Anda di halaman 1dari 13

http://bnpds.wordpress.

com/2008/05/20/minyak-dan-gas-bumi/

Aspek Hukum Maritim, Minyak, dan Gas Bumi

Oleh:

Budiman N.P.D Sinaga

Andaikata pembangunan bangsa Indonesia

tidak hanya mengandalkan sumber daya daratan,

tetapi juga melirik laut sebagai basis ekonomi pembangunan,

mungkin perekonomian bangsa kita tidak akan seburuk dan separah saat ini.

(H. Hamzah Haz: 2002)

Pengantar

Sampai saat ini minyak dan gas bumi masih menempati posisi yang penting dalam
kehidupan manusia di seluruh dunia. Pada saat ini dapat dikatakan hampir setiap segi
kehidupan manusia berkaitan dengan minyak dan gas bumi. Bahkan beberapa di antara
kegiatan manusia sangat tergantung pada minyak dan gas bumi. Ketiadaan minyak dan
gas bumi menyebabkan beberapa kegiatan manusia tidak dapat dijalankan.

Patut disayangkan ketergantungan manusia terhadap minyak dan gas bumi telah
mendorong sebagian orang menempuh upaya apa saja untuk mendapatkan. Beberapa
perang yang pernah dan sedang terjadi, seperti terjadi Kuwait dan Iraq, konon berkaitan
erat dengan keinginan sebagian orang untuk menjamin pemenuhan kebutuhan minyak
dan gas bumi.
Seiring dengan peningkatan kebutuhan minyak dan gas bumi serta kemajuan ilmu
pengetahuan pencarian sumber-sumber minyak dan gas bumi telah mengalami
perkembangan yang pesat. Pencarian minyak dan gas bumi semula hanya dilakukan di
daratan tetapi sejak beberapa waktu lalu telah dilakukan di laut juga. Bahkan kegiatan di
laut dari hari ke hari semakin meningkat dan tidak mustahil pada masa yang akan datang
akan melebihi kegiatan di darat.

Seiring dengan berbagai kemajuan yang terjadi di bidang minyak dan gas bumi telah muncul
pula berbagai masalah baru. Kegiatan di laut tentu saja berbeda dengan kegiatan di darat.
Permasalahan yang terjadi di laut juga berbeda dengan di darat. Sesuatu kegiatan yang di darat
sudah bukan masalah lagi belum tentu demikian pula di laut. Sebagai contoh, batas-batas negara
di darat dapat dikatakan sudah cukup jelas dan mudah diketahui sedangkan di laut tidak
demikian. Batas-batas negara di laut masih menimbulkan berbagai permalahan seperti pernah
dan sedang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia.

Contoh lain mengenai pencemaran yang disebabkan minyak. Kebocoran pipa minyak di darat
lebih dapat dikendalikan sehingga kecil sekali kemungkinan melampaui batas negara lain.
Keadaa berbeda dapat terjadi di laut. Kebocoran pipa minyak di laut suatu negara sangat
mungkin akan mencemari wilayah negara lain mengingat air laut yang leluasa mengalir ke
berbagai negara. Dengan demikian pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan minyak
dan gas di laut semakin penting, terutama dari aspek hukum. Akan tetapi tidaklah mungkin
membahas secara keseluruhan aspek hukum maritim, minyak, dan gas bumi dalam tulisan sangat
ringkas dan pertemuan yang singkat. Untuk itu telah dipilih beberapa hal yang dianggap paling
perlu diketahui mengenai aspek hukum dari maritim, minyak, dan gas bumi.

