Anda di halaman 1dari 9

PERENCANAAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDRA TELUK

BUNGUS

Bangun Fiqri Utama Lubis1 dan Prof. Dr. Ir Hang Tuah Salim, M.Oc.E 2
Program Studi Teknik Kelautan
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung,
Jl Ganesha 10 Bandung 40132
1
fiqri.lubis@gmail.com dan 2hangtuahsalim@yahoo.com

Abstrak: Potensi lestari perikanan Sumatera Bagian Barat saat ini mencapai 538.457 ton setahun dengan tingkat
pemanfaatan sebesar 37%. Agar produksi perikanan memenuhi potensi lestari tersebut dibutuhkan sebuah
pelabuhan yang dapat menampung kapal perikanan yang lebih besar. Pelabuhan yang tersedia saat ini hanya
dapat menampung kapal ukuran 60 GT. Selain itu pelabuhan juga harus dilengkapi fasilitas-fasilitas yang dapat
mendukung seluruh kegiatan di pelabuhan. Isi dari tulisan ini adalah perencanaan pelabuhan perikanan di Teluk
Bungus. Perencanaan pelabuhan meliputi layout pelabuhan perikanan, desain revetment dan perencanaan
dermaga pelabuhan. Perencanaan layout melputi perencanaan segala fasilitas pelabuhan. Desain revetment
meliputi perencanaan dimensi, ukuran armor, tebal lapisan dan proteksi kaki dari revetment. Perencanaan
dermaga meliputi perencanaan dimensi struktur dari dermaga dan fasilitasnya. Data yang digunakan untuk
tulisan ini berupa data sekunder. Data tersebut adalah data perikanan dan data lingkungan yang berupa data
gelombang, arus, angin dan tanah. Dari data perikananan, pelabuhan di desain sesuai dengan tipe yaitu
pelabuhan perikanan tipe samudra. Selain itu, gelombang dari data lingkungan juga akan dimodelkan untuk
menentukan tinggi gelombang rencana dari dermaga dan revetment menggunakan program Surface-water
Modeling System (SMS) dengan modul STWAVE. Tulisan ini tidak merencanakan desain detail dari struktur
dermaga, sehingga dimensi dari struktur dermaga diambil dari SNI dan pekerjaan lain yang sudah pernah
dilakukan.

Kata kunci: pelabuhan, perikanan,

PENDAHULUAN

Daerah sumatera bagian barat mempunyai potensi perikanan yang sangat potensial.
Perairan Sumatera Barat secara geografis terletak di pantai Barat Sumatera dengan luas laut
mencapai 138.750 km² dan panjang garis pantai 440 km. Potensi lestari perikanan laut di
pantai barat Sumatera termasuk Sumatera Barat adalah sebesar 538.457 ton per tahun,
sedangkan tingkat pemanfaatannya baru mencapai 37%. Untuk wilayah sumatera barat
sendiri, potensi perikanannya adalah sebesar 289.936 ton yang pemanfaatanya pada tahun
2009 hanya sekitar 191.344 ton.
Saat ini Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Bungus sudah banyak disinggahi kapal
ukuran 60 GT yang wilayah fishing groundnya adalah zona ZEEI di Samudra Hindia. Akan
tetapi, untuk memenuhi tingkat pemanfaatan hingga 100%, diperlukan kapal yang lebih besar
sehingga berimbas kepada kebutuhan pelabuhan yang lebih besar dan modern.

METODOLOGI

Perencanaan pelabuhan dimulai dengan pengumpulan data sekunder yang berupa data
lingkungan, data kapal dan data perikanan. Data lingkungan berupa data pasang surut, angin,
gelombang, arus dan data tanah. Data perikanan berupa data hasil produksi perikanan selama
beberapa tahun terakhir.

1
Data gelombang (tabel 1) yang didapat terlebih dahulu dimodelkan dengan perangkat
lunak komputer Surface-water Modeling System (SMS), dengan modul STWAVE. Modul ini
mensimulasikan pemodelan gelombang pada laut dalam dan perairan transisi. Pemodelan
gelombang juga termasuk refraksi-difraksi, shoaling, interaksi gelombang-arus, gelombang
pecah dan wave growth. Hasil dari pemodelan adalah tinggi gelombang di sekitar dermaga
dan revetment. Tinggi gelombang ini akan digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk
menentukan elevasi dari dermaga dan revetment dari pelabuhan.

