Anda di halaman 1dari 21

2.

1 Prinsip Kerja MRI

MRI merupakan alat diagnosis yang prinsip kerjanya menggunakan perilaku atom

hidrogen yang terdapat didalam tubuh manusia. Untuk dapat mendiagnosis suatu organ serta

kelainan, dimana sekitar 80% tubuh manusia tersusun dari air ( H2O ) yang terdiri dari 2 atom

hidrogen dan nomor atom ganjil (1) satu proton. Didalam tubuh manusia Inti atom hidrogen

memiliki kandungan inti yang sangat banyak yang berada pada jaringan tubuh manusia

sekitar 1019 inti/mm3, memiliki konsentrasi tinggi yaitu 100 mmol/kg yang terdapat pada

jaringan, dan gaya magnetik yang kuat dari elemen lain (Kooperman, 2000). Dalam prinsip

kerjanya pesawat MRI adalah inti atom hidrogen yang terdapat didalam tubuh manusia,

ketika berada diluar medan magnet posisi dari atom hidrogen berada dalam arah yang acak

(random), kemudian ketika masuk kedalam medan magnet yang memilki kekuatan medan

magnet yang cukup besar posisi inti atom hidrogen menjadi sejajar dengan medan magnet

yang ada.

Gambar 2.4 Arah proton dalam tubuh sebelum terkena medan magnet

(Brown dan Richard, 2003)

Prinsip kerja pesawat MRI yaitu inti atom hidrogen dalam tubuh manusia saat diluar

medan magnet mempunyai arah yang acak (random), sehingga dari arah yang tidak teratur ini

akan saling meniadakan dan menyebabkan medan magnet bernilai nol. Pada saat ini pula

proton memiliki momen magnet yang bernilai nol, hal tersebut karena arah yang tidak teratur

menyebabkan proton saling meniadakan. Kemudian saat diletakkan didalam MRI (gantry),
maka inti atom hidrogen menjadi sejajar dengan arah medan magnet. Sehingga terjadi proses

presisi. Proses presisi disini adalah proton yang berada didalam tubuh manusia akan

berusaha mensejajarkan arahnya dengan medan magnet eksternal, sehingga proton-proton

yang terdapat didalam tubuh pasien akan searah (parallel) yaitu arah kutubnya keatas dan

juga tidak searah (anti parallel) yaitu arah kutubnya kebawah dengan kutub medan magnet

yang ditunjukkan pada gambar 2.5.

Pada saat pemberian gelombang radio frekuensi pada proton menyebabkan atom

hidrogen mengabsorpsi energi dari frekuensi radio tersebut. Dengan bertambahnya energi

tersebut mengakibatkan atom hidrogen akan mengalami pembelokan , dimana besarnya

pembelokan arah atom hidrogen ini dipengaruhi oleh besar dan lamanya energi radio

frekuensi yang diberikan. Ketika radio frekuensi dihentikan mengakibatkan atom hidrogen

akan sejajar kembali dengan medan magnet. Pada saat atom hidrogen kembali sejajar ini

maka atom hidrogem akan memancarkan energinya, kemudian energi tersebut berupa sinyal.

Sinyal - sinyal tersebut akan diterima koil antena penerima, kemudian sinyal- sinyal itu

diubah menjadi pulsa listrik dan akhirnya dikirim ke sistem komputer untuk diubah menjadi

gambar (Ii & Teori, 1977).

Saat radio frekuensi di berikan maka Inti atom hidrogen yang tidak berpasangan

membentuk jaringan magnetisasi, dimana inti hidrogen tersebut merupakan selisih dari

proton proton parallel sedangkan proton anti parallel berjumlah sangat sedikit. Jumlah

tersebut tergantung dengan kekuatan pada medan magnet. Medan magnet pada pemberian

radio frekuensi terbagi menjadi dua untuk membentuk sudut α yaitu magnetisasi longituginal

(Mz) dan magnetisasi transversal (Mxy). dimana ketika RF mati atau dimatikan akan terjadi

T1 pembangkitan atau T1 recovery, T2 peluruhan atau T2 decay dan T2.


