tari padagembyung,seni tari pada rudat, seni tari pada terebang, yang di
dalamnya penuh dengan nafas-nafas Islam. Seni tradisi rakyat seperti ini sengaja diciptakan
dengan bentuk sedemikian rupa yang dihubungkan dengan kepercayaan.Namun dengan mulai
berkembangnya pariwisata sebagai bagian dari kegiatan ekonomi, maka jenis-jenis seni tari
pada masa kini difungsikan secara ganda. Di satu sisi fungsi seni tari sebagai kepentingan ritual
yang berlangsung dalam satu ikatan serta waktu tertentu, sedangkan pada sisi lain seni tari
tersebut difungsikan sebagai sarana penunjang pariwisata

Seni tari yang dalam pertunjukannya memiliki pesona untuk memukau para penontonnya, juga
memiliki daya terapetik di dalamnya.14 Hal tersebut ditunjukkan ketika penonton menikmati
seni tari sebagai salah satu model pengalaman estetisnya. Pengalaman estetis tersebut yang
mampu memberikan terapi bagi seniman atau dalam hal ini adalah penari, dan penontonnya.15
Di sisi lain, keniscayaan bahwa seni tari memiliki daya terapetik turut mengundang pengunjung
untuk menikmatinya. Hal tersebut memiliki peran dalam hal pariwisata. Oleh karenanya,
penelitian ini mencoba membahas tentang pesona dalam seni tari. Kebutuhan akan ekspresi diri
dan kesuksesan pertunjukan memunculkan negosiasi-negosiasi dalam pementasan yang
memberikan unsur terapetik yang mengarahkan pada pariwisata, yang dapat menjadi
pengalaman estetik serta asset pariwisata budaya. Lebih lanjut, permasalahan mengenai
manajemen seni tari juga akan dibahas, sebagai jawaban kegelisahan atas peran jangka panjang
seni tari bagi pariwisata Tari yang merupakan bagian dalam seni, memiliki fleksibilitas dalam
memasuki ruang dan disiplin apapun, salah satunya pariwisata. Segitiga yang dibangun melalui
seni, tradisi, dan pariwisata memberikan pengukuhan bahwa tari tradisi yang memiliki unsur
magis dan memesona tentunya mampu memberikan andilnya dalam bidang
pariwisata.Pariwisata tari melalui tradisi rakyat, museum, musik, tari dan seni merupakan
elemen penting yang memberikan nilai khusus pada produk pariwisata dan dapat menginspirasi
jutaan wisatawan untuk mengunjungi destinasi lainnya di Indonesia

B.TARI YANG BERPENGARUH BAGI PERKEMBANGAN PARIWISATA DI


INDONESIA DI MASA KINI

1. Tari Saman

Tari Saman berasal dari dataran tinggi tanah Gayo. Diciptakan oleh seorang Ulama Aceh
bernama Syekh Saman. Pada mulanya tarian ini hanya merupakan permainan rakyat biasa yang
disebut Pok Ane. Melihat minat yang besar masyarakat Aceh pada kesenian ini maka oleh
Syekh disisipilah dengan syair-syair yang berisi pujian kepada Allah SWT. Sehingga Saman
menjadi media dakwah saat itu. Dahulu latihan Saman dilakukan di bawah kolong Meunasah
(sejenis surau, saat itu bangunan aceh masih bangunan panggung). Sehingga mereka tidak akan
ketinggalan untuk shalat berjamaah. Sejalan kondisi Aceh dalam peperangan maka syekh
menambahkan syair-syair yang manambah semangat juang rakyat Aceh. Selain itu biasanya
tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tari Saman
ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia dalam
Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Tak benda
UNESCO di Bali, 24 November 2011.
Tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (dakwah). Tarian ini
mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan
kebersamaan. Sebelum saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil
seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar)
atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton. Lagu dan syair
pengungkapannya secara bersama dan kontinu, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih
muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan,
dipertandingkan antara group tamu dengan grup sepangkalan (dua grup). Penilaian ditititk
beratkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair)
yang disajikan oleh pihak lawan.

Tari Saman biasanya ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, akan tetapi
menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan
dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan
badan ke berbagai arah. Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut
Syekh. Karena keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam
menampilkan tarian ini, maka para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan
latihan yang serius agar dapat tampil dengan sempurna. Tarian ini khususnya ditarikan oleh
para pria.

Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman:
Tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga,ketika menyebarkan agama islam, syeikh Saman
mempelajari tarian melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai
dengan syair-syair dakwah islam demi memudakan dakwahnya. Kini tarian ritual yang bersifat
religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui
pertunjukan-pertunjukan.

Pada umumnya, tari saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya
harus ganjil. Pendapat Lain mengatakan Tarian ini ditarikan kurang lebih dari 10 orang, dengan
rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Namun, dalam
perkembangan di era modern yang menghendaki bahwa suatu tarian itu akan semakin semarak
apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk mengatur berbagai
gerakannya ditunjuklah seorang pemimpin yang disebut syeikh. Selain mengatur gerakan para
penari, Syeikh juga bertugas menyanyikan syair-syair lagu saman, yaitu ganit.
2. Serampang Dua Belas Tari Tradisional Melayu Kesultanan Serdang, Sumatra Utara

Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah
Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang
oleh penciptanya antara tahun 1950-1960. Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini
bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau
Sari.

Sedikitnya ada dua alasan mengapa nama Tari Pulau Sari diganti Serampang Duabelas.
Pertama, nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step). Menurut
Tengku Mira Sinar, nama tarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti
Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki
gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari
lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan
gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang (Sinar, 2009: 48). Kedua, penamaan
Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu:
pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang, isyarat tanda
cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar
pengantin, dan pertemuan kasih. Penjelasan tentang ragam gerak Tari Serampang Duabelas
akan dibahas kemudian.

Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis
dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya
dan kedinamisan irama musik pengiringnya.
Tari Serampang Duabelas berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak
pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang
dara dan teruna. Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini
biasanya dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Namun demikian, pada awal
perkembangannya tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada
waktu itu melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-
lenggok tubuhnya.

Diperbolehkannya perempuan memainkan Tari Serampang Duabelas ternyata berpengaruh


positif terhadap perkembangan tarian ini. Serampang Duabelas tidak hanya berkembang dan
dikenal oleh masyarakat di wilayah Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai
daerah di Indonesia, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku.
Bahkan, tarian ini sering dipentaskan di manca negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand,
dan Hongkong.

3. Tari Merak

Tari Merak merupakan tarian kreasi baru dari tanah Pasundan yang diciptakan oleh Raden
Tjetjep Somantri pada tahun 1950an dan dibuat ualng oleh dra. Irawati Durban pada tahun
1965 .
Banyak orang salah kaprah mengira jika tarian ini bercerita tentang kehidupan dan keceriaan
merak betina, padahal tarian ini bercerita tentang pesona merak jantan yang terkenal
pesoleuntuk menarik hati sang betina. Sang jantan akan menampilkan keindahan bulu ekornya
yang panjang dan berwarna-warni untuk menarik hati sang betina. Gerak gerik sang jantan
yang tampak seperti tarian yang gemulai untuk menampilkan pesona dirinya yang terbaik
sehingga sang betina terpesona dan melanjutkan ritual perkawinan mereka. Setiap gerakan
penuh makna ceria dan gembira, sehingga tarian ini kerap digunakan sebagai tarian
persembahan bagi tamu atau menyambut pengantin pria menuju pelaminan. Kostumnya yang
berwarna warni dengan aksen khas burung merak dan ciri khas yang paling dominan adalah
sayapnya dipenuhi dengan payet yang bisa dibentangkan oleh sang penari dengan satu gerakan
yang anggun menambah indah pesona tarian ini, serta mahkota yang berhiaskan kepala burung
merak yang disebut singer yg akan bergoyang setiap penari menggerakkan kepalanya. Dalam
setiap acara tari Merak paling sering ditampilkan terutama untuk menyambut tamu agung atau
untuk memperkenalkan budaya Indonesia terutama budaya Pasundan ke tingkat Internasional.

