Anda di halaman 1dari 26

PENGGUNAAN METODE SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN

KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT di KELAS V SDN


PADAMULYA KECAMATAN TANJUNGMEDAR KABUPATEN
SUMEDANG

LAPORAN PKP-PGSD

PENGGUNAAN METODE SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN


KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT di KELAS V SDN
PADAMULYA KECAMATAN TANJUNGMEDAR KABUPATEN
SUMEDANG

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah


Pemantapan Kemampuan Profesional
PDGK (4501)

PROGRAM PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ BANDUNG
2010
 

1
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah


Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa, yaitu

keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dari empat keterampilan

berbahasa tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu keterampilan yang

bersifat menerima (represif) meliputi keterampilan menyimak dan membaca serta

keterampilan yang bersifat mengungkapkan (produktif) meliputi keterampilan menulis dan

berbicara. Selain empat keterampilan pokok tersebut terdapat juga satu keterampilan bahasa

yang menggunakan sastra anak. Keterampilan bahasa yang menggunakan sastra anak

meliputi prosa fiksi, puisi dan drama.

 Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk menjalin

hubungan dengan orang lain. Dengan bahasa manusia dapat menyampaikan ide, pikiran,

perasaan, dan pesan kepada orang lain sehingga terjadi komunikasi. Sebagai alat komunikasi,

bahasa terbagi atas dua jenis bahasa yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa lisan

digunakan untuk komunikasi antar pendengar dan pembaca, sedangkan bahsa tulis digunakan

antara penulis dan pembaca.

Apabila dikaitkan antara keterampilan berbahasa tersebut dengan tujuan

pembelajaran, pada dasarnya keempat keterampilan tersebut merupakan tujuan yang ingin

dicapai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia pada

hakikatnya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik

secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra. Selain

itu, tujuan pembelajaran Bahsa Indonesia adalah untuk mengembangkan kemampuan bahasa

dalam segala fungsinya, yaitu sebagai sarana komuinikasi, sarana berfikir, sarana

mengemukakan gagasan/ide, perasaan, dan sebagai sarana berekpresi.

2
Menyimak sebagai salah satu keterampilan berbahasa menjadi dasar keterampilan

berbahasa lainnya karena penguasaan keterampilan menyimak merupakan kegiatan pertama

yang dikuasai manusia dan kegiatan yang banyak dilakukan dari kegiatan berbahasa yang

lainnya. Wilga M. River (dalam Sutari, dkk. 1997: 8) menyatakan bahwa “kebanyakan orang

dewasa menggunakan 45% waktunya digunakan untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16%

untuk membaca, dan hanya 9% untuk menulis”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut,

kemampuan menyimak sangatlah penting sehingga perlu dibina dan dilatih. Selain itu,

menyimak dapat melatih kemampuan berpikir karena didalamnya ada proses yang melibatkan

pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, dan pengertian. Dengan kata lain menyimak

merupakan suatu proses, sebagaimana Tarigan (dalam Djuanda, 2008: 12) mengemukakan

bahwa menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa,

mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung

didalamnya.

Dalam kurikulum bahasa Indonesia  di sekolah dasar, menyimak mendapat porsi yang

jelas. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk melatih dan mengembangkan kemampuan

menyimak siswa yang sebelumnya telah diperoleh sebelum masuk pendidikan formal. Salah

satu kompetensi menyimak yang harus dikuasai siswa dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan, khususnya kelas V adalah mengidentifikasi unsur cerita tentang cerita rakyat

yang didengarnya. Kompetensi tersebut akan tercapai dan dikuasai siswa apabila proses

pembelajaran menyimak dilakukan secara optimal. Untuk menciptakan pembelajaran yang

optimal, guru harus terampil memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi

sehingga dapat menarik perhatian siswa. Dengan penggunaan metode pembelajaran yang

bervariasi dan menarik diharapkan dapat menimbulkan motivasi terhadap pembelajaran dan

dapat mencapai tujuan pembelajaran.

3
Pembelajaran menyimak cerita rakyat di SD Negeri Padamulya belum dilaksanakan

secara optimal. Suasana pembelajaran yang tercipta membuat siswa pasif dalam

pembelajaran, karena siswa hanya mendengarkan saja, sehingga hasil belajar belum optimal.

Dengan kata lain siswa kesulitan dalam pembelajran menyimak. Padahal jika dilihat dari

jenis-jenis menyimak, menyimak tidak hanya menyimak pasif, tetapi ada yang dinamakan

menyimak kreatif dan apresiatif.

Berkaitan dengan pembelajatran menyimak cerita rakyat mata pelajaran Bahasa

Indonesia, penulis mencoba mengangkat permasalahan yang terjadi di kelas. Dari penelitian

awal yang dilakukan pada hari Selasa 23 Februari 2010 diperoleh data awal yaitu siswa kelas

V Sekolah Dasar Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang

berjumlah 28 orang siswa yang terdiri dari 16 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa

perempuan. Hasil penelitian awal pada proses belajar mengajar di kelas V SDN Negeri

Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang terlihat kinerja guru dan

aktifitas siswa sebagai berikut :

1. Guru tidak menggunakan media  yang dapat menarik perhatian siswa.

2. Guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi

3. Sebagian siswa memperhatikan penjelasan dari guru sebagian siswa tidak

memperhatikan penjelasan guru karena mengantuk, ngobrol, becanda dan ribut di

kelas.