Gambar 2.5 Spin parallel dan anti parallel (Blink J. Evert, 2004).

Prinsip dasar dari MRI selain menggunakan medan magnet dan radio frekuensi yang

berbahan superkonduktor, ternyata MRI dalam prinsip kerjanya juga menggunakan gradien,

dimana fungsi gradien adalah sebagai pembangkitkan medan magnet gradien yang berfungsi

untuk menentukan irisan, pengkodean frekuensi, dan pengkodean fase, serta digunakan untuk

membangkitkan sinyal dari radio frekuensi yang mengeluarkan suara bising.

Koil gradien adalah lapisan pada MRI yang digunakan untuk meningkatkan kecepatan

(faster) dalam mengambil gambar dan memperjelas hasil gambar menjadi lebih detail

(Hidalgo-Tobon, 2010). Pada gradien koil terdapat gradient slice yang digunakan untuk

memposisikan suatu gradien yang dapat miring, yang dapat menghadap kedepan maupun

keatas. Dalam proses pengambilan citra pasien harus menggunakan koil untuk dapat

menangkap sinyal yang memiliki amplitudo tinggi yang menjadi penyebab gradien dapat

diproses oleh sistem gradien. Dalam sistem gradient tidak menampilkan citra melainkan

menampilkan titik-titk dan untuk mengolah titik-titik tersebut harus menggunakan prinsip

fisika yang disebut dengan “Transformasi Fourier”. Transformasi fourier didalam pesawat

MRI digunakan untuk merekontruksi citra dengan berbagai proyeksi, selanjutnya dapat

direkontuksi kedalam layar monitor yang terdapat dikomputer yang merupakan hasil dari

pencitraan resonansi magnetik (Bushberg, 2002). Proses terjadinya citra gambar pada MRI

melalui beberapa fase yaitu : fase presisi, fase resonansi, dan fase relaksasi
Gambar 2.6 A:Tampilan skematik gradient coil pada MRI, B: Gradien coil pada MRI (Blink

J.Evert,2004)

2.2 Dasar-dasar Teknik Pencitraan MRI

Proses terjadinya suatu sinyal MRI yang mengakibatkan terbentuknya citra gambar

yang berasal dari pasien tersebut melalui 3 fase fisika yaitu : Fase Presesi (Magnetisasi), Fase

Resonansi dan Fase Relaksasi.

2.2.1 Fase Presisi

MRI merupakan alat diagnosis yang prinsip kerjanya menggunakan perilaku atom

hidrogen yang terdapat didalam tubuh manusia untuk dapat mendiagnosa suatu organ serta

kelainan, diamana sekitar 80% tubuh manusia tersusun dari air ( H2O ) yang terdiri dari 2

atom hidrogen dan nomor atom ganjil (1) satu proton. Proton yang terkandung didalam tubuh

manusia sebelum terkena medan magnet yang berada di dalam MRI, proton-ptoton tersebut

berada pada posisi acak, sehingga magnetisasi dalam MRI bernilai nol seperti yang

ditunjukkan pada gambar 2.7.


Gambar 2.7 kedudukan proton dalam tubuh sebelum terkena medan magnet eksternal

(Siemens AG, 2010).

Kectika manusia dimasukan dalam medan magnet yang sangat kuat didalam pesawat

MRI, maka proton-proton yang ada dalam tubuh manusia letakknya beraturan yaitu bisa

searah (parallel) dan juga tidak searah (anti parallel) dengan kutub medan magnet atau dapat

disebut fase presisi ditunjukkan pada gambar 2.8.

