Anda di halaman 1dari 8

6th ACE Conference.

29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

OPTIMALISASI VOUTE PADA BALOK


BENTANG PANJANG

Muhammad Ridwan1, Definda Helka Septiawan2

1
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Padang
E-mail : mhd.rid.wan.itp@gmail.com
2
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Padang
E-mail : defindaseptiawan27@gmail.com

ABSTRAK

Balok bentang panjang biasanya akan mengakibatkan dimensi semakin besar. Dengan semakin
besarnya dimensi akan mejadikan struktur semakin berat dan semakin mahal. Salah satu
alternatif untuk mengurangi beban dan biaya pembuatan balok bentang panjang adalah dengan
adanya penambahan voute pada tumpuan balok. Penambahan voute pada balok tidak berarti
mengurangi kekuatan balok. Efisiensi panjang voute dapat dilakukan dengan pemodelan beda
hingga dan menganalisa nilai nilai momen dan lendutannya tanpa harus menghilangkan
kekuatan balok tersebut. Metode penyelesaian numerik untuk mencari solusi persamaan
differensial parsial dengan melakukan perubahan secara beruntun dengan batasan tinggi balok
dan voute antara 1/8 - 1/16 bentang. Hasil yang di peroleh dengan tahapan diatas untuk bentang
panjang maka dapat di gunakan tinggi balok adalah 1/16 L dan dan tinggi voute adalah 1/8 L dan
0.25 L panjang Voute. Jarak dari tumpuan yang menghasilkan momen = 0 yang memiliki
lendutan lapangan kecil dan momen tumpuan dan lapangan optimal atau proporsional.

Kata Kunci : Balok non prismatis, finite difference, voute

1. PENDAHULUAN

Dalam hal perencanaan struktur, pada umumnya seorang perencana struktur memilih bentuk
strukutur yang prismatis, artinya struktur yang memiliki penampang melintang yang seragam
sepanjang bentang struktur. Terkadang karena kebutuhan tinggi ruangan yang terbatas,
berakibat tinggi elemen balok harus pada suatu ukuran tertentu. Namun demikian dengan
tidak mengurangi tingkat keamanan dari suatu elemen struktur balok, dapat saja pada tempat-
tempat tertentu balok mempunyai tinggi yang lebih dari tempat lain pada bentang yang sama.
Jenis struktur balok dengan penampang melintang yang tidak seragam tersebut disebut
dengan istilah balok non prismatis. (Agus, 2011)

Struktur yang umumnya terdiri atas balok dan kolom tentu tidak lepas dengan apa yang
dimaksud lendutan dan tekuk. Lendutan atau defleksi yang besar ini harus dicegah agar balok
masih dapat berfungsi dan memberikan kenyamanan untuk berpijak bagi para penghuninya.
(Kusdiman 2009)

188
6th ACE Conference. 29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

2. STRUKTUR BALOK

Balok adalah bagian dari struktur sebuah bangunan yang kaku dan dirancang untuk
menanggung dan mentransfer beban menuju elemen-elemen kolom penopang. Selain itu ring
balok juga berfungsi sebag pengikat kolom-kolom agar apabila terjadi pergerakan kolom-
kolom tersebut tetap bersatu padu mempertahankan bentuk dan posisinya semula. Ring balok
dibuat dari bahan yang sama dengan kolomnya sehingga hubungan ring balok dengan kolom.

2.1 Lendutan/Defleksi

Sumbu sebuah balok akan berdefleksi (atau melentur) dari kedudukannya semula apabila
berada di bawah pengaruh gaya terpakai. Defleksi Balok adalah lendutan balok dari posisi
awal tanpa pembebanan. Defleksi (Lendutan) diukur dari permukaan netral awal ke
permukaan netral setelah balok mengalami deformasi. Balok biasanya horizontal, maka
defleksi merupakan penyimpangan vertical seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Defleksi Pada Balok Sederhana


Besarnya defleksi ditunjukan oleh pergeseran jarak y. Besarnya defleksi y pada setiap nilai x
sepanjang balok disebut persamaan kurva defleksi balok.

2.2 Balok Non Prismatis

Balok non prismatis adalah balok–balok yang mempunyai penampang berbeda pada tiap
bagian–bagiannya dan balok–balok tirus. Bila sebuah balok mempunyai dimensi penampang
yang berubah secara tiba–tiba, maka pada titik dimana perubahan tersebut akan terjadi
konsentrasi tegangan lokal, akan tetapi tegangan lokal ini tidak mempunyai pengaruh yang
berarti terhadap perhitungan lendutan.

Jenis-jenis balok non prismatis yang sering digunakan dalam kontruksi.