Hukum Maritim
Pada saat ini belum ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus dan lengkap
mengatur mengenai maritim. Peraturan perundang-undangan mengenai maritim masih bersifat
sektoral. Mengingat keterbatasan ruang dan waktu pada kesempatan ini hanya akan dikemukan
beberapa hal yang dianggap penting mengenai maritim, terutama yang menyangkut hukum laut.
Keberadaan hukum laut sangat diperlukan oleh masyarakat internasional. Adapun
alasan yang dapat dikemukakan antara lain kenyataan bahwa banyak negara yang
memandang laut sebagai milik bersama (common property). Kenyataan ini jika tidak
segera diatur dapat menjadi sumber permasalahan antara negara-negara yang merasa
mempunyai hak untuk memanfaatkan wilayah laut yang sama.
Kekuatiran tentang kemungkinan terjadi permalahan di laut telah mendorong bangsa-
bangsa untuk membuat peraturan. Peraturan-peraturan tentang hukum laut sudah cukup
lama ada. Pada abad ke-12 telah dikenal Hukum Laut Rhodia. Embrio hukum laut ini
bahkan sudah dikenal sejak abad ke-7 di wiyah Laut Tengah (Lex Rhodia). Selain itu
dikenal pula hukum laut di wilayah Atlantik yang dihimpun dalam Rolles d’Oleron.
Demikiam pula di Indonesia sejak lama telah dikenal hukum yang berkaitan dengan laut
seperti hukum laut Amanna Gappa di daerah Bugis Sulawesi Selatan sebagai hukum
pelayaran dan perdagangan.
Memasuki abad ke-16 dan ke-17 beberapa negara di Eropa yang mengklaim sebagai
negara maritim, terutama Portugal dan Spanyol, ingin menguasai dunia dengan membagi
dua lautan, setengah menjadi milik Portugal dan setengah lagi milik Spanyol. Keinginan
Portugis dan Spanyol ternyata tidak berjalan mulus karena ditentang oleh negara-negara
lain seperti Inggris dan Belanda.
Klaim negara-negara atas lautan merupakan upaya untuk memperluas kedaulatan negara
ke arah laut. Pertama-tama perluasan itu sejauh 3 mil laut. Konsep perluasan kedaulatan
negara di laut sejauh 3 mil pertama kali diperkenalkan oleh Cornelius van Bynkershoek
melalui buku Dominio Marts pada tahun 1702. Suatu negara dapat memperluas
kedaulatan ke laut sampai ke kapal-kapal di laut sejauh tembakan meriam. Jangkauan
tembakan meriam pada abad ke-18 rata-rata sejauh 3 mil.

Hukum laut modern berawal pada saat proklamasi Presiden Amerika Serikat, Truman,
pada tanggal 28 September 1945 yang mengemukakan dua hal pokok. Pertama, klaim
mengenai landas kontinen; dan kedua, tentang perikanan pantai yang dikenal dengan
Presidential Proclamation Concerning Coastal Fisheries in Certain Areas of the High
Seas.
Proklamasi Truman berisikan ketentuan tentang pembentukan zona konservasi di
kawasan laut lepas tertentu yang bersambung dengan pantai Amerika Serikat. Proklamasi
Truman ini memberi angin segar bagi negara-negara lain untuk melakukan perlindungan
terhadap laut yang berhubungan dengan wilayahnya sebagai bagian dari kepentingan
ekonomi yang lebih besar.

Pada abad ke-20 konferensi internasional pertama yang diadakan untuk membicarakan hukum
laut adalah Konferensi Kodifikasi Den Haag pada tanggal 13 Maret – 12 April 1930 dengan pokok
bahasan tentang laut teritorial. Akan tetapi dalam konferensi ini tidak tercapai kesepakatan
mengenai batas laut teritorial, sebanyak 20 negara setuju batas laut teritorial 3 mil, 12
negara setuju 6 mil, sedangkan negara-negara Skandinavia setuju 4 mil. Konferensi ini
dilaksanakan di bawah naungan Liga Bangsa-Bangsa (LBB).

Setelah konferensi di bawah LBB mengalami kegagalan dirasakan perlu


mengadakan konferensi hukum laut di bawah naungan PBB. Di bawah PBB dilaksanakan
UNCLOS I (United Nations Convention on The Law of The Sea) di Jenewa pada tanggal
24 Februari – 27 April 1958. Konferensi dihadiri 700 delegasi dari 86 negara, termasuk
Indonesia. Dalam rangka menyambut konferensi tersebut, pada tanggal 13 Desember
1957 Perdana Menteri Djuanda memproklamasikan hukum laut Indonesia yang dikenal
dengan Deklarasi Djoeanda.

Konferensi tersebut berhasil menyetujui 4 buah konvensi, yaitu:

1. Konvensi tentang laut teritorial dan zona tambahan (convention on territorial sea and
the contigous zone).

2. Konvensi tentang perikanan dan konservasi sumber daya alam hayati dan laut lepas
(convention on fishing and conservation of the living resources of the high sea).

