Anda di halaman 1dari 23

Problematika Implementasi Bimbingan dan Konseling dalam

Kurikulum 2013 Sebagai Upaya Pengadaan PPK (Penguatan


Pendidikan Karakter) di Salah Satu SMK di Balikpapan

Laporan Lapangan

(Tugas UAS Mata Kuliah Profesi BK)

Dosen Pengampu : Andi Wahyu Irawan, S.Pd., M.Pd

Disusun oleh :

CATUR ANGGRAHENI

1705095083

BK B 2017

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

2019
ABSTRAK

Tujuan laporan lapangan ini adalah untuk mengetahui problematika implementasi


BK dalam kurikulum 2013. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu
wawancara dan observasi. Variabel atau subjek yang diwawancarai dalam laporan
lapangan ini yaitu dua guru BK dan satu peserta didik. Laporan dikaji
menggunakan teori pertukan sosial oleh J. Thiabut dan H. Kelly. Hasil laporan
lapangan ini yaitu (1) sarana dan prasaran BK di sekolah ini masih sangat kurang,
(2) jam pelaksanaan BK masuk kelas belum maksimal, (3) Guru BK terlalu
sedikit, (4) Pemberian layanan peminatan/perencanaan individual (yang penting
dalam kurikulum 2013) belum maksimal, (5) Pola komprehensif yang digunakan
belum berjalan sebagaimana yang seharusnya.

Kata Kunci : Problematika, Kurikulum 2013, Bimbingan dan Konseling


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


“Long life education” adalah suatu konsep, ide, dan gagasan tentang
belajar sepanjang hayat. Konsep belajar sepanjang hayat dapat ditempuh tidak
hanya di jenjang pendidikan formal, tetapi juga informal dan nonformal.
Sebagai manusia, kita dilahirkan untuk terus belajar. Pendidikan merupakan
salah satu wadah bagi kita untuk belajar. Pendidikan adalah suatu usaha sadar
yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana belajar-mengajar
agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Sekolah
merupakan tempat dimana pendidikan formal terjadi. Untuk mewujudkan
kegiatan belajar yang kondusif, lancar, dan interaktif, dibutuhkan penyangga
utama dalam proses belajar mengajar. Penyangga utama tersebut adalah
kurikulum. Kurikulum digunakan karena mengandung banyak unsur
konstruktif agar pembelajaran dapat berjalan dengan normal. Sejak tahun
1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami beberapa perubahan,
yaitu pada tahaun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994,2004, dan 2016
sampai pada saat ini yaitu 2013. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat dari
perubahaan sosial politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek di Indonesia.
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah untuk
menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang telah
berlaku kurang lebih selama 6 tahun. Dalam kurikulum 2013, berdasarkan
Permendikbud Nomor 65 Tahun tentang Standar Proses, model pembelajaran
yang diutamakan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model
pembelajaran Inkuiri (Inquiry Based Learning), model pembelajaran
Discovery (Discovery Learning), model pembelajaran berbasis projek
(Project Based Learning), dan model pembelajaran berbasis permasalahan
(Problem Based Learning). Di dalam kurikulum 2013, pemerintah ingin
memfokuskan pada pendidikan karakter peserta didik. Pada tahun 2016,
gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menjadi salah satu program
prioritas Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendidikan
karakter juga menjadi penting di dalam 2013, dimana presentasi penekanan
pendidikan karakter lebih besar dibanding pendidikan yang mengajar ilmu
pengetahuan yaitu sebesar 70% untuk sekolah dasar dan 30% untuk sekolah
menengah pertama.
SMK adalah sekolah dimana peserta didik dituntut untuk lebih menguasi
praktik dibanding teori. Harapannya, peserta didik SMK dapat langsung terjun
ke dunia kerja setelah lulus sekolah. Namun, ekspektasi tidak sesuai dengan
realita. Masih banyak persepsi rendah masyarakat terhadap anak SMK. Anak
SMK kerap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Oleh karena
perbuatan beberapa pihak, anak SMK seringkali di cap sebagai anak yang
rusuh dan suka melakukan tawuran. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui
cara sekolah meningkatkan citra anak SMK melalui pendidikan karakter.
Dalam mengembangkan peserta didik secara optimal terdapat tiga hal
penting yang perlu diperhatikan; (1) manajemen dan supervisi, (2) kurikulum
dan pembelajaran, dan (3) bimbingan dan konseling. Bimbingan konseling
berperan penting dalam pendidikan, khususnya di dalam kurikulum 2013
karena beberapa hal sebagai berikut, (1) bimbingan konseling berperan
menguatkan pembelajaran yang mendidik, untuk mewujudkan arahan Pasal 1
(1), 1 (2), Pasal 3, dan Pasal 4 (3) UU No. 20 tahun 2003 secara utuh, kaidah-
kaidah implementasi Kurikulum 2013 sebagaimana dijelaskan harus bermuara
pada perwujudan suasana dan proses pembelajaran mendidik yang
memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik. Suasana belajar dan proses
pembelajaran dimaksud pada hakikatnya adalah proses mengadvokasi dan
memfasilitasi perkembangan peserta didik yang dalam implementasinya
memerlukan penerapan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Bimbingan
dan konseling harus meresap ke dalam kurikulum dan pembelajaran untuk
mengembangkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan potensi
peserta didik, (2) memfasilitasi advokasi dan aksesibilitas, kurikulum 2013
menghendaki adanya diversifikasi layanan, jelasnya layanan peminatan.
Bimbingan dan konseling berperan melakukan advokasi, aksesibilitas, dan
fasilitasi agar terjadi diferensiasi dan diversifikasi layanan pendidikan bagi
pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir peserta didik, (3)
menyelenggrakan fungsi outreach, untuk mendukung prinsip dimaksud
bimbingan dan konseling tidak cukup menyelenggarakan fungsi-fungsi
inreach tetapi juga melaksanakan fungsi outreach yang berorientasi pada
penguatan daya dukung lingkungan perkembangan sebagai lingkungan
belajar, (4) layanan peminatan di satuan pendidikan, dengan memperlihatkan
konsep peminatan dipahami bahwa pada satuan pendidikan
(SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK) terdapat kelompok mata pelajaran
peminatan studi meliputi peminatan akademik, peminatan vokasional,
peminatan pendalaman, dan lintas mata pelajaran dan peminatan studi lanjut.
Guru BK atau konselor melalui pelayanan BK membantu peserta didik dalam
memenuhi arah peminatan peserta didik sesuai dengan kemampuan mental
dasar, bakat, minat dan kecenderungan pribadi mereka masing-masing, serta
mengarahkan tingkat dan arah peminatan, memperhatikan pengertian, fungsi,
dan tujuan diatas, tingkat arah peminatan.
Meskipun bimbingan konseling memiliki peran penting di dalam 2013,
namun masih ada beberapa problematika implementasi bimbingan dan
konseling di dalam kurikulum 2013 yang penulis temukan di salah satu
sekolah di Balikpapan, seperti dukungan personil sekolah yang tidak
maksimal, materi layanan BK dalam implementasi kurikulum 2013, penerapan
pola BK yang salah, dan pola komprehensif yang hanya sekadar nama.
Problematika BK diatas bisa disebabkan oleh kurangnya kesadaran beberapa
pihak mengenai urgensi implementasi BK dalam kurikulum 2013. Kurangnya
kesadaran tentang urgensi implementasi BK dalam kurikuum 2013 dapat
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pihak pihak yang bersangkutan
mengenai menfaat atau keuntungan yang akan di dapat jika implentasi BK
dalam kurikulum 2013 dapat terlaksana dengan baik yang sesuai dengan teori
pertukaran sosial yang mengasumsikan bahwa perilaku seseorang ditentukan
oleh hasil interaksi sosial dengan orang lain yang membawa untung-rugi atau
penghargaan-hukuman yang akan diperoleh. 
Oleh karena keterkaitan antara berbagai problematika diatas, diangkatlah
judul laporan lapangan “Problematika Implementasi Bimbingan dan
Konseling dalam Kurikulum 2013 sebagai Upaya Pengadaan PPK (Penguatan
Pendidikan Karakter) di salah satu SMK di Balikpapan”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang ada, yaitu :
1) Apa saja problematika implementasi BK dalam kurikulum 2013 di sekolah
sekolah samarinda?
2) Bagaimana cara mengatasi problematika implementasi BK dalam
kurikulum 2013 di sekolah sekolah samarinda?

