Anda di halaman 1dari 43

CRITICAL BOOK

REVIEW
MK. PENDIDIKAN
MASYARAKAT
PRODI S1 BK - FIP

NILAI

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS) Mendidik Untuk Membangun Karakter Bangsa

(YAPANDI, 2015)

NAMA MAHASISWA : Rizka Savitri Nasution

NIM : 1203351030

DOSEN PENGAMPU : Friska Nora Harahap M.Pd.


MATA KULIAH : Pendidikan Masyarakat

PROGRAM STUDI : BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS : ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


OKTOBER 2020
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas CBR mata kuliah Pendidikan
Masyarakat dengan tepat waktu .
Adapun tujuan dari makalah ini untuk memenuhi salah satu ketentuan dari 6 tugas pokok
yang wajib pada setiap mata kuliah salah satunya mata kuliah Pendidikan Masyarakat

Tugas ini dibuat dengan usaha yang maksimal dari fikiran dan tenaga saya agar saya mampu
menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.
Saya menyadari masih banyak kekurangan dari tugas yang saya buat ini mungkin dari segi
bahasa,cara penulisan dan hal-hal lain yang kurang dari tugas ini

Saya harap bu dosen dapat mengkritik sesuatu yang kurang dari tugas saya sebagai saran yang
baik kedepannya bagi saya dan saya harap sesuai dengan ketentuan dalam pembuatan tugas
ini.
Saya ucapkan TerimaKasih yang sebesar besarnya kepada ibu Friska Nora Harahap M.Pd.

KISARAN, Oktober 2020

Penulis

Rizka Savitri Nasution


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………..……………………. i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………….. …………..1
1.1 Rasionaisasi CBR…………………………………………………………………….................. 1
1.2 Tujuan…………………………………………………………………………………………… 1
1.3 Manfaat………………………………………………………………………………………….. 1
1.4 Identitas Buku…………………………………………………………………………………… 2
BAB II ISI BUKU……………………………………………………………………………... 3
2.1 Ringkasan Buku…………………………………………………………………………………..3
BAB III PEMBAHASAN…………………………………………………………………......42
3.1 Kelebihan Buku………………………………………………………………………………….42
3.2 Kekurangan Buku……………………………………………………………………………….42
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………………………...43
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………..…43
4.2 Saran…………………………………………………………………………………………….43
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..44
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi CBR
Keterampilan membuat CBR pada penulis dapat menguji kemampuan dalam meringkas
dan mengalisis sebuah buku serta membandingkan buku yang dianalisis dengan buku
yang lain, mengenal dan memberi nilai serta mengkritik sebuah karya tulis yang
dianalisis.

B. Tujuan
Tujuan dibuatnya CBR ini adalah untuk memnuhi salah satu dari 6 tugas pokok yang
wajib diselesaikan juga menambah pengetahuan dan pengalaman dalam merivew dan
menyampaikan saran untuk perbaikan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai
Pendidikan Masyarakat yang saya pribadi baru mengetahuinya dan untuk menguatkan
ilmu pengetahuan tentang Pendidika Masyarakatl.

C. Manfaat
Manfaatnya adalah agar dapat lebih memahami Pendidikan yang tak hanya di sekolah
namun juga di masyrakatatau luar sekolah yang nantinya akan lebih banyak juga yang
mengetahui dan lebih paham tentang pendidikan luar sekolah atau pendidikan
masyarakat.
D. Identitas Buku

1. Judul Buku : PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS) Mendidik


Untuk Membangun Karakter Bangsa

2. Edisi : Edisi cetakan pertama


3. Pengarang :. YAPANDI
4. Penerbit : IAIN Pontianak Press
5. Kota Terbit : Pontianak, Kalimantan Barat
6. Tahun Terbit : 2015
7. ISBN :-
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU
Bab I
SEJARAH PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Pendidikan yang pertama kali diperoleh anak sebelum pendidikan formal atau sekolah
yaitu pendidikan didalam keluarga, yang pertama-tama mengajarkan kepada anak
pengetahuan tentang Tuhan, pengenalan tentang pergaulan dengan manusia lainnya serta
mengajarkan perkembangan pada anak itu sendiri. Dalam menunaikan tugas atau
pembentukan anak, orang tua tidaklah dapat bekerja sendirian namun harus bekerja sama
dengan orang lain atau masyarakat, karena masyarakatlah yang lebih banyak berinteraksi
dengan anak, hal ini juga harus didukung dengan lingkungan yang Jadi dalam
keluargapun sebenarnya telah terjadi proses pendidikan, dan tentu saja sistem yang
digunakan berbeda dengan sistem sekolah dengan peraturanperaturan yang ketat dan
tegas. Adanya berbagai kegiatan yang menunjuk ide pendidikan luar sekolah pada
mulanya orang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan yang pada
hakekatnya menggunakan sistem di luar dunia sekolah dan dilaksanakan bersamaan
dengan pendidikan sekolah biasa.

Pendidikan luar sekolah sebenarnya bukanlah barang baru dalam khasanah budaya
dan peradaban manusia. Pendidikan luar sekolah telah hidup dan menyatu di dalam
kehidupan setiap masyarakat jauh sebelum muncul dan memasyarakatnya pada sistem
persekolahan. Pendidikan luar sekolah mempunyai bentuk dan pelaksanaan yang berbeda
dengan sistem yang sudah ada di pendidikan persekolahan formal. Pendidikan luar
sekolah timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan
tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja.

Pendidikan luar sekolah pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian


keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Pada waktu permulaan
kehadirannya, pendidikan luar sekolah dipengaruhi oleh pendidikan informal, yaitu
kegiatan yang terutama berlangsung dalam keluarga dimana terjadi interaksi di dalamnya
berupa transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, dan kebiasaan.Pada dasarnya
kegiatan tersebut menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik yang dikenal
dewasa ini. Adapun beberapa alasan timbulnya pendidikan luar sekolah menurut
Soeleiman Joesoep (2004:71) ada lima, yaitu kesejahteraan, kebutuhan pendidikan,
keterbatasan sistem persekolahan, potensi sumber belajar dan keterlantaran pendidikan
luar sekolah.
1. Aspek Pelestarian Budaya Pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan
yang terjadi dan berlangsung di lingkungan keluarga dimana (melalui berbagai
perintah, tindakan dan perkataan) ayah dan ibunya bertindak sebagai
pendidik.Dengan demikian pendidikan luar sekolah pada permulaan kehadirannya
sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan yang berlangsung di dalam
keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara orang tua dengan anak, atau
antar anak dengan anak. Pola-pola transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap,
nilai dan kebiasaan melalui asuhan, suruhan, larangan dan pembimbingan. Tujuan
kegiatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis di masyarakat dan untuk
meneruskan warisan budaya yang meliputi kemampuan, cara kerja dan teknologi
yang dimiliki oleh masyarakat dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jadi,
dalam keluargapun sebenarnya telah terjadi proses-proses pendidikan, walaupun
sistem yang berlaku berbeda dengan sistem pendidikan sekolah.Kegiatan
belajarmembelajarkan yang asli inilah yang termasuk ke dalam kategori
pendidikan tradisional yang kemudian menjadi pendidikan luar sekolah.

2. .Aspek Teoritis Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan pendidikan luar
sekolah adalah teori yang diketengahkan Philip H. Cooms (1973:10), tidak
satupun lembaga pendidikan formal, informal maupun nonformal yang mampu
secara sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar minimum yang esensial.
Atas dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa, keberadaan pendidikan tidak
hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi mutlak diperlukan keberadaannya
bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu memasukan anak-anaknya ke lembaga
pendidikan sekolah) dalam upaya pemerataan kesempatan belajar, meningkatkan
kualitas hasil belajar dan mencapai tujuan pembelajaran yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa.

3. Dasar Pijakan Ada tiga dasar pijakan bagi pendidikan luar sekolah sehingga
memperoleh legitimasi dan berkembang di tengahtengah masyarakat yaitu: UUD
1945, Undang-Undang RI nomor 2 tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah RI
nomor 73 tahun1991tentang pendidikan luar sekolah. Melalui ketiga dasar diatas
dapat dikemukakan bahwa, pendidikan luar sekolah adalah kumpulan individu
yang menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk
mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah dalam rangka
mencapai tujuan belajar. Adapun bentuk-bentuk satuan pendidikan luar sekolah,
sebagaimana diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9 ayat 3 meliputi:
pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis.
Satuan pendidikan luar sekolah sejenis dapat dibentuk kelompok bermain,
penitipan anak, padepokan persilatan dan pondok pesantren tradisional.