Gambar 2.8 Kedudukan proton ketika dikenai medan magnet eksternal (Siemens AG,

2010)

Gerakan presesi ini memiliki laju konstan dan terjadi karena adanya interaksi antara

medan magnet dan inti yang berputar. Frekuensi dari gerakan presesi ini bergantung pada

jenis atom dan kekuatan medan magnet eksternal yang mempengaruhinya, dimana semakin

kuat medan magnet yang dimilikinya maka semakin cepat gerakan presisi, gerakan presisi

tersebut memilki frekuensi sudut ω yang sebanding dengan kekuatan medan magnet (Robert

R. Edelman, M.D., and Steven Warach, M.D., 1993).


Gambar 2.9 Gerakan presisi atom hidrogen (Westbrook,C, dan Kaut,C, 1999)

Frekuensi presisi dapat dinyatakan oleh persamaan 2.1 atau persamaan frekuensi larmor :

ω 0=γ B 0 (2.1)

Dimana :

ω0 = Frekuensi Larmor (MHz)

γ = Rasio Gyro Magnetik (MHz/T) (MHz/T)

B0 =Kuat medan magnet (T)

untuk rasio gyromagnetic hidrogen adalah 42,57 MHz / T pada kekuatan medan pada

kekuatan magnet 1.0T. Rasio gyromagnetic adalah konstan Untuk setiap jenis inti namun

kekuatan medan magnet yang digunakan dan dengan demikian frekuensi presesi untuk

masing-masing inti akan berbeda bergantung pada kekuatan magnet (Hancock J, 2010).

2.2.2 Fase Resonansi

Resonansi merupakan suatu fenomena bergetarnya materi yang di sebabkan adanya

getaran pada materi lain dengan frekuensi yang sama. Pada teknologi MRI maksud dari kata

resonansi itu sendiri merupakan peristiwa berpindahnya energi dari pulsa radio frekuensi
(RF) ke proton hidrogen karena memiliki frekuensi yang sama. Proton proton yang

dipengaruhi oleh gelombang radio adalah proton proton yang memiliki frekuensi presesi yang

sama dengan frekuensi gelombang radio. Ketika proton-proton hidrogen mengalami fase

presesi, menyebabkan proton proton lebih mudah menyerap energi luar. Saat fase presesi

inilah gelombang radio (RF) dipancarkan, selanjutnya proton proton hidrogen akan

menyerapnya dan mulai bergerak meninggalkan arah longitudinal (L direction) yang sejajar

dengan arah kutub magnet pesawat menuju kearah transversal (Tegak lurus terhadap sumbu

medan magnet pesawat) dan menghasilkan magnetisasi transversal. Keadaan inilah yang

disebut sebagai fase resonansi.

Gambar 2.10. Fase Resonansi (Blink J. Evert.2004)

2.2.3 Fase Relaksasi

Pada Fase Relaksasi terjadi peristiwa melalui penginduksian sinyal ketika

proton-proton hidrogen yang berada pada bidang tanversal ke dalam bentuk gelombang

elektromagnetik yang dikenal dengan MRI kemudian diterima oleh kumparan (antena)

pesawat MRI. Fase relaksasi terjadi ketika sinyal yang dipancarkan oleh gelombang

radio frekuensi dihentikan (posisi off). Setelah sinyal dengan frekuensi resonansi

tersebut dihentikan, proton-proton atom akan kembali ke keadaan parallel (searaah)


yang memiliki level energi lebih rendah dengan memancarkan kembali energi yang

telah diserap. Proses ini disebut dengan relaksasi (relaxation). Fase relaksasi

menghasilkan recoveri magnetisasi longitudinal dan decay dari magnetisasi transversal.

a. Recovery dari magnetisasi longitudinal disebabkan oleh proses yang dinamakan

Waktu Relaksasi Longitudinal (T1)

b. Decay dari magnetisasi transverse disebabkan oleh proses yang dinamakan waktu

relaksasi tranversal ( T2 decay)