1.3 Manfaat Penelitian


1.3.1 Bagi Mahasiswa
Diharapkan kepada teman teman mahasiswa dapat mengetahui dan
memahami apa saja problematika pelaksanaan BK dalam kurikulum
2013, dan cara mengatasinya dan dapat menggunakan laporan lapangan
ini sebagai refrensi dalam mengatasi problematika di sekolah nantinya
(ketika menjadi guru BK).
1.3.2 Bagi Konselor Sekolah
Diharapkan bagai konselor atau guru BK dapat mempertimbangkan
untuk menggunakan laporan lapangan ini sebagai bahan pengayaan
kedepannya agar problematika pelaksanaan BK dalam kurikulum 2013
dapat berkurang.
BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
2.1 Unsur Unsur Masalah
Laporan lapangan ini didapatkan dari hasil observasi dan wawancara
penulis di salah satu SMK di Balikpapan yang menerapkan kurikulum 2013
di dalam proses pembelajarannya. SMK yang dimaksud hanya memiliki tiga
guru BK, dimana dua diantara guru BK tersebut bukanlah lulusan BK.
SMKN tersebut memiliki 7 jurusan yaitu administrasi perkantoran, RPL
(rekayasa perangkat lunak), akuntansi, perbankan, pemasaran, dan
multimedia serta TKJ (teknologi komputer jaringan). Jumlah peserta didik di
sekolah tersebut sebanyak 1424 peserta didik.
Setelah melakukan observasi dan wawancara di sekolah tersebut, penulis
mendapatkan beberapa problematika implementasi BK dalam kurikulum
2013, diantaranya :
a) Dukungan personil sekolah yang belum optimal
Di sekolah tersebut hanya terdapat satu ruang konseling individu,
dimana di samping ruang konseling individu tersebut terdapat ruang
kerja guru BK yang hanya dibatasi oleh lemari sehingga peserta didik
yang ingin melakukan konseling individu harus memelankan suaranya
agar asas kerahasiaan tetap berjalan. Selain itu, tidak disediakannya
ruang bimbingan kelompok akan menghambat peserta didik untuk
mengembangkan dirinya. Peserta didik yang harusnya menerima
bimbingan di keempat bidang (pribadi, sosial, belajar, karier) tidak
menerima bimbingan tersebut. Walaupun begitu ketika penulis bertanya
terkait pelaksaan bimbingan kelompok di luar ruangan salah satu guru
BK menjawab;
“Untuk pelaksaan bimbingan kelompok di luar ruangan itu terkendala
di waktu peserta didiknya sendiri ya mbak, karena full day school,
mereka pulang saat hari sudah sore sekali, sehingga tidak
memungkinkan untuk melaksanakan bimbingan tersebut. Ketika sabtu
juga mereka sibuk kegiatan ekstrakulikuler, sehingga kurang ada
waktu, itu sih mbak ya..”
Padahal, menurut Permendikbud No. 111 Tahun 2014 tentang
bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan pendidikan
menengah, pada pasal 6 dijelaskna bahwa terdapat 4 komponen
program yaitu (1) layanan dasar, (2) layanan responsif, (3) layanan
perencanaan individual, dan (4) layanan dukungan sistem. Dimana, di
dalam strategi layanan dasar salah satunya yaitu dengan mengadakan
bimbingan kelompok. Selain itu, poin ketujuh dari pengguna POP BK
yaitu “komite sekolah memberikan penyelenggaraan layanan BK di
sekolah”. Dengan didasari oleh dua landasan tersebut, tentunya sudah
memperkuat fakta bahwa bimbingan kelompok merupakan hal yang
krusial dalam penyelenggaraan BK, agar usaha pemerintah
menyelengarakan PPK (penguatan pendidikan karakter) dapat terjalan
dengan baik. Diadakannya bimbingan kelompok dengan materi materi
seperti toleransi, sikap cinta damai, bagaimana cara mengapresiasi
budaya bangsa, displin, senantiasa menjaga perkataan dan perbuatan,
mandiri dan gotong royong dapat membentuk sedikit demi sedikit
karakter peserta didik.
Masalah lainnya yaitu, tidak adanya pemberian jam kepada guru BK
untuk melakukan layanan. Pemberian jam hanya dilakukan pada saat
peserta didik masih berada di bangku kelas 10. Sesuai dengan
wawancara kepada salah satu peserta didik di sekolah tersebut, inisial
S;
“Kalau pas kelas 10 itu, BK dapat jam kak, tapi pas kelas 11 dan 12
udah enggak. Lagian juga pas kelas 10 itu guru BK-nya jarang masuk
kak. Jadi ya gitu deh....”
Padahal menurut Permendikbud Nomor 15 tahun 2018 pada pasal 4
bahwa pembimbingan paling sedikit 5 (lima) rombongan belajar
(rombel) per tahun. Yang, jika diasumsikan di dalam satu kelas terdapat
35 peserta didik dikali 5 sama dengan 175 siswa. Yang sesuai dengan
Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 yang terdapat di halaman (28)
dijelaskan bahwa : ” Pengakuan jam kerja konselor atau guru
Bimbingan dan Konseling diperhitungkan dengan rasio 1: (150 – 160)
ekuivalen dengan jam kerja 24 jam.” Hal ini berarti guru Bk dianggap
memenuhi jam kerja jika sudah membimbing 5 rombongan belajar.
Sedangkan, di SMK ini hanya terdapat 12 rombongan belajar pada
peserta didik yang berada di kelas 10 (dimana penyelenggaraan Bk