4. Aspek Kebutuhan terhadap Pendidikan Kesadaran masyarakat terhadap


pendidikan tidak hanya pada masyarakat daerah perkotaan, melainkan masyarakat
daerah pedesaan juga semakin meluas.Kesadaran ini timbul terutama karena
perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik.Kesadaran
juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan,
keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang
menghendaki suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan
kebutuhan inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik
yang bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.
5. Keterbatasan Lembaga Pendidikan Sekolah Lembaga pendidikan sekolah yang
jumlahnya semakin banyak bersifat formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan
waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta berbagai keterbatasan lainnya.
Sehingga tidak semua lembaga pendidikan sekolah yang ada di daerah
terpencilpun yang mampu memenuhi semua harapan masyarakat setempat, apalagi
memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain. Akibat dari kekurangan atau
keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang
bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua bentuk
pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Selain itu adapun yang mempengaruhi perkembangan pendidikan luar sekolah yaitu:
pengaruh pendidikan informal, pengaruh tradisi masyarakat, dan pengaruh agama. 1.
Pengaruh Pendidikan Informal Proses pendidikan yang paling dini dilingkungan
keluarga, yaitu usaha suami-istri berperilaku yang dapat menimbulkan dampak didik
pada anaknya dengan cara bagaimana pun sederhananya. Keluarga merupakan
pendidikan informal pada anak yang pertama dan paling utama sebelum keluar dalam
lingkungan masyarakat.Didalam kehidupan keluarga sadar mendidik anak-anaknya agar
terbentuk kepribadian yang baik. Dengan mengajarkan pengetahuan, keterampilan, sikap,
nilai, dan kebiasaan yang dilakukan orang tua melalui asuhan dan bimbingannya. 2.
Pengaruh Tradisi Masyarakat Masyarakat mempunyai tradisi dan adat istiadat yang
mendorong setiap individu untuk belajar, berusaha, dan bekerjasama atas dasar nilai-nilai
budaya dan moral yang ada. Seperti pesan orang tua kepada anak-cucunya (Djuju
Sudjana, 1996:54) “Tuntutlah ilmu, carilah harta, jauhilah perilaku yang tidak baik”.
Tutur kata yang lain diantaranya: “Berpikirlah sejak kecil, belajar sejak kanak-kanak,
untuk bekal di masa dewasa, teruslah berikhtiar dengan sabar dan tawakal, berhematlah,
aturlah rejeki sehingga tatkala sedikit dapat mencukupi dan tatkala tidak banyak tapi
bersisa” mereka mempunyai arah dan tujuan yang akan dilakukan, sehingga tidak keluar
dari norma-norma yang berlaku.. 3. Pengaruh Agama Agama adalah ajaran moral yang
berfungsi sebagai bimbingan dan pedoman manusia untuk keselamatan hidupnya di dunia
dan di akhirat. Kehadiran agama dalam kehidupan masyarakat lebih melandasi lagi
perkembangan pendidikan luar sekolah. Belajar membaca kitab suci, kaidah-kaidah
agama, tata cara sembahyang padaumumnya dilakukan di tempat-tempat peribadatan,
merupakan kegiatan belajar mengajar yang mendasari situasi pendidikan luar sekolah.
Setiap agama mewajibkan setiap umatnya untuk belajar. Seperti wahyu pertama yang
diturunkan oleh Allah SWT. kepada Rasulullah yang memerintahkan untuk membaca.
Untuk mengembangkan kemampuan manusia dimasa yang akan datang, agama memberi
motivasi untuk mengantarkan mereka guna memasuki ruang dan waktu yang berbeda
dengan yang dialami saat ini.

Alasan Munculnya Pendidikan Luar Sekolah

Alasan dari segi Factual Historis, meliputi: a. Kesejarahan Pada awalnya, pendidikan
tidak hanya di sekolah dan yang berhubungan dengan siswa dan guru. Pendidikan yang
diperoleh sebelum anak menjadi siswa yaitu ketika berada dalam keluarga terutama ayah
dan ibu. Di dalam keluargalah anak pertama-tama menerima pendidikan, dan pendidikan
yang diperoleh dalam keluarga ini merupakan pendidikan yang terpenting atau utama
terhadap perkembangan pribadi anak. Jadi dalam keluarga pun sebenarnya telah terjadi
proses pendidikan, dan tentu saja sistem yang digunakan berbeda dengan sistem sekolah
dengan peraturan-peraturan yang ketat dan tegas. b. Kebutuhan Pendidikan Semakin
dibutuhkannya berbagai macam keahlian dalam menyongsong kehidupan yang semakin
kompleks dan penuh tuntutan, maka wajar masyarakat menghendaki berbagai
penyelenggaraan pendidikan dengan program-program keahlian. Maka terbentuklah
sistem pendidikan sekolah dan sistem pendidikan luar sekolah serta ada bentuk
pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal. C. Keterbatasan
Sistem Persekolahan Sistem persekolahan, mengharuskan siswa berada dalam bentuk
menyeluruh dan keahlian yang sejenis sehingga mereka terasing dari pengetahuan dan
keahlian lain. Kekurang dan kelemahan sistem persekolahan inilah yang memungkinkan
kegiatan pendidikan luar sekolah menerobosnya sehingga terungkaplah pengetahuan dan
keahlian yang selama ini dirasakan sebagai kekurangan. D.. Potensi Sumber Belajar
Ternyata sumber belajar menyebar di sekitar lingkungan kehidupan. Tidak hanya
terfokus pada perpustakaan, koran, majalah, kaset yang merupakan sumber belajar yang
bisa memenuhi kebutuhan yang berguna bagi seseorang. Sumber-sumber belajar tersebut,
memberi lapangan bagi penyelenggaraan pendidikan luar sekolah baik berupa kursus dan
latihan yang selama ini belum mereka dapatkan dan alami.

Alasan dari segi Formal Kebijakan, meliputi: a. Pembukaan dan UUD 1945 1).
Pembukaan UUD 1945 menyebutkan Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. 2). UUD 1945 menyebutkan Pasal
31 ayat 1 yang berbunyi“Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”. Pasal
31 ayat 2 yang berbunyi“Pemerintah mengusahakan dan menyelengarakan satu sistem
pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”. b. Garis-Garis Besar Haluan
Negara 1) Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan
rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. 2) Pendidikan juga menjangkau program-
program luar sekolah yaitu pendidikan yang bersifat kemasyarakatan, termasuk
kepramukaan, latihan keterampilan dan pemberantasan buta huruf dengan mendaya
gunakan sarana dan prasarana yang ada.

BAB II

DASAR DAN ASAS PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk


memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin) pikiran dan jasmani anak-anak selaras
dengan alam dan masyarakat. Menurut Soelaiman Joesoef (2004:49), Pendidikan luar
sekolah merupakan merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan yang bentuk dan
pelaksanaannya berbeda dengan sistem sekolah yang sudah ada. Pendidikan luar sekolah
terdapat hal-hal yang sama pentingnya bila dibandingkan pendidikan sekolah seperti:
bentuk pendidikan, tujuannya, sasarannya, pelaksanaannya, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, Soelaiman Joesoef (2004:50) mendefinisikan pendidikan luar sekolah
sebagai berikut:

a. Komunikasi Pembaharuan Nasional Pendidikan mengungkapkan bahwa


pendidikan luar sekolah adalah: “ Setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi
yang teratur dan terarah diluar sekolah dan seseorang memperoleh informasi,
pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan
kehidupan, dengan tujuan mengembangkan potensi keterampilan, sikap dan nilai-
nilai yang memungkinkan baginya menjadi warga belajar yang efisien dan efektif
dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan
negaranya”.
b. Lebih lanjut Phillips H. Combs mengungkapkan pendidikan luar sekolah
adalah:“Setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar
sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang
luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu
dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar”. Sejalan dengan pendapat diatas,
Joesoep Soelaiman dan Santoso (1981:5) mengemukakan bahwa pendidikan luar
sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan terorganisasi yang diselenggarakan
diluar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan
yang luas, yang dimaksudkan untukmemberikan layanan kepada sasaran didik
tertentu dalam rangka mencapai tujuan belajar.

Selain itu pendidikan luar sekolah juga diartikan sebagai pendidikan yang dilaksanakan
diluar pendidikan formal untuk warga belajar agar mereka memperoleh suatu
keterampilan dalam hidupnya. Bedasarkan pendapat diatas tujuan dari pendidikan luar
sekolah adalah memberikan bekal keterampilan kepada para pelajar. Oleh karenanya
pendidikan luar sekolah biasanya lebih banyak mengembangkan bakat yang dimiliki oleh
masyarakat, salah satu dari pendidikan luar sekolah adalah pelatihan kursus pada ibu-ibu.
Pada pelatihan tersebut tentunya hal yang diajarkan adalah pengembangan diri dari
masyarakat contohnya pembuatan tikar melalui bahan baku yang ada disekeliling
masyarakat atau memanfaatkan barang baku yang ada agar menjadi lebih bermanfaat.
Pendidikan seperti ini tentunya sangat jarang diperoleh melalui pendidikan dibangku
sekolah formal. Jadi, konsep pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana
terdapat komunikasi yang teratur dan terarah diluar sekolah, dan seseorang memperoleh
informasi, pengetahuan, latihan, maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan
kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap, dan nilai-nilai
yang memungkinkan baginya menjadi pesertapeserta yang efisien dan efektif dalam
lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.