Tari Merak yang sangat terkenal itu. Tari Merak merupakan tarian kreasi baru yang diciptakan
oleh seorang koreografer bernama Raden Tjetjep Somantri pada tahun 1950an, dan tahun 1965
dibuat koreografi barunya oleh Dra. Irawati Durban Arjon dan direvisi kembali pada tahun
1985 dan diajarkan kepada Romanita Santoso pada tahun 1993. Tari Merak sebenarnya
menggambarkan tentang tingkah laku burung merak jantan yang memiliki keindahan bulu ekor
sehingga banyak orang yang salah memperkirakan bahwa tarian ini tentang tingkah laku merak
betina. Seperti burung-burung lainnya, burung merak jantan akan berlomba-lomba
menampilkan keindahan ekornya untuk menarik hati merak betina. Merak jantan yang pesolek
akan melenggang dengan bangga mempertontonkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan
berwarna-warni untuk mencari pasangannya, dengan gayanya yang anggun dan memesona.
Tingkah laku burung merak inilah yang divisualisasikan menjadi tarian merak yang
menggambarkan keceriaan dan keanggunan gerak. Pesona bulu ekornya yang berwarna-warni
diimplementasikan dalam kostum yang indah dengan sayap yang seluruhnya dihiasi payet, dan
hiasan kepala (mahkota) yang disebut “siger” dengan hiasan berbentuk kepala burung merak
yang akan bergoyang mengikuti gerakan kepala sang penari. Tarian ini sendiri banyak ditarikan
di beberapa event, baik nasional maupun internasional seperti perkenalan budaya di luar negeri.
Bahkan Tari Merak pun ditampilkan sebagai tari persembahan dan penyambutan pengantin.
4. Tari Topeng

Tari topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari
topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng
diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan
Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang.
Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat
kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah
dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan
untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.Berawal dari
keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai
penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu,
dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan
penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian
menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia
Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi
Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal
dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu
topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap
warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang
dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi
ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan
dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan
rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya. Gerakan ini kemudian dilanjutkan
dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng
berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai.
Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah
membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng
berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna
merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya
maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi
ketika topeng warna merah dipakai para penari.
Seperti yang saya sebutkan diatas, masing-masing warna topeng yang dikenakan mewakili
karakter tokoh yang dimainkan, sebut saja misalnya warna putih. Warna ini melambangkan
tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu
menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna
merah menggambarkan karakter yang berangasan (tempramental) dan tidak sabaran. Dan
busana yang dikenakan penari sendiri adalah biasanya selalu memiliki unsur warna kuning,
hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.Jika anda
berminat untuk menyaksikan tarian yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari
cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di
antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe ini, silahkan datang saja
ke Cirebon. Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan,
hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya.

Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan
diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap,
lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni
tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng
Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi
Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam
pasangan-pasangan. Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu
perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya
sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim,
namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian
Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana
menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan
menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan
dari proses pembedaan itu. Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang
Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling
bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang”, dan “Patih-Klana”. Inilah sebabnya kedok
“Pamindo-Rumyang” berwarna cerah, sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah
tua).Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana
gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar
Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat
berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji
sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah
sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini
orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

5. Sendratari Ramayana, Drama dalam Tarian Khas Jawa

Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi.
Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam
satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris
karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukan ini serupa dengan yang terpahat pada
Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana yang terpahat di candi
Hindu tercantik mirip dengan cerita dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang dan
menegangkan itu dirangkum dalam empat lakon atau babak, penculikan Sinta, misi Anoman ke
Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang
rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan
mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang
terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita
lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas.

Cerita dimulai ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk menentukan pendamping
Dewi Shinta (puterinya) yang akhirnya dimenangkan Rama Wijaya. Dilanjutkan dengan
petualangan Rama, Shinta dan adik lelaki Rama yang bernama Laksmana di Hutan Dandaka.
Di hutan itulah mereka bertemu Rahwana yang ingin memiliki Shinta karena dianggap sebagai
jelmaan Dewi Widowati, seorang wanita yang telah lama dicarinya.

Untuk menarik perhatian Shinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya yang bernama
Marica menjadi Kijang. Usaha itu berhasil karena Shinta terpikat dan meminta Rama
memburunya. Laksama mencari Rama setelah lama tak kunjung kembali sementara Shinta
ditinggalkan dan diberi perlindungan berupa lingkaran sakti agar Rahwana tak bisa menculik.
Perlindungan itu gagal karena Shinta berhasil diculik setelah Rahwana mengubah diri menjadi
sosok Durna.

Di akhir cerita, Shinta berhasil direbut kembali dari Rahwana oleh Hanoman, sosok kera yang
lincah dan perkasa. Namun ketika dibawa kembali, Rama justru tak mempercayai Shinta lagi
dan menganggapnya telah ternoda. Untuk membuktikan kesucian diri, Shinta diminta
membakar raganya. Kesucian Shinta terbukti karena raganya sedikit pun tidak terbakar tetapi
justru bertambah cantik. Rama pun akhirnya menerimanya kembali sebagai istri.