dilakukan) , yang jika dibagi oleh 3 guru BK, hanya terdapat 4 kelas
yang dibimbing oleh masing masing guru BK sehingga, dapat
disimpulkan bahwa jam kerja guru BK di SMK ini masih kurang.
b) Materi layanan BK dalam implementasi kurikulum 2013
Salah satu dari empat komponen layanan BK yaitu layanan
perencanaan individual. Pada peserta didik kelas 10, hal ini dapat
dimulai dengan memilih kelompok belajar peminatan. Karakter khusus
pada kurikulum 2013 adalah peminatan. Kelompok mata pelajaran
peminatan hendaknya sesuai dengan bakat dan minat peserta didik. Di
SMK ini, pemilihan jurusan dilakukan sebelum masuk, oleh karena itu
fokus guru BK pada perencaan individual peserta didik setelah lulus.
Menurut pelatihan peningkatan kompetensi guru BK/Konselor, layanan
BK yang berhubungan dengan layanan perencaan individual harus
mencakup ; (1) informasi tentang kemampuan dasar, bakat, dan minat
peserta didik, (2) infromasi pendidikan lanjutan, dalam SMK, hal ini
dapat berupa kuliah atau kerja, (3) kunjungan ke perguruan tinggi atau
kantor, (4) penelusuran dan pemahaman dasar, bakat dan minat
individu, (5) mempertahankan prestasi dengan belajar. Untuk mencapai
hal hal tersebut, guru BK dapat melakukan layanan perencanaan
individual dengn memberikan informasi tentang karier.
“Kalau untuk perencanaan karier disini, kan ada prakerin ya mbak,
dari situ biasanya sudah dijelaskan tentang bagaimana hal hal yang
akan terjadi di nuai kerja dn lain lain..”
Dalam hal ini, tidak ada pembimbingan dari guru BK tentang langkah
peserta didik seteah lulus. Menurur peserta didik (S), pihak guru BK
hanya mengatakan bahwa jika mereka ingin ditarik kembali ke
perusahaan tempat mereka magang, mereka harus dapat bekerja dan
berperilaku dengan baik. Dalam menciptakan peserta didik yang siap
menempuh dunia baru setelah lulus sekolah, harus ada karakter karakter
yang dicapai seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras,
kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar
membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawa yang sesuai
dengan 18 nilai dalam pendidikan karakter bangsa.
c) Pola komprehensif hanya sekadar nama
Pola BK yang digunakan di SMK ini yaitu pola komprehensif yang
sesuai dengan kurikulum 2013. Terdapat empat komponen layanan
dalam pola komprehensif yaitu layanan dasar, layanan perencanaan
individual, layanan dukungan sistem, dan layanan responsif. Namun
pada kenyataannya, empat komponen layanan tersebut tidak berjalan
dengan baik. Keempat layanan tersebut hanya diberikan kepada peserta
didik di kelas 10. Sedangkan, seperti yang kita ketahui, layanan
perencanaan individual lebih baik diberikan kepada peserta didik di
kelas 12, mengingat mereka akan segera lulus. Layanan dukungan
sistem di SMK ini juga tidak berjalan cukup baik melihat sarana dan
prasarana yang belum memadai, dan guru BK yang bukan lulusan BK.
Walaupun begitu semua guru BK yang ada di SMK ini menjalankan
layanan responsif dengan cukup baik, untuk siswa yang ingin
melakukan konseling individu sendiri, biasanya akan diarahkan kepada
guru BK yang merupakan lulusan BK.
“Kalau disini, kami sangat open ya mbak terhadap peserta didik yang
ingin melakukan konseling. Ruang BK terbuka setiap hari. Jangankan
konseling, sekadar curhat saja juga tidak apa apa...”
Karena ketidaktahuan guru BK terhadap pelaksanaan pola komrehensif,
tujuan kurikulum 2013 malalui PPK (Penguatan Pendidikan
Karakter)pun tidak dapat terpenuhi. Karena seperti yang kita ketahui,
pelaksanaan BK tidak dapat terpenuhi jika komponen layanan belum
berjalan.
Setiap problematika pasti memiliki penyebab tersendiri. Setelah
melakukan wawancara dan observasi, penulis menemukan beberapa
penyebab mengapa problematika ini dapat terjadi karena faktor eksternal dan
faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi bukan dari dalam
diri konselor atau guru BK, seperti misalnya pengetahuan personil sekolah
yang masih sangat kurang tentang implementasi BK, hal ini dapat terjadi
karena kurangnya edukasi personil sekolah tentang apa itu BK, dan
bagaimana seharusnya BK berjalan. Selanjutnya, ada faktor internal yaitu
faktor yang terjadi karena diri konselor sendiri, dalam kasus ini, hal ini terjadi
karena konselor/guru BK bukanlah lulusan S1 BK. Padahal menurut
Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 dalam pasal 1 menyebutkan bahwa
Guru Bimbingan dan Konseling adalah pendidik yang berkualifikasi
akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan
Konseling dan memiliki kompetensi di bidang Bimbingan dan Konseling.
Guru BK yang bukan lulusan BK akan membuat prasangka di lingkungan
sekolah bahwa guru BK tugasnya memotong rambut, menggunting celana
dan lain lain.