A. Dasar Filosifis Pendidikan luar sekolah memiliki landasan filosofis. Landasan


filosofis merupakan dasar tempat berpijak, mengkaji, dan menelaah kegiatan pendidikan
luar sekolah. Kata filosofis berarti cendrung kearah filsafat. Kemudian filsafat sendiri
dapat diartikan sebagai suatu metode berfikir atau cara memandang suatu secara
komprehensif. Sebagai suatu metode, filsafat pendidikan luar sekolah merupakan cara
berfikir menganalisis dan mengutakatik pendidikan luar sekolah secara mendalam
sehingga kehadiran pendidikan luar sekolah pada dunia pendidikan khususnya dan
kehidupan manusia pada umumnya dapat dipertanggungjawabkan. (Mustafa Kamil,
2010:25).

Ada beberapa aliran filsafat yang berkaitan dengan bidang pendidikan, diantaranya
adalah Esensialisme,Perenialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan
Rekonstuksionisme.

1. Esensialisme Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran


teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.
2. Perenialisme Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran
konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.
3. Pragmatisme dan Progresifme Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang
segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan
progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.
4. Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang
menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

B. Dasar Sosiologis Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan


karakteristik masayarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang
proses sosial dan pola-pola interaksi sosial didalam sistem pendidikan. Ruang lingkup
yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang: 1) Hubungan sistem
pendidikan dengan aspek masyarakat lain. 2) Hubungan kemanusiaan. 3) Pengaruh
sekolah pada perilaku anggotanya. 4) Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola
interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.

C. Dasar Kultural Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab
kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari
generasi kegenerasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun
informal. Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahanperubahan yang sesuai
dengan perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nilai-nilai, dan
norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini
disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat
transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah
dan keluarga.

D. Dasar Psikologis Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan


perkembangan anak. Pemahaman terhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan
dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh
karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam
bidang pendidikan. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama
kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan
kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan
dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang
digariskan. Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar
untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat
dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.

E. Dasar Ilmiah dan Teknologi Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung


memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang
teknologi kedalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan
proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam
bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan iptek
tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar iptek dan calon pakar iptek. Selanjutnya
pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan
iptek tersebut. Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai
kehidupan yang lebih baik, yang dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga
pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan
mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar seyogyanya hasil perkembangan iptek
mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memperoleh
informasi dan manfaatnya bagi masyarakat.

Undang-Undang Pendidikan

1. Jalur, Jenjang, dan Jenis Pendidikan Pendidikan melalui beberapa jalur, jenjang dan
jenis pendidikan sesuai dengan tingkat umur dan kemampuan masing-masing
individu. Berdasarkan Undang-undang pendidikan ada beberapa pasal yang
menjelaskan mengenai jalur, jenjang dan jenis pendidikan yaitu: a.Pasal 13 ayat 1 dan
2 yang berbunyi : 1)Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan
informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. 2)Pendidikan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatap muka
dan atau melalui jarak jauh b.Pasal 14 yang berbunyi : “Jenjang pendidikan formal
terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi”. c.Pasal
15 yang berbunyi : “Jenis pendidikan mencangkup pendidikan umum, kejuruan,
akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus”. d.Pasal 16 yang berbunyi :
“Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan
pendidikan yang diselenggrakan oleh Pemerintah Daerah dan atau masyarakat”.
2. Pendidikan Nonformal Pasal 26 ayat 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 yang berbunyi : 1)
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga yang memerlukan layanan
pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan
dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat 2) Pendidikan nonformal
berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan
pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian
professional 3) Pendidikan nonformal meliputi kecakapan hidup, pendidikan anak
usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan
keaksaraan, pendidikan keterampilan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan
lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik 4) Satuan
pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok
belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat dan majlis taklim serta satuan pendidikan
yang sejenis 5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang
memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk
mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri dan atau
melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi 6) Hasil pendidikan nonformal
dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses
penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah
daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. 7) Ketentuan mengenai
penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat
(2), ayat (3), ayat (4), ayat (5) dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
3. Pendidikan Informal Pasal 27 ayat 1, 2 dan 3 yang berbunyi : 1) Kegiatan pendidikan
informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar
secara mandiri 2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diakui
dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian dengan
standar nasional pendidikan. 3) Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan
informal sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah. Berdasarkan dukungan teori-teori ilmu pengetahuan, filsapat, Pancasila,
UUD 1945 dan peraturan perundangundangan yang telah dijelaskan diatas,
Pendidiakan luar sekolah didasri pula oleh asas-asas pokok pendidikan.

Asas-Asas Pokok Pendidikan

1. Asas Tut Wuri Handayani Asas ini menjadi semboyan Depdikbud yang merupakan
inti dari asas pertama yang menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak
mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan
umum. (Yapandi Ramli dkk, 2009:17). Ki Hajar Dewantara kemudian
dikembangkan oleh Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu
Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso. Kini ketiga semboyan
tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu: a. Ing Ngarso Sung Tulodo (
jika di depan memberi contoh) b. Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah
memberi dukungan dan semangat) c. Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi
dorongan).
2. Asas Belajar Sepanjang Hayat Asas belajar sepanjang hayat merupakan sudut
pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup. Dalam latar belakang
pendidikan seumut hidup, proses belajar mengajar disekolah setidaknya mengemban
dua misi, yakni membelajarkan peserta didik dengan efisiensi dan efektif, dan
serentak dengan itu, meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai
basis dari belajar sepanjang hayat. Kurikulum yang dapat meracang dan
diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan
horisontal. a. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan
kesinambungan antara tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan
peserta didik di masa depan. b.Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah yaitu
katerkaitan antara pengalaman belajar disekolah dengan pengalaman diluar sekolah
3. Asas Kemandirian dalam Belajar Baik asas tutwuri handayani maupun belajar
sepanjang hayat secara langsung dengan kaitannya dengan asas kemandirian belajar.
Pada prinsipnya asas tutwuri handayani bertolak dari asumsi kemampuan siswa
untuk mandiri, termasuk mandiri dalam belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar,
sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari
campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk mengulur tangan bila diperlukan.
4. Asas Pendidikan Asas pendidikan merupakan kebutuhan mendasar dari kehidupan
manusia untuk mengisi, memahamkan, dan mengolah jasmaniah dan rohaniah dalam
melangsungkan kehidupan yang lebih baik dan menyempurnakan kehidupan dari
sebelumnya dengan tingkat keingin yang lebih tinggi berdasarkan kemampuan,
pemahaman, penerapan, analisis dan sintesis, serta keterampilan. Keterampilan
dimaksud menurut Djudju Sudjana (2010: 188) terkait dengan “intelektual skill,
managerial skills, social skills, performance skills, productive skills, technical skills,
artistik skills dan emosional dan spiritual skills” sesuai dengan kebutuhan belajar,
kebutuhan hidup dan perkembangan zaman.

BAB III

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Istilah karakteristik diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya
mengandung sifat khas.Karakteristik dapat juga diartikan sebagai suatu kualitas atau
sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk
mengidentifikasikan suatu objek,(Coombs 1993). Kamus besar bahasa Indonesia
(1990:389),menyebutkan karakteristik dapat diartikan sebagai mempunyai sifat khas
sesuai dengan perwatakan tertentu. Karakteristik hampir sama pengertiannya dengan
ciri-ciri. Selanjutnya dalam kamus besar bahasa Indonesia (1990:169) menyebutkan
bahwa ”berciri” artinya bersifat yang khas. Dengan kata lain bahwa berbicara tentang
karakteristik berarti kita berbicara tentang ciri-ciri. Ciri-ciri dapat diartikan sebagai
tanda-tanda khas yang membedakan sesuatu dari yang lain. Sedangkan menurut Kurdie
Syuaeb (2002), Pendidikan nonformal ialah setiap kegiatan teroganisasi dan sistematis di
luar sistem persekolahan yang dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting
dari kegiatan yang lebih luas. Jadi pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
karakteristik pendidikan luar sekolah adalah suatu sifat khas yang dapat dijadikan ciri
atau yang melekat pada sistem pendidikan luar sekolah yang sengaja dilakukan untuk
melayani peserta didik tertentu didalam mencapai tujuan belajarnya.

