Anda di halaman 1dari 15

Nama Pelapor : Johana Ruadjanna Tangirerung ( NIM: 130065)

Data Buku : Edmund Woga, CSsR, “Dasar-dasar Misiologi”: Yogyakarta, Kanisius,


2002. ISBN: 978-979-21-0617-6
Dosen Pembimbing : DR. Raja Oloan Tumanggor

Seperti yang telah dikemukakan dalam pendahuluan buku ini bahwa misi dalam
sejarah telah menorehkan begitu banyak catatan-catatan yang menimbulkan reaksi-reaksi
pro dan kontra. Sikap yang sangat disayangkan adalah penolakan terhadap misi sebagai
karya penyebaran iman Kristen. Misalanya saja misi pada Abad Pertengahan dan pada
masa penemuan benua-benua baru. Masa ini menjadi masa gemilang tetapi juga
sekaligus masa gelap misi. Menjadi gemilang karena misi dan ekspansi kolonial mampu
menghasilkan kemistri yang membawa keuntungan satu dengan yang lainnya tetapi di
sisi lain misi dan kekristenan dipandang sebagai penindas dan penjajah.
Buku ini mengangkat kembali dasar-dasar atau prinsip-prinsip misiologi. Mulai dari
pengertian, letaknya sebagai disiplin ilmu, perkembangannya dalam sejarah alkitab
maupun dalam sejarah gereja.
Misi dan misiologi adalah dua kata yang telah memuat berbagai macam
modifikasi pengertian dan makna maupun konotasi sepanjang masa dan tentu saja
mempengaruhi pelaksanaan misi itu sendiri. Refleksi teologis yang menarik pada kondisi
ini adalah apakah misi yang berjalan sepanjang sejarah tersebut adalah masih misi yang
sama seperti misi Kristus, yaitu perutusan untuk memberitakan Kabar Baik? jawabannya
adalah, tidak! Kata misi berasal dari kata Latin missio adalah bentuk substantive dari
kata kerja mittere (mitto, missi, missum) yang punya pengertian dasar yang beragam
yaitu membuang, menembak, membenturkan, mengutus, mengirim, membiarkan,
membiarkan pergi, melepaskan pergi, membiarkan mengalir. Tetapi baik dalam bahasa
Latin maupun Yunani kata ini lebih cenderung berarti mengutus dan mengirim.
16 Kata misi baru dipergunakan secara umum di dalam Gereja sejak permulaan abad
ke-17. Kata yang dipakai sebelumnya adalah penyebaran iman (propagation fidei),
penobatan orang-orang kafir (coversio gentilium), pewartaan injil ke seluruh dunia
(praedicatio evangelii in universe mundo), pewartaan apostolic, (praedictatio

1
apostoloca), usaha penyelamatan kaum barbar (pracuratio salutis apus barbarous
gentes), penanaman baru agama Kristen (novella christianitatis plantation) perluasan
Gereja (dilatation ecclesiae), dst. Sementara itu Edmund Woga juga mengemukakan
rumusan pengertian misi sebagaimana yang David J. Bosch uraikan panjang lebar dalam
bukunya yang monumental itu sebagai: penyebaran iman, perluasan pemerintahan Allah,
pertobatan orang-orang kafir, dan pendirian jemaat-jemaat baru. Selain itu Edmund juga
menambahkan pengertian misi yang lain yang belum mencakup penggunaan misi dalam
Gereja Katolik yaitu izin atau penugasan dari pimpinan Gereja untuk mengajar di
lembaga pendidikan yang diberikan kepada professor teologi dan guru agama serta
mengajar untuk umat.
Krisis dalam misi terjadi sepanjang sejarah karena tidak adanya satu kesatuan
yang saling melengkapi dari berbagai motivasi dan tujuan serta kepentingan-kepentingan
yang terikut di dalam keseluruhan gerak misi itu. Misi tradisional seperti pertobatan,
penyelamatan jiwa-jiwa, penanaman gereja dengan misi pada abad ke-15 sampai abad ke-
19 di mana karya misi dimengerti sebagai usaha ekspansi dan penundukan serta
penaklukan bangsa lain kepada penjajah (Spanyol, Portugis, Belanda, Jerman, Inggris,
dll) menjadi beban bagi misi yang sesungguhnya. Upaya ekspansi teritorial yang dimotori
oleh semangat menguasai bangsa-bangsa dan ekspansi “kerajaan Allah”yang disemangati
oleh semangat triumfalisme kekristenan terhadap agama-agama suku menjadi dua hal
yang dilematis dan mendapat banyak tantangan. Sementara itu juga di ladang misi terjadi
pertentangan internal antara Gereja Katolik dalam hal ini Portugis dan Spanyol
berhadapan dengan Gereja Reformis (protestan), dalam hal Ini Belanda, Jerman dan
Inggris karena kepentingan ekonomi, politik dan budaya.
Krisis yang lain adalah pertentangan antara praktek misi gereja dan kerangka
teoritis dari sekolah-sekolah teologi. Hal ini menimbulkan kebingungan oleh umat karena
perbedaan antara teori dan praktek. Praktek lebih pada penanaman gereja, pentobatan
orang kafir dan penggandaan jiwa atau anggota, sementara teori di sekolah lebih
menekankan bagaimana misi dipahami secara utuh. Bukan hanya soal keselamatan jiwa
tetapi bagaimana kesejahteraan fisik; bukan saja soal jumlah tetapi bagaimana dampak
kekristenan. Permusuhan antara orang-orang Kristen dan non Kristen didasari oleh
pemahaman alasan teologis bahwa hanya di dalam gereja ada keselamatan dan di luar itu

