Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PENGANTAR TEKNOLOGI DAN BISNIS ENERGI

II

Ulil Albab
104120026
Teknik Sipil

FAKULTAS PERENCANAAN DAN INFRASTRUKTUR


UNIVERSITAS PERTAMINA
JAKARTA
2020
UP0013 PTBE
Tugas II. Kontrak
Migas

1. Indonesia diketahui menerapkan dua jenis sistem kontrak migas yaitu sistem PSC dan Gross
Split.Lakukan studi pustaka dan kemukakan sisi positif dan negatif dari masing-masing sistem
kontrakmigas tersebut.

2. Diketahui kondisi suatu sumur produksi minyak sebagai berikut

Tentukan berapa persen masing-masing penerimaan Negara dan Kontraktor sebelum kena
pajak,jika merujuk pada harga minyak dunia brent oil saat ini (tuliskan referensi dimana dan
kapan pengambilan datanya)?

3. Suatu lapangan di Indonesia memproduksi minyak bumi sebesar 158 MMbo. Pemerintah
akanmengeluarkan dana sebesar 2000 MMUSD untuk diberikan ke kontraktor sebagai cost
recovery.Diketahui bahwa kontraktor dikenakan DMO sebesar 25% dengan harga 10% dari
harga pasar saatini dan pajak sebesar 40%. Jika harga jual minyak bumi mengikuti harga
minyak dunia brent oil saat ini, maka hitunglah penerimaan negara dan kontraktor mengikuti
sistem kontrak PSC. Notes: MM=1.000.000
PEMBAHASAN

1.Studi pustaka kontrak PSC

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang menjadi pelopor penggunaan sistem ini. Tercatat
bahwa Indonesia pertama kali menggunakan sistem PSC pada tahun 1966. Sistem PSC ada dikarenakan
negara dituntut supaya tidak bersifat pasif namun agar peran negara lebih besar terhadap
pengawasan kegiatan operasional migas. Dasar penggunaan PSC juga didasari oleh hak penguasaan
Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat diurutkan dari terendah sampai tertinggi yaitu hak
menggunakan, hak mengelola, hak memindahtangankan, serta hak memiliki. Tertuang dalam Pasal 33
Universitas Pertamina - 6 UUD 1945 menunjukkan bahwa SDA di Indonesia dikuasai sepenuhnya oleh
negara. Prinsip dasar dari cara kerja PSC adalah konraktor menyediakan segala dana dan menanggung
segala resiko yang ada, lalu manajemen operasi sepenuhnya berada di tangan SKK Migas, dan berakhir
pada kepemilikan bahan tambang pada pemerintah sampai titik penyerahan. Pada perkembangannya
sistem PSC terbagi menjadi dua jenis.

Sisi positif penerapan sistem PSC

Indonesia menerapkan Production Sharing Contract (PSC) atau sering juga disebut kontrak kerja
sama (KKS). Pada mekanisme ini, perusahaan migas yang ditunjuk menjadi kontraktor kontrak kerja
sama (Kontraktor KKS) menanggung semua biaya awal kegiatan usaha hulu migas. Biaya-biaya
tersebut baru akan digantikan oleh negara jika wilayah kerja yang mereka garap telah berproduksi.
Apabila kegiatan usaha tersebut tidak berhasil, maka semua biaya yang telah dikeluarkan tersebut
tidak akan diganti atau akan menjadi beban Kontraktor KKS sepenuhnya. sistem ini tentu lebih
menguntungkan karena akan memperkecil risiko dibandingkan apabila kegiatan usaha ini langsung
menggunakan anggaran APBN.
Contohnya, dalam kurun waktu 2009-2013, sebanyak 12 Kontraktor KKS asing mengalami kerugian
hingga US$1,9 miliar atau Rp 19 triliun akibat eksplorasi yang mereka lakukan tidak berhasil
menemukan cadangan migas yang menguntungkan untuk dikembangkan. Terlepas keuntungan dari
sisi bisnis, pemilihan sistem PSC juga didasarkan pada pertimbangan adanya amanat konsitusi.
Undang-undang Dasar tahun 1945 mengamanatkan bahwa sumber daya alam yang terkandung
dalam perut bumi, termasuk migas, harus dikuasai negara untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya
bagi kemakmuran rakyat.

