Anda di halaman 1dari 35

Nama : Catur Anggraheni

NIM : 1705095083

Kelas : BK-B 2017

Research Proposal Flow Chart “Perbedaan Tingkat Pengetahuan Pendidikan Seks Antara
Peserta Didik dengan Pola Asuh Otoriter, Permisif, dan Demokratis di SMAN X Balikpapan”
1. Introduction (Perkenalan)
What :
a. Perilaku seksual pranikah meningkat, perilaku seksual pra nikah ini
akan mengakibatkan beberapa permasalahan lain seperti :
1) Tingginya penyakit menular seksual (PMS), seperti
HIV/AIDS, klamidia, gonore, sifilis
2) Tingginya tingkat kehamilan di luar nikah
3) Tingginya tingkat aborsi
b. Remaja kurang memahami fungsi tubuhnya sendiri, sehingga
seringkali remaja kebingungan saat tumbuh tanda tanda baik tanda
seks primer maupun seks sekunder
c. Rentan terhadap bahaya pelecehan seksual
d. Membentuk pemahaman yang salah tentang seks
Why : Pemahaman pendidikan seks rendah.
How : Pada masa remaja, keingintahuan tentang seksualitas adalah hal yang
wajar, namun jika tidak diarahkan, rasa keingintahuain ini akan menjadi
malapetaka bagi remaja. Seringkali, remaja mencari sumber yang salah
mengenai seksualitas, sumber yang salah ini dapat berasal dari menonton
film porno maupun membaca manga/manhwa dewasa. Sumber yang salah,
akan membuat persepsi anak mengenai seks keliru. Orang tua adalah guru
peserta didik di dalam rumah, sehingga terdapat kemungkinanan adanya
perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta didik dengan
pola asuh otoriter, permisif, dan demokratis.
Pertanyaan penelitian (research question) yaitu :
1. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks
antara peserta didik ditinjau dari pola asuh orang tua?
2. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks
antara peserta didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik
dengan pola asuh demokratis?
3. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks
antara peserta didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik
dengan pola asuh permisif?
4. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks
antara peserta didik dengan pola asuh permisif dan peserta didik
dengan pola asuh demokratis?
Ringkasan Proposal (summary of proposal) yaitu untuk mengetahui :
1. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks
antara peserta didik ditinjau dari pola asuh orang tua.
2. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks
antara peserta didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik
dengan pola asuh demokratis.
3. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks
antara peserta didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik
dengan pola asuh permisif.
4. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks

2. Literature Review (Tinjauan Pustaka)


Literature Review (tinjauan pustaka) :
A. Literature on topic (literatur tentang topik)
1. Pengetahuan Pendidikan Seks
a) Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melaksanakan pengindraan terhadap suatu objek
tertentu, pengindraan terjadi melaluai panca indara manusia,
yakni panca indra penglihatan , pendengaran, penciuman, rasa
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di
perolehmelalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk
tindakan seseorang (over behavior) (Notoatmodjo, 2012).
b) Pengertian Pengetahuan Pendidikan Seks
Sedangkan menurut Sarwono (2011), secara umum pendidikan
seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas
manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya
pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual,
hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan
kemasyarakatan
c) Pentingnya Pengetahuan Pendidikan Seks
Pendidikan sex penting yaitu karena : (1) memberikan bekal
pengetahuan kepada anak, serta membuka wawasan anak
seputar masalah sex secara benar dan jelas sehingga anak
memiliki kesadaran akan fungsi organ reproduksinya serta
paham tentang cara menjaga dan memeliharanya (2)
menghindarkan anak dari berbagai kejahatan sexual dan resiko
negatif dari perilaku sexual yang tidak bertanggung jawab
(Haryono et al., 2018).
d) Tujuan Pengetahuan Pendidikan Seks
Tujuan lain dari pendidikan seksualitas tidak hanya mencegah
dampak negatif dari perilaku seksual di usia dini sebagaimana
dikutipkan oleh banyak orang, tetapi yang lebih penting
menekankan pada kebutuhan akan informasi yang benar dan
luas tentang perilaku seksual serta berusaha untuk memahami
seksualitas manusia sebagai bagian penting dari kepribadian
yang menyeluruh ( Bruess & Greenberg dalam Qibtiyah,
2006).
e) Materi Pendidikan Seks
Materi pendidikan seks bisa mencakup tentang kesehatan seksual,
anatomi dan fungsi alat reproduksi, perkembangan dan
pertumbuhan mental dan fisik, desinisi seks dan seksualitas,
kehamilan dan pencegahan kehamilan.
f) Sumber Pendidikan Seks
Pendidikan seks dapat bersumber dari lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, dan lingkungan sekitar (teman sebaya dan
media massa)
2. Pola Asuh Orang Tua
a) Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Menurut Aisyah (dalam Novianti, 2011) Pola asuh orang tua
merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan
kegiatan pengasuhan.
b) Dimensi Pola Asuh
Menurut Pratiwi (1998), ada empat dimensi dalam mengasuh anak
yaitu : dimensi kontrol, tuntutan, kejelasan komunikasi antara orang
tua dan anak, dan pemeliharaan terhadap anak.
c) Jenis Pola Asuh
Tipe pola asuh orang tua menurut Stewart & Koch ada tiga yaitu
pola asuh demokratis, permisif dan otoriter.
d) Faktor Pola Asuh
Menurut Triwardani (dalam Pratiwi, 1998), terdapat faktor-faktor
yang mempengaruhi pola asuh, yaitu: sosial ekonomi, pendidikan,
kepribadian, nilai-nilai yang dianut orang tua, dan jumlah anak.
3. Hubungan Antara Pengetahuan Pendidikan Seks dengan Pola Asuh
Orang Tua
Pendidikan seks harus diberikan oleh orang tua sejak dini, hal
ini disebabkan karena mengajarkan seksualitas yang benar
membutuhkan proses yang panjang, sejak lahir sampai tahap remaja
akhir. Pemahaman pendidikan seks yang diberikan melalui pola asuh
orang tua diharapkan agar anak mendapat informasi yang tepat
mengenai seks, hal ini dikarenakan adanya media lain yang dapat
mengajari anak mengenai pendidikan seks. Oleh karena itu pola asuh
orang tua berhubungan dengan pengetahuan pendidikan seks pada
peserta didik.

B. Literature on Method (Literatur tentang metode)


Pendekatan penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode
kuantitaif komparatif atau perbandingan.

C. Theoretical Approach (Pendekatan teoritis)


Pendekatan teoritis yang digunakan yaitu pendekatan fiolosofi
progresivisme.

D. Find a hole (Temukan kejanggalan) dan look for debates (temukan


perdebatan)
Walaupun sebesar 67,36% orang tua sudah memiliki pengetahuan
tentang tujuan pendidikan seks untuk anak usia dini , akan tetapi
sebesar 76,4% orang tua belum memahami dengan baik cara
menyampaikan pendidikan seks yang benar (Nadar, 2017). Oleh
karena itu perlu diketahui perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan
seks berdasarkan jenis pola asuh orang tua.
3. Methodology (Metodologi)
A. Research Design (Desain Penelitian)
Pendekatan penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode
kuantitaif komparatif atau perbandingan.
B. Research Prosedures (Prosedur Penelitian)
Terdapat lima tahap prosedur penelitian kuantitatif komparatif yaitu :
1. Penentuan masalah penelitian
2. Penentuan kelompok yang memiliki karakteristik yang ingin
diteliti
3. Pemilihan kelompok pembanding
4. Pengumpulan data
5. Analisis data
C. Kind of Data (Jenis Data)
Data berbentuk data kuantitatif. Jenis data berbentuk nomor dan
bilangan.
D. Collection Procedures (Prosedur Pengumpulan)
Angket dan wawancara.
E. Selection and Access (Seleksi dan Akses)
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji
persyaratan analisis dan uji hipotesis.
F. Human Subjects Review (Tinjauan Subjek Manusia)
1. Peserta didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada
jalur pendidikan baik pendidikan informal, pendidikan formal
maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis
pendidikan tertentu.
2. Orang tua
Orang tua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak, baik melalui
hubungan biologis maupun sosial. 
G. Ethics Statement (Pernyataan Etika)
-
H. Costs and Funding (Biaya dan Pendanaan)
Tidak ada.

4. Preliminary Data (Data awal)

A. Evidence of importance (bukti penting)


Menurut survey yang dilakukan oleh Standar Kompetensi Dokter
Indonesia (SKDI) pada 2017 tercatat 80% wanita dan 84% pria
mengaku pernah berpacaran. Aktifitas berpacaran yang dilakukan
antara lain berpegangan tangan pada wanita 64%, dan pada pria 75% ,
berpelukan pada wanita 17% dan pada pria 33% , cium bibir pada
wanita 30% dan pada pria 50% dan meraba/diraba pada wanita 5%
dan pada pria 22% .
B. Informs Methodology (informasi metodologi)
Pendekatan penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode
kuantitaif komparatif atau perbandingan. Penelitian komparatif adalah
bentuk analisis variabel (data) untuk mengetahui perbedaan di antara
dua kelompok data (variabel) atau lebih (M. Iqbal, 2001).
C. Preliminary Findings (penemuan terdahulu)
Dalam junal oleh Djufri et al (2019), menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara pola asuh dengan tingkat pengetahuan pendidikan
seks, disimpulkan bahwa peserta didik dengan pola asuh demokratis
lebih memiliki tingkat pengetahuan pendidikan seks dibanding peserta
didik dengan pola asuh otoriter atau permisif.
D. Important Categories and Relationships (kategori dan hubungan yang
penting)
Kategori dan hubungan yang penting yang akan dicari di dalam
penelitian ini yaitu tentang hubungan pola asuh orang tua dengan
tingkat pemahaman pendidikan seks, lebih khususnya akan membahas
tentang perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan seks antara peserta
didik dengan pola asuh permisif, demokratis, dan otoriter.

