Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KODE ETIK TERAPIS GIGI DAN MULUT

Dosen Pembimbing: Bapak Prasko, S.Si.T, M.H

Disusun oleh:

Putri Amalia Mahsun

NIM. P1337425120096/1B

Program Studi D-III Kesehatan Gigi

Jurusan Keperawatan Gigi

Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

2020
Kata Pengantar

Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Allah Swt., yang telah
memberikan banyak nikmat, taufik, dan hidayah sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Kode Etik Terapis Gigi dan Mulut”
dengan baik tanpa adanya halangan yang berarti.

Makalah ini telah saya selesaikan dengan maksimal berkat kerja


sama dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya sampaikan
banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi
secara maksimal dalam penyelesaian makalah ini.

Di luar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya


bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari
segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan
segala kerendahan hati, saya selaku penyusun menerima segala kritik
dan saran yang membangun dari pembaca. Dengan makalah ini saya
berharap dapat membantu pembaca sekalian dalam mengetahui
tanggung jawab hukum dari profesi terapis gigi dan mulut.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga makalah ini dapat


menambah wawasan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata
untuk masyarakat luas.

Semarang, 17 Oktober 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Terapis Gigi dan Mulut merupakan salah satu jenis tenaga
Kesehatan dalam kelompok keperawatan yang dalam menjalankan
tugas profesinya harus berdasarkan Standar Profesi (SK Menkes
Nomor 1035 Tahun 1998). Pengertian dari profesi sendiri menurut
KBBI adalah bidang pekerjaan yang dilandasi Pendidikan keahlian
tertentu (keteramplinan, kejujuran, dan sebagainya).
Setiap pekerjaan yang tergolong ke dalam suatu profesi
harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya adalah
memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya.
Kode etik merupakan system norma, nilai dan aturan professional
tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik,
dan apa yang tidak benar dan tidak baik bago professional. Kode
etik juga menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah,
perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dipatuhi
oleh setiap mereka yang menjalankan profesi seperti, dokter,
perawat, perawat gigi (terapis gigi dan mulut), dan profesi lainnya.
Begitu halnya dengan perawat gigi (terapis gigi dan mulut)
yang merupakan suatu profesi bidang keperawatan gigi juga
memiliki kode etik. Dengan adanya kode etik ini diharapkan dapat
memberikan pedoman bagi tiap anggota profesi tentang prinsip
profesionalitas, dimana pelaksana profesi (perawat gigi) mampu
mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh
dilakukan. Disamping itu, kode etik juga merupakan sarana control
bagi masyarakat maupun profesi yang bersangkutan, serta
mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang
hubungan etika dalam keanggotaan profesi.
Kode etik disusun oleh organisasi profesi. Organisasi profesi
merupajan suatu wadah/tempat para anggota profesi tersebut
menggabungkan diri dan mendapat perlindungan. Di Indonesia,
organisasi profesi bidang Terapis Gigi dan Mulut adalah Persatuan
Terapis Gigi dan Mulut Indonesia (PTGMI), sedangkan untuk
perawat gigi adalah Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI).
Sebagai seorang perawat gigi atau terapis gigi dan mulut kita wajib
menghayati, menaati, dan mengamalkan apa yang sudah tertera di
dalam kode etik di wilayah hukum Indonesia. Kewajiban-kewajiban
sebagai seorang perawat gigi/terapis gigi dan mulut senantiasa
harus dilakukan dengan semaksimal mungkin, baik itu kewajiban
umum dalam memberikan pelayanan asuhan Kesehatan gigi dan
mulut, agama, hukum, kewajiban terhadap masyarakat, kewajiban
terhadap diri sendiri bahkan kewajiban terhadap rekan sejawat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja yang termasuk dalam kode etik seorang terapis gigi
dan mulut.
2. Bagaimana peran seorang terapis gigi dan mulut dalam
mengamalkan kode etik profesinya
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui kode etik profesi terapis gigi dan mulut di
Indonesia
2. Untuk mengetahui peran terapis gigi dan mulut dalam
menjalankan profesinya.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Terapis Gigi dan Mulut atau Perawat Gigi


Terapis gigi dan mulut merupakan salah satu jenis profesi
tenaga Kesehatan dalam kelompok keperawatan yang dalam
menjalankan tugas profesinya harus berdasarkan Standar Profesi
(SK Menkes Nomro 1035 Tahun 1998).

