Anda di halaman 1dari 45

METODE PELAKSANAAN

BAB VII
METODE PELAKSANAAN
7.1.1 Lokasi Pekerjaan

Daerah Irigasi Simae Kabupaten Sidrap. Untuk mencapai lokasi pekerjaan, dari Kota
Makassar dapat ditempuh dengan perjalan darat (kendaraan roda 4) dengan
perkiraan jarak tempuh sekitar 183km dengan waktu tempuh kurang lebih 4jam.
Untuk mencapai lokasi pekerjaan dari jalan Poros Sidrap – Pare-Pare melalaui jalan
Desa Duampanua, Kecamatan Barantiyang dapat dilalui dengan kendaraan roda 4.
Jarak dari jalan poros kurang lebih 1 km.

7.1.2 Sumber Material


1. Alam:
 Pasir : Lokal setempat +30 km
 Batu Gunung (Belah) : Lokal setempat +5km
 Sirtu : Lokal setempat +5km
 Batu Pecah : Lokal setempat Plant +5 km
2. Pabrikan:
 Semen PC : Supplier Kota Sidrap
 Besi Tulangan : Supplier Kota Sidrap
 Pintu Air : Pabrikan Makassar

7.1.3 Pengadaan, Penanganan Material/Bahan Pekerjaan dan Deposit/ Penyimpanan


Bahan / Material di Lapangan.
1. Beton dan Batu kali
 Pengadaan bahan / material untuk pekerjaan Struktur Beton dari Concrete
Mixer.
 Pengadaan bahan / material untuk pekerjaan Struktur Beton dan
Pasangan Batu kali dengan menggunakan Beberapa Concrete Mixer.

2. Pengadaan Material Batu dan Pasir

Proposal Lokasi Quary Batu dan metode transportasi serta stock


material.UntuklokasiyangtidakdapatdijangkaudenganDumptruck,transportasi
dibantu dengangerobak /alatBantu.Materialdistockpadalokasisementara

VII-1
METODE PELAKSANAAN

/stockarea,
dilanjutkandenganbantuanalatBantu/gerobakmenujulokasipekerjaan.

7.1.4 KondisiLapangan
Kondisi umum lokasi pekerjaan berupa lahan persawahan

Gambar 7.1 Foto Lokasi Pekerjaan

Iklim dan Musim Tanam;


 Musim Hujan : Bulan Desember – Juli
 Musim Kemarau : Bulan Agustus – Nopember
 Musim Tanam

MT.1(Padi) : Oktober – January

MT.2(Padi) : February – Juni

MT.3 (Palawija) : -

7.1.5 Pelaksanaan Pekerjaan

A. Mobilisasi dan Demobilisasi

Mobilisasi disini dapat dibagi atas 3 (tiga) kelompok yaitu mobilisasi personil/tenaga
kerja, mobilisasi material dan mobilisasi peralatan.

Mobilisasi personil dimulai sejak sebelum masa pekerjaan dimulai hingga pekerjaan
selesai, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pelaksana dalam menyusun
rencana kerja atau planning kerja setelah terlebih dahulu melakukan survey
pendahuluan lapangan dan melakukan inventarisasi terhadap kemungkinan adanya
permasalahan yang timbul selama masa pelaksanaan.

VII-2
METODE PELAKSANAAN

Sedangkan mobilisasi material dilakukan sesuai kebutuhannya untuk kebutuhan


pekerjaan yang akan segera dilaksanakan atau selama pekerjaan.

Mobilisasi peralatan dilakukan sesuai kebutuhannya untuk kebutuhan pekerjaan


yang akan segera dilaksanakan atau selama pekerjaan. Jenis dan tipe peralatan
disesuaikan dengan lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan.

B. Pembuatan Fasilitas Sementara

Pekerjaan persiapan jalan masuk dan jalan kerja.Pembersihan pada lokasi yang
direncanakan termasuk penggalian drainase dan perkerasan permukaan jalan
sehingga jalan dapat digunakan pada saat musim hujan. Pembuatan kantor, base
camp, gudang, dan barak kerja dan fasilitas pendukungnya jika diperlukan.

C. Pengkuran MC.0 dan Pembuatan Gambar Kerja

Sebelum dimulainya pekerjaan konstruksi, maka pengukuran lapangan harus


dilaksanakan untuk mengetahui rencana trase saluran yang akan digali serta
disposal hasil galian direncana timbunan. Adapun kegiatan pengukuran adalah
sebagai berikut ;

• Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur Waterpass dan Total


Station lengkap dengan peralatan penunjang lainnya seperti bak ukur, meteran,
yalon dan lain – lain.

• Pengukuran dilakukan untuk menentukan batas – batas atau patok – patok


untuk mengetahui elevasi permukaan tanah sebagai pedoman untuk
pelaksanaan pekerjaan agar sesuai dengan gambar rencana.

• Pedoman dari penetapan elevasi ini diambil dari Bench Mark ( BM ) yang ada di
lapangan yang telah disetujui Direksi Pekerjaan.

• Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran arah memanjang (Longitudinal


Section) dan arah melintang (Cross Section)

• Pengukuran arah memanjang dilakukan rencana sepanjang galian alur saluran


yang akan dilaksanakan sebagai pengecekan panjang saluran pada ruas
tersebut.

VII-3
METODE PELAKSANAAN

• Pengukuran arah melintang dilakukann sepanjang rencana galian alur saluran


yang akan dilaksanakan, dengan jarak sesuai dengan gambar rencana atau
atas persetujuan Direksi Pekerjaan yang nantinya dipakai juga sebagai dasar
perhitungan Mutual Check 0%.

Personil pengukuran

• Surveyor

• Tenaga kerja

Peralalatan yang digunakan adalah ;

• Alat ukur Water Pass

• Thodolite/ Total station

• Rambu ukur

• Patok kayu

Setelah selesai pengukuran dilanjutkan dengan pembuatan gambar kerja sebagai


pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

VII-4
METODE PELAKSANAAN

PROSES PENGUKURAN MC. 0%

MULAI

PENGECEKAN MENCARI LETAK


ALAT BM Yang Disetujui

TIDAK TIDAK
CEK CEK
YA YA

PENGUKURAN
MC.0% &
FOTO-FOTO

PENGGAMBARAN &
TIDAK
PERHITUNGAN
VOLUME

KONSULTAN
CEK PENGAWAS DIREKSI

PELAKSANAAN FISIK

SELESAI

VII-5
METODE PELAKSANAAN

PROSES PEMBUATAN SHOP DRAWING

MULAI

SHOP DRAWING DISIAPKAN


OLEH KONTRAKTOR

PROSES PEMERIKSAAN & EVALUASI SHOP


DRAWING
KONRAKTOR

TIDAK
PERBAIKAN SESUA
OLEH I
KONTRAKTOR

YA

TIDAK PEMERIKSAAN DIREKSI KONSULTAN


PU PENGAWAS
SETUJU

YA

SHOP DRAWING
SEBAGAI
DASAR PELAKSANAAN

SELESAI

VII-6
METODE PELAKSANAAN

7.3 PEKERJAAN TANAH

7.3.1. UMUM

Lingkup pekerjaan tanah meliputi semua pekerjaan yang berkaitan dengan


kegiatan sebagai berikut:

 Perintisan dan pembersihan,

 Kosrekan,

 Galian,

 Timbunan dan

 Pembuangan sisa galian

7.3.2. Perintisan dan Pembersihan

Pekerjaan perintisan dan pembersihan (clearing dan grubbing) mencakup


penebangan semak-semak dan pohon, pembongkaran akar-akar pohon,
mengisi lubang-lubangnya dengan tanah yang dipadatkan kemudian
membakar atau membuang ke luar areal pekerjaan. Pohon yang tidak
ditebang harus dilindungi dari kerusakan.

Perintisan dan pembersihan dilakukan di lokasi bangunan-bangunan


permanen, tanggul-tanggul, sesuai dengan Gambar atau tempat lain yang
diperintahkan oleh Direksi. Volume pekerjaan diperhitungkan terhadap luasan
bidang tanah yang sebagian besar (>80%) tertutup tumbuhan semak belukar
dan pepohonan dengan ketinggian di atas 0.50 m. Areal lain yang diperlukan
sebagai penunjang pekerjaan tidak diperhitungkan dalam
pembayaran.Pembayaran pekerjaan ini tidak dibayarkan dan dianggap
sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan konstruksu.

7.3.3 Kosrekan

Kosrekan (stripping) adalah pengupasan/pembongkaran dan pembersihan


lapisan bagian atas tanah dari semua bahan organik seperti misalnya rumput,
gambut, lumpur dan akar-akar tumbuhan di daerah yang akan dilaksanakan
pekerjaan timbunan. Pengupasan harus dilaksanakan hingga kedalaman
minimum 20 cm atau sesuai petunjuk Direksi.

VII-7
METODE PELAKSANAAN

Material hasil pengupasan harus digusur dan dibuang kemudian ditebar


merata di sekitar lokasi pekerjaan yang dijamin tidak akan mengganggu
lingkungan.Sama halnya dengan pekerjaan pembersihan, pekerjaan kosrekan
ini tidak dibayarkan dan volume kosrekan dihitung dari bagian pekerjaan
galian.

7.3.4. Pekerjaan Galian

a. Umum

Pekerjaan galian dibedakan dalam kegiatan inihanya sebagai pekerjaan


galian tanah biasa dan dilakukan oleh tenaga manusia.

• Pelaksanaan kegiatan pekerjaan dengan menggunakan tenaga manusia


untuk penggalian/ pengerukan tanah/lumpur hingga mencapai elevasi
rencana maupun membentuk penampang galian/pengerukan sesuai
gambar dan pengarahan Direksi Pekerjaan.

• Penggalian dilaksanakan dengan cara/metode kerja yang menjamin


stabilitas kemiringan lereng yang tidak membahayakan.

• Material hasil galian basah dibuang di tempat penampungan sementara


untuk mengurangi kadar air dan pengotoran sebelum diangkut ke lokasi
disposal permanen yang telah ditetapkan sesuai petunjuk Direksi
Pekerjaan.