5. Statement of Limitations (Batasan pernyataan)

A. Alternatives (Alternatif)
Diharapkan orang tua di rumah dapat memberikan beberapa topik
tentang pendidikan seks, seperti :
1. Seks dan seksualitas
2. Mengenal dan merawat organ seks (alat reproduksi)
3. Pergaulan lawan jenis (peran gender, batasan pergaulan dengan
lawan jenis)
4. Pemahaman tentang hubungan seksual di luar nikah berdasarkan
budaya dan agama yang dianut
Sedangkan, guru BK dapat memberikan topik tentang pendidikan seks
sebagai berikut :
1. Seks dan seksualitas
2. Mengenal dan merawat organ seks (alat reproduksi)
3. Pergaulan lawan jenis (peran gender, batasan pergaulan dengan
lawan jenis)
B. Weaknesses (Kelemahan)
Kelemahan penelitian kuantitatif komparatif antara lain : 1. tidak
terdapat kontrol dari variabel bebas, 2. sulit dalam memilih faktor
penyebab secara aktual, 3. faktor tunggal tidak membentuk hasil (harus
ada gabungan faktor faktor lain), dll.
C. What my research will do (Apa yang akan dilakukan oleh penelitian
saya)
Penelitian ini akan mencari perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan
seks antara peserta didik dengan pola asuh permisif, demokratis, dan
otoriter di SMAN X Balikpapan
6. Conclusion (Kesimpulan)

A. Contributions (Kontribusi)
Kontrubusi yang peneliti hendak harapkan dari penelitian ini yaitu :
1. Bagi Guru
Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memberikan informasi
tentang perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan seks antara
peserta didik dengan pola asuh permisif, demokratis, dan otoriter
sehingga dapat membantu pihak sekolah untuk memantau dan
memperhatikan peserta didik dalam pemberian pendidikan seks di
sekolah.
2. Bagi Peneliti
Dengan penelitian ini peneliti dapat menambah dan meningkatkan
wawasan, pengetahuan yang berkaitan dengan perbedaan tingkat
pengetahuan pendidikan seks antara peserta didik dengan pola asuh
permisif, demokratis, dan otoriter serta harapannya penelitian ini
dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian lainnya.
B. Importance (Kepentingan)
Kepentingan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan
tingkat pengetahuan pendidikan seks antara peserta didik dengan pola
asuh permisif, demokratis, dan otoriter.
Introduction (Perkenalan) :

A. What, How, Why? (Apa, bagaimana, dan mengapa?)


Semua manusia pasti pernah mengalani suatu rentang kehidupan yang
bernama masa remaja. Masa remaja adalah masa penghubung antara masa kanak
kanak dan masa dewasa. Pada usia remaja terjadi pertumbuhan dan perkembangan
psikologis dan fisik. Secara psikologis ditandai dengan sikap, perasaan, dan emosi
yang tidak stabil, sedangkan secara fisik masa remaja seringkali ditandai dengan seks
primer (haid dan mimpi basah) dan seks sekunder (pada laki laki tumbuh jakun, bulu
ketiak, dll dan pada perempuan payudara membesar, pinggul melebar dll). Masa
remaja dibagi menjadi 2 fase yaitu masa remaja awal dengan usia antara 13-17 tahun
dan masa remaja akhir usia antara 17-18 tahun (B. Hurlock, 2010). Pada masa remaja,
remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar, rasa ingin tahu remaja dapat
digambarkan segabai proses ingin memahami, mengerti, mengetahui, dan pada
akhirnya melaksanakan suatu hal tertentu. Rasa ingin tahu remaja biasanya disalurkan
dengan mencari informasi di berbagai referensi, baik melalui buku, internet, film,
komik, series dan lain lain. Pada masa remaja, keingintahuan tentang seksualitas
adalah hal yang wajar, namun jika tidak diarahkan, rasa keingintahuain ini akan
menjadi malapetaka bagi remaja. Seringkali, remaja mencari sumber yang salah
mengenai seksualitas, sumber yang salah ini dapat berasal dari menonton film porno
maupun membaca manga/manhwa dewasa. Sumber yang salah, akan membuat
persepsi anak mengenai seks keliru.
Persepsi yang keliru ini dapat menghasilkan perilaku seksual pranikah pada
remaja. Perilaku seksual pranikah adalah perilaku perilaku seksual yang dilakukan
sebelum menikah. Perilaku seksual ini, dimulai dari berpegangan tangan, berciuman,
saling meraba organ intim, sampai hubungan badan. Di Indonesia 63% remaja sudah
pernah melakukan kontak seksual dengan lawan jenisnya dan 21% pernah melakukan
aborsi (BKKBN, 2008). Menurut survey yang dilakukan oleh Standar Kompetensi
Dokter Indonesia (SKDI) pada 2017 tercatat 80% wanita dan 84% pria mengaku
pernah berpacaran. Aktifitas berpacaran yang dilakukan antara lain berpegangan
tangan pada wanita 64%, dan pada pria 75% , berpelukan pada wanita 17% dan pada
pria 33% , cium bibir pada wanita 30% dan pada pria 50% dan meraba/diraba pada
wanita 5% dan pada pria 22% . Selain itu dilaporakan 8% pria dan 2% wanita telah
melakukan hubungan seksual. Di Samarinda sendiri, pada tahun 2018, dari 125
responden remaja perempuan berusia 19 tahun, responden yang melakukan kegiatan
seksual “Bergandengan Tangan” sebanyak 97,6 %, “Berpelukan dan Membelai”
sebanyak 59,2 %, “Berciuman” sebanyak 68,0 %, “Berciuman dengan Lidah”
sebanyak 56,0 %, “Meraba-raba alat kelamin” sebanyak45,6 %, “Masturbasi”
sebanyak 35,2 %, “Oral Seks”sebanyak 44,0 %, “Seks Melalui Anus”sebanyak34,4
%, dan “Seks Melalui Vagina” sebanyak 45,6 %. (Purwanto & Kalsum, 2018).
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kaltim, juga menyebutkan
bahwa sejak tahun 2012, remaja kaltim berumur 14 tahun sudah melakukan hubungan
seks dengan pacarnya (korankaltim.com). Fakta di lapangan yang penulis temukan
juga tidak jauh berbeda, di salah satu SMK di Balikpapan setiap tahunnya juga
terdapat paling sedikit satu peserta didik yang harus berhenti sekolah karena hamil di
luar nikah.
Salah satu dampak lain akan minimnya pemahaman pendidikan seks oleh
remaja yaitu pemahaman akan tanda tanda seks primer dan seks sekunder yang
rendah. Sebesar 59.52% remaja berpengetahuan kurang baik tentang tanda tanda seks
sekunder (Rostinah, 2012). Banyak remaja yang kebingungan saat mulai tumbuh
tanda tanda seks primer/seks sekunder seperti mimpi basah atau menstruasi, tumbuh
jakun, payudara membesar, pinggul membesar, dll.
Belum lama ini, penduduk Indonesia dihebohkan oleh mantan anggota DPRD
NTB yang melakukan pelecehan seksual kepada anak kandungnya sendiri. Banyak
remaja yang belum memahami benar bagaimana bentuk pelecehan pelecehan seksual.
Hasil Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, 2014 silam dari 2.726
kekerasan terhadap anak, 56% di antaranya berupa pelecehan seksual. Di tahun 2017
dari bulan Januari hingga bulan Juli, terjadi peningkatan pengaduan sangat tajam, ada
2.898 kasus di mana 59,30% kekerasan seksual dan sisanya kekerasan lainnya (KPAI,
2017) (dalam Amalia et al., 2018). Di Balikpapan sendiri, Dinas Pemberdayaan
Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), menyatakan
bahwa dalam sebulan, dapat terjai 2-3 kasus kekerasan seksual. Hal ini dapat
disebabkan karena kurangnya pemahaman tentang pendidikan seks. Hal ini didukung
oleh data bahwa pendidikan seksual berpengaruh signifikan terhadap kejadian
kekerasan seksual pada anak SD di Sumatra Barat (Amalia et al., 2018)
Dewasa ini, pendidikan seks bukanlah sesuatu yang tabu lagi untuk
dibicarakan. Pendidikan seks hakikatnya dapat diberikan oleh orang tua kepada anak
sedini mungkin, pada saat di sekolah-pun, guru BK diharapkan dapat memberikan
pengetahuan tentang pendidikan seks. Namun, tidak semua orang tua memiliki
kesadaran dan kemauan untuk memberikan anak meraka pendidikan seks. Sebesar
67,36% orang tua sudah memiliki pengetahuan tentang tujuan pendidikan seks untuk
anak usia dini , akan tetapi sebesar 76,4% orang tua belum memahami dengan baik
cara menyampaikan pendidikan seks yang benar (Nadar, 2017). Pengetahuan
pendidikan seks yang diberikan oleh pola asuh orang tua melalui anak diharapkan
dapat mencegah perilaku seksual pra nikah, bahaya pelecehan seksual, dan
pemahaman yang salah tentang seks. Pola asuh merupakan bimbingan, didikan, dan
perlindungan orang tua kepada anak melakui interaksi dan komunikasi untuk
mencapai kedewasaan anak yang sesuai dengan norma masyarakat.
Dikarenakan urgensi pemahaman pendidikan seksual yang tinggi, maka
diperlukan benar pemberian pendidikan seks pada remaja. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa terdapat beberapa masalah yang ditimbulkan dari kurangnya pemahaman
tentang pendidikan seks yang dialami oleh sekelompok peserta didik yaitu :
1. Perilaku seksual pranikah meningkat, perilaku seksual pra nikah ini akan
mengakibatkan beberapa permasalahan lain seperti :
1) Tingginya penyakit menular seksual (PMS), seperti HIV/AIDS, klamidia,
gonore, sifilis
2) Tingginya tingkat kehamilan di luar nikah
3) Tingginya tingkat aborsi
2. Remaja kurang memahami fungsi tubuhnya sendiri, sehingga seringkali remaja
kebingungan saat tumbuh tanda tanda baik tanda seks primer maupun seks
sekunder
3. Rentan terhadap bahaya pelecehan seksual
4. Membentuk pemahaman yang slaah tentang seks
B. Research Question (Pertanyaan penelitian)
1. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik ditinjau dari pola asuh orang tua?
2. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik dengan pola asuh demokratis?
3. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik dengan pola asuh permisif?
4. Apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik dengan pola asuh permisif dan peserta didik dengan pola asuh demokratis?
C. Summary of Proposal (ringkasan proposal)
1. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik ditinjau dari pola asuh orang tua.
2. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik dengan pola asuh demokratis.
3. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik dengan pola asuh otoriter dan peserta didik dengan pola asuh permisif.
4. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman pendidikan seks antara peserta
didik dengan pola asuh permisif dan peserta didik dengan pola asuh demokratis.