4. Pembelajaran hanya berpusat pada guru, artinya siswa tidak diberi kesempatan untuk

aktif dan terlibat dalam proses menyimak

5. Guru menutup pelajaran tanpa memberikan tindak lanjut kepada siswa

4
Dari permasalaha di atas, dilakukanlah penelitian tindakan kelas dengan judul

“Penggunaan Metode Simulasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Menyimak Cerita Rakyat

di Kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang”.

B.     Rumusan Masalah


Dari pembahasan latar belakang masalah di atas, maka timbul  permasalahan di
antaranya sebagai berikut:
1.    Bagaimana gambaran perencanaan penerapan metode simulasi untuk meningkatkan

kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan

Tanjungmedar Kabupaten Sumedang?

2.    Bagaimana gambaran pelaksanaan penerapan metode simulasi untuk meningkatkan

kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan

Tanjungmedar Kabupaten Sumedang?

3.    Bagaimana gambaran hasil kemampuan menyimak cerita melalui penerapan metode simulasi

di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang?

C.    Tujuan Penelitian


Penulisan penelitian ini memiliki beberapa tujuan yaitu :
1.      Untuk mengetahui gambaran perencanaan penerapan metode simulasi untuk meningkatkan

kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan

Tanjungmedar Kabupaten Sumedang.

2.      Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan penerapan metode simulasi untuk meningkatkan

kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan

Tanjungmedar Kabupaten Sumedang.

3.      Untuk mengetahui gambaran hasil kemampuan menyimak cerita melalui penerapan metode

simulasi di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang.

5
D.    Manfaat Penelitian
Bagi siswa

1.      Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi konsep perubahan sifat benda.

2.      Memberikan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

3.      Memperoleh hasil pembelajaran yang lebih bermakna.

4.      Meningkatkan minat, antusias, dan keaktifan siswa dalam pembelajaran menyimak

5.      Mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran menyimak

6.      Meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menyimak cerita rakyat.

Bagi guru

1.      Menjadikan bahan referensi bagi guru yang akan melaksanakan pembelajaran tentang konsep

perubahan sifat benda

2.      Memberikan stimulus agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan model-model

pembelajaran lainnya.

3.      Memperoleh wawasan dan pengalaman dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan

pembelajaran menyimak dengan menggunakan metode simulasi.

Bagi Sekolah

Memberikan konstribusi dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktek

pembelajaran di sekolah.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pembelajaran Menyimak

1.      Pengertian Menyimak

Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak

(panduan bahasa dan sastra Indonesia, Hanapi; 1995: 18), sedangkan menurut Tarigan (dalam

Dadan Djuanda, 2008: 12) menyimak adalah “suatu proses yang mencakup kegiatan

6
mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas

makna yang terkandung di dalamnya”. Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan,

penghayatan, ingatan, dan pengertian. Situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak

terkandung tindakan yang disengaja. Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana.

Peristiwa menyimak selalu diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa baik secara

langsung atau dengan menggunakan alat lain, misalnya radio, dan televisi. Bunyi bahasa yang

ditangkap oleh telinga diidentifikasi bunyinya kemudian dikelompokan menjadi suku kata,

frase, klausa, kalimat, dan wacana.

2.      Tujuan Menyimak


Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta

gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Tujuan umum menyimak dapat

dijabarkan sebagai berikut:

a. Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta

b. Untuk menganalisis dan mengevaluasi fakta

d. Untuk mendapatkan inspirasi dan menghibur diri

ses

Kegiatan menyimak sebenarnya merupakan suatu proses yang aktif. Meskipun dalam

kenyataannya secara fisik, ketika menyimak dilaksanakan seolah-olah pasif. Aktifnya

kegiatan menyimak dapat dilihat pada waktu pemahaman simakan. Sebelum penyimak

sampai pada taraf pemahaman, penyimak harus berupaya sungguh-sungguh untuk memahami

yang disimaknya. Hal tersebut menunjukan bahwa penyimak bersifat aktif.

Greene (dalam Djuanda, 2008: 20) membagi proses menyimak atas empat tahap, yaitu

mendengarkan, memahami, mengevaluasi, dan menanggapi. Sedangkan Morris (dalam

Djuanda, 2008: 21) membagi proses menyimak atas lima tahap, yaitu mendengar, perhatian,

persepsi, menilai, dan menanggapi kemudian menyimpulkan proses menyimak tersebut

7
menjadi enam tahap, yaitu mendengar, mengidentifikasi, menginterpretasi, memahami,

menilai, dan menanggapi.

Dalam setiap tahap proses menyimak diperlukan kemampuan tertentu agar proses

menyimak dapat berjalan mulus. Misalnya dalam fase mendengarkan bunyi bahasa

diperlukan kemampuan menangkap bunyi, sehingga telinga penyimak harus peka.