Keseluruhan penampang saluran memiliki bentuk dan ukuran yang sama


dengan kapasitas yang diperlukan. Sehingga perlu ada penggalian yang
disesuaikan dengan gambar rencana.

Material hasil galian dibuang ke disposal area yang sudah ditentukan oleh
direksi. Pengangkutan dan perapian material galian (disposal) menggunakan
tenaga manusia

b. Peralatan yang digunakan

o Peralatan Ukur (theodholit, waterpass dan bak ukur). Theodolith untuk


menentukan as dan lebar saluran serta elevasi dasar saluran serta elevasi
dasar saluran.

VII-8
METODE PELAKSANAAN

o Cangkul dan sekop menggali tanah saluran sekaligus membuang tanah


dengan jarak yang telah ditentukan diatas ke tempat yang telah disetujui
oleh Direksi.

c.Urutan Pelaksanaan

a. Pemasangan bouwplank untuk menentukan as dan elevasi dasar saluran.

b. Penggalian tanah menggunakan tenaga manusia.

c. Penyebaran (perataan) dengan menggunakan tenaga manusia lokasi


Disposal Area dan lokasi tanggul.

d. Metode Pelaksanaan

Pekerjaan galian tanah dilaksanakan setelah mendapatkan ukuran-ukuran


yang tepat dan pasti dari hasil pengukuran dan pemasangan patok.tanah
digali secara manual menggunakan cangkul dan sekop dan alat bantu lainnya
dengan dibantu pemasangan benang agar ada batas dimensi tanah yang
akan digali kemudian bekas galian tanah dipadatkan dan diratakan kembali,
tanah hasil galian ditimbun tidak terlalu dekat dengan lubang galian supaya
tanah galian tidak longsor kembali ke lubang galian

7.3.5. Pekerjaan Timbunan

a. Umum

Pekerjaan timbunan tanah biasa dibedakan dalam 3 (tiga) kategori


berdasarkan lokasi timbunan :

a. Timbunan kembali pada bangunan.

Yang dimaksud pekerjaan timbunan kembali pada bangunan adalah


pekerjaan timbunan yang berada di sekitar lokasi galian dengan jarak gusur
sampai maksimum 100 m, sehingga tidak perlu alat angkut.

b. Timbunan kembali pada saluran tersier.

Timbunan untuk saluran dan bangunan tersier pada umumnya diambil dari
galian saluran atau galian setempat, sehingga semaksimal mungkin
keperluan material untu timbunan ini memanfaatkan hasil galian.

VII-9
METODE PELAKSANAAN

c. Timbunan tanah biasa

Yang dikelompokkan kedalam item pekerjaan timbunan tanah biasa ini adalah
pekerjaan timbunan pada setiap lokasi yang memerlukan timbunan, dimana
bahan timbunannya diambilkan semaksimal mungkin dari material hasil galian
yang berpedoman pada prinsip keseimbangan galian – timbunan (soil
balance). Atas pertimbangan tertentu dengan persetujuan Direksi, maka
Kontraktor dapat memanfaatkan tanah hasil galian setempat untuk bahan
timbunan, sejauh kualitas materialnya sesuai dengan spesifikasi, dan untuk
pekerjaan ini tetap diperhitungkan sebagai timbunan tanah biasa.

d. Timbunan yang didatangkan

Timbunan ini diperlukan jika volume galian yang memenuhi persyaratan tidak
mencukupi, maka material timbunan dapat diambil dari lokasi-lokasi tertentu
(borrow area) yang disetujui oleh Direksi. Jenis material timbunan ini minimal
sama dengan jenis tanah setempat.

Pembayaran untuk pekerjaan timbunan tanah jenis a, b dan c diperhitungkan


hanya biaya tenaga kerja saja. Sedangkan untuk timbunan jenis d,
diperhitungkan material timbunan dan tenaga kerja.

b. Uji Coba Timbunan (Trial Embankment)

Material timbunan harus bebas dari rumput, akar atau material lain yang tidak
memenuhi syarat sebagai bahan timbunan. Sebelum pelaksanaan pekerjaan
timbunan, Kontraktor harus melaksanakan uji coba timbunan (trial
embankment) untuk mendapatkan Pedoman yang akan diterapkan dalam
pelaksanaan timbunan. Uji coba pemadatan diterapkan terhadap setiap
bahan yang berbeda karakteristiknya, minimal 3 (tiga) lapis per jenis material.
Pemadatan timbunan dilaksanakan lapis demi lapis dengan ketebalan setelah
padat antara 20 hingga 40 sentimeter atau sesuai dengan Spesifikasi dari
masing-masing material. Hasil uji coba pemadatan dapat diperoleh pedoman
pelaksanaan yaitu kaitan antara tonase peralatan yang dipakai di lapangan
dengan ketebalan lapisan, kadar air optimum dan jumlah lintasan dan

VII-10
METODE PELAKSANAAN

kecepatan peralatan yang optimal untuk mencapai tingkat pemadatan sesuai


dengan Spesifikasi.

c. Pelaksanaan Penimbunan

Permukaan tanah di lokasi timbunan harus dibersihkan dan dikupas atau


digali hingga kedalaman sesuai dengan Gambar. Permukaan tanah yang
telah dikupas kemudian digali dan dibuat alur-alur terbuka sedalam 20
(duapuluh) cm, dengan jarak antar alur lebih kurang 1 (satu) m. Setiap lapis
permukaan timbunan berikutnya juga harus digaruk kembali dan kadar airnya
diperiksa kembali sebelum pekerjaan timbunan atau pemadatan dilanjutkan.

Tanah timbunan harus bebas dari tunggul-tunggul pohon, akar, rumput,


humus-humus dan unsur lain yang dapat membusuk.

Material untuk timbunan harus ditempatkan dan dihampar secara menerus


dalam lapis horisontal untuk menghindari pemisahan butiran, batuan atau
terjadinya ruang kosong dalam areal timbunan.

Kontraktor harus memelihara pekerjaan timbunan yang telah disetujui hingga


akhir Kontrak. Kontraktor harus bertanggungjawab terhadap erosi dari
permukaan timbunan dan setiap material timbunan yang hilang akibat erosi
harus diganti atas biaya Kontraktor.

7.3.6 Operasi di Borrow Area

Apabila material hasil galian tidak mememenuhi Spesifikasi sebagai bahan


timbunan maka material harus diambil dari tanah luar (borrow area) sesuai
perintah Direksi. Pembayaran terhadap pekerjaan timbunan dari borrow area
mencakup biaya pembelian tanah, biaya pengupasan, penggalian tanah di
borrow area, transportasi material dan biaya penimbunan.

Sedapat mungkin kadar air dari bahan tanah timbunan harus diatur dan dijaga
sebelum digali dari lokasi borrow dengan cara memberi atau menambah air
dengan menga-lirkannya (bila kurang basah) atau dengan menggali saluran
atau parit pembuang untuk mengurangi kelebihan air.

VII-11
METODE PELAKSANAAN

Paling lambat 30 (tigapuluh) hari pelaksanaan, Kontraktor harus mengajukan


kepada Direksi metode pengoperasian di borrow area, termasuk jadual
operasi, peralatan yang dipakai, luas areal penggalian dan kedalaman
pengambilan material.

Lokasi pengambilan tanah timbunan harus dibersihkan terlebih dahulu dan


bebas dari kotoran dan sisa-sisa akar pohon, dan secara seksama dikupas
dan dihilangkan bahan-bahan organiknya seperti rumput, lapisan tanah
permukaan dan akar pohon, dengan demikian tanah timbunan tidak
mengandung tunggul semak belukar, akar, rumput, humus, gumpalan-
gumpalan tanah dan unsur lain yang mudah membusuk.

Setelah penggalian di borrow area selesai, lokasi galian harus ditata kembali,
material kupasan termasuk humus harus dikembalikan ke borrow area seperti
arahan Direksi untuk memelihara kesuburan lahan dan mencegah resiko
terhadap ternak dan orang. Untuk menghindari terbentuknya kolam air di
borrow area maka parit drainase dari borrow area ke pengeluaran terdekat
harus di buat oleh Kontraktor.

7.3.7 Pembuangan Sisa Galian

Materaial sisa galian dan yang tidak biasa dipergunakan untuk timbunan akan
dibuang di suatu tempat didalam dan atau diluar daerah irigasi yang disetujui
oleh pemilik lahan, sesuai yang ditunjukkan dalam gambar atau atas
persetujuan Direksi. Kontraktor harus meratakan, merapikan dan mengatur
ketinggiannya maksimum 3 m.

Pekerjaan pembuangan sisa galian tersebut diperhitungkan dan dilaksanakan


apabila di daerah sekitar lokasi galian tidak memungkinkan untuk menyebar
sisa galian tersebut, karena akan mengganggu fungsi jaringan maupun
sawah dan fasilitas yang ada di kemu-dian hari.

Lokasi pembuangan harus atas persetujuan Direksi dan mendapat ijin pemilik
lahan. Satuan pembayaran untuk pekerjaan ini adalah meter kubik (m 3), yang
dihitung secara matematis dari jumlah total volume galian dikurangi volume
yang terpakai untuk timbunan (soil balance)

VII-12
METODE PELAKSANAAN

7.3.8 BANGUNAN

a. Pekerjaan Pengeringan

Kontraktor harus menjaga agar galian bebas dari air selama pelaksanaan
pekerjaan. Cara menjaga galian bebas dari air, pengeringan dan
pembuangan air harus dilaksanakan dengan cara yang dapat disetujui oleh
Direksi.

Kontraktor harus menjamin setiap waktu adanya peralatan yang baik dan
cukup di lapangan guna menghindari terputusnya pekerjaan pengeringan.

b.Cara Penggalian

Kontraktor harus menyampaikan usul mengenai cara-cara penggalian,


termasuk detail dari konstruksi penahan yang mungkin diperlukan guna
mendapat persetujuan Direksi secara tertulis, sekurang-kurangnya 14 hari
sebelum dimulainya pekerjaan, sehingga keamanan penggaliannya terjamin.

c.Penggalian pada Bangunan

Penggalian harus dilaksanakan sedemikian rupa hingga memungkinkan untuk


dikerjakan dengan baik, dapat membuat penyokong bagi tebing galian, dan
masih cukup ruangan untuk pembuatan acuan, pengecoran beton,
memasang pasangan batu dan melaksanakan timbunan, termasuk
pemadatan dan kegiatan pekerjaan lainnya.

