Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENGUJIAN KHUSUS BENIH

PENGGUNAAN LARUTAN KNO3 DAN HCl


DALAM PEMATAHAN DORMANSI BENIH
PADI (Oryza sativa) DAN ALBASIA (Albizzia falcataria)

Disusnn oleh :
KELOMPOK 5

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kemampuan benih untuk menunda perkecambahan sampai waktu dan


tempat yang tepat adalah mekanisme pertahanan hidup yang penting dalam
tanaman. Dormansi benih diturunkan secara genetik, dan merupakan cara tanaman
agar dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya (Ilyas, 2007).
Menurut Sibarani (2010) dormansi dapat dipandang sebagai salah satu
keuntungan biologis dari benih dalam mengadaptasikan siklus pertumbuhan
tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik musim maupun variasi-variasi
yang kebetulan terjadi. Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa
hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan
tipe dari dormansinya.
Ada beberapa tipe dormansi, yaitu dormansi fisik dan dormansi fisiologis.
Pada dormansi fisik menyebabkan pembatas struktural terhadap perkecambahan
adalah kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis
terhadap masuknya air atau gas pada berbagai jenis tanaman. Penyebab dormansi
fisiologis adalah embrio yang belum sempurna pertumbuhannya atau belum
matang. Benih-benih demikian memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat
berkecambah (penyimpanan). Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari
kurun waktu beberapa hari sampai beberapa tahun tergantung jenis benih
(Fahrudin, 2010).
Dormansi yang terjadi pada benih dapat menguntungkan maupun
merugikan. Pada tahap pengujian benih, dormansi dapat menghambat proses
pengujian. Oleh karena itu diperlukan perlakuan untuk mematahkan dormansi itu.
Pada praktikum ini digunakan KNO3 dan HCl untuk mematahkan dormansi benih
padi, sementara perlakuan air panas diberikan untuk pematahan dormansi benih
albasia.

Tujuan
3

Praktikum ini bertjuan untuk mempelajari teknik pematahan dormansi


yang tepat pada dormansi fisiologis benih padi dan mengetahui efisiensi
pematahan dormansi fisik pada benih albasia.
4

TINJAUAN PUSTAKA

Pengujian Khusus

Pengujian khusus adalah pengujian yang dilakukan terhadap suatu lot


benih untuk kepentingan tertentu dan atas permintaan dari pengirim benih.
Menurut Nasrudin (2009) pengujian khusus hanya dilakukan apabila ada
kepentingan tertentu atau karena diminta oleh produsen benih. Pengujian khusus
tidak harus dilakukan pada setiap kali pengujian, dapat dilakukan dan dapat juga
tidak dilakukan. Menurut Shaumiyah (2010) pengujian khusus merupakan
pengujian yag dilakukan atas dasar keadaan suatu lot (kelompok) benih yang
memungkinkan harus dilakukan pengujian khusus
Pengujian benih terdiri dari berbagai pengujian mutu benih. Menurut
Nasrudin (2009) pengujian khusus benih terdiri dari pengujian heterogenitas,
pengujian kesehatan benih, dan pengujian vigor benih. Menurut Shaumiyah
(2010) pengujian khusus benih terdiri dari pengujian viabilitas benih, penetapan
bobot 1000 butir, pengujian heterogenitas, pengujian kesehatan benih, dan
pengujian vigor benih.

Dormansi Benih

Dormansi didefinisikan sebagai status dimana benih tidak berkecambah


walaupun pada kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Intensitas
dormansi dipengaruhi oleh lingkungan selama perkembangan benih. Lamanya
(persistensi) dormansi dan mekanisme dormansi berbeda antar spesies, dan
antarvarietas. Dormansi pada spesies tertentu mengakibatkan benih tidak
berkecambah di dalam tanah selama beberapa tahun (Ilyas, 2007). Menurut
Hertiningsih (2010) benih dorman adalah benih yang tidak mampu tumbuh atau
berkecambah meskipun telah diletakkan pada keadaan yang tealh memenuhi
syarat (umum).
Menurut Sibarani (2010) dormansi pada benih dapat disebabkan oleh
keadaan fisik dari kulit benih, keadaan fisiologis dari embrio, ataupun kombinasi
dari kedua keadaan tersebut. Ilyas (2007) menyatakan bahwa beberapa
mekanisme dormansi terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk
dormansi primer dan sekunder.
5

