Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH KD 3.

4
BUPAK HAL 88

B. BAGAN STRUKTUR LEMBAGA NEGARA BERSADARKAN UUD 1945


SEBELUM AMANDEMEN

UUD 1945

MPR

DPR PRESIDEN BPK DPA MA

C. BAGAN STRUKTUR LEMBAGA NEGARA PADA MASA DEMOKRASI


TERPIMPIN

UUD 1945
( PERIODE 1959
- 1971 )

MPR
SEMENTARA

DPA DPR GOTONG


MA PRESIDEN BPK
SEMENTARA ROYONG
D. ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA KEDUA BAGIAN STRUKTUR

Lembaga Negara menurut UUD 1945 sebelum diamandemen dengan lembaga negara
pada masa Demokrasi Terpimpin memiliki beberapa perbedaan yang sering dianggap sebagai
penyimpangan dari UUD 1945.

 Menurut UUD 1945 sebelum amandemen, lembaga negara di Indonesia meliputi :

1. Lembaga Tertinggi Negara : Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

MPR adalah lembaga tertinggi negara yang menjalankan kedaulatan rakyat Indonesia,
diberikan kekuasaan tak terbatas, dan berhak mengangkat dan memberhentikan presiden.
Anggotanya berasal dari anggota DPR hasil pemilihan umum dan utusan daerah serta utusan
golongan yang diangkat.

2. Lembaga Tinggi Negara:

 Presiden

Presiden diangkat dan diberhentikan oleh MPR, dan tunduk serta bertanggung jawab
kepada MPR. Presiden memiliki kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan,
menjabat sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.

 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Merupakan lembaga perwakilan rakyat yang anggotanya berasal dari partai politik
peserta Pemilu yang dipilih oleh rakyat. DPR tidak bertanggung jawab kepada
Presiden, dan tidak dapat dibubarkan oleh Presiden.

 Mahkamah Agung (MA)

Merupakan satu-satunya pelaksana kekuasaan kehakiman, bersifat mandiri dan tidak


dapat diintervensi atau dipengaruhi oleh lembaga negara yang lain.

 Dewan Pertimbangan Agung (DPA)

DPA berfungsi untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan Presiden.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

BPK bertugas memeriksa pertanggungjawaban penggunaan keuangan negara.


 Lembaga negara pada masa Demokrasi Terpimpin meliputi :

1. Lembaga Tertinggi Negara: Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS)

Pada masa Demokrasi Terpimpin, Presiden membentuk MPRS melalui Penetapan Presiden
Nomor 2 Tahun 1959, dan anggotanya ditunjuk dan diangkat oleh Presiden dengan syarat :

 Sepakat untuk kembali kepada UUD 1945.

 Loyal kepada Perjuangan Republik Indonesia.

 Sepakat dengan manifesto Politik.

Hal ini merupakan penyimpangan dari UUD 1945 karena anggota MPR seharusnya berasal
dari anggota DPR ditambah dengan utusan daerah dan golongan. Anggota DPR sendiri
seharusnya dipilih rakyat melalui Pemilihan Umum (Pemilu) yang diikuti oleh partai-partai
politik. Selain itu wewenang MPRS dibatasi hanya menyusun Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN), padahal tugas MPRS seharusnya juga berwenang meminta pertanggung
jawaban, mengangkat, dan memberhentikan Presiden.

2. Lembaga Tinggi Negara:

 Presiden

Dalam UUD 1945, kedudukan Presiden ada di bawah MPR, namun kenyataannya
pada masa Demokrasi Terpimpin terjadi penyimpangan. Presiden mengangkat ketua
MPRS yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri III, dan para Wakil Ketua
MPRS merupakan pimpinan partai-partai besar serta wakil ABRI yang masing-
masing dijadikan Menteri yang tidak memimpin departemen. Karena Ketua MPRS
adalah Wakil Perdana Menteri dan Wakil Ketua MPRS adalah Menteri, ini berarti
bahwa MPRS berada di bawah Presiden sehingga Presiden dapat menentukan apa
yang diputuskan MPRS.

 Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR)

Dalam UUD 1945, kedudukan DPR setara dengan Presiden, sehingga Presiden tidak
dapat membubarkan DPR, dan anggota DPR dipilih oleh rakyat melalui Pemilu.
Namun dalam masa Demokrasi Terpimpin, Presiden membubarkan DPR hasil Pemilu
1955 dan membentuk DPR Gotong Royong (DPR-GR), di mana anggotanya ditunjuk
oleh Presiden. Selain itu peraturan DPR-GR ditentukan oleh Presiden sehingga DPR-
GR harus mengikuti keinginan pemerintah.
 Mahkamah Agung (MA)

Dalam masa demokrasi terpimpin, Ketua MA berkedudukan sebagai menteri,


sehingga berada di bawah Presiden, padahal menurut UUD 1945, MA adalah lembaga
tinggi negara yang tidak boleh diintervensi atau dipengaruhi oleh Presiden. Sebagai
menteri, berarti ketua MA akan tunduk pada Presiden selaku pemimpin kabinet.

 Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS)

Menurut UUD 1945, kedudukan DPA setara dengan Presiden. Namun pada masa
Demokrasi Terpimpin, DPAS dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 3
Tahun 1959 dengan diketuai oleh Presiden sendiri. Ini berarti DPAS berada di bawah
Presiden sebagai ketuanya, dan melanggar UUD 1945. Selain itu, tugas DPA menurut
UUD 1945 adalah memberi jawaban atas pertanyaan Presiden, sehingga jika Presiden
adalah ketuanya berarti bahwa DPAS mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri
dan menjawab kepada dirinya sendiri.

 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Dalam masa Demokrasi Terpimpin, Ketua BPK berkedudukan sebagai menteri,


sehingga berada di bawah Presiden, padahal menurut UUD 1945, BPK adalah
lembaga tinggi negara yang kedudukannya sejajar dengan Presiden.

NB : Pada masa Demokrasi Terpimpin, lembaga negara yang dibentuk hampir sama dengan
lembaga negara yang ada di UUD 1945. Ya, walaupun Dekrit Presiden 5 Juli 1959 salah satu
isinya adalah kembali kepada UUD 1945, namun pelaksanaannya khususnya dalam hal
lembaga-lembaga negara ternyata banyak menyimpang dari UUD 1945 baik dari cara
pembentukannya dan wewenangnya. Tetapi hal ini merupakan proses sejarah yang dialami
Indonesia untuk mencari jalan terbaik untuk negara dan pemerintahannya agar bisa
memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyatnya.

 Tambahan

A. Dekrit Presiden memuat tiga hal pokok:


1) Menetapkan pembubaran konstituante.
2) Menetapkan UUD 1945 berlaku bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, terhitung mulai tanggal penetapan dekret dan tidak berlakunya UUD Sementera
(UUDS).
3) Pembentukan MPRS, yang terdiri dari anggota DPR ditambah dengan utusan-utusan dan
golongan, serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS).
Tindak lanjut dekret presiden:
1) Perdana menteri Djuanda mengembalikan mandat kepada Soekarno.
2) Kabinet Karya dibubarkan.
3) Pada 10 Juli 1959, Soekarno mengumumkan kabinet baru yaitu Kabinet Kerja.
4)Pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS).

Nama : Diva Wahyu Widya


Absen : 12
Kelas : XII MIPA 8

Anda mungkin juga menyukai