3. Konvensi tentang hukum laut lepas (convention on the high sea).

4. Konvensi tentang landas kontinen (convention on the continental shelf).

Selain itu konferensi juga menyetujui 9 resolusi yang meliputi tes nuklir di laut lepas,
polusi laut lepas oleh bahan-bahan radio aktif, konservasi perikanan internasional,
kerjasama dalam upaya-upaya konservasi, pembunuhan oleh manusia terhadap makhluk
hidup kelautan, situasi khusus tentang penangkapan ikan pantai, ketentuan-ketentuan
tentang perairan sejarah, dan menentukan waktu penyelenggaraan UNCLOS II.
Akan tetapi UNCLOS I gagal untuk menetapkan lebar laut teritorial dan batas zona
perikanan karena usulan masing-masing negara peserta tidak mendapatkan dukungan
mayoritas. Negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, negara-negara Arab dan Blok Uni
Soviet menghendaki batas laut teritorial 12 mil. Sedangkan negara-negara maritim di
Eropa menghendaki 3 mil. Oleh karena tidak tercapai kesepakatan beberapa negara
pantai dan kepulauan termasuk Indonesia kemudian menetapkan secara sepihak batas
laut teritorial. Secara umum sebagian besar dari negara pantai membatasi tuntutan sampai
12 mil laut kecuali beberapa negara seperti Chile, Equador, dan Peru yang menuntut
sampai 200 mil.
Pada tanggal 6 – 10 Desember 1982 di Montego Bay Jamaica ditandatangani Convention
on the Law of the Sea III yang merupakan aturan-aturan hukum laut yang panjang, terdiri
dari 320 pasal dan 9 annex. Konvensi hukum laut 1982 ini ditandatangani oleh 119
negara.

Sebanyak 80 negara pada UNCLOS III bersepakat untuk menentukan batas 12 mil untuk
laut teritorial yang diukur dari garis-garis pangkal. Indonesia pun mengadopsi dan
menggunakan ketentuan ini sebagai batas dengan ratifikasi melalui UU No. 17 rahun 1985.

Zona tambahan atau contiguous zone merupakan bagian tradisional dari laut lepas tetapi negara
dapat melakukan fungsi-fungsi tertentu di dalam zona ini. Negara-negara pantai dapat
melakukan pengawasan yang diperlukan untuk mencegah berbagai pelanggaran yang terjadi
terhadap peraturan douane, pajak, imigrasi, dan kesehatan di laut teritorialnya dan
menghukum para pelanggar ketentuan tersebut. Zona tambahan diatur sejauh 24 mil dari
garis pangkal.

Zona ekonomi ekslusif (ZEE)merupakan laut yang bersambung dengan laut teritorial dengan
luas tidak lebih dari 200 mil. Adapun hak-hak negara pantai di ZEE adalah:
1. Hak kedaulatan (souvereignth rights) untuk mengadakan eksploitasi, konservasi dan
mengurus sumber kekayaan alam hayati dan nonhayati dari perairan, tanah, dasar laut
dan tanah di bawahnya.

2. Hak kedaulatan atas eksplorasi dan eksploitasi produksi energi air, angin.

3. Yurisdiksi untuk pendirian dan pemanfaatan pulau buatan, instalasi dan bangunan, riset
ilmiah, perlindungan dan pem-binaan lingkungan maritim.

Selain itu negara pantai berhak untuk menegakkan perundang-undangan dan hukum
dengan berbagai cara, yaitu:

1. Menaiki kapal untuk melakukan inspeksi, melakukan penahanan, dan mengadili kapal
beserta awak asing yang melakukan pelanggaran.

2. Jika mereka yang ditahan itu sudah membayar jaminan, kapal dan awaknya segera
dibebaskan.

3. Ketika melakukan penangkapan kapal asing, negara pantai tersebut wajib memberitahu
perwakilan negara yang merupakan negara asal dari kapal tersebut, dengan
memberitahukan tindakan yang diambil serta denda yang dikenakan.

4. Bila tidak diatur dalam perjanjian internasional, dalam menerapkan hukuman negara
pantai tidak diperbolehkan untuk memenjarakan awak kapal.

