Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM


DI RUANGAN NIFAS RUMAH SAKIT KOTA MATARAM

Di Susun Oleh :

NAMA : NURHADIANTI
NPM : 019.02.0982

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM
TAHUN 2019/2020
A. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Definisi
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya
serviks dan janin turun ke dalam jalan lahir.
(Prawirohardjo, 2001).
Masa nifas adalah periode sekitar 6 minggu
sesudah melahirkan anak, ketika alat – alat
reproduksi tengah kembali kepada kondisi normal.
( Barbara F. weller 2005 )
Post partum adalah proses lahirnya bayi dengan
tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat – alat serta
tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung
kurang dari 24 jam.(Abdul Bari Saifuddin, 2002)
2. Etiologi
Penyebab persalinan belum pasti diketahui,namun
beberapa teori menghubungkan dengan faktor
hormonal,struktur rahim,sirkulasi rahim,pengaruh
tekanan pada saraf dan nutrisi (Hafifah, 2011)
a. Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan
hormone progesterone dan estrogen. Fungsi
progesterone sebagai penenang otot –otot polos
rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh
darah sehingga timbul his bila progesterone turun.
b. Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone
menyebabkan kekejangan pembuluh darah yang
menimbulkan kontraksi rahim.
c. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang
menyebabkan iskemik otot-otot rahim sehingga
mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion
servikale(fleksus franterrhauss). Bila ganglion
ini digeser dan di tekan misalnya oleh kepala
janin akan timbul kontraksi uterus.
e. Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang
laminaria yang dimasukan dalam kanalis servikalis
dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser,
amniotomi pemecahan ketuban, oksitosin drip yaitu
pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus.
3. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat
genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-
angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam
keseluruhannya disebut “involusi”. Disamping involusi
terjadi perubahan-perubahan penting lain yakni
memokonsentrasi dan timbulnya laktasi yang terakhir
ini karena pengaruh hormon laktogen dari kelenjar
hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mamae.
Otot-otot uterus berkontraksi segera post partum,
pembuluh-pembuluh darah yang ada antara nyaman otot-
otot uretus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks ialah
segera post partum bentuk serviks agak menganga
seperti corong, bentuk ini disebabkan oleh korpus
uteri terbentuk semacam cincin.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada
endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan
nekrosis ditempat implantasi plasenta pada hari
pertama endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm itu
mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan
desidua dan selaput janin regenerasi endometrium
terjadi dari sisa-sisa sel desidua basalis yang
memakai waktu 2 sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen dan
diafragma pelvis serta fasia yang merenggang sewaktu
kehamilan dan pertu setelah janin lahir berangsur-
angsur kembali seperti sedia kala.
4. Tanda dan Gejela
a. Perubahan fisik
1. Involusi uterus
Adalah proses kembalinya alat kandungan
uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan
sehingga mencapai keadaan seperti sebelum
hamil. Setelah plasenta lahir, uterus
merupakan alat yang keras, karena kontraksi ini