4.      Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyimak

a.       Unsur Pembicara Pembicara haruslah menguasai materi, penuh percaya diri, berbicara

sistematis dan kontak dengan penyimak juga harus bergaya menarik / bervariasi

b.      Unsur Materi. Unsur yang diberikan haruslah actual, bermanfaat, sistematis dan seimbang

c.       Unsur Penyimak / Siswa

1)      kondisi siswa dalam keadaan baik

2)      siswa harus berkonsentrasi

3)      adanya minat siswa dalam menyimak

4)      penyimak harus berpengalaman luas

sur Situasi

aktu penyimakan

an unsur pendukung

asana lingkungan

5.      Ciri-Ciri Penyimak Ideal

Menurut Tarigan mengidentifikasi ciri-ciri menyimak ideal sebagai berikut:

a.       Berkonsentrasi. Artinya penyimak harus betul-betul memusatkan perhatian kepada materi

yang disimak

b.      Penyimak harus bermotivasi. Artinya mempunyai tujuan tertentu sehingga untuk menyimak

kuat

8
c.       Penyimak harus menyimak secara menyeluruh. Artinya penyimak harus menyimak materi

secara utuh dan padu.

d.      Penyimak harus menghargai pembicara

e.       Penyimak yang baik harus selektif, artinya harus memilih bagian-bagian yang inti

f.       Penyimak harus sungguh-sungguh

g.      Penyimak tidak mudah terganggu

h.      Penyimak harus cepat menyesuaikan diri

i.        Penyimak harus kenal arah pembicaraan

j.        Penyimak harus kontak dengan pembicara, merangkum, dan merespon

B.     Teori Belajar Bahasa

1.   Behaviorisme (Azies, 1996: 21)         


Behaviorisme merupakan teori psikologi, selama beberapa waktu diadopsi oleh

parametodolog pengajaran bahasa, terutama di Amerika yang hasilnya pendekatan metode

audiolingual. Metode ini ditandai dengan pemberian pelatihan terus-menerus kepada siswa

yang diikuti dengan pemantapan baik positif maupun negatife sebagai pokok aktifitas kelas.

Dalam pelaksanaan di kelas, metode yang juga dipengaruhi strukturalisme ini,

menurut Moulfon (1963) memiliki 5 karakteristik kunci yang perlu dipertimbangkan jika

hendak merancang program bahasa.

a.       Bahasa itu ujaran, bukan tulisan

b.      Bahasa itu seperangkat kebiasaan

c.       Ajarkanlah bahasa, bukan tentang bahasa

d.      Bahasa adalah sebagaimana dikatakan oleh penutur asli, bukan seperti yang dipikirkan orang

bagaimana orang seharusnya berbicara

e.       Bahasa itu berbeda-beda

9
Tahap terpenting dalam metode ini adalah penyajian dan pelatihan karena dilakukan
dengan sejelas mungkin.

2.Kognitivisme (Azies,1996:22)
Kognitivisme bisa disebut mentalisme yang dipelopori Linguis Noam Chomsky.

Menurut Chomsky bahasa bukanlah salah satu bentuk perilaku, melainkan merupakan sistem

yang didasarkan pada aturan dan pemerolehan bahasa pada dasarnya merupakan

pembelajaraan system tersebut. Dalam kaitan ini, Chomsky memperkenalkan konsep

kompetensi dan perpormansi. Kompetensi merujuk kepada penguasaan siswa tentang aturan

gramatikal. Kemampulan menggunakan aturan-aturan ini disebut perpormansi.

Pembelajaran bahasa menurut Chomsky tidak pernah menggunakan metodologi, akan

tetapi gagasannya yang menyatakan bahwa bahasa bukanlah seperangkat kebiasaan, yang

penting adalah bahwa pembelajaran menginternalisasikan aturan sehingga akan

memungkinkan terjadinya performansi kreatif telah banyak memberi gagasan bagi berbagai

teknik dan metode pengajaran. Secara singkat pandangan ini dapat disimpulkan bahwa

tunjukkan pada mereka aturan atau struktur yang mendasari dan kemudian biarkan mereka

melakukannya sendiri. Menciptakan sendiri kalimat-kalimat baru adalah tujuan pengajaran

bahasa.             

es,1996: 23)

Pendekatan humanistik menganggap siswa sebagai a whole person ‘orang sebagai

suatu kesatuan’. Dengan kata lain, pengajaran bahasa tidak hanya mengajarkan bahasa tetapi

juga membantu siswa mengembangkan diri mereka sebagai manusia.

Keyakinan tersebut telah mengarahkan munculnya sejumlah teknik dan metodologi

pengajaran yang menekankan aspek “Humanistik” pengajaran. Dalam metodologi semacam

itu, pengalaman siswa adalah yang terpenting dan perkembangan kepribadian mereka serta

penumbuhan perasaan positif dianggap penting dalam pembelajaran bahasa mereka.

10
Metode yang termasuk kedalam pendekatan humanistik adalah metode the silent

way. Metode yang dikembangkan Caleb Gattogno ini bercirikan sedikit masukan yang

disampaikan guru, guru hanya memberikan contoh atau model berbahasa kemudian memberi

petunjuk apa yang harus dilakukan siswa.

Kemudian metode total physical response yang dikembangkan oleh James Asher.

Dalam metode ini, guru memberi instruksi kepada siswa. Siswa tidak harus berbicara, mereka

hanya harus mengikuti perintah-perintah guru. Bila benar-benar menguasai, mereka bisa

memerintah kepada teman lain. Jadi siswa belajar bahasa melalui  tindakan fisik dari

pelatihan.

