Anda di halaman 1dari 28

Kelompok: 2

Nama: 1. Diaz Firyal Afifah 1810631050078

2. Dyah Haerunnisa 1810631050139

3. Siti Hujaemah 1810631050038

4. Riska Adetia 1810631050191

5. Yuni Sonia Marbun 1810631050058

Kelas: 5E

SOFT SKILLS DAN HARD SKILLS MATEMATIS

1. Soft Skills Matematis

a. Definisi Soft Skills Matematis


Secara umum soft skills diartikan sebagai kemampuan di luar kemampuan
teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan
interpersonal (Prastiwi, 2011: 3). Menurut Berthal (dalam Muqowim, 2012:
5), soft skills diartikan sebagai perilaku personal dan interpersonal yang
mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia. Sedangkan menurut Putra
dan Pratiwi (2005: 5) soft skills adalah kemampuan – kemampuan tak terlihat
yang diperlukan untuk sukses, misalnya kemampuan berkomunikasi,
kejujuran/integritas dan lain-lain. Elfindri, dkk (2011: 10) mendefinisikan soft
skills sebagai keterampilan hidup yang sangat menentukan keberhasilan
seseorang, yang wujudnya antara lain berupa kerja keras, eksekutor, jujur,
visioner, dan disiplin.
Menurut beberapa ahli diatas dirumuskan Soft skill adalah istilah yang
sering dikaitkan dengan seseorang " EQ " ( Emotional Intelligence Quotient),
cluster ciri kepribadian, rahmat sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi,
keterampilan interpersonal, mengelola orang, kepemimpinan, dll yang menjadi
ciri hubungan dengan lainnya orang.

b. Macam-macam Soft Skills Matematis


Jenis softs skills matematis siswa antara lain disposisi matematis,
kemandirian belajar (self regulated learning), kemampuan diri (self efficacy), rasa
penghargaan diri (self esteem), konsep diri (self concept), dan rasa percaya diri
(self confidence).

1) Disposisi Matematis
NCTM (1989) menyatakan disposisi matematis adalah keterkaitan dan
apresiasi terhadap matematika yaitu suatu kecenderungan untuk berpikir
dan bertindak dengan cara yang positif. Disposisi siswa terhadap matematika
terwujud melalui sikap dan tindakan dalam memilih pendekatan
menyelesaikan tugas. Apakah dilakukan dengan percaya diri, keingintahuan
mencari alternatif, tekun, dan tertantang serta kecendruangan siswa
merefleksi cara berpikir yang dilakukannya. Refleksi siswa akan terlihat
pada saat siswa berdiskusi, pernyataan langsung tentang materi pelajaran
yang diperolehnya pada hari ini, catatan, dan hasil kerjanya.
Sejalan dengan hal di atas, Wardani (2008: 15) mendefinisikan
disposisi matematis adalah ketertarikan dan apresiasi terhadap matematika
yaitu kecendrungan untuk berpikir dan bertindak dengan positif, termasuk
kepercayaan diri, keingintahuan, ketekunan, antusias dalam belajar, gigih
menghadapi permasalahan, fleksibel, mau berbagi dengan orang lain, reflektif
dalam kegiatan matematik (doing math). Menurut Maxwell (2001), disposisi
terdiri dari:
1. Inclination (kecenderungan), yaitu bagaimana sikap siswa terhadap tugas
tugas;
2. Sensitivity (kepekaan), yaitu bagaimana kesiapan siswa dalam
menghadapi tugas; dan
3. Ability (kemampuan), yaitu bagaimana siswa fokus untuk
menyelesaikan tugas secara lengkap; dan (4) enjoyment (kesenangan),
yaitu bagaimana tingkah laku siswa dalam menyelesaikan tugas.
Disposisi matematis siswa dikatakan baik jika siswa tersebut
menyukai masalah-masalah yang merupakan tantangan serta melibatkan
dirinya secara langsung dalam menemukan/menyelesaikan masalah. Selain
itu siswa merasakan dirinya mengalami proses belajar saat menyelesaikan
tantangan tersebut. Dalam prosesnya siswa merasakan munculnya
kepercayaan diri, pengharapan dan kesadaran untuk melihat kembali hasil
berpikirnya. Polking (Syaban, 2008: 32) menyatakan disposisi matematis
meliputi:
1. Kepercayaan dalam menggunakan matematika untuk memecahkan
permasalahan, untuk mengkomunikasikan gagasan, dan untuk
memberikan alasan;
2. Fleksibilitas dalam menyelidiki gagasan matematis dan berusaha mencari
metoda alternatif dalam memecahkan permasalahan;
3. Tekun untuk mengerjakan tugas matematika;
4. Mempunyai minat, keingintahuan (curiosity), dan daya temu dalam
melakukan pekerjaan matematika;
5. Kecenderungan untuk memonitor dan merefleksikan performance dan
penalaran mereka sendiri;
6. Menilai aplikasi matematika ke situasi lain yang timbul dalam matematika
dan pengalaman sehari-hari;
7. Penghargaan (appreciation) peran matematika dalam kultur dan nilai,
baik matematika sebagai alat, maupun matematika sebagai bahasa.
Untuk mengukur disposisi matematis siswa diperlukan beberapa
indikator. Adapun beberapa indikator yang dinyatakan oleh NCTM (1989:
233) adalah:
1. Kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah matematika,
mengkomunikasikan ide-ide, dan memberi alasan.
2. Fleksibilitas dalam mengeksplorasi ide-ide matematis dan mencoba
berbagai metode alternatif untuk memecahkan masalah.
3. Bertekad kuat untuk menyelesaikan tugas-tugas matematika.
4. Ketertarikan, keingintahuan, dan kemampuan untuk menemukan dalam
mengerjakan matematika.
5. Kecenderungan untuk memonitor dan merefleksi proses berpikir dan
kinerja diri sendiri.
6. Menilai aplikasi matematika dalam bidang lain dan dalam kehidupan
sehari-hari.
7. Penghargaan (appreciation) peran matematika dalam budaya dan nilainya,
baik matematika sebagai alat, maupun matematika sebagai bahasa.
Sedangkan menurut Syaban (2008: 33) menyatakan, untuk mengukur
disposisi matematis siswa indikator yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Menunjukkan gairah/antusias dalam belajar matematika.
2. Menunjukkan perhatian yang serius dalam belajar matematika.
3. Menunjukkan kegigihan dalam menghadapi permasalahan.
4. Menunjukkan rasa percaya diri dalam belajar dan menyelesaikan masalah.
5. Menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi.
6. Menujukkan kemampuan untuk berbagi dengan orang lain.
Contoh butir skala disposisi matematik (Wardani, 2009)
Pilihah jawaban paling sesuai dengan pendapatmu
SS : sangat setuju S: Setuju TS: Tidak setujku STS: sangat tidak setuju

