Anda di halaman 1dari 5

1.

Problem sensing
Pendidikan adalah hal sangat penting yang terdapat di dalam kehidupan kita. Pada
haketkatnya, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat mengembangkan potesi yang
ada pada dirinya. Dari pendidikan dapat terjadi proses pembelajaran pengetahuan,
keterampilan, dan kebiasaan sekumpulan manusia yang diwariskan dari satu generasi ke
generasi selanjutnya. Pendidikan secara formal, dilakukan di sekolah. Di dalam sekolah,
seseorang tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang berbagai mata pelajaran tetapi
juga bagaimana cara bersosialisasi dengan orang lain, bekerja sama, toleransi dan lain
lain. Untuk mewujudkan kegiatan belajar yang kondusif, lancar, dan interaktif,
dibutuhkan penyangga utama dalam proses belajar mengajar. Penyangga utama tersebut
adalah kurikulum. Kurikulum digunakan karena mengandung banyak unsur konstruktif
agar pembelajaran dapat berjalan dengan normal.
Sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami beberapa
perubahan, yaitu pada tahaun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994,2004, dan 2016
sampai pada saat ini yaitu 2013. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat dari
perubahaan sosial politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek di Indonesia. Kurikulum
2013 adalah kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang telah berlaku kurang lebih selama 6 tahun.
Dalam kurikulum 2013, berdasarkan Permendikbud Nomor 65 Tahun tentang Standar
Proses, model pembelajaran yang diutamakan dalam implementasi Kurikulum 2013
adalah model pembelajaran Inkuiri (Inquiry Based Learning), model pembelajaran
Discovery (Discovery Learning), model pembelajaran berbasis projek (Project Based
Learning), dan model pembelajaran berbasis permasalahan (Problem Based Learning).
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan
pendidikan karakter, siswa dituntut untuk dapat memahami materi, aktif di dalam diskusi
dan organisasi, serta tetap memiliki sopan santun yang tinggi. Pendidikan karakter adalah
aspek yang memiliki presentasi paling tinggi dalam penilaian yaitu 60%. Hal ini berarti
jika seorang siswa bersikap buruk, maka hal tersebut akan sangat mengurangi nilai
mereka. Oleh karena itu, pembentukan karakter yang baik sangat diperlukan, hal ini
tentunya merupakan tugas semua komponen sekolah, tetapi yang paling banyak
mengemban tugas ini tentunya adalah guru BK.
Kemudian kurikulum 2013, juga membuat kebijakan lain, yakni penjurusan
SMA/sederajat dihauskan dan diganti dengan peminatan yang dimulai dari kelas X.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka
Dasar dan Struktur Kurikulum SMA/MA telah mengatur prosedur pemilihan peminatan
siswa di SMA, yakni berdasarkan nilai rapor SMP/MTs, nilai Ujian Nasional SMP/MTs,
rekomendasi guru BK di SMP, hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di
SMA, dan tes bakat minat oleh Psikolog. Ketika pemilihan peminatan benar-benar
dilakukan dengan berdasar pada lima hal tersebut, maka kemungkinan terjadinya
kekeliruan dalam peminatan dapat diminimalisir. Namun, jika selama satu semester
terdapat kesulitan atau ketidakcocokan pada peminatan tersebut, siswa dapat mengubah
peminatannya berdasarkan hasil pembelajaran di semester pertama dan rekomendasi oleh
guru BK.
a) Pemahaman kepala sekolah terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling masih
kurang, sehingga dukungan dan fasilitasi pelaksanaan bimbingan dan konseling
rendah
b) Banyak konselor sekolah tidak bisa melaksanakan bimbingan dan konseling
karena tidak diberi waktu khusus untuk bertatap muka dengan siswa dalam kelas
maupun di luar kelas, padahal regulasi mengatur dua jam pelajaran untuk kegiatan
bimbingan dan konseling
c) Sarana dan prasarana untuk kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah belum
sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan
d) Konflik peran bagi konselor masih banyak terjadi, yaitu adanya konselor yang
menerima tugas atau memberikan peranan yang berbeda dengan seharusnya,
adanya tugas rangkap yang memaksa konselor melakukan dobel peranan yang
bertentangan
e) Konselor yang mencurahkan waktu untuk kegiatan lain dari pada untuk kegiatan
profesional sebagai konselor
f) Peranan konselor di sekolah kurang memungkinkan sebagai agen perubahan yang
efektif
g) Adanya konselor sekolah yang tidak berlatar belakang bimbingan dan konseling,
sehingga peranannya menjadi kontra produktif, karena melakukan mal-praktek
akibat tidak memiliki konsep, ilmu, keterampilan, dan kepribadian yang
mendukung terhadap profesi konselor.