Dalam pertunjukannya ini juga tak hanya bisa menjumpai tarian saja, tetapi juga adegan
menarik seperti permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat. Permainan bola api yang
menawan bisa dijumpai ketik Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup justru berhasil
membakar kerajaan Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara akrobat bisa dijumpai ketika
Hanoman berperang dengan para pengikut Rahwana. Permainan api ketika Shinta hendak
membakar diri juga menarik untuk disaksikan.

Di Yogyakarta, terdapat dua tempat untuk menyaksikan Sendratari Ramayana. Pertama, di


Purawisata Yogyakarta yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, sebelah timur Kraton
Yogyakarta. Di tempat yang telah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada
tahun 2002 setelah mementaskan sendratari setiap hari tanpa pernah absen selama 25 tahun
tersebut, anda akan mendapatkan paket makan malam sekaligus melihat sendratari. Tempat
menonton lainnya adalah di Candi Prambanan, tempat cerita Ramayana yang asli terpahat di
relief candinya.

6. Tari Reog Ponorogo

Salah satu ciri khas seni budaya Kabupaten Ponorogo Jawa Timur adalah kesenian Reog
Ponorogo. Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan serta tak lepas
pula dari dunia mistis dan kekuatan supranatural. Reog mempertontonkan keperkasaan
pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan
gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk,
kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan
pelog yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat. Satu
group Reog biasanya terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan
penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara
20 hingga 30-an orang, peran utama berada pada tangan warok dan pembarongnya.

Sejarah dari kesenian Reog ini bermula pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan
Majapahit pada abad ke-15 dimana pada masa itu kerajaan Majapahit dibawah kekuasaan Bhre
Kertabhumi yang merupakan raja terakhir kerajaan Majapahit. Ki Ageng Kutu murka terhadap
perilaku rajanya yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit tak lama lagi
akan berakhir. Ia pun pergi meninggalkan kerajaan dan mendirikan sebuah perguruan Seni Bela
Diri dengan harapan dapat memunculkan bibit-bibit yang dapat memegang kekuasaan
Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukan yang dimilinya tidak mampu menandingi pasukan
Majapahit maka pesan Politis Ki Ageng Kutu pun disampaikan melalui pertunjukan Reog.
Pagelaran Reog dimanfaatkan Ki Ageng Kutu untuk membangun perlawanan masyarakat
terhadap kerajaan.

Dalam pertunjukan kesenian Reog ini ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang biasa
disebut “Singo Barong”, raja hutan yang menjadi simbol Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan
bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para
rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh
kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan
Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok. topeng badut
merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng
singobarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

Dan akhirnya Reog Ki Ageng Kutu menyebabkan Kertabumi menyerang perguruannya,


pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan
pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara
diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk
dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan
ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo
yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat
melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja
Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan
dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok
(pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan.
Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan
mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat
mementaskan tariannya

Berikut karakter-karakter dalam Kesenian Reog Ponorogo

Topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singo Barong“, raja hutan, yang menjadi
simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas
raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala
gerak-geriknya.

Singo Barong

Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan
menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit

Tathilan

Pujangganong atau Bujangganong adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih
muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan, cerdik, jenaka, dan sakti. Sosok ini
digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa, hidung panjang, mata melotot,
mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring, wajah merah darah dan rambut yang lebat
warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan.

Bujangganong
Klana Sewandana atau Klono : Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan
Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo zaman dahulu. Sosok ini
digambarkan dengan topeng bermahkota, wajah berwarna merah, mata besar melotot, dan
kumis tipis. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman; berbentuk tongkat lurus dari rotan
berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug.

Klana Sewandana

Warok Suromenggolo. Dalam pentas, sosok warok lebih terlihat sebagai pengawal/punggawa
raja Klana Sewandana (warok muda) atau sesepuh dan guru (warok tua). Dalam pentas, sosok
warok muda digambarkan tengah berlatih mengolah ilmu kanuragan, digambarkan berbadan
gempal dengan bulu dada, kumis dan jambang lebat serta mata yang tajam. Sementara warok
tua digambarkan sebagai pelatih atau pengawas warok muda yang digambarkan berbadan
kurus, berjanggut putih panjang, dan berjalan dengan bantuan tongkat.