2) Kemandirian Belajar (Self Regulated Learning)


Dalam kamus besar Bahasa Indonesia mandiri adalah ”berdiri sendiri”.
Kemandirian belajar adalah belajar mandiri, tidak menggantungkan diri kepada
orang lain, siswa dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif sendiri dalam
belajar, bersikap, berbangsa maupun bernegara (Abu Ahmadi dan Nur
Uhbiyati, 1990:13). Kemandirian belajar self-regulated leaarning menurut
Zimmerman 1989: 329 adalah tingkatan dimana siswa secara metakognitif,
termotivasi dan berperilaku aktif dalam proses belajar. Siswa secara personal
berinisiatif mengarahkan kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan dan
kemampuan tanpa mengandalkan guru, orangtua atau instruktor. Zimmerman
2008: 167 menambahkan kemandirian belajar sebagai proses proaktif yang
siswa gunakan untuk memperoleh kemampuan akademik, seperti menentukan
tujuan, memilih dan mengerahkan strategi, dan memonitor diri keefektivitas
seseorang, bukan sebagai hal reaktif yang terjadi pada siswa akibat gaya
impersonal.
Kesimpulan dari uraian diatas, bahwa kemandirian belajar adalah sikap
mengarah pada kesadaran belajar sendiri dan segala keputusan, pertimbangan
yang berhubungan dengan kegiatan belajar diusahakan sendiri sehingga
bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses belajar tersebut.
Anton Sukarno (1989:64) menyebutkan ciri-ciri kemandirian belajar
sebagai berikut:
1. Siswa merencanakan dan memilih kegiatan belajar sendiri
2. Siswa berinisiatif dan memacu diri untuk belajar secara terus menerus
3. Siswa dituntut bertanggung jawab dalam belajar
4. Siswa belajar secara kritis, logis, dan penuh keterbukaan
5. Siswa belajar dengan penuh percaya diri
Adapun faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar menurut
Muhammad Nur Syam (1999 : 10) adalah Pertama, faktor internal dengan
indikator tumbuhnya kemandirian belajar yang terpancar dalam fenomena
antara lain:
a. Sikap bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang dipercayakan dan
ditugaskan
b. Kesadaran hak dan kewajiban siswa disiplin moral yaitu budi pekerti yang
menjadi tingkah laku
c. Kedewasaan diri mulai konsep diri, motivasi sampai berkembangnya
pikiran, karsa, cipta dan karya (secara berangsur)
d. Kesadaran mengembangkan kesehatan dan kekuatan jasmani, rohani
dengan makanan yang sehat, kebersihan dan olahraga.
e. Disiplin diri dengan mematuhi tata tertib yang berlaku, sadar hak dan
kewajiban, keselamatan lalu lintas, menghormati orang lain, dan
melaksanakan kewajiban
Kedua, faktor eksternal sebagai pendorong kedewasaan dan kemandirian
belajar meliputi: potensi jasmani rohani yaitu tubuh yang sehat dan kuat,
lingkungan hidup, dan sumber daya alam, sosial ekonomi, keamanan dan
ketertiban yang mandiri, kondisi dan suasana keharmonisan dalam dinamika
positif atau negatif sebagai peluang dan tantangan meliputi tatanan budaya dan
sebagainya secara komulatif.
3) Kemampuan Diri (Self Efficacy)
Bandura adalah tokoh yang memperkenalkan istilah efikasi (self-
efficacy). Ia mendefinisikan bahwa selfefficacy sebagai evaluasi seseorang
mengenai kemampuan atau kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas,
mencapai tujuan dan mengatasi hambatan. (Gufron dan Risnawita, 2011:73)
Self-efficacy pada dasarnya adalah hasil dari proses kognitif berupa keputusan,
kenyakinan, atau penghargaan tentang sejauh mana individu memperkirakan
kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau tindakan tertentu yang
diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Self-efficacy menekankan
pada komponen keyakinan diri yang dimiliki seseorang dalam menghadapi
situasi yang akan datang yang mengandung kekaburan, tidak dapat diramalkan,
dan sering penuh dengan tekanan.
Indikator self-efficacy mengacu pada 3 dimensi self-efficacy yaitu
dimensi level, dimensi generality, dan dimensi streght. Brown dkk (dalam
Yunianti Elis, 2016) merumuskan beberapa indikator self-efficacy yaitu:
1. Yakin dapat menyelesaikan tugas tertentu, individu yakin bahwa dirinya
mampu menyelesaikan tugas tertentu, yang mana individu sendiirilah yang
menetapkan tugas (target) apa yang harus di selesaikan.
2. Yakin dapat memotivasi diri untuk melakukan tindakan yang diperlukan
dalam menyelesaikan tugas, individu mampu menumbuhkan motivasi pada
diri sendiri untuk bisa memilih dan melekukan tindakan-tindakan yang di
perlukan dalam rangka menyelesaikan tugas.
3. Yakin bahawa dirinya mampu berusaha dengan keras,gigih dan
tekun.adanya usaha yang keras dari individu untuk menyelesaikan tugas
yang di tetapkan dengan menggunakan segala daya yang di miliki.
4. Yakin bahwa diri mampu menghadapi hambatan dan kesulitan. Individu
mampu bertahan saat menghadapi kesulitan dan hambatan yang muncul
serta mampu bangkit dari kegagalan.
5. Yakin dapat menyelesaikan tugas yang memiliki range yang luas ataupun
sempit (spesifik). Individu yakin bahwa dalam setiap tugas apapun dapat ia
selesaikan meskipun itu luas atau spesifik.
4) Rasa Penghargaan Diri (Self Esteem)
Self-esteem adalah penilaian individu terhadap dirinya sendiri secara
positif atau negatif yang dipengaruhi oleh hasil interaksinya dengan orang-
orang yang penting di lingkungannya serta dari sikap, penerimaan,
penghargaan, dan perlakuan orang lain terhadap dirinya menurut
Haryati(2014). Self-esteem terbagi menjadi dua bagian, yaitu global self-
esteem dan spesifik self-esteem. Dimana global self-esteem mengacu pada
perasaaan keseluruhan dari individu yaitu perasaaan berharga dan kepercayaan
diri. Sementara spesifik self-esteem mengacu pada perasaan berharga dan
kepercayaan diri individu pada bidang atau aktivitas tertentu. Apabila
pemenuhan self esteem siswa tidak berjalan maksimal, maka akan berdampak
dalam memperendah hasrat belajar siswa, mengaburkan fokus pikiran, dan
membuat siswa enggan mengambil resiko.
Untuk meningkatkan self esteem siswa dalam pembelajaran matematika,
guru harus memperhatikan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Salah
satu cara untuk meningkatkan self esteem dalam pembelajaran matematika
adalah dengan menggunakan pendekatan open-ended. Dimana pendekatan
open ended ini menggunakan masalah terbuka dalam pembelajarannya,
penggunaan masalah terbuka ini menyediakan ruang bagi siswa dalam
menyampaikan pendapat sesuai dengan kemampuan siswa. Apabila siswa
diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan kapasitas
kemampuan mereka, siswa tersebut akan merasa lebih dihargai. Contohnya
adalah pada saat pembelajaran materi barisan dan deret dan guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memaparkan apa saja yang mereka ketahui
mengenai materi barisan dan deret.