Landas kontinen terdiri dari dasar laut dan tanah di bawahnya yang menyambung dari
laut ter-torial negara pantai, melalui kelanjutan alamiah dari wilayah daratannya sampai
pada ujung luar tepian kontinen atau sampai pada jarak 200 mil laut dari garis pangkal,
ketika mengukur laut teritorial.

Negara-negara pantai memiliki kedaulatan atas dasar laut dan tanah di bawahnya serta
hak eksklusif untuk mengatur segala sesuatu yang bertalian dengan eksploitasi sumber
daya alam.
Laut lepas adalah seluruh bagian laut yang tidak termasuk laut pedalaman dan laut teritorial
suatu negara. Laut Iepas terbuka untuk semua bangsa dan tidak ada satu bangsa atau satu
negara pun yang memilikinya secara syah. Di laut lepas terdapat beberapa kebebasan,
seperti:

1. Kebebasan pelayaran

2. Kebebasan melakukan penangkapan ikan

3. Kebebasan untuk meletakan kabel-kabel maupun pipa-pipa bawah laut

4. Kebebasan penerbangan.

5. Kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lain-nya yang diizinkan
hukurn internasional sesuai dengan ke-tentuan Bab VI dan XII.

6. Kebebasan untuk melakukan riset ilmiah sesuai ketentuan-ketentuan Bab VI dan XIII.

Indonesia dan Hukum Laut

Laut Indonesia semula diatur dalam Ordonansi 1939 tentang Wilayah Laut dan Lingkungan
Maritim (Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnantie 1939) yang menetapkan
laut teritorial selebar 3 mil. Lebar laut teritorial itu kemudian ditambah menjadi 12 mil
berdasarkan pengumuman Pemerintah Indonesia pada tanggal 13 Desember 1957 atau lebih
dikenal dengan sebutan Deklarasi Djuanda. Dengan Deklarasi ini, laut yang tadinya menjadi
bagian dari laut lepas menjadi laut teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia. Deklarasi
Djuanda ini telah menjadi dasar lahirnya Wawasan Nusantara.

Penetapan Peraturan Pemerintah No. 4 tahun I960 tentang perairan Indonesia ini
merupakan langkah besar Pemerintah Indonesia dalam upaya melindungi laut. Menghadapi
kegagalan UNCLOS I dalam menetapkan batas laut teritorial, Pemerintah Indonesia membuat
langkah bagus dengan Perpu tersebut untuk menghadapi UNCLOS II tahun I960. Menurut
Muckhtar Kusumaatmadja, dengan peraturan ini luas wilayah Indonesia berubah menjadi
5.193.250 Km2 (darat dan laut) yang sebelumnya cuma 2.027.087 km2. Dengan kata lain
terjadi penambahan luas wilayah RI sebesar 3.166.163 km2.

Menurut Pasal 55 Konvensi Hukum Laut 1982 (The United Nations Convention on the Law of
the Sea/UNCLOS), ZEE adalah suatu daerah di luar dan berbatasan dengan laut teritorial
yang tunduk pada rejim hukum khusus, di mana hak-hak dan yurisdiksi negara pantai
dan hak-hak serta kebebasan negara-negara lain ditetapkan oleh ketentuan-ketentuan
yang relevan dalam konvensi. ZEE tidak boleh melebihi 200 mil laut diukur dari garis
pangkal di mana lebar laut teritorial mulai diukur.
Ketentuan-ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 memberikan kewenangan kepada
suatu negara untuk menegakkan kedaulatan di laut. Kendati demikian, negara tersebut
juga perlu memperhatikan kepentingan negara lain yang memanfaatkan laut untuk
kepentingan pelayaran.
Alur laut kepulauan (sea lane) adalah alur laut yang dilalui oleh kapal atau pesawat
udara asing untuk melaksanakan pelayaran dan penerbangan dengan cara normal semata-
mata untuk transit yang dilakukan terus-menerus, langsung dan secepat mungkin serta
tidak terhalang, melalui atau di atas perairan kepulauan dan laut teritorial yang
berdampingan atau suatu bagian laut lepas atau ZEE lain.
Penentuan alur laut kepulauan merupakan keputusan yang diterima oleh masyarakat
laut dunia internasional sebagai aktualisasi tata guna laut dalam hal lalu lintas alat
transportasi sesuai dengan UNCLOS 1982. Konvensi 1982, mengenal 3 jenis hak lintas
bagi kapal-kapal asing jika sedang melalui ataupun berada di bawah yurisdiksi suatu
negara atau pada laut teritorial yang memanfaatkan selat untuk pelayaran internasional
yaitu:

1. Hak lintas damai (innocent passage).

2. Hak lintas transit (transit passage)

3. Hak lintas alur laut kepulauan (archipelagic sea lanes passage).


Selain itu, ketentuan tentang alur-alur laut kepulauan juga menjamin hal-hal sebagai
berikut:

1. Hak lintas alur laut kepulauan diperuntukkan bagi kapal dan pesawat udara jenis apa
pun (all ships and aircraft).

2. Rute penerbangan hanya akan ada di atas (there above) alur-alur laut kepulauan.

3. Alur-alur kepulauan harus cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat asing yang
terus-menerus dan langsung.

Indonesia telah menetapkan alur-alur laut kepulauan Nusantara pada Rapat Kerja
Nasional tentang ALKI di Cisarua pada tanggal 17-19 Januari 1995, berupa 4 buah
ALKI Utara-Selatan.

1. ALKI 1: Selat Malaka — Laut Singapura — Laut Natuna — Laut Cina Selatan.

2. ALKI 2: Selat Sunda — Selat Karimata — Laut Natuna -Laut Cina Selatan/Laut
Singapura.

3. ALKI III: Selat Lombok — Selat Makasar — Laut Sulawesi.

4. ALKI IV: Laut Maluku – Laut Seram – Laut Banda – Selat Ombai — Laut
Sawu/Laut Timor/Laut Arafura.

Di laut teritorial negara pantai mempunyai kedaulatan penuh untuk mengatur, termasuk
dasar laut dan udara di atas wilayah tersebut, disertai dengan kewajiban untuk menjamin
hak lintas damai bagi kapal-kapal asing. Kedaulatan ini berarti juga hak untuk menguasai
sepenuhnya seluruh sumber daya alam hayati dan nonhayati yang ada di wilayah laut
teritorial tersebut.
Indonesia yang memiliki batas 12 mil laut teritorial memiliki kedaulatan penuh untuk
melindungi sumber-sumber ekonomi yang dihasilkan oleh laut tersebut. Penguasaan ini
merupakan suatu penambahan sumber ekonomi dari laut yang berasal dari wilayah laut
teritorial.

Sumbangan ekonomi dari laut ini semakin bertambah setelah Indonesia berhasil
memperjuangkan statusnya sebagai negara kepulauan melalui konsep Wawasan Nusantara
yang telah diakui secara internasional dalam UNCLOS III, tahun 1982. Dengan konsep
ini wilayah Indonesia dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara
darat, laut, dan udara. Demikian pula tambahan penguasaan Zona Ekonomi Ekslusif
(ZEE) sejauh 200 mil yang diukur dari garis laut teritorial merupakan sumber ekonomi
yang dapat diandalkan untuk memakmurkan rakyat Indonesia melalui laut.

Penambahan dan perluasan wilayah laut Indonesia bisa menjadi dasar tumpuan
pembangunan. Sebagai konsekuensi penguasaan wilayah yang begitu besar diperlukan
hukum laut untuk melindungi sumber-sumber ekonomi. Perlindungan tersebut terdiri
atas:

1. Perlindungan terhadap sumber mineral laut

2. Perlindungan terhadap industri perikanan

3. Perlindungan terhadap transportasi laut

4. Perlindungan terhadap wisata bahari

5. Perlindungan terhadap pelabuhan.

Kelima sumber ekonomi di atas harus betul-betul dilindungi dengan baik melalui
penegakan hukum karena laut merupakan sumber ekonomi yang dapat diandalkan pada
hari ini maupun masa yang akan datang.
Penambahan luas lautan dapat atau telah menimbulkan sengketa internasional antara
Indonesia dan beberapa negara yang selama ini bersentuhan dengan ZEE karena
persoalan ekonomi. Misalnya, kapal-kapal berbendera asing yang selama ini melakukan
penangkapan ikan di wilayah ZEE jadi mengalami kesulitan karena setelah wilayah tersebut
menjadi bagian Indonesia maka setiap bentuk kegiatan di zona ini harus mendapatkan
restu dari Pemerintah Indonesia.