7.3.9 SALURAN

Semua pasal yang termasuk didalam pekerjaan tanah secara umum berlaku
untuk bagian saluran-saluran, kecuali apabila kedua pasal bertentangan,
maka bagian dari pasal di bawah ini yang berlaku.

a. Penggalian dan Pembuangan

Tanah galian dari saluran-saluran pengairan atau pembuang harus dibuang


ke luar tanggul atau ke suatu tempat yang ditentukan oleh Direksi.

VII-13
METODE PELAKSANAAN

Tanah dari galian tersebut dapat digunakan untuk bahan timbunan, kalau
menurut per-timbangan Direksi dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Kontraktor harus menyi-apkan rencana pelaksanaan pekerjaan tanah untuk
setiap bagian dari pekerjaan pada suatu saat, dengan detail lokasi dan
program penggalian dari saluran dan membuang sisa galian.

Kontraktor harus mengajukan usul rencana pelaksanaan pekerjaan selambat-


lambatnya 14 (empatbelas) hari sebelum tanggal yang dimaksudkan untuk
memulai pekerjaan tanah dari tiap-tiap bagian pekerjaan, sebagai
pemberitahuan kepada Direksi. Rencana itu harus berisi keterangan-
keterangan tentang penilaian Kontraktor terhadap tanah yang dapat
ditempatkan di tanggul atau pembuangan material yang tidak layak pakai
untuk timbunan dan harus dibuang sesuai dengan pasal sebelumnya.

b. Tanggul

Tanggul untuk saluran pembawa, saluran pembuang, jalan dan lain-lainnya,


apabila tidak dinyatakan lain harus dibentuk dari tanah galian dari saluran
pembawa atau saluran pembuang yang bersangkutan.

Bila bahan untuk tanggul tidak memungkinkan atau kurang bila diambil dari
hasil galian saluran pembawa atau saluran pembuang, maka kekurangan
bahan diatas harus diambil dari tanah luar.

Tanggul untuk saluran dengan ketinggian melebihi muka tanah asli harus
dibuat rapat air, dan tidak boleh ada tanda-tanda rembesan sesudah diisi
dengan debit maksimum dalam waktu panjang.

Tanggul dan tanggul yang dipakai sebagai jalan inspeksi atau jalan masuk
harus dibentuk seperti yang diuraikan berikut atau dibuat dengan cara lain
yang disetujui Direksi.

Bahan timbunan dihampar horisontal dengan ketebalan merata secara


berlapis/bertahap, dan setiap lapis tidak boleh mempunyai ketebalan lebih
dari 0.25 m.

Pemadatan harus dilaksanakan dengan menggunakan pemadatan manual.


Timbunan diatas tanah asli di belakang bangunan baru, harus dipadatkan
seperti yang diuraikan diatas untuk tanggul-tanggul yang dipakai untuk jalan

VII-14
METODE PELAKSANAAN

inspeksi. Apabila tidak ditentukan lain dalam Gambar atau atas perintah
Direksi maka mercu tanggul harus mempunyai kemiringan (slope) 1 : 40 ke
arah luar.

Tanggul yang merupakan jalan inspeksi atau jalan masuk harus dibuat
dengan arah dan kemiringan sedemikian rupa sehingga dapat dilalui dengan
aman dan mudah oleh kendaraan ringan dan harus tetap dipelihara sampai
akhir masa pemeliharaan.

c. Peralihan

Pada setiap perubahan tampang lintang, peralihan harus dibuat pada dasar
dan talud saluran harus dibuat sedemikian rupa, sehingga perubahan kearah
tegak atau mendatar tidak lebih dari 1 : 10.

d. Celah-celah pada Tanggul

Bila perlu, pada tempat bangunan atau pada tempat yang diperintahkan,
Kontraktor harus meninggalkan atau membuat celah-celah pada tanggul,
kemudian membangun kembali seperti semula setelah selesai bangunan
tersebut.

e. Longsoran di Talud

Kontraktor harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk


mencegah ter-jadinya longsoran dari talud dan tanggul. Dalam hal terjadinya
longsoran, Kontraktor harus memperbaiki semua pekerjaan dan kerusakan
yang bersangkutan dan melaksanakan setiap perubahan yang diperlukan
sampai memuaskan Direksi.

f. Kelebihan Penggalian dan tanah-tanah longsoran

Jika saluran digali atau tanggul dibuat tidak sesuai dari yang disebutkan,
Kontraktor harus membangunnya kembali seperti ditentukan menurut
petunjuk

VII-15
METODE PELAKSANAAN

7.4PEKERJAAN PASANGAN BATU

7.4.1 Ruang Lingkup

Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode pelaksanaan


pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan
pasangan batu dan adukan semen.

Pedoman ini mencakup pekerjaan pasangan batu yang meliputi asangan batu Kali,
pasangan batu kosong, plesteran dan siaran serta pekerjaan adukan semen.

7.4.2 Acuan Nomatif

Standar Nasional Indonesia (SNI)

 SNI 15-0302-1989 : Semen Pozolan Kapur

 SNI 15-2049-1994 : Semen Portland

 SNI 15-0129-1994 : Semen Portland Putih

 SNI 15-0302-1999 : Semen Portland Pozolan - SNI 03-2417-1991 : Metode


Pengujian Keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los Angeles

 SNI 03-3046-1992 : Kawat Bronjong dan Bronjong Berlapis PVC (Polivinil


Chlorida)

 SNI 15-3758-1995 : Semen Aduk Pasangan

 SNI 03-0090-1999 : Spesifikasi Bronjong Kawat

VII-16
METODE PELAKSANAAN

 SNI 03-6817-2002 : Metode Pengujian Mutu Air Untuk digunakan dalam


Beton

 SNI 03-6882-2002 : Spesifikasi Mortar Untuk Pekerjaan Pasangan American


Standard Test Method

 ASTM C 91 : Masonry cement

 ASTM C 207 : Hydrated Lime

 ASTM C 270 : Mortar for Unit Masonry

 ASTM C 476 : Mortar and Grout for Reinforcement of Masonry

7.4.3 Istilah dan Defenisi

Agregat halus : adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 0,25 mm
sampai 4 mm yang biasa disebut pasir

Agregat kasar : adalah agregat yang mempunyai diameter butir di atas 4 mm sampai
31,5 mm yang biasa disebut kerikil.

Semen Portland : adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling
terak semen portland yang terutama, terdiri dari Kalsium Silikat Hidrat yang bersifat
hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan satu atau lebih bentuk
kristal senyawa Kalsium Sulfat.

Batu alam : adalah suatu gabungan daripada hablur mineral yang bersatu dan
memadat, sehingga memiliki derajat kekerasan tertentu, yang berbentuk secara
alamiah melalui proses pelelehan, pembekuan, pengendapan dan perubahan
alamiah.

Batu candi : adalah batu kasar (granit, andesit dan sejenis) yang dibentuk secara
khusus untuk dipergunakan sebagai lapisan tahan gerusan

Batu pecah : adalah hasil pecahan batu alam dalam bentuk butiran asli atau dibelah
menjadi ukuran butiran yang cukup besar untuk dipergunakan dalam pembuatan
bangunan dasar

Pasangan batu belah : adalah suatu konstruksi yang disusun dengan bahan material
yang berupa batu kali, pasir dan semen Portland

VII-17
METODE PELAKSANAAN

Plesteran : adalah suatu konstruksi yang berfungsi sebagai penutup / pengikat ujung
pasangan batu

Siaran : adalah sutau konstruksi yang berfungsi untuk menutup / mengikat /


memperkuat antara batu muka

7.4.4 Persyaratan Bahan

7.4.4.1 Batu

a. Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak
dan harus dari jenis yang diketahui awet.

b. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk menghilangkan bagian


yang tipis atau lemah.

c. Batu yang digunakan adalah batu belah atau batu bulat, batu
kali yang dipecah salah satu sisinya tidak rapuh tidak keropos,
tidak berpori.

d. Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat


ditempatkan saling mengunci bila dipasang bersama-sama.

e. Untuk batu dari hasil galian, harus dibersihkan dari lapisan


tanah yang menyelimuti agar permukaan batu bersih.

f. Ukuran batu berkisar antara diameter 15-30 cm. Batu bulat


atau batu kali hanya boleh digunakan setelah salah satu
sisinya dipecah atau sesuai persetujuan Direksi dan
digunakan bersama-sama dengan batu belah.

g. Batu pecah yang mempunyai diameter < 10 cm hanya boleh


dipergunakan sebagai batuan pengisi/pengunci.

7.4.4.2 Pasir

a. Pasir yang dimaksud disini lebih diutamakan pasir alam (pasir pasang) yang
diambil dari sungai atau sumber lain yang telah disetujui oleh Direksi.

VII-18
METODE PELAKSANAAN

b. Tempat penimbunan penyimpanan harus bersih dari sampah organik,


sampah kimia, bebas dari banjir serta tidak terkontaminasi dengan bahan
lainnya, seperti air laut/garam dan lain-lainnya yang akan menurunkan mutu
pasangan batu.

7.4.4.3 Material Cement

a. Bahan material cement yang dipakai adalah jenis PC yang ada dipasaran dan
harus memenuhi standart.

b. Bahan material cement yang telah mengeras karena pengaruh cuaca, air atau
bahan organic lainnya tidak boleh dipakai

c. Dalam menyimpan material di gudang lapangan, tempat penyimpanan harus


kering dan diberi alas minimum 30 cm diatas permukaan tanah dan tinggi
tumpukan maksimum 3 m.

7.4.4.4 Air

Air yang dipergunakan harus bersih tidak mengandung Lumpur, minyak, bahan
organik atau bahan kimia.

7.4.5 Pelaksanaan Pekerjaan

7.4.5.1 Pasangan Batu Belah 1 PC : 4 PS

a. Tahap persiapan

1. Pelaksanaan pekerjaan pengukuran dan pemasangan bouwplank

2. Pembersihan lokasi pekerjaan

3. Pengadaan bahan material pekerjaan pasangan batu seperti batu, pasir,


dan semen ke lokasi pekerjaan. Bahan yang digunakan harus sesuai
dengan yang disyaratkan.