menyebabkan rasa nyeri/mules-mules yang disebut
after pain post partum terjadi pada hari ke 2-3
hari.
2. Kontraksi uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat
setelah melahirkan berguna untuk mengurangi
volume cairan intra uteri. Setelah 1 – 2 jam
post partum, kontraksi menurun stabil
berurutan, kontraksi uterus menjepit pembuluh
darah pada uteri sehingga perdarahan setelah
plasenta lahir dapat berhenti.
3. After pain
Terjadi karena pengaruh kontraksi uterus,
normal sampai hari ke -3. After pain meningkat
karena adanya sisa plasenta pada cavum uteri,
dan gumpalan darah (stoll cell) dalam cavum
uteri .
4. Endometrium
Pelepasan plasenta dan selaput janin dari
dinding rahim terjadi pada stratum spunglosum,
bagian atas setelah 2 – 3 hari tampak bahwa
lapisan atas dari stratum sponglosum yang
tinggal menjadi nekrosis keluar dari lochia.
Epitelisasi endometrium siap dalam 10 hari, dan
setelah 8 minggu endometrium tumbuh kembali.
5. Ovarium
Selama hamil tidak terjadi pematangan sel
telur. Masa nifa terjadi pematangan sel telur,
ovulasi tidak dibuahi terjadi mentruasi, ibu
menyusui mentruasinya terlambat karena pengaruh
hormon prolaktin.
6. Lochia
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Fokus Keperawatan
a. Riwayat ibu
1)   Biodata ibu.
2)   Penolong.
3)   Jenis persalinan.
4)   Masalah-masalah persalinan.
5)   Nyeri.
6)   Menyusui atau tidak.
7)   Keluhan-keluhan saat ini, misalnya :
kesedihan/depresi, pengeluaran per
vaginam/perdarahan/lokhia, puting/payudara.
8)  Rencana masa datang : kontrasepsi yang akan
digunakan.
b. Riwayat sosial ekonomi
1)   Respon ibu dan keluarga terhadap bayi.
2)   Kehadiran anggota keluarga untuk membantu ibu di
rumah.
3)   Para pembuat keputusan di rumah.
4)   Kebiasaan minum, merokok dan menggunakan obat.
5)   Kepercayaan dan adat istiadat.
c. Riwayat bayi
1)   Menyusu.
2)   Keadaan tali pusat.
3)   Vaksinasi.
4)   Buang air kecil/besar.
d. Pemeriksaan fisik
1)Pemeriksaan umum
a)  Suhu tubuh.
b)   Denyut nadi.
c)   Tekanan darah.
d)   Tanda-tanda anemia.
e)   Tanda-tanda edema/tromboflebitis.
f)    Refleks.
g)    Varises.
h)   CVAT (Contical Vertebral Area Tenderness).
2)Pemeriksaan payudara
a)   Putting susu : pecah, pendek, rata.
b)    Nyeri tekan.
c)    Abses.
d)   Pembengkakan/ASI terhenti.
e)   Pengeluaran ASI.
3)Pemeriksaan perut / uterus
a)   Posisi uterus/tinggi fundus uteri.
b)   Kontraksi uterus.
c)   Ukuran kandung kemih.
4) Pemeriksaan vulva/perineum
a)   Pengeluaran lokhia.
b)   Penjahitan laserasi atau luka episiotomi.
c)   Pembengkakan.
d)   Luka.
e)   Henoroid.
5)  Aktivitas/istirahat
Insomnia mungkin teramati.
6) Sirkulasi
Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam
hari.
7)Integritas ego
Peka rangsang, takut / menangis (“post partum
blues” sering terlihat kira-kira 3 hari setelah
melahirkan).
8) Eliminasi
Diuresis diantara hari kedua dan kelima.
9) Makanan/cairan
Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira
hari ketiga.
10)  Nyeri/ketidaknyamanan
Nyeri tekan payudara / pembesaran dapat terjadi
diantara hari ketiga sampai kelima pasca partum.
11)  Seksualitas
Uterus 1 cm di atas umbilikus pada 12 jam setelah
kelahiran, menurun kira-kira 1 lebar jari setiap
harinya.
Lokhia rubra berlanjut sampai hari kedua sampai
ketiga, berlanjut menjadi lokhia serosa dengan
aliran tergantung pada posisi (misal : rekumben
versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (misal :
menyusui).
Payudara : produksi kolostrum 48 jam pertama,
berlanjut pada suhu matur, biasanya pada hari
ketiga; mungkin lebih dini, tergantung kapan
menyusui dimulai.