Karakteristik Pendididkan Luar Sekolah

1. Karakteristik segi tujuan: a.Untuk memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang


fungsional bagi kehidupan kini dan masa depan b.Untuk langsung menerapkan
hasil belajar dalam kehidupan di lingkungan pekerjaan atau masyarakat. c. Untuk
memberikan ganjaran berupa keterampilan, barang atau jasa yang diproduksi, dan
pendapatan.
2. Karakteristik segi waktu penyelenggaraan: a.Relatif singkat dan bergantung pada
kebutuhan belajar peserta didik. b.Menggunakan waktu tidak penuh dan tidak
secara terusmenerus. Waktu biasanya ditetapkan dengan berbagai cara sesuai
dengan kesempatan peserta didik, serta memungkinkan untuk melakukan kegiatan
belajar sambil bekerja dan berusaha.
3. Karakteristik segi program a.Kurikulum berpusat pada kepentingan peserta didik.
Kurikulum bermacam ragam atas dasar perbedaan kebutuhan belajar peserta didik.
b.Menekankan pada kebutuhan masa sekarang dan masa depan terutama untuk
memenuhi kebutuhan terasa peserta didik guna bagi kehidupan peserta didik dan
lingkungannya. c. Mengutamakan aplikasi dengan penekanan kurikulum yang
lebih mengarah kepada keterampilan yang bernilai guna bagi kehidupan peserta
didik dan lingkungannya. d.Persyaratan masuk ditetapkan bersama peserta didik .
Persyaratan untuk mengikuti program adalah kebutuhan, minat, dan kesempatan
peserta didik. e.Program diarahkkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk
mengembangkan potensi peserta didik.
4. Karakteristik segi proses belajar dan pembelajaran a.Dipusatkan di lingkungan
masyarakat dan lembaga. Kegiatan belajar dan pembelajaran diberbagai
lingkungan (masyarakat, tempat bekerja), atau disatuan pendidikan luar sekolah
lainnya. b.Berkaitan dengan kehidupan peserta didik dan masyarakat .pada saat
mengikuti program pendidikan, peserta didik berada dalam dunia kehidupan dan
pekerjaannya. Lingkungan dihubungkan secara fungsional dengan kegiatan
belajar. c. Struktur program pembelajaran lebih fleksibel dan beraneka ragam
dalam jenis dan urutannya, sehingga pengembangan program dapat dilaksanakan
pada waktu program sedang berjalan. d.Berpusat pada peserta didik dengan
menggunakan sumber belajar dari berbagai keahlian. Peserta didik juga biasa
menjadi sumber belajar dengan lebih menekankan pada kegiatan membelajarkan.
e.Penghematan sumber-sumber dengan memanfaatkan tenaga dan sarana yang
tersedia di masyarakat dan di lingkungan kerja.

Karakteristik pendidikan nonformal tersebut memiliki peranan penting bagi pendidikan


dan pengembangan sumber daya manusia dan dapat mensejahterakan masyarakat dengan
mengajarkan dan menyalurkan keterampilan atau menggali potensi-potensi yang ada di
lingkungan masyarakat sehingga dapat membuka peluang usaha baru. Dalam lembaga
pendidikan nonformal ini persoalan umur tidak dibatasi dan juga kurikulum pendidikan
yang yang sangat fleksibel.Keahlian yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti jalur
pendidikan nonformal ini dapat diterapkan langsung di lingkungan masyarat tersebut
untuk meningkatkan kecakapan hidupnya sehingga hidup sejahtera dengan bekal yang
diperoleh dari pendidikan nonformal.

Persamaan dan Perbedaan antara Karakteristik Pendidikan Luar Sekolah dan Pendidikan
Sekolah
Menurut Hasan Langgulung (1980) ada dua persamaan antara karakteristik pendidikan
luar sekolah dengan karakteristik pendidikan sekolah atau pun formal yaitu :Pertama, dari
segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris atau pemindahan nilai-nilai
intelek, seni, politik, ekonomi, agama dan lain sebagainya; Sedangkan dari segi
pandangan individual, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi manusia.
Kedua, dari segi fungsi pendidikan adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan,
Teknologi dan keterampilan bahwa menyiapkan suatu generasi agar memiliki dan
memainkan peranan tertentu dalam masyarakat. Proses pendidikan selalu melibatkan
masyarakat dan semua perangkat kebudayaan sesuai dengan nilai dan falsafah yang
dianutnya. Pendidikan luar sekolah mempunyai ciri-ciri atau karakteristik tersendiri, hal
inilah yang dapat membedakannya dengan pendidikan sekolah. Ciri-ciri atau karakteristik
pendidikan luar sekolah, dapat kita lihat dari berbagai aspek, di antaranya, segi tujuan,
waktu, program, proses belajar dan pembelajaran, pengendalian program, sejarah
pertumbuhan dan banyaknya aktivitas yang dilakukan. Karakteristik tersebut identik
dengan perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan sekolah.Dikatakan demikian,
karena antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah juga terdapat
persamaan. Beberbagai sudut pandang tentang perbedaan karakteristik pendidikan luar
sekolah dengan pendidikan formal, kesemuanya memiliki keunggulan dan kekurangan
masing masing yang merupakan sebagai khazanah keilmuan yang siap dipraktikkan
dengan sebenar-benarnya untuk saling menguatkan dari macam-macam pendidikan luar
sekolah dan satuan pendidikannya, sehingga terciptalah warga belajar yang dapat
membangun pola kesadaran, pengetahuan, wawasan dan nilai-nilai dasar yang hidup di
masyarakat bangsa Indonesia dan berkembang seiring zamannya.

BAB IV

MACAM-MACAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

A. Pendidikan Informal
1. Pendidikan Keluarga Pendidikan keluarga, merupakan pendidikan yang pertama kali
didapatkan dan dialami seseorang sejak ia dilahirkan, dan biasanya dilaksankan sendiri
oleh orang tua dan anggota keluarga yang lain, dengan adanya pendidikan dari keluarga
maka bisa menjadi bekal kita untuk menimba pendidikan lainnya di luar lingkungan
keluarga.

2. Pendidikan di dalam perkumpulan pemuda Memasuki alam kedewasaan, individu


sering terlibat di dalam kegiatan-kegiatan yang sebenarnya mengarah pada program
pendidikan walaupun kadang-kadang proses ini kurang disadari individu masing-masing.
Kegiatan yang dilaksanakan dengan membentuk wadah/organisasi yang sifatnya tidak
terlalu ketat mengikat anggotanya dengan sanksi hukum yang keras, namun demikian
organisasi pemuda merupakan lembaga pendidikan bermacam yang bersifat informal
mempunyai corak ragam yang bermacam-macam yang mempunyai manfaat bagi
individu. Organisasi pemuda semacam ini, lebih menunjang terwujudnya pelaksanaan
asas pendidikan seumur hidup, yang memberikan kesempatan-kesempatan belajar setiap
saat dan tidak terikat oleh batas usia.

3. Pendidikan untuk orang yang sudah dewasa dan lanjut usia Semakin lajunya zaman,
maka usia manusia makin tinggi sehingga ini menambah jumlah orang dewasa dan
jumlah orang yang lanjut usia. Mereka ini sebenarnya terus-menerus dutuntut untuk
meyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Maka dengan ini perlu adanya tuntutan
belajar pada setiap saat, didapat melalui pendidikan informal. Pendidikan ini umumnya
dilaksanakan oleh pihak swasta, tetapi juga ada yang diberi bantuan pemerintah.
Pendidikan ini, dapat dicontohkan: Organisasi kesenian, organisasi olahraga, organisasi
professional, organisasi peserta KB (Akseptor), kontak tani dan organisasi lainnya.

B. Pendidikan Nonformal

1.Pendidikan kecakapan hidup Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan


kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk
menjalankan kehidupan. Tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan peserta
didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan
hidup, dan perkembangannya di masa datang 2.pendidikan anak usia dini Pendidikan
anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia
dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal

3.Pendidikan kepemudaan Pendidikan ini untuk memenuhi kebutuhan para remaja/


pemuda, dengan adanya pelatihan kepemudaan ini diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan dalam rangka meningkatkan kualitas dan pengembangan potensi diri.

4.Pendidikan pemberdayaan perempuan Pendidikan ini bisa dilaksanakan dalam berbagai


bentuk. Pada dasarnya ialah untuk meningkatkan kualitas perempuan, baik dari aspek
kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

5.Pendidikan keaksaraan Jenis program pendidikan keaksaraan berhubungan dengan


populasi sasaran yang belum dapat membaca dan menulis. Dulu program ini dikenal
istilah pemberantasan buta huruf (PBA). Sekarang program keaksaraan terkenal dengan
istilah kursus pengetahuan dasar (KPD). Targetnya ialah terbebasnya populasi sasaran
dari buta baca, buta tulis, buta pengetahuan umum dan buta bahasa Indonesia .

