Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PELAYANAN KONTRASEPSI DAN RUJUKAN

Disusun untuk Memenuhi tugas

Mata Kuliah : asuhan kebidanan komunitas

Dosen pengampu : Aida fitrati, SST, M.Keb

Oleh:
Kelompok 1
Dwi finny agustia P00824519004
Erika putri P00824519005
Mauliana sari P00824519008
Nora bulzana P00824519015
Syarifah nabila tanzilal P00824519017
Tara mulya P00824519018

POLTEKKES KEMENKES ACEH PROGRAM STUDI


KEBINANAN ACEH UTARA TAHUN AJARAN 2021/2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt yang maha pengasih dan


penyayang yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayahnya kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dengan judul “pelayanan kontrasepsi dan rujukan”

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata


kuliah asuhan kebidanan komunitas. Selain itu juga diharapkan dapat
memberikan wawasan kepada rekan-rekan khususnya mahasiswa Dlll
Kebidanan Aceh Utara Poltekkes Kemenkes Aceh.

Kemudian ucapan terima kasih kepada ibu Aida fitrati, SST, M.Keb
selaku dosen pembimbing mata kuliah asuhan kebidanan komunitas.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan sehingga kritik dan saran yang membangun sangat di
harapkan demi kesempurnaan makalah untuk kedepannya.

Senin, 15 februari 2021

penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi

yang bertujuan untuk mengatur kehamilan, dan merupakan hak setiap

individu sebagai makhluk seksual (Saifuddin, 2006). ntra Uterine Device

(IUD) merupakan salah satu kontrasepsi yang difasilitasi gratis oleh

pemerintah. Kontrasepsi IUD ini dipasang di dalam uterus yang bekerja

dengan merusak kemampuan hidup sperma dan ovum karena adanya

perubahan pada tuba dan cairan uterus (Niken, et al., 2010).

Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) selama

periode 1991-2007 menunjukkan pola penggunaan IUD cenderung

mengalami penurunan, yakni 13,3% (SDKI 1997), turun menjadi 6,2%

(SDKI 2002-2003) dan turun lagi menjadi 4,9% (SDKI 2007). Menurut mini

survey tahun 2015, dari 14 kecamatan di Kabupaten Rembang, Kecamatan

Bulu merupakan kecamatan yang memiliki akseptor KB IUD terendah, yaitu

hanya sebesar 2,3% (BKKBN Rembang, 2015).

Berdasarkan hasil laporan dari Puskesmas Bulu Rembang, dari 5.891

Pasangan Usia Subur (PUS) terdapat 4.982 orang yang telah

menggunakan fasilitas program Keluarga Berencana (KB). Kontrasepsi

yang paling banyak digunakan adalah metode suntik (2.788 orang), implan

(1.317 orang), dan pil (695 orang). Kontrasepsi IUD merupakan kontrasepsi

yang memiliki peminat terendah jika dibandingkan dengan kontrasepsi


yang lain yakni hanya 54 orang, dengan demikian hal ini menarik untuk

diteliti (Puskesmas Bulu, 2015).

Penelitian terbaru yang pernah dilakukan di Puskesmas Jetis Kota

Yogyakarta menyatakan bahwa ada hubungan kecemasan dan dukungan

suami dengan pemilihan kontrasepsi IUD dan tidak ada hubungan

pengetahuan dan keyakinan dengan pemilihan kontrasepsi IUD (Diana,

2014).

B. Rumusan masalah

Dari latar belakang diatas maka penulis dapat mengambil beberapa


rumusan masalah yaitu tentang pelayanan kontrasepsi dan sistem
rujukan

C. Tujuan

Ingin mengetahui tentang bagaimana tentang pelayanan

kontrasepsi dan sistem rujukan


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pelayanan Kontrasepsi

KB merupakan tindakan membantu individu atau pasangan suami istri


untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran
yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kelahiran (Hartanto,
2004; 27). Tujuan Keluarga Berencana meningkatkan kesejahteraan ibu
dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera
melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk
Indonesia. Di samping itu KB diharapkan dapat menghasilkan penduduk
yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan
kesejahteraan keluarga.