Sisi negatif penerapan sistem PSC

Berikut kekurangan dari sistem pengusahaan migas dengan model kontrak, khusunya Production
Sharing Contract (PSC) diantaranya

1. Ada campur tangan Negara/BUMN dalam hal manajemen (pengendalian biaya


2. Besarnya penerimaan Negara akan tergantung pada besarnya biaya operasi yang
kewenangan pengendaliannya ada pada Negara/BUMN.
3. Biaya operasi bukan merupakan uang Negara.

Studi Pustaka Sistem kontrak Gross Split

Skema Gross Split adalah skema PSC baru yang diberlakukan oleh Pemerintah Indonesia. Dalam
skema Gross Split, bagi hasil dilakukan terhadap gross revenue dan presentase dalam satu wilayah
kerja cukup dinamis, utamanya didasarkan pada base split, variabel split, dan progresif split.
Kepemilikan produksi migas sepenuhnya oleh negara. Biaya operasi telah masuk dalam besaran bagi
hasil kontraktor, dan sebagai unsur pengurang pajak penghasilan kontraktor. Latar belakang
perubahan PSC Cost Recovery menjadi PSC Gross Split antara lain dikarenakan PSC Cost Recovery
kurang efektif dan tidak cukup mendorong terciptanya efisiensi. Lambat serta tingkat kerumitan
birokrasi juga menjadi penyebab utama ditetapkannya PSC Gross Split, bahkan waktu yang
diperlukan oleh kontraktor untuk eksplorasi hingga produksi dapat memakan waktu hingga 15 tahun
lamanyaPorsi penerimaan negara dari migas dengan split PSC Cost Recovery pada minyak sebesar
85% : 15% dan untuk gas sendiri sebesar 70% : 30%, apabila dihitung secara kasar berada pada
kisaran 30% hingga 70%, hal itupun terus menurun seiring menurunnya penerimaan migas nasional.
Agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pola bagi hasil produksi migas, pemerintah
menetapkan bentuk dan ketentuan pokok kontrak bagi hasil tanpa mekanisme pengembalian biaya
(Cost Recovery

Sisi Positif Sistem Kontrak Gross Split

Ketetapan skema PSC Gross Split juga dibarengi dengan kelebihan yang ada dalam skema tersebut,
diantaranya adalah kepastian investasi meskipun harga minyak yang ada cenderung fluktuatif, lalu
proses perolehan yang dilakukan oleh kontraktor juga lebih sederhana karena biaya operasi migas
sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Bagi kontraktor yang memiliki Tingkat Kandungan
Dalam Negeri (TKDN) juga akan mendapat spit tambahan. Apabila suatu lapangan tidak mencapai
indikator keekonomian tertentu, sesuai dengan Peraturan Menteri No. 52 Tahun 2017 Pasal 7
kontraktor dapat memperoleh tambahan split dari Menteri Eenergi dan Sumber Daya Universitas
Pertamina - 18 Mineral (ESDM), dimana peraturan tersebut merevisi peraturan sebelumnya yang
menyatakan bahwa tambahan split bagi kontraktor hanya sebesar maksimal 5% yang dapat
diperoleh. Dengan adanya sistem PSC Gross Split tidak sama sekali menghilangkan kendali negara
yang dikarenakan wilayah kerja, produksi, lifting, serta bagi hasil masih berada di bawah tangan
pemerintah. Malah dengan adanya skema PSC Gross Split, antara pihak pemerintah dan kontraktor
sama-sama menanggung resiko yang mungkin ada dan keuntungan yang diperoleh juga cenderung
seimbang.