6.Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja Pendidikan ini lebih cenderung kepada
programprogram yang sifatnya aplikatif, untuk menambah atau memperdalam
keterampilan-keterampilan baik didalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di
lingkungan kerja. 7.Pendidikan kesetaraan Program ini diperuntukkan bagi masyarakat
yang ingin menyetarakan pendidikannya seperti pendidikan formal, biasanya dalam hal
ini adanya paket A untuk SD/MI, paket B untuk SLTP/MTs., dan paket C untuk SLTA/
MA

Sedangkan satuan pendidikan nonformal terdiri atas Lembaga kursus, .Lembaga


pelatihan, Kelompok belaja, Pusat kegiatan belajar masyarakat, Majelis taklim.
BAB V

PROGRAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Program pokok merupakan program oprasional pendidikan luar sekolah yang strategis
dibuat oleh lembaga pelaksana atau pemerintah terdiri dari program pemberantasan buta
aksara dan pendidikan dasar, masingmasing program ini terdiri dari pengembangan anak
usia dini, program kesetaraan (kejar paket A setara SD/MI, kejar paket B setara
SMP/MTs, kejar paket C setara SMA/MA) Program pendidikan berkelanjutan, terdiri
dari program: kelompok belajar usaha, beasiswa magang, pendidikan kewanitaan dan
pembinaan serta pengembangan kursus atau pelatihan.

1. Program Pemberantasan Buta Aksara (Keaksaraan Fungsional) dan Pendidikan


Dasar Program pemberantasan buta aksara di masyarakat lebih dikenal dengan
program “Keaksaraan Fungsional (KF)”. Program KF adalah program
pemberantasan buta aksara yang substansi belajarnya disesuaikan dengan
kebutuhan dan minat warga belajar berdasarkan potensi lingkungan yang ada di
sekitar kehidupan warga belajar. Keaksaraan fungsional adalah pengembangan
dari program pemberantasan buta huruf yang tujuannya adalah untuk
meningkatkan keaksaraan dasar warga masyarakat buta aksara (warga belajar)
sesuai dengan minat dan kebutuhan hidupnya. Kegiatan ini diselenggarakan untuk
melayani warga masyarakat yang menyandang buta aksara, usia 10- 44 tahun,
dengan prioritas usia 17-30 tahun. Pelaksanaan kegiatan belajar
mengajardiselenggarakan selama 6 bulan dalam kelompok-kelompok belajar, rata-
rata tiap kelompok terdiri dari 10 orang., dibantu oleh seorang tutor dan tidak
dilakukan test hasil belajar, (Umberto Sihombing, 1999:21) Dengan demikian
hasil yang diharapkan dari program ini adalah warga belajar dapat memanfaatkan
hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Program Pendidikan Berkelanjutan Program pokok pendidikan luar sekolah pada
program pendidikan berkelanjutan terdiri dari : a. Kelompok Belajar Usaha (KBU)
Kelompok Belajar Usaha (KBU) adalah program pembelajaran yang memberikan
peluang kepada masyarakat melalui kelompok belajar untuk belajar, bekerja dan
berusaha, sebagai pelajaran pasca program KF dan kesetaraan paket B dan C.
Tujuan KBU adalah untuk memperluas kesempatan belajar usaha bagi masyarakat
yang tidak mampu, agar memiliki penghasilan yang tetap, sehingga dapat
meningkatkan taraf hidup keluarganya. Pola pelaksanaan KBU dibedakan menjadi
dua, yaitu pola bersama dan pola sendiri-sendiri. Pola bersama yaitu warga belajar
mengelola dana belajar usaha secara bersama dalam kelompok, karena jenis
usahanya sama. Pola sendirisendiri yaitu KBU yang mengelola dana belajar
usahanya dikelola atau diusahakan oleh masing-masing warga belajar secara
terpisah karena jenis usahanya berbeda-beda, tetapi tetap dalam ikatan kelompok.

Program Penunjang Pendidikan Luar Sekolah

1. Pendidikan Massa (Mass education) Pendidikan massa yaitu kesempatan pendidikan


yang diberikan kepada masyarakat luas dengan tujuan yaitu membantu masyarakat agar
mereka memiliki kecakapan dalam hal menulis, membaca dan berhitung serta
berpengetahuan umum yang diperlukan dalam upaya peningkatan taraf hidup dan
kehidupannya sebagai warga negara.

2. Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education) Pendidikan orang dewasa yaitu


pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa. Pendidikan orang dewasa
adalah pendidikan yang diperuntukan bagi orang-orang dewasa dalam lingkukangan
masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan kemampuan, memperkaya
pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya,
memperoleh cara-cara baru serta merubah sikap dan perilakunya.

3. Pendidikan Perluasan (Extension Education) Pendidikan perluasan adalah kegiatan


yang diselenggarakan pendidikan luar sekolah yang meliputi seluruh kegiatan pendidikan
baik yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang dilembagakan ataupun
yang tidak dilembagakan.
Unsur-Unsur Pengembangan Program Pendidikan Luar Sekolah

1. Warga Belajar Warga belajar adalah anggota masyarakat yang ikut dalam satu
kegiatan pembelajaran. Tidak digunakan istilah peserta didik murid, siswa, karena
istilah ini memiliki konotasi bahwa anggota masyarakat tersebut sebatas penerima
tidak menjadi pemilik dan penentu, kurang kelihatan aspek keterlibatan,
sedangkan dalam kegiatan pendidikan luar sekolah, warga belajar turut aktif
menentukan apa yang diinginkannya untuk dipelajari. Istilah warga menunjukkan
bahwa anggota masyarakat tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
proses pembelajaran. Kemandirian warga belajar untuk melaksanakan program
pendidikan nonformal sangat diperlukan sekali, sebab warga belajar dituntut harus
berpartisipasi secara mandiri, menurut Mustafa Kamil (2009:68-77) ada beberapa
faktor yang dapat meningkatkan kemandirian, antara lain: a. Kegiatan
pembelajaran berpusat pada warga belajar Program pendidikan nonformal dalam
konsep pengembangan program pembelajarannya seringkali dilakukan dan
disusun bersama-sama antara sumber belajar dan warga belajar. Ini berlaku sampai
tahap evaluasi, disamping itu pula dalam konsep pembelajaran pendidikan
nonformal warga belajar diberikan kewenangan untuk menyusun dan
melaksanakan program pembelajaran serta melakukan eveluasi pada program
tersebut secara mandiri. b.Kesesuaian isi program dengan sifat-sifat individualitas
Dalam kerangka yang utuh, sebuah program pendidikan nonformal, isi dan jenis
program yang dikembangkan, harus selalu memperhatikan perkembangan pribadi
warga belajar. c. Faktor keturunan dan kesesuaian dengan isi program Joe M.
Charon dalam Mustafa Kamil (2009:74), menyatakan bahwa faktor keturunan
adalah berupa bakat atau pembawaan yang ada dalam diri warga belajar. Faktor
tersebut turut mempengaruhi warga belajar dalam mengikuti suatu program
pendidikan nonformal. d.Kesesuaian isi program dengan faktor lingkungan Djuju
Sudjana dalam Mustafa Kamil (2009:75) memberikan alasan yang jelas bagaimana
keterkaitan antara komponen lingkungan sosial secara fungsional berkaitan dengan
komponen-komponen lainnya dalam kerangka system pendidikan nonformal.
2. Sumber belajar Sumber belajar adalah warga masyarakat yang memiliki
kelebihan baik di bidang pengetahuan, keterampilan, sikap dan mampu serta mau
mengalihkan apa yang dimilikinya pada warga belajar melalui proses
pembelajaran. Sumber belajar adalah orang yang merasa bertanggungjawab untuk
meningkatkan kemampuan manusia yang ada di lingkungannya. Mereka adalah
manusia yang tidak masa bodoh dengan kebodohan Program strategis PLS
merupakan sekelompok paket belajar dan pengalaman belajar melalui kegiatan-
kegiatan identifikasi kebutuhan pendidikan, sumber-sumber, dan penyusunan
program yang berlangsung sepanjang hayat yang memungkinkan dapat
menggunakan hasil pembelajarannya untuk belajar sendiri (self-direction) dan
membina dirinya sendiri (self-direction) melalui pengelolaan manajemen strategik,
kebijakan dan teknis dalam pelaksanaan sesuai dengan fungsi-fungsinya secara
efektif dan efisien.