5) Konsep Diri (Self Concept)


Self concept merupakan cara pandang seseorang terhadap dirinya, melihat
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, termasuk merencanakan visi dan misi
hidup. Menurut Seifert dan Hoffnung (Desmita, 2010: 163) self concept adalah
suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang diri sendiri. Self concept
bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir melainkan gambaran
campuran yang diperoleh atas penilaian terhadap diri sendiri dan pandangan
yang diberikan oleh orang lain. Dalam pembelajaran matematika, self concept
sangat diperlukan untuk dapat menumbuhkan pandangan dan sikap positif
dalam menyelesaikan soal matematika.
Ada beberapa self concept positif, diantaranya: bangga terhadap yang
diperbuatnya, menunjukkan tingkah laku yang mandiri, mempunyai rasa
tanggung jawab, mempunyai toleransi terhadap frustasi, antusias terhadap
tugas-tugas yang menantang, dan merasa mampu mempengaruhi orang lain.
Disebutkan pula self concept negatif, diantaranya: menghindar dari situasi
yang menimbulkan kecemasan, merendahkan kemampuan sendiri, merasakan
bahwa orang lain tidak menghargainya, menyalahkan orang lain karena
kelemahannya, mudah dipengaruhi orang lain, mudah frustasi, dan merasa
tidak mampu. Untuk itu diperlukan situasi pembelajaran yang dapat
menumbuhkan self concept yang positif pada diri siswa.
Adapun upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan konsep
diri pada siswa antara lain sebagai berikut:
1. Menciptakan kondisi pembelajaran yang menumbuhkan semangat
2. Menciptkan interaksi manusiawi dan edukatif dalam proses pembelajaran
3. Menciptakan kondisi pembelajaran yang menantang
4. Membangun kepercayaan diri serta menghargai dan mengoptimalkan
potensi
5. Mengembangkan persepsi positif terhadap diri sendiri

6) Rasa Percaya Diri (Self Confidence)


Self-confidence adalah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang
mengarahkan motivasi dan sumber dayanya untuk diaplikasikan dalam
tindakan yang sesuai dengan tugas yang diminta. Hendriana, Slamet &
Sumarmo (2014) menyatakan bahwa istilah percaya diri memiliki keterkaitan
dengan persepsi siswa terhadap dirinya sendiri untuk belajar matematika,
berkomunikasi dengan orang lain, dan persepsinya dalam menggunakan
matematika dalam kehidupan sehari-hari. Menurut TIMSS (Delina, Afrilianto
& Rohaeti, 2018) self confidence adalah rasa memiliki kemapuan matematika
yang baik, mampu belajar matematika dengan cepat dan pantang menyerah,
menunjukan rasa yakin dengan kemampuan matematika yang dimilikinya, dan
mampu berfikir secara realistik. Berdasarkan definisi dari para ahli, dapat
disimpulkan bahwa self-confidence merupakan perasaan yakin seseorang
dengan kemampuannya dalam matematika dan mampu menerapkan
matematika dalam kehidupannya. Adapun upaya yang dilakukan guru untuk
meningkatkan rasa percaya diri siswa, yaitu:
1. Mengetahui penyebab dari rasa tidak percaya diri siswa.
2. Pemberian dukungan secara emosional, baik motivasi ataupun apresiasi
kepada siswa yang bertanya aktif saat pembelajaran berlangsung di kelas.
3. Membantu siswa menumbuhkan penilaian positif terhadap diri siswa
sehingga siswa memiliki rasa optimis dan harga diri.
4. Membantu mengembangkan potensi yang dimilki siswa karena melalui
prestasi dapat membantu meningkatkan rasa percaya dirinya.
Contoh penerapan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan
rasa percaya diri adalah dengan cara selalu mengaitkan materi dengan
kehidupan sehari-hari dan membuat siswa mampu menerapkan matematika
dalam kehidupannya, dengan begitu akan tumbuh perasaan yakin dan rasa
percaya diri siswa dengan kemampuannya dalam matematika.

2. Hard Skills Matematis

Hard Skills yaitu penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan


ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Hendriana, dkk
(2017) menjelaskan bahwa Hard skills di bidang matematika merupakan
penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang
berhubungan dengan bidang ilmu matematika.