2.2.3.1 Waktu relaksasi longitudinal (T1)

Waktu relaksasi longitudinal (T1) terjadi karena disebabkan oleh inti-inti atom

yang memberikan energinya pada lingkungan sekitarnya atau lattice, dan disebut spin

lattice relaksasi. Energi yang dibebaskan pada sekeliling lattice menyebabkan inti-inti

atom untuk recoveri ke magnetisasi longitudinal. Waktu yang diperlukan untuk

kembalinya 63% magnetisasi longitudinal setelah pulse 90º (Westbrook 2011). Waktu

relaksasi longitudinal adalah waktu yang diperlukan proton proton hidrogen sekitar

63% telah berada kembali dalam arah longitudinal (magnetisasi longitudinal) (gambar

2.11) dan dikontrol oleh TR, hal tersebut dikarenakan TR mengontrol seberapa jauh

vektor dapat recover sebelum diaplikasi ke RF berikutnya, maka untuk mendapatkan

pembobotan T1, TR harus dibuat pendek sehingga baik lemak maupun air tidak cukup

waktu untuk kembali ke Bo, sehingga kontras lemak dan air dapat tervisualisasi dengan

baik. Jika TR panjang lemak dan air akan cukup waktu untuk kembali ke Bo dan

recover magnetisasi longitudinal secara penuh sehingga tidak bisa mendemontrasikan

keduanya dalam gambar. Selanjutnya, agar dapat mengurangi efek dari T2 maka waktu

pencatat sinyal (TE) harus pendek. Waktu relaksasi longitudinal menghasilkan

pembobotan T1.
Gambar 2.11 Grafik magnetisasi longitudinal (Westbrook, 2011)

Magnetisasi longitudinal pada lemak yang berada pada bidang transversal ini

besar sebelum ditembak oleh pulsa radio frekuensi, dan setelah ditembak oleh pulsa

radio frekuensi maka magnetisasi longitudinal pada bidang tranversal akan semakin

besar. Sedangkan magnetisasi longitudinal pada air sebelum ditembak oleh pulsa radio

frekuensi yang berada pada bidang tranversal ini magnetisasinya kecil, dan setelah

ditembak oleh pulsa radio frekuensi, maka magnetisasi tranversal menjadi semakin

kecil (gambar 2.12). Sehingga dapat dikatakan air memilki sinyal rendah dan tampak

gelap pada tampilan gambar T1 kontras. Sedangkan pada lemak memilki sinyal yang

tinggi dan tampilan lemak berwarna putih. Dan menyebabkan T1 baik digunakan untuk

menampilkan citra gambar anatomi (westbrook, 2011).

Gambar 2.12 Perbedaan lemak dan air pada T1 (Westbrook, 2011)


Tabel 2.1 Waktu relaksasi longitudinal(Siemens AG, 2010).

2.2.3.2 TISSUE T1[ms] T1[ms] T1[ms] Waktu


(for 0,2 T) (for 1 T) (for 1,5 T)
Fat 200 ± 60 250 ± 70 260 ± 70
Liver 228 ± 50 420 ± 92 490 ± 110
Kidneys 393 ± 110 587 ± 160 650 ± 180
Spleen 398 ± 75 680 ± 130 778 ± 150
White brain matter 388 ± 66 680 ± 120 783 ± 130
Sceletal muscle 370 ± 66 730 ± 130 863 ± 160
Heart muscle 416 ± 66 745 ± 120 862 ± 140
Gray brain matter 492 ± 84 809 ± 140 917 ± 160
CSF (cerebrospinal 1500 ± 400 2500 ± 500 3000 ± 600

fluid)

Relaksasi Tranversal (T2)

Waktu relaksasi tranversal (T2) atau dapat disebut waktu peluruhan dari magnet

transversal yaitu waktu yang diperlukan oleh magnetisasi transversal untuk meluruh 37% dari

nilai semula (McRobbie, 2006). Kurva dari T2 relaksasi dapat ditunjukkan pada gambar 2.13.
Gambar 2.13 Kurva T2 relaksasi (Westbrook, 2011)

Kecepatan meluruh suatu komponen tergantung pada konstanta relaksasi tranversal

atau waktu relaksasi spin. Relaksasi spin-spin terjadi karena adanya ketidak homogenan

medan magnet proton dengan ketidak sempurnaan medan magnet luar. Besarnya peluruhan

magnetisasi tranversal adalah sebagai berikut (Peter A.R,1993) :