4. Bahan material ditempatkan tidak jauh dan mudah dijangkau dari lokasi
pekerjaan.

VII-19
METODE PELAKSANAAN

5. Jika diperlukan perlu disiapkan tempat penyimpanan khusus untuk bahan


tau material, terutama untuk bahan semen agar penyimpanan semen dapat
dilakukan dengan benar.

b. Tahap pelaksanaan

1. Spesifikasi teknis untuk pasangan batu belah 1 PC : 4 PS sama dengan


spesifikasi pasangan batu belah 1 PC : 3 PS akan tetapi perbandingan
campuran spesi adalah 1 PC (Portland Cement) : 4 PS (Pasir) dengan
kebutuhan Semen (PC) sebanyak = 163 kg dan Pasir sebanyak = 0,52 m3.

2. Pembuatan galian untuk pasangan batu sesuai dengan yang ditunjukkan


oleh gambar rencana. Pekerjaan dapat dilakukan secara manual atau
menggunakan alat berat untuk menggali seperti excavator.

3. Dasar galian dibuat rata dan diberi landasan dari adukan semen dengan
pasir setebal minimal 3 cm sebelum meletakkan batu pada lapisan yang
pertama.

4. Batu dengan ukuran yang besar diletakkan pada lapisan dasar atau
lapisan yang pertama dan pada sudut sudut dari pasangan batu tersebut.

5. Batu dipasang dengan muka terpanjang secara mendatar dan untuk muka
batu yang tampak atau berada paling luar dipasang sejajar dengan muka
dinding batu yang terpasang.

6. Batu yang digunakan dibersihkan dan dibasahi sampai merata selama


beberapa saat agar air dapat meresap

7. Setiap rongga atau celah antar batu diisi dengan bahan adukan dari
semen dan pasir sesuai dengan komposisi campuran yang ditentukan.
Bahan adukan atau mortar dapat disiapkan menggunakan alat concrete
mixer atau secara manual. Untuk mengetahui jumlah kebutuhan pasir dan
semen anda dapat mengunjungi artikel lain mengenai cara mengetahui
jumlah kebutuhan batu, pasir, dan semen untuk pasangan batu.

8. Setiap 2 meter dari panjang pasangan batu dibuat lubang sulingan.


Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau direksi pekerjaan. Lubang

VII-20
METODE PELAKSANAAN

sulingan dapat dibuat dengan memasang pipa pvc yang berdiameter 50


mm.

9. Setiap sambungan antar batu pada permukaan dikerjakan hampir rata


dengan permukaan pekerjaan tetapi tidak menutup permukaan batu

c. Tahap pekerjaan akhir / finishing

1. Pembersihan lokasi pekerjaan dari sisa sisa material pelaksanaan.

2. Jika diperlukan permukaan pasangan batu dapat diberi lapisan acian


untuk memperhalus permukaan dari pasangan batu.

7.4.5.2 Plesteran 1 PC : 3 PS

a. Bila diperintahkan, dinding dan lantai baik lama maupun baru terbuat dari
pasangan bata/batu kali harus diplester dengan adukan 1 PC (Portland
Cement) : 3 PS (Pasir) dengan kebutuhan Semen (PC) sebanyak = 7,75 kg
dan Pasir sebanyak = 0,023 m3 dan diaduk secara merata dengan air, guna
mencapai campuran yang homogen maka diwajibkan untuk memakai mixer /
molen.

b. Pekerjaan Plesteran dikerjakan 1 lapis sampai jumlah ketebalan 1,5 cm dan


dihaluskan dengan air semen. Apabila tidak diperintahkan lain pasangan
harus diplester pada bagian atas dari dinding, bagian tepi pasangan pada
sorongan / pipa saluran, dan selebar 0,10 m dibawah tepi atas dinding dan
pasangan sorongan / pipa saluran.

c. Persiapan material kerja, antara lain : semen PC, pasir pasang dan air.

d. Persiapan alat bantu kerja, antara lain : waterpass, meteran, unting-unting,


jidar, raskam, benang, kertas gosok, dll.

e. Pekerjaan plesteran harus tepat pada sudut sikunya serta tegak lurus
terhadap lantai yang ada di sekitarnya, permukaan rata tidak bergelombang.

f. Sebelum diplester, lakukan penyiraman/curring terlebih dahulu pada


permukaan dinding bata untuk menghindarkan keretakan.

VII-21
METODE PELAKSANAAN

g. Buat adukan untuk plesteran.

h. Buat kepalaan plesteran dengan jarak sekitar 1 m dan lebar 5 cm, dengan
alat bantu unting-unting untuk loting, waterpass dan jidar alumunium.

i. Lekatkan adukan plesteran pada permukaan dinding sekityarnya, kemudian


ratakan dengan raskam dan jidar.

j. Untuk menghindari retak-retak rambut pada permukaan plesteran yang sudah


selesai karena sust pengerasan, maka permukaan plesteran yang sudah
selesai harus dibasahi dengan air selama 7 hari berturut-turut.

7.5 PEKERJAAN PASANGAN PINTU

7.5.1 Bahan dan Mutu

Baja konstruksi yang berupa plat dan profil serta baut, keling, dan washer harus
baik, baru dari pabrik yang resmi dan spesfikasi sesuai dengan yang disyaratkan.

7.5.2 Pemasangan

a) Penyedia jasa harus memasang semua bagian dari Pekerjaan seperti pada
gambar kerja yang disetujui atau atas petunjuk Direksi Pekerjaan ditempat
Pekerjaan, termasuk semua alat-alat pelengkap seperti baut jangkar, penahan,
seal (penguat) dan sebagainya.

b) Semua bagian yang ditanam dalam beton harus ditumpu kuat dan diteliti
sebelum dan selama pengecoran. Dinding plat, sandaran, dan ambang harus
digrouting sesudahnya seperti ditunjukkan pada gambar atau petunjuk Direksi
Pekerjaan. Grouting harus dilaksanakan dengan metode yang disetujui Direksi
Pekerjaan dan harus menjamin kesatuan yang utuh.

c) Pada penyelesaian Pekerjaan semua bagian harus dibersihkan dan dirapikan


oleh penyedia jasa. Penyedia jasa harus memindahkan semua kelebihan bahan-
bahan dari tempat Pekerjaan atau seperti ditunjukkan Direksi Pekerjaan. Semua
Gear reducer tertutup harus diisi secukupnya dengan minyak pelumas, sesuai
syarat-syarat dari pabrik. Gear reducer terbuka harus diberi gemuk kwalitas baik

VII-22
METODE PELAKSANAAN

pada giginya. Semua pelumas dan zat pencuci harus disediakan penyedia jasa
tanpa tambahan biaya.

d) Penyedia jasa harus menyediakan persediaan pelumas yang cukup untuk jangka
waktu pemeliharaan selama setahun untuk semua bagian Pekerjaan dari kontrak
ini.

7.5.3 Test dan Garansi

a. Pada saat penyelesaian Pekerjaan, peralatan harus siap untuik ditest,


dihadapkan ke Direksi Pekerjaan sebelum penyerahannya untuk membuktikan
bisa dioperasikan dengan memuaskan. Jika ada bagian dari Pekerjaan gagal
dioperasikan sesuai ketentuan Direksi Pekerjaan, beberapa perubahan harus
dikerjakan oleh penyedia jasa sesuai ketentuan Direksi Pekerjaan tanpa
pembayaran extra.

b. Pada saat penyerahan Pekerjaan, penyedia jasa harus menyerahkan garansi


tertulis selama jangka waktu 1 tahun untuk semua Pekerjaan, meliputi perbaikan
dari semua kekurangan dan kerusakan yang terjadi dalam jangka waktu tanpa
biaya tambahan.

7.5.4 Bahan-bahan Pengecatan

Roda gigi kuningan, bidang-bidang baja yang dikerjakan halus, dan bidang-bidang
baja yang setelah pemasangan dilokasi akan bersentuhan secara putat atau geger
dan juga tali-tali kawat tidak akan dicat.

Setelah pembersihan selesai, maka bidang-bidang demikian harus dilapisi dengan


lembaran plastik untuk menjaga terhadap kerusakan kecil dan korosi selama
pengangkutan dan penyimpanan di lokasi.Selimut plastik ini dilepas sebelum
peralatan itu dipasang.

Jika tidak ditentukan lain, bahan cat harus memenuhi Standar Nasional Indonesia
PUBI-1982. Semua bahan harus diperoleh dari pabrik yang disetujui oleh Direksi
Pekerjaan dan contoh dari tiap-tiap cat dan bahan campuran yang diusulkan untuk
dipakai, harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan pesetujuan.

VII-23
METODE PELAKSANAAN

Bahan yang harus dikirim ketempat Pekerjaan dalam kaleng atau drum dengan
segel yang masih utuh. Cat yang telah kadaluwarsa, seperti yang dituliskan pada
kaleng tidak boleh dipakai, bahan diaduk dibawah pengawasan seorang mandor
yang berwenang dengan cara dibenarkan oleh Direksi Pekerjaan dan tidak boleh
diberikan kepada tukang cat sebelum cat dan bidang yang akan dicat selesai
dipersiapkan betul-betul. Seluruh Pekerjaan, harus diselesaikan dalam warna dan
corak seperti warna dari tiap-tiap lapisan cat.

7.5.5 Pengecatan Daun Pintu

Kecuali ditentukan lain, maka Pekerjaan baja konstruksi dan alat-alat pengatur air
dan lain sebagainya harus disiapkan dan diberi cat dasar menurut ketentuan :

1. Terbuka terhadap pengaruh iklim terlindung:

- Dibersihkan dengan sikat kawat baja kecuali ditentukan lain oleh Direksi
Pekerjaan.

- Dua lapis cat dasar timah meni

- Dua lapis cat oksida atau dua cat aluminium

2. Terbuka terhadap Pengembunan berat atau bila terbenam dalam air, termasuk
semua pintu :

- Dibersihkan dengan sikat kawat baja.

- Dicat dasar dua lapis.

- Dua lapis bitumen kental atau dua lapis cat karet, berchlor atau dua lapis cat
oksida tier batu bara.