Hendriana, dkk (2017) menawarkan beberapa jenis hard skills matematis


siswa antara lain: kemampuan pemahaman matematis, kemampuan penalaran
matematis, kemampuan pemecahan masalah matematis, kemampuan komunikasi
matematis, kemampuan koneksi matematis, kemampuan berpikir kritis
matematis, dan kemampuan berpikir kreatif matematis.
1) Kemampuan Pemahaman Matematis
Pemahaman merupakan terjemahan dari istilah understanding yang
diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi yang dipelajari. Lebih lanjut
Michener menyatakan bahwa pemahaman merupakan salah satu aspek dalam
Taksonomi Bloom. Pemahaman diartikan sebagai penyerapan arti suatu
materi bahan yang dipelajari. Untuk memahami suatu objek secara mendalam
seseorang harus mengetahui: 1) objek itu sendiri; 2) relasinya dengan objek
lain yang sejenis; 3) relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis; 4) relasi-
dual dengan objek lainnya yang sejenis; 5) relasi dengan objek dalam teori
lainnya.
Ada tiga macam pemahaman matematik, yaitu : pengubahan (translation),
pemberian arti (interpretasi) dan pembuatan ekstrapolasi (ekstrapolation).
Pemahaman translasi digunakan untuk menyampaikan informasi dengan
bahasa dan bentuk yang lain dan menyangkut pemberian makna dari suatu
informasi yang bervariasi. Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud
dari bacaan, tidak hanya dengan kata-kata dan frase, tetapi juga mencakup
pemahaman suatu informasi dari sebuah ide. Sedangkan ekstrapolasi
mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan pada sebuah pemikiran,
gambaran kondisi dari suatu informasi, juga mencakup pembuatan kesimpulan
dengan konsekuensi yang sesuai dengan informasi jenjang kognitif ketiga yaitu
penerapan (application) yang menggunakan atau menerapkan suatu bahan yang
sudah dipelajari ke dalam situasi baru, yaitu berupa ide, teori atau petunjuk
teknis.
Berdasarkan peraturan Dirjen Dikdasmen Nomor 506/C/Kep/PP/2004
tanggal 11 November 2001 tentang rapor pernah diuraikan bahwa indikator
siswa memahami konsep matematika adalah mampu:
(1) menyatakan ulang sebuah konsep,
(2) mengklasifikasikan objek menurut tertentu sesuai dengan konsepnya,
(3) memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep,
(4) menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis,
(5) mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup dari suatu konsep,
(6) menggunakan dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau operasi
tertentu,
(7) mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan masalah.

Contoh soal :
1. Aspek bilangan.
a. Mengingat
Buatlah daftar jenis makanan dan minuman yang dapat kamu beli dengan
harga Rp 500, Rp 5.000, dan Rp 20.000.
b. Memahami
Jelaskan besaran uang rupiah yang dapat digunakan untuk membayar barang-
barang tersebut.
2. Aspek Geometri dan Pengukuran
a. Mengingat
Apa pengertian kubus?
b. Memahami
Sebutkan barang-barang di sekitarmu yang mempunyai bentuk kubus?
3. Aspek Aljabar
a. Mengingat
Sebutkan dua jenis fungsi yang kamu ketahui.
b. Memahami
Tuliskan contoh bentuk umum fungsi-fungsi tersebut sebagai fungsi dalam x
dan berikan contoh khusus.

2) Kemampuan Penalaran Matematis


Menurut (Soekadijo 1997: 6) menyatakan bahwa penalaran merupakan
suatu proses menarik kesimpulan sebuah proposisi baru yang sebelumnya
tidak diketahui, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap
benar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penalaran merupakan
suatu kegiatan, suatu proses atau suatu aktivitas berpikir yang sistematik
untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang benar
berdasar pada beberapa pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan atau
diasumsikan sebelumnya.
Adapun ciri-ciri penalaran yaitu :
a. Adanya suatu pola pikir yang disebut logika. Dalam hal ini dapat dikatakan
bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis. Berpikir
logis ini diartikan sebagai berpikir menurut suatu pola tertentu atau
menurut logika tertentu
b. Proses berpikirnya bersifat analitik. Penalaran merupakan suatu kegiatan
yang mengandalkan diri pada suatu analitik, dalam kerangka berpikir yang
dipergunakan untuk analitik tersebut adalah logika penalaran yang
bersangkutan.
Kemampuan penalaran matematis adalah salah satu proses berfikir yang
dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan dimana kesimpulan tersebut
merupakan kesimpulan yang sudah valid atau dapat dipertanggung jawabkan.
Pada dasarnya setiap penyelesaian soal matematika memerlukan kemampuan
penalaran. Melalui penalaran, siswa diharapkan dapat melihat bahwa
matematika merupakan kajian yang masuk akal atau logis. Dengan demikian
siswa merasa yakin bahwa matematika dapat dipahami, dipikirkan, dibuktikan,
dan dapat dievaluasi. Dan untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan
diperlukan bernalar.
Kemampuan penalaran matematis meliputi:
a) Penalaran umum yang berhubungan dengan kemampuan untuk menemukan
penyelesaian atau pemecahan masalah
b) Kemampuan yang berhubungan dengan penarikan kesimpulan, seperti pada
silogisme, dan yang berhubungan dengan kemampuan menilai implikasi
dari suatu argumentasi.
c) Kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan, tidak hanya hubungan
antara benda-benda tetapi juga hubungan antara ide-ide, dan kemudian
mempergunakan hubungan itu untuk memperoleh benda-benda atau ide-ide
lain.
Menurut (Sri Wardani 2008: 12) menyatakan bahwa ada dua cara untuk
menarik kesimpulan yaitu secara induktif dan deduktif, sehingga dikenal istilah
penalaran induktif dan penalaran deduktif. Berikut merupakan perbedaan
antara penalaran induktif dan deduktif.
a. Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses yang berpangkal dari peristiwa yang
khusus yang dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan impirik dan
menghasilkan suatu kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat umum. Dalam
hal ini telah terjadi proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan
fakta-fakta. Penalaran induktif sering juga disebut penalaran induksi, Penalaran
induktif diantaranya meliputi: analogi, generalisasi, dan hubungan kausal.
• Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta.
Analogi dapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal
yang berlainan berdasarkan kesamaannya, kemudian berdasarkan
kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.
• Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau
sebagian besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri – ciri
esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi
dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain.
• Hubungan kausal
Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling
berhubungan. Hubungan kausal ( kausalitas) merupakan prinsip sebab-
akibat yang sudah pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian
memperoleh kepastian dan keharusan eksistensinya dari sesuatu atau
berbagai hal lainnya yang mendahuluinya merupakan hal-hal yang diterima
tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian
system kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal
bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Macam-macam hubungan kausal :
a. Sebab-akibat
Contoh : penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor.
b. Akibat-sebab
Contoh : Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
c. Akibat-akibat
Contoh : Toni melihat kecelakaan di jalan raya, sehingga Toni beranggapan
adanya korban kecelakaan.
b. Penalaran Deduktif
Merupakan proses berpikir untuk menarik kesimpulan tentang hal khusus
yang berpijak pada hal umum atau hal yang sebelumny telah dibuktikan
(diasumsikan) kebenarannya. Penalaran deduktif disebut juga penalaran
deduksi. Deduksi berhubungan dengan kesalihan argument. Penalaran deduktif
diantaranya meliputi : modus ponens, modus tollens dan silogisme.
a. Modus Ponens
premis 1 : p →q
premis 2 : p
__________________
Kesimpulan: q
Arti Modus Ponens adalah “jika diketahui p → q dan p, maka bisa ditarik
kesimpulan q“.
Sebagai contoh :
premis 1 : Jika bapak datang maka adik akan senang
premis 2 : bapak datang
__________________
Kesimpulan: Adik senang