2.2 Basis Masalah


Berbagai problematika implementasi BK diatas, tentunya akan
memberikan berbagai dampak, baik kepada konselor itu sendiri, kepada
peserta didik, kepada orang tua peserta didik, kepada rekan sejawat, kepada
sekolah dan masyarakat, dan kepada profesi.
Dampak bagi diri konselor sendiri :
a. Konselor tidak dapat berfungsi secara profesional dan melanggar
kode etiknya sendiri sebagai guru BK. Jika konselor tidak dapat
mengimplementasikan pelayanan BK sebagaimana dengan yang
semestinya, maka dapat dianggap guru BK tersebut bukanlah guru
BK yang profesional.
b. Akan muncul persepsi negatif tentang guru BK. Persepsi perspsi
negatif yang muncul bisa saja berupa cacian dari belakang, seperti
guru yang tidak jelas apa pekerjaannya, guru tukang gosip dan
bahkan yang lebih parah yaitu polisi sekolah.
c. Jika konselor tidak dapat membimbing lima robbongan belajar,
maka konselor belum dapat dikatakan memenuhi jam kerja yang
ada.
Dampak pada peserta didik :
a. Perkembangan peserta didik terhambat karena tidak adanya
bantuan dari guru BK baik itu di bidang pribadi, sosial, belajar dan
karier. Peserta didik yang harusnya dapat lebih berkembang dari
apa yang ada di dirinya yang sekarang, jadi tidak dapat
berkembang sesuai kemampuannya.
b. Tidak dapat terwujudnya PPK (Penguatan Pendidikan Karakter)
yang diharapkan oleh pemerintah. Tanpa adanya dukungan yang
maksimal dari guru BK , tujuan tersebut tidak akan dapat
terlaksana.
Dampak kepada orang tua peserta didik :
a. Timbulnya rasa ketidakpercayaan orang tua kepada konselor atau
guru BK. Timbulnya rasa ini diakibatkan oleh ketidakprofesionalan
konselor atau guru BK dalam membimbing peserta didik.
b. Kesalahpahaman orang taua akan konteks tugas konselor. Konselor
atau guru BK akan dianggap sebagai guru yang tugasnya tidak
jelas. Hal ini juga akan membuat guru BK tidak dijadikan partner
dalam menyelesaikan permasalahan pada anak.
Dampak kepada rekan sejawat :
a. Dalam kasus di SMK ini, guru BK yang merupakan lulusan BK
akan kesulitan karena harus mengembang tugas yang lebih banyak
dalam menjalankan layanan bimbingan dan konseling.
b. Guru BK yang merupakan lulusan BK tidak dapat melakukan
diskusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik
karena keterbatasan pengetahuan dari rekan sejawat.
Dampak kepada sekolah :
Akreditasi sekolah membutuhkan peserta didik yang aktif dan
berkarakter serta peserta didik yang dapat mengembangkan bakat dan
minatnya dengan maksimal. Karena ketidakprofesionalan guru BK dalam
menjalankan tugas, maka sekolah akan kurang dapat meraih prestasi dari
yang seharusnya dapat diraih.
Dampak kepada profesi :
Profesi bimbingan dan konseling akan diisi oleh tenaga kerja yang
kurang profesional sehingga keefektifan dan keefisienan dalam
menjalankan visi dan misi akan sulit tercapai

2.3 Tujuan Ideal yang Ingin Dicapai


Dalam melaksanakan implementasi BK dalam kurikulum 2013 sebagai
upaya melakukan PPK (penguatan pendidikan karakter) di SMK ini, terdapat
beberapa tujuan yang hedaknya dapat dicapai, tujuan tujuan tersebut antara
lain :
a. Pembangunan sarana dan prasana ideal bagi implementasi BK
dalam kurikulum 2013. Sarana dan prasarana tersebut meliputi
pengadaan ruang konseling individu yang layak, dimana
diharapkan di dalam ruang tersebut, dinding yang ada kedap suara,
sehingga asas kerahasiaan dapat terjalan dengan baik. Selain itu,
pengadaan ruang bimbingan kelompok, ruang ini nantinya juga
dapat digunakan sebagai ruang konseling kelompok. Sama seperti
ruang konseling individu, diharapkan ruangan ini juga dapat
memendam suara peserta didik sehingga pembicaraan yang
sifatnya rahasia tidak sampai terdengar keluar.
b. Pengadaan jam masuk BK bagi kelas 11 dan 12. Pengadaan jam
masuk BK ini diharapkan dapat dilaksanakan bukan hanya di kelas
10 tetapi juga kelas 11 dan 12. Guru BK harus masuk ke semua
kelas di semua jurusan, untuk memberikan materi materi yang
berkaitan dengan kebutuhan peserta didik. Guru BK harus masuk
ke setiap kelas minimal satu kali seminggu.
c. Penambahan guru BK yang merupakan lulusan BK. Jika di setiap
angkatan terdapat 12 rombonan belajar, maka 12 dikasi 3 sama
dengan 36 kelas dibagi oleh 3 guru BK, maka masing masing
guru BK harus mengampu 12 kelas, tentunya hal ini tidak sesuai
dengan jam kerja guru BK yang seharusnya hanya mengampu
lima rombongan belajar. Sehingga jika hanya terdapat 3 guru BK,
guru tersebut hanya dapat membimbing 15 kelas. Lebih lanjut lagi
dibutuhkan sebanyak 4 guru BK lagi untuk mendampingi 21 kelas
yang tersisa.
d. Pemberian materi perencanaan individual yang akan berguna bagi
peserta didik setelah lulus. Pemberian materi ini dapat berupa
meteri tentang dunia kerja, dunia perkuliahan, tips dan trik masuk
dunai kera, tis dan trik masuk dunia perkuliahan, mengenal
berbagai jenis profesi, mengenal berbagai jenis jurusan di bangku
perguruan tinggi dll.
e. Mengubah pola komprehensif yang ada, menjadi pola komrehensif
yang sesuai dengan kodratnya. Hal ini dapat diwujudkan jika guru
BK tersebut diberika masuk ke setiap kelas dan memberikan
layanan dasar, dukungan sistem, perencanaan individual, dan
responsif.