2
mereka menolak Allah. Hal lain adalah pengaruh kemajuan ilmu dan teknologi.
Kemajuan ini di satu sisi berdampak baik terhadap dunia tetapi pada sisi lain ketika tidak
terkontrol mengakibatkan kehancuran bagi manusia. Industri senjata dan kimia
mengakibatkan kehancuran dan kerusakan. Di sisi lain sekuralisasi yang menekankan
privasi individual menempatkan keberagamaan manjadi urusan pribadi dan kehilangan
suara profetik dalam menyuarakan moral dan perilaku yang berdampak langsung
terhadap kehidupan umat. Gereja tidak lagi menjadi penentu norma-norma
kemasyarakatan. Keberagaman pemahaman, motivasi, metode dan karya misi ini
harusnya dilihat dalam satu kesatuan dan keutuhan dari perutusan Kristus dari Allah
kepada gereja untuk menyampaikan Injil Kabar Baik.
Sebagai cabang dari disiplin ilmu teologi yang baru diterima pada akhir abad ke-
19 awal abad ke-20, misiologi berkewajiban membuat penelitian dan penjabaran
mengenai hakikat dan pelaksanaan perutusan Gereja sesuai kaidah-kaidah ilmiah yang
ada. Untuk itu sejarah menjadi sangat penting. Edmund Woga menguraikan sedikit
sejarah misi yang tidak jauh berbeda dari sejarah-sejarah misi yang ditulis oleh penulis
atau misiolog lainnya. Dalam penalaran dan penelitian terkait dengan dirinya sebagai
disiplin ilmu misiologi harus mempunyai metode yang sistematis dan kritis yang tentunya
tidak bertentangan dengan wahyu ilahi. Selain itu misi harus memiliki obyek formal dan
materil dengan batas yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih satu dengan yang
38 lainnya. Landasan dasar dan titik temunya haruslah tema perutusan itu. Tokoh yang
berperan dalam meletakkan misi sebagai disiplin ilmu di antaranya adalah Gustav
Warneck di Jerman yang memotori perutusan itu dari berbagai segi: biblis, teologis,
eklesiologis, pragmatis, historis dan eskatologis, sebgaimana yang dipaparkan Edmund
dalam bukunya ini. Sementara itu dari kalangan Gereja Katolik dikenal Joseph Schmidlin
dan Fredrich Schager serta Roberth Streit.
Terkait dengan obyek formal yang menjadi pokok penekanan dalam misi yaitu
tema perutusan berhadapan dengan cabang-cabang teologi lain misalnya dogmatika,
eksegese, hukum, sejarah gereja, pastoral, dll diharapkan muaranya pada eklesiologi.
Eklesiologi itu terkait dengan persoalan-persoalan kegerejaan, fungsi, hakikat, metode,
tujuan dan perannya. Obyek utama dari seluruh muara eklesiologi misiologi ini adalah
perutusan dalam sejarah keselamatan. Di mana Allah mewahyukan diri-Nya, mengutus

3
diri-Nya kemudian utusan-Nya untuk menyelamatkan seluruh isi dunia ini (1 Tim. 2:4).
Ayat alkitab yang dirujuk Edmund terkait dengan perutusan Kristus adalah Luk 4:18,
Mark 1:14-15; 16:15, Luk 24:47; Kis 1:8, Mat 28:18. Perutusan ini diyakini gereja
sebagai jati diri gereja, sebab pada hakekatnya sifat gereja adalah missioner. Karya
missioner gereja bukanlah tujuan akhir, tetapi justru merupakan gerak yang terarah
kepada kepenuhan rencana keselamatan Allah. Tugas yang maha penting dalam proses
ini adalah memberitakan Injil (Mark, 16:15) dan menjadikan murid (Mat 28:19),
menghasilkan hidup yang menuntun pada pertobatan. Sehingga tepat Edmund
menegaskan bahwa baptis bukan yang terutama, tetapi yang sekunder setelah terjadi
pengajaran, pemuridan dan pertobatan. Baptis adalah buah pertobatan.
Perutusan tersebut dalam tataran praktis memerlukan instrumen, cara atau metode
dalam pelaksanaannya. Bukan saja soal hakikatnya tetapi apa yang telah terjadi dan
berlangsung dalam gereja. Situasi kondisinya bagaimana, metode apa yang tepat dan
berdaya guna pada zaman yang sedang berlangsung dan yang akan datang. Hal ini terkait
dengan pempribumian Injil, atau kontekstualisasi Injil dalam budaya manusia yang
mencakup segi antropologi, sosiologi dan budaya serta pluralitas. Terkait dengan
metode, misioloogi harus intens berkorelasi dengan disiplin ilmu teologi lain seperti
eksegese, sejarah dogmatika, dll. Selain itu misiologi harus terus mempertajam dengan
menggali terus menerus melalui disiplin ilmu lain tadi, hakekatnya. Namun metode
tidaklah boleh mengalahkan prinsip dasar misi itu sendiri.
Seperti buku-buku misi lainnya untuk mendasari misi itu secara biblis, Edmund
juga menguraikan misi dalam Kitab Suci. Misi harus memiliki akar dalam kitab suci.
Kesulitan memang terletak dalam kitab Perjanjian Lama, terkait dengan pilihan tunggal
Israel sebagai bangsa yang terpilih, umat kepunyaan Tuhan. Lantas ketika berbicara soal
misi seluruh dunia, sebagaimana terlihat jelas dalam Perjanjian Baru, untuk memberitkan
Inil ke seluruh dunia, ini menjadi persoalan. Persoalan ini terjawab oleh penelitian C.
Stuhlmueller dan L. Legrand. Saya mengangkat pendapat Stuhlmueller sebagaimana
dituliskan Edmund dalam bukunya bahwa Stuhlmueller menempatkan misi dalam
konteks integral sejarah dunia dan melihatnya sebagai peristiwa historis umum, yang oleh
bangsa Israel ditafsirkan sebagai karya penyelamatan Allah dalam sejarah. Tuhan
dialami sebagai Tuhan atas sejarah. Peranan Bangsa Israel dalam konteks ini adalah

