Anda di halaman 1dari 11

Rancang Bangun Penyearah Terkendali Semikonverter Satu Fasa dengan

Menggunakan IC TCA 785

Rosidatun Nisak 1
1. Mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Diponegogo

Abstract
Single phase semi-converter have been made using SCR. Semi-converter is a controlled
rectifier that work at single quadrant so that voltage and current output only have positive value. The
aim of making this system is to get voltage variation, and controlled ellectricity and current.
Triggering account is necessary in triggering SCR which obtained from triggering circuit that
consist of microcontroller AT89S51 as voltage control circuit, modul IC TCA 785 as phase control
and account transformator as firing circuit. Voltage control circuit connected with dipswitch as output
and the output in the form of voltage variable that used as voltage control then synchronized AC’s
phase source by phase control circuit. The output of phase control circuit in the form of triggering
account can be shifted from 350 to 1800 then getting insulation from firing circuit. Output from firing
circuit is used to triggering single phase semi-converter that use thyristor with kind SCR TIC 106.
Result of examination of this system is that SCR’s triggering angle can be shifted from 350 to
0
180 . In single phase semi-converter examination, using lamp and motor burden, can be concluded
that current and voltage burden increasing inversely proportional to triggering angle and phase shift
can resulted in the change of DC motor speeds from 99,9 rpm until 0 rpm.
Key words : semi-converter rectifier, Silicon Controlled Rectifier, phase control, voltage variation

Intisari
Telah dibuat semikonverter satu fasa dengan menggunakan Silicon Control Rectifier (SCR).
Semikonverter adalah penyearah terkendali yang bekerja pada satu kuadran sehingga tegangan dan
arus keluarannya hanya berharga positif. Pembuatan sistem ini bertujuan untuk memperoleh variasi
tegangan, arus dan daya listrik yang terkendali.
Pada pemicuan SCRdiperlukan pulsa pemicuan yang diperoleh dari rangkaian pemicu yang
terdiri dari mikrokontroler AT89S51 sebagai rangkaian pengontrol tegangan, modul IC TCA 785
sebagai pengontrol fasa dan rangkaian transformator pulsa sebagai rangkaian firing. Rangkaian
pengontrol tegangan dihubungkan dengan dipswitch sebagai masukan dan keluarannya berupa variabel
tegangan yang digunakan sebagai tegangan kontrol yang kemudian disinkronkan dengan sumber fasa
AC oleh rangkaian pengontrol fasa. Keluaran rangkian pengontrol fasa berupa pulsa pemicuan yang
dapat digeser dari 0° sampai 145° yang kemudian mendapat isolasi dari rangkian firing. Keluaran dari
rangkaian firing digunakan untuk pulsa pemicuan semikonverter satu fasa yang menggunakan
thyristor jenis Silicon Control Rectifier (SCR) TIC 106.
Keluaran dari sistem ini adalah tegangan DC terkontrol. Alat ini telah diuji cobakan untuk
mengendalikan beban yang motor dan lampu dan didapatkan grafik tegangan dan arus seperti grafik
sinusoida, kecuali pada grafik tegangan terbeban menujukkan grafik linier yang sesuai dengan hukum
ohm. Grafik linier tegangan terbeban ini mengakibatkan kecepatan motor DC bertambah dan intensitas
pencahayaan lampu semakin besar sampai sudut pemicuan 145°. Hal ini juga berarti penghematan arus
listrik.
Kata kunci : semikonverter, silicon control rectifier, pengontrol fasa, variasi tegangan

Latar Belakang Saat ini pengendalian daya


menggunakan penyearah thyristor fasa
Kebutuhan pengendalian daya telah
terkendali yang merupakan penyearah
ada sejak lama. Sebelum ditemukan thyristor,
sederhana dan lebih murah. Efisiensi dari
pengendalian daya listrik menggunakan
penyearah ini umumnya berada diatas 95%.
generator induksi, tetapi alat ini mempunyai
Penyearah ini dikenal sebagai konverter AC-
beberapa kelemahan antara lain mahal,
DC yang mengkonversi dari tegangan AC ke
efisiensi yang rendah, ukurannya besar dan
DC dan digunakan secara intensif pada
perawatannya yang tidak mudah.