b. Modus Tollens
premis 1 : p →q
premis 2 : ~q
__________________
Kesimpulan: ~p
Modus Tollens berarti “jika diketahu p → q dan ~q, maka bisa ditarik
kesimpulan ~p“.
Sebagai contoh :
premis 1 : Jika hari hujan, maka adik memakai payung
premis 2 : Adik tidak memakai payung
___________________
Kesimpulan : Hari tidak hujan

c. Silogisme
premis 1 : p→q
premis 2 : q → r
_________________
Kesimpulan: p →r
Silogisme berarti “jika diketahu p → q dan q→r, maka bisa ditarik kesimpulan
p→r“.
Sebagai contoh :
Premis 1 : Jika harga BBM naik, maka harga bahan pokok naik.
Premis 2 : Jika harga bahan pokok naik maka semua orang tidak senang.
__________________________________________________
Kesimpulan: Jika harga BBM naik, maka semua orang tidak senang.

3) Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis


Pemecahan masalah adalah suatu proses terencana yang perlu
dilaksanakan agar memperoleh penyelesaian tertentu dari sebuah masalah
yang mungkin tidak didapat dengan segera (Saad & Ghani, 2008:120).
Pendapat lainnya menyatakan bahwa pemecahan masalah sebagai usaha
mencari jalan keluar dari suatu kesulitan (Polya, 1973:3). Menurut Goldstein
dan Levin, pemecahan masalah telah didefinisikan sebagai proses kognitif
tingkat tinggi yang memerlukan modulasi dan kontrol lebih dari keterampilan
rutin atau dasar (Rosdiana & Misu, 2013:2).
Olkin dan Schoenfeld (Sumarmo, 2013: 447) menyatakan bahwa
bentuk soal pemecahan masalah yang baik hendaknya memiliki karakteristik
sebagai berikut:
(1) dapat diakses tanpa banyak menggunakan mesin, ini berarti masalah yang
terlibat bukan karena perhitungan yang sulit;
(2) dapat diselesaikan dengan beberapa cara, atau bentuk soal yang open
ended;
(3) melukiskan ide matematika yang penting (matematika yang bagus);
(4) tidak memuat solusi dengan trik;
(5) dapat diperluas dan digeneralisasikan (untuk memperkaya eksplorasi).

Contoh Soal:
1.Memahami masalah
(Dalam Strategi Pemecahan masalah menurut Polya, termasuk kedalam
menemukan pola)
Pada langkah ini, para pemecah masalah (siswa atau guru) harus dapat
menentukan dengan jeli apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Namun
yang perlu diingat, kemampuan otak manusia sangatlah terbatas, sehingga
hal-hal penting hendaknya dicatat, dibuat tabelnya, ataupun dibuat sket atau
grafiknya. Pembuatan tabel serta gambar dimaksudkan untuk mempermudah
memahami masalahnya dan mempermudah mendapatkan gambaran umum
penyelesaiannya. Dengan membuat gambar, diagram, atau tabel, hal-hal yang
diketahui tidak hanya dibayangkan di dalam otak yang sangat terbatas
kemampuannya. Namun dapat dituangkan ke atas kertas. Disamping
mengetahui apa yang diketahui, setiap pemecah masalah dituntut untuk
mengetahui apa yang ditanyakan, yang akan menjadi arah pemecahan
masalahnya. Bukanlah hal yang bijak jika dalam proses pemecahan masalah,
arah yang akan dituju tidak atau belum teridentifikasi secara jelas. Untuk soal
diatas akan didapat :

2. Merancang model matematika


(Dalam Strategi Pemecahan masalah menurut Polya, termasuk kedalam
membuat diagram)
Untuk memecahkan masalah diatas, apa yang harus dilakukan? Apakah akan
dengan mencoba-coba? Namun, bagaimana jika ada kombinasi bilangan yang
terlewati? Untuk menghindari hal tersebut, diperlukan adanya aturan-aturan
yang dibuat sendiri oleh para pelaku selama proses pemecahan masalah
berlangsung sehingga dapat dipastikan tidak aka nada satupun alternative
yang terabaikan. Untuk itu, pada langkah merancang model matematikanya,
hal yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat delapan persegipanjang
untuk tempat kedelapan angka yang ada, seperti ditunjukkan pada gambar
dibawah ini.

Agar didapat bilangan terbesar seperti yang diminta, maka persegi


panjang (a) dapat dicoba diisi dengan 4, persegi panjang (b) dapat dicoba diisi
dengan 3, dan seterusnya.

3. Menyelesaikan model
(Dalam Strategi Pemecahan masalah menurut Polya, termasuk kedalam
mencoba-coba, dan berpikir logis)
Berdasarkan rencana di atas, penyelesaian model dapt dilaksanakan dengan
melakukan pengisian angka pada kedelapan persegipanjang di atas. Salah satu
strategi yang paling mungkin digunakan adalah dengan mencoba-coba.
Sesuai dengan rencana, karena bilangan yang akan dicari adalah bilangan
dengan nilai terbesar, dapat disimpulkan bahwa yang pertama kali dicoba
untuk dimasukkan adalah angka 4 ke kotak persegipanjang paling kiri (kotak
a). Disamping itu, diisyaratkan bahwa kedua angka 4 dipisahkan oleh empat
angka lain, sehingga dapat disimpulkan lagi bahwa angka 4 kedua harus
diisikan ke kotak f sehingga didapat keadaan seperti tabel berikut.

4 4
Sekali lagi, karena bilangan yang akan dicari adalah bilangan dengan nilai
terbesar, langkah berikutnya adalah mencoba memasukkan angka 3 ke kotak
b. Namun disyaratkan juga bahwa kedua angka 3 dipisahkan oleh tiga angka
lain, sehingga angka 3 kedua harus diisikan ke kotak f juga. Dengan keadaan
dimana kotak f terisi angka 4 dan angka 3, percobaan memasukkan angka 3
ke kotak b tidak bisa dilanjutkan. Di dalam pelajaran logika matematika yang
berkait dengan pembuktian, keadaan ini dikenal dengan keadaan yang
kontradiksi atau tidak masuk akal sehat kita (absurd).
Dengan demikian, angka berikutnya yang dapat dicoba dimasukkan ke kotak
b adalah 2 sehingga didapat keadaan seperti tabel berikut.