2.4 Usaha Usaha untuk Mencapai Tujuan


Dalam implementasi BK dalam kurikulum 2013 sebagai upaya
melakukan PPK (penguatan pendidikan karakter) di SMK ini, terdapat
beberapa usaha dimana usaha usaha tersebut dibagai menjadi dua yaitu usaha
yang sudah dilakukan dan usaha yang masih di dalam proses perencanaan :
a. Usaha usaha yang telah dilakukan oleh SMK ini antara lain telah
memebrika layanan orientasi bagi peserta didik baru. Layanan
orientasi ini diberikan dengan kegiatan seperi mengenali
lingkungan sekolah, mengenali guru guru yang ada, kurikulum
yang digunakan, organisasi dan ekstrakulikuler yang ada, dll.
Selain itu, pihak sekolah juga sudah melakukan layanan informasi.
Layanan informasi yang sudah diberikan seperti tentang motivasi
belajar, mengenal gaya belajar, dan mengatur waktu belajar.
b. Dalam kurikulm 2013, bimbingan konseling berperan krusial
karena, (1) bimbingan konseling berperan menguatkan
pembelajaran yang mendidik, usaha usaha yang dapat dilakukan
oleh guru Bk yaitu mengetahui prinsip, kesiapan, dan gaya belajar
peserta didik dengan cara melakukan asesmen. Sesuai dengan
kurikulum 2013 dengan pola komprehensif, maka asesemn yang
dapat digunakan yaitu ITP (inventori tugas perkembangan), di
dalam ITP sendiri terdapat 11 aspek perkembangan. Setelah itu
guru BK dapat membuat deskripsi kebutuhan peserta didik
berdasarkan asesmen yang dibagikan, pada tahan ini guru BK
sudah dapat melakukan diagnosis kesulitan belajar peserta didik.
Langkah selanjutnya yaitu membuat action plan, action plan dapat
dibuat secara klasikal, kelompok, atau individu. Untuk membuat
penyampaian materi lebih menarik, dapat menggunakan media
seperti PPT, video edukasi, ataupun film pendek. Langkah terakhir
yaitu membuat RPL (rencana pelaksanaan layanan) sesuai dengan
materi yang dibutuhkan peserta didik, (2) memfasilitasi advokasi
dan aksesibilitas, dalam hal ini guru BK dapat bekerja sama
dengan guru mata pelajaran, dan saling memebrikan keuntungan.
Guru BK dapat mengetahui informasi tentang sifat peserta didik di
kelas, sedangkan guru mata pelajaran dapat memahami potensi
dan kesiapan belajar peserta didik berdasarkan informasi dari guru
BK, (3) menyelenggrakan fungsi outreach, disini guru Bk dapat
melakukan kolaborasi yang lebih luas lagi yaitu kolaborasi dengan
orang tua, kolaborasi dengan lembaga sekolah, dan kolaborasi
dengan profesi profesi lain seperti psikolog, polisi, dokter, dll. Hal
ini dilakukan semata mata untuk mendukung perkembangan
peserta didik itu sendiri, (4) layanan peminatan di satuan
pendidikan, dalam hal ini dapat dilakukan dengan lima langkah,
yang pertama yaitu pengumpulan data melalu asesmen, data dapat
dikumpul melalui ITP, hasil observasi, wawancara, studi
dokumenter, angket, ataupun rating scale. Kedua, pemberian
layanan informasi tentang berbagai macam tujuan mereka setelah
lulus. Ketiga yaitu penetapan karier, bisa diberikan dengan
memantapkan pilihah karier peserta didik. Keempat yaitu
penyesuaian pilihan karier, pilihan karier harus sesuai dengan
realita kesiapan ekonomi, kesiapan belajar, dll. Pilihan karier
harus dapat menyesuaikan dengan diri peserta didik. Terakhir
yaitu tindak lanjut, seperti misalnya pendampingan saat
melakukan SNMPTN dll.

2.5 Kendala dan Penunjang untuk Mencapai Tujuan


Dalam mencapai tujuan, seringkali kita dihadapkan dengan berbagai
kendala. Kendala kendala dalam implementasi BK dalam kurikulum 2013
sebagai upaya melakukan PPK (penguatan pendidikan karakter) di SMK ini,
antara lain :
a. Personil sekolah kurang dapat bekerja sama. Di SMK ini sendiri,
guru BK kurang didukung untuk melkasanakan kegiatannya oleh
kepala sekolah. Sehingga BK terkesan berjalan sendiri dan
terpisah dari kegiatan kegiatan lain di sekolah. Kepala sekolah di
SMK ini sepertinya kurang mendapatkan edukasi tentang
pentingnya penyelenggaraan BK di sekolah.
b. Kompetensi dan kemampuan guru BK sangat etrbatas. Dua guru Bk yang
bukan merupakan lulusna BK adalah lulusan dar pendidikan ekonomi dan
ilmu komunikasi, sehingga skill dan pengetahuan tentang BK minim sekali.
c. Fasilitas penyelenggaraan BK tidak memadai, ditandai dengan
ruang konseling individu yang kurang layak dan ruang bimbingan
kelompok yang tidak ada.