Pintu geser gerak, katub-katub dan lain-lain alat yang dibuat dari besi tuang harus
dilapisi dengan dua lapis cat bitumen atau sepertinya, sebagaimana ditunjukkan oleh
Direksi Pekerjaan.

7.6 PEKERJAAN BETON

7.6.1 Umum

Semua pekerjaan beton yang dilaksanakan, mengacu pada Spesifikasi Teknis,


Dokumen Kendali Mutu, dan Gambar Kerja yang disetujui oleh Direksi. Semua
pekerjaan beton harus melalui persetujuan dari Direksi.

VII-24
METODE PELAKSANAAN

Tidak lebih dari 2 (dua) bulan setelah pengadaan peralatan untuk pelaksanaan
beton, Kontraktor harus mengirim Diagram Alir, Gambar dan Rencana Kerja untuk
pekerjaan dan penempatan beton / mortar dengan mengacu pada Dokumen ini.

Apabila spesifikasi peralatan yang akan dipergunakan pada pelaksanaan pekerjaan


di lapangan tidak sesuai dengan yang dianjurkan oleh Direksi, maka Kontraktor
harus memberikan alternatif jenis peralatan atau metode kerja yang menghasilkan
produk yang setara dengan yang diusulkan oleh pihak Direksi.

Kontraktor harus memberi perhatian khusus terhadap akibat yang mungkin timbul
karena pengaruh pencucian material yang bisa mengakibatkan tercemarnya air di
sungai dengan membangun kolam-kolam tampungan atau bangunan lainnya.

Kontraktor tidak akan menuntut biaya tambahan lebih yang diakibatkan oleh
kegiatan pelaksanaan pencampuran, transportasi dan penempatan beton sebagai
dikehendaki oleh Spesifikasi ini.

7.6.2 Bahan-Bahan

a. Semen

Semen yang dipergunakan dalam pekerjaan Paket I ini harus mempunyai mutu
setara Semen Portland, atau type lain yang disetujui oleh Direksi. Semen yang
dipakai harus produksi dalam negeri dan sesuai dengan SKSNI T-15-1991-03 atau
standar lain yang setara atau lebih tinggi.

Kontraktor harus menyediakan contoh semen apabila diminta oleh Direksi, yaitu
contoh dari gudang Kontraktor di lapangan dan dari pabrik, atau Kontraktor harus
menguji semennya menurut SKSNI T-15-1991-03 atau standar lain yang setara atau
lebih tinggi.

Kontraktor harus membangun fasilitas untuk melindungi beton dari kondisi basah,
lembab dan pengaruh matahari yang bisa mengurangi mutu semen yang akan
dipergunakan. Semen harus diletakkan minimum 30 cm diatas lantai dan
penataannya tidak boleh melebihi 20 zak semen pada arah vertikal yang bisa
mengakibatkan pengerasan beton dengan waktu penyimpanan optimal 60 hari
kalender. Semen yang telah disimpan selama 90 hari harus lebih prioritas untuk
dipergunakan, kecuali apabila hasil test yang dilakukan baik. Bilamana Semen
Portland telah mengeras, maka tidak boleh dipakai untuk campuran.

VII-25
METODE PELAKSANAAN

Kontraktor harus menginformasikan secara periodik setiap tanggal 1 awal bulan,


data-data sebagai berikut :

1. Jumlah persediaan semen yang ada di lapangan sampai saat itu.

2. Rencana pengadaan semen yang baru selama bulan yang akan jalan.

3. Jumlah semen yang dipakai selama periode 1 (satu) bulan.

4. Data lain yang dianggap perlu oleh pihak Direksi.

b.Bahan Additive

Kontraktor bisa memakai bahan additive dalam pelaksanaan untuk mempercepat


proses konstruksi, apabila dianggap perlu. Kontraktor harus memberitahukan
kepada Direksi, sumber pabrikasi bahan additive dan alasan pemakaian
penggunaan additive.

Semua biaya pemakaian bahan additive ini, bila ada, harus sudah termasuk dalam
penawaran harga satuan dalam BOQ untuk item pembetonan. Kontraktor tidak akan
meminta biaya tambahan untuk pemakaian bahan additive tersebut dalam
pelaksanaan konstruksi beton.

Test pemakaian bahan additive dalam campuran harus dibuat oleh Kontraktor
dengan biaya sendiri dan hasilnya dikirim ke Direksi.

Apabila lebih dari satu jenis bahan additive yang akan dipakai dalam pelaksanaan
pembetonan, maka bahan additive tersebut harus dicampur dulu dengan air
sebelum dicampur dalam alat pencampur (Molen, CarMix, Batching Plan atau alat
lainnya).

Batas minimum atau maksimum slump yang diijinkan pada beton akibat adanya
pemakaian bahan additive, bisa diubah oleh Direksi ketika ada ijin penggunaan
pemakaian bahan additive.

Additive Pengurang Udara (Air Entraining Admixture)

Additive jenis ini bisa dipergunakan dengan catatan berikut. Bahan additive yang
dipakai akan sesuai dengan ASTM C260 atau ekuivalennya. Bahan additive harus
mempunyai konsistensi yang seragam dalam setiap wadahnya dan dari setiap
pengirimannya.

VII-26
METODE PELAKSANAAN

Estimasi jumlah pemakaian bahan additive ini dalam campuran beton adalah
sebagai :

Ukuran maksimum Total Bahan Additive

Kerikil Kasar (mm) (persentase dari volume beton)

20 6.0 + 1

40 4.5 + 1

Bahan additive ini akan dipergunakan tidak boleh melebihi 12% berat. Pencampuran
bahan additive dalam beton, terlebih dahulu dicampur dalam air secara proportional.

Bahan Additive Untuk Pengurang Air (Water Reducing Admixture)

Bahan additive yang dipakai akan sesuai dengan ASTM C494 Type D atau yang
setara. Bahan additive harus mempunyai konsistensi yang seragam dalam setiap
wadahnya dan dari setiap pengirimannya.

Pemakaian bahan additive harus mempunyai pengaruh yang sejalan dengan


additive diatas dan pencampurannya dicampur dengan air terlebih dahulu sebelum
dicampur dalam campuran beton. Jumlah pemakaian bahan additive ini harus
melalui persetujuan pihak Direksi.

Tempat Penyimpanan Bahan Additive

Bahan-bahan ini harus disimpan di tempat yang tahan air dan resapan air.
Penyimpanan harus diatur sedemikian sehingga bahan additive ini langsung dipakai.
Bahan additive yang telah habis masa berlakunya, harus ditandai dan tidak dipakai
untuk campuran beton.

c. Aggregat

Pengadaan atau produksi material agregat halus dan agregat kasar (split dan kerikil)
yang berasal dari lokasi quarry atau daerah lain harus sepengetahuan Direksi.

Material yang akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan akan diuji secara periodik
minimum 1 (satu) minggu sekali atau setiap pengecoran 1.000 m3 beton atau setiap
penggantian sumber material, akan diambil waktu pengujian yang paling cepat.

VII-27
METODE PELAKSANAAN

Apabila Kontraktor akan mengambil material kerikil dari sumber lain selain daerah
quarry (borrow area) yang telah disepakati sebelumnya, maka Kontraktor harus
mengadakan pengujian yang hasilnya harus diserahkan kepada pihak Direksi. Biaya
seluruh pengujian akan menjadi tanggungjawab sepenuhnya dari Kontraktor.

Pada areal dimana material akan diambil untuk dipakai, maka Kontraktor harus
membersihkan areal tersebut dari tanaman, akar, sampah, rumput, lempung, dan
sebagainya.

Proses pengadaan material mulai dari penyaringan, pencucian, dan lain-lain sampai
dengan tersedianya material kerikil/split yang memenuhi spesifikasinya akan
dikerjakan dengan sepengetahuan dan persetujuan dari pihak Direksi.

Biaya produksi kerikil yang dikehendaki oleh Spesifikasi ini harus sudah termasuk
dalam analisa harga satuan pada BOQ untuk berbagai item pekerjaan beton dimana
material agregat / kerikil dipakai. Analisa harga satuan ini harus sudah mencakup
semua biaya pembayaran royalti galian C, penggalian, penanganan, tahap proses,
transportasi sampai dengan penyimpanan material.

Tiap jenis material pasir, kerikil, batu merah, dan batu harus disimpan dalam petak
terpisah dan terpelihara dan aman dari hal-hal yang merusak.

d. Aggregat Halus

Pengertian material halus yang dipergunakan adalah material dengan ukuran


maksimum 5 mm. Pasir harus diambil dari sungai atau tambang pasir. Penambahan
bahan lain seperti pasir dari batu pecah akan diijinkan, apabila menurut pendapat
Direksi, pasir yang ada tidak memenuhi gradasinya.

Apabila tidak ditentukan/disarankan pada Trial Mix Design, maka gradasi kelolosan
saringan material agregat halus untuk campuran beton adalah sebagai berikut :

Ukuran Saringan (mm) Prosentase yang lolos

10 100

5 90 - 100

2.5 80 - 100

1.2 50 - 90

VII-28
METODE PELAKSANAAN

0.6 25 - 65

0.3 10 - 35

0.15 2 - 10

Disamping hal tersebut di atas, bahan aggregat halus, yang tercantum harus
mempunyai modulus kehalusan (fine modulus) tidak lebih kecil dari 2.30 atau tidak
lebih besar dari 3.10. Apabila variasi modulus kehalusan lebih besar 0.20 dari harga
yang ditetapkan untuk beton, bahan agregat halus harus ditentukan lain untuk
mengimbangi perbedaan dalam tingkatan ukuran bahan dalam bagian beton.

Kondisi maksimum dimana material pasir tidak dapat dipakai akan mengikuti nilai
sebagai berikut :

Item Persentase terhadap


Berat

Kandungan lumpur 1.0

Material lolos saringan 0.088 mm 3.0

Material diatas saringan 0.297 mm dan 0.5


mengam-bang di air atau SG < 1.95

Jumlah persentase material yang diterima adalah sebagaimana disebut di atas atau
apabila debu batu yang bebas dari lempung atau lanau, prosentasenya bisa
mencapai 5 % dari berat.

e. Aggregat Kasar

Pengertian material kasar yang dipergunakan adalah material dengan ukuran lebih
besar dari 5 mm dan mempunyai gradasi yang baik

Bahan batuan (kerikil) harus memenuhi persyaratan dan bergradasi baik dengan
diameter maximum tergantung dari klas betonnya.