−t
( )
M T ( t )=M T ( 0 ) e
T2 (2.2)
Dimana :

MT (t ) : komponen tranversal M tegak lurus dengan B0

t : waktu setelah RF diberikan

M T ( 0 ) :komponen sesaat setelah RF diberikan

T2 :Waktu relaksasi transversal

Waktu relaksasi transversal (T2) menghasilkan pembobotan T2 yaitu citra yang

kontrasnya tergantung pada kuat medan magnet tertentu. Pembobotan citra T2 merupakan

waktu yang dibutuhkan komponen magnetisasi transversal (Mxy) untuk meluruh hingga 37

% dari nilai awalnya. Maksudnya adalah waktu yang dibutuhkan untuk citra dan kotras dan

bergantung terhadap T2 yaitu antara lemak dan air dimana waktu untuk meluruh hingga 37 %

yang dikontrol oleh TE. Untuk mendapatkan pembobotan T2 dan agar kontras lemak dan air

dapat tervisualisasi dengan baik, maka harus waktu pencatat sinyal (TE) panjang, sehingga

dapat memberikan kesempatan lemak dan air untuk meluruh. Tetapi jika waktu pencatat

sinyalnya (TE) pendek maka lemak maupun air tidak memilki waktu untuk meluruh dan
menyebabkan keduanya tidak akan dapat menghasilkan kontras yang baik. Pembobotan

gambar T2 ditunjukkan dengan air yang berwarna terang dan lemak yang berwarna gelap

(Westbrook, 2011). Sehingga dapat dikatakan pembototan T2 merupakan citra pembobotan

yang baik pada jaringan patologi, dikarenakan jaringan patologi memilki banyak kandungan

air, sehingga untuk mengamati gambar patologi digunakan pembobotan T2 (Westbrook,

2011).

Gambar 2.14 Perbedaan lemak dan air pada T2 (Westbrook, 2011)

Tabel 2.2 Waktu relaksasi transversal (T2) (Siemens AG, 2010).

TISSUE T2 (MS)

Liver 43 ± 6

Sceletal muscle 47 ± 6

Heart muscle 57 ± 9
Kidneys 58 ± 8

Spleen 62 ± 17

Fat 80 ± 36

White brain matter 92 ± 20

Gray brain matter 101 ± 13

CSF (cerebrospinal fluid) 1400 ± 250

2.3 Parameter Waktu


Parameter digunakan untuk menentukan suatu pembobotan dan kualitas dari hasil

gambar pada pemeriksaan MRI. Suatu sinyal akan memilki kontras jika ada perbedaan

intensitas sinyal yang ditangkap. Dimana untuk mendapatkan gambar yang terang

(hiperintens) maka harus memberikan sinyal yang kuat, sedangkan pada gambar yang gelap

disebabkan karena sinyal yang diberikan lemah (hipointens). Maksud dari kata diatas adalah

jika jaringan tubuh yang tampak terang (hiperintens) disebabkan memiliki komponen

magnetisasi transversal yang besar, sehingga amplitudo sinyal yang diterima koil besar, dan

sebaliknya dengan jaringan yang memiliki komponen magnetisasi transversal yang kecil akan

hipointens (Westbrook dan Kaut, 1998).

Pulsa sekuen yang paling sederhana adalah kombinasi dari pulsa RF, sinyal dan waktu

recovery. Salah satu Parameter waktu durasi dari rangkaian pulsa MRI dapat mempengaruhi

kualitas citra, diantaranya Time Repetition (TR) dan Time Echo (TE).
Gambar 2.15 Pulsa Sekuen Dasar (Westbrook ,2011)

2.3.1 Time Echo (TE)

Time Echo (TE) yang dapat didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan dari

pulsa radio frekuensi sampai puncak induksi sinyal dalam koil, dimana satuannya

millisecond (ms). Time echo digunakan untuk menentukan berapa banyak magnetisasi

transversal untuk meluruh (decay) yang terjadi sebelum dibaca. Sehingga TE mengontrol

lama dari T2 relaksasi yang terjadi ketika sinyal dibaca. (Westbrook 2011).