1
aplikasi-aplikasi industri. Semikonverter satu arus dapat mengalir dari anoda ke katoda,
fasa merupakan salah satu jenis konverter satu maka diberikan tegangan antara gate terhadap
fasa yang banyak digunakan dalam industri katoda. Jika pada katoda tegangan lebih positif
skala kecil, rumah tangga, peralatan kantor dan dari anoda, sambungan J2 terbias maju
sebagainya seperti pada motor induksi satu sedangkan J1 dan J3 terbias mundur. Hal ini
fasa, pengontrol heater, pengontrol seperti dioda-dioda yang terhubung seri
pencahayaan lampu, pengontrol putaran motor dengan tegangan balik bagi keduanya. SCR
kipas angin, dan lain-lain. Semikonverter satu akan berada pada kondisi reverse blocking dan
fasa ini menggunakan thyristor jenis silicon arus bocor reverse (current reverse) akan
control rectifier (SCR). Konventer tiga fasa mengalir melalui divais. SCR dapat
banyak digunakan pada industri skala besar dihidupkan dengan meningkatkan tegangan
seperti motor induksi tiga fasa, variable speed maju VAK diatas VBO, tetapi kondisi ini bisa
drivers dengan daya tinggi, aplikasi industri merusak komponen. Dalam penggunaannya,
hingga tingkat daya 120kW dan sebagainya[1]. harus mengetahui cara-cara pengoperasian
Pengendalian tak lepas dari konsep SCR yaitu dengan metode membuat SCR
variasi. Variasi tegangan masukan pada dalam kondisi menyala atau pemicuan dan
rangkaian pengendali SCR akan berpengaruh metode membuat SCR dalam kondisi tidak
pada sudut penyalaan SCR yang menghantar atau komutasi.
mempengaruhi arus beban dan variasi Metode yang digunakan pada SCR
tegangan keluaran rata-rata (dan daya keluaran adalah pemicuan melalui gate (pemberian arus
konverter), sehingga kita akan mendapatkan gate) yang dilakukan dengan memberi
tegangan yang kita inginkan dengan masukan tegangan kecil saja pada gate katoda
yang sama. (tergantung spesifikasi produk), maka arus
gate dapat mengalir dan membuat kondisi SCR
Dasar Teori dalam keadaan on. Daerah kerja SCR adalah
1. Silicon Control Rectifier (SCR) 0°-180° (sifat umum dioda), maka hanya pada
Silicon Control Rectifier (SCR) daerah tersebut pengontrolan fasa dapat
merupakan salah satu jenis thyristor yang dilakukan.
prinsip kerjanya mirip dengan dioda namun Apabila SCR telah terpicu, maka SCR
dilengkapi gate untuk mengatur besarnya fasa berada dalam kondisi menghantarkan arus
yang dilalukan. SCR adalah komponen listrik. Untuk pengaturan fasa atau
semikonduktor yang terbentuk dengan struktur menghentikan arus listrik maka diperlukan
empat lapis PNPN (Positif-Negatif-Positif- metode komutasi yaitu mengusahakan
Negatif) dengan tiga lapisan sambungan PN. tegangan pada SCR adalah nol, sehingga arus
SCR memiliki tiga terminal yaitu anoda, tidak mengalir. Pada saat itu dapat dipastikan
katoda dan gate. Sambungan PN (PN junction) bahwa SCR dalam kondisi tidak dapat
berturut-turut dari anoda diberi simbol J1, J2 menghantarkan arus listrik dari anoda ke
dan J3 seperti terlihat pada gambar 2.1(b). katoda hingga pemicuan dimasukkan kembali.
Gambar 2.2 adalah rangkaian
sederhana SCR dan pemicuan SCR sebesar α°
serta bentuk gelombang yang dihasilkan
gate
(Rashid,1999).