BAB VI

MANAJEMEN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Manajemen berasal dari bahasa Italia maneggiare yang berarti “mengendalikan,”


terutamanya “mengendalikan kuda” yang berasal dari bahasa latin manus yang berati
“tangan”. Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti
“kepemilikan kuda” dan ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan
mengatur. Sedangkan ditinjau dari bahasa Inggris manage yang berarti “seni
mengendalikan kuda”, dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia. Para ahli
telah berusaha untuk memberikan definisi manageman. Beberapa definisi menurut para
ahli adalah : 1.Menurut SP. Siagan, managemen merupakan kemampuan atau
keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui
orang lain. 2.Menurut H. Malayu SP Hasibuan, managemen adalah ilmu dan seni
mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. 3.Menurut James A.F Stonner
managemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya
organisasi lainnya agar mencapain tujuan organisasi yang ditetapkan. Pengelolaan atau
manajemen adalah kemampuan dan keterampilan khusus untuk melakukan suatu kegiatan
baik, bersama orang lain atau melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi (Djuju
Sudjana, 2010:17)

Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu : 1. Perencanaan (planning)
Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai
beserta caracara untuk mencapai tujuan tersebut. T. Hani Handoko, mengemukakan
bahwa : “Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan
penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran
dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak
terlibat dalam fungsi ini.”, 2. Pengorganisasian (organizing) Fungsi manajemen
berikutnya adalah pengorganisasian (organizing).George R. Terry mengemukakan
bahwa: “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan
yang efektif antara orangorang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien, dan
memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi
lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”. Dari pendapat tersebut
dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk
melengkapi rencanarencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap
kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya.
3.Pelaksanaan (actuating) Pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang
paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak
berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating
justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang
dalam organisasi. Dalam hal ini, George R. Terry mengemukakan bahwa actuating
merupakan usaha menggerakkan anggotaanggota kelompok sedemikian rupa hingga
mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran
anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai
sasaran-sasaran tersebut. 4. Pengawasan (controlling) Pengawasan(controlling)
merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi.
Semua fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Menurut
Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko mengemukakan
definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan,
bahwa: “Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan
standar pelaksanaan dengan tujuan– tujuan perencanaan, merancang sistem informasi
umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan
sebelumnya, menentukan dan mengukurpenyimpangan-penyimpangan, serta mengambil
tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan
dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaiantujuan-tujuan
perusahaan.”

Tahapan-Tahapan Manajemen

1.Rekonsiderasi yaitu menganalisis yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Tahap


ini perlu dilaksanakan yaitu upaya program yang akan dilaksanakan secara operasional
sesuai dengan kebijakan pemerintah. 2.Pengamatan yakni mengidentifikasi dan
menganalisis permasalahan dan potensi serta keadaan daerah yang akan dijadikan tempat
kegiatan. 3.Persiapan adalah menyusun perencanaan berupa program kegiatan yang akan
dilaksanakan diantaranya menyangkut faktor manusia, sarana, biaya dan tempat.
4.Pelaksanaan yaitu melaksanakan kegiatan sesuai dengan program yang sudah
direncanakan. 5.Evaluasi yakni mengevaluasi seluruh program, untuk mengetahui
keberhasilan yang telah dicapai.
Implementasi kebijakan pada tingkat manajemen PLS dilakukan dengan beberapa
strategi. Dalam mengembangkan stratrgi membutuhkan analisi lingkungan yang baik agar
tepat dan efisien untuk mewujudkan visi dan misi sesuai dengan kebutuhan warga
belajar, sehingga kualitas sumber daya manusia, baik para pembuat kebijakan,
penyelenggara pendidikan dan masyarakat jelas penguasaannya bidang keahliannya.

BAB VII

PERAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Pembangunan dalam era global saat ini penuh dengan persaingan yang semakin ketat dan
tajam. Oleh karena itu hanya dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan
mempunyai daya saing yang unggul maka lembaga tersebut akan muncul sebagai
pemenang dalam kompetisi. Pembangunan saat ini bergerak dengan begitu cepat. Hal itu
ditandai dengan adanya perubahan yang mendasar dalam bidang ilmu pengetahuan. Saat
ini telah terjadi revolusi teknologi informasi (information technology revolution). Negara
tidak dapat dan mampu mengisolir diri dari setiap perubahan dunia. Implikasi penting
lain yang tentunya dapat dilihat adalah terjadinya perubahan perencanaan pembangunan
secara nasional. Para perancang pembangunan saat ini ditekan untuk mengubah mindset
mereka dari paradigma lama (old paradigms) kearah paradigma baru (new paradigms),
yaitu: dari based on ecocentric model ke arah based on homocentric model.

Peran Dasar Pendidikan Luar Sekolah

1. Peran pendidikan luar sekolah sebagai pelengkap pendidikan sekolah Pendidikan


luar sekolah berfungsi untuk melengkapi kemampuan peserta didik dengan jalan
memberikan pengalaman belajar yang tidak diperoleh dalam pendidikan sekolah.
Isi pogram didasarkan atas kebutuhan peserta didik program dilakukan oleh para
penyelenggara pendidikan dan bekerja sama dengan masyarakat. Programnya
bermacam-macam, seperti pendidikan keterampilan produktif, olah raga, kesenian,
kelompok belajar, kelompok rekreasi dan kelompok pencinta alam. Pendidikan
luar sekolah sebagai pelengkap ini dirasakan perlu oleh masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan belajar masyarakat dan mendekatkan fungsi pendidikan
sekolah dengan kenyataan yang ada di masyarakat.
2. Peran pendidikan luar sekolah sebagai penambah pendidikan sekolah Pendidikan
luar sekolah sebagai penambah pendidikan sekolah bertujuan untuk menyediakan
kesempatan belajar kepada: a. Peserta didik yang ingin memperdalam materi
pelajaran tertentu yang diperoleh selama mengikuti program pendidikan pada
jenjang pendidikan sekolah. Kegiatan belajar tambahan ini dilakukan di luar jam
pelajaran dengan menggunakan ruang kelas di sekolah yang bersangkutan atau
ditempat lain. Materi pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan para siswa. Para
pendidik pada umumnya adalah guru-guru mata pelajaran yang berkaitan atau
sumber belajar lain yang ada di masyarakat.
3. peran pendidikan luar sekolah sebagai pengganti pendidikan sekolah Pendidikan
luar sekolah sebagai pengganti pendidikan sekolah menyediakan kesempatan
belajar bagi anak-anak atau orang dewasa yang karena berbagai alasan tidak
memperoleh kesempatan untuk memasuki satuan pendidikan sekolah, umumnya
sekolah dasar. Pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang dirancang
untuk membelajarkan masyarakat atau yang disebut juga warga belajar yang pada
umumnya adalah dari kalangan ekonomi rendah.

Dari beberapa peran pendidikan luar sekolah dalam pemberdayaan masyarakat secara
jelas dapat terganbar filosofis PLS adalah membelajarkan masyarakat yang dilakukan di
luar sistem pendidikan formal, merupakan aktivitas yang disengaja sebagai proses
pengorganisasian secara sistimatis bagi semua masyarakat dalam membantu
membelajarkan dan pemerataan pendidikan yang bertujuan memberikan bekal
pengetahuan, sikap, nilainilai moral, dan keterampilan dalam meningkatkan taraf hidup
pengembangan sumber daya manusia sebagai modal utama dalam membangun karakter
bangsa.
BAB VIII

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

Fenemena kemerosotan nilai moral sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat


Indonesia seperti praktik KKN dan maraknya seks bebas di kalangan pelajar dan remaja.
Data survey Komisi Nasinal Perlindungan Anak menunjukkan 62,7 persen siswi SMP
pernah melakukan hubungan seks di luar nikah dan 21,2 persen melakukan aborsi illegal
62,7 persen siswi SMP Tidak Perawan), (Triatna, P. 2012:2). Penderita AID positif
berjumlah 4.552 orang dan HIV mencapai 59.941 orang, sebahagian besar berusia antara
20-39 tahun. (hermanvarella.wordpress. com.) peredaran dan pengguna narkoba, Kasus
mencapai 3,81juta. Usia pengguna narkoba dari di bawah 15 tahun sampai 30 tahun ke
atas, ini merupakan jumlah yang sangat menghawatirkan bagi bangsa ini
(.depdagri.go.id), tawuran antar pelajar, Kasus mencapai 339 kasus dan memakan korban
jiwa 82 orang dan terjadi di 12 kota di Indonesia (edukasi..com). Dalam Islam, Allah
SWT. menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna baik karena
potensinya (diberi akal) maupun karena fungsi perannya (sebagai khalifah di dunia, dan
memberikan peringatan amar ma’ruf nahi mungkar, dan menegakan nilai tauhidullah.
Berbekal potensi kodrati ini manusia memiliki human desires atau naluri manusiawi
untuk membina, mempertahankan, mengembangkan dan meningkatkan (kuantitatif-
kualitatif) aneka potensinya berikut segala perangkat pendukung menuju masyarakat
yang baik (good society). Kajian ini membahas sejauhmana nilai-nilai Tauhidullah
melalui pelatihan kecakapan hidup dapat dikembangkan di dalam masyarakat untuk
membangun karakter bangsa, dengan memaparkan dan sekaligus mengevaluasi sistem
pendidikan dan pelatihan yang selama ini kita alami.