2.2 Pengertian Kode Etik


Kode etik adalah salah satu ciri atau persyaratan dari suatu
profesi dan mempunyai arti penting dalam menentukan,
mempertahankan, dan meningkatkan standar profesi, serta dapat
menunjukkan adanya tanggungjawab dari profesi dan kepercayaan
yang telah diberikan masyarakat (Kelly, 1987).
Kode etik adalah aturan tertulis yang secara sistematik sengaja
dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada, dan pada saat
dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi
segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum
(common sense) dinilai menyimpang dari etika (Martin, 1993)
Kode etik yang secara mekanismenya melekat pada organisasi
profesi, sangat diperlukan untuk menjaga martabat, serta
kehormatan profesi, dan disisi lain melindungi masyarakat dari
segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan keahlian
(Wignyosoebroto, 1999).

2.3 Tujuan Kode Etik


1. Sebagai aturan dasar terhadap hubungan antarperawat, pasien,
dan tenaga Kesehatan
2. Sebagai standar dasar untuk mengeluarkan perawat yang tidak
menaati peraturan, serta melindungi perawat yang menjadi
pihak tertuduh secara tidak adil.
3. Sebagai self control karena segala sesuatunya dibuat dan
diterapkan dari/dan untuk kepentingan kelompok profesi (social)
itu sendiri.

2.4 Pengertian Kode Etik Perawat Gigi


Perawat gigi yeng merupakan suatu profesi bidang
keperawatan gigi juga memiliki kode etik. Dengan adanya kode etik
ini diharapkan dapat memberikan pedoman bagi tiap anggota
profesi tentang prinsip profesionalitas, dimana pelaksana profesi
mampu mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan dan yang tidak
boleh dilakukan.
Disamping itu, kode etik juga merupakan sarana control bagi
masyarakat maupun profesi yang bersangkutan, serta mencegah
campur tangan pihak luar organisasi profesi tentang hubungan
etika dalam keanggotaan profesi.
Kode etik disusun oleh organisasi profesi. Organisasi
profesi merupakan suatu wadah/tempat para anggota
profesi tersebut menggabungkan diri dan mendapat
perlindungan. Di Indonesia, organisasi profesi bidang
keperawatan gigi adalah Persatuan Perawat Gigi
Indonesia(PPGI). Sebagai seorang perawat gigi kita wajib
menghayati, mentaati dan mengamalkan apa yang sudah
tertera didalam kode etik diwilayah hukum Indonesia.
Kewajiban-kewajiban sebagai seorang perawat gigi
senantiasa harus dilakukan dengan semaksimal mungkin,
baik itu kewajiban umum dalam memberikan pelayanan
asuhan kesehatan gigi dan mulut, agama, hukum,
kewajiban terhadap masyarakat, kewajiban terhadap diri
sendiri, bahkan kewajiban terhadap rekan sejawat.

2.5 Kewajiban Umum


Pasal 1
Setiap Perawat gigi Indonesia harus senantiasa menjalankan
profesinya secara optimal
Perawat gigi melakukan pekerjaannya sesuai dengan
pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut etika umum, etika
kesehatan gigi, hukum, dan agama. Pengetahuan dan keterampilan
dalam bidang kesehatan gigi dan mulut perlu dipelihara dan
ditingkatkan sesuai dengan kompetensi perawat gigi etika umum
dan etika kesehatan gigi dan mulut dilakukan dalam rangka
memberi pelayanan terbaik kepada pasien.
Sebagai contoh seorang perawat gigi dalam memberikan
pelayanan kesehatannya perlu memperhatikan prinsip etika dan
pengetahuan yang di dapat supaya mendapat hasil yang maksimal.

Pasal 2
Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib menjunjung tinggi norma-
norma hidup yang luhur.
Seorang perawat gigi dalam menjalankan profesinya harus
membawa diri dalam sikap yang terpuji. Baik dalam hubungannya
terhadap pasien, masyarakat, teman sejawat maupun profesinya.
Dalam menjalankan tugasnya, perawat gigi harus mematuhi norma-
norma luhur yang berlaku di daerah dimana ia menjalankan tugas
sebagai perawat gigi. Oleh karena itu Perawat gigi Indonesia
berkewajiban untuk menjaga tingkah laku, tutur kata serta sikapnya
agar selalu seimbang dengan martabat jabatan Perawat Gigi
sebagai salah satu tenaga kesehatan gigi. Masyarakat memandang
perawat gigi. Karena masyarakat menilai seorang perawat gigi tidak
hanya berdasarkan kemampuan dalam memberikan pelayanan
asuhan Kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat, tetapi juga
berdasarkan cara dan sikap hidupnya dalam masyarakat.