C. Diagnosa keperawatan
a. Rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peregangan
perineum; luka episiotomi; involusi uteri; hemoroid;
pembengkakan payudara
b. Resiko defisit volume cairan berubungan dengan
pengeluaran yang berlebihan; perdarahan; diuresis;
keringat berlebihan.
c. Perubahan pola eleminasi BAK (disuria) berhubungan
dengan trauma perineum dan saluran kemih
d. Perubahan pola eleminasi BAB (konstipasi) berhubungan
dengan kurangnya mobilisasi; diet yang tidak seimbang;
trauma persalinan.
e. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan
immobilisasi; kelemahan.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jalan lahir.
g. Resiko gangguan proses parenting berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan tentang cara merawat bayi.
D. Rencana Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Rencana Rasional


. Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1. Gangguan Pasien a. Kaji tingkat a. Menentukan
rasa nyaman mendemonstrasika nyeri pasien. intervensi
(nyeri) b/d n tidak adanya b. Kaji kontraksi keperawatan sesuai
peregangan nyeri. uterus, proses skala nyer
perineum; Kriteria hasil: involusi b. Mengidentifikasi
luka vital sign dalam uteri. penyimpangan dan
episiotomi; batas normal, kemajuan
c. Anjurkan
involusi pasien berdasarkan
pasien untuk
uteri; menunjukkan involusi uteri.
membasahi
hemoroid; peningkatan
perineum c. Mengurangi
pembengkakan aktifitas,
dengan air ketegangan pada
payudara. keluhan nyeri
hangat sebelum luka perineum.
terkontrol,
berkemih. d. Melatih ibu
payudara lembek,
d. Anjurkan dan mengurangi
tidak ada
latih pasien bendungan ASI dan
bendungan ASI.
cara merawat memperlancar
payudara pengeluaran ASI.
secara e. Mencegah infeksi
teratur. dan kontrol nyeri
e. Jelaskan pada pada luka
ibu tetang perineum.
teknik merawat f. Mengurangi
luka perineum intensitas nyeri
dan mengganti denagn menekan
PAD secara rangsnag nyeri
teratur setiap pada nosiseptor.
3 kali sehari
atau setiap
kali lochea
keluar banyak.
f. Kolaborasi
dokter tentang
pemberian
analgesik bial
nyeri skala 7
ke atas.
2. Resiko Pasien dapat
1.       Pantau: a. Mengidentifikasi
defisit mendemostrasikan penyimpangan
volume status cairan  Tanda- indikasi kemajuan
cairan b/d membaik. tanda atau penyimpangan
pengeluaran Kriteria vital dari hasil yang
yang evaluasi: tak setiap 4 diharapkan.
berlebihan; ada manifestasi jam. b. Mengidentifikasi
perdarahan; dehidrasi,  Warna keseimbangan
diuresis; resolusi oedema, urine. cairan pasien
keringat haluaran urine
 Berat secara adekuat dan
berlebihan. di atas 30 teratur.
badan
ml/jam, kulit
setiap c. Temuan-temuan ini
kenyal/turgor
hari. mennadakan
kulit baik.
hipovolemia dan
 Status
perlunya
umum
peningkatan
setiap 8
cairan.
jam.
d. Mencegah pasien
2.     Pantau: cairan jatuh ke dalam
masuk dan cairan kondisi kelebihan
keluar setiap 8 cairan yang
jam. beresiko
3.      Beritahu terjadinya oedem
dokter bila: paru.
haluaran urine <
30 ml/jam, haus,
takikardia,
gelisah, TD di
bawah rentang
normal, urine
gelap atau encer
gelap.
4.      Konsultasi
dokter bila
manifestasi
kelebihan cairan
terjadi.
4. Perubahan Pola eleminasi a. Kaji pola a. Mengidentifikasi
pola (BAB) teratur. BAB, penyimpangan
eleminasi Kriteria hasil: kesulitan serta kemajuan
BAB pola eleminasi BAB, warna, dalam pola
(konstipasi) teratur, feses bau, eleminasi (BAB).
b/d lunak dan warna konsistensi b. Ambulasi dini
kurangnya khas feses, bau dan jumlah. merangsang
mobilisasi; khas feses, b. Anjurkan pengosongan
diet yang tidak ada ambulasi rektum secara
tidak kesulitan BAB, dini. lebih cepat.
seimbang; tidak ada feses
c. Anjurkan c. Cairan dalam
trauma bercampur darah
pasien jumlah cukup
persalinan. dan lendir,
untuk minum mencegah
konstipasi tidak
banyak terjadinya
ada.
2500-3000 penyerapan cairan
ml/24 jam. dalam rektum yang
d. Kaji bising dapat menyebabkan
usus setiap feses menjadi
8 jam. keras.

e. Pantau d. Bising usus


berat badan mengidentifikasik
setiap an pencernaan
hari. dalam kondisi

f. Anjurkan baik.

pasien e. Mengidentifiakis
makan adanya penurunan
banyak BB secara dini.
serat f. Meningkatkan
seperti pengosongan feses
buah-buahan dalam rektum.
dan sayur-
sayuran
hijau.