C.      Teori Perkembangan Anak

Perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengaruh tersebut dapat positif,
namun tidak mustahil pula menjadi negatif. Kita sebagai guru diharapkan dapat berbuat
sesuatu yang mampu membesarkan dampak positif faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan anak.

1.      Teori Piaget (teori perkembangn kognitif)


Teori Piaget (1896-1980) teorinya yaitu tentang bagaimana seorang anak belajar
melalui tindakan yang dilakukannya. Teori Piaget yang biasa disebut dengan “teori
perkembangan mental manusia” berkenaan dengan kesiapan anak untuk mampu belajar.
            Menurut teori Piaget dalam Mega Wangi, 2004: 8-11), perkembangan kognitif
manusia itu tumbuh secara kronologis melalui empat tahap tertentu yang berurutan. Keempat 
tahap yang dimaksudkan oleh Piaget itu ialah :
a.       Tahap sensomotor (umur 0 tahun sampai 2 tahun)
b.      Tahap pra-operasional (umur 2 tahun sampai 7 tahun)
c.       Tahap operasi konkret (umur 2 tahun sampai sekitar 11-12 tahun atau lebih)
d.      Tahap formal (umur 11 tahun sampai dewasa).

Pada umumnya anak sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret (concrete
operasional) sebagaimana tujuan dari teori perkembangan mental Piaget. Pada tahap ini anak
dapat memahami operasi (logis) dengan bantuan benda-benda konkret atau dalam keadaan
tertentu.
2.      Teori Erik Erikson (teori perkembangan emosi)
          Erik Erikson (1902-1994) berpendapat :
perkembangan emosi positif sangat penting dalam perkembangan jiwa anak dan sangat
tergantung pada peran orang tua dan guru. Setiap anak akan dihadapkan pada 2 keadaan yang
saling bertolak belakang; emosi positif dan negatif pada setiap tahap perkembangan.
Seseorang akan mengalami konflik tarik menarik antara kedua emosi tersebut, keberhasilan

11
dalam mengelola konflik itu terwujud apabila anak dapat mencapai emosi positif. (dalam
Mega Wangi, 2004: 11-13)

Hubungan antara teori Erik Erikson dengan model yang diujicobakan adalah pada
tahap berkarya/etos kerja VS minder yaitu antara 6-10 tahun. Dikarenakan pada usia ini
terdapat pada siswa sekolah dasar. Disini keadaan perkembangan siswa dikembangkan dalam
hal kepercataan diri mereka, mampu untuk berekspresi dan berkarya, hal inilah yang sangat
sensitif. Pada tahap perkembangan ini terdapat motivasi-motivasi untuk  berkembang, untuk
itu pembelajaran yang disajikan jangan yang terlalu abstrak karena akan bahaya bagi
perkembangan siswa sehingga pembelajaran yang dilakukan harus menggunakan media dan
salah satu media yang dapat digunakan untuk berkarya dan berekspresi adalah peta
berwarna. 
3.      Teori Vigotsky (teori Sosio-kultur)
            Menurut Vigotsky, perkembangan intelektual anak mencakup bagaimana mengaitkan
bahasa dengan pikiran. Pada awal perkembangan anak, antara bahasa dan pikiran tidak ada
keterkaitan. Semakin sulit subyek yang sedang dipelajari anak, semakin sering anak-anak
berbicara sendiri untuk mengerti apa yang sedang dipelajarinya. Jadi penggunaan bahasa
bukan hanya sekedar alat untuk berekspresi yaitu sebuah refleksi mengenai obyek yang telah
diketahui oleh anak menurut Piaget, tetapi juga alat bantu yang efektif dalam proses belajar.
(dalam Mega Wangi, 2004: 13-15)

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.    Subjek Penelitian

1.      Lokasi penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di SD Negeri Padamulya yang terletak di desa

Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang. Siswa kelas V dipilih sebagai

subjek dalam penelitian karena kurang optimalnya pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesia

yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tahun 2006, sehingga dengan adanya penelitian

tindakan kelas yang dilaksanakan dengan penerapan model inkuiri untuk meningkatkan hasil

belajar siswa pada konsep perubahan sifat benda dan penerapan metode simulasi untuk

meningkatkan kemampuan menyimak cerita rakyat dapat menunjang pencapaian tujuan

pembelajaran. Selain itu juga peneliti menilai perlu adanya sebuah inovasi dalam kegiatan

12
pembelajaran di kelas V agar kualitas pembelajaran siswa dapat meningkat sehingga

diharapkan dapat memberikan dampak positif berupa peningkatan hasil belajar siswa.

2.      Waktu penelitian

Pelaksanana pembelajaran dan perbaikan dilaksanakan tiga kali pertemuan untuk


masing-masing mata pelajaran. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.1
Jadwal Pelaksanaan PTK
Mata Pelajaran Pertemuan Waktu Pelaksanaan
Bahasa Pertemuan Ke I 23 Februari 2010
Indonesia Pertemuan ke II (Siklus I) 2 Maret 2010
Pertemuan ke III (Siklus II) 9 Maret 2010

3.       Kelas dan Karakteristik Siswa

Penelitian ini mengambil subyek seluruh siswa kalas V SD Negeri Padamulya

Kecamatan Tanjungmedar  Kabupaten Sumedang, berjumlah 28 siswa yang terdiri dari 16

siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan..