Sasaran dari program KB, meliputi sasaran langsung, yaitu pasangan


usia subur yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara
penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan, dan sasaran tidak
langsung yang terdiri dari pelaksana dan pengelola KB, dengan cara
menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan
kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas,
keluarga sejahtera (Handayani, 2010; 29).

B. Ruang Lingkup Program Kb

Menurut Handayani (2010:29), ruang lingkup program KB,meliputi:

1. Komunikasi informasi dan edukasi


2. Konseling
3. Pelayanan infertilitas
4. Pendidikan seks
5. Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan
6. Konsultasi genetik
C. Kontrasepsi

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti
“melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah pertemuan
antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan
kehamilan. Maksud dari konsepsi adalah menghindari / mencegah
terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur
dengan sel sperma.

Untuk itu, berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang


membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan
hubungan seks dan kedua - duanya memiliki kesuburan normal namun
tidak menghendaki kehamilan (Depkes, 1999). Kontrasepsi adalah usaha -
usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan, usaha itu dapat bersifat
sementara dapat bersifat permanen (Prawirohardjo, 2008; 534).

D. Mutu Pelayanan Kb

Akses terhadap pelayanan Keluarga Berencana yang bermutu


merupakan suatu unsur penting dala upaya mencapai pelayanan
Kesehatan Reproduksi sebagaimana tercantum dalam program aksi dari
International Conference on Population and Development, Kairo 1994.

Secara khusus dalam hal ini termasuk hak setiap orang untuk
memperoleh informasi dan akses terhadap berbagai metode kontrasepsi
yang aman, efektif, terjangkau, dan akseptabel. Sementara itu, peran dan
tanggung jawab pria dalam Keluarga Berencana perlu ditingkatkan, agar
dapat mendukung kontrasepsi oleh istrinya, meningkatkan komunikasi di
antara suami istri, meningkatkan penggunaan metode kontrasepsi pria,
meningkatkan upaya pencegahan IMS, dan lain-lain. Pelayanan Keluarga
Berencana yang bermutu meliputi hal-hal antara lain:

1. Pelayanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan klien


2. Klien harus dilayani secara profesional dan memenuhi standar
pelayanan
3. Kerahasiaan dan privasi perlu dipertahankan
4. Upayakan agar klien tidak menunggu terlalu lama untuk dilayani
5. Petugas harus memberi informasi tentang pilihan kontrasepsi yang
tersedia
6. Petugas harus menjelaskan kepada klien tentang kemampuan
fasilitas kesehatan dalam melayani berbagai pilihan kontrasepsi
7. Fasilitas pelayanan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan
8. Fasilitas pelayanan tersedia pada waktu yang ditentukan dan
nyaman bagi klien
9. Bahan dan alat kontrasepsi tersedia dalam jumlah yang cukup
10. Terdapat mekanisme supervisi yang dinamis dalam rangka
membantu menyelesaikan masalah yang mungkin timbul dalam
pelayanan.
11. Ada mekanisme umpan balik yang relatif dari klien

E. Macam – Macam Alat Kontrasepsi

1. KB Pantang Berkala (Kalender)

Metode Pantang Berkala (Kalender) merupakan cara /


metode kontrasepsi sederhana yang dilakukan oleh pasangan
suami istri dengan tidak melakukan senggama atau hubungan
seksual pada masa subur/ovulasi. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam penerapan metode ini adalah siklus
menstruasi wanita sehat ada tiga tahapan:

a. Pre ovulatory infertility phase (masa tidak subur sebelum


ovulasi).
b. Fertility phase (masa subur).
c. Post ovulatory infertility phase (masa tidak subur setelah
ovulasi).

Perhitungan masa subur ini akan efektif bila siklus


menstruasinya normal yaitu 21-35 hari. Pemantauan jumlah hari
pada setiap siklus menstruasi dilakukan minimal enam kali siklus
berturut-turut. Bila haid teratur (28 hari) maka hari pertama
dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke-1 dan masa subur
adalah hari ke-12 hingga hari ke- 16 dalam siklus haid. Bila haid
tidak teratur maka jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus haid
dikurangi 18. Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur.
Jumlah hari terpanjang selama 6 siklus haid dikurangi 11.
Hitungan ini menentukan hari terakhir masa subur.

