Anda di halaman 1dari 5

Hindri Wahidah Munawaroh

F1B017009
Birokrasi Dan Governansi Publik (E)
Patologi merupakan bahasa kedokteran yang secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang
penyakit”. Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah :"Bureaucracy is an organisation
with a certain position and role in running the government administration of a contry"
(Mustopadijaja AR., 1999).
Prof. Dr. Sondang P. Siagian, M Patologi Birokrasi juga diartikan
PA., (1988) Risman K. Umar (2002)
dalam beberapa artian seperti
mengatakan bahwa pentingnya mendifinisikan bahwa
patologi ialah agar diketahui
sebagai berikut:
patologi birokrasi adalah
berbagai jenis penyakit yang 1. Birokrasi sebagai organisasi
penyakit atau bentuk
mungkin diderita oleh manusia. yang berpenyakit (patologis).
perilaku birokrasi yang
Analogi itulah yang berlaku pula 2. Organisasi dan perilaku
bagi suatu birokrasi. Artinya agar
menyimpang dari nilai-
birokrat yang inefektif dan
seluruh birokrasi pemerintahan nilai etis, aturan-aturan
inefisien
negara mampu menghadapi dan ketentuan-ketentuan
3. Struktur dan fungsi organisasi
berbagai tantangan yang perundang- undangan
mungkin timbul baik bersifat
besar yang sering melakukan
erta norma-norma yang
politik, ekonomi,sosio-kultural kesalahan dan tidak mampu
berlaku dalam birokrasi.
dan teknologikal. berubah.
Penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab
Pengaburan masalah
Indikasi korupsi, kolusi dan nepotisme
Indikasi mempertahankan status quo
Empire bulding (membina kerajaan)
Ketakutan pada perubahan, inovasi dan resiko
Ketidakpedulian pada kritik dan saran
Takut mengambil keputusan
Kurangnya kreativitas dan eksperimentasi
Kredibilitas yang rendah, kurang visi yang imajinatif

Minimnya pengetahuan dan keterampilan


 persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan  perlu adanya reformasi administrasi yang global.
birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip Artinya reformasi administrasi bukan hanya sekedar
demokrasi. Hal ini mengakibatkan bentuk patologi mengganti personil saja, bukan hanya merubah nama
rendahnya pengetahuan dan keterampilan para intansi tertentu saja, atau bukan hanya mengurangi
petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional, atau merampingkan birokrasi saja namun juga
mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan reformasi yang tidak kasat mata seperti upgrading
yang rendah, serta pegawai sering berbuat kualitas birokrat, perbaikan moral, dan merubah cara
kesalahan pandang birokrat, bahwa birokrasi merupakan suatu
 rendahnya pengetahuan dan keterampilan para alat pelayanan publik dan bukan untuk mencari
petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional, keuntungan
mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan  pembentukan kekuatan hukum dan per-Undang-Unda
yang rendah, serta pegawai sering berbuat kesalahan ngan yang jelas. Kekuatan hukum sangat berpengaruh
 tindakan pejabat yang melanggar hukum, dengan pada kejahatan-kejahatan, termasuk kejahatan dan
”penggemukan” pembiayaan, menerima sogok, penyakait-penyakit yang ada di dalam birokrasi.
korupsi dan sebagainya  menciptakan sistem akuntabilitas dan transparansi.
 manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat Kurangnya demokrasi dan rasa ber-tanggung jawab
disfungsional atau negatif, seperti: sewenang- yang ada dalam birokrasi membuat para birokrat sema
wenang, pura-pura sibuk, dan diskriminatif kin mudah untuk menyeleweng dari hal yang
 akibat situasi internal berbagai instansi pemerintahan semstinya dilakukan. Pengawasan dari bawah dan dari
yang berakibat negatif terhadap birokrasi, seperti: atas merupakan alat dari penciptaan akuntabilitas dan
imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai, transparansi ini. Pembentukan E-Government
ketiadaan deskripsi dan indikator kerja, dan sistem diharapkan mampu menambah transparansi sehingga
pilih kasih mampu memperkuat akuntabilitas para birokrat.
 Participation. Melalui prinsip ini akan masyarakat terlib  Responsiveness. Pradigama baru birokrasi
at dalam pembuatan keputusan yang bangun atas menekanakan bahwa pemerintah harus dapat melayani
dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta kebutuhan masyarakat umum dan memberi respon
berpartsipasi secara konstruktif, sehingga dengan terhadap tuntutan pembangunan.
demikian maka pemerintahan tidak menjadi otoriter  Effectiveness and efficiency. Pemborosan yang terjadi
dalam mengambil keputusan. dalam praktek pengelolaan organisasi birokrasi dapat
 Rule of law. Supremasi hukum merupakan langkah diminimalisir oleh prinsip ini. Terutama dalam
yang harus diambil untuk meminimalisir atau pengelolaan anggaran pemerintah.
menghilangkan praktek-praktek patologi dalam birokrasi  Accountability. Melalui pertanggungjawaban kepada
Dengan penegakan hukum yang baik maka indikasi publik maka birokrasi menjadi hati-hati dalam bertindak,
untuk melakukan kesalahan akan terhapus karena para dengan akuntabilitas publik pemerintah harus
birokrat akan merasa takut dengan ancaman hukum. memberikan keterangan yang tepat dan jelas tentang
 Transparancy. Melalui prinsip transparansi maka kinerjanya secara keseluruhan.
segala hal yang dilakukan oleh pemerintah atau birokrat  Strategic vision. Melalui straegi visi maka akan tumbuh
dapat di kontrol oleh masyarakat melalui informasi yang dalam setiap birokrat akan nilai-nilai idealisme dan
terbuka dan bebas diakses.Transparansi ini mendorong harapan-harapan organisasi dan negara untuk masa
birokrasi untuk senantiasamenjalankan aturan sesuai yang akan datang. Nilai-nilai dan harapan- harapan ini
ketentuan dan perundang-undangan, karena bila tidak akan memeberikan kesan praktek pelaksaan pekerjaan
sasuai masyarakat pasti mengetahui dan melakukan birokrasi.
penututan