Warok Suromenggolo

7. Tari Kecak
Tari kecak atau Seni tari Kecak merupakan sebuah seni tari yang berasal dari Bali Indonesia,
Seni Tari Kecak ini dipertunjukkan oleh banyak [puluhan atau lebih] para penari laki-laki yang
duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu dan sambil menyerukan “cak” serta
mengangkat kedua lengan. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-
kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para
penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana,
Hanoman, dan Sugriwa.

tari kecak - seni tari kecak

Tari Kecak menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan
Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang
penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh
para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Berdasarkan referensi dari wikipedia, meskipun Tari kecak ini seni tari Khas Bali, tapi tari
kecak ini diciptakan bersama dengan seniman luar negeri, iya adalah Walter Spies yaitu pelukis
dari Jerman. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman
Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah
Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan
penari Bali-nya.

Pola Tari Kecak

Sebagai suatu pertunjukan tari kecak didukung oleh beberapa factor yang sangat penting, Lebih
lebih dalam pertunjukan kecak ini menyajikan tarian sebagai pengantar cerita, tentu musik
sangat vital untuk mengiringi lenggak lenggok penari. Namun dalam dalam Tari Kecak musik
dihasilkan dari perpaduan suara angota cak yang berjumlah sekitar 50 – 70 orang semuanya
akan membuat musik secara akapela, seorang akan bertindak sebagai pemimpin yang
memberika nada awal seorang lagi bertindak sebagai penekan yang bertugas memberikan
tekanan nada tinggi atau rendah seorang bertindak sebagai penembang solo, dan sorang lagi
akan bertindak sebagai ki dalang yang mengantarkan alur cerita. Penari dalam tari kecak dalam
gerakannya tidak mestinya mengikuti pakem-pakem tari yang diiringi oleh gamelan. Jadi
dalam tari kecak ini gerak tubuh penari lebih santai karena yang diutamakan adalah jalan cerita
dan perpaduan suara.

8. Tari Pendet

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, sebuah
tempat ibadat bagi umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas
turunnya dewata ke alam dunia. Tarian ini diciptakan oleh Wayan Rindi sekitar tahun 1950.
Wayan Rindi merupakan maestro tari yang dikenal luas sebagai penggubah tari pendet sakral
yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Tari pendet juga bisa berfungsi
sebagai tari penyambutan. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali
mengubah Pendet menjadi “tarian ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir
yang sakral-religius.

Wayan Rindi memodifikasi tari pendet sakral menjadi tari pendet penyambutan yang kini
diklaim Malaysia. Meski dimodifikasi, namun semua busana dan unsur gerakan tarinya tetap
mengacu pada pakem seni Bali yang dikenal khas dan dinamis.

Diyakini bahwa tari Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk
tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan
intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun
gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-
banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti
tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan
secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman
pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara
dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.

Tari pendet yang di klaim oleh manusia

Tindakan Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian dari budayanya amat disesalkan
keluarga Wayan Rindi. Pada masa hidupnya, Wayan Rindi memang tak berfikir untuk
mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain. Selain belum ada lembaga hak cipta, tari
Bali selama ini tidak pernah di patenkan karena kandungan nilai spiritualnya yang luas dan
tidak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Namun dengan adanya
kasus ini, Sutapa yang juga dosen tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali berharap pemerintah
mulai mengambil langkah untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil
negara lain.

Denpasar Malaysia mencatat tari pendet dalam iklan pariwisatanya. Masyarakat Bali pun protes
karena tari pendet sudah menjadi budaya masyarakat Bali selama ratusan tahun.

Awalnya tari pendet merupakan tarian yang disajikan di Pura untuk acara keagamanaan Hindu
dan menyambut Dewa dan Dewi. Tari Pendet diciptakan dengan semangat ngayah (sukarela)
sebagai persembahan pada para Dewa. Diakui dibuat secara komunal bukan perseorang.

Pada tahun 1950, tari pendet digubah menjadi tarian sekuler agar bisa menjadi tontonan umum.
Salah satu tokoh yang menggubah tari pendet adalah Nuh Arini. Pada saat itu para seniman
berharap tari pendet bisa digunakan untuk menjadi kegiatan pariwisata. Berbagai modifikasi
pun dilakukan dalam tarian ini. Lahirlah tari pendet versi pertunjukan.