Literature Review (tinjauan pustaka) :

A. Literature on topic (literatur tentang topik)


1. Pengetahuan Pendidikan Seks
a) Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan bagian dari ilmu, oleh karena itu pengetahuan
dan ilmu adalah hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu berarti
pengetahuan yang disusun secara sistematis, sedangkan pengetahuan yaitu
sesuatu yang ditangkap oleh pancaindera dan diolah melalui pikiran. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan adalah segala sesuatu
yang diketahui. Pengetahuan dalam bahasa Inggris disebut sebagai knowledge
yang mempunyai arti; (1) the fact or conditioning of being aware of something
(kenyataan atau kondisi menyadari sesuatu). (2) the fact or conditioning of
knowing something with familiarity gained through experience or association
(kenyataan atau kondisi mengetahui sesuatu yang diperoleh secara umum
melalui pengalaman atau asosiasi), (3) the sum of is known; the body of truth,
information, and principles acquired by mankind, (sejumlah pengetahuan,
susunan kebenaran informasi, dan prinsip-prinsip yang diperoleh manusia) (4)
the fact or condition of having information or of being learned (kenyataan atau
kondisi memiliki informasi yang sedang dipelajari) (Suhartono, 1997).
Menurut Pudjawidjana , pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas
rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui objek dengan
indera dan pengetahuan merupakan hasil yang terjadi setelah orang melakukan
penginderaan sebuah objek tertentu. Sedangkan menurut Notoatmodjo ,
pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang
melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga (Jujun S. Suriasumantri, 2012). Pengetahuan menurut
Wibowo dkk (2010), pengetahuan adalah semua informasi yang tersusun di
dalam memori seseorang, baik yang berasal dari pengamatan indrawi atau
belajar sendiri, maupun dari pengamatan yang dilaksanakan dengan cara yang
tidak sistematis, tidak jelas metodenya dan tidak dapat dibuktikan
kebenarannnya. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melaksanakan pengindraan terhadap suatu objek tertentu, pengindraan
terjadi melaluai panca indara manusia, yakni panca indra penglihatan ,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
di perolehmelalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over
behavior) (Notoatmodjo, 2012).
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan adalah segala sesuatu yang didapat dari pancaindera, baik itu
melihat, mendengar, dan merasakan terhadap suatu objek tertentu dan diolah
dan diproses melalui pikiran.
b) Pengertian Pengetahuan Pendidikan Seks
Pengertian seks sangat beragam, seks dapat berarti jenis kelanin antara
laki laki dan perempuan. Seks juga dapat diartikan sebagai pengetahuan
tentang organ organ reproduksi. Selain itu, seks juga dapat diartikan sebagai
hubungan seksual. Hubungan seks sendiri adalah hubungan intim yang
dilakukan pria dan wanita yang terikat dalam sebuah pernikahan (Andika,
2010). Dalam kamus pscychologi, sex adalah kualitas yang menentukan
seseorang pria atau wanita (Gulo, 1982). Sedangkan definisi seksualitas
menurut Andika (2010) seksualitas yaitu perbedaan jenis kelamin antara laki-
laki dan perempuan. Seksualitas menyangkut beberapa hal yaitu, pertama
dimensi biologis. Seksualitas berkaitan dengan segala sesuatu mengenai organ
reproduksi. Termasuk cara merawat kebersihan dan menjaga kesehatan oragan
vital. Kedua dimensi psikologis, identitas peran jenis dan perasaan terhadap
lawan jenis, dan cara manusia menjalankan fungsinya sebagai makhluk hidup.
Istilah pendidikan seks (sex education) berasal dari masyarakat Barat.
Negara Barat yang pertama kali memperkenalkan pendidikan ini dengan cara
sistematis adalah Swedia, dimulai sekitar tahun 1926. Dan untuk Indonesia
pembicaraan mengenai pendidikan seks ini secara resmi baru dimulai tahun
1972, tepatnya tangal 9 September 1972, dengan penyampaian satu ceramah
dengan tema: Masalah Pendidikan Seks, dengan Fakultas Kedokteran
Universitas Pajajaran sebagai pencetusnya (Sa’abah, 2001). Suryadi (2007)
mendefinisikan pendidikan seks merupakan usaha untuk pemberian informasi
kepada anak tentang kondisi fisiknya sebagai perempuan atau laki-laki, dan
konsekuensi psikologis yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Secara umum,
pendidikan seks terdiri atas penjelasan tentang organ reproduksi,kehamilan,
alat kontrasepsi, kesuburan, dan manepouse, serta penyakit kelamin.
Menurut Tretsakis (2003) pendidikan seks menjelaskan tentang
perilaku yang bersifat antonomis, behavior, emosi, kepribadian, pandangan
hidup, lingkungan sosial, nilai-nilai moral yang berlaku dalam suatu
masayarakat. Sedangkan Andika (2010) menyatakan bahwa pendidikan seks
atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi penting diberikan melalui
keluarga maupun kurikulum sekolah. Berdasarkan kesepakatan internasional
di Kairo 1994 (The Cairo Consensus) tentang kesehatan yang ditandatangani
oleh 184 negara termasuk Indonesia, diputuskan tentang perlunya pendidikan
seks pada remaja. Andika (2010) juga mengungkapkan bahwa pendidikan seks
berbeda dengan pengetahuan reproduksi. Pendidikan seks bertujuan untuk
mengenalkan anak tentang jenis kelamin dan cara menjaganya, baik dari sisi
kesehatan dan kebersihan, keamanan, serta keselamatan. Sementara
pengetahuan reproduksi sangat berkaitan dengan proses perkembangbiakan
makhluk hidup. Menurut Abdulah Nashin Ulwan (dalam Nadar, 2017)
menyatakan bahwa pendidikan seks adalah masalah mengajarkan, memberi
pengertian, dan menjelaskan masalah-masalah yang menyangkut seks, naluri
dan perkawinan kepada anak sejak akalnya mulai tumbuh dan siap memahami
hal-hal di atas.
Sedangkan menurut Sarwono (2011), secara umum pendidikan seksual
adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan
benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai
kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan,
kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan
sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa
yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa
melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Menurut Boyke D N,
Pendidikan sex pada anak-anak bukan mengajarkan cara-cara berhubungan
sex semata, melainkan lebih kepada upaya memberikan pemahaman kepada
anak sesuai dengan usianya, mengenai fungsi-fungsi alat sexsual dan masalah
naluri alamiah yang mulai timbul: bimbingan mengenai pentingnya menjaga
dan memelihara organ intim mereka, disamping juga memberikan pemahaman
tentang perilaku pergaulan yang sehat serta resiko-resiko yang dapat terjadi
seputar masalah seksual (dalam Madani, 2003).
Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa pengetahuan pendidikan seks adalah suatu informasi yang disusun
secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan tentang seksualitas yang meliputi
aspek biologik, orientasi, nilai, sosiokultur dan moral, serta perilaku.
c) Pentingnya Pengetahuan Pendidikan Seks
Pendidikan sex penting yaitu karena : (1) memberikan bekal
pengetahuan kepada anak, serta membuka wawasan anak seputar masalah sex
secara benar dan jelas sehingga anak memiliki kesadaran akan fungsi organ