Tabel 1 Data gelombang berdasarkan arah dan perioda ulang


Arah
Perioda
SSW SW WSW W WNW NW NNW
Ulang
(tahun) Hs Tp Hs Tp Hs Tp Hs Tp Hs Tp Hs Tp Hs Tp
(m) (s) (m) (s) (m) (s) (m) (s) (m) (s) (m) (s) (m) (s)
2 1.2 5.4 1.4 5.8 1 4.6 1.4 5.8 1.2 5.3 0.9 4.4 0.9 4.3
5 1.7 6.6 1.8 6.8 1.1 4.9 1.6 6.2 1.7 6.6 1.1 5.1 1.1 5
10 2 7.4 2 7.4 1.1 5.1 1.7 6.5 2 7.3 1.3 5.6 1.3 5.4
50 2.7 8.9 2.6 8.6 1.3 5.5 1.9 7.1 2.7 8.8 1.7 6.5 1.6 6.3
100 3 9.5 2.8 9.1 1.4 5.7 2 7.3 3 9.4 1.8 6.9 1.8 6.7

Data pasang surut diperoleh dari hasil pengamatan di lokasi pekerjaan. Data pasang
surut yang telah diolah akan berupa nilai dari elevasi penting. Data tersebut disajikan pada
tabel 2.

Tabel 2 Nilai elevasi penting di Teluk Bungus


Important Tidal Reference Elevation from 0 Tide
No
Elevation (cm)
1 HWS Highest Water Spring 305.48
2 MSL Mean Sea Level 224.49
3 LWS Lowest Water Spring 155.21

Data angin dan arus berguna untuk mendesain dermaga pelabuhan. Data tersebut
digunakan untuk menentukan kapasitas dari bollard untuk pelabuhan. Selain itu data yang
digunakan untuk perencanaan dermaga adalah data kapal. Data kapal digunakan untuk
menentukan dimensi dermaga dan ukuran fender. Data tanah digunakan untuk menentukan
kedalaman tiang pancang dermaga.
Data perikanan dan data kapal digunakan sebagai dasar untuk menentukan kapasitas
pelabuhan perikanan. Pelabuhan ini direncanakan untuk dapat menampung produksi
perikanan sebesar 300.000 ton/tahun atau 822 ton/hari. Kemudian ukuran dari setiap fasilitas
pelabuhan dihitung berdasarkan kemampuan tersebut.
Pelabuhan perikanan samudra teluk bungus direncanakan dengan berpedoman kriteria
teknis yang terdapat pada keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Per
16/Men/2006. Pelabuhan perikanan tipe samudra harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di
wilayah laut teritorial, ZEEI, dan laut lepas;
2. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-
kurangnya 60 Gross Tonnage (GT);

2
3. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, dengan kedalaman kolam
sekurang- kurangnya minus 3 m;
4. Mampu menampung sekurang-kurangnya 100 kapal perikanan atau jumlah
keseluruhan sekurang-kurangnya 6.000 GT kapal perikanan sekaligus;
5. Ikan yang didaratkan sebagian untuk tujuan ekspor;
6. Terdapat industri perikanan.

Revetment didesain mempunyai tiga buah lapisan, yaitu lapisan armor, lapisan filter
dan lapisan inti. Diantara lapisan filter dan inti digunakan geotextile. Pada lapisan armor
digunakan batu pecah ukuran besar sedangkan pada lapisan filter digunakan batu pecah
ukuran yang lebih kecil. Lapisan inti berupa pasir hasil reklamasi. Untuk menghitung berat
dari armor digunakan rumus Hudson yang dapat dilihat pada persamaan 1. Berat dari lapisan
filter disesuaikan 1/15 hingga 1/10 dari berat armor.

𝛾𝑟 𝐻 3
𝑊= 𝛾𝑟
3 (1)
𝐾𝐷 −1 cot 𝜃
𝛾 𝑎𝑖𝑟 𝑙𝑎𝑢𝑡

Dermaga dan trestle pelabuhan direncanakan menggunakan struktur tipe deck on pile.
Dermaga direncanakan terbagi atas dua zona, zona pendaratan dan perlengkapan. Zona
pendaratan berfungsi untuk nelayan yang akan melakukan proses bongkar ikan. Zona
perlengkapan berfungsi untuk nelayan yang melakukan aktivitas perlengkapan kebutuhan
untuk melaut. Trestle pelabuhan direncanakan sebagai tempat bersandarnya kapal yang tidak
melakukan aktivitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data dari tabel 1 di simulasikan menggunakan program SMS dengan modul


STWAVE. Hasil simulasi disajikan pada tabel 3. Tinggi gelombang perencanaan yang
digunakan adalah tinggi gelombang terbesar yaitu dari arah barat daya.