Gambar 2.16. Time Echo (Blink J, 2004)

2.3.2 Time Repetition (TR)

Time Repetition (TR) adalah waktu yang dibutuhkan dari satu aplikasi pulsa RF ke

aplikasi pulsa RF berikutnya untuk setiap potongan dan terhitung dalam millisecond (ms).

Time Repetition (TR) akan menentukan lama relaksasi longitudinal yang terjadi antara

bagian akhir satu pulsa RF dengan aplikasi selanjutnya. Sehingga TR menentukan lama

T1 relaksasi yang terjadi ketika sinyal telah dibaca (Westbrook,2011). Keuntungan an

kerugian dari TR yaitu:

 Keuntungan TR naik maka dapat meningkatkan SNR dan dapat meningkatnya jumlah

irisan (slice), sedangkan kerugian TR naik adalah meningkatnya waktu scan lebih lama

dan menurunnya pembobotan T1.


 Keuntungan TR turun maka menyebabkan waktu scanning berkurang dan dapat

meningkatnya pembobotan T1, sedangkan kerugiann TR turun adalah turunnya SNR dan

jumlah slice berkurang (Matt A. Bernstein, Kevin F. King, 2004).

Parameter waktu ini digunakan dalam mekanisme kontras MRI. Sebuah gambar MR

memiliki kontras jika ada area dari sinyal tinggi (putih/hiperintens) dan area rendah sinyal

(gelap/hipointens). Beberapa area memiliki sinyal inter mediate (abu-abu, atau diantara hitam

dan putih).

Gambar 2. 17. Time Repetition (Blink J, 2004)

2.4 Pulsa Sekuen

Pulsa sekuens dan waktu pencitraan adalah pengontrol gambar MRI, Pulsa sekuen

berbentuk diagram yang berisi komponen utama pembentuk citra MRI yang digunakan pada

tiap-tiap waktu. Pada CT-Scan gambar diperoleh dari efek dari atenuasi sinar x oleh jaringan.

Sedangkan pada pesawat MRI kontras gambar dihasilkan dari perbedaan intensitas sinyal

yang terjadi dari magnetisasi proton masing-masing jaringan. Semua citra MRI dihasilkan

dari pulsa sekuen yang tersimpan dalam scanner di perangkat komputer. Dimana yang

dilakukan operator yaitu mengatur nilai TR dan TE untuk mendapatkan citra gambar yang

baik. Pulsa sekuen MRI adalah gabungan rangakaian pulsa RF, aplikasi gradien, dan

intervensi periode waktu. Penggunaan dan parameter dari masing-masing pulsa sekuens

memiliki kelebihan dan kekurangan (Westbrook, 2011).

2.4.1 Pulsa Sekuen Spin Echo


Spin Echo adalah sekuen yang diperoleh dengan menggunakan aplikasi pulsa RF 90°

diikuti dengan aplikasi pulsa RF 180° untuk rephase agar sinyal dapat dicatat dalam masing

masing K-space agar diperoleh citra MRI. Pulsa sekuen spin echo paling banyak digunakan

pada pemeriksaan MRI. Komponen utama dari pulsa sekuen tersebut adalah Time Repetition

(TR) dan Time Echo (TE). Beberapa nama umum untuk urutan spin echo (Brown, 2003).