Menurut Ilyas (2007) dormansi primer merupakan bentuk dormansi yang


paling umum dan terdiri atas dua macam yaitu dormansi eksogen dan dormansi
endogen. Dormansi eksogen adalah kondisi dimana persyaratan penting untuk
perkecambahan (air, cahaya, suhu) tidak tersedia bagi benih sehingga gagal
berkecambah. Tipe dormansi ini biasanya berkaitan dengan sifat fisik kulit benih
(seed coat). Tetapi kondisi cahaya ideal dan stimulus lingkungan lainnya untuk
perkecambahan mungkin tidak tersedia.
Ilyas (2007) juga menjelaskan bahwa faktor-faktor penyebab dormansi
eksogen adalah air, gas, dan hambatan mekanis. Benih yang impermeabel
terhadap air dikenal sebagai benih keras (hard seed). Metode pematahan dormansi
eksogen yaitu: (1) Skarifikasi mekanis untuk menipiskan testa, pemanasan,
pendinginan (chilling), perendaman dalam air mendidih, pergantian suhu drastis;
(2) Skarifikasi kimia untuk mendegradasi testa, yaitu asam sulfat. Untuk testa
yang mengandung senyawa tak larut air yang menghalangi masuknya air ke benih,
maka pelarut organik seperti alkohol dan aseton dapat digunakan untuk
melarutkan dan memindahkan senyawa tersebut sehingga benih dapat
berkecambah. Benih yang mengalami dormansi ini seperti benih albisia, benih
saga, lamtoro, maupun petai cina.
Dormansi endogen dapat dipatahkan dengan perubahan fisiologis seperti
pemasakan embrio rudimenter, respon terhadap zat pengatur tumbuh, perubahan
suhu, ekspos ke cahaya (Ilyas, 2007). Penyebab dormansi ini adalah embrio yang
belum sempurna pertumbuhannya atau belum matang. Benih-benih demikian
memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat berkecambah (penyimpanan).
Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari kurun waktu beberapa hari
sampai beberapa tahun tergantung jenis benih (Fahrudin, 2010). Benih tipe ini
misalnya adalah benih padi.
Sebagian besar benih padi mempunyai sifat dorman. Dormansi benih pada
padi menyebabkan beberapa varietas padi yang baru dipanen tidak tumbuh jika
ditanam pada kondisi optimum. Masa dorman benih padi beragam 0 – 11 minggu.
yang dapat meningkatkan validitas hasil pengujian daya berkecambah, dan
mengatasi masalah dormansi pada saat benih diperlukan untuk segera ditanam.
Pematahan dormansi dikatakan efektif jika menghasilkan daya berkecambah 85%
6

atau lebih. Pematahan dormansi dapat dilakukan dengan perendaman dalam


larutan kimia, seperti KNO3 (Ilyas, 2007).
7

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan tanggal 8 – 22 Desember 2010. Pelaksanaan


praktikum dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Leuwikopo,
Darmaga, Bogor.

Bahan dan alat

Bahan tanaman yang digunakan adalah benih padi yang baru dipanen dan
benih albasia. Bahan kimia yang digunakan adalah larutan KNO3 dan HCl serta
ari panas. Alat yang digunakan adalah plastik, kertas buram, pinset, alat
pengepres IPB 75-1, dan alat pengecambah benih IPB 72-1.