Bila kelas dari beton menghendaki perlawanan abrasi yang baik, maka bahan
batuan harus diambil dari lokasi setempat yang menurut penilaian Direksi adalah
yang terbaik.

Kontraktor harus mengirim contoh material apabila dibutuhkan oleh Direksi.

VII-29
METODE PELAKSANAAN

Disamping itu Kontraktor harus membuat percobaan dari contoh material sesuai
dengan PBI 1971 atau ekivalennya secara rutin dengan frekuensi yang disetujui
Direksi serta mengirimkan kepada Direksi setiap copy laporan test.

Apabila test abrasi dibutuhkan oleh Direksi, maka Kontraktor harus melakukannya.

Bahan batuan untuk beton tahan abrasi minimum mempunyai berat spesifik (SG)
lebih besar dari 2,58 dan nilai tanah harus kurang dari 15% apabila diuji menurut
PB1 1971 atau ekivalennya yang disetujui oleh Direksi.

Ukuran maksimum aggregat kasar harus 40 (empatpuluh) mm pada bangunan


struktur dan 20 (duapuluh) mm dalam bangunan tipis lainnya, kecuali untuk beton
cyclop sesuai dengan yang diperintahkan oleh Direksi.

Gradasi kelolosan saringan untuk aggregat kasar harus dipisahkan dalam ukuran
yang telah ditetapkan, atau mengacu pada kelolosan sebagai berikut:

Ayakan (mm) Ukuran Aggregat Kasar (mm)

40 - 5 25 - 5 20 - 5 15 - 5

50 100 - - -

40 90 – 100 - - -

30 - 100 - -

25 - 95 – 100 100 -

20 35 – 70 - 90 – 100 100

15 - 30 – 70 - -

10 0 – 10 - 25 – 35 -

5 0–5 0 – 10 - -

2.5 - 0-5 - -

Bahan-bahan yang merugikan yang tercampur dalam bahan pengisi tidak boleh
lebih dari batas yang ditentukan dibawah ini :

Item Persentase terhadap


Berat

VII-30
METODE PELAKSANAAN

Gumpalan tanah liat 0.25

Partikel lunak 5.0

Bahan yang hilang dengan 1.0


pencucian 1.0
Bahan dengan SG < 1.95

7.6.3 Air

Air yang dipakai untuk membuat, merawat beton dan membuat adukan harus dari
sumber yang disetujui oleh Direksi dan memenuhi Pasal 9 Standar Nasional
Indonesia.

Air dari sungai atau saluran cukup baik untuk dipakai dalam campuran beton, kecuali
apabila terjadi keadaan dimana aliran sungai atau saluran membawa endapan yang
cukup tinggi, maka bisa menggunakan air dari sumur penduduk atau bila perlu
membuat sumur dangkal di sekitar lokasi pekerjaan.

7.6.4. Tulangan

a. Umum

Tulangan baja untuk beton harus batang baja lunak yang bulat dan polos, digilas
panas, sesuai dengan SKSNI T-15-1991-03 atau standar lain yang setara atau yang
lebih tinggi yang disetujui oleh pihak Direksi, dan harus memenuhi ketentuan standar
serta ketentuan-ketentuan dibawah ini :

Besi Polos Besi Ulir

Kekuatan tarik, kg/mm2 29 – 53 49 – 63

Titik leleh, kg/mm2 24 atau 30 atau

Penambahan panjang, lebih lebih

% 20 atau 14 atau
lebih lebih

Diameter rata-rata dari tulangan yang dipilih dari setiap contoh kiriman dengan
ukuran yang sama tidak boleh lebih besar atau lebih kecil dari 2 (dua) % dari

VII-31
METODE PELAKSANAAN

diameter yang ditentukan. Tulangan-tulangan harus bebas dari sisik, minyak,


kotoran dan kerusakan-kerusakan struktur.

Untuk tiap kiriman tulang anyaman baja yang dikirim ke tempat pekerjaan,
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi satu kutipan yang diakui dari catatan-
catatan pemeriksaan dan pengujiannya yang berhubungan dengan pemuatan-
pemuatan dari mana kiriman itu dibuat.

Kontraktor harus menyediakan contoh tulangan dari gudang di lapangan, jika


dibutuhkan oleh Direksi. Batang-batang baja yang telah bengkok, tidak boleh
diluruskan atau dibengkokkan lagi untuk dipakai dipekerjakan tanpa persetujuan
Direksi.

Tulangan baja harus disimpan jauh dari tanah yang diganjal untuk mencegah
perubahan bentuknya.

b. Penempatan Tulangan

Tulangan harus dipasang dan dikuatkan dalam posisi yang pasti/tetap sesuai yang
ditunjukkan dalam gambar dan tidak berubah pada posisinya dalam cetakan tanpa
per-geseran selama proses penggetaran, pengisian dan penumbukan beton
ditempat.

Semua ujung yang bebas dari tulangan bulat yang licin harus dibuat kait
sebagaimana ditunjukkan dalam gambar atau menurut petunjuk Direksi. Kontraktor
harus menyediakan semua ganjal pengatur jarak yang diperlukan atas biaya sendiri
untuk memelihara tulangan beton dalam posisi yang tepat. Setiap pengikat,
sambungan, atau sambungan sengkang tulangan harus kencang sehingga tulangan-
tulangan benar-benar kokoh. Sebelah dalam bagian-bagian yang melengkung harus
bersentuhan langsung dengan tulangan-tulangan disekitar mana akan tercapai
kekuatan yang baik. Tulangan-tulangan harus diikat bersama-sama dengan
menggunakan kawat baja hitam yang harus mendapatkan persetujuan dari Direksi,
dan pengikat harus dililit kuat-kuat dengan tang. Ujung kawat ikat yang bebas harus
dilipat kedalam.

Jika tulangan beton telah dipasang dan telah siap untuk dilakukan pengecoran,
maka harus diperiksa dulu oleh Direksi dan tidak boleh dilakukan pengecoran

VII-32
METODE PELAKSANAAN

sampai tulangan beton disetujuinya. Kontraktor harus melaporkan kepada Direksi


Pekerjaan selambat-lambatnya 24 (duapuluh empat) jam sebelumnya, untuk
meminta dilakukan pemeriksaan atas penu-langan yang telah disiapkan.

c. Penyiapan Gambar Tulangan Beton

Kontraktor atas biaya sendiri harus menyiapkan semua gambar detail tulangan
beton berdasakan gambar-gambar yang diberikan oleh Pengguna Jasa. Gambar-
gambar tulangan beton ini harus meliputi gambar penempatan dan pembengkokan
tulangan, daftar besi dan gambar-gambar penulangan lainnya yang mungkin
diperlukan untuk memudahkan pembuatan dan pemasangan besi tulangan. Semua
gambar penulangan yang direncanakan oleh Kontrator harus diajukan kepada
Direksi untuk mendapat persetujuan.

d. Sambungan Tulangan Beton

Jika dianggap perlu untuk menyambung batang tulangan pada titik-titik lain dari pada
yang diperlihatkan dalam gambar, posisi dan metode penyambungan harus
ditetapkan berdasarkan perhitungan kekuatan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Dalam hal sambungan lewatan, panjang lewatan harus memenuhi ketentuan
gambar atau tabel di bawah ini :

Diameter Tulangan (mm) 10 12 16 19 22 25 28 32

Panjang sambungan lewatan 60 60 60 65 75 85 95 10


min. (cm) 0

Batang tulangan harus diikat pada beberapa tempat di atas sambungan lewatan
dengan menggunakan kawat besi pengikat dengan diameter 0.9 milimeter atau
pengikat yang cocok. Untuk sambungan lewatan, diperlukan kait pada batang
tulangan polos dan kait tidak diperlukan pada batang tulangan yang berulir.

e. Selimut Beton Bertulang

Selimut beton bertulang minimum diukur dari sisi luar batang tulangan harus sesuai
dengan gambar atau tabel di bawah ini, kecuali ditentukan dalam gambar atau
permintaan Direksi Pekerjaan.

VII-33
METODE PELAKSANAAN

Jenis Pekerjaan Selimut beton bertulang (cm)

Dalam Luar
Disentuh

1. Plat 1.0 1.5. 2.0

2. Dinding 1.5 2.0 2.5

3. Balok 2.0 2.5 3.0

4. Kolom 2.5 3.0 3.0

5. Bangunan yang masuk dlm 5.0


tanah atau nampak atau
terpengaruh cuaca atau kena
goresan

f. Daftar Bengkokan

Kontraktor harus memahami sendiri semua penjelasan yang diberikan dalam


gambar dan spesifikasi, kebutuhan akan tulangan yang tepat untuk dipakai dalam
pekerjaan. Daftar bengkokan yang mungkin diberikan oleh Direksi kepada
Kontraktor harus diperiksa dan diteliti.

Tulangan baja harus dipotong dari batang yang lurus, yang bebas dari belitan dan
bengkokan atau kerusakan lainya dan dibengkokkan dalam keadaan dingin oleh
tukang

yang berpengalaman. Batang dengan garis tengah 20 mm atau lebih harus


dibengkokkan dengan mesin pembengkok yang direncanakan untuk itu dan disetujui
oleh Direksi. Ukuran pembengkok harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia
NI-2, PBI 1971 kecuali jika ditentukan lain, atau diperintahkan oleh Direksi. Bentuk-
bentuk tulangan baja harus dipotong sesuai dengan gambar, tidak boleh
menyambung tulang tanpa persetujuan Direksi.

g. Pemasangan

Kontraktor harus menempatkan dan memasang tulangan baja dengan tepat pada
tempat kedudukan yang ditunjukkan dalam gambar dan harus ada jaminan bahwa

VII-34
METODE PELAKSANAAN

tulangan itu akan tetap pada kedudukannya pada waktu pengecoran beton.
Pengelasan tempel dengan adanya persetujuan Direksi lebih dahulu dapat diijinkan
untuk menyambung tulangan-tulangan yang saling tegak lurus, tetapi cara
pengelasan lain tidak akan dibolehkan. Penggunaan ganjal, alat perenggang dan
kawat harus mendapat persetujuan dari Direksi. Perenggang dari beton harus dibuat
dari beton dengan mutu yang sama seperti mutu beton yang akan dicor.
Perenggang tulangan dari besi beton dan kawat harus sepadan dengan bahan
tulangannya. Selimut beton yang ditentukan harus terpelihara.