Gambar 2. Jenis-jenis balok non prismatis

3. METODE PENELITIAN

3.1 Finite Difference

Finite Difference Method meru-pakan metode penyelesaian numerik untuk mencari solusi
persamaan differensial parsial. Metode ini menye-lesaikan perssamaan differensial dengan
membagi bidang menjadi sejumlah berhingga pias segiempat. R. Sri Pawening (2005)

189
6th ACE Conference. 29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

menggunakan pene-rapan metode finite difference dalam persamaan perpindahan panas


sebuah batang besi secara konduksi dengan persamaan parabolic skema eksplisit, implisit,
dan Crank-Nicholson.

Tabel 1. Persamaan finite difference untuk hubungan defleksi dan beban q.


Letak titik yang ditinjau Koefisien didepan persamaan yaitu E/h4
No.
(yaitu titik n) yn-2 yn-1 yn yn+1 yn+2
-2(In-1 + -2(In +
In-1 (In-1 + 4In + In+1 In+1
1 In) In+1) qn
1 -4 6 -4 1
-2(In +
---- ---- 4In + In+1 In+1
2 In+1) qn
5 -4 1
(2In-1 + 4In + -2(In +
---- ---- In+1
3 In+1 In+1) qn
7 -4 1
---- ---- In+1 -2In+1 In+1
4 qn
1 -2 1
-2(In +
---- -2In (4In + In+1) In+1
5 In+1) qn
-2 5 -4 1

Dan untuk mencari nilai momen dan ledutan pada balok dapat dirumuskan sebagai berikut.

............................................................................... (1)

3.2 Prosedur Penelitian

190
6th ACE Conference. 29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

Gambar 3. Bagan alur perencanaan balok non prismatik

4. HASIL & PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Analisis Peren-caaan Balok Non Prismatis

Dalam merencanakan balok non prismatis bentang panjang seperti bentang 10 meter yang
digunakan perlu dilakukan analisis dimensi penampang dan jarak voute yang efisien atau
yang cocok digunakan untuk balok bentang panjang. Dimensi yang digunakan untuk
perencanaan adalah 1/8L – 1/16L, 1/9L – 1/15L, 1/10L – 1/14L, 1/11L – 1/13L, 1/12L –
1/12L, 1/13L – 1/11L, 1/14L – 1/10L, 1/15L – 1/9L, 1/16L – 1/8L. Sedangkan jarak voute
yang perlu digunakan adalah 1 meter, 1,25 meter, 2 meter, 2,5 meter 3,3 meter, dan 5 meter,
sedangkan 10 meter untuk balok normal.

Setelah dilakukan analisis per-bandingan nilai momen dan ledutan pada kombinasi dimensi
balok dan voute didapatkan dimensi yang cocok untuk bentang 10 meter adalah 1/16L – 1/8L
dengan panjang voute 1/4L = 2,5 meter.

4.2 Perhitungan Tinggi Balok Pada Setiap Segmen

Gambar 4. Gambar balok rencana


b = Lebar balok setiap segmen (cm)

L = Panjang balok (m)

Tinggi balok tiap segmen dihitungan dengan cara :

............................................................................ (2)
191
6th ACE Conference. 29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

4.3 Inersia Balok Pada Setiap Segmen

I = 1/12 x b x h3 ........................................................................................................... (3)

Inersia dihitungan di setiap titik segmen, dikarnakan tinggi balok pada setiap segmen berbeda
maka perlu di hitung inersia balok pada setiap segmen.

4.4 Perhitungan Beban

Beban pada balok :

qu = (DL x 1,2) + (LL x 1,6) ........................................................................................ (4)

Diketahui :

bj.beton = 2400 kg/m3

q = 250 Kg/m2

b = 0,5 m

4.5 Perhitungan Hubungan Lendutan dan Beban

Perhitungan hubungan lendutan dan beban berpatokan pada (Tabel 2.1), dari tabel tersebut
dijelaskan bahwa persamaan dihitung berdasarkan titik yang ditinjau atau titik n. Yang mana
hasil y yang didapatkan pada matriks , diinverskan dan dikalikan dengan beban didapatkan
nilai lendutan.

Tabel 2. Nilai lendutan.


y0 = 0 cm
y1 = 0,002 cm
y2 = 0,009 cm
y3 = 0,023 cm
y4 = 0,042 cm
y5 = 0,069 cm
y6 = 0,107 cm
y7 = 0,146 cm
y8 = 0,179 cm
y9 = 0,201 cm
y10 = 0,209 cm
y11 = 0,201 cm
y12 = 0,179 cm
y13 = 0,146 cm
y14 = 0,107 cm
y15 = 0,069 cm
y16 = 0,042 cm
y17 = 0,023 cm
y18 = 0,009 cm
y19 = 0,002 cm
y20 = 0 cm

192
6th ACE Conference. 29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

Dari tabel tersebut dapat digrafikkan sebagai berikut.