Latar belakang kehidupan sosial ekonomi orang tua siswa adalah  kalangan menengah

ke bawah. Pendidikan orang tua siswa sangat bervariatif, mulai dari lulusan SD, SLTP,

SLTA, dan Perguruan Tinggi. Begitu juga dengan mata pencaharian, tapi sebagian besar

sebagai petani dan buruh.

B.     Deskripsi Per Siklus

1.      Prosedur penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas

(PTK). Karena melalui penelitian tindakan kelas ini guru dapat melihat kembali apa yang

telah dikerjakan, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Model PTK yang

akan digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc Taggart, yaitu model

siklus yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan. Dalam setiap siklusnya

terdiri dari tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, tahap

refleksi, dan tahap perencanaan untuk pelaksanan siklus selanjutnya.

13
Alur pelaksanaan tindakan kelas

setiap siklus dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

           

                                                                                                               

Gambar 2
Model Spiral Kemmis dan Mc. Taggart
(Wiriaatmadja, 2008: 66)
Dari bagan di atas prosedur penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus.

Masing-masing siklus terdiri dari tiga atau beberapa kali tindakan. Hal ini sesuai dengan

perubahan yang ingin dicapai, sebagaimana telah didesain dalam penelitian tindakan.

a. Tahap Perencanaan Tindakan

14
1)      Pendekatan kepada kepala sekolah SD Negeri Padamulya agar memberikan izin dan

kesempatan untuk melaksanakan kegiatan penelitian

2)      Mengadakan penelitian awal pada proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk

memperoleh data-data awal berupa permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran.

3)      Mendiskusikan rencana Penelitian Tindakan Kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas

pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V.

4)      Menyusun langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu tahap-tahap

pembelajaran dengan menggunakan model inquiri dan metode simulasi.

5)      Menyusun lembar observasi kinerja guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

6)      Membuat alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan siswa dalam memahami materi

pelajaran.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini dilaksanakan tindakan penelitian yang berupa pelaksanaan kegiatan

pembelajaran berdasarkan RPP yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan model

pembelajaran inkuiri. Tahap pelaksanaan tindakan ini terdiri dari enam langkah, yaitu:

Orientasi. Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim

pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap

melaksanakan proses pembelajaran, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir

memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang penting, keberhasilan

model ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan

kemampuannya dalam memecahkan masalah

            Merumuskan masalah. Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa

pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan

yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Teka-teki yang menjadi

15
masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus

dicari dan ditemukan.

Merumuskan hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan

yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah

satu cara guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak

adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat

merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan

jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

Mengumpulkan data. Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang

dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam model pembelajaran ini

mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan

intelektual. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-

pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.

Menguji hipotesis. Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang

dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan

pengumpulan data.

Merumuskan kesimpulan. Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan

temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan

merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran.

c. Tahap Observasi

Pada tahap ini dilakukan suatu kegiatan pengamatan langsung terhadap pelaksanaan

pembelajaran yang dilakukan dalam tindakan pelaksanaan.

16
Kegiatan observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hal-hal penting

selama pembelajaran berlangsung, yang kemudian akan digunakan sebagai salah satu data

yang akan dianalisa.

d. Tahap Refleksi

Pada tahap ini data hasil observasi yang didapat selama pelaksanaan tindakan

perbaikan dan data hasil belajar siswa dianalisis kembali sehingga dapat diketahui apakah

pelaksanaan tindakan tersebut telah mencapai target proses dan target hasil atau masih

memerlukan perbaikan-perbaikan.

elitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

a.       Pedoman Observasi

Pedoman observasi adalah suatu pedoman atas pengamatan secara teliti serta

pencatatan secara sistematis untuk mengetahui kinerja guru dan aktivitas siswa pada waktu

tindakan pelaksanaan. Observasi ini digunakan untuk memperoleh gambaran interaksi antara

guru dan siswa selama proses pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda. Dalam

observasi dilengkapi dengan format pengamatan sebagai instrumen.

b.      Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara adalah suatu pedoman tanya jawab yang dilakukan untuk

mengumpulkan informasi melalui komunikasi secara langsung dengan responden dalam hal

ini dilakukan kepada siswa, guru dan pembimbing berkenaan dengan gambaran pelaksanaan

proses pembelajaran IPA tentang konsep perubahan sifat benda melalui penerapan model

pembelajaran inkuiri. Wawancara ini dilakukan setelah proses pembelajaran dengan tujuan

untuk memberikan gambaran pelaksanaan proses pembelajaran dan hasilnya.

c.       Tes Tertulis

17
Tes yaitu suatu alat atau prosedur yang sistematis bagi pengukuran sebuah sampel

perilaku. Digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kemampuan siswa sebelum

dan sesudah tindakan mengenai materi yang telah diajarkan.

