Anda di halaman 1dari 4

1. Bagaimana cara pemberian surfaktan ?

Pada tahun 2014, Committee on Fetus and Newborn – American Academy of Pediatrics
membuat panduan rekomendasi untuk distress nafas pada neonatus preterm dan aterm.
Laporan tersebut menyebutkan “metode optimal pemberian surfaktan pada neonatus
preterm belum jelas”. Pemberian surfaktan secara cepat kedalam paru dapat
menyebabkan desaturase oksigen, bradikardi atau komplikasi lain seperti obstruksi
airway, perdarahan paru, pneumothoraks atau hipertensi pulmonal.
Terdapat beberapa cara pemberian surfaktan antara lain dengan bolus (dosis tunggal atau
multiple), infus kontinu, dan nebulisasi. Cara paling efektif adalah pemberian bolus cepat
namun hal ini dapat menimbulkan beberapa efek samping. Apabila surfaktan diberikan
secara lambat (infus pelan) distribusi tergantung terhadap orientasi airway dan gravitasi
sehingga dapat menyebabkan overinflasi pada beberapa bagian paru yang mendapatkan
surfaktan sehingga menyebabkan dysplasia bronkopulmonal.
Surfaktan diberikan dengan cara memutuskan neonatus dari ventilator dan diberikan
bagging. Rekuretmen dari paru sebelum pemberian surfaktan dapat meminimalisasi
kerusakan paru akibat ventilasi dan memfasilitasi distribusi surfaktan ke jalan napas paru.
Surfaktan akan didistribusikan ke paru preterm lebih uniform bila diberikan secara cepat
dan volume tinggi

Indikasi
 Pasien dengan sindroma distress nafas
 Pasien dengan kondisi defisiensi surfaktan seperti sindroma aspirasi meconium,
sepsis dan perdarahan paru sebaiknya dilakukan diskusi terhadap tenaga medis
yang bersangkutan.
 Hernia diafragma kongenital yang berhubungan dengan defisiensi surfaktan,
pemberian surfaktan dapat mengakibatkan penurunan kondisi medis dan harus
digunakan secara hati-hati

Kriteria pemberian surfaktan

a. Usia gestasi < 24 minggu : neonatus harus diintubasi segera setelah lahir dan
surfaktan diberikan profilaksis (dalam 15 menit hingga 30 menit pertama). Antara
intubasi dan pemberian surfaktan, neonatus harus diventilasi hati-hati dengan
volume tidal dan tekanan rendah
b. Usia gestasi > 24 minggu
i. Pada neonatus yang diintubasi sesaat setelah lahir, direkomendasikan
surfaktan diberikan sebagai penanganan awal (<2 jam usia), kecuali
neonatus pada suhu ruangan dan support ventilasi minimal. Neonatus
harus dieksutasi secepatnya menjadi ventilasi nasal
ii. Neonatus yang diberikan ventilasi noninvasif, penggunaan intubasi
endotrakeal dan surfaktan direkomendasikan pada saat salah satu kondisi
berikut:
1. FiO2 > 0.5 untuk menjaga SpO2 > 88% atau PaO2 >45 mmHg
2. PaCO2 > 55 – 60 mmHg dengan pH <7,25
3. Apnea yang membutuhkan BVM
4. >6 apnea dalam 6 jam
5. Peningkatan usaha nafas

Prosedur

1. Lakukan pemeriksaan awal


1. Pemeriksaan respirasi: RR, tekanan ventilator, TV dan transcutaneous
PCO2 (TcPCO2)
2. Pemeriksaan dada: jalan nafas, suara tambahan, simetris dinding dada,
secret
3. Tanda vital : denyut jantung, saturasi oksigen, tekanan darah
4. Kesadaran pasien
5. Rontgen thorax untuk memeriksa posisi ETT dan volume paru
2. Persiapan alat
a. Ambil surfaktan dari freezer dan hangatkan ke temperature ruangan tidak
lebih dari 30 menit sebelum digunakan. Vial boleh diputar namun tidak
boleh dikocok
b. Perhitungkan jumlah surfaktan yang dibutuhkan
c. Bersihkan tutup vial dengan alcohol swab
d. Ambil surfaktan dgn spuit
e. Pasang syringe luer lock dengan obat yang cocok dengan luer
f. Pasang trach care mac catridge ke Y
g. Pasang adaptor trachea care mac ke sirkuit ventilator dan ETT
3. Sebelum memberikan surfaktan
a. Preoksigenasi dengan target SpO2 > 95% sebelum pemberian surfaktan
b. Suction ETT
c. Lakukan manuver rekrutmen paru: berikan lima hingga 10 inflasi dengan
tekanan 1-2 cmH2O diatas setting ventilator sebelumnya
d. Catat seluruh vital sign
4. Pemberian surfaktan
a. Surfaktan diberikan melalui kateter in-line dengan ujung terletak pada
ketinggian tengah trakea
b. Surfaktan umumnya tersedia dalam unit “bovine lipid extract surfactant”
dan dosis sebaiknya 5 ml/kg (135 mg fosfolipid/kg) dibagi satu atau dua
pemberian.
c. Pemberian surfaktan sebaiknya diberikan bolus (10 – 20 detik)
d. Putuskan ventilator dan bagging oleh tenaga medis lain dengan kecepatan
60kali/menit dan tekanan cukup untuk mendorong secara efektif ke jalan
napas paru
e. Mulai bagging 5 detik setelah awal pemberian surfaktan (untuk memberi
waktu pembentukan plug cairan atau surfaktan dalam ETT).
f. Neonatus diposisikan dengan posisi horizontal selama prosedur
g. Bila dibagi lebih dari 1 dosis, periode antar dosis minimal 30-60 detik bila
neonatus tetap stabil
h. Monitoring tanda vital dan parameter ventilasi lainnya
i. Lengkapi rekam medis
j. ETT jangan di suction dalam 2 jam kecuali ada tanda obstruksi jalan napas
yang berat
5. Setelah pemberian surfaktan
a. Perawat mencatat tanda vital segera setelah pemberian dan setiap 10 menit
dalam 1 jam
b. Tenaga medis / operator menc atat parameter ventilasi setiap 15 menit
dalam 1 jam

2. Apa itu SGA dan LGA ?


SGA adalah small gestational age, neonatus lahir dengan berat lebih kecil daripada
ukuran terhadap usia gestasinya, didefinisikan sebagai berat badan dibawah persentil 10
pada berat badan terhadap usia gestasional.
LGA adalah large gestational age, neonatus lahir dengan berat lebih besar daripada usia
gestasinya yang didefinisikan bila diatas 90 persentil.
3. Apa itu Obligate Nasal Breather?
Neonatus dibandingkan Anak Anak dan dewasa memiliki proporsi kepala dan lidah yang
besar, saluran nasal yang lebih sempit serta letak laring yang anterior dan cefalad,
epiglottis yang lebih panjang dan trakea dan leher yang pendek. Bentuk anatomis ini
menyebabkan neonatus obligate nasal breather hingga usia 5 bulan.