Tabel 3 Hasil simulasi gelombang menggunakan program STWAVE

Tinggi Gelombang
Input STWAVE (m)

Dermaga Revetment
o
Arah = 0 (Barat); T = 7,1 s ; Hs
0,50 0,50
= 1,9 m
Input : Arah = 22,5o (Barat-Barat
0,50 0,41
Daya); T = 5,5 s ; Hs = 1,3 m
Input : Arah = 45o (Barat Daya);
1,00 1,00
T = 8,6 s ; Hs = 2,6 m

Pelabuhan Perikanan Samudra Teluk Bungus direncanakan terdiri dari fasilitas laut
dan darat. Fasilitas di laut berupa dermaga dan trestle. Dermaga pelabuhan ini terletak pada
kedalaman -9,5 m (LWS) di lepas pantai. Dermaga ini terbagi atas dua area, yaitu dermaga
pendaratan dan dermaga perlengkapan. Dermaga pendaratan adalah dermaga untuk
mendaratkan hasil produksi perikanan, sedangkan dermaga perlengkapan adalah dermaga

3
untuk memuat perlengkapan nelayan sebelum melaut. Dermaga pelabuhan ini didesain untuk
dapat menampung kapal ukuran 350 GT sebanyak 9 buah sekaligus, dimana enam buah kapal
sekaligus pada dermaga pendaratan dan tiga buah kapal sekaligus pada dermaga
perlengkapan. Dermaga didesain selebar 20 m untuk memfasilitasi kebutuhan ruang gerak
dari kenderaan terutama crane dan truk. Selain itu pada dermaga juga terdapat jalan yang
digunakan sebagai lalu lintas kenderaan.
Untuk menghubungkan dermaga dengan daratan digunakan trestle sebanyak dua
buah. Trestle direncanakan sepanjang 200 m sebagai tempat berlabuhnya kapal perikanan
bagi nelayan yang sedang tidak melakukan aktivitas. Trestle selebar 16,5 m berfungsi untuk
memudahkan ruang gerak kenderaan dan sebagai lalu lintas kenderaan.
Fasilitas darat pada pelabuhan ini dihitung berdasarkan beberapa standar untuk
merencakan pelabuhan perikanan. Dari hasil analisis perhitungan kebutuhan pelabuhan
kemudian dibuat layout pelabuhan perikanan. Layout pelabuhan perikanan dibuat dengan
mempertimbangkan letak dari setiap fasilitas pelabuhan agar kegiatan di pelabuhan dapat
lebih efektif dan efisien. Layout pelabuhan perikanan dapat dilihat pada gambar 1.
Luas areal darat sebesar 149.000 m² disediakan untuk berbagai fasilitas. Lahan untuk
fasilitas darat direklamasi menggunakan pasir hingga ketinggian +3,5 m LWS. Untuk
penahan dari erosi digunakan revetment.
Fasilitas pelelangan ikan terletak pada Gedung Pelelangan Ikan seluas 3750 m2.
Gedung pelelangan diletakkan sedekat mungkin dengan dermaga pendaratan agar
mempercepat proses transportasi ikan. Kebutuhan air untuk gedung ini terutama untuk
pembersihan ikan sangat banyak. Oleh karena itu, untuk penyediaan air digunakan air laut
yang diambil dari tangki air laut yang sebelumnya diambil oleh water intake air laut. Untuk
menambah nilai jual dari ikan pelabuhan ini dilengkapi dengan dua buah area industri yang
nantinya akan diserahkan pengelolaannya kepada pihak swasta.
Jalan pada pelabuhan ini berstandar III A dan III C. Jalan III A diperuntukkan bagi
jalan yang dilalui truk. Jalan kelas III A mempunyai dua arah dengan masing-masing arah
mempunyai dua lajur. Jalan kelas III C diperuntukkan untuk jalan di perumahan karyawan.
Jalan kelas III C mempunyai dua arah dan dua lajur.
Untuk perbaikan kapal, pelabuhan menyediakan tempat perbaikan kapal seluas 9000
2
m dengan kapasitas empat buah kapal 350 GT. Fasilitas tempat perbaikan kapal diletakkan
pada lokasi yang tidak menganggu aktivitas kapal di sekitar dermaga dan trestle. Untuk
menarik kapal ke darat disediakan empat buah slipway dan empat buah rumah dari mesin
penarik kapal. Untuk penyimpanan peralatan disediakan satu buah bengkel. Selain itu
pelabuhan juga menyediakan fasilitas untuk perbaikan jaring. Fasilitas perbaikan jaring
diletakan sedekat mungkin dengan trestle dan dermaga agar mempermudah nelayan.
Pelabuhan mempunyai fasilitas untuk penyediaan kebutuhan nelayan selama melaut
seperti air es dan bahan bakar. Untuk penyediaan es, pelabuhan mempunyai fasilitas pabrik es
dan gudang es. Pabrik es pelabuhan mempunyai kapasitas 1300 ton/hari, sedangkan gudang
es mempunyai kapasitas penampungan sebesar 2600 ton. Untuk fasilitas bahan bakar,
pelabuhan menyediakan tangki bahan bakar dengan kapasitas total 300 ton. Fasilitas bahan
bakar diletakkan dekat dengan dermaga perlengkapan untuk mempercepat proses
transportasi. Untuk fasilitas air, pelabuhan menyediakan tangki air yang diletakkan sedikit
lebih jauh dari dermaga perlengkapan dan bahan bakar untuk mencegah kemungkinan
terkontaminasinya air.
Untuk mengangkut jumlah produksi perikanan sebesar 840 ton/hari digunakan truk.
Sebelum memuat hasil perikanan, truk akan terlebih dahulu parkir di area parkir. Area parkir
di desain untuk dapat menampung hingga 48 truk sekaligus. Area parkir ini ditempatkan
sedekat mungkin dengan Gedung Lelang dan Area Industri. Untuk mobil dan kenderaan
lainnya disediakan fasilitas parkir berupa gedung parkir. Gedung parkir diletakkan sedekat