Metode Pelaksanaan

Kedua jenis benih direndam dalam masing-masing larutan. Benih padi


direndam dalam larutan KNO3 dan HCl selama 24 jam, sementara benih albasia
direndam dalam air panas mendidih hingga suhu air turun mencapai 40-600C.
Benih yang telah direndam kemudian dikecambahkan menggunakan
metode UKDdp (Uji Kertas Digulung Didirikan dalam Plastik). Kertas merang
dilembabkan dan dipres menggunakan alat IPB 75-1 sebelum dugunakan untuk
media pengecambahan. Setiap gulungan terdiri dari lima puluh benih padi dan
benih albasia. Benih yang telah selesai digulung dan diberi label dikecambahkan
dengan alat IPB 72-1 dengan periode pengamatan satu (KN I) dan dua (KN II)
minggu setelah pengecambahan.
8

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dormansi benih adalah suatu kondisi dimana benih tidak mampu


tumbuh/berkecambah meskipun telah ditanam pada kondisi yang optimum.
Dormansi ini ada yang bersifat sementara (hilang dengan bertambahnya waktu)
maupun bersifat permanen (perlu perlakuan khusus).

Pematahan Dormansi Benih Padi

Padi merupakan salah satu jenis benih yang memiliki dormansi sementara.
Dormansi benih padi juga bersifat endogen (fisiologis). Dormansi pada benih
padi akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya waktu penyimpanan.
Peristiwa itu disebabkan giberelin pada padi belum stabil saat baru dipanen
sehingga diperlukan penyimpanan kering. Dormansi itu disebut after-ripening.
Penyimpanan benih padi terkadang tidak dapat dilakukan karena
penanaman yang harus segera dilakukan. Hal itu mendorong dilakukannya
berbagai perlakuan untuk mempercepat pematahan dormansi benih padi.
Perlakuan yang umum dilakukan adalah dengan perendaman pada larutan kimia.
Pada praktikum ini dilakukan perendaman benih padi pada larutan KNO 3 dan HCl
3

dengan control tanpa perlakuan perendaman.


Indikator yang digunakan untuk pengujian perlakuan pematahan dormansi
pada praktikum ini adalah daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum.
Indikator daya berkecambah benih adalah jumlah kecambah normal pada
pengamatan satu dan pengamatan dua, sementara indikator pengukuran potensi
tumbuh maksimum benih adalah kecambah normal pada pengamatan satu dan
pengamatan dua serta jumlah kecambah abnormal pada pengematan kedua.

Tabel 1. Jumlah kecambah normal dan abnormal pengujian benih padi


Perlakua Abnorm
n KN I KN II al
Kontrol 1 30 16
HCl 37 110 54
KNO3 25 132 63

Tabel 1 menunjukkan bahwa kontrol benih padi (tanpa perlakuan) selama


dua kali pengamatan hanya memiliki 31 kecambah normal dari 400 benih yang
9

dikecambahkan atau hanya memiliki daya berkecambah sekitar 7.75 % dan


potensi tumbuh maksimumnya hanya mencapai 11.75 %. Pada perlakuan
perendaman HCl selama 24 jam, benih padi dapat berkecambah hingga 147
kecambah sehingga daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimumnya
mencapai 36.66 % dan 50.12 %. Perlakuan perendaman benih dengan KNO3 (24
jam) menunjukkan hasil yang lebih tinggi, yaitu dengan jumlah kecambah normal
mencapai 157 kecambah sehingga daya berkecambah dan potensi tumbuh
maksimum adalah 39.35 % dan 55.14 %. Sebagian besar benih padi yang tidak
tumbuh tergolong ke dalam benih segar tidak tumbuh (data terlampir).

Grafik 1. Daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum benih padi

Grafik di atas menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih padi


dengan KNO3 merupakan perlakuan paling efektif dalam pematahan dormansi
benih. Hal ini diperlihatkan dengan daya berkecambah dan potensi tumbuh
maksimum perlakuan KNO3 yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan HCl
dan kontrol (hasil paling rendah).
Grafik 1 juga memperlihatkan bahwa perlakuan KNO3 memiliki hasil yang
tidak terlalu berbeda nyata dengan perlakuan HCl. Meskipun perlakuan KNO3
memperlihatkan keberhasilan pematahan dormansi benih padi yang lebih baik
dibandingkan dengan perlakuan HCl, tinggi grafik daya berkecambah dan potensi
tumbuh maksimum benih padi dengan perlakuan KNO3 (db=39.35 % dan
PTM=55.14 %) tidak berbeda jauh dengan perlakuan HCl (db=36.66 % dan
PTM=50.12 %).
Perlakuan KNO3 memang mampu mematahkan dormansi benih padi
paling efektif dibandingkan dengan perlakuan HCl sehingga daya berkecambah
dan potensi tumbuh maksimum diperoleh pun lebih tinggi dibandingkan tanpa
perlakuan (kontrol), tetapi hasil tersebut masih di bawah standar. Daya
berkecambah benih yang dapat diterima di Indonesia adalah 80 % (standar),
sementara pada praktikum ini perlakuan KNO3 maupun HCl hanya mampu
menunjukkan daya berkecambah di bawah 50 % dan potensi tumbuh maksimum
di bawah 60 %.
10