Tes dilakukan pada akhir pembelajaran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam

memahami konsep perubahan sifat benda. Tes tersebut terdiri dari lembar soal, lembar

jawaban, dan kunci jawaban.

d.      Catatan Lapangan

Catatan lapangan digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian yang penting selama

penelitian berlangsung yang mungkin tidak terduga dan tidak direncanakan pada pedoman

observasi.

e.       Lembar Kerja Siswa

Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembar kerja yang dibuat untuk mengarahkan

siswa dalam mengamati atau melakukan kegiatan percobaan. LKS ini diberikan kepada siswa

ketika akan dimulai percobaan.

3.  Teknik Pengolahan Data

a.    Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tahap pengumpulan

data gari berbagai instrument penelitian yang meliputi kinerja guru dan aktivitas siswa yang

selanjutnya dilakukan pengkajian dan analisis.

1)     Teknik pengolahan data proses

a)      Hasil observasi kinerja guru

Merlalui observasi terhadap kinerja guru dapat diperoleh data melalui kelebihan dan

kekurangan guru dalam proses pembelajaran.

b)      Hasil observasi aktivitas siswa

18
Observasi terhadap aktivitassiswa dilaksanakan pada saat pembelajaran, untuk mengetahui

keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

2)     Teknik pengolahan data hasil

            Tes diberikan kepada siswa untuk mengukur pemahaman siswa. Ketuntasan siswa

didasarkan KKM (kriteria ketuntasan belajar), dengan memperhatikan kompleksitas, daya

dukung dan intake siswa. KKM itu sendiri merupakan kriteria minimal yang harus dicapai

atau dikuasai oleh siswa untuk semua mata pelajaran. Setiap siswa dinyatakan lulus atau

tuntas ketika memperoleh nilai 62 ke atas.

3)      Analisis Data

Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dikumpulkan untuk dipelajari dan dianalisis.

Rangkuman data yang dianggap penting dan dapat menguatkan penelitian disajikan dalam

bentuk deskriptif dan tabel. Setelah mengumpulkan data dan memperoleh bukti-bukti yang

kuat mengenai hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan data-data

tersebut.

4)      Validasi data

            Validasi data menurut Hopkins (Wiraatmadja, 2005) sebagai berikut:

a)      Member check yaitu memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang

diperoleh selama observasi atau wawancara dari narasumber, siapa pun juga (kepala sekolah,

guru, teman sejawat guru, siswa dan lain-lain) apakah keterangan atau informasi itu tetap

sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan keajegannya dan data itu diperiksa

kebenarannya.

b)      Triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk atau analisis dengan

membandingkan hasil orang lain, misalnya mitra peneliti lain yang hadir dan menyaksikan

situasi yang sama

19
c)      Expert opinion, yaitu dilakukan dengan meminta nasihat kepada pakar, dalam hal ini

pembimbing penelitian. Pembimbing akan memeriksa semua kegiatan penelitian dan

memberikan arahan atau judgement terhadap masalah-masalah penelitian yang peneliti

kemukakan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil  Penelitian


1.    Paparan Data Tindakan Pembelajaran  Bahasa Indonesia
a.    Paparan Data Tindakan Siklus I
1). Paparan data perencanaan siklus I
Kegiatan perencanaan tindakan siklus I adalah :
a.       Membuat rencana perbaikan pembelajaran siklus I. Dalam rencana perbaikan siklus I
kegiatan penelitian difokuskan pada tujuan perbaikan yaitu agar siswa dapat menyebutkan
watak tokoh dalam cerita rakyat yang telah disimak.
b.      Menentukan metode pembelajaran yaitu metode simulasi
c.       Membuat lembar observasi siswa untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar
2). Paparan data pelaksanaan siklus I
            Siklus I dilaksanakan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit
yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 2 Maret 2010, dimulai pukul 07.30-08.40 WIB.
Proses pembelajaran siklus I ini diawali dengan kegiatan seperti biasanya yaitu
mengkondisikan siswa siap belajar, berdoa, mengabsen, menyiapkan alat pembelajaran,
menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengadakan apersepsi.
Ketika pada kegiatan inti, peneliti membagi siswa kedalam kelompok, setiap
kelompok terdiri dari 4 orang. Peneliti membacakan cerita rakyat dengan memperhatikan
peniruan suara dari tokoh cerita, intonasi dan penampakan emosi sesuai dengan alur cerita.
Pada kegiatan akhir, siswa dengan bimbingan peneliti menyimpulkan materi yang
telah dipelajari kemudian peneliti menutup pembelajaran.
                 3). Paparan data hasil siklus I
          Setelah kegiatan belajar mengajar, maka sebagai pengamatan penulis mengadakan
evaluasi. Dari hasil tes tersebut maka diperoleh rincian nilai setiap siswa pada tabel dibawah
ini :

Tabel 4.3
Daftar Nilai Siklus I
N TAFSIRAN
NAMA SISWA NILAI
O T BT
1. Andri Septiana 70 √
2. Anita Sari 70 √
3. Arifin 70 √
4. Cepi Rohdiana 80 √

