Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PROJECT

“PEMBUATAN LAVA CAKE WHITE BLACK”


PENGANTAR EKONOMI MIKRO

DISUSUN OELH:
 ANANDA RIZKI SIREGAR 7182144010
 KHARISMA 7183344006
 ERIKA NADILLAH YUSDA 7182144006

DOSEN PENGAMPU :
KHAIRANI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

FAKULTAS EKONOMI

TAHUN AJARAN 2018/2019


PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN “B”
PENDAHULUAN

Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah usaha sektor informal berupa usaha dagang yang kadang-
kadang juga sekaligus produsen. Ada yang menetap pada lokasi tertentu, ada yang bergerak dari
tempat satu ke tempat yang lain (menggunakan pikulan, kereta dorong) menjajakan bahan makanan,
minuman dan barang-barang konsumsi lainnya secara eceran. PKL Umumnya bermodal kecil
terkadang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatkan sekedar komisi sebagai
imbalan atau jerih payahnya.Keberadaan PKL telah membuka lapangan pekerjaan sehingga angka
pengangguran dapat ditekan dan keberadaannya dibutuhkan oleh masyarakat kelas bawah karena
harga yang relatif lebih murah dari toko atau restoran modern. keberadaan PKL dapat mengurangi
angka kemiskinan seperti yang telah kelompok kami teliti pada seorang pedagang kaki lima jasuke
bahwasanya dari hasil jualannya dapat memperoleh untung yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari- hari jika dilihat dari sisi positifnya namun tanpa mengenyampingkan dampak negatif akibat
ulah dari sebagian PKL yang melanggar aturan atau mengganggu ketertiban umum

LANDASAN TEORI
Pedagang Kaki Lima dalah pedagang informal yang menempati kaki lima
(trotoar/pedestrian) yang keberadaannya tidak boleh mengganggu fungsi publik baik ditinjau
dari aspek visual, aspek fisik, aspek sosial, lingkungan dan parawisata. Namun keberadaan
pedagang kaki lima dapat menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung di sektor formal
sehingga dapat mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi pengangguran. Peningkatan
jumlah penduduk yang tidak diimbangi oleh peningkatan kebutuhan tenaga kerja di sektor
formal juga menjadi salah satu sebab bertambahnya sektor informal. 

ALAT ATAU BAHAN


Alat yang digunakan saat penelitian diantaranya cambong atau mangkuk, sendok, garpu,
telur, susu chocolate, chocolate bubuk, tepung roti, susu putih, blue band.

ANALISA DATA
Analisis data di dapatkan dari hasil pembuatan secara langsung yang diadakan di sebuah
rumah.

SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitiannya adalah membuat kue dengan penelitian sendiri.
PELAKSANAN DAN LAPORAN
Tanggal pelaksanaan

 Persiapan wawancara tanggal 21 Oktober 2018


 Penelitian di lakukan pada tanggal 23 Oktober 2018

Hasil laporan

Dari penelitian yang kelompok kami lakukan dengan menggunakan wawancara langsung
bahwasanya pedagang kaki lima memerlukan modal dana untuk pembuatan jasuke dengan perincian
sebagai berikut:

 Bleband 1 bungkus
 Memerlukam susu :
 Susu putih 3 saset
 Susu coklat 3 saset
 Coklat bubuk 3 bugkus

Kalkulasi Biaya

No. Nama Bahan Jumlah Bahan Harga Satuan Jumlah harga (Rp)
(Rp)
1 Jagung 10 kg Rp 8.000 Rp 80.000
2 Susu Putih 4 kaleng Rp 12.000 Rp 96.000
3 Susu Coklat 4 kaleng Rp 12.000 Rp 96.000
4 Coklat 4 bungkus Rp 20.000 Rp 80.000
Batangan
5 Keju Batangan 4 bungkus Rp 20.000 Rp 80.000
6. Cup 3 bungkus Rp 3.000 Rp 9.000
Total Rp 441.000

Cara pembuatan :
 Jagung di rebus
 Tuangkan jagung sesuai takaran cupnya
 Campurkan susu kedalam cupnya yang sudah terisi sesuai rasa yang diinginkan
 Taruh keju dan coklat batangan yang sudah di parut di atas cupnya tersebut
 JASUKE Siap untuk di konsumsi
Namun modal yang di perincikan di atas dapat berubah sewaktu- waktu jika harga bahan- bahan
produksi meningkat di pasaran tetapi harga satu jasuke satu porisnya tetap dengan harga seperti
biasa itu yang membuat jasuke tetap banyak di minati pelanggan.

Dan laba yang di peroleh dari semua perincian modal pembuatan jasuke adalah sebesar RP
200.000 namun terkadang bisa meraup untung sebesar RP 300.000 dan dari situlah seorang
pedagang kaki lima memnuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari seperti yang di bahas di bagian
pendahuluan bahwasany pedagang kaki lima juga memeliki sisi positif yang dapat
mensejahterakan hidup pedang kaki lima tersebut seperti bapak Hanafi tanjung sebagai responden
dalam wawancara kami
KESIMPULAN

Pedagang kaki lima tidak mesti di pandang dari sisi negatifnya saja tetapi juga harus dari sisi
postif nya juga yang dapat mensejahterakan hidup dari hasil pendapatan jualan pedagang kaki lima
tersebut seperti responden kelompok kami yaitu bapak Hanafi tanjung seorang pedagang kaki lima
yang menjual jasuke dari total modal yang mencapai RP 395.000 bapak Hanafi dapat meraup untung
RP 200.000- 300.000 yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari untuk kelangsungan
hidupnya namun kendala juga di hadapi bapak Hanafi seperti naiknya harga bahan- bahan pembuatan
jasuke di pasaran tetapi harga satu jasuke satu porsinya masih dengan harga yang sama itu lah yang
membuat jasuke banyak peminatnya selain dari rasa yang memang enak .

Maka dari responden kelompok kami bapak Hanafi tanjung dapat dilihat bahwasanya
pedagang kaki lima jika dilihat dari sisi postifnya dapat mensejahterkan hidup banyak pedagang kaki
lima dari hasil jualan dagangan mereka tinggal lagi pemerintah harus mampu menempatkan mereka
para pedagang kaki lima pada tempat yang selayaknya agar tidak melanggar aturan atau fasilitas
umum seperti trotoar yang sering di pake para pedagang kaki lima

`
DAFTAR PUSTAKA

https://pengertiankomplit.blogspot.com/2016/08/pengertian-pedagang-kaki-lima.html