Potensi konflik di laut antara Indonesia dan negara lain mecakup hal-hal sebagai
berikut:

1. Dengan Australia, Vietnam dan Philipina mencakup masalah penetapan landas


kontinen dan penentuan batas ZEE.
2. Dengant Malaysia mencakup penentuan batas teritorial, ZEE, dan penentuan batas
landas kontinen.
3. Dengan Papua Nugini, India, Thailand dan Palau, mencakup penentuan batas
ZEE.
4. Dengan Singapura, mencakup penetapan batas teritorial.

Menurut Etty R. Agoes ada tiga alasan utama mengapa Indonesia perlu mengubah
paradigma kehidupan negara menuju negara maritim:

1. Kewilayahan: Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, karena dua


pertiga wilayahnya merupakan laut. Indonesia memiliki 17.508 pulau dengan
panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia (setelah Kanada), yaitu 81.290 km
(minus Timor-Timur). Luas wilayah perairan kita sebesar 5,8 juta’km2yang terdiri dari
3,1 juta km2 perairan Nusantara dan 2,7 jura km2 perairan ZEE.

2. Sumber daya alam laut menyimpan potensi sumber daya alam baik hayati maupun
nonhayati serta energi gelombang laut yang sangat kaya sedangkan di darat sudah
berkurang.

3. Sejarah: Indonesia pernah mengalami kejayaan laut pada masa Majapahit, Sriwijaya,
Ternate dan Tidore. Itu tercermin dari kekuatan laut (sea power) dalam bentuk
angkutan laut dan pelayaran niaga yang kuat, dengan budaya yang lebih kosmo-polit,
terbuka, terintegrasi, dan outward looking karena budaya pelaut yang tidak terbatas
dengan wilayah daratan yang sempit.

Perlu diingatkan mengenai paradigma bangsa Indonesia yang selama ini memandang
provinsi, kabupaten, dan kota hanya berbasis daratan. Bila diperhatikan ada provinsi-
provinsi yang ternyata dominasi lautan. Dengan kata lain provinsi-provinsi tersebut
merupakan provinsi-provinsi yang berbasis maritim, seperti Sulawesi Utara, Maluku,
Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tengah, Sulawesi Tenggara, Bangka Belitung, dan Riau Kepulauan.

Kenyataan yang sama terjadi pada kabupaten atau kota. Banyak kabupaten atau kota
yang memiliki wilayah laut lebih dominan sehingga dapat digolongkan sebagai
kabupaten atau kotamadya yang berbasis maritim. Penanganan tata ruang provinsi,
kabupaten, dan kota yang berbasis maritim tidak boleh disamakan dengan yang berbasis
daratan. Di daerah yang berbasis maritim sumber daya maritim harus menjadi tumpuan
untuk membangun wilayah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Abrar Saleng, Hukum Pertambangan, Yogyakarta: UII Press, 2004.

Boer Mauna, Hukum Internasional, Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Bandung: Alumni, 2005.

Chairul Anwar, Horizon Baru Hukum Laut Internasional, Konvensi Hukum Laut 1982,
Jakarta: Djambatan, 1989.

Huala Adolf, Hukum Penyelesian Sengketa Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2004.

__________, Hukum Perdagangan Internasional, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005

Ida Bagus Wyasa Putra, Aspek-aspek Hukum Perdata Internasional dalam Transaksi
Bisnis Internasional, Refika Aditama, Bandung, 2000.

Joko Subagyo, P, Hukum Laut Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Laode M. Kamaluddin, Pembangunan Ekonomi Maritim di Indonesia, Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama, 2002.

Rudi M. Simamora, Hukum Minyak dan Gas Bumi, Jakarta: Djambatan, 2000.

Salim H.S, Hukum Pertambangan di Indonesia, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005.


Starke, J.G, Hukum Internasional 1, alih bahasa Sumitro L.S Danuredjo, Jakarta: Aksara
Persada Indonesia, 1989.