4 2 2 4

a b c d e f g h

Selanjutnya, dimana kita harus memasukkan angka 1 sedemikian sehingga


kedua angka 1 tersebut dipisahkan oleh satu angka lain seperti yang
disyaratkan? Tidak bisa bukan? Kesimpulannya, percobaan memasukkan
angka 2 ke kotak b dan e tidak bisa dilanjutkan. Kemungkinan yang tersisa
adalah memasukkan angka 1 ke kotak b dan d sedemikian hingga kedua angka
1 tadi dipisahkan oleh satu angka lain seperti yang disyaratkan, dan didapat
label berikut.

Jika angka 3 dimasukkan ke kotak c maka angka 3 kedua harus dimasukkan


ke kotak g sesuai dengan persyaratan bahwa kedua angka 3 dipisahkan oleh
tiga angka lain. Terkahir, angka 2 dimasukkan ke kotak e dan h seperti yang
disyaratkan, sehingga didapat penyelesaian masalah diatas yaitu :
4. Menafsirkan solusi yang diperoleh
(Dalam Strategi Pemecahan masalah menurut Polya, termasuk kedalam
memperhitungkan setiap kemungkinan, berpikir logis dan mengabaikan hal
yang tidak mungkin)
Menurut anda, apakah hasil ini memenuhi persyaratan yang diminta?
Bagaimana meyakinkan diri anda sendiri bahwa hasil tersebut merupakan
penyelesaian masalah di atas? Untuk menjawab pertanyaan terakhir ini, para
pakar pemecahan masalah menyarankan mengecek kebenaran hasil ini
dengan persyaratan yang diminta, yaitu bilangan diatas merupakan bilangan
terbesar yang didapat, karena 4 sebagai bilangan terbesar sudah diletakkan
pada tempat terkiri, sedangkan angka 3 dan 2 tidak mungkin diletakkan di
kotak berikutnya (kotak b), sehingga angka 1 yang masih mungkin diletakkan
di kotak b. Disamping itu, kedua angka 1 dipisahkan oleh satu angka lain,
kedua angka 2 dipisahkan oleh dua angka, kedua angka 3 dipisahkan oleh tiga
angka, dan kedua angka 4 dipisahkan oleh 4 angka.

4) Kemampuan Komunikasi Matematis


Menurut Prayitno dkk. (2013) komunikasi matematis adalah suatu cara
siswa untuk menyatakan dan menafsirkan gagasan-gagasan matematika
secara lisan maupun tertulis, baik dalam bentuk gambar, tabel, diagram,
rumus, ataupun demonstrasi. Pengertian yang lebih luas tentang komunikasi
matematik dikemukakan oleh Romberg dan Chair (dalam Qohar, 2011),
yaitu: menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam idea
matematika; menjelaskan idea, situasi dan relasi matematik secara lisan atau
tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar; menyatakan peristiwa
sehari hari dalam bahasa atau simbol matematika; mendengarkan, berdiskusi,
dan menulis tentang matematika; membaca dengan pemahaman suatu
presentasi matematika tertulis, membuat konjektur, menyusun argumen,
merumuskan definisi dan generalisasi; menjelaskan dan membuat pertanyaan
tentang matematika yang telah dipelajari.
Selanjutnya, NCTM dalam Principles and Standard for School
Mathematics, merumuskan standar komunikasi untuk menjamin kegiatan
pembelajaran matematika yang mampu mengembangkan kemampuan siswa,
yaitu:
1. Menyusun dan memadukan pemikiran matematika melalui komunikasi.
2. Mengkomunikasikan pemikiran matematika secara logis dan sistematis
kepada sesama siswa, guru, maupun orang lain.
3. Menganalisis dan mengevaluasi pemikiran dan strategi matematik orang
lain.
Hodiyanto (2016) Pugalee (Qohar, 2013) menyarankan bahwa
untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam belajar
matematika siswa harus didorong untuk menjawab pertanyaan disertai
dengan alasan yang relevan, dan mengomentari pernyataan matematika yang
diungkapkan siswa, sehingga siswa menjadi memahami konsep-konsep
matematika dan argumennya bermakna.
Menurut Ansari (2012) untuk mengukur kemampuan komuni-kasi
matematis siswa dalam pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan
pemberian soal urain yang bisa mengungkapkan kemampuan komunikasi
matematis. Beberapa soal urain yang dapat digunakan antara lain, soal uraian
eksploratif, transfer, elaboratif, dan aplikatif.
Berikut diberikan contoh soal cerita untuk mengukur kemampuan
komunikasi matematis pada aspek menulis, menggambar, dan ekspresi
matematika.
Soal: Tujuh tahun yang lalu umur ayah sama dengan 6 kali umur Budi. Empat
tahun yang akan datang 2 kali umur ayah sama dengan 5 kali umur Budi
ditambah 9 tahun.
1.Buatlah model matematika dari masalah tersebut!
2.Berapa umur ayah sekarang?
3.Bagaimana kamu memperolehnya? Jelaskan jawabanmu!
Pertanyaan dari soal ini mengukur aspek-aspek ekpresi matematika dan
menulis yang merupakan indikator dalam kemampuan komunikasi
matematis. Sehingga soal ini bisa digunakan untuk mengukur kemampuan
komunikasi matematis.
Keterampilan siswa dalam menye-lesaikan soal tersebut dengan
membuat model matematikanya, akan menggambarkan aspek ekspresi
matematika. Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan cara dan
bahasnya sendiri adalah gambaran dari aspek menulis. Pemberian skor dalam
mengukur kemampuan komunikasi matematis biasanya menggunakan rublik
holistik.

5) Kemampuan Koneksi Matematis

Hubungan matematis berasal dari bahasa Inggris dari kata


Mathematical Connection yang kemudian dipopulerkan oleh NCTM pada
tahun 1989 dan digunakan sebagai salah satu standar kurikulum yang
bertujuan untuk membantu pembentukan persepsi siswa, dengan melihat
matematika sebagai keseluruhan kesatuan Sebagai bahan yang berdiri sendiri
dan mengenali relevansi dan manfaat matematika baik di sekolah maupun di
luar sekolah. Hubungan matematis adalah keterkaitan antara topik
matematika, keterkaitan antaramatematika dengan disiplin lain, dan
hubungan matematika dengan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari.
Yusepa menyatakan bahwa koneksi matematis mencakup hubungan internal
daneksternal secara matematis. Sejalan dengan Kurz berpendapat bahwa
koneksi matematis berhubungan dengan koneksi internal dan koneksi
eksternal (dalam Siregar dan Surya, 2017).