7.6.5Acuan dan Pekerjaan Penyelesaian

a. Acuan

Acuan harus dibuat untuk tetap kaku selama pengecoran dan pengerasan dari beton
dan untuk memperoleh bentuk permukaan yang diperlukan. Kontraktor harus
menyerahkan rencana dan penjelasan tentang acuan dan harus membuat contoh-
contoh acuan untuk mendapat pengesahan Direksi.

Acuan harus dipasang dengan sempurna, sesuai dengan bentuk-bentuk dan ukuran
yang benar dari pekerjaan beton, yang ditunjukkan dalam Gambar. Cara
pendukungan yang akan menghasilkan lubang-lubang atau tali-tali kawat yang
membentang pada seluruh lebar dari permukaan beton tidak dibenarkan. Acuan
penutup harus dibuat pada permukaan beton, dimana kemiringannya lebih curam
dari 1 : 3.

Acuan untuk permukaan beton harus sedemikian rupa untuk mencegah hilangnya
bahan-bahan dari beton dan bisa menghasilkan permukaan beton yang padat. Jika
dibutuhkan oleh Direksi acuan untuk permukaan beton yang kelihatan harus
sedemikian rupa sehingga menghasilkan permukaan yang halus tanpa adanya garis
atau kelihatan terputus.

Tiap kali sebelum pembetonan dimulai, acuan harus diperiksa dengan teliti dan
dibersihkan.

VII-35
METODE PELAKSANAAN

Pembetonan hanya boleh dimulai apabila Direksi sudah memeriksa dan memberi
per-setujuan acuan yang telah dipasang.

Untuk pembetonan di cuaca panas atau kering, Kontraktor harus membuat rencana
acuan dan membukanya, sehingga permukaan-permukaan beton dapat terlihat
untuk dimulai perawatan sesegera mungkin.

Acuan hanya boleh dibuka dengan ijin Direksi dibawah pengawasan seorang
mandor yang berwewenang. Harus diberi perhatian yang besar pada waktu
pembukaan acuan untuk menghindari goncangan atau pembalikan tegangan beton.

Dalam hal mana Direksi berpendapat bahwa usul Kontraktor untuk membuka acuan
belum pada waktunya baik berdasarkan perhitungan cuaca atau dengan alasan
lainnya, maka Direksi dapat memerintahkan Kontraktor untuk menunda pembukaan
acuan dan Kontraktor tidak boleh menuntut kerugian atas penundaan tersebut.

Untuk beton dengan semen Portland biasa, waktu paling sedikit untuk pembukaan
acuan harus menurut daftar dibawah ini :

Muka sisi balok, lantai dan dinding 2 hari

Bagian bawah 21 hari

b. Perancah

Tiap-tiap cetakan harus dipasang diatas papan kayu yang kokoh dan harus mudah
distel. Tiang perancah boleh mempunyai paling banyak satu sambungan yang tidak
disokong kearah samping.

Bambu juga boleh digunakan untuk tiang perancah, asalkan dipikirkan terhadap
stabilitas terutama terhadap berat sendiri beton, serta beban-beban lain yang timbul
selama pengecoran seperti akibat getaran alat penggetar, berat pekerja dll.

c.Toleransi

Pemasangan acuan dan perancah harus dipasang sedemikian rupa, sehingga


memenuhi batas-batas toleransi pergeseran acuan/perancah yang diijinkan seperti
tercantum berikut atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi.

Bagian / Partisi Toleransi

Arah vertikal (jembatan, talang, 1.0 cm per 50.0 m bentang

VII-36
METODE PELAKSANAAN

dll)

Arah sisi utk pek. saluran/lining 0.50 ~ 1.0 cm per 40.0 m bentang
dinding

Arah sisi (dinding penahan 0.50 ~ 2.0 cm per 30.0 m bentang


bagian depan/ belakang) dinding

Apabila terjadi kondisi, dimana setelah pelaksanaan pengecoran untuk bagian


exposed mengakibatkan pergeseran lebih dari batas toleransi atau yang
diperintahkan oleh Direksi, maka segala biaya perbaikan akan menjadi tanggung
jawab Kontraktor.

7.6.6Pekerjaan Permukaan

Untuk penyelesaian permukaan beton dibedakan dua jenis, sebagaimana diuraikan


sebagai berikut :

a. Penyelesaian Kasar

Penyelesaian kasar dari beton adalah penyelesaian permukaan yang dicakar-cakar.


Permukaan beton yang diaci dengan penyelesaian kasar, harus teratur bebas dari
tonjolan tapi tetap agak kasar.

Permukaan beton yang tanpa acuan dan ditentukan dengan penyelesaian kasar,
harus digaruk rata dengan lis tetapi dengan mutu yang sama seperti muka beton
yang diacu dan dengan penyelesaian kasar.

b. Penyelesaian Halus

Penyelesaian halus adalah penyelesaian yang dihasilkan oleh pemakaian papan


kayu rata plywood atau pelat baja untuk acuan.Muka beton diselesaikan dengan
halus harus bebas dari tanda-tanda kayu; lekuk-lekuk dan lain-lain kesalahan
pemotongan. Pola dari papan cetak harus teratur, muka beton yang diacu dengan
penyelesaian halus harus digaruk kemudian digosok halus dengan penggosok kayu
atau baja sampai rata dan dengan mutu yang sama seperti yang diacu.

Kecuali ditentukan lain maka penyelesaian halus harus dituntut untuk permukaan
beton yang tetap kelihatan. Muka beton yang terbuka, kedap air harus digosok halus

VII-37
METODE PELAKSANAAN

dengan cetok baja sampai halus. Muka beton yang tampak lainnya harus digosok
dengan penggosok/lepa kayu sampai halus.

Pekerjaan menggosok harus dilakukan setelah beton cukup keras agar tidak terjadi
timbulnya air dengan butiran halus dipermukaan.

Muka beton tidak boleh diperbaiki tanpa ijin Direksi sesudah dibongkar cetakannya.

Kecuali ditunjukkan pada gambar, maka sudut-sudut tajam harus dibuat tumpul
dengan ukuran 2 cm x 2 cm.

7.6.7 Mutu Beton

a. Proporsi Campuran

Proporsi campuran beton perlu ditentukan guna mendapatkan beton yang


mempunyai kemudahan pelaksanaan, kepadatan, kekedapan, keawetan, kekerasan
dan kekuatan yang dibutuhkan tanpa menggunakan tambahan jumlah semen.

Rencana karakteristik kuat tekan beton didasarkan pada NI-2 atau sesuai arahan
Direksi. Pedoman proporsi campuran untuk pelaksanaan yang telah disetujui Direksi
tidak akan membebaskan Kontraktor dari tanggungjawabnya terhadap Kontrak.

Kelas/Mutu beton harus memenuhi persyaratan dalam Standar Indonesia SK SNI -


T15 - 1991 - 03. Direksi berhak merubah/memodifikasi proporsi campuran dari waktu
ke waktu selama pekerjaan konstruksi.

Sebagai pedoman awal, proporsi campuran akan dipergunakan untuk beberapa


variasi kelas beton adalah sebagai berikut:

Beton Cyclope

Beton K-100 : setara 1PC : 3Ps : 5Kr

Beton K-125 : setara 1PC : 3Ps : 5Kr

Beton K-175 : setara 1PC : 2Ps : 3Kr

Beton K-225 : setara 1PC : 1,5Ps : 2,5Kr

Beton Cyclop adalah beton mutu K175 yang dalam penempatannya dicampur
dengan batu kali / batu pecah dengan ukuran maksimum 80 mm sebanyak
maksimum 50% dari volume beton cycloop. Batu kali / batu pecah tersebut
VII-38
METODE PELAKSANAAN

diletakkan dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga jarak antar batu minimal 15
cm dan jarak antara batu terhadap tepi/permukaan beton minimal 30 cm serta jarak
terhadap permukaan yang dilindungi/disambung dengan beton lain minimal 15 cm.

Bila dipandang perlu, Direksi berhak merubah/memperbaiki perbandingan campuran


beton selama pekerjaan berlangsung tanpa pembayaran tambahan guna mencapai
tingkat mutu/kelas yang ditentukan dalam Gambar/Desain. Kontraktor tidak diper-
kenankan merubah perbandingan campuran beton atau mengalihkan sumber
bahan-bahan dari lokasi lain tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Direksi.

b.Kadar Air dan Slump

(1) Kekentalan

Kadar air dalam beton harus dikendalikan setiap waktu. Kekentalan adonan beton
yang diukur dengan alat slump harus sesuai dengan batasan berikut ini, dalam
Centimeter.

Batas
Target Batas
Tipe Beton Penolaka
Slump Toleransi
n

Struktur, di bawah tidak 8 5 13


terlindungi 8 5 13
Lantai datar tebal kurang dari 30 6 5 11
cm

Beton massa, struktur besar

(2) Slump

Jumlah air yang dipergunakan dalam beton harus dikontrol agar tinggi slump tidak
melampaui ketentuan diatas. Penambahan air untuk mengencerkan beton yang
sudah mengalami hidrasi pada saat pengecoran tidak diperkenankan. Pemeriksaan
slump harus diambil setelah beton ditempatkan tetapi sebelum mengalami
konsolidasi.

(3) Toleransi

VII-39
METODE PELAKSANAAN

Toleransi diberikan sebesar 5(lima) sentimeter untuk masing-masing jenis struktur


sesuai Tabel di atas. Adonan beton akan ditolak jika nilai slump lebih besar dari
ketentuan di atas dan beton tersebut harus dibuang.

b) 3.4.3. Standar Pengujian

Kontraktor harus mengambil contoh beton untuk tes silinder dari tempat pekerjaan
pengecoran beton, kemudian dirawat seperlunya dan menyerahkan kepada
Laboratorium yang disetujui untuk diadakan pengujian sesuai diperintahkan.