Pembahasan

3.1 Pemahaman Unsur Masalah Berdasarkan Perspektif Teori Pertukaran


Sosial oleh J Thibaut & H. Kelley
Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa semakin tinggi ganjaran
(reward) yang diperoleh maka semakin besar presentase kemungkinan
tingkah laku yang mendapatkan ganjaran tersebut diulang. Begitu pula
sebaliknya, semakin tinggi biaya (cost) atau ancaman hukuman (punishment)
yang telah diperoleh, maka semakin kecil presentase kemungkinan tingkah
laku yang mendapat hukuman tersebut diulang. Maka dapat disimpulkan,
bahwa manusia cenderung melakukan sesuatu yang membawa keuntungan
pada dirinya dan menghindari sesuatu yang merugikan dirinya. Jika dikaitkan
dengan poin pertama problematika yang terjadi, personil sekolah, khususnya
kepala sekolah, mungkin belum mendapatkan atau mengetahui manfaat jika
penyelenggaraan BK dapat dilakukan dengan baik (reward), sehingga
kemungkinan penyelenggaraan BK menjadi semakin kecil. Kemungkinan
lainnya yang masih berupa dugaan yaitu bahwa di masa lalu penyelenggaraan
BK tidak memberika reward dan malah memberikan punishment. Sehingga,
muncul sifat kehati-hatian dalam menyelenggarakan BK di masa depan. Jika
dikaitkan dengan problematika pada poin kedua, kemungkinan yang terjadi
adalah bahwa guru BK belum mengetahui manfaat jika penyelengaraan
perencanaan individual atau peminatan (reward) dilaksanakan dengan
maksimal. Padahal tanpa dilakukan layanan perencanaan individual itu
sendiri, kita tidak akan tahu apakah kita akan mendapat reward/punishment.
Jadi, kemungkinan yang paling mungkin terjadi adalah bahwa di masa lalu,
guru BK yang melakukan layanan perencanan individual/peminatan tidak
mendapatkan reward/kurang mendapatkan reward sehingga layanan
perencanaan individual dan peminatan-pun dilakukan kurang maksimal.
Adapun, pada poin ketiga problematika, dimana guru BK tidak melaksanakan
pola komprehensif secara maksimal menunjukkan bahwa belum ada cukup
usaha sehingga reward atau punishment itu terjadi.

3.2 Pandangan Teori Pertukaran Sosial oleh J. Thibaut dan H. Kelly


Terhadap Basis Masalah
Menurut J. Thibaut dan H. Kelly, terdapat empat konsep pokok dalam
teori pertukaran sosial yaitu ganjaran, kos, hasil, dan tingkat perbandingan.
Ganjaran adalah akibat yang dianggap positif dari hasil kegiatan teretantu.
Sedangkan kos adalah akibat yang dianggap negatif dari hasil kegiatan
tertentu. Hasil adalah ganjaran tolak kos. Hasil dapat didefinisikan ketika kita
berhubungan dengan seseoarang dan tidak mendapatkan keuntungan sama
sekali, maka kita adapat dianggap rugi. Terakhir, tingkat perbandingan adalah
tolak ukur kejadian masa lalu, untuk menilai kejadian di masa sekarang. Di
dalam basis masalah, terdapat dampak dampak yang dipaparkan akibat tidak
terlaksananya penyelenggaraan BK dalam kurikulum 2013. Jika dilihat dari
apa yang sudah dijelaskan diatas, dampak dampak yang diberikan
kebanyakan merupaka kos, dan hanya sedikit yang merupakan ganjaran.
Dilihat dari segi hasil, hubungan antara guru BK dan kepala sekolah yang
tidak begitu berjalan baik menandakan bahwa guru BK dalam hubungannya
dengan kepala sekolah tidak membawa keuntungan dan malah membawa
kerugian, begitupun sebaliknya, kepala sekolah bisa saja menganggap bahwa
hubungannya dengan guru BK tidak mendapatkan keuntungan dan malah
membawa kerugian. Perbandingan kerja sama antara guru mata pelajaran
dengan kepala sekolah, dan antara guru BK dengan kepala sekolah juga dapat
diinterpretasikan sebagai tingkat perbandingan, dimana kepala sekolah
merasa kerjasama dengan guru mata pelajaran membawa hasil yang lebih
baik dibandingkan kerjasama dengan guru BK.