4
menjadi simbol sakral kehadiran Yang Ilahi, yang membuka mata dunia untuk menyadari
unsur-unsur dan kekuatan iman dalam keseharian umat. Salah satu contoh yang diangkat
Stuhlmueller terkait dengan perhatian Allah kepada dunia sosial dan politis adalah
kepedulian Tuhan terhadap yang tertindas (Kel 3:7; bdk Yes 49:13).
L. Legrand melihat pengertian misi tidak secara sempit, tetapi sebagai penyebaran iman
(penulis:bukan agama), penyaksian iman dan ziarah yang terus menerus tertuju pada
Allah. Kalau boleh penulis mengartikan usaha Legrand ini sebagai tugas pengajaran,
pemberitaan, eklesiologi menuju masa eskatologis. Dalam semuanya itu Allah yang
berkarya.
Peristiwa pembebasan Israel dan berbagai pengalaman berjalan di padang gurun,
menurutnya, pada akhirnya bukan hanya soal historis saja tetapi telah menjadi peristiwa
iman yang membentuk religiositas umat Israel. Keistimewaan tidak terletak pada
peristiwa historis ansich saja, bukan juga pada perayaan-perayaan mereka tetapi peristiwa
itu telah membuat mereka mengenal Yahweh yang terus berjalan bersama mereka.
Terhadap itu Karl Rahner mempertanyakan lebih lanjut soal apakah transparansi sejarah
dapat dilihat sebagai sejarah keselamatan dalam sejarah profan? C. Groenen menjawab
itu dengan paling tidak mengatakan bahwa semua peristiwa tersebut dihayati sebagai
kehadiran Allah untuk diarahkan pada Kristus. Sejarah penyelamatan ada dalam sejarah
profan, itulah sebabnya juga kenapa Allah hadir dalam wujud manusia Yesus, yang
notabene juga menunjukkan peristiwa historis profan.
Pola-pola pengutusan dalam PL bermcam-macam. Dinamika misi yang mengarah
pada inti atau pusat, terlihat dalam istilah “Allah Abraham, Allah Yakub dan Allah Ishak.
Misi sentripetal ini menempatkan Bangsa Israel sebagai umat yang ekslusif dan terpisah
dari bangsa lain. Akibatnya berdampak pada tidak dibutuhkannya kegiatan missioner ke
luar dari umat Israel, Tetapi peristiwa keluaran mengarahkan Bangsa Israel untuk tidak
lagi berpusat tetapi sudah mengarah ke luar. Hal ini mengubah pola missioner dari
sentripetal ke sentrifugal yang sudah mengarah ke luar. Namun baik sentrifugal maupun
sentripetal berpusat pada Allah dengan kata lain berpola Teosentris. Ciri pengutusan di
dalam PL adalah pengutusan kepada Bangsa Israel sendiri (lih. Mat 10:5-6; 15:24;
bdk.Mrk 7:27; Yeh 2:3). Pola pengutusan dalam PL (mis. Kej.12; Kel 3; 1 Sam 3; Yes 6;
Yer1), Allah memanggil orang yang dikenal-Nya, memperkenalkan diri-Nya dan

5
menyampaikan apa yang hendak dilakukan lalu mengutus. Contoh, nabi Yeremia, telah
dikenal sejak dari dalam kandungan ibunya. Allah yang berinisiatif karena prihatin
terhadap situasi kondisi yang ada. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa subyek
utama pengutusan adalah Allah sendiri. sementara itu pada pihak yang diutus, dituntut
iman yang teguh dan hubungan pribadi dengan Tuhan.
Keterpilihan Bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah adalah untuk mengalami
dan mempersaksikan uluran tangan Allah dalam sejarah hidup mereka. Harus ada tempat
yang jelas dan nyata di mana Allah menyatakan penyelamatan-Nya dan itu adalah Israel,
satu bangsa dalam kurun waktu dan tempat, kata G. Lohfink. Sehingga keterpilihan itu
bukan hanya soal status, tetapi juga soal fungsi yang harus diemban. Israel tidak sekedar
menjadi bangsa terpilih tetapi lebih pada peran dan fungsi hamba.
Perjanjian Baru hampir tidak mencatat dengan jelas usaha yang getol dari Yesus
untuk mendirikan gereja. Tidak ada pergerakan missioner sebagaimana yang terlihat pada
abad pertengahan hingga awal abad ke-20. Tidak ada proselitisasi, mendirikan getho-
getho atau kelompok ekslusif, tidak ada ekspansi, dan lain sebagainya. Bahkan Yesus
beberapa kali menegur orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang melakukan proselitisme
(Mat 23:15). Pertemuan Yesus dengan “orang-orang kafir” terjadi secara kebetulan.
Namun bukan berarti tidak ada misi untuk medirikan gereja sebab yang Yesus
maksudkan sepenuhnya tentang gereja bukan pertama-tama soal lembaga atau institusi,
material dan fisiknya, tetapi soal nilai-nilai atau norma-norma Kerajaan Allah yang
tertuang dalam kasih kepada Allah dan manusia. Allah mengasihi manusia sehingga Ia
mengutus anak-Nya yang tunggal menyatakan kasih itu di dalam-Nya dan lalu Yesus
melakonkannya dalam misi Kristus. Apa yang terlihat setelah Tuhan Yesus naik ke
Sorga? Segera setelah itu murid-murid kembali ke Yerusalem dan hidup dalam
kesehatian kasih. Hasilnya adalah berdirinya gereja di Yerusalem yang menjadi cikal
bakal gereja di seluruh Eropa dan berdirinya gereja di Antiokia yang menjadi cikal bakal
gereja di Asia.
Edmund juga mengemukakan dalam bukunya bagaimana penginjil melihat Yesus
sebagai utusan Allah. Ciri yang nampak dalam pelayanan Yesus adalah pelayanan dan
pengajaran yang mengarah kepada masa eskaton. Hal itu telah terlihat sejak awal
pelayanan Yesus mulai dari Yerusalem menuju Galilea dan kembali lagi ke Yerusalem di