reproduksinya serta paham tentang cara menjaga dan memeliharanya (2)
menghindarkan anak dari berbagai kejahatan sexual dan resiko negatif dari
perilaku sexual yang tidak bertanggung jawab (Haryono et al., 2018). Menurut
Tretsakis (2003) pendidikan seks secara dini bagi anak-anak perlu dan penting
demi kesejahteraan dan kemantapan pribadi anak tersebut kelak setelah
dewasa. Berikut alasannya: (1) pendidikan seks secara dini akan memudahkan
anak-anak menerima keberadaan tubuhnya secara menyeluruh dan menerima
fase-fase perkembangannya secara wajar, (2) pendidikan seks secara dini akan
membantu anak-anak untuk mengerti dan merasa puas dengan peranannya
dalam kehidupan, (3) pendidikan seks yang sehat cukup efektif untuk
menghilangkan rasa ingin tahu yang tidak sehat yang sering muncul dalam
benak anak-anak, (4) secara keseluruhan, informasi seks yang diberikan akan
melindungi kehidupan masa depan mereka dari komplikasi dan kelainan seks,
(5) pendidikan seks yang sehat, jujur dan terbuka juga akan menumbuhkan
rasa hormat dan patuh anak-anak terhadap orang tuanya, (6) pendidikan seks
yang diajarkan secara terarah dan terpimpin di dalam lingkungan keluarga
cenderung cukup efektif untuk mengatasi informasi-informasi negatif yang
berasal dari luar lingkungan keluaraga, (7) bila diajarkan dengan baik,
pendidikan seks akan membuat masing-masing anak bangga dengan jenis
kelaminnya, (8) pendidikan yang sehat dan wajar memungkinkan anak
memperoleh taraf kedewasaan yang layak menurut usianya, (9) pendidikan
seks mempersiapkan seorang anak untuk kelak menjadi orang tua yang dengan
baik dan benar, akan mengajarkan pengetahuan seks kepada anak-anaknya.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan seks
penting agar anak dapat mengetahui perkembangan dan pertumbuhan di dalam
dirinya, menjaga organ reproduksinya, tugas perkembangan sesuai jenis
kelamin, dan resiko resiko berhubungan seksual pra nikah.
d) Tujuan Pengetahuan Pendidikan Seks
Para pendidik, khususnya guru bimbingan dan konseling, sudah
seharusnya memberikan pengetahuan tentang pendidikan seks kepada peserta
didik mengingat akibat yang ada karena minimnya pengetahuan pendidikan
seks sangat buruk. Oleh karena itu, guru bimbingan dan konseling harus dapat
memberikan pengertian yang wajar mengenai proses kedewasaan dirinya, baik
secara fisik maupun mental emosional yang berkorelasi dengan seksualitas.
Sesuai dengan kesepakatan International Conference of Sex Education and
Family Planning tahun 1962, tujuan pendidikan seks adalah untuk
menghasilkan manusia-manusia dewasa yang dapat menjalankan kehidupan
yang bahagia karena dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan
lingkungannya, serta bertanggungjawab terhadap dirinya dan orang lain (Rono
Sulistyo dalam Tanjung, 2007).
Tujuan lain dari pendidikan seksualitas tidak hanya mencegah dampak
negatif dari perilaku seksual di usia dini sebagaimana dikutipkan oleh banyak
orang, tetapi yang lebih penting menekankan pada kebutuhan akan informasi
yang benar dan luas tentang perilaku seksual serta berusaha untuk memahami
seksualitas manusia sebagai bagian penting dari kepribadian yang menyeluruh
( Bruess & Greenberg dalam Qibtiyah, 2006). Tujuan penting lainnya adalah
untuk menghindari seksualitas yang tidak sehat, prematur, hubungan seksual
yang tidak aman, kekerasan, dan pelecehan seksual ( Powell & Cassidy dalam
Qibtiyah, 2006) dan juga untuk mensosialisasikan pandangan positif tentang
seksualitas ( Darling & Hollo dalam Qibtiyah, 2006). Memahami seksualitas
secara positif bukan berarti menginnginkan untuk melakukan hubungan
seksual tetapi lebih pada bagaimana mempunyai pemahaman dan sikap positif
terhadap seksualitas diri kita sendiri (Parvaz dalam Qibtiyah, 2006).
Adapun, pendidikan seks bertujuan untuk memperkenalkan anak
tentang jenis kelamin dan cara menjaganya, baik dari sisi kesehatan dan
kebersihan, keamanan serta keselamatan (Andika, 2010). Akhmad Azhar Abu
Miqdad mengutip pendapat Kir Kendall (dalam Rohmaniah, 2018) bahwa
tujuan Pendidikan Seks adalah sebagai berikut: 1. Membentuk pengertian
tentang perbedaan seks antara pria dan wanita dalam keluarga, pekerjaan dan
seluruh kehidupan, yang selalu berubah dan berbeda dalam tiap masyarakat
dan kebudayaan. 2. Membentuk pengertian tentang peranan seks di dalam
kehidupan manusia dan keluarga, hubungan antara seks dan cinta, perasaan
seks dalam perkawinan dan sebagainya. 3. Mengembangkan pengertian diri
sendiri sehubungan dengan fungsi dan kebutuhan seks. disini Pendidikan Seks
menjadi pendidikan mengenai seksualitas manusia, jadi seks dalam arti
sempit. 4. Membantu anak dalam mengembangkan kepribadiannya, sehingga
mampu untuk mengambil keputusan yang bertanggungjawab, misalnya
memilih jodoh, hidup berkeluarga, perceraian, kesusilaan dalam seks, dan
lainnya.
Menurut Voss (dalam Syarifah & Chamidah, 2019) tujuan pendidikan
seks adalah: 1. Memberikan informasi yang tepat dan mengurangi mitos dan
konsepsi yang keliru 2. Menunjukan sikap toleransi dan membantu partisipan
agar menerima orang lain yang mempunyai pandangan dan tingkah laku yang
berbeda 3. Harus dirancang untuk menunjukkan pemecahan masalah social
seperti hubungan seks sebelum menikah, hamil di luar nikah atau kehamilan
yang tidak di kehendaki, penularan penyakit seksual , aborsi dan keluarga
berencana. 4. Merupakan komunikasi yang terbuka dan memudahkan
hubungan antara orang orang yang berjenis kelamin berbeda.
Berdasarkan beberapa pendpaat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
tujuan dari diadakannya pendidikan seks yaitu agar peserta didik dapat
mengetahui tentang perilaku seksual serta berusaha untuk memahami
seksualitas manusia sebagai bagian penting dari kepribadian yang menyeluruh;
peserta didik dapat menghindari seksualitas yang tidak sehat, prematur,
hubungan seksual yang tidak aman, kekerasan, dan pelecehan seksual ; peserta
didik dapat memandang positif tentang seksualitas.
e) Materi Pendidikan Seks
Materi pendidikan seks bisa mencakup tentang kesehatan seksual,
anatomi dan fungsi alat reproduksi, perkembangan dan pertumbuhan mental
dan fisik, desinisi seks dan seksualitas, kehamilan dan pencegahan kehamilan.
Materi pendidikan seks sangat bervariasi dari satu tempat ke lain tempat,
tetapi sebuah survei Margarett Terry Orr (dalam Sarwono, 2011) di Amerika
Serikat menunjukkan pada umumnya materi pendidikan seks adalah sebagai
berikut :
1) Masalah-masalah yang banyak dibicarakan di kalangan remaja sendiri :
 Perkosaan
 Masturbasi *)
 Homoseksualitas
 Disfungsi seksual *)
 Eksploitasi seksual *)
2) Kontrasepsi dan pengaturan kesuburan :
 Alat KB
 Pengguguran
 Alternatif-alternatif dari pengguguran
3) Nilai-nilai seksual :
 Seks dan nilai-nilai moral
 Seks dan hukum
 Seks dan media massa *)
 Seks dan nilai-nilai religi *)
4) Perkembangan remaja dan reproduksi manusia :
 Penyakit menular seksual
 Kehamilan dan kelahiran
 Perubahan-perubahan pada masa puber
 Anatomi dan fisiologi
 Obat-obatan alkohol dan seks
5) Ketrampilan dan perkembangan sosial :
 Berkencan
 Cinta dan perkawinan
6) Topik-topik lainnya :
 Kehamilan pada remaja
 Kepribadian dan seksualitas
 Mitos-mitos yang dikenal umum
 Kesuburan
 Keluarga Berencana
 Menghindari hubungan seks
 Teknik-teknik hubungan seks **)