4
mungkin dengan bangunan yang padat dengan orang seperti gedung administrasi dan gedung
pelelangan.

5
C

C A
A

B B

Gambar 1 Layout Pelabuhan Perikanan Samudra Teluk Bungus

6
Revetment pada pelabuhan digunakan untuk menahan erosi dari lahan hasil reklamasi
pelabuhan. Lapisan armor terdiri dari batu dengan berat 300 kg yang ditumpuk sebanyak dua
lapis. Lapisan filter terdiri dari batu yang ditumpuk dengan berat 20-30 kg sebanyak dua
lapis. Sedangkan lapisan inti berupa pasir. Untuk menahan agar pasir tidak keluar dari
lapisannya maka digunakan geotekstil. Hasil desain dari revetment dapat dilihat pada
gambar 2.

Gambar 2 Penampang melintang revetment (Potongan A-A)

Dermaga pelabuhan ini dibuat sepanjang 350 m selebar 20 m dan trestle sepanjang
200 m selebar 16,5 m. Tipe struktur dermaga yang digunakan adalah sistem deck on pile.
Struktur tipe ini mempunyai beberapa keuntungan seperti kemudahan pelaksanaan,
kemudahan perawatan dan sudah umum digunakan di Indonesia. Struktur ini terdiri dari tiga
buah komponen yaitu pelat balok dan tiang pancang.
Ukuran tebal pelat dermaga direncanakan sebesar 25 cm dan balok dermaga
direncanakan sebesar 0,4 m x 0,6 m. Struktur dermaga ditopang oleh tiang pancang baja
berukuran diameter 0,4 m. Tiang pancang baja dipilih dikarenakn tiang pancang akan
dipancang pada tanah keras. Panjang tiang pancang terbesar untuk pelabuhan ini adalah 53
m.
Untuk fasilitas tambat, pada dermaga terdapat fender tipe AN 400 dari Fentek Marine
System. Selain itu untuk penahan kapal saat tambat digunakan bollard dengan kapasitas 5 ton.
Kapasitas yang besar direncanakan agar satu bollard dapat digunakan untuk dua atau lebih
tali tambat kapal. Potongan memanjang dermaga dapat dilihat pada gambar 3.
Tipe struktur dan dimensi dari komponen struktur pada dermaga sama dengan trestle.
Perbedaannya adalah pada trestle digunakan fender tipe AN 500 dari Fentek Marine System.
Potongan memanjang trestle dapat dilihat pada gambar 4.