20
5. Dede Suryadi 70 √
6. Devi Intan 50 √
7. Enggal Lalan 50 √
8. Fitriani 70 √
9. Fifi Nuradiana 70 √
10. Idan Royani 50 √
11. Ita Nurlela 50 √
12 Iqbal Maulana 70 √
13 Lina Nurlinasari 70 √
14 Martiningsih 50 √
15 Melani 70 √
16 Mesy Fitri 80 √
17 Moh. Ramdani 70 √
18 Novian Rosmiati 70 √
19 Rifki Renaldi 60 √
20 Rizal Zaelani 50 √
21 Siti Nurjanah 90 √
22 Sofian 80 √
23 Susi Nurhasanah 80 √
24 Taufik Budiman 50 √
25 Tomi 50 √
26 Widaningsih 80 √
27 Zaenal 60 √
28 Nurhakim 60 √
               PERSENTASE 60,7% 39,3%

          Dari daftar nilai di atas, walaupun ada peningkatan tetapi dapat dilihat bahwa masih
banyak siswa yang mendapat nilai kurang dari yang seharusnya.
                 4). Refleksi siklus I
          Di dalam penerapan cara menggambar beregu ditemukan beberapa temuan sebagai
berikut :
a)      Siswa belum memahami cerita
b)      Siswa belum memahami karakter/watak tokoh
c)      Masih ada beberapa siswa yang malu-malu dalam melakukan simulasi.
d)     Hasil tes yang  diperoleh pada siklus I mengalami peningkatan.
e)      Menganalisis data hasil belajar yang diperoleh dari hasil                        observasi
f)       Peneliti berdiskusi dengan praktikan mengenai proses dan hasil pembelajaran dengan
menggunakan
b.    Paparan Data Tindakan Siklus II
1)      Paparan data perencanaan siklus II
Berdasarkan  refleksi pada siklus I, hasil tindakan sudah cukup bagus namun belum
sesuai dengan yang ditargetkan sehingga perlu dilakukan tindakan pada siklus berikutnya.
Pada siklus II ini indikator yang hendak dicapai yaitu menceritakan kembali secara tertulis
alur cerita yang telah disimak. Adapun perencanaan pada siklus II ini adalah sebagai berikut :
a)      Pelaksanaan kegiatan pada siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I, tetapi indikator yang
harus dicapai yaitu siswa dapat menceritakan kembali alur cerita yang telah disamak.
b)      Membuat  rencana perbaikan pembelajaran siklus II
c)      Membuat lembar observasi siswa.

21
2)      Paparan data pelaksanaan siklus II
Siklus II dilaksanakan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit
yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 2 Maret 2010, dimulai pukul 07.30-08.40 WIB.
Kegiatan pelaksanaan pada siklus II masih sama dengan kegiatan pelaksanaan pada
siklus satu hanya saja pada siklus II ada perubahan yaitu lebih menekankan pada siswa untuk
dapat menceritakan kembali alur cerita yang telah disimak ke dalam sebuah tulisan.
3)      Paparan data hasil siklus II
Setelah kegiatan belajar mengajar, maka sebagai pengamatan penulis mengadakan
tes akhir untuk mengetahui tingkat keberhasilan. Dari hasil tes tersebut maka diperoleh
rincian nilai setiap siswa pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.4
Daftar Nilai Siklus II
N TAFSIRAN
NAMA SISWA NILAI
O T BT
1. Andri Septiana 80 √
2. Anita Sari 80 √
3. Arifin 60 √
4. Cepi Rohdiana 80 √
5. Dede Suryadi 70 √
6. Devi Intan 60 √
7. Enggal Lalan 60 √
8. Fitriani 80 √
9. Fifi Nuradiana 70 √
10. Idan Royani 50 √
11. Ita Nurlela 60 √
12 Iqbal Maulana 80 √
13 Lina Nurlinasari 80 √
14 Martiningsih 60 √
15 Melani 80 √
16 Mesy Fitri 90 √
17 Moh. Ramdani 80 √
18 Novian Rosmiati 80 √
19 Rifki Renaldi 70 √
20 Rizal Zaelani 70 √
21 Siti Nurjanah 100 √
22 Sofian 90 √
23 Susi Nurhasanah 80 √
24 Taufik Budiman 70 √
25 Tomi 60 √
26 Widaningsih 90 √
27 Zaenal 70 √
28 Nurhakim 70 √
               PERSENTASE 75% 25%

22
            Dari daftar nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil yang dicapai pada
penbelajaran menyimak cerita rakyat hasilnya sangat memuaskan.
                 4). Refleksi siklus II
            Berdasarkan hasil analisis dan refleksi terhadap proses pembelajaran pada siklus II
temuan-temuannya dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.       Siswa sudah memahami cerita
b.      Siswa sudah memahami karakter/watak tokoh
c.       Sudah tidak ada siswa yang malu-malu dalam melakukan simulasi.
B.     Pembahasan
1.    Pembelajaran Bahasa Indonesia
            Berdasarkan hasil belajar siswa pada pembelajaran awal dan perbaikan pembelajaran
IPS diperoleh data nilai-nilai sebagai berikut :
Tabel 4.7
Daftar Perolehan Nilai Bahasa Indonesia