Pasal 3
Dalam menjalankan profesi, setiap Perawat Gigi Indonesia tidak
dibenarkan melakukan perbuatan yang bertententangan dengan
Kode Etik.
Dalam hal ini sebagai seorang perawat yang profesional
harus bekerja berdasarkan kode etik yang telah diatur dan
disepakati. Apabila ada pelanggaran yang dilakukan dalam proses
perawatan maka akan diberi sanksi yang telah dimuat dalam kode
etik profesi perawat gigi. Contoh: apabila seorang perawat gigi
membuka praktik tanpa lisensi maka akan diberi peringatan dan
jika hal itu terus berlanjut maka akan dikeluarkan dari organisasi
profesi.

Pasal 4
Setiap perawat gigi Indonesai harus memberikan kesan dan
keterangan atau pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan.
Yang dimaksud dalam pasal 4 itu adalah bahwa setiap
perawat gigi harus mampu mempertanggungjawabkan tentang apa
yang telah disampaikan kepada pasien. Misalnya dalam hal
melakukan tindakan scaling pada pasien, apa saja langkah-langkah
yang akan dilakukan dan dihadapi oleh pasien, seberapa besar
kemungkinan perawatan akan berhasil dan bahkan resiko seperti
apa yang akan dihadapi ketika pasien melakukan tindakan scaling.
Kemudian perawat gigi juga berwenang dalam hal
mempertanggung jawabkan rekam medis pasien dan harus sesuai
dengan keadaan pasien yang sebenarnya terjadi pada diri pasien
itu sendiri, bahkan ketika terjadi kesalahan dalam melakukan
tindakan pelayanan Kesehatan terhadap diri pasien sang perawat
akan mempertanggunjawabkan nya ataupun
mempertanggunggugatkan.

Pasal 5
Setiap perawat Gigi Indonesia agar menjalin kerja sama yang baik
dengan tenaga Kesehatan lainnya.
Perawat gigi harus dapat menjalin kerjasama dengan
pelaksana tenaga kesehatan menyeluruh seperti dokter gigi, dokter
umum, bidan, perawat umum, ahli gizi maupun penyuluh kesehatan
masyarakat agar terjalin hubungan yang baik, harmonis dan saling
menghargai. Hubungan kerjasama yang baik dapat mendukung
terjalinnya kolaborasi perawat gigi dengan tenaga Kesehatan yang
lain sehingga dapat melakukan asuhan pelayanan kesehatan
dengan terapeutik.

Pasal 6
Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib bertindak sebagai motivator
dan pendidik masyarakat.
Perawat bertindak sebagai motivator bertujuan untuk
memberi suatu motivasi/semangat dalam hal kesehatan gigi dan
mulut pasien. Hal ini diterapkan karena motivasi merupakan suatu
pencegahan primer.

Pasal 7
Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib berupaya meningkatkan
Kesehatan gigi dan mulut masyarakat dalam bidang promote,
preventif, dan kuratif sederhana.
Perawat gigi Indonesia dalam rangka meningkatkan
Kesehatan gigi dan mulut diwajibkan untuk melakukan usaha baik
secara pencegahan, promotif, maupun tindakan kuratif sederhana.
Peran perawat gigi dalam upaya promotif dan preventif dilakukan
untuk mencegah timbulnya penyakit gigi dan mulut, upaya ini
dilakukan sebagai rencana berjangka guna menekan angka
terjadinya penyakit gigi dan mulut dalam masyarakat, sedangkan
peran perawat gigi dalam upaya kuratif sederhana adalah dengan
memberikan tindakan yang bersifat kuratif yakni disaat penyakit gigi
dan mulut sudah menjangkiti seseorang, namun tindakan kuratif
yang diberikan adalah sederhana, tidak melebihi batas wewenang
yang dimiliki oleh seorang perawat gigi sesuai SOP.