6
mana ia menyerahkan diri-Nya, menunjukan perjalanan missioner Yesus. Edmund juga
meringkaskan dengan jelas ciri keempat Injil terkait dengan misi dan pelayanan Yesus
dan yang menjadi ciri khas kitab itu. Markus misalnya menekankan bahwa misi itu
adalah mengabarkan kabar baik dan mengantar orang untuk percaya lalu bertobat. Oleh
sebab itu sangat penting bagaimana mempersiapkan utusan-utusan atau pemberita-
pemberita Injil itu. Sementara itu Matius menekankan bahwa Misi merupakan proses,
“menjadikan murid” dengan memparalelkan misi Yesus sebagai sang guru dengan misi
para murid. Misi bukan pertama-tama soal mengumpulkan sejumlah pengikut tetapi
bagaimana pengikut itu dimuridkan. Dimuridkan berarti diajar, dipersiapkan agar tahu,
memahami, dan kemudian mengikuti. Bahan pemuridan adalah nilai-nilai Kerajaan Allah
yang terdapat di dalam pasal 5-7 kitab Matius. Proses menjadi murid dan ekslusifitas
yang dibentuk Matius adalah dalam rangka legitimasi identitas militansi murid untuk
masuk ke dalam dunia non Yahudi. Singkatnya ialah bagaimana Kristologi itu dipahami
dalam kerangka eklesiologi yang tetap menekankan misi Allah secara murni. Lukas dan
Kisah Para Rasul ditulis oleh orang yang sama, sehingga penekanannya sama, yaitu
memberikan kesaksian iman. Lukas menekankan perutusan dan pengampunan dosa pada
audiens umat Yahudi (Luk 2:40). Mengapa Yahudi? Untuk menunjukan kontinuitas
Israel dengan umat atau gereja dalam PB. Pada masa para rasul militansi identitas Kasih,
identitas Kerajaan Allah, telah terbentuk. Mereka menikmati persekutuan gereja yang
indah. Mereka mempersaksikan kasih Allah dalam hidup mereka dan mereka di sukai
orang. Dampak langsung dari cara hidup kasih yang adalah hasil dari pemuridan itu
adalah jumlah mereka menjadi semakin banyak (Kis 4:32-37; 6:1). Penekanan penting
lain dalam Kisah Para Rasul adalah anugerah Roh Kudus. M isi harus didasari oleh kuasa
Roh Kudus yang member kekuatan, pendampingan dan semangat. Kitab Yohanes
memperlihatkan dengan jelas perutusan itu di dalam Yesus, “Karena begitu besar kasih
Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya
barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang
kekal”(Yoh 3:16). Inilah inti misi yang harus menjadi dasar dari semua aktivitas misi.
Atas dasar itu pulalah Yesus berkarya, sehingga ketika ia berhadapan dengan bangsa
Yahudi ia menekankan perutusan dari Bapa itu. “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia
bukan percaya kepada-Ku tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan

7
barangsiapa melihat Aku, Ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku”(Yoh12:44-45).
Seluruh sejarah Yesus merupakan misi yang bersifat kosmik.
88-89 Artinya, kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menyelamatkan seluruh kosmos, yaitu
seluruh dunia dan isinya. Terlihat jelas juga bahwa misi setelah kebangkitan adalah misi
Yesus, “sama seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah juga Aku mengutus kamu”,(Yoh
20:21). Murid-murid di utus untuk membawa damai, kasih dan keadilan dengan urapan
Roh Kudus. Pengutusan murid dan pencurahan Roh Kudus bukan sekedar peristiwa
Yesus saja tetapi punya makna dan kesinambungan yang penting.
Salah satu Rasul yang sangat produktif dan militant dalam PB adalah Paulus.
Kerasulannya ia peroleh akibat perjumpaan secara pribadi dengan Yesus. Karya misioner
Paulus berkembang dari ketegangan yang dinamis antara panggilan dan pengutusannya
dan dengan kesetiannya dengan para Rasul yang pertama.Dan pada akhirnya tugas
missioner Paulus yang lebih berorientasi kepada bangsa-bangsa kafir di terima di Konsili
I Yerusalem. Pemahamannya yang kuat sebagai orang Yahudi terhadap kedatangan
Mesias (masa Eskatologis), memaksanya untuk mengajak orang untuk sadar akan situasi
itu, percaya pada Yesus sebagai juruselamat dan bertobat. Metode yang digunakan Paulus
menarik karena ia mulai dari pusat kota yang dia perkirakan akan punya dampak
pengaruh sampai ke pelosok dan tidak memilih etnis atau golongan tertentu. Ini juga
sekaligus menunjukkan sifat misinya yang universal. Keselamatan universal ini
membutuhkan partisipasi orang, utusan, gereja, untuk mewujudkannya.
94-95 Hal lain yang dikemukakan Edmund dalam buku ini adalah otentitas sabda
mengenai misi dan perutusan. Perikop-perikop atau ayat-ayat seperti misalnya, Mat
28:16-20; Mrk 16:14-20; Luk 24:36-49; Kis 1:1-8; Yoh 20:21-23, dst, diklaim sebagi
teks-teks misi. Hal ini mengakibatkan pemberlakuan misi menjadi sangat kaku dan
sempit hanya pada soal pembaptisan, memasukkan orang menjadi anggota gereja, dst.
Padahal misi gereja adalah seluruh rangkain rencana Allah mulai dari Kejadian 1 sampai
kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga dan Karya2 sesudah itu adalah rangkaian Misi Allah
secara universal dan komprehensif. Apa yang mau kita katakan terhadap teks-teks seperti
Kej 1:2 ketika Allah menugaskan manusia mengusahakan, merawat dan berbagi
kehidupan di taman Eden? Terhadap kisah perjuangan nabi-nabi memperkenalkan Tuhan
dan menyerukan kasih Allah dan pertobatan? Terhadap teks khotbah di Bukit Matius 5-7,

8
terhadap teks Matius 25 untuk melayani orang asing, dan menderita? Terhadap semua
inilah Edmund menguraikan dengan jelas bahwa Misi Allah adalah misi yang sangat luas,
universal tetapi tetap dengan prinsip dan dasar-dasar yang berlandaskan Alkitab. Melalui
kronologi waktu, dalam budaya tertentu, dan respons serta metode tertentu pula.
117- Berulang dalam buku Edmund menekankan sejarah dan pemahaman misi baik
141 dalam Alkitab, dalam sejarah dunia dalam lingkungan Katolik. Khusus dalam bagian ini,
Edmund mengangkat pendapat beberapa tokoh untuk memperlihatkan pemahaman misi
yang terus berkembang sesuai waktu dan kondisi zaman. Thomas de Jesus,1 menjadi
salah satu ahli yang sangat berpengaruh dalam pendirian Kongregasi Suci Penyebaran
Iman. Karya tulisanya banyak. Inti tulisan dan pemahamannya adalah bahwa misi itu
sangat penting untuk keselamatan seluruh umat dan isi bumi. Misi bukan saja untuk
orang Katolik. Misi baginya harus bersifat trinitaris, pengutusan dari Bapa – Putra – Roh
kepada seluruh utusan yang diperkenankan Allah. Thomas Ohm,2 merupakan salah satu
pelopor dalam member dasar biblis pada karya misi Gereja. Baginya misi adalah aktivitas
gereja yang bersumber pada Allah dan rencana penyelamata-Nya. Misi bukan suatu
lembaga, tetapi karya Roh Kudus yang dinyatakan melalui utusan Tuhan kepada orang-
orang di laur Kristen untuk dijadikan murid Kristus (Kristen), dengan demikian ia
membatasi penegertian misinya hanya pada pengutusan duta-duta iman untuk
pengkirstenan, atau lebih tepatnya menghadirkan suasana Kristen di dunia non Kristen.
Walter Kasper,3 banyak menekankan bahwa karya misi Gereja harus berdasar pada
Kristologi. Seluruh hidup dan karya Yesus adalah misi yang Allah nyatakan sebagai bukti
kasih Allah kepada seluruh ciptaan-Nya. Manusia menurut Kasper dan juga Rahner- tulis
Edmund- memiliki tugas khusus yang memiliki “antene ilahi” untuk memberitakan
karya misioner Kristus menyatakan Kasih Allah kepada seluruh ciptaan-Nya. Oleh sebab
itu karya misi gereja harus terbuka seluas-luasnya. Dalam hubungannya dengan agama-
1
Lahir tahun 1564 di Baeza Andalusia, Spanyol dengan nama Diego Sanches de Avila. Sejak tahun 1587 menjadi
Ordo Karmel dan kemudian menjadi pemburu dalam ordonya. Ia membentuk satu ordo sebagai cabang dari
ordonya yang menekankan hidup pertapaan. Tetapi pada akhirnya ia dipanggil untuk terlibat secara khusus dalam
misi Gereja Katolik. Pandangan teologinya dipengaruhi oleh Jose de Acosta, adalahg pelopor untuk menyusun teori
misi secara sistematis, hlm. 118.
2
Lahir di Westerholt, Westphalia Jerman. Ia hidup dari tahun 1892-1962. Ia seorang Biarawan Benediktin dan
menjadi professor misiologi di universitas: Salzburg, Wursburg, dan Munster. Ia juga menulis banyak karya-karya
ilmiah Misi. (informasi ini sesuai catatan kaki Edmund, hlm.225)
3
Seorang teolog kenamaan dari Jerman. Ia pernah menjadi professor teologi di Tubingen lalu menjadi Uksup di
Rottenburg. Sebagai Professor dan Uskup, ia juga banyak menulis (lihat catatan kaki Edmund, hlm.121)