7
Gambar 3 Potongan memanjang dermaga (Potongan B-B)

Gambar 4 Potongan memanjang trestle (Potongan C-C)

KESIMPULAN DAN SARAN

Gelombang terbesar datang dari arah barat daya dengan tinggi gelombang sebesar 2,6
m dan periode 8,6 s. Setelah dilakukan simulasi menggunakan program STWAVE,
gelombang terbesar datang dari arah barat daya sebesar 1 m di sekitar dermaga dan 1 m di
sekitar revetment. Tinggi gelombang terbesar ini dipakai sebagai dasar untuk merencanakan
pelabuhan.
Pelabuhan Perikanan Samudra Teluk Bungus mampu menampung produksi perikanan
hingga 300.000 ton/tahun. Untuk mendukung kapasitas produksi tersebut pelabuhan
dilengkapi dengan berbagai fasilitas darat dan laut. Untuk fasilitas darat disediakan lahan
seluas 149.000 m2. Fasilitas yang tersedia di darat dapat dilihat pada gambar 1.
Revetment dibuat untuk mencegah terjadinya erosi terhadap timbunan reklamasi.
Revetment terdiri dari lapisan armor seberat 300 kg, lapisan filter 20-30 kg, geotekstil dan
lapisan inti yang berupa pasir hasil reklamasi. Revetment dibangun sepanjang pelabuhan
dengan total panjang sebesar 907 m.
Untuk fasilitas laut disediakan dua buah trestle sepanjang 200 m dan satu buah
dermaga sepanjang 350 m. Dermaga pelabuhan terbagi atas dua zona utama yaitu dermaga
pendaratan dan dermaga perlengkapan. Tipe struktur yang digunakan untuk dermaga dan
trestle adalah deck on pile. Untuk keperluan tambat pelabuhan dilengkapi dengan bollard
berukuran 5 ton dan Arch Fender dari Fentek Marine System dengan tipe AN 400 untuk
dermaga dan AN 500 untuk trestle.
Adapun saran untuk perencanaan pelabuhan ini adalah :
1. Diperlukan lahan yang lebih luas dikarenakan lahan yang saat ini tidak memadai
untuk perluasaan dan penambahan fasilitas. Fasilitas yang perlu penambahan
seiring dengan perkembangan waktu adalah area industri, gedung pelelangan, dan
fasilitas parkir.
2. Diperlukan perencanaan lebih lanjut untuk sistem penanganan sampah di darat dan
laut.
3. Diperlukan metoda yang lebih efektif dan efisien untuk transportasi ikan dari
dermaga pendaratan ke gedung pelelangan agar mengurangi risiko kerusakan ikan
akibat transportasi.
4. Perhitungan stabilitas lereng pada revetment perlu dilakukan sebagai bahan
pertimbangan untuk kelayakan desain revetment yang ada pada tulisan ini.
5. Perhitungan struktur dermaga diperlukan lebih detail terutama perhitungan desain
tulangan, kekuatan struktur dan optimasi ukuran komponen struktur seperti pelat,
balok dan tiang pancang.

8
DAFTAR PUSTAKA

Bruun, Per, Port Engineering Vol. 2, 4th Edition, Gulf Publishing Company, Houston, 1995.
Fentek Marine System, Fentek Marine Fendering System Catalogue, 2002.
Indonesian Fishing Ports, Directorate General of Capture Fisheries, 2009.
Manual Desain Bangunan Pengaman Pantai, Sea Defence Consultants, November 2009.
Pedoman Teknis, Penyelenggaraan Fasilitas Parkir ( Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Darat 272/HK.105/DRJD/96).
Sciortino, J.A, Fishing Harbour Planning, Construction and Management, Food And
Agriculture Organization Of The United Nations, Rome, 2010.
Standar Nasional Indonesia, Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung
(SNI 03-2847-2002).
Standar Nasional Indonesia, Standar Geometrik Jalan Perkotaan (RSNI T-14-2004).
Tsinker, Gregory P. Port Engineering : Planning, Construction, Maintenance, and Security,
John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, 2004.
Triadmojo, Bambang, Pelabuhan, Beta Offset, Yogyakarta, 1999.
Yuspardianto (2006). Studi Fasilitas Pelabuhan Perikanan Dalam Rangka Pengembangan
Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Sumatera Barat. Mangrove dan Pesisir Vol
VI No. 1/2006.

Anda mungkin juga menyukai