Catatan : *) Tidak diberikan dan tidak boleh diberikan pada 31-40% sekolah
yang disurvei. **) Tidak diberikan dan tidak boleh diberikan pada 74%
sekolah yang disurvei.
f) Sumber Pendidikan Seks
Sumber pendidikan seks merupakan hal yang sanget penting dalam proses
pemberian pengetahuan pendidikan seks kepada anak. Sumber pendidikan
seks yang salah seperti mencari di internet atau teman sebaya akan
megakibatkan persepsi yang keliru tentang seks. Pendidikan seks dapat
diperoleh peserta didik dari orang tua, guru di sekolah, dan lingkungan di luar
kedua hal tersebut, seperti media massa dan teman sebaya.
1) Lingkungan keluarga
Pendidikan pertama anak didapat dari keluarga, khusunya dari orang tua.
Keluarga adalah tmepat pertama kali anak berkomunikasi untuk
mengetahui segala hal. Pendidikan keluarga sangat strategis untuk
memberikan pemahaman anak tentang segala hal termasuk tentang
pendidikan seks. Posisi keluarga adalah posisi primer dalam memberikan
pendidikan seks. Keluarga merupakan wadah pembentukan kepribadian
masing-masing anggotanya terutama anak. Dengan dasar pertimbangan
sebagai berikut: a. Keluarga adalah tempat perkembangan awal seorang
anak sejak kelahiran sampai proses perkembangan dan jasmani berikutnya,
b. Keluarga adalah tempat pertama kali mengalami hubungan dengan
manusia lain, c. Hubungan antar individu dalam keluarga dilihat dengan
pertalian hubungan batin yang tidak dapat digantikan, d. Keluarga
merupakan tempat pemupukan dan pendidikan untuk hidup bermasyarakat
dan bernegara agar mampu berdedikasi dalam tugas dan tanggung
jawabnya, e. Keluarga merupakan tempat pemupukan dan pendidikan
dalam untuk hidup bermasyarakat dan bernegara agar mampu berdedikasi
dalam tugas dan tanggung jawabnya, f. Dalam keluarga dapat terealisasi
makna kebersamaan, solidaritas, cinta kasih dan pengertian rasa hormat
menghormati dan rasa memiliki, g. Keluarga menjadi pengayom, tempat
beristirahat rekreasi, studi, dan penyaluran hobi dan kreativitas (Mulyono,
1996). Melihat peran orang tua yang sangat penting dalam pendidikan seks
anak, oleh karena itu orang tua harusnya dapat lebih memperhatikan lagi
pengetahuan pendidikan seks anak. Orang tua harusnya dapat memebrikan
pendidikan seks kepada anak sejak anak berusia dini, hal ini dilakukan
agar anak dapt terhindar dari penyimpangan seksual dan kekerasan
seksual. Namun yang terjadi pada kenyataan tidak begitu, banyak orang
tua yang menganggap pendidikan seks adalah hal yang tabu dan akan
didapatkan anak dengan sedirinya ketika beranjak dewasa. Satu satunya
cara agar hal ini tidak terjadi adalah dengan tidak menggap pembicaraan
mengenai seks sebagai hal yang tabu, dan menanggapi setiap pertanyaan
anak tentang seks secara bijak.
2) Lingkungan sekolah
Lingkungan pendidikan formal, yaitu sekolah melakukan pembinaan pendidikan
pada peserta didik yang didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh
keluarga dan masyarakat. Kondisi itu muncul karena keluarga dan masyarakat
memiliki keterbatasan dalam melaksanakan pendidikan. Akan tetapi, tanggung
jawab pendidikan anak seutuhnya tetap menjadi tanggung jawab orang tua.
Sekolah hanya meneruskan dan mengembangkan pendidikan yang telah diperoleh
di lingkungan keluarga sebagai lingkungan pendidikan informal yang telah
dikenal anak sebelumnya. Oleh karena itu disini peran guru sebagai pendidik
sangat strategis dalam mengajarkan tentang pendidikan seks terutama guru
bimbingan dan konseling. Tanggung jawab sekolah sebagai penyelenggara
pendidikan formal terbagi menjadi tiga yaitu tanggung jawab formal, tanggung
jawab keilmuan, dan tanggung jawab fungsional. Namun, pada kenyataannya
pendidikan seks yang diajarkan oleh sekolah masih bersifat terbatas, dikarenakan
tidak ada kurikulum yang pasti yang membahas tentang pelaksanaan pendidikan
seks. Disinilah guru bimbingan dan konseling dapat berperan dalam memberikan
layanan informasi tentang pendidikan seks seuati dengan kubutuhan yang ada di
sekolah tersebut.
3) Lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar dapat mencakup teman sebaya, internet, televisi, radio,
majalan, koran dan lain lain. Lingkungan sekitar ini jangkauan sangat luas
dimana para peserta didik biasanya lebih memilih untuk mencari sumber
sumber tentang seks di media dibanding bertanya kepada orang tua atau
guru di sekolah. Hal ini terjadi dikarenakan tidak semua peserta didik
memiliki kedekatan yang intim dengan orang tua atau guru di sekolah,
sehingga kerap ali peserta didik merasa canggung untuk menanyakan hal
hal yang berbau seksualitas. Tidak bisa dipungkiri media adalah tampat
yang paling mudah untuk memperoleh informasi, hanya dalam hitungan
detik, informasi yang kita inginkan akan terpapar dengan lengkap. Namun,
informasi yang tersedia di internet misalnya, merupakan informasi yang
tidak tersaring. Sehingga peserta didik dapat dengan mudah terpapar oleh
hal hal yang salah. Oleh karena itu oarng tua harus dapat mengawasi
pergerakan peserta didik di rumah, agar peserta didik dapat dengan lebih
bijak menggunakan media.
2. Pola Asuh Orang Tua
a) Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Keluarga adalah lembaga paling dasar dalam kehidupan manusia.
Pengaruh keluarga dalam pemrtumbuhan dan perkembangan kepibadian
sangatlah besar perannya. Salah satu faktor dalam keluarga yang
mempengaruhi peranan penting dalam pembentukan kepribadian adalah
praktik pengasuhan anak. Salah satu fungsi keluarga adalah fungsi
perlindungan dan pengasuhan. Dalam proses mengasuh anak sering
dipengaruhi oleh budaya yang berada di sekitarnya. Di samping itu orang tua
juga diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan
mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan
terhadap anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua mempunyai
pengasuhan tertentu (Marheni et al., 2009).
Pola asuh terdiri atas dua kata yaitu pola dan asuh. Secara etimologi,
pola berarti bentuk atau tata cara. Asuh berarti menjaga, merawat, mendidik.
Sehingga pola asuh berarti bentuk atau tata cara dalam menjaga, merawat dan
mendidik. Jika ditinjau dari terminologi, pola asuh anak adalah suatu pola atau
sistem yang diterapkan dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak
yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Menurut Aisyah (dalam
Novianti, 2011) Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan
orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Sedangkan pengasuhan
dapat diartikan sebagai orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan
serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma
norma yang ada dalam masyarakat. Sedangkan, menurut Marsiyanti dan
Harahap (dalam Novianti, 2011) Pola asuh adalah ciri khas dari pendidikan,
pembinaan, pengawasan, sikap, hubungan dan sebagainya yang diterapkan
orang tua kepada anaknya. Pola asuh orang tua terhadap anaknya akan
mempengaruhi perkembangan anak mulai dari kecil sampai dia dewasa nanti.
Pola asuh orang tua dapat diartikan sebagai perlakuan orangtua terhadap anak
dalam bentuk merawat, memelihara, mengajar, mendidik, membimbing,
melatih, yang terwujud dalam bentuk pendisiplinan, pemberian tauladan, kasih
sayang, hukuman, ganjaran, dan kepemimpinan dalam keluarga melalui
ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orangtua (Sunarty, 2016). Kemudian
menurut Agus Wibowo (2012) mendefinisikan pola asuh sebagai pola
interaksi antara anak dengan orang tua, yang meliputi pemenuhan kebutuhan
fisik (seperti makan, minum, dan lain-lain) dan kebutuhan nonfisik seperti
perhatian, empati, kasih sayang, dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa pola asuh orang tua adalah bentuk usaha yang dilakukan orang tua
dalam mengaja, membimbing, merawat, mendidik, mendisiplinkan,
melindungi, dan mengawasi anak melalui penguatan positif atau negatif agar
anak dapat mencapai kedewasaan sesuai dengan norma norma masyarakat
yang berlaku.
b) Dimensi Pola Asuh
Menurut Pratiwi (1998), ada empat dimensi dalam mengasuh anak yaitu :
dimensi kontrol, tuntutan, kejelasan komunikasi antara orang tua dan anak,
dan pemeliharaan terhadap anak. Euis Sunarti (2004) menjelaskan bahwa
terdapat tiga dimensi gaya pengasuhan, yaitu dimensi kehangatan, dimensi
pelatihan emosi, serta dimensi arahan.
c) Jenis Jenis Pola Asuh
Tipe pola asuh orang tua menurut Stewart & Koch ada tiga yaitu pola asuh
demokratis, permisif dan otoriter. Pengertian dari ketiga pola asuh tersebut
ialah sebagai berikut.
1) Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh orang tua pada anak yang memberi
kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal
sesuai dengan kemampuan anak dengan sensor batasan dan pengawasan