Pada tahun 1961 Wayan Berata, menyempurnakan tari pendet versi pertunjukan. Jika biasanya
tari pendet dibawakan oleh dua orang, Wayan menambahnya menjadi empat orang. Dalam
versi keagamaan, gadis-gadis membawakannya dalam pakaian adat untuk sembahyang. Dalam
versi pertunjukan baju para penari dirubah menjadi cerah dan gemerlap.
Tahun 1962 tari Pendet disajikan secara kolosal oleh 3.000 penari pada pembukaan Asean
Games.Kini tari Pendet dibawakan para penari Bali dalam berbagai acara budaya maupun
pertunjukan. Duta-duta budaya Indonesia pun kerap membawakannya di luar negeri.

9. Tari Manasai

Pulau Kalimantan ternyata memiliki berbagai macam tradisi, adat-istiadat, kesenian, tari-tarian
dan berbagai macam ritual yang melekat dan erat dengan kehidupan masyarakat sehari-harinya.
Semua kegiatan tersebut akan mengundang decak kagum bagi orang-orang yang baru pertama
kali menginjakkan kaki di pulau ini. Tidak heran banyak juga orang asing yang melancong ke
sana untuk sekedar berlibur atau yang menetap untuk sementara waktu melakukan penelitian
atau observasi tentang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Manasai adalah satu jenis tari pergaulan yang ada pada masyarakat Dayak di Kalimantan
Tengah. Tarian ini dilakukan oleh beberapa orang peserta, pria dan wanita yang berdiri
berselang-seling antara pria dan wanita dalam satu lingkaran. Dimulai dengan semua
menghadap kedalam lingkaran, kemudian berputar ke arah kanan, sambil melakukan gerak
maju bergerak berlawanan arah jarum jam. kemudian menghadap ke arah luar lingkaran,
berputar lagi ke arah kiri sambil melakukan gerak maju. Begitu seterusnya sambil berputar
terus berlawanan arah jarum jam dengan mengikuti irama lagu pergaulan yang berjudul sama,
lagu manasai. Setiap gerakan kaki dalam tarian ini, mirip dengan gerakan dalam irama Cha-
Cha. Tidak ada batasan usia dalam tarian ini. siapapun dan dalam usia berapapun boleh
bergabung. Bergabung kedalam lingkaran tari dapat dilakukan kapan saja, mengikuti irama
lagu. Dengan bertambahnya peserta yang ikut bergabung, maka lingkaran tari pun akan
semakin membesar. Dan semakin banyak peserta tari, irama musik pun bisa semakin
dipercepat, dan suasana gembira serta meriah pun akan terbentuk dan tercipta.

Salah satu tari-tarian yang cukup dikenal adalah tari manasai. Tari ini merupakan tari yang
melambangkan kegembiraan. Tari ini biasanya juga diadakan untuk menyambut tamu-tamu
pemerintahan yang ke sana. Intinya tarian “selamat datang” untuk tamu-tamu yang berkunjung
ke Kalimantan. Tari ini juga biasanya dipentaskan pada acara festival budaya Isen Mulang
yaitu acara tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan dibantu oleh dinas
pariwisata dan dinas-dinas yang terkait, tujuannya adalah menarik minat wisatawan untuk
berkunjung serta memperkenalkan dan melestarikan budaya daerah sehingga masyarakat luar
juga mengetahui budaya dari daerah lain. Hal tersebut akan memperkaya budaya nasional
bangsa

Tari manasai selain dipentaskan pada festival budaya jug dapat ditemuai pada keseharian
kehidupan masyarakatnya. Dalam acara pernikahan adat, misalnya. Tari manasai biasanya
digemari oleh kalangan muda sampai kalangan tua. Penari biasanya mengelilingi beberapa guci
ukuran besar yang di lingkari dengan kain bahalai. Para penari akan menari dengan gemah
gemulai mengelilingi guci-guci tersebut selama beberapa putaran dengan di iringi lagu
karungut. Penari akan berhenti sampai lagu karungut yang di putar selesai. Sambil menari
biasanya ada satu orang yang memberi segelas “baram” (minuman memabukkan di
Kalimantan) kepada setiap penari. Tentunya kepada yang tidak terbiasa minuman ini akan
menimbulkan pusing kepala dan dapat mabuk olehnya.