Nilai
No Nama Siswa Pert. II Pert . III
Pert. I
(siklus I) (siklus II)
1 Andri Septiana 70 70 80
2 Anita Sari 70 70 80
3 Arifin 50 70 60
4 Cepi Rohdiana 70 80 80
5 Dede Suryadi 70 70 70
6 Devi Intan 50 50 60
7 Enggal Lalan 30 50 60
8 Fitriani 70 70 80
9 Fifi Nuradiana 60 70 70
10 Idan Royani 50 50 50
11 Ita Nurlela 50 50 60
12 Iqbal Maulana 60 70 80
13 Lina Nurlinasari 30 70 80
14 Martiningsih 40 50 60
15 Melani 50 70 80
16 Mesy Fitri 70 80 90
17 Moh. Ramdani 60 70 80
18 Novian Rosmiati 60 70 80
19 Rifki Renaldi 50 60 70
20 Rizal Zaelani 50 50 70
21 Siti Nurjanah 90 90 100
22 Sofian 80 80 90
23 Susi Nurhasanah 80 80 80
24 Taufik Budiman 60 50 70
25 Tomi 60 50 60
26 Widaningsih 80 80 90
27 Zaenal 60 60 70
28 Nurhakim 60 60 70

23
Persentase   Penguasaan Materi (%) 53,5% 60,7% 75%

            Secara keseluruhan, penelitian mengenai penggunaan metode simulas untuk


meningkatkan kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SDN Padamulya memberikan
hasil yang positif yaitu adanya peningkatan pemahaman siswa. Untuk lebih rinci dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Tabel 4.8
Tingkat Keberhasilan
No Pertemuan Tingkat Keberhasilan
(KKM)
1 I 53,5%
2 II 60,7%
3 III 75%

            Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada pertemuan ke satu, persentase
tingkat keberhasilan penguasaan materi siswa hanya mencapai 53,5%, pada pertemuan ke dua
(siklus I) mengalami peningkatan menjadi 60,7%, dan pada pertemuan ke tiga (siklus II)
tingkat keberhasilan penguasaan materi siswa mencapai 75%. Adapun diagram tingkat
keberhasilan yaitu sebagai berikut :

Diagram  4.2
Persentase Tingkat Keberhasilan Bahasa Indonesia

24
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian yang dilakukan dengan

mengaplikasikan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada

konsep perubahan sifat benda dan penggunaan metode simulasi untuk meningkatkan

kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan

Tanjungmedar Kabupaten Sumedang, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

a.       Gambaran perencanaan penerapan metode simulasi untuk meningkatkan kemampuan


menyimak cerita rakyat
Pada tahap ini diawali dengan membuat rencana perbaikan pembelajaran siklus I dan
siklus II. Dalam rencana perbaikan siklus I kegiatan penelitian difokuskan pada tujuan
perbaikan yaitu agar siswa dapat menyebutkan watak tokoh dalam cerita rakyat yang telah
disimak sedangkan pada siklus II inkator yang harus dicapai siswa dapat menceritakan
kembali alur cerita yang telah disamak. Langkah selanjutnya adalah menentukan metode
pembelajaran yaitu metode simulasi dan membuat lembar observasi siswa untuk melihat
bagaimana kondisi belajar mengajar.
b.      Gambaran pelaksanaan penerapan metode simulasi.
Pelaksanaan pembelajaran dilakukan sesuai dengan RPP yang telah dibuat.
Pelaksanaannya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika pada kegiatan inti, peneliti
membagi siswa kedalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 orang. Peneliti
membacakan cerita rakyat dengan memperhatikan peniruan suara dari tokoh cerita, intonasi
dan penampakan emosi sesuai dengan alur cerita. Pada saat pembelajaran, siswa sudah
memahami cerita, memahami karakter/watak tokoh dan sudah tidak ada siswa yang malu-
malu dalam melakukan simulasi.
Pada kegiatan akhir, siswa dengan bimbingan peneliti menyimpulkan materi yang
telah dipelajari kemudian peneliti menutup pembelajaran.
c.       Gambaran hasil kemampuan menyimak cerita melalui penerapan metode simulasi.
Dengan diterapkannya metode simulasi, kemampuan menyimak siswa terhadap cerita
rakyat dapat meningkat. Hal ini terbukti dari hasil belajar siswa berupa nilai yang meningkat.
pada pertemuan pertama (sebelum model diujucobakan) hanya ada 15 siswa (53,5%) dari 28
orang yang lulus KKM. Pada siklus I (setelah model diujicobakan) ada 17 orang siswa
(60,7%) yang lulus KKM dan pada siklus II siswa yang lulus KKM mencapai 21 orang
(75%).

B.     Saran

25
Berdasarkan hasil penelitian mengenai meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep

perubahan sifat benda melalui penerapan model pembelajaran inkuiri dan penggunaan

metode simulasi untuk meningkatkan kemampuan menyimak cerita rakyat di kelas V SDN

Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang, maka peneliti dapat

mengemukakan beberapa saran, yaitu :

1. Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang tergolong baru di

dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Seorang guru yang ingin menggunakan

model pembelajaran inkuiri harus mengetahui dengan jelas model pembelajaran ini.

2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan

kebiasaan siswa dalam belajar. Untuk itu, model ini harus terus diberikan kepada

siswa agar siswa terbiasa terhadap model ini. Tentunya disesuikan dengan mata

pelajaran dan materi yang akan dipelajari.

3.      Model pembelajaran inkuiri merupakan salah satu model yang dianggap sesuai dengan
perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan
tingkah laku berkat adanya pengalaman
4.      Interaksi antara guru dan siswa harus lebih aktif agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.
5.      Penggunaan metode yang bervariasi akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik.

26