Tabel 2.3 Akronim Sekuen Spin Echo

Siemens GE Philips
Single spin echo Spin Echo Spin Echo
Multiecho multiplanar
Modified spin echo
(MEMP)
Double echo Multiple Spin echo
Variable echo multiplanar
(MSE)
(VEMP)
Turbo spin echo
Turbo spin echo (TSE) Fast spin echo (FSE)
(TSE)
Half Fourier acquisition Ultrafast spin echo
Single-shot FSE (SS-FSE)
turbo spin echo (HASTE) (UFSE)
Sumber: Brown, 2003

Ada tiga jenis spin echo yang digunakan yaitu standard single echo, standard

multiech, dan echo-train spin echo. Standart single echo umumnya digunakan untuk

menghasilkan gambar pembobotan T1 ketika mengakuisisi dengan TR dan TE yang relatif

singkat (kurang dari 700 ms dan 30 ms). Tipe kedua yaitu standard multiecho yang dapat

mengaplikasikan pulsa RF 1800 refocusing mengikuti pulsa eksitasi single. Standard

multiecho digunakan untuk menghasilkan gambar pembobotan proton density yang

menggunakan TE pendek (kurang dari 30 ms) dan pembobotan T2 menggunakan TE panjang

(lebih dari 80 ms) ketika TR panjang memungkinkan relaksasi T1 untuk jaringan (2000 ms

atau lebih) (Brown, 2003).


Gambar 2.18 Pulsa Spin Echo (Westbrook, 2011)

Tipe yang ketiga merupakan echo train spin echo (ETSE). Sekuen ETSE hampir sama

dengan standar multiecho yaitu menggunakan multiple 1800 RF pulse diaplikasikan untuk

menghasilkan multiple echo mengikuti single pulsa eksitasi. Namun, setiap sinyal echo

dihasilkan dengan gradien phase encode yang berbeda dan TE yang berbeda. Gambar yang

dihasilkan menggunakan beberapa atau semua echo untuk menentukan sekuen. Echo train

length atau turbo factor yang sesuai dengan jumlah echo digunakan untuk memebentuk

gambar. ETSE paling banyak digunakan untuk menghasilkan gambar pada pembobotan T2.

Echo train lenghts yang sangat panjang dapat digunakan pada abdominal imaging untuk

akuisisi pembobotan T2 (Brown, 2003).

2.4.2 Fast Spin Echo (FSE)

FSE (Fast Spin Echo) merupakan salah satu dari urutan pulsa spin echo yang

metodenya dapat menghasilkan gambar lebih cepat dibanding dengan spin echo konvensional

pada pencitraan MRI. Pada spin echo sekuennya adalah 90° kemudian diaplikasi 180° (re-

focusing echo), dan hanya satu phase encoding step per TR pada masing-masing slice

sehingga hanya satu baris k-space yang terisi per TR. Waktu scan dapat dikurangi dengan

cara melakukan lebih dari satu phase encode per TR (Time Repetition), dikenal dengan Echo

Train Length (ETL) atau turbo factor yaitu jumlah rephasing pulsa atau multiple pulsa 180º

dalam setiap TR yang digunakan untuk menghasilkan gambar (Westbrook, 2011). Penyebab

dari hasil citra yang bluuring adalah pada pembobotan T2 MRI yaitu echo train yang
panjang, hal tersebut dapat mempengaruhi nilai Signal to Noise Ratio (SNR) dan contrast to

Noise Ratio (CNR), ini merupakan salah satu kelemahan yang dimilki oleh FSE. Waktu scan

dipengaruhi oleh TR, NEX dan jumlah fase enkoding, dan untuk mengurangi waktu scan,

yaitu dengan mengurangi salah satu dari factor tersebut. Teknik turbo faktor adalah proses

pengumpulan data lebih efisien dan waktu scan dapat dikurangi dengan rumus sebagai

berikut:

TR x NSA x Phase Encode


Scan time = (2.3)
ETL

Semakin tinggi ETL, maka scan time akan semakin cepat. Jika TR naik maka akan

mempengaruhi pembobotan, jika NEX naik maka meningkatkan scan time, fase enkoding

turun maka spasial resolusi akan turun (Westbrook, 2008). Nilai ETL atau turbo factor yang

dapat digunakan saat ini berkisar antara 2 sampai 32 (Westbrook, 2011).