Perlengkapan tari manasai biasanya baju adat, bahalai (selendang), kain yang diikatkan
mengelilingi kepala kemudian di sisipi Bulu Burung Tingang (Bulu Burung Engrang).
Kesemua itu sebagai pelengkap dalam tari manasai. Kesemua itu memiliki arti tersendiri bagi
yang mengerti terutama para tetua adat, namun saya tidak begitu mengerti akan arti-arti dari
semua perlengkapan yang dikenankan walaupun saya tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga
dayak. Ini kurangnya kesadaran sebagai generasi muda untuk belajar dan menggali lebih lagi
tentang kebudayaannya sendiri termasuk saya orangnya. Kalteng tak hanya kaya sumber daya
alam, masyarakatnya juga memiliki beragam tradisi warisan nenek moyang dari masa ke masa.
Salah satunya Tari Manasai, tarian penghormata untuk para tamu.
Di Bumi Tambun Bungai, hampir seluruh masyarakat kenal Tari Manasai. Tarian khas Suku
Dayak Kalteng yang mempertontonkan gerak dinamis penari, diiringi tetabuhan musik
tradisional ini, sering digelar untuk menyambut para tamu yang datang.

Gerak tarinya sederhana, sehingga mudah dipelajari siapa saja. Pola langkah dalam tarian
berbentuk melingkar di satu area, memungkinkan masing-masing penari bisa bertatap muka
satu sama lainnya. Sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu, tarian ini bisa diikuti oleh
banyak penari, termasuk mereka yang sedang disambut itu. Hingga saat ini, Tari Manasai tetap
lestari di Tanah Kalteng, mulai dari kawasan perkotaan hingga desa di pedalaman. Pun di
wilayah Murung Raya (Mura).

10. Tari Perang

Tarian perang atau Tari Tobe adalah tarian tradisional suku ASMAT. Dahulu tari Tobe
dilakukan ketika kepala suku memerintahkan rakyat untuk pergi berperang. Namun seiring
perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya peperangan antar
suku, tarian ini kini hanya menjadi tari resmi dalam penyambutan tamu penting, penyambutan
para turis asing dan yang paling sering dimainkan adalah dalam upacara adat. Tarian ini
dilakukan oleh 16 penari laki-laki dan 2 penari perempuan. Mereka menari dengan iringan tifa
dan lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Tari ini memang dimaksudkan untuk
mengobarkan semangat para prajurit. Panas mentari Papua yang menyengat tidak memudarkan
semangat mereka untuk terus menari dan menabuh musik pukul yang menjadi ikon Papua
tersebut. Penari biasanya mengenakan busana tradisional dengan manik-manik penghias dada,
rok terbuat dari akar bahar, dan daun-daun yang disisipkan pada tubuh. Pakaian penari
merupakan salah satu bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam.

BAB III PENUTUP

A.SARAN

Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat banyak kesalahan dan
jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada
banyak sumber serta kritik yang membangun dari para pembaca.

B.KESIMPUAN

Berdasarkan makalah diatas, dapat saya simpulkan bahwa makalah yang berjudul “Peran Tari
Masa Kini Bagi Perkembangan Pariwisata di Indonesia” yaitu :

 Dengan mulai berkembangnya pariwisata sebagai bagian dari kegiatan ekonomi, maka
jenis-jenis seni tari pada masa kini difungsikan secara ganda. Di satu sisi fungsi seni tari
sebagai kepentingan ritual yang berlangsung dalam satu ikatan serta waktu tertentu,
sedangkan pada sisi lain seni tari tersebut difungsikan sebagai sarana penunjang
pariwisata

 Pariwisata tari antara lain sebagai berikut:melalui tradisi rakyat, museum, musik, tari
dan seni
 Itu merupakan elemen penting yang memberikan nilai khusus pada produk pariwisata
dan dapat menginspirasi jutaan wisatawan untuk mengunjungi destinasi lainnya di
Indonesia

Adapun tarian-tarian yang berpengaruh bagi perkembangan pariwisata di Indonesia pada masa
kini seperti Tari Saman, Serampang Dua Belas Tari Tradisional Melayu Kesultanan,Tari
Merak,Tari Topeng,Tari Reog,Tari Pedet,Tari Perang,Tari Kecak,Tari Mansai,dan Tari
sendratari ramayana, drama dalam tarian khas jawa

C.DAFTAR PUSTAKA

J u r n a l I l m i a h S e n i M a k a l a n g a n | 99 “PERGESERAN FUNGSI SENI TARI


SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN DAN PELESTARIAN KEBUDAYAAN”

https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Lagalaga
http://jayantitea.blogspot.com/2013/01/seni-tari-dan-pariwisata.html

Pesona_Tari_sebagai_Aset_Pariwisata_Budaya_Indonesia.pdf