9
agama lain, Kasper menekankan agar orang Kristen bersifat inklusif sekaligus ekslusif,
dan berdialog untuk saling mencerahi. Tetapi harus diingat bahawa seluruh dasar karya
misi gereja adalah kasih Allah yang dinyatakan dalam diri dan karya Yesus. Karl
Rahner,4 dikenal dengan kritiknya terhadap konsep misi tradisional bahwa keselamatan
hanya terjadi dalam lingkup orang Kristen. Kristen anonym juga menjadi perhatian
khusus Rahner sebagaimana yang ia kemukakan dalam bukunya, Kristen Anonim dan
Tugas Missioner Gereja. Sabda Allah yang diberitakan dan disaksikan tentang bagaimana
kasih Allah yang mau menyelematkan semua manusia seharusnya membawa dampak
bagi orang di luar agama Kristen. Dampak itu membuat mereka melakukan tindakan
kasih sesuai nilai-nila kristiani tanpa harus menjadi Kristen. Seperti ahli lainnya, Georg
F. Vicedom,5 pun menekankan misi gereja mulai dan bertolak dari Misi Allah. Ia terkenal
dengan konsep “Missio Dei” penyelmatan Allah dan Misi Allah yang bermula dari
inisiatif dan kepedulian Allah kepada manusia. Allahlah subyek misi, manusia, konteks
serta metode adalah instrument misi. Konsep misinya kental Teosentris. Ahli terakhir
yang dikemukakan Edmund adalah John Hick.6
Pendapat beberapa ahli ini menunjukkan bahwa betapa beragamnya latar
belakang yang kemudian memengaruhi pemahaman misi. Yang jelas semua ahli itu
berpendapat bahwa misi adalah tindakan Allah karena kasih-Nya melalui orang-orang
yang dikenannya untuk menyampaika rencana penyelamatan Allah ini.
Selain pengaruh para ahli tentang misi, Edmund juga menguraikan beberapa
aliran yang ada dalam gerakan misi. Aliran-aliran tersebut adalah: aliran Tubingen,
Munster, dan Leuven. Aliran Tubingen muncul pada abad pencerahan, oleh sebab itu
sangat terbuka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan berani melakukan konfrontasi
untuk mendapatkan sintesa yang tepat untuk pelaksanaan misi. Penekanan aliran ini
adalah sejarah. Misi tidak berlangsung dalam dunia abstrak tetapi di dalam sejarah, oleh
sebab itu dibutuhkan penghayatan terhadap setiap peristiwa hidup, di mana di dalamnya

4
Lahir di Freiburg Jerman pada tahun 1904. Menjadi anggota Ordo Yesuit dan mendapat tugas belajar filsafat di
Freiburg. Meskipun disertasinya pernah ditolak fakultas tetapi akhirnya diterbitkan. Ia kemudian menjadi
professor teologi di Muncen. Ia meninggal tahun 1986, dikenal sebgai teolog ternama abad ke-20, catatan kaki hlm
123.
5
Ia seorang misiolog Protestan yang berasal dari Bavaria, Jerman (1903-1974). Pernah menjadi Misionaris di New
Guinea. Ia juga ahli etnologi , belajar di Universitas Hamburg, catatan kaki hlm,125.
6
Lahir 20 Januari 1922 di Scarborough, Inggris. Kendatipun dibesarkan dalam gereja Anglikan tetapi pada akhirnya
ditahbis di gereja Presbiterian. Hick menjadi professor di berbagai sekolah teologi, catatan kaki hlm. 129.

10
Allah berkarya untuk membawa manusia pada keselamatan holistik. Dibuthkan juga cara
atau metode pendekatan. Aliran Munster, yang diwakili oleh bapak Misiolog Katolik, J,
Schmidin yang mengatakan bahwa misiologi adalah penjabaran penyebaran Iman, yang
dirangkum dalam system tertentu serta dibangun di atas dasar-dasar biblis dan teologis.
Misi bagi aliran ini ada dalam sejarah dulu, kini dan masa yang akan datang dengan
tujuan utamanya adalah menyampaikan ajaran Kristus dan keselamatan di dalam Kristus,
agar mereka percaya, bertobat dan mau menerima keselamaan itu. Aliran Leuven ini
menolak jikalau pentingnya misi hanya terletak pada tujuan utuk menyelamatkan agama-
agama lain, atau orang di luar Kristen. Baginya, banyak juga orang Kristen yang harus
menjadi tujuan misi. Oleh sebab itu bagi aliran ini misi bukan saja pertobatan atau
penambahan jiwa tetapi bagaimana gereja ditanam dan dibangun. Tugas misi disebut
berhasil, jika gereja sudah berdiri. Aliran Paris dan Spanyol membangun pemahaman
misinya berdasarkan pemahaan sosiologis. Alasannya bahwa misi harus menjadi suatu
proses sosial yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Kekristenan harus lahir dari
proses membudaya dan memasyarakat.
Di dalam sejarah misi Katolik dikenal ensiklik-ensiklik, yaitu surat edaran Paus
sebelum Konsili Vatikan II. Ensiklik tersebut merupakan jawaban atau tanggapan gereja
dalam hal ini diwakili Paus terhadap situasi tertentu di ladang misi. Sifatnya praktis dan
reflektif dan sangat tergantung pada aliran-aliran atau pemahaman yang berkembang.
Sebelum ensiklik-ensiklik tersebut Paus mengeluarkan bulla atau surat yang sifatnya
lebih sederhana ketimbang ensiklik. Tujuannya juga kurang lebih sama untuk memotivasi
dan mengatur pelaksanaan misi. Bulla yang terkenal misalnya yang dikeluarkan oleh
Paus Greorius XV tentang pendirian Kongregasi Suci Penyebaran Iman; Paus
GregoriusXVI mengeluarkan bulla untuk membendung pengaruh Padroado Portugal,
bulla mendukung kepentingan klerus pribumi dan bulla untuk menjaga kemurnian liturgis
Latin, menjaga karya amal, melindungi umat dari perkara-perkara politik dan profane.
Paus Leo XIII mengeluarkan bulla untuk mendukung Kardinal untuk memberantaas
perbudakan. Paus Pius X mengeluarkan bulla tentang pengurangan daerah propaganda
Inggris, dst.
Ensiklik yang dicatat Edmund adalah Maximum Illud oleh Benedictus XV, mau
menyadarkan gereja bahwa Perang Dunia telah mengganggu pelaksanaan misi, dengan

