Anda di halaman 1dari 3

Learning Jurnal

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan : XV
Nama Mata Pelatihan : Akuntabilitas
Nama Peserta : Abdu Syahbana Junaidi, A.Md.Kep
Nomor Daftar Hadir : 01
Lembaga Penyelenggara
Pelatihan : BPSDM KALTIM

A. Pokok Pikiran
Akuntabilitas menurut KBBI adalah bertanggung jawab, keadaan yang dapat dimintai
pertanggungjawaban. Sedangkan akuntabilitas dalam kehidupan pelayanan public bermakna
kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang
menjadi amanahnya dengan menjamin terwujudnya nilai-nilai public, diantaranya Mampu
mengambil pilihan yang tepat dan benar, menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam
politik praktis, Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan public, . Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens, 2007), yaitu:
1. Untuk menyediakan kontrol demokratis (peran demokrasi);
2. Untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional);
3. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar).
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu: akuntabilitas vertikal (vertical
accountability), dan akuntabilitas horizontal (horizontal accountability). Contoh akuntabilitas
vertikel yaitu seorang PNS yang mempertanggungjawabkan hasil laporannya ke pimpinannya.
Contoh akuntabilitas Horizontal misalkan seorang PNS yang bekerjasama dengan sejawatnya
dalam melaksankan tugasnya.
Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu akuntabilitas personal, akuntabilitas
individu, akuntabilitas kelompok, akuntabilitas organisasi, dan akuntabilitas stakeholder
Dalam menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel, ada beberapa aspek yang harus
diperhatikan yaitu: Kepemimpinan, Transparansi, Integritas, Tanggung Jawab
(responsibilitas), Keadilan, Kepercayaan, Keseimbangan, Kejelasan, dan Konsistensi.
Langkah yang harus dilakukan dalam membuat framework akuntabilitas di lingkungan kerja
PNS yaitu: Tentukan Tanggung Jawab dan Tujuan, Rencanakan Apa Yang Akan Dilakukan
Untuk Mencapai Tujuan, Lakukan Implementasi dan Monitoring Kemajuan, Berikan Laporan
Secara Lengkap, serta Berikan Evaluasi dan Masukan Perbaikan.
Akuntabilitas tidak mungkin terwujud apabila tidak ada alat akuntabilitas. Di Indonesia, alat
akuntabilitas antara lain adalah Perencanaan Strategis (Strategic Plans), Kontrak Kinerja,dan
Laporan Kinerja

Profil Tokoh
Tokoh yang menurut saya yang menjadi inspirasi dalam penerapan nilai akuntabilitas adalah
Baharuddin Lopa. Mantan Jaksa agung yang dikenal sebagai jaksa agung yang kelewat jujur
dan sederhana. Ada banyak cerita yang menggambarkan bagaiamana baharuddin lopa
memegang teguh akuntabilitas dalam melaksanakan tugasnya. Ketika baru diangkat sebagai
Kajati Sulawesi Selatan, Lopa ingatkan publik melalui surat kabar, “Jangan berikan uang
kepada para jaksa. Jangan coba-coba menyuap para penegak hukum, apapun alasannya!”
Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang dulunya berbisnis mobil, Lopa bukan tipe pejabat
yang suka menerima upeti. Dia tidak suka memeras. Selain itu contoh kecil yang
menggambarkan bagaimana Baharuddin Lopa menghindari konflik kepentingan adalah
telepon dinas di rumahnya selalu dikuncinya. Lopa melarang siapapun di rumahnya
memakainya. Untuk itu, Lopa sampai memasang telepon koin di rumah jabatannya, agar tidak
campur aduk kepentingan pribadi dan dinas. Lopa melakukan itu bukan karena dia melarat.
Setidaknya, Lopa pernah mencatatkan kekayaan pribadinya senilai Rp1,9 miliar dan simpanan
$20 ribu. Namun, Lopa hanya ingin hidup sederhana. Tak hanya sederhana, Lopa rupanya tak
ingin memakai barang milik negara juga. Dari pemaparan tersebut terlihat bagaiamana bapak
Baharuddin Lopa menerapkan prinsip-prinsip dasar akuntabilitas sebagai seorang pemimpin
yang memiliki komitmen yang tinggi, membuat tidak hanya masyarakat percaya, tetapi para
petinggi-petinggi negara dimana beliau dipercaya memegang jabatan-jabatan strategis mulai
dari bupati sampai ketua kejaksaan agung. Sebagai orang hukum tentunya beliua sangat
menjunjung tinggi kewajiban dan kepatuhan hukum, memegang teguh bahwa ada konsekuensi
hasil dari suatu tindakan, dalam wujud perorangan maupun institusi. Dan terakhir menghindari
konflik kepentingan baik yang menyangkut keuangan dan non keuangan.
B. Penerapan
Sebagai seorang perawat, penerapan Nilai Dasar ASN yaitu akuntabilitas dapat dilakukan pada
saat melakukan pelayanan public. Di dalam diri harus ditanamkan etika dan moral yang baik,
pembentukan integritas yang kuat, kejujuran, profesionalisme, adil tanpa diskriminasi. Begitu
pula dengan sejawat, dapat membangun integritas Kerjasama yang baik dalam melakukan
perawatan terhadap klien.. Pada aspek transparansi atau kebutuhan informasi, perawat dapat
memberikan informasi mengenai kondisi pasien dan perawatannya asal tidak melewati kode
etik profesi dan dapat di pertanggungjawabkan. Dalam melakukan perawatan terhadap klien,
perawat memberikan asuhan keperawatan yang komperhensif, bertanggung jawab atas
perawatan pasien harus adil tanpa mendiskiriminasi, membedakan suku, agama, budaya sesuai
kode etik profesi yang berlaku. Perawat dalam prakteknya harus menjaga diri agar tidak
terjebak dalam praktek kecurangan (fraud) dan korupsi, semisal gratifikasi, walaupun
terkadang pasien ingin memberikan reward, namun kita harus menolak karena negara telah
menjamin kesejahteraan ASN dalam melayani public.

Anda mungkin juga menyukai