yang baik dari orang tua. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional,
selalu mendasari tindakannya pada rasio dan pemikiran-pemikiran. Orang
tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak
berharap yang berlebihan melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini
juga memberikan kebebasan kepada anak untik memilih dan melakukan
suatu tindakan. Pola asuh ini adalah pola asuh yang cocok dan baik untuk
diterapkan orang tua kepada anak-anaknya. Menurut Danni I Yatim
( dalam Widyastuti, 2016), pola asuh demokratis atau otoritatif adalah pola
asuh orang tua pada anak yang memberi kebebasan pada anak untuk
berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuan
anak dengan sensor batasan dan pengawasan yang baik dari orang tua.
Pola asuh ini adalah pola asuh yang cocok dan baik untuk diterapkan para
orang tua kepada anak-anaknya. Anak yang diasuh dengan teknik asuhan
otoritatif akan hidup ceria, menyenangkan, kreatif, cerdas, percaya diri,
terbuka pada orang tua, menghargai dan menghormati orang tua, tidak
mudah stress dan depresi, berprestasi baik, disukai lingkungan dan
masyarakat dan lain-lain.
2) Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan,
keras dan kaku di mana orang tua akan membuat berbagai aturan yang
saklek harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang
anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak
sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya. Misalnya, kalau tidak
mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga tidak
mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.
Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk
mengerti mengenai anaknya. Sementara itu menurut Danni I Yatim (dalam
Widyastuti, 2016), pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang
bersifat pemaksaan, keras dan kaku dimana orang tua akan membuat
berbagai aturan yang harus dipatuhi oleh anakanaknya tanpa mau tahu
perasaan sang anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan
hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orangtuanya. Hukuman
mental dan fisik akan sering diterima oleh anakanak dengan alasan agar
anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghornati orang tua yang telah
membesarkannya. Anak yang besar dengan teknik asuhan seperti ini
biasanya tidak bahagia, paranoid, selalu berada dalam ketakutan, mudah
sedih dan tertekan, senang berada di luar rumah, benci orang tua dan lain-
lain. Namun, dibalik itu biasanya anak hasil didikan orang tua otoriter
lebih bisa mandiri, bisa menjadi orang sesuai keinginan orang tua, lebih
disiplin dan lebih bertanggung jawab dalam menjalani hidup.
3) Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek terhadap
anak. Apa pun yang mau dilakukan anak diperbolehkan seperti tidak
sekolah, bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan bebas
negatif, materalistis, dan sebagainya. Biasanya pola pengasuhan anak oleh
orang tua semacam ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk
dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk
mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Dengan begitu anak hanya
diberi materi atau harta saja dan terserah anak itu mau tumbuh dan
berkembang menjadi apa. Danni I Yatim (dalam Widyastuti, 2016)
menjelaskan bahwa pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak
yang tak acuh terhadap anak. Jadi apapun yang mau dilakukan anak
diperbolehkan seperti tidak sekolah, bandel, melakukan banyak kegiatan
maksiat, pergaulan bebas negative, materialistis, dan sebagainya. Biasanya
pola pengasuhan anak oleh orang tua semacam ini diakibatkan oleh orang
tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang
akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Dengan
begitu anak hanya diberi materi atau harta saja dan terserah anak itu mau
tumbuh dan berkembang menjadi apa. Anak yang diasuh orang tuanya
dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang
kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki
kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri yang buruk, salah bergaul,
tidak menghargai orang lain, dan sebagainya baik ketika kecil maupun
sudah dewasa.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat
tiga jenis pola asuh yaitu pola asuh demokratis, permisif, dan otoriter.
d) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh
Menurut Triwardani (dalam Pratiwi, 1998), terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi pola asuh, yaitu: sosial ekonomi, pendidikan, kepribadian,
nilai-nilai yang dianut orang tua, dan jumlah anak. Menurut Supartini Y
(dalam Widyastuti, 2016), faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh adalah
sebagai berikut:
1) Usia Orang Tua
Rentang usia tertentu adalah baik untuk menjalankan peran pengasuhan.
Apabila terlalu muda atau tua mungkin tidak dapat menjalankan peran
tersebut secara optimal karena diperlukan kekuatan fisik dan psikososial
2) Keterlibatan orang tua
Kedekatan hubungan ibu dan anak sama pentingnya dengan ayah dan
walaupun secara kodrati aka nada perbedaan. Di dalam rumah tangga,
ayah dapat melibatkan dirinya melakukan peran pengasuhan kepada
anaknya. Seorang ayah tidak saja bertanggung jawab dalam memberikan
nafkah tetapi dapat pula bekerja sama dengan ibu dalam melakukan
perawatan anak seperti menggantikan popok ketika anak mengompol atau
mengajaknya bermain bersama sebagai salah satu upaya dalam melakukan
interaksi
3) Pendidikan orang tua
4) Pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak
Orang tua yang telah mempunyai pengalaman sebelumnya dalam merawat
anak akan lebih siap menjalankan pengasuhan dan lebih rileks
5) Stres orang tua
Stres yang dialami orang tua akan mempengaruhi kemampuan orang tua
dalam menjalankan peran pengasuhannya terutama dalam kaitannya
dengan strategi koping yang dimiliki oleh anak
6) Hubungan suami istri
Hubungan yang kurang harmonis antara suami istri akan berdampak pada
kemampuan dalam menjalankan perannya sebagai orang tua dan meraat
serta mengasuh anak dengan penuh rasa bahagia karena satu sama lain
dapat saling memberi dukungan dan menghadapi segala masalah dengan
koping yang positif.
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor faktor yang
mempengaruhi jenis pola asuh orag tua yaitu sosial ekonomi, pendidikan,
kepribadian, nilai-nilai yang dianut orang tua, dan jumlah anak, usia orang tua,
keterlibatan orang tua, pengalama sebelumnya dalam mengasuh anak, stres,
dan hubungan antara suami dan istri.
3. Hubungan Antara Pengetahuan Pendidikan Seks dengan Pola Asuh Orang Tua
Pendidikan seks harus diberikan oleh orang tua sejak dini, hal ini disebabkan
karena mengajarkan seksualitas yang benar membutuhkan proses yang panjang,
sejak lahir sampai tahap remaja akhir. Pemahaman pendidikan seks yang
diberikan melalui pola asuh orang tua diharapkan agar anak mendapat informasi
yang tepat mengenai seks, hal ini dikarenakan adanya media lain yang dapat
mengajari anak mengenai pendidikan seks. Oleh karena itu pola asuh orang tua
berhubungan dengan pengetahuan pendidikan seks pada peserta didik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Djufri dkk (2019) menunjukan
bahwa dari 19 sampel yang mendapatkan pola asuh demokratis didapatkan 17
sampel memiliki pemberian pendidikan seks yang optimal dan 2 sampel yang
kurang optimal dalam pemberian pendidikan seks, kemudian dari 13 sampel yang
menerapkan pola asuh otoriter didapatkan 5 sampel yang memiliki pemberian
pendidikan seks yang optimal dan sisanya kurang optimal dalam pemberian
pendidikan seks yaitu sebanyak 8 sampel, dan yang terakhir dari 9 sampel yang
menerapkan pola asuh permisif didapatkan bahwa 9 sampel yang memiliki
pemberian pendidikan seks yang kurang optimal. Dapat disimpulkan bahwa
peserta didik dengan pola asuh demokratis lebih memiliki tingkat pengetahuan
pendidikan seks dibanding peserta didik dengan pola asuh otoriter atau permisif.
B. Literature on Method (Literatur tentang metode)
Pendekatan penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode kuantitaif
komparatif atau perbandingan. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai
metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada
umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data mengginakan instrumen
penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2015).
Penelitian komparatif adalah bentuk analisis variabel (data) untuk mengetahui
perbedaan di antara dua kelompok data (variabel) atau lebih (M. Iqbal, 2001).
Menurut Nana Syaodih (dalam Enggar Saraswati, 2015) penelitian komparatif adalah
penelitian yang diarahkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara dua
kelompok atau lebih dalam aspek atau variabel yang diteliti.