2.6 Kewajiban Perawat Gigi terhadap Masyarakat


Pasal 8
“Dalam melaksanakan profesinya, setiap Perawat Gigi
Indonesia wajib memberikan pelayanan yang sebaik
mungkin kepada individu masyarakat.”
Perawat gigi juga termasuk tenaga kesehatan yang
di didik dan nantinya juga bekerja untuk masyarakat luas.
Jadi sudah seharusnya menjadi kewajiban untuk perawat
gigi memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada
individu masyarakat.
Selain itu perawat gigi juga wajib untuk memperhatikan dan
mendapat persetujuan apa yang akan dilakukan terhadap pasien.
Jika tidak, perawatan tidak mungkin bisa diteruskan. Jika iya, harus
laksanakan semaksimal mungkin. Dengan adanya prosedur seperti
ini, tidak mendapat kesan kalau pasien tidak tahu apa yang
dilakukan perawat terhadapnya, walaupun si perawat sudah
menjelaskan tentang indikasi yang sesuai dengan keadaan
penderitanya, tapi pasien lah yang sepenuhnya menentukan akan
dilakukan tindakan atau tidak.
Pasal 9
“Dalam hal ini ketidakmampuan dan diluar kewenangan
Perawat Gigi Indonesia berkewajiban merujuk kasus yang
ditemukan kepada tenaga yang lebih ahli.”
Apabila seorang perawat gigi tidak dapat menangani
sebuah kasus, dikarenakan hal tersebut bukan
kompetensinya, maka ia harus merujuknya ke tenaga
medis yang lebih ahli atau berkompeten dalam bidangnya
misalnya ke dokter gigi atau dokter gigi spesialis.

Pasal 10
“Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib merahasiakan
segala sesuatu yang ia ketahui tentang kliennya.”
Hal tersebut merupakan hal yang sangat sensitive
bagi pasien. Ketidaknyamanan si pasien, merasa rendah
diri, minder, atau lingkungan sosialisasinya akibat rahasia
medis yang tidak dijaga dapat menurunkan semangat
untuk sembuh karena pasien tersebut sudah tidak nyaman
dengan lingkungannya.
Namun, jika harus dirahasiakan kepada keluarganya, nampaknya
kurang setuju. Karena keluarga adalah orang terdekat pasien sehingga
diharapkan mereka bisa membantu dalam proses penyembuhan, seperti
memberikan semangat, mengupayakan pelayanan yang lebih baik, dan
sebagai wujud kasih sayang terhadap pasien.

Pasal 11
“Setiap Perawat gigi indonesia wajib memberikan
pertolongan darurat dalam batas-batas kemampuan,
sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali pada waktu
itu ada orang lain yang lebih mampu memberikan
pertolongan.”
Pasal tersebut menjelaskan kewajiban perawat gigi
terhadap masyarakat. Dalam keadaan darurat seorang
Perawat Gigi wajib memberikan pertolongan kepada
siapapun yang membutuhkan dan apapun yang
dideritanya. Pertolongan yang diberikan tentu dalam
batas- batas tindakan keterampilan, keahlian dan
pengetahuan yang dimilikinya.
Walaupun sangat terbatas, namun tetap harus
mengerjakan segala sesuatu dalam upaya menyelamatkan
seseorang. Pertolongan harus diberikan apabila tidak ada
orang lain yang mampu memberikan.
Kami sependapat, karena bagaimanapun juga kita sebagai
tenaga kesehatan harus siap dan sigap dalam melayani
masyarakat dalam kondisi apapun dan kapanpun. Namun memang
perlu diperhatikan sejauh mana kemampuan yang kita miliki agar
tidak terjadi kesalah yang tidak diinginkan. Sebaiknya jangan
menangani kasus di luar kompetensi kita sebagai perawat gigi,
lakukan pertolongan sederhana sesuai kompetensi kita, kemudian
rujuk pada orang yang lebih mampu menangani kasus tersebut,
misalnya dokter gigi. Jangan sampai kita melakukan kesalahan
yang dapat berakibat fatal dan merugikan pasien, alih – alih
bertujuan menolong tapi yang terjadi malah membahayakan
pasien.

2.7 Kewajiban Perawat Gigi terhadap Teman


Sejawatnya

Pasal 12
“Setiap Perawat Gigi Indonesia harus memperlakukan
teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri diperlakukan.”
Sesama Perawat Gigi sebaiknya tidak merasa lebih
tinggi dari rekan kerjanya. Hal ini dikarenakan untuk
menciptakan proses kerja yang, adil serta tidak
menimbulkan kesenjangan. Selain itu, bertujuan untuk
membentuk lingkungan kerja yang nyaman, sehingga
kinerja yang dihasilkan pun optimal.
Dalam usaha menciptakan suasana kerja yang
diinginkan, tentunya tidak terlepas dari andil organisasi
profesi yang menaungi. Pengetahuan yang dimiliki
hendaknya dibagikan kepada sesame perawat gigi. Untuk
memudahkan adanya sharing pengalaman antar sesame
perawat gigi, alangkah baiknya jika setiap perawat gigi
menjadi anggota dari organisasi PPGI dna terapis gigi dan
mulut menjadi anggota PTGMI, sehingga feel Kerjasama
san penerimaan dalam sebuah komunitas itu ada.
Forum antar perawat gigi juga dapat memfasilitasi
dalam pencarian solusi atau kesalahpahaman yang timbul
antarsesama perawat gigi. Selain itu dapar dijadikan
sebagai sarana curah pendapat tentang isu-isu teraltual
dalam dunia kedokteran gigi.

