Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR

MODE DARING

NAMA LENGKAP : Muhammad Dhafin Razaqa


NPM : 10070120097

GROUP :D
FAKULTAS / PRODI : TEKNIK / T. PERTAMBANGAN
NO / NAMA PERCOBAAN : F1/ Koefisien Kekentalan Zat Cair
HARI & TGL PENGUMPULAN LAP. : Rabu, 28 Oktober 2020

NAMA ASISTEN : Nadya Aulia Amanda

NILAI :

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT C- FISIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
MODUL F1
Koefisien Kekentalan Zat Cair

1. Tujuan Percobaan

Tujuan Umum
Untuk dapat memahami bahwa benda yang bergerak dalam fluida (zat cair dan gas)
akan mendapat gesekan yang disebabkan oleh kekentalan fluida tersebut.

Tujuan Khusus
1. Menentukan koefisien kekentalan (coefficient of viscosity) beberapa zat cair.
2. Memperkirakan kemurnian kadar gliserin yang dipakai.

2. Alat-alat
1. Tabung gelas berisi zat cair (gliserin)
2. Bola-bola kecil zat padat tiga buah
3. Thermometer dan areometer, masing-masing satu buah
4. Mikrometer sekrup, jangka sorong dan roll meter masing-masing satu buah
5. Sendok saringan (untuk mengambil bola dari dasar tabung)
6. Stop watch dan Neraca Ohaus, maing-masing satu buah

3. Teori
Setiap benda yang bergerak di dalam fluida akan mendapat gaya gesekan (F) yang
disebabkan oleh kekentalan fluida tersebut. Gaya gesekan ini sebanding dengan kecepatan
relatif benda terhadap fluida (v), seperti yang diperlihatkan oleh persamaan (3.1) di bawah

F = −(konstanta) × v (3.1)

Khusus untuk benda yang berbentuk bola dan bergerak didalam fluida yang tetap sifat-
sifatnya, gaya gesekan yang dialami benda dapat dirumuskan sebagai berikut,

F = −6πηrv (3.2)

dengan,
F = Gaya gesekan yang berkerja pada bola
η = Koefisien viskositas (kekentalan) dari fluida
r = Jari-jari bola
v = Kecepatan relatif bola
Rumus (3.2) diatas dikenal sebagai Hukum Stokes. Tanda minus menunjukkan arah
gaya F yang berlawanan dengan arah kecepatan v.

Pemakaian Hukum Stokes memerlukan beberapa syarat yaitu:


a. Ukuran volume fluida jauh lebih besar dibanding dengan ukuran benda
b. Tidak ada turbulensi dalam fluida
c. Kecepatan v rendah, sehingga gerakannya masih laminer

Sebuah benda padat berbentuk bola dengan rapat massa tertentu yang dilepaskan pada
permukaan zat cair tanpa kecepatan awal akan tetap mengalami percepatan. Percepatan ini
akan maningkatkan kecepatan bola. Seiring dengan bertambah besarnya kecepatan bola
maka bertambah pula gaya Stokes (gaya gesek) pada bola tersebut, sehingga pada akhirnya
bola tersebut akan bergerak dengan kecepatan tetap, yaitu setelah terjadi kesetimbangan
antara gaya berat, gaya apung (Archimedes) dan gaya stokes pada bola tersebut. Jika bola
bergerak dengan kecepatan tetap, maka berlaku persamaan,

(3.3)

dengan adalah rapat massa bola, dan adalah rapat massa fluida. Dari pers.(3.3) di atas,
dapat diturunkan persamaan,
(3.4)

dengan d adalah jarak jatuh bola dan t adalah waktu tempuh d.

4. Langkah Percobaan
1. Ukurlah diameter masing-masing bola dengan micrometer sekrup, lakukan sampai
lima kali pengukuran (lihat tabel) atau tanyakan kepada asisten anda.
2. Timbanglah masing-masing bola dengan neraca Ohaus (hanya 1 kali
penimbangan)
3. Ukurlah suhu zat cair dengan termometer sebelum percobaan dan sesudah
percobaan lalu dicatat.
4. Tempatkan kawat/karet gelang yang melingkar tabung kira-kira 5 cm diatas dasar
tabung (gunakan rollmeter/ mistar) dan satu lagi dibawah permukaan zat cair.
5. Ukurlah jarak jatuh = d (jarak antara kedua gelang karet/ kawat) untuk lima kali
kedudukan jarak (dalam 5 kali percobaan).
6. Masukan sendok saringan sampai dasar tabung dan tunggu beberapa saat sampai
zat cair diam.
7. Ukurlah waktu jatuh t (waktu jatuh bola) dengan menggunakan Stopwatch untuk
tiap - tiap bola sampai beberapa kali pengukuran.
8. Ubahlah letak gelang karet sehingga jarak d akan berubah. Ulangi langkah
pengukuran d dan t pada nomor 5 dan 7.
5. Lembar Pengamatan
6. Pengolahan Data
7. Analisis
Berdasarkan tabel 1,2, dan 3, dapat diketahui bahwa semakin panjang jaraknya maka t
nya semakin besar. Selain itu, semakin besar ̅ dan r nya maka ̅ nya semakin besar. Dari
data d dan ̅ , dapat dibuat sebuah grafik yang bisa ditentukan m nya.

M tersebut merupakan nilai dari . Selanjutnya, dapat ditentukan nilai


viskositasnya dengan cara pindah ruas menjadi , dengan g adalah 1000cm/s².
Dari perhitungan yang dilakukan, diketahui bahwa viskositas pada tabel 1 adalah 482,5 cP,
pada tabel 2 adalah 387,3 cP, dan pada tabel 3 adalah 396,6 cP.

8. Jawaban Pertanyaan Akhir


1. Jika letak tali terlalu tinggi maka akan sulit untuk menentukan kapan bola tersebut
melewati tali. Sedangkan jika letak tali terlalu rendah maka bola akan menyentuh dasar
sebelum melewati tali.
2. Tertera di bagian pengolahan data.
3. Tertera di bagian pengolahan data.
4. Tertera di bagian pengolahan data.
5. tr² tidak mempunyai harga tetap pada d yang sama untuk berbagai ukuran bola karena
nilai tr² dipengaruhi oleh jari-jari bola.
6. –
7. Suhu rata2 = 26,65º
rata2 = 422,13 cP
Perkiraan kemurnian = ±96%
8. Semakin tinggi suhu maka koefisien kekentalannya semakin kecil. Hal ini terjadi karena
zat yang kental akan semakin encer jika dipanaskan.

9. Kesimpulan
1. Jarak berbanding lurus dengan t.
2. ̅ berbanding lurus dengan ̅ dan r.
3. Rata-rata viskositas zat cair yang digunakan adalah 422,13 cP
4. Kemurnian gliserin yang digunakan sekitar 96%
5. Semakin tinggi suhu suatu cairan maka koefisien kekentalannya akan semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA
1. Darma, Eka, dkk. (2018). Panduan Praktikum Fisika Dasar Dalam Jaringan.
Bandung: Laboratorium Farmasi Terpadu Unit C-Fisika.

Anda mungkin juga menyukai