Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM PENGANTAR SURVEYING PEMETAAN

MODUL 1

PERIODE I (2019/2020)

KELOMPOK III

Nama Mahasiswa/NIM : Givson Gabriel/104118029

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR

UNIVERSITAS PERTAMINA

2020
PRAKTIKUM PENGUKURAN JARAK VERTIKAL

Givson Gabriel3*, Alfaudzan Ramadhan3, Darlen Zefanya3, Muhammad Faishal3,


Siti Nurfadhilah Ahwan3

3Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur,

Universitas Pertamina

*Coressponding author: givsong@gmail.com

Abstrak: Pada praktikum yang dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2020 kita melakukan sebuah
penelitian mengenai Pengukuran Jarak Vertikal. Dengan tujuan mengetahui pengertian dan fungsi
dari alat theodolite, menentukan perbedaan elevasi titik tinjau antara 2 titik tinjauan dan mengetahui
kontur suatu tanah tinjauan dengan pengukuran jarak vertikal. Lokasi tanah titik praktikum
kelompok kami yaitu lapangan Universitas Pertamina. Lalu kita mendapatkan hasil bahwa kontur
tanah lokasi praktikum kami adalah lokasi yang merupakan fall elevation dari titik benchmark nya
yang berupa reduce level yang kita plotkan kedalam aplikasi AutoCAD sebagai bentuk 2 dimensi
kontur tanah tersebut yang didapatkan hasil dari pengukuran menggunakan alat theodolite.
Kata Kunci: Jarak Vertikal, Theodolite, Kontur Tanah, Fall Elevation, Reduce Level.

Abstract: In the practicum that we have done on January 29th, 2020 we conducted
a study on Vertical Distance Measurement. In order to find out the definition and
function of the theodolite, determine the elevation differences between the two
points of view and find out the contours of a review ground by measuring vertical
distances. The location of our group's practicum point is Pertamina University field.
Then we get the result that the contour of the land of our practicum location is a
location which is a fall elevation from the benchmark point which form of reduce
level that we plot into the AutoCAD application as a 2-dimensional shape of the
land contour obtained from measurements using the theodolite.
Keywords: Vertical Distance, Theodolite, Ground Contour, Fall Elevation, Reduce
Level.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam melakukan pengamatan kajian ilmu teknik sipil, kita pasti perlu
adanya pengukuran, seperti pengukuran kontur tanah dari sebuah alat, salah
satunya yaitu menggunakan theodolite dalam pengamatan ilmu ukur tanah.
Ilmu ukur tanah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran di
permukaan bumi dan dibawah tanah untuk berbagai keperluan seperti
pemetakan dan penentuan posisi relatif pada daerah yang relatif sempit
sehingga unsur kelengkungan permukaan bumi dapat diabaikan. Ilmu ukur
tanah menjadi dasar bagian beberapa mata kuliah dalam bidang teknik sipil
seperti rekayasa jalan raya, irigasi, drainase, dan lain sebagainya. Pengukuran
titik-titik koordinat dalam suatu pembangunan memerlukan data hasil
pengukuran dengan ketelitian yang tinggi agar konstruksi yang dibangun dapat
dipertanggungjawabkan dan terhindar dari kesalahan konstruksi. Tujuan,
cakupan, lingkup dan wahana untuk penyajiannya berbeda-beda, oleh karena
itu pengetahuan mengenai surveying dapat digolongkan dalam studi teknik
sipil dengan metode pengukuran vertikal pada praktikum ini, yaitu:

a. Survei permukaan tanah datar, meliputi pengukuran dalam area


terbatas sehingga efek lengkungan permukaan bumi dapat diabaikan
dan perhitungannya dapat langsung direferensikan pada bidang datar
b. Survei rekayasa, mencakup pemetaan topografi skala besar sebagai
dasar dari perencanaan dan desain rekayasa seperti jalan, jembatan,
bangunan gedung, jalan layang, bendungan dan lain-lain.
Pada laporan ini kami membahas tentang pengukuran kontur suatu tanah
dengan informasi garis kontur. Garis kontur disajikan di atas peta untuk
memperlihatkan naik turunnya keadaan permukaan tanah. Garis kontur dapat
dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang
mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta. Dengan
skala tertentu, maka untuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan
sesuai skala peta. Untuk itulah dibuat laporan ini untuk memudahkan
pemahaman mengenai kegunaan theodilite terhadap suatu lokasi dengan
informasi kontur tanah yang berbeda dengan metode kartografi dalam bentuk
plotan dari aplikasi AutoCAD bentuk 2 dimensi.

1.2 Rumusan Masalah


a. Prinsip dasar apa dari alat theodolite?
b. Bagaimana perbedaan elevasi titik tinjau antara 2 titik tinjauan?
c. Bagaimana mengetahui kontur suatu tanah tinjauan praktikum dengan
pengukuran jarak vertikal?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui fungsi dan prinsip dasar dari alat theodolite.
b. Menentukan perbedaan elevasi titik tinjau antara 2 titik tinjauan.
c. Mengetahui kontur suatu tanah tinjauan dengan pengukuran jarak vertikal.

1.4 Dasar Teori


Ilmu ukur tanah merupakan ilmu terapan yang mempelajari dan
menganalisis bentuk topografi permukaan bumi beserta objek-objek di atasnya
untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan konstruksi. Pada dasarnya tujuan
pengukuran pada ilmu ukur tanah adalah untuk menentukan letak atau
kedudukan suatu objek di atas permukaan bumi dalam suatu sistem koordinat.
Pengukuran sudut merupakan bagian dari survey detail dan control.

Pengukuran jarak optis dapat dilakukan karena pada teropong (theodolite,


waterpass, sipat datar, BTM, plane table, dan lain –lain) dilengkapi dengan
garis bidik (benang silang) dan benang stadia yang diarsir pada diafragma
untuk analisis bentuk topografi tanah tersebut. Bentuk benang silang pada

setiap teropong tidak sama, tergantung dari pabrik pembuatannya. Bentuk –


bentuk tersebut antara lain dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 1.1 Bentuk benang silang pada teropong

Alat theodolite juga digunakan untuk mengukur besar sudut, baik sudut
vertikal ataupun sudut horizontal untuk mendapatkan garis kontur tiap titik
ujinya. Dimana sudut-sudut tersebut berperan dalam penentuan jarak mendatar
dan jarak tegak diantara dua buah titik lapangan. Dengan menggunakan
komponen alat survey seperti alat theodolite tersebut pengukuran jarak dan
tinggi relatif hanya berlangsung beberapa detik saja. Garis kontur adalah garis
kontinyu diatas peta yang memperlihatkan titik-titik diatas peta
dengan ketinggian yang sama. Pemilihan titik detail ini sangat berkaitan
dengan kelengkapan peta yang diinginkan. Seperti persyaratan yang berikut :

a) Beda kontur dalam penggambaran nantinya tergantung dari skala yang


diminta dan bilangan skala tersebut, selanjutnya diperkirakan gerakan
pemegang rambu oleh juru ukur.

b) Penggambaran garis konturnya boleh dilakukan dengan melakukan inter-


polarisasi antar dua buah titik detail saja. Dengan demikian gerakan
pemegang rambu dapat dilakukan dari satu titik ke titik detail lainnya.

c) Pemilihan nilai ketinggian garis kontur untuk penggambaran diambil


bertahap sesuai dengan kelipatan beda kontur dengan bilangan bulat
(integer).

d) Penggambaran dimulai dengan ketinggian terendah dan kelipatan beda


kontur, namun nilainya lebih besar jika dibandingkan dengan titik detail
yang terendah.

Aplikasi lebih lanjut dari garis kontur adalah untuk memberikan informasi
slope (kemiringan tanah rata-rata), irisan profil memanjang atau melintang
permukaan tanah terhadap jalur proyek (bangunan) dan perhitungan galian
serta timbunan (cut and fill) permukaan tanah asli terhadap ketinggian vertikal
garis atau bangunan. Garis-garis kontur merupakan cara yang banyak
dilakukan untuk melukiskan bentuk permukaan tanah dan ketinggian pada
peta, karena memberikan ketelitian yang lebih baik. Cara lain untuk
melukiskan bentuk permukaan tanah yaitu dengan cara hachures dan shading
(bentuk garis kontur dalam 3 dimensi)

Dalam pekerjaan-pekerjaan ukur tanah, teodolit sering digunakan dalam


pengukuran polygon, pemetaan situasi maupun pengamatan matahari. Teodolit
juga bisa berubah fungsinya menjadi seperti PPD bila sudut vertikalnya dibuat
90°. Dengan adanya teropong yang terdapat pada teodolit, maka teodolit bisa
dibidikkan ke segala arah. Untuk pekerjaan- pekerjaan bangunan gedung,
teodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan
/ pekerjaan pondasi, juga dapat digunakan untuk mengukur ketinggian suatu
bangunan bertingkat. Syarat-syarat utama yang harus dipenuhi alat theodolite
sehingga siap dipergunakan untuk pengukuran yang benar adalah:
1. Sumbu ke I harus tegak lurus dengan sumbu II / vertikal (dengan
menyetel nivo tabung dan nivo kotaknya).
2. Sumbu II harus tegak lurus Sumbu I
3. Garis bidik harus tegak lurus dengan sumbu II (Sumbu II harus
mendatar).
4. Tidak adanya salah indeks pada lingkaran kesatu (kesalahan indek
vertikal sama dengan nol)
5. Apabila ada nivo teropong, garis bidik harus sejajar dengan nivo
teropong.
6. Garis jurusan nivo skala tegak, harus sejajar dengan garis indeks skala
tegak
7. Garis jurusan nivo skala mendatar, harus tegak lurus dengan sumbu II
(Garis bidik tegak lurus sumbu kedua / mendatar). Syarat pertama harus
dipenuhi setiap kali berdiri alat (bersifat dinamis), sedangkan
untuk syarat kedua sampai dengan syarat kelima bersifat statis dan pada
alat-alat baru dapatdihilangkan dengan merata-rata bacaan biasa dan
luar biasa.

Gambar 1.2 Ilustrasi syarat penggunaan theodolite


Dalam pembuatan kontur muka bumi yang dikenal dengan istilah
pemetaan dapat dicapai dengan melakukan pengukuran. Pengukuran –
pengukuran di bagi dalam bentuk pengukuran yang mendatar untuk
mendapatkan hubungan – hubungan titik – titik yang diukur di atas permukaan
bumi (Pengukuran kerangka horizontal) dan pengukuran tegak guna mendapat
hubungan tegak antara titik – titik yang diukur (Pengukuran kerangka dasar
vertikal) serta pengukuran titik – titik detail. Titik – titik kerangka dasar
pemetaan yang akan di tentukan, lebih dahulu koordinat dari ketinggiannya itu
di buat tersebar merata dengan kerapatan tertentu, permanen, mudah diamati,
dan didokumentasikan secara baik sehingga memudahkan penggunaan
selanjutnya dengan metode kartografi. Dengan metode kartografi yang
membuat orang memahami cara untuk menggambarkan suatu fenomena atau
suatu daerah sedemikaan rupa sehingga secara besar nyata hubungannya antar
objek dan struktur yang akan digambarkan.

BAB II
METODE PENELITIAN
2.1 Alat dan Bahan
Alat yang kami gunakan pada praktikum modul Pengukuran Jarak Vertikal
yaitu 1 bauh Dumpy level + tripod (theodolite), 1 buah Levelling staff, 7 buah
sumpit (sebagai pasak) dan meteran roll.

Gambar 2.1 Levelling staff Gambar 2.2 Meteran roll


Gambar 2.3 Theodolite Gambar 2.4 Pasak (sumpit)

2.2 Cara Kerja


Sebelum memulai praktikum, alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu. Lalu
pasak dipasang tiap sejauh 3 meter, sehingga total jarak adalah 18 meter (titik
pasang: A, O1, B, O2, C, O3, D). Alat pengukuran di O1 diatur sampai
terkalibrasi seimbang dan pengukuran B.S ke titik A dilakukan. Lalu lensa
teodolit diputar untuk mengukur F.S ke titik B. Tinggi alat diukur secara
vertikal, terlebih dahulu alat pengukuran dikalibrasikan sampai seimbang. Alat
dipindahkan ke titik O2 dan alat di atur sampai terkalibrasi seimbang lalu
pengukuran B.S ke titik B dilakukan dan juga untuk F.S ke titik C. Tinggi alat
diukur secara vertikal, terlebih dahulu alat pengukuran dikalibrasikan sampai
seimbang. Alat dipindahkan terakhir kalinya ke titik O3 dan alat di atur sampai
terkalibrasi seimbang lalu pengukuran B.S ke titik C dilakukan dan juga untuk
F.S ke titik D. Tinggi alat diukur secara vertikal, terlebih dahulu alat
pengukuran dikalibrasikan sampai seimbang.

Gambar 2.5 Pengkalibrasian Gambar 2.6 Pengkalibrasian


levelling staff theodolite
Gambar 2.7 Pemasangan pasak

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil

Tabel 3.1 Data Pengamatan

BS FS Tinggi Instrumen
Point
(cm) (cm) (cm)
A 106.9
O1 108
B 109.2
B 108.4
O2 109
C 112
C 107.2
O3 110
D 109.1

 Elevasi
O1 = BS – FS
= 106.9 – 109.2
= -2.3 cm
O2 = BS – FS
= 108.4 – 112
= -3.6 cm
O3 = BS – FS
= 107.2 – 109.1
= -1.9 cm
 Reduce Level (RL) tiap titik tanah
O1 (BS) = benchmark (titik 0)
= 0 cm
(FS) = RL O1 BS + Elevasi O1
= 0 – 2.3
= -2.3 cm
O2 (BS) = RL O1 FS
= -2.3 cm
(FS) = RL O2 BS + Elevasi O2
= -2.3 – 3.6
= -5.9 cm
O3 (BS) = RL O2 FS
= -5.9 cm
(FS) = RL O3 BS + Elevasi O3
= -5.9 – 1.9
= -7.8 cm
 Reduce Level (RL) alat tiap titik
O1 = (RL FS O1 + BS) – Tinggi instrumen
= (0 + 106.9) – 108
= -1.1 cm
O2 = (RL FS O2 + BS) – Tinggi instrumen
= (-2.3 + 108.4) – 109
= -2.9 cm
O3 = (RL FS O3 + BS) – Tinggi instrumen
= (5.9 + 107.2) – 110
= -8.7 cm
Tabel 3.2 Data Hasil Perhitungan

Elevasi (cm) RL RL
Point Keterangan Tanah Alat
Raise Fall
(cm) (cm)
A 0
O1 -2.3 Benchmark -1.1
B -2.3
B Change -2.3
O2 -3.6 -2.9
C Point -5.9
C Change -5.9
O3 -1.9 -8.7
D Point -7.8

Gambar 3.1 Gambar sketsa pada AutoCAD untuk kontur tanah pengujian
(dalam satuan centimeter)
Gambar 3.2 Pembacaan Gambar 3.3 Pembacaan
skala hasil ketinggian skala hasil pada theodolite
pada levelling staff

3.2 Pembahasan

Kita melakukan praktikum modul Pengukuran Jarak Vertikal ini pada hari
Rabu, 29 Januari 2020 dimulai pada pukul 15.00 – 17.00 WIB. Pada pelaksanaan,
lokasi uji kami yaitu lapangan Universitas Pertamina dengan kondisi tanah yang
basah karena pada hari tersebut terjadi hujan pada pagi harinya dan matahari tidak
begitu terik pada siang harinya. Sehingga, pada proses penanaman pasak dan tripod
tidak begitu sulit dan juga pada pengkalibrasian alat jauh lebih mudah karena
tanahnya mudah ditancap.

Pada hasil percobaan kami, didapatkan hasil minus semua atau dikatakan bahwa
lokasi tanah yang kami uji merupakan tanah yang menurun dari titik 0 (benchmark)
kami, tetapi pada titik O3 tanah tersebut jauh lebih tinggi daripada di titik O1 dan
O2. Dengan kata lain, bahwa lokasi tanah yang kami uji merupakan fall condition
contour disetiap titik uji.

Jadi, error pada praktikum Pengukuran Jarak Vertikal dinyatakan 0 %, dimana


hasil eksperimen sama dengan hasil teoritis sebesar 7.8 cm.

 Error
First RL – Last RL = ΣFS – ΣBS
0 – (-7.8) = (109,2+112+109,1) – (106,9+108,4+107,2)
7.8 = 330.3 – 322.5
7.8 cm = 7.8 cm
BAB IV
KESIMPULAN
Theodolite adalah instrument / alat yang dirancang untuk menentukan tinggi
tanah pengukuran sudut yaitu sudut mendatar yang dinamakan dengan sudut
horizontal dan sudut tegak yang dinamakan dengan sudut vertikal. Theodolite
merupakan alat yang paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam
survei. Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu
dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu
vertikal, sehingga memungkinkan sudut horizontal untuk dibaca. Teleskop tersebut
juga dipasang pada piringan kedua dan dapat diputar-putar mengelilingi sumbu
horisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut
tersebut dapat dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi. Teleskop pada
theodolite dilengkapi dengan garis vertikal, stadia tengah, stadia atas dan bawah,
sehingga efektif untuk digunakan dalam tacheometri, sehingga jarak dan tinggi
relatif dapat dihitung. Dengan pengukuran sudut yang demikian bagus, maka
ketepatan pengukuran yang diperoleh dapat mencapai 1 cm dalam 10 km. Pada saat
ini alat seperti alat theodolit sudah diperbaiki dengan menambahkan suatu
komponen elektronik. Komponen ini akan menembakkan beam ke objek yang
direfleksikan kembali ke mesin melalui cermin.
Pada penggunaan alat theodolite, kita dapat mengukur tinggi suatu elevasi
dari 2 titik tinjau, yaitu Front Side dan Back Side dari titik dimana theodolite itu
berada. Dari data hasil pengamatan yang telah kita lakukan pada titik tinjau O1,
didapatkan hasil BS sebesar 106.9 dan FS sebesar 109.2, jadi disimpulkan bahwa
perbedaan elevasinya sebesar -2.3 yang dikategorikan bahwa tanah titik tinjau O1
merupakan fall elevation. Lalu pada titik tinjau O2, didapatkan hasil BS sebesar
108.4 dan FS sebesar 112, jadi disimpulkan bahwa perbedaan elevasinya sebesar -
3.6 yang dikategorikan bahwa tanah titik tinjau O2 merupakan fall elevation. Dan
terakhir pada titik tinjau O3, didapatkan hasil BS sebesar 107.2 dan FS sebesar
109.1, jadi disimpulkan bahwa perbedaan elevasinya sebesar -1.9 yang
dikategorikan bahwa tanah titik tinjau O3 merupakan fall elevation.
Pada hasil data, didapatkan bahwa seluruh nilai elevasinya berada pada nilai
minus yang berarti dibawah titik 0 dari titik benchmark, sehingga dapat kita ketahui
dari data, bahwa lokasi praktikum kami kontur tanahnya semakin turun dari O1 ke
O2, tetapi akan naik kontur tanahnya saat O2 ke O3.

APLIKASI PADA DUNIA KERJA


Pengaplikasian penggunaan theodolite pada pengukuran jarak vertikal
untuk bidang teknik sipil yaitu, untuk pekerjaan- pekerjaan bangunan gedung,
theodolite sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada
perencanaan/pekerjaan pondasi, juga dapat digunakan untuk mengukur ketinggian
suatu bangunan bertingkat.
DAFTAR PUSTAKA

Ahadi. (2011, Februari 18). Waterpass dan Theodolite. Retrieved from


ilmusipil.com: http://www.ilmusipil.com/alat-ukur-waterpass-dan-
theodolit
Nahrisah, P. (2016). ILMU UKUR TANAH PEMETAAN DAN SIG. Banda Aceh:
Universitas Syiah Kuala.
Roni, T. S. (2018). ANALISA TOPOGRAFI SISTEM DRAINASE SALURAN.
Makassar: Universitas Hasanuddin.
Sugianto, A., Baihaqi, A., Dewanto, B. G., Hadi, I. M., & Nurhidayah, P. (2012).
PENGUKURAN JARAK LANGSUNG PADA AREA MENDATAR, MIRING,
DAN TERHALANG. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Wardhana, Y. P. (2015). PEMBARUAN PETA DAN SIG FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG . Semarang: Universitas Negeri
Semarang.
LAMPIRAN

Gambar 6.1 Lembar data pengamatan

Anda mungkin juga menyukai