Selama pengecoran, Kontraktor harus selalu melakukan slump test pada saat
memulai pengecoran. Tes-tes itu harus dilakukan berdasarkan SKSNI T-15-1991-03
atau standar lain yang setara atau lebih tinggi, kecuali ditentukan lain.

Kecuali disetujui lain oleh Direksi, jenis pengujian dan rujukan yang digunakan harus
mengikuti ketentuan dalam Tabel berikut ini:

Tes dari Beton Nomor Rujukan

- Sampling of concrete ASTM C 172 (JIS A 1115-75)

- Compressive strength ASTM C 39, C 192 (JIS A 1108-76,A


1132-76)
- Slump
ASTM C 143 (JIS A 1101-75)
- Air content
ASTM C 231 (JIS A 1118-75)
- Unit weight
ASTM C 138 (JIS A 1116-75)

- Material passing No
ASTM C 117 (JIS A 1103-64)
200 sieve
JIS A 1111-76
- Surface moisture
ASTM C 40 (JIS A 1105-76)
- Organic impurities
ASTM C 88 (JIS A 1122-76)
- Sodium sulfate
ASTM C 136 (JIS A 1102-76)
soundness
ASTM C 131, C 535 (JIS A 1121-76)
- Grading of aggregate
ASTM C 29 (JIS A 1104-76)
- Los Angeles abrasion

VII-40
METODE PELAKSANAAN

- Unit weight ASTM C 127, C 128 (JIS A 1109-76,

- Specific gravity and A 1110-76)


absorption

Kontraktor tidak dapat mengajukan biaya tambahan yang disebabkan oleh


penambahan sampling atau tes dari beton basah di lokasi manapun atas perintah
Direksi. Tidak ada pembayaran secara terpisah untuk contoh material yang
digunakan untuk tes.

7.6.8Pelaksanaan Pembetonan

a. Mencampur Bahan Beton

Kontraktor harus mencampur dengan hati-hati bahan-bahan dari tiap kelas beton
dengan perbandingan berdasarkan ukuran volume. Air harus ditambahkan pada
bahan batuan, pasir dan semen dalam mesin pengaduk mekanis, banyaknya harus
menurut jumlah paling kecil yang diperlukan untuk memperoleh pemadatan penuh.
Alat pengukur air harus menunjukkan banyaknya air yang diperlukan dan
direncanakan agar secara otomatis berhenti bila jumlah air tersebut sudah dialirkan
kedalam campuran. Dan kemudian, apabila beton kelas K-125 diijinkan dilakukan
dengan tenaga manusia, maka semen, batuan dan pasir harus dicampur di atas
lantai kayu yang rapat. Bahan-bahan harus diaduk paling sedikit dua kali dalam
keadaan kering dan paling sedikit tiga kali sesudah air dicampur, sampai campuran
beton mencapai warna dan kekentalan yang sama/merata.

Kontraktor harus merencanakan tempat dari alat pencampur dan tempat bahan-
bahan untuk memberi ruang kerja yang cukup. Rencana ini harus diserahkan untuk
mendapat persetujuan Direksi, sebelum alat pencampur dan bahan-bahan
ditempatkan.

b. Mengangkut, Menuang dan Memadatkan Beton

Beton harus diangkut sedemikian rupa sehingga pada saat sampai di tempat
penuangan, beton masih memiliki mutu yang ditentukan dan kekentalan yang
memenuhi, dan tidak terjadi penambahan atau pengurangan apapun sejak

VII-41
METODE PELAKSANAAN

meninggalkan tempat adukan. Kontraktor harus mendapat persetujuan Direksi atas


pengaturan yang direncanakan, sebelum pekerjaan pembetonan dimulai. Beton
tidak diperbolehkan untuk dituang dari ketinggian lebih dari 1.50 m, ketebalan beton
dalam tuangan tidak boleh lebih dari 1,0 m untuk satu kali pengecoran.

Pengecoran harus dilaksanakan terus-menerus sampai ke tempat sambungan cor


yang direncanakan. Kontraktor harus mengingat pemadatan dari beton adalah
pekerjaan yang penting dengan tujuan untuk menghasilkan beton rapat air dengan
kepadatan maximum. Pemadatan harus dibantu dengan pemakaian mesin
penggetar dari jenis tenggelam, tetapi tidak mengakibatkan bergetarnya tulangan
dan acuan. Jumlah dan jenis alat getar yang tersedia untuk dipakai pada setiap
masa pembetonan, harus dengan persetujuan Direksi.

c. Pembetonan Diatas Permukaan yang Tidak Kedap Air

Kontraktor tidak boleh melaksanakan pengecoran pada permukaan yang tidak


kedap air sebelum permukaan itu ditutup dengan kulit/membran kedap air atau
bahan kedap air lainnya yang disetujui oleh Direksi.

d. Pembetonan dalam Cuaca yang Tidak Menguntungkan

Kontraktor tidak boleh mengecor pada waktu hujan deras tanpa


perlindungan.Kontraktor harus meyiapkan alat pelindung beton dari hujan dan terik
matahari sebelum pengecoran.

Bila suhu udara melebihi 35C, Kontraktor tidak boleh mengecor tanpa persetujuan
Direksi dan tanpa mengambil tindakan pencegahan seperlunya untuk menjaga
supaya suhu beton pada waktu pencampuran dan penuangan kurang dari 35C
misalnya dengan menjaga bahan-bahan beton dan acuan agar terlindung dari
matahari, atau menyemprot air pada bahan batuan dan acauan.

e. Sambungan Beton

Penjelasan dan kedudukan dari tempat sambungan-sambungan beton harus


diserahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan sebelum mulai dengan
pengecoran.

Tempat sambungan harus ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pengaruh dari


penyu-sutan dan suhu sangat kecil

VII-42
METODE PELAKSANAAN

Sambungan beton harus rapat air, dan harus dibentuk dalam garis-garis lurus
dengan acuan yang kaku tegak lurus pada garis tegangan pokok dan sejauh
mungkin dapat dilaksanakan, pada tempat gaya lintang/geser yang terkecil.
Sambungan itu merupakan jenis pertemuan biasa, kecuali jika jenis lain dikehendaki
oleh Direksi.

Ukuran vertikal dari beton yang dituangkan pada satu kali pengecoran harus tidak
lebih dari 1,0 m dan ukuran mendatar harus tidak lebih dari 7 m, meskipun tanpa
adanya persetujuan lebih dahulu dari Direksi.

f. Beton Pracetak

Beton pracetak harus memenuhi semua ketentuan spesifikasi. Sejauh itu


memungkinkan setiap unit pracetak harus segera ditandai dengan tanggal cetakan
yang tak bisa hilang dan setelah acuan dibuka maka selama 28 hari tidak boleh ada
gangguan terhadap beton.

g.Perawatan Beton

Sampai beton mengeras seluruhnya dalam waktu tidak kurang dari 7 hari, Kontraktor
harus melindungi beton dari pengaruh jelek dari angin, matahari, suhu tinggi atau
rendah, pergantian atau pembalikan derajat suhu, pembebanan sebelum waktunya,
lendutan atau tumbukan dan air tanah yang merusak.

Jika ditentukan lain oleh Direksi, Permukaan beton yang kelihatan harus dijaga terus
basah sesudah dicor, tidak kurang dari 7 hari untuk beton dengan semen Portland,
atau 3 hari untuk beton dengan semen yang cepat mengeras. Permukaan seperti itu
segera setelah dibuka acuannya maka harus segera ditutup dengan karung goni
yang dibasahi atau pasir atau lain-lain bahan yang mungkin disetujui Direksi.
Kontraktor harus membuat perlengkapan khusus atas permintaan Direksi untuk
perawatan dan pembasahan yang dimaksud sepanjang masa dari 6 sampai 24 jam
sesudah pengecoran beton.

7.5.9 Lining Beton

Pekerjaan lining pada saluran harus dikerjakan sesuai dengan penjelasan pada
Gambar. Bahan yang dipakai dan mutu pekerjaannya .

VII-43
METODE PELAKSANAAN

Lining beton dikerjakan dengan cor ditempat (insitu) ketebalan 8 cm dari beton K-
175 dan lantai kerja 2.0 cm dari beton K-100.

Pengecoran lining diatur per blok sepanjang 4.00 (empat) meter. Untuk blok
berikutnya dibatasi dengan alur tegak lantai ukuran (2 x 2) cm kedalaman 2 cm dan
2 cm dipermukaan.

7.5.11 Toleransi

Kontraktor harus bertanggungjawab terhadap pemasangan dan perawatan acuan


beton dalam batas toleransi dan akan menjamin bahwa pekerjaan diselesaikan
dalam batas toleransi yang telah ditetapkan dalam Spesifikasi.

Pekerjaan yang melampaui batas toleransi tersebut di bawah harus diperbaiki atau
dibuang dan dibongkar dan diganti oleh dan atas biaya Kontraktor.

a. Toleransi Konstruksi Beton :

Ketinggian dari kolom, pilar, dinding, bagian lengkung bangunan, alur sambungan
tegak dan bentuk garis struktur lain :

- 12 mm per 3 meter

- 18 mm per 6 meter

- 30 mm per 12 meter

Ketinggian dari lantai, langit-langit (plafond), balok, alur sambungan horisontal dan
bentuk lain yang terlihat :

- 6 mm per 3 meter

- 12 mm per 10 meter

Kelurusan garis struktur :

- 12 mm per 6 meter

- 18 mm per 12 meter

Jarak antara (nat) dinding adalah 6 mm

Dimensi/ukuran potongan melintang dari kolom, balok, ketebalan lantai dan dinding
adalah minus 6 mm dan plus 12 mm

VII-44
METODE PELAKSANAAN

b. Toleransi Pemasangan Besi Tulangan :

Lapis pelindung :

- 6 mm per 50 mm pelindung

- 9 mm per 51 - 60 mm pelindung

Jarak antar besi adalah 25 mm

c. Toleransi Konstuksi Metalwork :

- Minus 6 mm

- Plus 6 mm

VII-45

Anda mungkin juga menyukai