2.8 Kewajiban Perawat Gigi terhadap Diri Sendiri


Pasal 13
“Setiap perawat gigi Indonesia wajib mempertahankan dan
meningkatkan martabat dirinya.”
Meningkatkan martabat dirinya, berarti bahwa perawat
gigi wajib bekerja secara teleti dan hendaknya selalu
berusaha mawas diri untuk meningkatkan citra perawat
gigi di masyarakat.
Pasal 14
“Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib mengikuti secara
aktif perkembangan pengetahuan dan teknologi.”
Dapat kita lihat pada realitanya dilapangan, asuhan keperawatan
yang dilakukan masih bersifat manual dan konvensional, belum
disertai dengan sistem/perangkat tekhnolgi yang memadai.
Contohnya dalam hal pendokumentasian asuhan keperawatan
masih manual, sehingga perawat mempunyai potensi yang besar
terhadap proses terjadinya kelalaian dalam praktek. Dengan
adanya perkembangan teknologi, maka sangat dimungkinkan bagi
perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian asuhan
keperawatan yang lebih baik.

Pasal 15
“Setiap Perawat Gigi Indonesia harus memelihara
kesehatannnya supaya dapat bekerja dengan baik.”
Dalam pasal 15 disebutkan bahwa setiap perawat gigi di
Indonesia harus memeliharanya kesehatannya, kita sebagai calon
perawat gigi harusnya memberikan contoh yang baik kepada
masyarakat tentang bagaimana caranya memelihara kesehatan,
terutama kesehatan gigi dan mulut. Seperti memeriksakan gigi
minimal 6 bulan sekali, menggosok gigi minimal 2 kali sehari
(setelah sarapan dan sebelum tidur). Dan menjaga kebersihan
dirinya serta lingkungan sekitarnya, dan memperhatikan syarat-
syarat pencegahan antara lain dengan imunisasi, mencuci tangan,
memakai masker dan sarung tangan.
Tapi dalam realitanya di Indonesia masih sering ditemui
perawat gigi yang tidak memperhatikan syarat-syarat kesehatan.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kode Etik Perawat Gigi Indonesia yang menjadi


landasan kehidupan dan landasan dalam
melaksanakan 2 tahun, melainkan jiwa dan
perbuatannya untuk segala zaman, serta untuk setiap
insan yang selalu mengumandangkan.m“ apa yang
tidak kau inginkan, orang lain berbuat terhadapmu,
jangan berbuat itu terhadap orang lain “.

Oleh karena itu setiap Perawat Gigi Indonesia


harus menjaga nama baik dengan ilmu, moral dan
etika.

Seseorang atau beberapa orang berbuat salah,


seluruh Perawat Gigi terbawa dalam kesalahan itu
ataupun mendapat nama tidak baik, seperti peribahasa
: “ karena nila setitik, rusak susu sebelanga“.

Keberhasilan penghayatan dan pengamalan


Kode Etik Perawat Gigi Indonesia bergabung dari
Etika, serta partisipasi dari seluruh Perawat Gigi
Indonesia.

3.2. Saran
Dalam pelaksanaannya dibutuhkan tingkat profesionalitas
yang tinggi dari seluruh perawat gigi Indonesia dan partisipasi antar
sesame teman sejawatnya.
Perawat gigi Indonesia harus menjaga nama baik dengan
ilmu, moral dan etika agar tidak berdampak buruk pada nama baik
seluruh perawat gigi di Indonesia.

Daftar Pustaka

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


378/Menkes/Sk/Iii/2007 Tentang Standar Profesi Perawat Gigi

Prasko A, 2011, Definisi Perawat gigi, diakses pada 17 Oktober 2020, <

https://prasxo.wordpress.com/2011/02/17/definisi-perawat-gigi/>

Pudentiana, DKK, 2010, Etika Profesi Perawat Gigi, EGC: Jakarta

Anda mungkin juga menyukai