Kemampuan seseorang untuk mengaitkan antartopik dalam


matematika, mengaitkan matematika dengan ilmu lain, dan dengan
kehidupan ini disebut kemampuan koneksi matematis. Sesuai dengan
pendapat Mikovch dan Monroe (dalam Ruspiani, 2000), ‘ In mathematics, at
least three kinds of connections are particularly beneficial: connection within
mathematics, across the curriculum, and with real word contexts.’

Herdian (2010: 19) mengemukakan kemampuan koneksi matematis


adalah kemampuan untuk mengaitkan antara konsep-konsep matematika
secara eksternal, yaitu matematika dengan bidang studi lain maupun dengan
kehidupan sehari-hari. Matematika merupakan suatu bidang studi yang topik-
topiknya saling terintegrasi. Jika memiliki kemampuan koneksi matematis
yang baik siswa mampu melihat suatu interaksi yang luas antar topik
matematika, sehingga siswa belajar matematika dengan lebih bermakna
(Badjeber dan Fatimah). Kemampuan koneksi matematis dan kepercayaan
diri siswa dalam pembelajaran matematika dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah keakuratan pendekatan
pembelajaran yang digunakan. Banyak pendekatan pembelajaran digunakan
dalam proses pembelajaran, salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat
membantu guru menghubungkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata para siswa dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara
pengetahuan dan penerapan mereka dalam kehidupan sehari-hari dan
mengembangkan rasa percaya diri siswa adalah pendekatan pembelajaran
kontekstual. Pendekatan pembelajaran kontekstual menyebabkan siswa
membangun pengetahuan dan keterampilan baru mereka saat siswa belajar.

Penyelesaian masalah matematika merupakan kegiatan siswa yang


membangun koneksi matematis siswa, hal ini terjadi karena dalam
menyelesaikan masalah matematika siswa harus mempunyai kemampuan
menemukan keterkaitan konsep atau teorema yang digunakan untuk
menentukan penyelesaian suatu soal, kemampuan ini dikatakan koneksi
matematika. Kemampuan koneksi matematis diperlukan oleh siswa dalam
mempelajari topik matematika yang saling terkait. Menurut Ruspiani (2000),
jika suatu topik diberikan secara tersendiri, pembelajaran akan kehilangan
satu momen dalam usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dalam
matematika secara umum. Tanpa kemampuan koneksi matematis, siswa akan
mengalami kesulitan mempelajari matematika. Jadi untuk terhubung, siswa
harus mengerti informasi yang mereka dapatkan, sehingga bisa melihat,
menggali, masalah, mencoba mencari solusinya dengan menggunakan ide
matematika untuk memecahkan masalah, baik yang berhubungan dengan
matematika, disiplin ilmu lainnya, atau dengan kehidupan sehari-hari. Dalam
menghubungkan, siswa harus memahami informasi yang baru diperoleh
untuk diarahkan pada informasi yang telah diterima sebelumnya (Siregar dan
Surya, 2017).
Bentuk koneksi matematik yang mengkaitkan antara matematik
dengan kehidupan sangat banyak dan bahkan berlimpah. Sebagai gambaran
berikut akan diberikan beberapa contoh koneksi matematik yang
mengakitkan antara materi perbandingan dengan masalah kehidupan bagi
siswa SMP kelas IX.

Contoh Masalah Koneksi 1.

Siswa mengamati foto Lely dengan berbagai ukuran untuk berbagai


keperluan. Foto terbesar berukuran 12 cm x 16 cm.

Contoh Masalah Koneksi 2.

Bingkai layar dan kain layarnya perahu berbentuk segiempat. Lihat gambar
bawah. Tentukan sudut-sudut dan sisi-sisi yang saling bersesuaian. Selidiki
apakah terdapat faktor perkalian. Jelaskan mengapa bingkai layar dan kain
layar tidak sebangun.

Contoh lainnya:

Koneksi antar konsep dalam matematika adalah pengkaitan antara konsep


kesejajaran dua garis, kesamaaan gradien, dan menggambar grafik pada
koordinat Cartesius. Soal yang diberikan kepada siswa misalnya “Selidiki
apakah garis y = 2x + 1 sejajar dengan garis y = 2x − 2”. Koneksi yang dapat
dilakukan siswa
misalnya:

Contoh lainnya:

Ketika
mempelajari
kesebanguan dua
segiempat,
representasi yang diperlukan meliputi representasi gambar, simbol dan tabel.

