Anda di halaman 1dari 5

Pada hakikatnya pendidikan itu berlangsung sepanjang hidup manusia (life-long education),

maka persoalan psikologis yang bersangkutan dengan pendidikan sangat luas sekali. Oleh sebab
itu, perlunya tenaga pendidik dibekali dengan aneka ragam pengetahuan psikologis yang sesuai
dengan tuntutan zaman kemajuan sains dan teknologi. Tantangan pendidik dalam pendidikan
adalah menyiapkan peserta didik untuk hidup dalam lingkungan yang bukan semata-mata dalam
lingkungan saat ini. Bagaimana menyiapkan seseorang untuk hidup dalam lingkungan yang
sebagian besar belum dikenal akibat dari perubahan- perubahan yang sering terjadi akhir-akhir
ini.
Belajar hendaknya menjadi prioritas. Lebih- lebih belajar untuk melihat ke depan yakni
belajar untuk mengantisipasi realitas. Ini menjadi makin penting bagi anak dan remaja yang
hidup dalam era globalisasi yang menuntut keterbukaan dan kelenturan dalam pemikiran, serta
kemampuan memecahkan masalah- masalah non-rutin secara kreatif dan kritis. Juga berarti,
dibutuhkannya ketrampilan- ketrampilan tertentu yang menyiapkan peserta didik untuk dapat
bersaing pada tingkat nasional dan internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, ekonomi, pendidikan nilai dan humaniora.

Pengertian Psikologi Belajar


Ditinjau dari segi ilmu bahasa, ‘psikologi’ berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘psyche’ yang di
artikan “jiwa” dan kata ‘logos’ yang berarti ‘ilmu’ (Mangal). Dua kata tersebut bila digabung
menjadi ilmu jiwa, sehingga psikologi adakalanya terjemahkan menjadi ‘ilmu jiwa’. Psikologi
belajar adalah ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip perilaku manusia dalam penerapannya bagi
belajar dan pembelajaran. Dengan kata lain, psikologi belajar memberi kontribusi bagi guru
ketika ia menjalankan tugas mengajar di dalam kelas sehingga tampak pada kinerjanya ketika
mengajar dengan mempertimbangkan prinsip psikologis murid.
Sebelum mengambil kesimpulan tentang pengertian “Psikologi Belajar”, ada baiknya dipelajari
dari beberapa pengertian yang telah dirumuskan oleh para ahli tentang “Psikologi Pendidikan”
sebagai berikut: (Mahfud)
Lister D. Crow and Alice Crow, Ph. dalam bukunya “Educational Psychology” menyatakan
bahwa psikologi pendidikan ialah Ilmu pengetahuan praktis yang berusaha untuk menerangkan
belajar sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan fakta-fakta sekitar
tingkah laku manusia.
W.S. Winkel dalam bukunya “Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar” menyatakan bahwa
psikologi pendidikan adalah salah satu cabang dari psikologi praktis yang mempelajari prasarat-
prasarat (fakta- fakta) bagi belajar di sekolah berbagai jenis belajar dan fase-fase dalam semua
proses belajar. Dalam hal ini, kajian psikologi pendidikan sama dengan psikologi belajar.
James Draver, dalam “Kamus Psikologi”. Psikologi Pendidikan (Educational Psychology);
adalah cabang dari psikologi terapan (applied psychology) yang berkenaan dengan penerapan
asas-asas dan penemuan psikologis problema pendidikan ke dalam bidang pendidikan.
H. Carl Witherington, dalam bukunya “Educational Psychology”. Psikologi Pendidikan; adalah
suatu studi tentang prosesproses yang terjadi dalam pendidikan.
Belajar dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk
mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari sebagai hasil dari interaksinya
dengan lingkungan sekitarnya. Aktivitas di sini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga,
psikofisik, menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta
(kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik).
(2002: 2)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi belajar adalah ilmu pengetahuan yang
berusaha mempelajari, menganalisis prinsip-prinsip perilaku manusia dalam proses belajar
dan pembelajaran.

Ruang Lingkup Psikologi Belajar


Psikologi secara umum mempunyai ruang lingkup bahasan tersendiri yang berbeda dengan ilmu-
ilmu lain. Psikologi belajar juga mempunyai ruang lingkup yang khas, yang berbeda dengan
cabang psikologi lainnya. Psikologi sebagai ilmu, disamping mempelajari ilmu pengetahuan
secara teoritis juga memaparkan kajian yang berisifat praktis.