2. Kondom

Metode Kontrasepsi Barier antara lain Kondom, Diafragma, dan


Spermisida. Kondom merupakan metode kontrasepsi yang sangat
efektif bila dipakai setiap kali hubungan seksual. Metode ini
memberi dorongan bagi pria untuk ikut berpartisipasi dalam
kontrasepsi dan membantu mencegah HIV AIDS, PMS, dan ISR.

3. Pil Kombinasi

KB Hormonal adalah metode kontrasepsi yang mengandung


hormon estrogen, progesteron maupun kombinasi keduanya.
Adapun macam-macam jenis kontrasepsi hormonal yang ada
antara lain:

a. Kontrasepsi Hormonal Kombinasi terdapat 2 jenis yaitu :


1) Pil Efektif, Harus diminum setiap hari, pada bulan
pertama efek samping berupa mual dan perdarahan
bercak, dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi,
dapat diminum setiap saat bila yakin tidak hamil, tidak
dianjurkan pada ibu yang menyusui karena mengurangi
produksi ASI. Kontrasepsi ini mengandung 2 hormon
(Andalan pil KB, Microgynon), mengandung 1 hormon
(Andalan pil KB , Microlut)
2) Suntik Disuntikkan secara IM, diberikan setiap 1
bulanan dan mengandung 2 hormon, Sangat efektif
(terjadi kegagalan 0,1-0,4 kehamilan per 100
perempuan), Jenisnya ada 3 yaitu cyclofem sebanyak 1
cc, sedangkan Gestin F2 sebanyak 1,5 cc, tetapi kalau
cyclogeston sebanyak 1 cc.
b. Kontrasepsi Hormonal Progestin terdapat 4 jenis :
1) Suntik
2) Pil Progestin (Minipil) Cocok untuk semu ibu menyusui,
dosis rendah, tidak menurun kan produksi ASI, tidak
memberikan efek samping estrogen, sepoting dan
perdrahan tidak teratur, dapat di pakai sebagai kondar
3) Implan/Susuk Merupakan metode kontrasepsi efektif
yang dapat member perlindungan 5 tahun untuk
Norplant, 3 tahun untuk Jadena, Indoplant atau
Implanon, Terbuat dari bahan semacam karet lunak
berisi hormon levonorgestrel. Cara penyebaran zat
kontrasepsi dalam tubuh, yaitu progestin meresap
melalui dinding kapsul secara berkesinambungan dalam
dosis rendah. Kandungan levonorgestrel dalam darah
yang cukup untuk menghambat konsepsi dalam 24 jam
setelah pemasangan.
4. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (Akdr)

AKDR merupakan suatu metode kontrasepsi yang


sangat efektif, reversible dan berjangka panjang (CuT 380 A sampai
10 tahun) yang dapat dipakai oleh semua perempuan usia
reproduksi yang tidak terpapar IMS. Metode ini bekerja dengan
menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii,
mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri,
mencegah sperma dan ovum bertemu.

Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan sebelum


pemasangan AKDR yaitu palpasi perut, inspeksi, pemeriksaan
speculum, pemeriksaan bimanual. Seleksi atau penapisan klien
AKDR antara lain HPHT, paritas dan riwayat persalinan terakhir,
riwayat kehamilan ektopik, nyeri hebat saat haid, anemia berat
(Hb<9gr% atau Hematokrit <30), Riwayat ISG-PHS, berganti-ganti
pasangan, kanker serviks. Waktu Pemasangan AKDR yakni pada
waktu haid, segera setelah induksi haid atau abortus spontan,
setelah melahirkan, setiap saat bila yakin tidak hamil, post abortus,
selama 1-5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.
F. Sistem Rujukan