K-space adalah ruang propagasi frekuensi dimana sinyal berupa frekuensi yang

berupa dari data pasien yang disimpan. K-space yang terisi dengan cepat akan mengakibatkan

waktu scan berjalan cepat yang merupakan salah satu kelebihan FSE. Pengaplikasian dari

Echo Train Length (ETL) dapat ditunjukkan pada gambar 2 19.

Gambar 2.19 Waktu dari pengaplikasian ETL (Blink, n.d., 2004)

Pada pengaplikasian daei Echo Train Length (ETL) yang ditunjukkan pada gambar

2.19 adalah nilai dari ETL sebesar 7 satuan, makna dari nilai 7 satuan tersebut adalah pada
tiap Time Repetition (TR) akan terjadi proses pencactan sinyal sebanyak 7 kali secara

bersamaan dalam setiap voxel yang terdapat pada satu matriks di K-space Pada fast spin echo

beberapa baris k-space dapat terpenuhi dengan adanya turbo faktor/ETL sehingga k-space

akan terisi penuh lebih cepat dan scan time dapat berkurang (Westbrook, 2011).

Keuntungan yang dimilki FSE adalah waktu scan lebih cepat dibanding dengan spin

echo, pengurangan waktu scanning sehingga lebih praktis untuk akuisisi gambar pada

resolusi tinggi, meningkatkan kualitas gambar dan meningkatkan informasi T2. Selain

memiliki kelebihan FSE juga memiliki kerurangan adalah sensitif terhadap gerakan,

meningkatnya motion dan flow artefact, jika echo train panjang menyebabkan hasil gambar

buram, pada pembobotan T2 fat tampak lebih terang karena multiple RF pulsa. FSE lebih

banyak digunakan untuk proses pembentukan citra dengan pembobotan T2 karena waktu

bisa lebih singkat. FSE digunakan pada pemeriksaan sistem syaraf pusat, pelvis dan

muskuloskeletal yang sudah menggantikan penggunaan spin echo. Sedangkan pada

pemeriksaan thorax dan abdomen, dapat menimbulkan artefak pernapasan sehingga perlu

teknik respiratori compensation atau memungkinkan gambar dapat dihasilkan saat pasien

menahan napas (Westbrook, 2011).

2.4.3 HASTE (Half-Fourier Aquisition Single-Shot Turbo Spin Echo)

HASTE (Half Fourier Acquisition Single-Shot Turbo Spin Echo) memilki nama lain

SSFSE(Single-Shot Spin Echo) adalah teknik spin-echo Turbo yang digunakan untuk akuisisi

sekuensial gambar dengan resolusi tinggi T2. HASTE menggunakan teknik single-shot untuk

mendapatkan data yang cukup untuk keseluruhan gambar dari TR tunggal.

HASTE memiliki interecho spacing yang lebih pendek dari fast spin echo (Patel, et

all 1997). Sekarang turbo faktor (ETL) paling panjang digunakan pada single shot mencapai

728 ETL. Semakin besar ETL yang digunakan maka scan time akan semakin pendek, akan

tetapi penggunaan ETL yang besar menyebabkan image blurring (Westbrook, 2011).
Gambar 2.20 Perbedaan antara FSE dan HASTE, memperlihatkan multiple pulsa echo 1800

dengan interecho spacing lebih pendek untuk akuisisi gambar setiap TR pada penggunaan

HASTE (Patel, 1997)

Gambar 2.21 T2 HASTE Axial dari

pankreas saat bernafas (Westbrook, 2014)

Keuntungan lain dari HASTE adalah

tidak sensitif terhadap gerakan, mengurangi

artefak karena pergerakan dan baik untuk aplikasi yang membutuhkan waktu TE panjang,

namun karena waktu akuisisi singkat tersebut menyebabkan nilai SNR (Signal to Noise

Ratio) sedikit menurun tetapi nilai CNR (Contrast to Noise Ratio) sedikit meningkat.

Sehingga menyebabkan kualitas gambar menurun.