Pematahan Dormansi Benih Albasia

Dormansi benih albasia bersifat permanen sehingga memerlukan


perlakuan khusus untuk mematahkannya. Dormansi benih albasia juga bersifat
fisik atau eksogen karena hambatan perkecambahan berasal dari sifat fisik kulit
benuh. Menurut Ilyas (2007) dormansi eksogen adalah kondisi dimana
persyaratan penting untuk perkecambahan (air, cahaya, suhu) tidak tersedia bagi
benih sehingga gagal berkecambah. Salah satu faktur penyebab dormansi ini
adalah kulit benih yang impermeable terhadap air dan gas. Teknik pematahan
dormansi tipe ini yang dilakukan dalam praktikum adalah perendaman dalam air
panas mendidih.

Tabel 2. Jumlah kecambah normal dan abnormal pengujian benih albasia


Perlakuan KN I KN II Abnormal
Kontrol 14 24 24
Air Panas 93 44 31

Tabel di atas menunjukkan bahwa kontrol benih albasia (tanpa perlakuan)


selama dua kali pengamatan hanya memiliki 38 kecambah normal dari 400 benih
yang dikecambahkan atau hanya memiliki daya berkecambah sekitar 9.79 % dan
potensi tumbuh maksimumnya hanya mencapai 16.19 %. Pada perlakuan
perendaman air panas benih albasia dapat berkecambah hingga 137 kecambah dari
400 benih yang dikecambahkan sehingga daya berkecambah dan potensi tumbuh
maksimum benih albasia mencapai 35.77 % dan 43.86 %. Sebagian besar benih
albasia, baik perlakuan maupun kontrol, yang tidak tumbuh tergolong ke dalam
benih mati (data terlampir). Persentase benih mati pada perlakuan perendaman air
panas yang cukup tinggi (46.99 %) kemungkinan bukan karena perlakuan
perendaman air panas, tetapi dari awal benih yang digunakan kurang baik. Hal itu
terbukti dari persentase benih mati pada kontrol yang mencapai 37.11 % (data
terlampir).

Grafik 2. Daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum benih albasia


11

Grafik di atas menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih albasia


dalam air panas sangat efektif dalam pematahan dormansi benih. Hal itu terlihat
dari daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum benih yang tinggi (sangat
meningkat) dibandingkan dengan kontrol. Hal itu disebabkan perendaman benih
dalam air panas dapat merenggangkan sel-sel pada kulit benih sehingga air dan
gas yang diperlukan untuk perkecambahan dapat masuk ke dalam benih sehingga
proses perkecambahan dapat terjadi.
Perlakuan KNO3 memang mampu mematahkan dormansi benih albasia
dengan sangat efektif sehingga daya berkecambah dan potensi tumbuh
maksimum yang diperoleh pun meningkat dibandingkan tanpa perlakuan
(kontrol), tetapi hasil tersebut masih tergolong rendah karena di bawah standar
daya berkecambah benih yang dapat diterima di Indonesia, yaitu 80 % (standar).
Pada pada praktikum ini perlakuan perendaman air panas hanya mampu
menunjukkan daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum di bawah 50 %.
12

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dormansi yang terjadi pada benih padi merupakan dormansi fisiologis.