1. Representasi gambar

2. Representasi tabel

3. Representasi notasi/symbol

6) Kemampuan Berpikir Kritis Matematis


Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang dimiliki oleh
setiap individu untuk menyelesaikan sebuah masalah dengan berfokus kepada
proses dan langkah-langkah yang diambil secara teliti yang dapat
dipertanggung jawabkan. Semakin tajam seseorang menganalisis suatu
permasalahan maka akan semakin tajam pula keputusan yang dibuat oleh
orang tersebut. Berpikir kritis mengarah pada kegiatan menganalisa suatu
gagasan secara sistematis dan spesifik, membedakan sesuatu hal secara
cermat dan teliti, mengidentifikasi, mengkaji, dan mengembangkan proses
berpikir tersebut dengan menggunakan logika dan bukti ke arah yang lebih
sempurna.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis
merupakan proses berpikir seseorang dalam membuat suatu keputusan
tentang sesuatu yang telah ia kerjakan dan ia yakini dengan pemikiran yang
logis dan masuk akal, selain itu berpikir kritis juga merupakan salah satu
kemampuan tingkat tinggi. Watson dan Glasser mengungkapkan berpikir
kritis memainkan peranan yang penting dalam banyak macam pekerjaan,
khususnya pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan berpikir
analitis.Dari ungkapan Watson dan Glaser dapat disimpulkan bahwa dengan
kemampuan berpikir kritis kita dapat menyelesaikan pekerjaan yang
memerlukan ketelitian dan pemikiran yang analitis karena berpikir kritis
memiliki peranan yang penting dalam hal-hal tersebut.
Menurut Bonnie dan Potts, secara singkat dapat disimpulkan
bahwa ada tiga buah strategi untuk mengajarkan kemampuan-kemampuan
berpikir kritis, yaitu: (1) Building Categories (membuat klasifikasi), (2)
Finding Problem (menemukan masalah), dan (3) Enhancing the Environment
(mengkondusifkan lingkungan).
Dari pendapat diatas kita dapat menyimpulkan bahwa terdapat
tiga strategi untuk mengasah kemampuan berpikir kritis pada anak, langkah
awal yang harus diajarkan adalah pembuatan klasifikasi yang berarti dalam
penyelesaian sebuah persoalan anak diajak untuk mengklasifikasikan atau
mengidentifikasikan hal-hal apa saja yang akan dikaji selanjutnya. Langkah
kedua yaitu menemukan masalah, setelah anak mengklasifikasikan hal-hal
penting anak diajak untuk menemukan apa permasalahan yang harus
diselesaikan. Langkah ketiga mengkondusifkan lingkungan, dengan langkah
ketiga ini anak diajak untuk menyelesaikan masalah berdasarkan lingkungan
disekitarnya, menemukan pemecahan masalah berdasarkan fakta nyata yang
ada disekelilingnya.
Vincent Ryan Ruggiero dalam bukunya mengungkapkan, The
basic activities in critical thinking are investigation (finding evidence that is
data that will answer key questions about the issue), interpretation (deciding
what the evidence means), and judgment (reaching a conclusion about the
issue)[5]. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa aktifitas-aktifitas awal yang
dilakukan dalam berpikir kritis adalah penyelidikan yakni menemukan bukti
dari sebuah permasalahan, penafsiran yakni memutuskan apa maksud dari
sebuah bukti, dan pertimbangan yakni mendapatkan kesimpulan dalam
sebuah permasalahan. Jika siswa telah melalui tahap tersebut dalam
menyelesaikan persoalan matematika maka dapat dikatakan siswa telah
melakukan aktifitas dasar dalam berpikir kritis matematis.
Menurut Ennis (dalam Costa, 1985: 55) indikator kemampuan
berpikir kritis dapat diturunkan dari aktifitas siswa meliputi:
(1) Mencari pernyataan yang jelas dari pertanyaan, (2) Mencari alasan, (3)
Berusaha mengetahui informasi dengan baik, (4) Memakai sumber yang
memiliki kredibilitas dan menyebutkannya, (5) Memperhatikan situasi dan
kondisi secara keseluruhan, (6) Berusaha tetap relevan dengan ide utama, (7)
Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar, (8) Mencari alternatif, (9)
Bersikap dan berpikir terbuka, (10) Mengambil posisi ketika ada bukti yang
cukup untuk melakukan sesuatu, (11) Mencari penjelasan sebanyak mungkin,
(12) Bersikap secara sistematis dan teratur dengan bagian dari keseluruhan
masalah.

7) Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis.


King, Goodson, & Rohani (2009) menyatakan “Higher order
thinking skills include critical, logical, reflective, metacognitive, and creative
thinking”. Artinya bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order
thinking skills) mencakup berpikir kritis, logis, kreatif, reflektif, dan
metakognitif. Berpikir kreatif yaitu berpikir yang memberikan perspektif baru
atau menangkap peluang baru sehingga memunculkan ide-ide baru yang
belum pernah ada (Ismienar, Andrianti, & A., 2009). Selaras dengan hal
tersebut, berpikir kreatif menurut Yusmanida (2014) adalah kemampuan
untuk melihat bermacam-macam jawaban terhadap satu soal. Dari pendapat
tersebut, diketahui bahwa semakin banyak cara penyelesaian dari suatu
masalah maka semakin kreatiflah seseorang dengan catatan jawaban yang
dihasilkan masih sesuai dengan soal yang diberikan. Jadi kuantitas jawaban
dan kualitas cara penyelesaian, menentukan seseorang dikatakan kreatif.
Terdapat empat tahap dalam berpikir kreatif, yaitu;
(1) Exploring, mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam
kondisi yang ada pada saat ini;
(2) Inventing, melihat atau mereview berbagai alat, teknik, dan metode yang
telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara
berpikir yang tradisional;
(3) Choosing, mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin
untuk dilaksanakan;
(4) Implementing, bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan.
Kemudian Siswono (2007) juga mengembangkan level Tingkat
berpikir kreratif ini terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkat berpikir kreatif 4
(sangat kreatif), tingkat berpikir kreatif 3 (kreatif), tingkat berpikir kreatif 2 (
cukup kreatif), tingkat berpikir kreatif 1 (kurang kreatif), dan tingkat berpikir
kreatif 0 (tidak kreatif).
Daftar Pustaka

Firdaus, M. Zainul. Contoh Soal Pemecahan Masalah Matematika. Tersedia di


https://www.academia.edu/12153688/Contoh_Soal_Pemecahan_Masalah_Mate
matika (Diakses pada 17 November 2020)

Hasanah, Uswatun, dkk. 2019. Self-Efficacy Siswa SMP Pada Pembelajaran Model
Learning Cycle 7E (Elicit, Engange, Explore, Explain, Elaborate, Evaluate, and
Extend). PRISMA (Prosiding Seminar Nasional Matematika). 2: 551-555

Pengaruh Problem Solving Menggunakan Metode Diskusi terhadap Kemandirian Belajar


Siswa https://eprints.uny.ac.id/9567/2/bab%202%20-%20NIM%2008108247088.pdf

Riadi, Muchlisin. 2016, 23 April. Pengertian dan Tahapan Pemecahan Masalah.


Diakses dari https://www.kajianpustaka.com/2016/04/pengertian-dan-tahapan-
pemecahan-masalah.html pada tanggal 17 November 2020 pukul 15.30 WIB.

Saputra, Hardika. 2018. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis. Diakses dari


https://www.researchgate.net/publication/326682090_KEMAMPUAN_BERPIK
IR_KREATIF_MATEMATIS tanggal 15 November 2020 pukul 15.00 WIB.
Sumartini, T.S. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui
Pembelajaran Berbasis Masalah. Jurnal “Mosharafa”, Volume 5, Nomor 2, Mei
2016.

Suwarno. 2016, 26 Desember. Kemampuan Pemahaman Dalam Pembelajaran


Matematika. Diakses dari https://pgsd.binus.ac.id/2016/12/26/kemampuan-
pemahaman-dalam-pembelajaran-matematika/ pada tanggal 17 November 2020

Wahyudi, Dudi. 2015. Berbagi Contoh Penerapan Taksonomi Bloom Revisi Dalam
Pembelajaran Matematika.

Yusuf, Musdalifah. 2017. Kemampuan Disposisi Matematis.


https://www.academia.edu/14692763/kemampuan_Disposisi_Matematis