Pelatihan Kecakapan Hidup

a. Konseptual Pelatihan Kecakapan Hidup Secara umum pelatihan merupakan bagian


dari pendidikan yang menggambarkan suatu proses. Karena itu antara pendidikan
dan pelatihan merupakan suatu bagian yang tak dapat dipisahkan dari sistem
pendidikan. Melalui sistem ini termasuk juga di dalamnya terjadi proses
perencanaan, penempatan, dan pengembangan (tenaga seseorang), sebagai suatu
proses, yang mana melalui upaya pengembangan tersebut, diharapkan bisa
memberdayakan SDM secara maksimal agar dapat mencapai sesuai dengan yang
diharapkan
b. Makna Pelatihan dan Pembelajaran Fungsional Skill Robinson (1981: 12)
menjelaskan bahwa : “training, Therefore we are seeking by any instructional or
experiential meand to develop a person behavior patterns in the areas of
knowledge, skill or attitude in order to achive disired standard” (pelatihan adalah
serangkaian kegiatan pelatihan yang mengutamakan perubahan pengetahuan,
sikap, dan peningkatan keterampilan dalam melaksanakan tugasnya). Gardner
(1981:5) dalam Sudirman (2006) menjelaskan bahwa “training can be defined
broadly is the techniques and arragement aimed at fostering and expediting
learning. The focus in on learning”. Menyatakan bahwa pelatihan itu lebih
difokuskan pada kegiatan pelatihan. Mc. Gahee, dalam The Complete Book of
Training menjelaskan bahwa “pelatihan adalah prosedur formal yang difasilitasi
dengan Pelatihan guna terciptanya perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan
peningkatan tujuan perusahaan atau organisasi”. Seorang pemerhati training,
Nedler (1984) mengemukakan bahwa “pelatihan merupakan proses pelatihan
untuk meningkatkan kinerja seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan”.
c. Tujuan dan Manfaat Pelatihan Tujuan pendidikan kecakapan hidup yang
diselenggarakan melalui jalur pendidikan luar masyarakat bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap warga belajar di bidang
pekerjaan/ usaha tertentu sesuai dengan bakat dan minatnya, sehingga mereka
memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusaha mandiri yang dapat
meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan demikian diharapkan warga belajar
untuk: 1) memiliki keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dibuthkan dalam
memasuki dunia kerja baik berkerja mandiri (wirausaha) dan atau bekerja pada
suatu perusahaan produk/jasa dengan penghasilan yang semakin layak untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya; 2) Memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi
serta dapat menghasilkan karyakarya yang unggul dan mampu bersaing di pasar
global; 3) Memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya pendidikan untuk
dirinya sendiri maupun untuk anggota keluarganya; 4) Mempunyai kesempatan
yang sama untuk memperoleh pendidikan dalam rangka mewujudkan keadilan
pendidikan di setiap lapisan masyarakat.
d. Tahap Pelatihan Pelaksanaan pelatihan diperlukan langkah-langkah agar pelatihan
berjalan baik, efektif dan efisien. Mustofa Kamil, (2010: 155), memberikan
penjelasan sebagai berikut: Prosedur pelatihan dimulai dengan analisis kebutuhan
yang menjadi pangkal utama dalam penyusunan pelatihan. Kemudian dilanjutkan
penyusunan kriteria keberhasilan sebagai tolak ukur kesuksesan atau kegagalan
penyelenggaraan suatu pelatihan. Penilaian kebutuhan merupakan proses formal
yang mengidentifikasi kebutuhan sebagai kesenjangan/ gap antara hasil sekarang
dengan hasil yang diharapkan, yang menempatkan kebutuhan itu pada urutan
prioritas pertama. Dengan demikian kebutuhan identik dengan kesenjagan kinerja.
Penilaian kebutuhan

Harapan dan Tantangan

1. Harapan Dalam konteks kajian nilai tauhidullah adalah bahwa segala tindakan dan
perbuatan seseorang memiliki hubungan fungsional dengan tahu, percaya,
merasakan dan yakin bahwa Allah sebagai Rabb, Malik, dan Illah dalam
menunjang keberhasilan atau tidaknya proses membangun karakter masyarakat
yang baik (good society). Pertama. konsep tauhidullah mestinya mampu
mengendalikan realitas struktur dan kultur dalam masyarakat modern secara benar
dan normatif, sehingga terbangunlah akal dan jiwa roh kemerdekaan, roh
demokrasi, roh keadilan, roh kerakyatan, serta roh kesastriaan sebagai titik tolak
menuju kemajuan dan modernisasi (Soekarno dalam Syamsul Kurniawan, 2009:
138-147) lingkungan pendidikan. Faktor ini menurut Elizabeth Hurlock (1993)
merupakan hubungan antar pribadi yang menyenangkan, keadaan emosi, metode
pengasuhan, struktur keluarga dan rangsangan lingkungan sekitar. Hal senada juga
diungkapkan oleh Megawangi (2004), Sauri (2006: 139- 140) bahwa, faktor
penunjang keberhasilan pembinaan karakter adalah faktor lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat. Dalam pergaulan di lingkungan
masyarakat akan selalu terjadi komunikasi saling mempengaruhi fikiranm sifat dan
tingkah laku individu masyarakat sesuai dengan tingkatannya.
2. 2. Tantangan Dari evaluasi terhadap fungsionalisme struktur dan kultur, kita dapat
mengatakan bahwa. Pertama individu dan kelompok dalam masyarakat tidak
sekadar bertindan voluntaristik berdasarkan norma-norma dan nilai-nilai
masyarakat belaka. Individu dan kelompok lazim bertindak dalam suatu bentuk
‘pertukaran sosial’, terkecuali pada aspek kemurahan hati (generosity) dan
altruisme dengan harapan mendapat karma baik (karmic virtue) dan altruisme
nepotistik (nepotistic altruism) (Parry 1986) yang mempengaruhi tindakan
individu, terlepas dari apakah dia memeluk atau tidak memeluk agama
(bertauhidullah). Konsepsi kita pada Yang Kuasa adalah nilai-nilai Tauhidullah
yang memungkinkan kita berhubungan dengan semua makna nilai-nilai dan
pengertian akan tujuan hidup manusia sama. Kedua, realitas dunia pendidikan
Indonesia rentan dengan tendensi prestise kekuasaan yang bernuansa politis dan
struktur sehingga menjadi kultur seperti sentralisasi perumusan tujuan pendidikan,
ligalitas formal kurikulum dan pemberlakuan Ujian Nasional (Firadaus A. 2013:
177- 121). Ketiga dunia global, bagian besar dari kehidupan kita yang berbasis
secara lokal tekah menjadi semakin global karena imigrasi mentransformasikan
komunitas lokal yang dahulu-homogen ke dalam komunitas-komunitas global.

Dari penjelasan diatas secara konseptual pendidikan luar sekolah merupakan bagian
integral dari pendidikan formal yang mengemban misi esensil sebagai pelengkap,
penambah, penyempurna, pengganti, penyebar informasi, pengarah dan pelatih untuk
mendidik menjadi manusia seutuhnya yakni sesuai dengan tujuan pendidikan nasional
(UU RI. No.20 tahun 2003) “Manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Pendidikan luar sekolah secara
substantif dan fungsional melekat dalam semua aspek, unsur, jenis dan demensi tujuan
tersebut. Hal ini merupakan fungsi komponen penting dalam evaluasi pendidikan luar
sekolah untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan telah dicapai.

BAB IX

EVALUASI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Evaluasi berasal dari kata evaluation (bahasa Ingris). Kata tersebut diserap ke dalam
perbendaharaan istilah bahasa Indonesia dengan tujuan mempertahankan kata aslinya
dengan sedikit penyesuaian lafal Indonesia menjadi “evaluasi”. Jadi, evaluasi sebagai
sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan
untuk mendukung tercapainya tujuan (Suharsimi Arikunto, 2009: 1). Secara harfiah
evaluasi berasal dari bahasa Inggris Evaluation, dalam bahasa Arab Al-Taqdir, dalam
bahasa Indonesia berarti Penilaian. Akhir katanya Value dalam bahasa Arab Al-Qimah,
dalam bahasa Indnesia adalah Nilai. Adapun dari segi istilah, sebagaimana yang di
kemukakan oleh Darwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977) Evaluation refer to the act
or prosess to determining the value of someting (suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu) (Anas Sujiono, 2006:1) Evaluasi pada umumnya berarti
kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah
tercapai atau belum, berharga atau tidak berharga, dan dapat pula untuk melihat tingkat
efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi adalah proses mendeskripsikan , mengumpulkan dan
menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan
keputusan. Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran.
Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar
untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta
keefektifan pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan
penilaian. Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi pembelajaran dibedakan atas evaluasi
diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Secara singkat dapat
dikemukakan bahwa evaluasi program bukan kegiatan untuk mencari kesalahan orang
atau lembaga, mengetes, mengukur, atau memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan
program. Evaluasi program mencakup pula pengukuran (measurement) terutama dalam
menilai keluaran (output) dan pengaruh (outcome) program pendidikan luar sekolah.
Pengaruh adalah manfaat yang dialami lulusan dalam peningkatan kesejahteraan dalam
hidup, pembelajaran orang lain, dan partisipasinya dalam pembangunan masyarakat.