Sisi Negatif Sistem Kontrak Gross Split

skema gross split menyisakan beberapa kekurangan atau memiliki potensi kelemahan. Kontrol
negara atas produksi migas nasional berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Muaranya adalah
ketahanan energi menurun terutama pada aspek ketersediaan energy (availability). Pun demikian
kontrol negara atas pengolahan reservoir jadi berkurang atau bisa hilang sama sekali. Akibatnya,
produksi migas nasional meleset dari rencana akibat kerusakan reservoir yang juga akan
menurunkan ketahanan energi nasional. Rencana pemerintah untuk meningkatkan kegiatan
ekoplorasi migas tiga kali lipat dari sebelumnya dalam lima tahun ke depan akan sulut terlaksana
karena kontraktor-kontraktor gross split PSC akan lebih mengutamakan efisiensi biaya dan
penggejotan produksi untuk revenue daripada berisiko mengeluarkan biaya untuk eksplorasi.
Kelemahan lainnya, pengembangan EOR (Enhanced Oil Recovery) dan lapangan maginal akan sulit
dilaksanakan, karena biayanya yang besar dan IRR-nya yang kecil. Padahal dalam rencana umum
energi nasional, dalam lima tahun ke depan, Indonesia akan mulai meningkatkan produksi dari
potensi EOR sejumlah 2,5 miliar barel minyak bumi yang masih tersimpan di reservoir. Terakhir,
pengembangan SDM (sumber daya manusia), transfer teknologi, TKDN (tingkat komponen dalam
negeri) dan juga standarisasi akan sulit diimplementasikan karena kurang atau tidak adanya kontrol
langsung pemerintah pada proses E&P dalam sistem gross split PSC.
2. Tentukan berapa persen masing-masing penerimaan Negara dan Kontraktor sebelum kena pajak,
jika merujuk pada harga minyak dunia brent oil saat ini (tuliskan referensi dimana dan kapan
pengambilan datanya)?

karakteristik keterangan Parameter Koreksi split


Status lapangan Lapangan yang diproses Lapangan baru 5%
kegiatan eksplorasi sudah
selesai dilakukan kegiatan
produksi
Lokasi lapangan (H : onshore onshore 0%
Kedalaman Laut dalam m)
Kedalaman Reservoir (m) 2800 >2500 1%
Ketersediaan infrasttruktur Wilayah kerja belum New frontier 2%
pendukung terdapat infrastruktur jalan
yang memadai
Jenis reservior Shale oil Nonkonvensional 16%
Kandungan CO2(%) 6 5<x≤ 0,5%
Kandungan H2S (ppm) 10 < 100 0%
Berat jenis minyak bumi 50 ≥ 25 0%
Tingkat komponen dalam Sekitar 20 % melibatkan < 30 0%
negri barang-barang yang
diproduksi dalam negri
Tahapan produksi Tahapan awal produksi primer 0%
dilakukan secara alami

Jawab:
Gross split minyak = Pemerintah 57% ; Kontrsktor 43%
Maka, Kontraktor = 43% + 22% = 65%
Pemerintah = 100% - 65% = 35%
Jadi, Pemerintah : Kontraktor = 35% : 65%

Situs Ditjen Migas | Situs Ditjen Migas (esdm.go.id)

3. Suatu lapangan di Indonesia memproduksi minyak bumi sebesar 158 MMbo.


Pemerintah akan mengeluarkan dana sebesar 2000 MMUSD untuk diberikan ke
kontraktor sebagai cost recovery. Diketahui bahwa kontraktor dikenakan DMO sebesar
25% dengan harga 10% dari harga pasarsaat ini dan pajak sebesar 40%. Jika harga jual
minyak bumi mengikuti harga minyak dunia brent oil saat ini, maka hitunglah
penerimaan negara dan kontraktor mengikuti sistem kontrak PSC. Notes:
MM=1.000.000

Diketahui:
Harga brent oil: 68,42
Asumsi beginning unrecover cost: 0
Asumsi recoverable cost kontrak: 80%
Equity to be split: Gross Revenue-Recoverable cost
Gross Revenue = Produksi minyak x Harga minyak
Description % Amount

Lifting 4.740,00
Gas price 50,00
Gross Revenue 237.000,00
Beg Unrecovered cost -

Production cost 2.000.00


Non Capital cost -
Capital Depreciation -
Operating cost 2.000.00
Cost recovery 2.000,00
Recoverable cost 80% 2.000.00
Unrecovered cost
Equity to be split 235.00.00
Government & pertamina share :
Government share 63,1352% 148,367,68
Domestic requirment 18,588,21
DMO fee (1.858,82)
Contractor share -
Recoverable cost 2.000.00
Equity share 36,8648% 86.632,32
Investment credit
Less : Domestic Requirment (18.588,21)
DMO fee 1.858,82
Total revenue 71.902,93
Tax 40,00% (34.652,93)
Partner take 37.250,00
Net Revenue 35.250,00
Net percentage 15%

Asumsi nilai bagi kontraktor di kontrak: MMUSD 37.250,00 setelah dikurangi biaya operasional
MMUSD 2.000 menjadi net MMUSD 35.250,00

Asumsi nilai bagi pemerintah di kontrak: MMUSD 148.367,