3.3 Pandangan Teori Pertukaran Sosial oleh J. Thibaut dan H. Kelly


Terhadap Tujuan
Asumsi paling mendasar dari teori ini adalah bahwa individu seringkali
termotivasi untuk melakukan sesuatu karena ada kepentingan pribadi atau self
interest, dengan kata lain individu berharap untuk mencapai suatu tujuan
dilakukan pengorbanan sekecil mungkin dengan keuntungan sebesar
mungkin. Begitu pula dalam mencapai tujuan penyelenggaraan BK dalam
kurikulum 2013 ini. Bahwa, tujuan tujuan yang ingin dicapai seperti
pembangunaan sarana dan prasarana yang memadai, penambahan jam masuk
BK, pemberian materi peminatan, menggunakan pola komprehensif secara
maksimal, dan menambah guru BK bisa dicapai oleh guru BK dengan
melakukan pengorbanan yang sekecil mungkin, seperti menunjukkan kepada
kepala sekolah setiap harinya berita mengenai guru BK di sekolah lain yang
peserta didik-nya dapat lebih berprestasi karena sarana dan prasarana yang
menunjang, penambahan jam pelajaran, penambahan guru BK dll.
Diharapkan jika guru BK melakukan hal ini secara terus menerus, maka
kepala sekolah dapat mempertimbangkan kembali kemaksimalan dalam
penyelanggaraan BK. Tentunya usaha yang dilakukan oleh guru BK tadi
bukan merupakan usaha yang harus mengeluarkan banyak tenaga, pikiran,
dan waktu.

3.4 Pandangan Teori Pertukaran Sosial oleh J. Thiabut dan H. Kelly


Terhadap Aktivitas dan Proses Pencapaian Tujuan
Poin penting yang perlu digarisbawahi dari teori pertukaran sosial adalah
bahwa jika biaya yang dikeluarkan terlalu banyak dan imbalan yang didapat
terlalu sedikit, maka hal ini akan menimbulkan masalah. Jika dalam
prosesnya guru BK terlalu mengeluarkan tenaga, pikiran, dan waktunya, dan
imbalan yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, amka guru
Bk tersebut akan mendapat maslaah seperti putus asa dan menyerah.
Mensiasati agar hal tersebut tidak terjadi, seorang guru BK ada baiknya
bekerja secara maksimal namun ada batasnya dan tidak berlebihan. Karena
seperti yang kita tahu, sesuatu yang berlebihan bukanlah hal yang baik. Jika
kita sudah melakukan-nya usaha dan proses pencapaian tujuan dengan
maksimal namun hasil yang di dapat belum sesuai, maka yang kita dapat
hanyalah kekecewaan.
BAB III

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari berbagai hasil observasi dan wawancara penulis kepada guru BK
selama proses pencarian data, diketahui bahwa begitu banyak problematikan
implementasi BK dalam kurikulum 2013, seperti misalnya dukungan personil
sekolah yang belum maksimal, pemberian layanan peminatan (yang penting
dalam kurikulum 2013) yang juga belum maksimal, dan pola komprehensif
yang tidak bejalan dengan yang semestinya. Problematika problematika
tersebut tentunya tidak hanya memberikan dampak kepada guru BK itu
sendiri, tetapi juga kepada peserta didik, kepada orang tua peserta didik,
kepada sekolah, kepada rekan sejawat, dan kepada profesi. Sehingga
diperlukan tujuan yang ingin dicapai yaitu penambahan guru BK,
pembangunan sarana dan prasara yang lengkap, penambahan jam masuk bagi
guru BK, perubahan pola komprehensif yang maksimal dan lain lain. Untuk
mencapai tujuan tadi, diperlukan usaha usaha yaitu usaha yang sudah
dilakukan dan usaha yang masih berbentuk wacana.
Selanjutnya, dalam melihat semua problematika diatas, digunakan teori
pertukaran sosial oleh J. Thiabut dan H Kelly. Teori pertukaran sosial
menyatakan bahwa semakin tinggi ganjaran (reward) yang diperoleh maka
semakin besar presentase kemungkinan tingkah laku yang mendapatkan
ganjaran tersebut diulang. Dalam hal ini, segala tindakan guru BK pada
dasarnya adalah hasil pertimbangan akan reward atau punishment yang
mungkin di dapat.

4.2 Saran
4.2.1 Bagi Mahasiswa
Sebaiknya lebih banyak lagi mahasiswa yang meneliti tentang
problematika implementasi Bk dalam kurikulum 2013 dan dapat
menggunakan laporan lapangan ini sebagai referensi dalam penelitian
berikutnya.
4.2.2 Bagi Konselor Sekolah
Sebaiknya laporan lapangan ini dapat dibaca oleh bukan hanya
guru BK tetapi juga seluruh personil sekolah yang lain seperti kepala
sekolah, guru mata pelajaran, dll.
DAFTAR PUSTAKA

Kusuomowhardani, R.P.A. 2013. Strategi Pemeliharaan Hubungan dan Kepuasan


dalam Hubungan : Sebuah Meta Analisis. Jurnal piskologi Integratif. Vol 1
No. 1.

Kemendikbud. 2014. Permendikbud No. 11 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan


Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta :
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Rozano, D. Hambatan Implementasi Kurikulum 2013 oleh Guru BK di SMP N 1


Tegal. 2015. Jurnal Penelitian dan Wacana Pendidikan. Vol. 9 No. 1