2. Problem Analysis And Exploration


Konselor mempunyai peranan penting dalam seting pendidikan dalam setiap jenis dan
jenjang pendidikan, dengan tujuan agar siswa mampu mandiri dan berkembang secara
optimal sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya
(seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti
latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial-ekonomi) serta sesuai dengan tuntutan
positif lingkungannya khususnya lingkungan pendidikan di sekolah.
Konselor sebagai pendidik profesional melakukan pelayanan konseling sebagai salah satu
upaya pendidikan untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal
sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan tuntutan lingkungan. Konseling sebagai
profesi bantuan diperuntukan bagi individu-individu normal yang sedang menjalani
proses perkembangan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan agar mencapai
perkembangan optimal, kemandirian dan kebahagiaan dalam menjalani berbagai
kehidupan.
Kurikulum 2013 memuat program peminatan peserta didik yang merupakan suatu proses
pemilihan dan pengambilan keputusan oleh peserta didik yang didasarkan atas
pemahaman potensi diri dan peluang yang ada pada satuan pendidikan. Muatan
peminatan peserta didik meliputi peminatan kelompok matapelajaran, matapelajaran,
lintas peminatan, pendalaman peminatan dan ekstra kurikuler. Dalam konteks tersebut,
peranan konselor melalui layanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik
untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan
keputusan dirinya secara bertanggungjawab sehingga mencapai kesuksesan,
kesejahteraan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.
Peranan konselor sekolah dalam upaya mewujudkan tujuan kurikulum 2013 melalui
kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, dipertegas dalam Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah dan Nomor 70 Tahun 2013
tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan terkait
dengan Pilihan Kelompok Peminatan,Pilihan Matapelajaran Lintas Kelompok Peminatan
dan Pendalaman Mata Pelajaran, dimana Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor
mempunyai peran penting dalam membantu peserta didik dalam memilih dan
menetapkan arah peminatan terkait dengan pilihan kelompok peminatan, lintas kelompok
peminatan, dan pendalaman mata pelajaran dalam rangka persiapan masuk perguruan
tinggi.
Konselor sebagai pemegang harapan bukanlah pihak yang pasif, konselor melakukan
interaksi sosial dengan individu lainnya yang mengamati dan menyambutnya. Bila suatu
unit sosial berfungsi, maka individu lainnya menaruh harapan dan tingkah laku tertentu
dari konselor. Harapan-harapan itu muncul karena pengalaman sendiri atau pengalaman
orang lain yang berinteraksi langsung dari pemegang peran. Suatu peranan selalu berbeda
dengan peranan lainnya, tidak mungkin ada peranan yang sama persis. Peranan konselor
berbeda dengan peranan guru mata pelajaran, berbeda dengan peranan kepala sekolah,
berbeda dengan peranan tenaga administrasi, dan juga berbeda dengan peranan siswa di
sekolah.

. 3. Problem Sensing
Dapat disimpulkan bahwa peranan guru BK dalam kurikulum 2013 sangat krusial.
Namun, kenyataan yang ada tidak sesuai dengan rencana. Dalam pelaksanaannya,
guru BK dalam kurikulum 2013 memiliki beberapa problematika, seperti yang terjadi
di beberapa sekolah berikut ini :
1) Berdasarkan temuan di lapangan (SMP N 1, SMP N 5, SMK Istiqomah 4,
SMP Nasional 3 Bahasa), sekolah tersebut sudah memakai kurikulum 2013
namun pola yang digunakan bukan pola komprehensif melainkan pola 17
plus.
2) Berdasarkan temuan di lapangan (SMK N 1, SMA N 1), sekolah tersebut
sudah memakai kurikulum 2013 dan pola yang digunakan pola komprehensif
namun yang bekerja hanya guru BK-nya saja dan bukan seluruh komponen
sekolah.
3) Berdasarkan temuan di lapangan (MTS Negeri, SMP N 5, SMP N 1, SMK
Istiqomah 4) BK tidak mendapatkan jam untuk masuk kelas.
4) Berdasarkan temuan di lapangan (SMP N 1) , di sekolah tersebut, guru BK
yang ada bukan lulusan BK.