Metode dalam Psikologi Belajar


Metode merupakan sarana penting lahirnya suatu teori. Metode mempengaruhi ilmiah tidaknya
ilmu pengetahuan. Seperti ilmu-ilmu lain, psikologi belajar juga menggunakan metode tertentu
untuk melahirkan teori. Beberapa literatur psikologi menuliskan bahwa metode yang digunakan
dalam psikologi belajar tersebut adalah :
1. Metode introspeksi
2. Metode ekstropeksi
3. Questionare
4. Interviuw
5. Biografi
6. Metode klinis
7. Metode eksperimen
8. Metode testing

Manfaat Mempelajari Psikologi Belajar


Psikologi belajar amat penting bagi setiap orang, akan sangat terasa betapa pentingnya
pengetahuan tentang psikologi belajar itu, apabila seorang guru diserahi tanggung jawab sebagai
pemimpin, baik pemimpin perkumpulan keagamaan, perkumpulan olah raga, kesenian, sekolah
dan sebagainya.
Manfaat dan kegunaan psikologi belajar merupakan alat bantu bagi penyelenggara pembelajaran
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Psikologi belajar dapat dijadikan landasan berpikir dan
bertindak bagi guru, konselor, dan juga tenaga profesional kependidikan lainnya dalam
mengelola proses pembelajaran.

Fungsi Psikologi Belajar dalam Pembelajaran


Menurut Gage & Berliner, psikologi belajar memiliki beberapa fungsi, yaitu untuk menjelaskan,
memprediksikan, mengontrol fenomena (dalam kegiatan belajar mengajar), dan dalam
pengertiannya sebagai ilmu terapan juga memiliki fungsi merekomendasikan.
Fungsi psikologi belajar menurut Gage dan Berliner, antara lain menjelaskan, memprediksikan,
mengontrol fenomena (dalam kegiatan belajar mengajar), dan dalam pengertiannya sebagai ilmu
terapan. Dengan demikian, psikologi belajar dapat membantu guru untuk memahami bagaimana
individu belajar. Dengan mengetahui individu belajar, kita dapat memilih cara yang lebih efektif
untuk membantu memberikan kemudahan, mempercepat, dan memperluas proses belajar
individu.
Psikilogi belajar berfungsi memberikan pemahaman mengenai sifat dan keterkaitan
berbagai aspek dalam belajar dan pembelajaran. Dalam hal ini psikologi belajar mengkaji konsep
mengenai aspek perilaku manusia yang terlibat dalam belajar dan pembelajaran, serta lingkungan
yang terkait. Sebagaimana dijelaskan bahwa perilaku siswa/siswi terkait dengan konsep-konsep
tentang pengamatan dan aktivitas psikis (intelegensi, berpikir,motivasi), gaya belajar, individual
defferencies, dan pola perkembangan individu. Sedangkan perilaku guru terkait dengan
pengelolaan pembelajaran kelas, metode, pendekatan, dan model mengajar. Lebih lanjut, aspek
lingkungan yang terkait dan berperan dalam aktivitas belajar-pembelajaran yakni lingkungan
sosial dan instrumental.

Tujuan mempelajari psikologi belajar, antara lain (1) untuk membantu para guru dan calon
guru, agar menjadi lebih bijaksana dalam usahanya membimbing murid dalam proses belajar. (2)
Agar para guru dan calon guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan
efektif dengan jalan mempelajari, menganalisis tingkah laku murid dalam proses pendidikan
untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung guna meningkatkan
ke arah yang lebih baik.
1. Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik ialah satu teori yang fokus pada hasil yang bisa diukur serta dilihat.
Supaya tingkah laku yang diharapkan bisa jadi rutinitas, dibutuhkan pemakaian perulangan serta
kursus. Aplikasi teori behavioristik menginginkan hasil berbentuk terbentuknya tingkah laku
yang diharapkan.
Penguatan positif akan diberi pada tingkah laku yang diharapkan serta sebaliknya tingkah laku
yang tidak atau kurang cocok akan memperoleh penilaian atau penghargaan negatif.
Teori ini dicetuskan oleh Gage serta Berliner tentang pergantian perilaku jadi dari hasil
pengalaman memakai mode stimulus dan tanggapan.
Orang yang belajar diposisikan jadi individu yang pasif serta memakai cara kursus untuk
menyebabkan tanggapan atau tingkah laku tersendiri.
Pelajari serta penilaian pada teori behavioristik akan didasarkan pada tingkah laku yang terlihat.
Guru tidak bisa banyak memberi penjelasan, tetapi akan memberi petunjuk singkat yang diikuti
dengan pemberian contoh lewat simulasi atau dari guru sendiri.