Sistem rujukan bertujuan untuk meningkatkan mutu, cakupan, dan


efisiensi pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu.
Perhatian khusus terutama ditujukan untuk menunjang upaya penurunan
angka kejadian efek samping, komplikasi dan kegagalan penggunaan
kontrasepsi. Sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu sistem jaringan
fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan
tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara
vertikal maupun secara horizontal kepada fasilitas pelayanan yang lebih
kompeten, terjangkau dan rasional. Dengan pengertian tersebut, maka
merujuk berarti meminta pertolongan secara timbal balik kepada fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten untuk penanggulangan masalah yang
sedang dihadapi. Tatalaksana dalam melakukan rujukan medik, yaitu:

1. Internal antar petugas di satu Puskesmas


2. Antara Puskesmas Pembantu dan Puskesmas
3. Antara masyarakat dan Puskesmas
4. Antara satu Puskesmas dan Puskesmas yang lain
5. Antara Puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
6. Internal antara bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah
sakit
7. Antara rumah sakit, laboratorium, atau fasilitas pelayanan
lain dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan
yang lain

Rangkaian jaringan fasilitas pelayanan kesehatan dalam setiap


rujukan tersebut berjenjang dari yang paling sederhana di tingkat keluarga
sampai satuan fasilitas pelayanan kesehatan nasional dengan dasar
pemikiran rujukan ditujukan secara timbal balik ke satuan fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, dan rasional; serta tanpa
dibatasi oleh wilayah administrasi.
Jaringan Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Jenjang (Hirarki) Komponen/ Unsur Pelayanan


Kesehatan
Tingkat rumah tangga Pelayanan kesehatan oleh individu
atau oleh keluarganya sendiri
Tingkat masyarakat Kegiatan swadaya masyarakat
dalam menolong mereka sendiri
oleh Kelompok Paguyuban, PKK,
Saka Bhakti Husada, Anggota RW,
RT, dan masyarakat (Posyandu)
Fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas, Puskesmas
profesional tingkat pertama Pembantu, Puskesmas Keliling,
Praktik Dokterk Swasta, Bidan,
Poliklinik Swasta, dll
Fasilitas pelayanan kesehatan Rumah Sakit Kabupaten, Rumah
profesional tingkat kedua Sakit Swasta, Laboratorium Klinik
Swasta, dll
Fasilitas pelayanan kesehatan Rumah Sakit Kelas B dan A serta
profesional tingkat ketiga Lembaga Spesialistik Swasta,
Laboratorium Kesehatan Daerah
dan Laboratorium Klinik Swasta

Rujukan bukan berarti melepaskan tanggung jawab dengan


menyerahkan klien ke fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, akan tetapi
karena kondisi klien yang mengharuskan pemberian pelayanan yang lebih
kompeten dan bermutu melalui upaya rujukan. Untuk itu dalam
melaksanakan rujukan harus pula diberikan:

1. Konseling tentang kondisi klien yang menyebabkan perlu dirujuk


2. Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat
rujukan
3. Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan
dituju
4. Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai
kondisi klien saat ini dan riwayat sebelumnya serta upaya/ tindakan
yang telah diberikan
5. Bila perlu, berikan upaya mempertahankan keadaan umum klien
6. Bila perlu, karena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat
rujukan harus didampingi perawat/ bidan
7. Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar
memungkinkan segera menerima rujukan klien

Fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan, setelah


memberikan upaya penanggulangan dan kondisi klien telah
memungkinkan, harus segera mengembalikan klien ke tempat fasilitas
pelayanan asalnya terlebih dahulu memberikan:

1. Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya


penanggulangan
2. Nasihat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan
penggunaan kontrasepsi
3. Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang merujuk
mengenai kondisi klien berikut upaya penanggulangan yang telah
diberikan serta saran-saran upaya pelayanan kesehatan lanjutan
yang harus dilaksanakan, terutama tentang penggunaan
kontrasepsi
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

sistem rujukan di sini adalah meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi


pelaksanaan pelayanan kontrasepsi secara terpadu
a. Mewujudkan suatu jaringan pelayanan kb yang terpadu di setiap
tingkat
b. Pembinaan dukungan terhadap arah dan pendekatan program kb
nasional dalam hal perluasan jangkauan dengan pelayanan yang
bermutu

2. SARAN

Demi kesempurnaan makalah kami, maka kami meminta saran serta kritik
yang mendukung demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Prijatni dan Rahayu. Kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. 2016.


Jakarta