KNO3 merupakan larutan umum yang digunakan untuk pematahan dormansi
benih padi, tetapi larutan HCl pun dapat digunakan sebagai alternatif. KNO 3
merupakan larutan yang paling efektif untuk pematahan dormansi benih padi,
tetapi hasil yang diberikan (daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum)
belum dapat memenuhi standar yang dapat diterima di Indoensia.
Dormansi yang terjadi pada benih albasia merupakan dormansi fisik.
Perendaman benih albasia dalam air panas dapat mematahkan dormansi fisik yang
terjadi pada benih albasia sehingga faktor-faktor untuk perkecambahan benih
menjadi tersedia. Meskipun begitu, hasil yang diberikan (daya berkecambah dan
potensi tumbuh maksimum) belum dapat memenuhi standar yang dapat diterima
di Indoensia (kurang efisien).

Saran

Perlakuan yang diberikan untuk pematahan dormansi benih padi sebaiknya


didasarkan pada perbedaan konsentrasi, sementara pada benih albasia didasarkan
pada lamanya perendaman sehingga dapat diperoleh konsentrasi larutan kimia
yang tepat untuk mematahkan dormansi benih padi dan waktu perendaman yang
tepat untuk mematahkan dormansi benih albasia.
13

DAFTAR PUSTAKA

Fahrudin, Fuat. 2010. Penyimpanan dan dormansi benih.


http://marufah.blog.uns.ac.id/2010/05/25/penyimpanan-dan-dormansi-
benih/. [28 Desember 2010].

Hertiningsih, Astuti. Teknologi Benih.


http://www.scribd.com/doc/39861734/Teknologi-Benih. [28 Desember
2010].

Ilyas, S. 2007. Dormansi benih : kasus pada pada benih padi dan kacang tanah.
http://docs.google.com/viewer?
a=v&q=cache:QqIrKXXF1nkJ:www.deptan.go.id/ditjentan/bbppmbtph_ci
manggis/admin/rb/dormansi_benih_Satriyas_Ilyas.pdf+pematahan+dorma
nsi+padi/. [28 Desember 2010].

Nasrudin. 2009. Pengujian khusus.


http://teknologibenih.blogspot.com/2009/08/pengujian-khusus.html. [28
Desember 2010].

Shaumiyah, F. 2010. Pengujian Mutu Benih.


http://meongmhs.blogspot.com/2010_04_01_archive.html. [28 Desember
2010].

Sibarani. 2010. Dormansi benih pada tanaman.


http://vansaka.blogspot.com/2010/04/dormansi-benih-pada-tanaman.html.
[28 Desember 2010].
14

LAMPIRAN

Tabel 3. Data pengamatan pengujian benih padi


Perlakua Kelompo K KN Abnorma BST Benih PTM
Mati DB (%)
n k NI II l T keras (%)
3 11 26 7 53 0 2 37 44
KNO3 4 7 46 7 40 0 0 53 60
5 5 29 17 40 0 9 34 51
6 2 31 32 5 26 4 33 65
39.3483 55.1378
Rataan 25 132 63 138 26 15 7 4
2 10 16 19 21 0 34 26 45
3 12 27 8 0 0 54 39 47
HCL
4 5 32 16 42 0 5 37 53
5 10 35 11 42 0 2 45 56
36.6583 50.1246
Rataan 37 110 54 105 0 95 5 9
1 0 2 4 26 0 68 2 6
2 0 10 8 4 0 78 10 18
Kontrol
4 0 8 0 48 0 44 8 8
5 1 10 4 46 0 39 11 15
Rataan 1 30 16 124 0 229 7.75 11.75

Tabel 4. Data pengamatan pengujian benih albasia


Perlakua Kelompo KN KN Abnorma Benih PTM
BSTT Mati DB (%)
n k I II l keras (%)
3 14 15 0 8 0 46 29 29
4 34 19 3 10 0 34 53 56
5 27 6 14 17 0 36 33 47
Air panas 6 18 4 14 0 0 64 22 36
Rataan 93 44 31 35 0 180 35.77023 43.86423
2 3 10 11 21 0 55 13 24
3 4 9 7 29 0 39 13 20
4 4 1 2 67 0 26 5 7
Kontrol 5 3 4 4 65 0 24 7 11
Rataan 14 24 24 182 0 144 9.793814 16.18799