2. Teori Belajar Kognitif


Menurut para ahli, proses belajar akan berjalan secara baik jika materi pelajaran yang diberi
dengan berkaitan serta menyesuaikan dengan pas dengan susunan kognitif yang sudah dipunyai
siswa awalnya.
Dalam teori ini, ilmu dan pengetahuan itu akan dibuat dalam diri satu orang lewat proses
hubungan yang terkait serta berkaitan dengan lingkungan.
Proses ini tidak berjalan sepotong-sepotong tetapi bersambung serta lengkap. Guru bukan
sumber evaluasi penting serta bukan kepatuhan siswa yang akan dituntut dalam teori ini, tetapi
refleksi tentang apa yang dikerjakan siswa tentang yang diperintah serta dikerjakan oleh guru.
Pelajari dalam teori belajar ini bukan bertopang di hasil tetapi pada sebegitu sukses siswa
mengorganisasi pengalaman belajar yang didapatnya.
Periset yang meningkatkan jenis-jenis teori belajar dalam psikologi berbentuk teori belajar
kognitif yakni Ausubel, Bruner serta Gagne.
Masing-masing periset mengutamakan pada segi yang berlainan. Ausubel mengutamakan segi
pengendalian atau organizer yang disebut dampak penting pada belajar.
Bruner fokus pada pengelompokan atau penyediaan bentuk ide jadi satu jawaban bagaimana
peserta didik bisa mendapatkan informasi dari lingkungan.

3. Teori Belajar Humanistik


Arah proses dari belajar ialah untuk memanusiakan manusia tersebut. Proses belajar akan
dipandang sukses saat pelajar sudah bisa mengerti lingkungannya dan dirinya, serta berupaya
untuk sampai manifestasi diri dengan lebih baik.
Teori ini akan ambil pemikiran dari aktor belajar serta tidak dari pengamat. Guru bertindak jadi
fasilitator untuk memberi motivasi serta kesadaran tentang arti kehidupan pada siswa.
Aktor penting dalam teori ini ialah siswa yang bisa memaknai proses pengalaman belajarnya
dengan sendirinya.
Karenanya, unsur emosional serta pengalaman emosional siswa penting dalam momen evaluasi
karena tanpa motivasi serta kemauan dari faksi siswa karena itu asimilasi pengetahuan baru ke
kognitif yang dipunyai siswa tidak berlangsung.
Teori ini mengatakan jika teori belajar apa pun bisa digunakan seandainya mempunyai
tujuan untuk memanusiakan manusia agar sampai manifestasi diri, pandangan diri, dan
realisasi diri pelajar dengan maksimal.
Teori ini meringkas serta manfaatkan kelebihan dan kekurangan beberapa teori belajar
untuk mendapatkan kesimpulan.

4. Teori Belajar Konstruktivistik


Satu teori belajar dalam psikologi ialah teori belajar konstruktivistik yang mengatakan jika
persoalan ditampilkan dari pancingan dengan internal.
Ada sebab terjaga berdasar pengetahuan yang direkonstruksi sendiri oleh beberapa siswa dikit
demi sedikit, serta hasilnya diperluas lewat kerangka yang hanya terbatas serta tidak hadir
dengan datang.
Dalam teori ini benar-benar diakui jika siswa dapat cari sendiri permasalahannya, membuat
pengetahuannya sendiri lewat kekuatannya berpikir serta rintangan yang ditemui oleh
beberapa siswa.
Mereka bisa mengakhiri serta membuat ide tentang keseluruhnya pengalaman yang berbentuk
fakta serta teori pada sebuah bangunan yang utuh.
Teori ini disimpulkan jadi usaha untuk membuat formasi hidup yang berbudaya kekinian.
Pengetahuan tidak dipandang seperti seperangkat bukti, ide atau aturan yang telah siap
untuk diambil serta diingat demikian saja tetapi harus direkonstruksi oleh manusia serta
dikasih arti yang didapatkan lewat pengalaman yang ril.
Siswa semakin lebih memahami dengan teori ini sebab terjebak langsung dalam membina
pengetahuan baru serta akan dapat mengimplementasikan dalam semua kondisi.
Bila siswa terjebak dalam konsep belajar dengan cara langsung karena itu mereka dapat
mengingat info serta ide lebih lama.
Belajar ialah proses yang berjalan bukan sekedar di kelas saja tetapi akan berjalan seumur hidup
manusia. Faedah psikologi pendidikan buat guru atau pengajar besar sekali.

Anda mungkin juga menyukai