11
tujuan pokoknya adalah: penyebaran Iman, pendirian gereja dan perluasan Kerajaan
Allah. Pius XI mengeluarkan Ensiklik Rerum Ecclesiae untuk menarik perhatian umat
Katolik agar memberikan perhatian kepada pengadaan tenaga misionaris termasuk
bantuan yang bersifat material, spiritual dan tenaga dalam rangka misi perluasan
Kerajaan Allah. Hasilnya adalah berdirinya komunitas-komunitas religious pribumi dan
biara-biara kontemplatif. Tetapi sayangnya pada saat itu pendekatan terhadap budaya
dengan membentuk klerus-klerus pribumi akhirnya dalam rangka taktis missioner saja.
Paus selanjutnya yaitu Pius XII mengeluarkan ensiklik dalam rangka mengenang 25
tahun ensiklik misi yang dikeluarkan Paus sebelumnya, setelah Paus Pius XII melihat
perkebangannya. Perkembangan itu adalah misi Katolik meambah ke benua Asia dan
Afrika. Itu semua karena keberhasilan perhatian penuh pada pembentukan klerus pribumi
dan pendekatan kebudayaan. Bangsa-bangsa yang mendapat perhatian khusus Paus Pius
XII diantaranya Tiongkok dengan ensiklik Ad Sinarum Gentem, agar umat Katolik di
Tiongkok tetap bertahan dengan ajaran gereja karena larangan untuk berhubungan
dengan Tahta Suci; Afrika dengan Fidei Donum, member semangat kepada negara-
negara di Afrika untuk memperoleh kemerdekaannya dan hidup secara bebas di
151 dalamnya. Selain itu umat Katolik di Afrika yang berjumlah 7.5% itu diingatkan untuk
tetap pada iman dan tidak terpengaruh pada pengaruh-pengaruh seperti materialisme yang
atheistis, Islam dan sekte-sekte yang berkembang luas di Afrika. Ensiklik terakhir
sebelum Konsili II adalah Princeps Pastorum, yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes
XXIII untuk memperingati 40 tahun Ensiklik misi yang pertama, Maximum Illud.
Ensiklik ini bertujuan untuk melanjutkan pengadaan dan penggalangan kerasulan klerus
yang lebih memadai dengan bekal-bekal pendidikan yang lebih handal dalam aspek
spiritual, intelektual, dan memiliki wawasan misiologis yang dalam. Dalam pada itu Paus
juga mengingatkan agar mereka sungguh-sungguh menghargai budaya setempat, bahkan
harus lebih dekat, memahami dan membebaskan dari tekanan-tekanan budaya
berdasarkan nilai-nilai kristiani. Selain itu karya misi harus sesuai dengan kualitas iman
dan moral para utusan dan pengikut Kristus. Persoalan-persoalan sosial juga harus enjadi
perhatian misi gereja. oleh sebab itu tujuannya pertama-tama bukan jumlah tetapi kualitas
orang percaya yang hidup dalam dunia yang sarat dengan persoalan-persoalan budaya,
sosial dan politik.

12
Pada prinsipnya ensiklik-ensiklik maupun bula-bula yang dikeluarkan oleh gereja
dalam hal ini Paus adalah respons misiologis gereja yang menjadi landasan penting dalam
bergereja. Tanpa respons-respons itu gereja tidak punya rasa dan tanggungjawab iman
terhadap masalah-masalah sosial umat. Ensiklik dan bula ini ini enjadi catatan sejarah
misi yang memperlihatkan bahwa betapa gereja sangat member perhatian pada tugas
perutusan yang diberikan Allah. Mungkin memang persoalannya adalah metode, system
dan kebijkana-kebijakan itu dipengaruhi oleh padangan misi pada zaman dan situasi
tertentu.
Beberapa dokumen gereja yang sangat penting memengaruhi pemikiran gereja
dalam gereja Katolik terjadi dalam Konsili Vatikan II.7 Terkait dengan misi gereja maka
dokumen yang penting mengenai hakikat dan pelaksanaan karya misi itu sendiri terdapat
dalam Dekrit Ad Gentes. Namun refleksi mendalam terkait dengan itu berasal dari
pemikiran Konsili tentang Gereja atau Lumen Gentium dan pewahyuan ilahi Dei
Verbum, Sacrosanctum Concilium dan Gaudiu et Spes. Misi mendapat penekanan yang
penting dalam Konsili Vatikan II. Ini menjadi tanda bahwa misi merupakan unsur yang
sangat penting dalam gereja. Konsili Vatikan II memperlihatkan perlunya pembaruan
gereja juga tentunya dalam memahami serta melaksanakan misi.
Asas-asas Misi dan Eklesiologi Vatikan II adalah Gereja sebagai kenyataan
Sakramental, Gereja sebagai Umat Allah, Gereja Setempat-universal, Kolegasitas dan
Kommunio. Gereja dilihat sebagai tanda sakramental dan sarana persatuan dengan Allah
dan gereja juga tanda kesatuan seluruh umat manusia. Gereja adalah perwujudan misteri
tubuh Kristus tetapi juga sebagai sakramen yang kelihatan. Istilah yang dipakai adalah
sacraentum Unitas atau sakramen kesatuan dan universal sacramentum salutis. Di
dalamnya termaktub orientasi Kristologis yang berarti Kristuslah yang melalui Roh
Kudus menjadikan gereja sakramen atau tanda klameselamatan yang bersifat universal, di
mana kemudian juga dipahami bahwa anugerah keselamatan dari Allah berlaku di luar
gereja. Dalam kaitannya dengan Kerajaan Allah, gereja adalah sarana atau jalan, bukan
Kerajaan Allah. Gereja hanya hidup dari dari sabda Kristus yang adalah sakramen atau
7
Konsili Vatican II menghasilkan 4 Kosntitusi (Dei Verbum , Gaudium et Spes, Lumen Gentium, Sacrosanctum
Concilium), 9 Dekrit (Ad Gentes, Apostolicam Actuositatem, Christus Dominus, Inter Mirifica,Optatam Totius,
Orientalium Ecclesiarum ,Perfectæ Caritatis, Presbyterorum Ordinis, Unitatis Redintegratio) dan 3 Pernyataan
(Dignitatis Humanæ, Gravissimum Educationis, Nostra Ætate)