C. Theoretical Approach (Pendekatan teoritis)


Pendekatan teoritis merupakan pendekatan pola pikir atau pikiran yang
menjadi dasar sebagai landasan tindakan teori teori yang ada. Pendekatan teoritis yang
digunakan yaitu pendekatan fiolosofi progresivisme. Progresivisme menekankan pada
pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi
pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi
pengembangan belajar peserta didik aktif.

D. Find a hole (Temukan kejanggalan) dan look for debates (temukan perdebatan)
Walaupun sebesar 67,36% orang tua sudah memiliki pengetahuan tentang
tujuan pendidikan seks untuk anak usia dini , akan tetapi sebesar 76,4% orang tua
belum memahami dengan baik cara menyampaikan pendidikan seks yang benar
(Nadar, 2017). Oleh karena itu perlu diketahui perbedaan tingkat pengetahuan
pendidikan seks berdasarkan jenis pola asuh orang tua.

Methodology (Metodologi)
A. Research Design (Desain Penelitian)
Pendekatan penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode kuantitaif
komparatif atau perbandingan. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai
metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada
umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data mengginakan instrumen
penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2015).
Penelitian komparatif adalah bentuk analisis variabel (data) untuk mengetahui
perbedaan di antara dua kelompok data (variabel) atau lebih (M. Iqbal, 2001).
Menurut Nana Syaodih (dalam Enggar Saraswati, 2015) penelitian komparatif adalah
penelitian yang diarahkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara dua
kelompok atau lebih dalam aspek atau variabel yang diteliti.
B. Research Prosedures (Prosedur Penelitian)
Penelitian Komparatif, sebagaimana penelitian lainnya dilakukan dalam lima tahap:
1. Penentuan masalah penelitian, dalam perumusan masalah penelitian atau
pertanyaan penelitian, kita berspekulasi dengan penyebab fenomena berdasarkan
penelitian sebelumnya, teori, atau pengamatan.
2. Penentuan kelompok yang memiliki karakteristik yang ingin diteliti.
3. Pemilihan kelompok pembanding, dengan mempertimbangkan karakteristik atau
pengalaman yang membedakan kelompok harus jelas dan didefinisikan secara
operasional (masing-masing kelompok mewakili populasi yang berbeda).
Mengontrol variabel ekstra untuk membantu menjamin kesamaan kedua
kelompok.
4.  Pengumpulan data, dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian yang
memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas.
5.  Analisis data, dimulai dengan analisis statistik deskriptif menghitung rata-rata
dan simpangan baku. Selanjutnya dilakukan analisis yang mendalam dengan
statistik inferensial.
C. Kind of Data (Jenis Data)
Data berbentuk data kuantitatif. Jenis data berbentuk nomor dan bilangan.
D. Collection Procedures (Prosedur Pengumpulan)
1. Angket
Menurut Suharsimi Arikunto (2010) Angket atau kuesioner adalah “sejumlah
pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden
dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui”. Sedangkan
Moh Nasir (2003:203) mengatakan “Kuesioner adalah sebuah set pertanyaan yang
secara logis berhubungan dengan masalah penelitian, dan tiap pertanyaan
merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dalam menguji hipotesis”.
Dari dua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa angket adalah salah satu
teknik pengumpulan data yang berbentuk daftar pertanyaan yang harus dijawab
oleh responden.
Menurut Suharsimi Arikunto (2010) jenis-jenis angket yang digunakan untuk
mengumpulkan data ada bermacam-macam, tergantung dari sudut pandangan.
Adapun jenis angket tersebut adalah sebagai berikut :
a. Dipandang dari cara menjawab sebagi berikut:
1) Kuesioner terbuka, yaitu angket yang dijawab menggunakan kalimat dari
responden.
2) Kuesioner tertutup, yaitu angket yang jawabannya sudah disediakan oleh
peneliti sehingga responden tinggal menjawab.
b. Dipandang dari jawaban yang diberikan sebagai berikut:
1) Kuesioner langsung, yaitu angket yang disediakan peneliti kepada responden
dengan responden menjawab tentang dirinya sendiri.
2) Kuesioner tidak langsung, yaitu angket yang disediakan untuk responden
menceritakan tentang keadaan orang lain.
c. Dipandang dari bentuknya sebagai berikut:
1) Kuesioner pilihan ganda yaitu angket yang sudah ada jawabannya responden
tinggal memilih saja.
2) Kuesioner isian yaitu angket yang disediakan dengan cara responden
menjawab dengan kalimatnya sendiri.
3) Check list, sebuah daftar yang tinggal diberi tanda check (√) pada kolom yang
sesuai yang telah dibuat peneliti.
4) Rating scale (skala bertingkat), yaitu sebuah pertanyaan yang dibuat dengan
menunjukkan tingkat-tingkatan, misalnya mulai dari sangat sesuai, sesuai dan
kesangat tidak sesuai.
Adapun angket yang digunakan oleh peneliti adalah angket jenis tertutup dengan
menggunakan rating scale (skala 1-5).
2. Wawancara
Teknik pengumpulan data lainnya yaitu wawancara. Menurut Suharsimi
Arikunto interview atau wawancara dibagi menjadi tiga berdasarkan
pelaksanaannya, yaitu :
a. Interview bebas yaitu pewawancara bebas mengajukan pertanyaan tetapi
masih dalam lingkup penelitian.
b. Interview terpimpin yaitu pewawancara membawa daftar pertanyaan secara
terstuktur.
c. Interview bebas terpimpin yaitu gabungan antara wawancara bebas dan
terpimpin.
Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan interview bebas terpimpin,
dimana peneliti akan menyiapkan daftar pertanyaan secara terstuktur namun,
masih akan menambahkan pertanyaan apabila ada yang dirasa kurang jelas.

E. Selection and Access (Seleksi dan Akses)


Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji persyaratan
analisis dan uji hipotesis.
1. Uji Persyaratan Analisis
Sebelum melakukan analisis data dalam rangka menguji hipotesis terlebih dahulu
dilakukan pengujian persyaratan analisis. Uji prasarat analisis yang dimaksud
yaitu uji homogenitas. Analisis ini dilakukan dengan bantuan SPSS. Uji
homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah beberapa varian populasi
adalah sama atau tidak. Asumsi yang mendasari dalam analisis varians (ANAVA)
adalah bahwa varians dari populasi adalah sama. Sebagai kriteria pengujian, jika
nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa varians dari dua
atau lebih kelompok data adalah sama.
2. Uji Hipotesis Teknik
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis varians satu jalur atau
one way anava. Analisis varians satu jalur digunakan untuk menguji hipotesis
komparatif rata-rata k sampel bila datanya interval atau ratio dan bila pada setiap
sampel hanya terdiri atas satu kategori (Sugiyono. 2010: 164-165). Peneliti
menitik beratkan pengelompokan aspek dari pola asuh orang tua dengan melihat
kecenderungan dari tiap subjek. Untuk melihat kecenderungan subjek pada tiap
aspek pola asuh orang tua, peneliti menggunakan nilai rerata atau mean dari tiap
hasil skala yang sudah dijawab oleh subjek. Skala pola asuh orang tua terdiri dari
aspek item pola asuh orang tua yang otoriter, demokrasi, dan permisif. Cara
mendapatkan rerata atau mean dengan melihat skor total dari tiap item. Skor total
tersebut kemudian dibagi dengan jumlah total item yang ada. Hasil dari
pembagian tersebut adalah rerata atau mean. Hasil rerata atau mean dari tiap aspek
pola asuh orang tua kemudian dibandingkan satu dengan yang lain. Nilai rerata
yang paling tinggi akan menjadi kecenderungan subjek terhadap aspek pola asuh
orang tua. Teknik analisi data juga dilengkapi dengan analisis kuantitatif
deskriptif. Analisis kuantitatif deskriptif yang dilakukan meliputi nilai-nilai
empiris dan ideal untuk skor minimum, skor maksimum, mean/rerata, median dan
simpangan baku (SD). Nilai-nilai tersebut digunakan untuk menyusun tabel
distribusi frekuensi, histogram, dan kategorisasi skor.

F. Human Subjects Review (Tinjauan Subjek Manusia)


1. Peserta didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi
diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan informal,
pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan
jenis pendidikan tertentu.
2. Orang tua
Orang tua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis
maupun sosial. 
G. Ethics Statement (Pernyataan Etika)
-
H. Costs and Funding (Biaya dan Pendanaan)
Tidak ada.

Preliminary data (data awal)


A. Evidence of importance (bukti penting)
Menurut survey yang dilakukan oleh Standar Kompetensi Dokter Indonesia
(SKDI) pada 2017 tercatat 80% wanita dan 84% pria mengaku pernah berpacaran.
Aktifitas berpacaran yang dilakukan antara lain berpegangan tangan pada wanita
64%, dan pada pria 75% , berpelukan pada wanita 17% dan pada pria 33% , cium
bibir pada wanita 30% dan pada pria 50% dan meraba/diraba pada wanita 5% dan
pada pria 22% . Selain itu dilaporakan 8% pria dan 2% wanita telah melakukan
hubungan seksual. Di Samarinda sendiri, pada tahun 2018, dari 125 responden remaja
perempuan berusia 19 tahun, responden yang melakukan kegiatan seksual
“Bergandengan Tangan” sebanyak 97,6 %, “Berpelukan dan Membelai” sebanyak
59,2 %, “Berciuman” sebanyak 68,0 %, “Berciuman dengan Lidah” sebanyak 56,0 %,
“Meraba-raba alat kelamin” sebanyak45,6 %, “Masturbasi” sebanyak 35,2 %, “Oral
Seks”sebanyak 44,0 %, “Seks Melalui Anus”sebanyak34,4 %, dan “Seks Melalui
Vagina” sebanyak 45,6 %. (Purwanto & Kalsum, 2018). Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI) Kaltim, juga menyebutkan bahwa sejak tahun 2012,
remaja kaltim berumur 14 tahun sudah melakukan hubungan seks dengan pacarnya
(korankaltim.com). Fakta di lapangan yang penulis temukan juga tidak jauh berbeda,
di salah satu SMK di Balikpapan setiap tahunnya juga terdapat paling sedikit satu
peserta didik yang harus berhenti sekolah karena hamil di luar nikah.
B. Informs Methodology (informasi metodologi)
Pendekatan penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode kuantitaif
komparatif atau perbandingan. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai
metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada
umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data mengginakan instrumen
penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2015).
Penelitian komparatif adalah bentuk analisis variabel (data) untuk mengetahui
perbedaan di antara dua kelompok data (variabel) atau lebih (M. Iqbal, 2001).
C. Preliminary Findings (penemuan terdahulu)
Dalam junal oleh Djufri et al (2019), menyatakan bahwa terdapat hubungan
antara pola asuh dengan tingkat pengetahuan pendidikan seks, dari 19 sampel yang
mendapatkan pola asuh demokratis didapatkan 17 sampel memiliki pemberian
pendidikan seks yang optimal dan 2 sampel yang kurang optimal dalam pemberian
pendidikan seks, kemudian dari 13 sampel yang menerapkan pola asuh otoriter
didapatkan 5 sampel yang memiliki pemberian pendidikan seks yang optimal dan
sisanya kurang optimal dalam pemberian pendidikan seks yaitu sebanyak 8 sampel,
dan yang terakhir dari 9 sampel yang menerapkan pola asuh permisif didapatkan
bahwa 9 sampel yang memiliki pemberian pendidikan seks yang kurang optimal.
Dapat disimpulkan bahwa peserta didik dengan pola asuh demokratis lebih memiliki
tingkat pengetahuan pendidikan seks dibanding peserta didik dengan pola asuh
otoriter atau permisif.
D. Important Categories and Relationships (kategori dan hubungan yang penting)
Kategori dan hubungan yang penting yang akan dicari di dalam penelitian ini yaitu
tentang hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat pemahaman pendidikan seks,
lebih khususnya akan membahas tentang perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan
seks antara peserta didik dengan pola asuh permisif, demokratis, dan otoriter.