5. Gangguan ADL dan


1.  Kaji toleransi o Parameter
pemenuhan kebutuhan pasien terhadap menunjukkan respon
ADL b/d beraktifitas aktifitas fisiologis pasien
immobilisasi pasien terpenuhi menggunakan terhadap stres
; kelemahan. secara adekuat. parameter aktifitas dan
Kriteria hasil: berikut: nadi indikator derajat
-   Menunjukkan 20/mnt di atas penagruh kelebihan
peningkatan frek nadi kerja jnatung
dalam istirahat, catat o Menurunkan kerja
beraktifitas. peningaktan TD, miokard/komsumsi
-   Kelemahan dan dispnea, nyeri oksigen ,
kelelahan dada, kelelahan menurunkan resiko
berkurang. berat, komplikasi.
-   Kebutuhan ADL kelemahan, o Stabilitas
terpenuhi secara berkeringat, fisiologis pada
mandiri atau pusing atau istirahat penting
dengan bantuan. pinsan. untuk menunjukkan
-   frekuensi
2.       Tingkatkan tingkat aktifitas
jantung/irama istirahat, individu.
dan Td dalam batasi aktifitas o Komsumsi oksigen
batas normal. pada dasar miokardia selama
-   kulit hangat, nyeri/respon berbagai aktifitas
merah muda dan hemodinamik, dapat meningkatkan
kering berikan jumlah oksigen
aktifitas yang ada. Kemajuan
senggang yang aktifitas bertahap
tidak berat. mencegah
3.       Kaji peningkatan tiba-
kesiapan untuk tiba pada kerja
meningkatkan jantung.
aktifitas o Teknik penghematan
contoh: energi menurunkan
penurunan penggunaan energi
kelemahan/kelela dan membantu
han, TD keseimbangan
stabil/frek suplai dan
nadi, kebutuhan oksigen.
peningaktan o Aktifitas yang
perhatian pada maju memberikan
aktifitas dan kontrol jantung,
perawatan diri. meningaktkan
4.       Dorong regangan dan
memajukan mencegah aktifitas
aktifitas/tolera berlebihan.
nsi perawatan
diri.

5.       Anjurkan
keluarga untuk
membantu
pemenuhan
kebutuhan ADL
pasien.
6.       Jelaskan
pola peningkatan
bertahap dari
aktifitas,
contoh: posisi
duduk ditempat
tidur bila tidak
pusing dan tidak
ada nyeri,
bangun dari
tempat tidur,
belajar berdiri
dst.
6. Resiko Infeksi tidak a. Pantau: o Mengidentifikasi
infeksi b/d terjadi. vital sign, penyimpangan dan
trauma jalan Kriteria hasil: tanda kemajuan sesuai
lahir. tanda infeksi infeksi. intervensi yang
tidak ada, luka b. Kaji dilakukan
episiotomi pengeluaran o Mengidentifikasi
kering dan lochea, kelainan
bersih, takut warna, bau pengeluaran lochea
berkemih dan BAB dan jumlah. secara dini.
tidak ada.
c. Kaji luka o Keadaan luka
perineum, perineum
keadaan berdekatan dengan
jahitan daerah basah
d. Anjurkan mengakibatkan
pasien kecenderunagn luka
membasuh untuk selalu kotor
vulva setiap dan mudah terkena
habis infeksi.
berkemih o Mencegah infeksi
dengan cara secara dini.
yang benar o Mencegah
dan kontaminasi silang
mengganti terhadap infeksi.
PAD setiap 3
kali perhari
atau setiap
kali
pengeluaran
lochea
banyak.
e. Pertahnakan
teknik
septik
aseptik
dalam
merawat
pasien
(merawat
luka
perineum,
merawat
payudara,
merawat
bayi).
DAFTAR PUSTAKA

 Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad (1994), Obstetri


Patologi, Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad,
Bandung.
 Hacker Moore (1999), Esensial Obstetri dan Ginekologi
Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
 Hanifa Wikyasastro (1997), Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.
 http://www.slideshare.net/septianraha/asuhan-
keperawatan-pada-ny-d-dengan-post-partum-normal-di-
wilayah-kerja-puskesmas-delanggu-klaten diakses pada
tanggal 22 Juni 2014
 http://dwitasari37.blogspot.com/2013/09/post-partum.html
diakses pada tanggal 22 Juni 2014
 Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C.
Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman
Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien
Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta