Anda di halaman 1dari 3

Hubungan Patalogi birokrasi dan good governance bagaikan penyakit dan obat.

Dimana patalogi
birokrasi merupakan variabel independen, mengapa demikan, karena adanya patalogi birokrasi
akan mempengaruhi sebuah kinerja birokrasi. Indonesia sendiri sering di hadapkan dengan yang
namanya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), itu merupakan salah satu penyakit dalam
birokrasi. Dengan adanya penyakit maka pasti akan adanya obat yang mampu menyebuhkan hal
tersebut. Pepatah Arab mengatakan: Likuli Daain Dawaaun (setiap penyakit pasti ada obatnya).
Begitu pula dalam hal patologi birokrasi pasti ada obatnya, meskipun tak semujarab obat flu atau
pilek yang sering dikonsumsi masyarakat pada umumnya. sekalipun dengan obat tersebut,
penyakit tersebut tidak akan sembuh secara keseluruhan, paling tidak dapat mengurangi atau
mencegah serta menghambat timbulnya penyakit tersebut.

Lord Acton menyatakan ”Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely”. hubungan
bagaimana seseorang yang berkuasa terlalu lama akan mempunyai kecenderungan untuk
menyelewengkan kekuasaan- nya, manifestasinya dalam bentuk korupsi, kolusi dan nepotesme.
Sehingga langkah strategi pertama yang harus diambil adalah menenpatkan para birokrat yang
sudah terlalu lama berkuasa berkecimpung di dalam urusan pelayanan ke posisi yang lain (tour
of duty), baik itu rotasi horizontal maupun promosi vertikal. Langkah strategi yang kedua adalah
dengan sedini mungkin mengenalkan teknologi informasi di lingkungan pemerintah. Yaitu
dengan cara menghindarkan interaksi/transaksi uang cash antara pelanggan dan pelayan. Hal ini
didasarkan atas asumsi bahwa semakin sering seseorang mengadakan kontak langsung dengan
uang tunai, semakin besar pula kesempatan orang tersebut untuk mengadakan/berbuat korupsi,
kolusi dan nepotisme. Cara lain untuk pengobatan patologi birokrasi dengan pendekatan good
governance. Konsep ini bisa menyembuhkan atau setidak- nya dapat mengurangi penyakit
birokrasi.

Mar’ie Muhammad (Media Transparansi 1998) menyatakan bahwa good governance itu ada jika
pembagian kekuasaan ada. Jadi ada disperse of power, bukan concentrate of power. Good
governance sama dengan disperse of power, pembagian kekuasaan di tambah akuntabilitas
publik dan transparansi publik. Dengan adanya good governance akan terjadi penekan
penyalahgunaan kekuasaan atau kewenangan yang biasanya itu menimbulkan korupsi. Dan
corrupt itu selalu abuse of power. Semakin tinggi kualitas dari good governance, semakin rendah
korupsi. Sebaliknya semakin rendah kualitas good governance, korupsinya semakin tinggi.
Birokrasi dalam hubungannya dengan kekuasaan akan mempunyai kecenderungan untuk
menyelewengkan wewenangnya.

Contoh konkrit yang ada di Indonesia yaitu kasus yang dibicarakan publik dewasa ini tentang
bagaimana Gayus Tambunan sebagai Pegawai Negeri Sipil Golongan III a dilingkungan
Direktorat Jenderal Pajak Kementrian Keuangan mendadak menjadi orang yang terkenal saat ini
di Indonesia. Bukan karena prestasinya di birokrasi meningkatkan penerimaan pajak, melainkan
justru karena perbuatannya telah memperkokoh keyakinan tentang buruknya birokrasi di
Indonesia. Tidak semua birokrat seperti Gayus Tambunan, tetapi kelemahan sistem organisasi
bahwa gejala tersebut mengidentifikasikan telah terbentuk citra menyeluruh mengenai buruknya
birokrasi di Indonesia. Mal-administrasi yang saat ini mungkin dapat disebut GAYUISME atau
nama lain yang barangkali akan segera muncul sebenarnya bukanlah kesalahan yang bersifat
individual, tetapi timbul karena kelemahan sistematik dari organisasi birokrasi. Yaitu kelemahan
dan kegagalan organisasi dalam membentuk sistem yang mencegah terjadinya penyakit-penyakit
birokrasi (patologi birokrasi), sehingga menyebabkan munculnya perilaku menyimpang yang
diterima secara kolektif. Fenomena Gayus, dan nama-nama birokrat lain yang akan muncul serta
menjadi bagian dari sindrom gayuisme adalah patologi birokrasi yang sudah menahun dan
sistemis. Patologi ini seperti gurita, merusak sel-sel produktif dalam birokrasi dan melibatkan
hampir semua pejabat dalam semua strata.

Dengan adanya hal seperti itu good governance dapat mencegah patologi birokrasi terutama
dalam hal korupsi, kolusi dan nepotisme. prinsip-prinsip good governance dapat merubah
patologi birokrasi, diantraanya sebagai berikut :Participation. Melalui prinsip ini akan
masyarakat terlibat dalam pembuatan keputusan yang bangun atas dasar kebebasan berasosiasi
dan berbicara serta berpartsipasi secara konstruktif, sehingga dengan demikian maka
pemerintahan tidak menjadi otoriter dalam mengambil keputusan. Keputusan yang dihasilakan
merupakan representasi dari keinginan masyarakat dan tidak dapat diintervensi oleh pihak-pihak
yang ingin memanfaatkan pemerintah; Rule of law. Supremasi hukum merupakan langkah yang
harus diambil untuk meminimalisir atau menghilangkan praktek-praktek patologi dalam
birokrasi. Dengan penegakan hukum yang baik maka indikasi untuk melakukan kesalahan akan
terhapus karena para birokrat akan merasa takut dengan ancaman hukum.; Transparancy. Melalui
prinsip transparansi maka segala hal yang dilakukan oleh pemerintah atau birokrat dapat di
kontrol oleh masyarakat melalui informasi yang terbuka dan bebas diakses.Transparansi ini
mendorong birokrasi untuk senantiasa menjalankan aturan sesuai ketentuan dan perundang-
undangan, karena bila tidak sasuai masyarakat pasti mengetahui dan melakukan penututan.;
Responsiveness. Pradigama baru birokrasi menekanakan bahwa pemerintah harus dapat
melayani kebutuhan masyarakat umum dan memberi respon terhadap tuntutan pembangunan.
Patologi yang selama ini terjadi dimana pemerintah dilayani oleh masyarakat, maka dengan
prinsip responsiveness pemerintah harus sedapat mungkin memberikan pelayanan kepada
stakeholders.; Effectiveness and efficiency. Pemborosan yang terjadi dalam praktek pengelolaan
organisasi birokrasi dapat diminimalisir oleh prinsip ini. Terutama dalam pengelolaan anggaran
pemerintah.; Accountability. Melalui pertanggungjawaban kepada publik maka birokrasi menjadi
hati-hati dalam bertindak, dengan akuntabilitas publik pemerintah harus memberikan keterangan
yang tepat dan jelas tentang kinerjanya secara keseluruhan.; Strategic vision. Melalui straegi visi
maka akan tumbuh dalam setiap birokrat akan nilai-nilai idealisme dan harapan-harapan
organisasi dan negara untuk masa yang akan datang. Nilai-nilai dan harapan-harapan ini akan
memeberikan kesan praktek pelaksaan pekerjaan birokrasi.