Karakteristik Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah

1. Evaluasi program pendidikan luar sekolah lebih mengutamakan proses kegiatan yang
bersifat umum, bukan kegiatan yang bersifat khusus. 2. Evaluasi program lebih luas dari
pada pemeriksaan terhadap pencapaian tujuan program. 3. Evaluasi program lebih luas
dibandingkan dengan evaluasi hasil program. Hasil program pendidikan luar sekolah
terdiri atas kualitas dan kuantitas lulusan. Kualitas lulusan telah dibicarakan sebelumnya
yaitu perubahan prilaku lulusan dan pengaruh pembelajaran bagi diri lulusan dan
masyarakat. 4. Evaluasi program lebih luas dari pada evaluasi proses pembelajaran.
Dalam interaksi ini pendidik membelajarkan peserta didik yaitu membantu peserta untuk
didik melakukan kegiatan belajar, serta bagaimana kegiatan peserta didik dalam belajar.
5. Evaluasi program berbeda dengan penelitian evaluatif terhadap program dan penelitian
program. Penelitian evaluatif merupakan gabungan antara penelitian dan evaluasi, bukan
murni penelitian dan bukan pula murni evaluasi program. 6. Evaluasi program
merupakan alat dalam manajemen atau sebagai fungsi manajemen program. Fungsifingsi
manajemen lainnya adalah perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, dan
pengembangan. 7. Evaluasi program lebih berpusat pada manusia yang terlibat dalam dan
terkait dengan program. Kendati yang dievaluasi adalah lembaga penyelenggara atau
pelaksanaan program, yang menjadi responden dalam evaluasi tersebut adalah orang-
orang yang menyelenggarakan, mengolah, dan melaksanakan program atau masyarakat
yang terkena dampak program pendidikan luar sekolah.

Tujuan Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah

1. Memberi masukan untuk perencanaan program. Pada umumnya evaluasi program


pendidikan luar sekolah dimulai setelah ada keputusan tentang penyelenggaraan
program, seperti program pendidikan anak usia dini, program pendidikan
keaksaraan, program pendidikan kesetaraan, program kursus, program pelatihan,
program majelis taklim, program kepemudaan, program pendidikan perempuan,
program pendidikan usia lanjut, dan sebagainya. Perencanaan program adalah
kegiatan pengelolah bersama orang lain atau melalui orang lain, baik perorangan
maupun kelompok, untuk meyusun program pendidikan luar sekolah.
2. Memberi masukan untuk kelanjutan, perluasan, dan penghentian program. Tujuan
ini biasanya dicapai melalui evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi
formatif dilakukan pada saat program dilaksanakan. Adapun evaluasi sumatif
dilakukan setelah program berakhir, termasuk kedalamnya adalah evaluasi
terhadap pengaruh program (summative or impact evaluaton). Evaluator sering
berpendapat bahwa tujuan inilah yang perlu diutamakan dalam evaluasi program
pendidikan luar sekolah.
3. Memberi masukan untuk modifikasi program. Tujuan evaluasi program ini timbul
dalam evaluasi formatif. Titik berat evaluasi program adalah upaya
mendeskrifsikan proses pelaksanaan program, bukan hasil program.
4. Memperoleh informasi tentang faktor pendukung dan penghambat program.
Kehendak untuk mengadakan evaluasi program muncul apabila pengambil
keputusan menganggap perlu untuk menghimpun faktor-faktor pendukung dan
penghambat kelangsungan program. Evaluasi ini pun dilakukan untuk
menghimpun data mengenai alasan-alasan yang dapat dipertimbangkan untuk
menghentikan program sehingga biaya dan daya dukung lainnya dapat digunakan
untuk melaksanakan program baru atau kegiatan lainnya.
5. Memberi masukan untuk motivasi dan pembinaan pengelola dan pelaksanaan
program. Pengelola dan pelaksana program yang telah diorganisasi perlu
dimotivasi sehingga mereka dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai
dengan kriteria yang telah direncanakan. Dengan motivasi diharapkan agar
pengelola dan pelaksana program dapat menampilkan kinerja yang tinggi.
6. Memberi masukan untuk memahami landasan keilmuan bagi evaluasi program.
Orientasi pada pengambilan keputusan tidak berarti bahwa evaluasi program
mengabaikan pengumpulan data yang berkaitan dengan keilmuan yang mendasari
evaluasi program. Landasan keilmuan dapat diambil dari ilmu-ilmu pengetahuan
sosial, ilmu-ilmu pengetahuan alam, ilmu-ilmu humaniora, dan/atau ilmu
pendidikan sendiri.

Unsur-Unsur yang dievaluasi dalam Program Pendidikan Luar Sekolah

Aspek-aspek yang dievaluasi berdasarkan program pendidikan luar sekolah secara


otomatis terdiri dari enam komponen: 1. Masukan lingkungan, terdiri atas lingkungan
alam, sosial, budaya, dan lingkungan kelembagaan. 2. Masukan sarana, mencakup
kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta biaya. 3.
Proses, interaksi eduksi antara pendidik dan peserta didik melalui proses pembelajaran. 4.
Tujuan yang mencakup keluarga dan pengaruh, dampak positif bagi peningkatan
kesejateraan hidup lulusan melalui buah fikir, harta benda, keterampilan dan tenaga.
Aspek-aspek yang di evaluasi berdasarkan fungsifungsi manajemen pendidikan luar
sekolah adalah: 1. Perencanaan, merupakan kegiatan menyusun program 2.
Pengorganisasian, mencakup penyususnan organisasi yang terdiri dari atas sumber daya
non-manusia untuk melaksanakan program. 3. Penggerakan, berhubungan dengan upaya
motivasi supaya sumber daya manusia sebagai pelaksana program melakukan kegiatan
sebagaimana telah direncanakan. 4. Pembinaan, yang meliputi kegiatan pengawasan,
superpisi dan pemantauan. 5. Penilaian, berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan dan
penyajian data sebagai masukan untuk pengambilan keputusan tentang program. 6.
Pengembangan, atau tindak lanjut program sesuai dengan keputusan berdasarkan
masukan hasil evaluasi.

kegiatan pendidikan luar sekolah evaluasi dilakukan lebih berusaha mengutamakan


fungsinya untuk memenuhi kebutuhan warga belajar dalam pendidikan tertentu dan
adanya relevansi dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja atau kegiatan usaha yang ada
di masyarakat sesuai dengan jenis, jenjang dan satuan pendidikannya yang dapat dihargai
setara oleh lembaga yang ditunjuk pemerintah dengan mengacu standar pendidikan
nasional.
BAB III

PEMBAHASAN

a. Kelebihan Buku

Informasi yang disampaikan lengkap baik judul, nama pengarang, maupun nama
penerbit.  Selain itu, informasi yang disampaikan mengenai sedikit ulasan dari buku ini
pada sampul belakang juga lengkap. isi buku ini. Penulisannya saling berhubungan,
maksudnya antara bab ke bab tersebut dibuat berhubungan, sehingga mempermudah
memahami isi.

a. Kelemahan Buku

Pada buku ini belum memperhatikan penulisan penulisannyaa, seperti pengejaannya,


tanda bacanya dan masih ada kalimat-kalimat yang bertele-tele sehingga membuat
bingung dan menggangu para pembaca dalam membaca buku ini. Pada buku ini juga
tidak dan belum dilengkapi dengan ISBN.
BAB IV

PENUTUP

a. Kesimpulan

Pendidikan luar sekolah sebenarnya bukanlah barang baru dalam khasanah budaya dan
peradaban manusia. Pendidikan luar sekolah telah hidup dan menyatu di dalam
kehidupan setiap masyarakat jauh sebelum muncul dan memasyarakatnya pada sistem
persekolahan. Pendidikan luar sekolah mempunyai bentuk dan pelaksanaan yang berbeda
dengan sistem yang sudah ada di pendidikan persekolahan formal. Pendidikan luar
sekolah timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan
tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. Pendidikan luar
sekolah pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan
dalam suatu bidang tertentu Pada waktu permulaan kehadirannya, pendidikan luar
sekolah dipengaruhi oleh pendidikan informal, yaitu kegiatan yang terutama berlangsung
dalam keluarga dimana terjadi interaksi di dalamnya berupa transmisi pengetahuan,
keterampilan, sikap, nilai, dan kebiasaan.Pada dasarnya kegiatan tersebut menjadi akar
untuk tumbuhnya perbuatan mendidik yang dikenal dewasa ini

b. Saran

Terlepas dari kekurngan yang ada buku ini sangatah bagus dan layak untuk dibaca karena
isinya sangat bermanfaat, namun saran saya agar kedepannya jika ingin menciptakan
buku lagi alangkah naiknya lebih memperhatikan setiap ketikan dan diperhatikan
diperhatikan penulisannya, Terimakasih.

.
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

 YAPANDI. 2015. PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS) Mendidik Untuk Membangun


Karakter Bangsa. Pontianak. IAIN Pontianak Press

Anda mungkin juga menyukai