Gambar 5. Lendutan yang terjadi pada balok rencana

4.6 Menentukan Momen

Untuk menentukan momen pada balok digunakan rumus momen pada persamaan 1.

Tabel 3. Nilai momen


M0 = -10946 Kg.m
M1 = -7388 Kg.m
M2 = -4862 Kg.m
M3 = -3085 Kg.m
M4 = -1821 Kg.m
M5 = -875 Kg.m
M6 = -102 Kg.m
M7 = 499 Kg.m
M8 = 928 Kg.m
M9 = 1186 Kg.m
M10 = 1272 Kg.m
M11 = 1186 Kg.m
M12 = 928 Kg.m
M13 = 499 Kg.m
M14 = -102 Kg.m
M15 = -875 Kg.m
M16 = -1821 Kg.m
M17 = -3085 Kg.m
M18 = -4862 Kg.m
M19 = -7388 Kg.m
M20 = -10946 Kg.m
Dari momen yang telah didapatkan di buatkan grafik momen yang terjadi, seperti pada
gambar 5.

193
6th ACE Conference. 29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

Gambar 6. Momen yang terjadi pada balok rencana


Grafik diatas merupakan grafik momen yang terjadi pada balok non prismatis yaitu dengan
dimensi 1/16L – 1/8L, yang mana 1/16L untuk balok normal dan 1/8L untuk voutenya
dengan jarak voute 1/4L=2,5 m.

5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis kapasitas lentur balok non prismatis dengan menggunakan metoda
finite difference dapat disimpulkan hal- hal sebagai berikut :

1. Untuk mendapatkan dimensi balok non prismatis yang efisien untuk bentang panjang
seperti 10 meter perlu dilakukan variasi dimensi yang digunakan kemudian
membandingkan nilai lendutan dan momennya dengan jarak voute yang berbeda-beda.

2. Berdasarkan perhitungan momen dan lendutan didapatkan dimensi 1/16 = untuk balok
normal, dan 1/8 = untuk tambahan voutenya, dengan 1/4L = 2,5 meter untuk jarak
voute.

3. Tambahan voute berguna untuk mengurangi besarnya balok normal pada balok bentang
panjang.

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah diuraikan, saran- saran yang perlu disampaikan antara lain
:

1. Dalam perencanaan struktur dalam bentang penjang perlu menggunakan voute pada
tumpuannya, ini berguna untuk mengurangi angka momen dan lendutan yang terjadi
pada balok tersebut dan dihitung dengan finite difference.

6. DAFTAR PUSTAKA

Agoes, S., Wisnumurti. 2017. Perilaku Balok Baja I Non Prismatis (Tapered Beam). ISSN
1978-5658.
Agus, S. 2011. Analisis Struktur Balok Non Prismatis Menggunakan Metode Persamaan
Slope-Deflection. Faculty of Engineering, Binus University, Jakarta Barat.

194
6th ACE Conference. 29 Oktober 2019, Padang, Sumatra Barat

Arga, W., Ristinah, S., Hidayat, M.T. 2017. Studi Analisis Sambungan Balok-Kolom Dengan
Sistem Pracetak Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang.
UBM, Malang.
Fadillawaty, S. 2010. Perubahan Betuk Mode Kelengkungan Untuk Mendeteksi Kerusakan
Retak Pada Balok Beton Betulang Tak-Prismatis. Tesis, UGM, Yogyakarta.
Ghali, A., Neville, A.M. 1990. Analisa Struktur : Gabungan Metode Klasik dan Matriks.
Edisi ke dua. Diterjemahkan oleh Ir. Wira MSCE. Jakarta : Erlangga.
Gultom, A.S.M. 2018. Analisa Perbandingan Lendutan dan Tekuk Pada Balok Prismatis
Dengan Menggunakan Metode Finite Difference.
Jagad, B.S., Soebandono, B., Maulana, T.I. 2013. Analisis Tegangan Dan Deformasi
Kantilever Castelleted Bukaan Heksagonal Penampang Balok Non Prismatis
Menggunakan Metode Elemen Hingga (Variasi Sudut Lubang, Jaral Antar Lubang,
Diameter Lubang, Dan Panjang Bantang). TA, UMY, Yogyakarta
Kardestuncer. 1984., Unification of Finite Element Methods.
Krasa, W.A., Sulistyo, D., Supriyadi, B. 2010. Perilaku Geser Pada Keadaan Layan dan
Batas Balok Beton Bertulang Berlubang Memanjang. LPM UGM, Yogyakarta.
Kusdiman, J.P. 2009. Kajian Kekuatan Pada Struktur Balok Grid Persegi. Tesis, UNDIP.
Sri, R. P. 2005. Finite Difference Method (Metode Beda Hingga) dan Penerapannya Pada
Persamaan Perpindahan Panas. Tesis, UNY, Yogyakarta.

195