13
tanda sejati Kerajaan Allah. Tetapi sabda itu telah menjadi cikal bakal Kerajaan Allah di
dunia menurut LG 5 yang cakupannya bukan saja secara institusi dan pengajaran tetapi
yang melampaui ruang dan waktu, yaitu kebenaran, kasih, damai sejahtera, keadilan, dan
nilai-nilai lainnya. Dengan begitu gereja punya dimensi vertikal dan horizontal.
Sementara itu Gereja sebagai Umat Allah, dalam Konsili I ditunjukkan melalui kesatuan
dan kebersamaan umat Allah (LG 9). Ini juga mau menegaskan kembali aspek komunal
karya keselamatan Allah melalui umat Allah dalam sejarah Israel, Isrel baru dalam PB
dan gereja masa kini. Gereja Setempat – Gereja Universal mau menekankan kesatuan dan
universalitas misi. Sehingga gereja setempat tidak hanya menghadirkan gereja universal
tetapi keuniversalannya justru terletak dari hubungan gereja setempat dengan gereja-
gereja setempat lainnya. Gereja yang universal mendapatkan kesejatian dan identitasny di
dalam gereja-gereja setempat. Perjumpaan-perjumpaan dinamis itulah yang membuat
gereja sungguh-sungguh menjadi gereja yang punya dimensi marturia, lieturgia dan
diakonia dalam kebudayaan dan zaman tertentu. Sementara yang dimaksud dengan
kolegialitas adalah kesatuan kolega. Keabsahan para rasul untuk melakukan tugas misi
ditentukan juga oleh kelegialitas uskup, yang juga seklaigus dampak langsung dari
pemahaman kita mengenai gereja sebagai komuni santorum, kumpulan orang-orang yang
dikhususkan untuk pelayana misi.
Sedangkan asas-asas misi menurut Dekrit Ad Gentes adalah di mana misi gereja
dipahami sebagai yang harus berdasar pada kitab Suci, biblis teologis, tradisi, dan
ekumenis. Misi dalam terang ed Gentes, misi dilihat sebagai ordo Ilahi yang bersifat
trinito-teosentris. Misi sebagai ordo Ilahi memiliki konsekuensi logis misi Allah dan
berada dalam rencana besar Allah.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa misi adalah bagian integral dari Gereja.
Gereja tidak mungkin ada tanpa misi. Lumen Gentium melihat gereja sebagai organ yang
“berdiri”, sedangkan ad Gentes menggambarkan gereja sebagai organism yang
“bergerak”. Gereja dipanggil untuk berhimpun, tidak sekedar berhimpun tetapi
berkumpul di sekitar Yesus, belajar dalam situasi konteks tertentu untuk kemudian di
utus untuk pekerjaan misi Allah yang lebih inklusif dan universal. Dalam kaitannya
dengan agama-agama lain, non Kristen, salah satu pernyataan Konsili Vatikan ini
memutuskan mendukung kebebasan umat memeluk agama masing-masing berdasarkan

14
prinsip-prinsip HAM. Pertanyaan soal perlunya misi akan seiring dengan dengan
pertanyaan tentang perlunya Gereja sebagai saran penyelamatan Alla (LG 14, AG 7).
Keselamatan yang utuh adalah keselamatan jiwa, roh dan tubuh manusia dalam semangat
pemenuhan masa eskatologis.
Akhirnya misi yang dibutuhkan adalah misi setempat yang terbuka. Terbuka
terhadap pemahaman baru , terhadap tetangga, teman kantor dalam mengungkapkan iman
dan mempersaksikan imannya itu di tengah-tengah situasi dan lingkungan hidupnya yang
konkret. Misi mengajak untuk menjadi manusia baru, tidak menjadikan sentralitas gereja
tertutup bagi orang lain, tetapi justru menjadi teman seperjalanan dalam memperkatakan,
mempersaksikan kasih setia Tuhan melalui karya penyelamatan dalam diri Yesus Kristus.

15