Statement of Limitations (Batasan pernyataan)


A. Alternatives (Alternatif)
Berdasarkan identifikasi dan sasaran diatas, langkah selanjutnya yang dapat
dilakukan yaitu mencari alternatif pemecahan masalah, alternatif pemecahan masalah
tentang minimnya pemahaman pendidikan seks pada remaja dapat diberikan oleh
orang orang di lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Di rumah, yang memegang
peran untuk mmeberikan pendidikan seks adalah orang tua. Sedangkan, di sekolah,
hakikatnya semua guru harus dapat memberikan pengetahuan tentang pendidikan
seks, terutama guru BK.  Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan
yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut
konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli)
yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat
memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu
atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai
perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang
lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidu (Prayitno & Amti, 2015). Bimbingan
dan Konseling dapat menjadi solusi atas pemasalahan ini, karena bimbingan dan
konseling memiliki berbagai macam layanan, seperti layanan informasi tentang
pendidikan seks. Layanan informasi adalah suatu pemahaman kepada individu-
individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani
suatu tugas atau kegiataan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana
yang dikehendaki (Prayitno & Amti, 2015).
Diharapkan orang tua di rumah dapat memberikan beberapa topik tentang
pendidikan seks, seperti :
1. Seks dan seksualitas
2. Mengenal dan merawat organ seks (alat reproduksi)
3. Pergaulan lawan jenis (peran gender, batasan pergaulan dengan lawan jenis)
4. Pemahaman tentang hubungan seksual di luar nikah berdasarkan budaya dan
agama yang dianut
Sedangkan, guru BK dapat memberikan topik tentang pendidikan seks sebagai
berikut :
1. Seks dan seksualitas
2. Mengenal dan merawat organ seks (alat reproduksi)
3. Pergaulan lawan jenis (peran gender, batasan pergaulan dengan lawan jenis)
B. Weaknesses (Kelemahan)
Kelemahan penelitian kuantitatif komparatif antara lain : 1. tidak terdapat kontrol dari
variabel bebas, 2. sulit dalam memilih faktor penyebab secara aktual, 3. faktor tunggal
tidak membentuk hasil (harus ada gabungan faktor faktor lain), dll.
C. What my research will do (Apa yang akan dilakukan oleh penelitian saya)
Penelitian ini akan mencari perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan seks antara
peserta didik dengan pola asuh permisif, demokratis, dan otoriter di SMAN X
Balikpapan

Conclusion (Kesimpulan)
A. Contributions (Kontribusi)
Kontrubusi yang peneliti hendak harapkan dari penelitian ini yaitu :
1. Bagi Guru
Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang
perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan seks antara peserta didik dengan pola
asuh permisif, demokratis, dan otoriter sehingga dapat membantu pihak sekolah
untuk memantau dan memperhatikan peserta didik dalam pemberian pendidikan
seks di sekolah.
2. Bagi Peneliti
Dengan penelitian ini peneliti dapat menambah dan meningkatkan wawasan,
pengetahuan yang berkaitan dengan perbedaan tingkat pengetahuan pendidikan
seks antara peserta didik dengan pola asuh permisif, demokratis, dan otoriter serta
harapannya penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian
lainnya.
B. Importance (Kepentingan)
Kepentingan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat
pengetahuan pendidikan seks antara peserta didik dengan pola asuh permisif,
demokratis, dan otoriter.
Daftar Pustaka :
Amalia, E., Afdila, F. L., & Andriani, Y. (2018). PENGARUH PEMBERIAN
PENDIDIKAN SEKSUAL TERHADAP KEJADIAN KEKERASAN SEKSUAL
PADA ANAK DI SD NEGERI 04 BALAI RUPIH SIMALANGGANG
PAYAKUMBUH TAHUN 2018. JURNAL KESEHATAN PERINTIS (Perintis’s Health
Journal). https://doi.org/10.33653/jkp.v5i2.125
Andika, A. (2010). Bicara Seks Bersama Anak. Yogyakarta: PT Suka Buku.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Pendidikan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
B. Hurlock, E. (2010). Psikologi Perkembangan - Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Djufri, M. A. P., Posangi, J., & Oroh, W. (2019). HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA
DENGAN PEMBERIAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK DI KELAS 5 DAN 6
SD INPRES BOYONG PANTE. E-Journal Keperawatan, Vol 7(No 1).
Enggar Saraswati. (2015). Perbedaan Hasil Belajar Siswa Laki-Laki dan Perempuan dalam
Mata Pelajaran Matematika Kelas III Semester 2 Materi Sudut dan Pecahan di SD
Negeri Se-Desa Caturharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta.
Gulo, D. (1982). Kamus Psychologi. Bandung : Penerbit Tonis.
Haryono, S. E., Anggraini, H., Muntomimah, S., & Iswahyudi, D. (2018). Implemetasi
Pendidikan Sex Pada Anak Usia Dini Di Sekolah. Jurnal Akses Pengabdian Indonesia,
Vol 3(No 1), 24–34.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PEMBERIAN PENDIDIKAN SEKS
PADA ANAK DI KELAS 5 DAN 6 SD INPRES BOYONG PANTE. (2019). JURNAL
KEPERAWATAN.
Jujun S. Suriasumantri. (2012). Ilmu dalam Perspektif (Sebuah Kumpulan dan Karangan
Tentang Hakikat Ilmu). In Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
M. Iqbal, H. H. (2001). Pokok-pokok Materi Statistik I ( Statistik Deskriptif). In Statistik
deskriptif.
Madani. (2003). Pendidikan Seks Untuk Anak Dalam Islam. Jakarta : Pustaka Zahra.
Marheni, A., Krisna, I., & Afiatin, T. (2009). Sikap Terhadap Perceraian Ditinjau Dari
Tingkat Pendidikan, Jenis Kelamin Dan Persepsi Pola Asuh Orang Tua. Universitas
Gajah Mada.
Mulyono, B. (1996). Mengatasi Kenakalan Remaja. Yogyakarta : Yayasan Andi.
Nadar, W. (2017). Persepsi Orang Tua Mengenai Pendidikan Seks Untuk Anak Usia Dini.
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol 1 No 2.
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. In Journal of Chemical
Information and Modeling. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Novianti, A. (2011). KEMATANGAN KARIR SISWA KELAS XI SMA N 10 YOGYAKARTA
DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA. Universitas Negeri Yogyakarta.
Pratiwi, N. (1998). Pola Asuh Anak Pada Pernikahan Beda Agama. Psikologi, Fakultas
Gunadarma, Universitas Agama, Pernikahan Beda.
Purwanto, E., & Kalsum, U. (2018). GAMBARAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH
REMAJA DI KOTA SAMARINDA TAHUN 2016. Mahakam Nursing Journal, 2(3),
126–133.
Qibtiyah, A. (2006). Paradigma Pendidikan Seksualitas. Penerbit Kurnia Kalam Semesta.
Rohmaniah, S. (2018). Pendidikan Seks Bagi Remaja (Perspektif Abdullah Nashih Ulwan
dan Ali Akbar). UIN Sunan Kalijaga.
Rostinah. (2012). GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG
MUNCULNYA TANDA-TANDA SEKS SEKUNDER DI SMPN 4 SUNGGUMINASA
TAHUN 2012. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR.
Sa’abah, M. U. (2001). Perilaku Seks Menyimpang dan Seksualitas Kontemporer Umat
Islam. Yogayakarta : UII Press.
Sarwono, S. W. (2011). Psikologi Remaja Edisi Revisi. In Psikologi Remaja.
https://doi.org/10.1108/09513551011032482.Bastian
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung : CV Alfabeta.
Suhartono, S. (1997). Filsafat Ilmu Pengetahuan. Makassar : Program Pascasarjana
Universitas Hasanuddin.
Sunarti, E. (2004). Mengasuh dengan Hati Tantangan yang Menyenangkan. PT. Elex Media
Komputindo.
Sunarty, K. (2016). HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DAN KEMANDIRIAN
ANAK. Journal of Educational Science and Technology (EST).
https://doi.org/10.26858/est.v2i3.3214
Suryadi. (2007). Cara Efektif Memahami Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta : EDSA
Mahkota.
Syarifah, A. T. I. N., & Chamidah, A. N. (2019). Kompetensi pedagogis guru dalam
pembelajaran seksual pada anak autis usia remaja di Yogyakarta. JPK (Jurnal
Pendidikan Khusus). https://doi.org/10.21831/jpk.v14i2.25171
Tanjung, A. (2007). Free Sex No! Nikah Yes! (Amzah (Ed.)).
Tretsakis, M. (2003). Seks & Anak-Anak : Bagaimana Menanamkan Pemahaman Seks yang
Sehat Kepada Anak-Anak. Bandung : CV. Pionir Jaya .
Wibowo, A. (2012). Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa
Berperadaban. Yogayakarta.
Wibowo, & Mungin, E. (2010). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Universitas Negeri
Semarang.
Widyastuti, V. (2016). HUBUNGAN TINGKAT PENDAPATAN ORANG TUA DAN POLA
ASUH ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X BIDANG
KEAHLIAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SMK NEGERI 1
BANTUL. Universitas Negeri Yogyakarta.