(a) (b) (c)

Gambar 2.1 (a) simbol, (b) struktur fisik, dan (c)


karateristik SCR (Rashid,1999)
Dari gambar 2.1(a) dapat dipelajari
sistem operasi SCR. Apabila tegangan anoda (a) (b)
lebih positif dari katoda, sambungan J1 dan J3 Gambar 2.2 (a) Rangkaian sederhana SCR
pada kondisi forward bias dan J2 pada kondisi (b) Bentuk gelombang hasil
reverse bias. Pada kondisi ini SCR masih pemicuan SCR (Rashid,1999)
dalam kondisi memblokir tegangan maju. Agar

2
Gambar 2.2(a) menunjukkan
rangkaian sederhana SCR. Gambar 2.2(b)
menunjukkan jika SCR dipicu pada α°, maka
arus akan ditahan dari 0°-α° dan arus akan
melewati SCR secara penuh dari α°-180°.
Pada 180°-360° SCR akan terbias mundur dan
pemicuan tidak akan berguna karena SCR
hanya dapat menghantarkan arus jika terbias
maju, sedangkan apabila terbias mundur SCR
akan membloking arus [1].

2 Rangkaian Pembangkit Sinyal Gerbang


Rangkaian pembangkit sinyal gerbang
(pulsa pemicuan) untuk konverter satu fasa
terdiri dari: (a) Zero crossing detector, (b)
integrator, (c) level penggeser, (d) komparator,
(e) monostabil, (f) 2 gerbang input AND, (g) Gambar 2.4 Bentuk gelombang keluaran rangkaian
astabil multivibrator, (h) penguat pulsa dan (i) pembangkit sinyal gerbang (Singh,1998)
transformator pulsa seperti terlihat pada Sinyal ini didapatkan saat sinyal c
gambar 2.3 [2]: dibandingkan dengan variabel tegangan DC
pada gambar 2.4 bagian D yang membantu
komparator IC4. Bentuk gelombang yang
didapat terlihat seperti gambar 2.4 bagian E
yang dibatasi oleh dioda zener, oleh karena itu
sinyal cocok dengan TTL. Pulsa pada gambar
2.4 bagian F diumpankan ke monostabil yang
memberikan keluaran komplemen pada
gambar 2.4 bagian G dan gambar 2.4 bagian H.
Lebar pulsa gambar 2.4 bagian G dan gambar
2.4 bagian H diatur dengan jarak 10
mikrodetik. IC6 memiliki dua gerbang input
AND. IC7 adalah IC timer yang menghasilkan
Gambar 2.3 Rangkaian pembangkit sinyal
gerbang (Singh,1998)
“gelombang pembawa” (pulsa frekuensi tinggi
dengan besarnya frekuensi mencapai 10 kHz),
Pada gambar 2.3 sinyal sinkronasi ditunjukkan gambar 2.4 bagian I. Lebar pulsa
secara normal didapat dari sumber yang sama gambar 2.4 bagian G dan gambar 2.4 bagian H
dengan sumber tegangan SCR. Sinyal ini masing-masing di-AND-kan dengan frekuensi
didapatkan dengan menggunakan tinggi, karena itu didapatkan modulasi pulsa
transformator sinkronasi. Sinyal ini kemudian pada gambar 2.4 bagian G1 dan gambar 2.4
diberikan kepada IC Zero Crossing Detector bagian H1.
(ZCD). Pada IC ZCD ini sinyal kemudian Transistor T1, T2 bertindak sebagai
berkembang menjadi gelombang kotak dengan driver penguat transformator pulsa TR1, TR2.
pergeseran fasa 180° karena kita menggunakan Transformator TR1, TR2 tersebut akan men-
masukan inverter. Tegangan ZCD besarnya drive rangkaian gate-katoda SCR. Pulsa yang
+10 volt dari tegangan sumber +12 volt. Sinyal didapatkan G1 dan H1 diumpankan ke
gelombang kotak kemudian digabungkan oleh transistor saklar yang bertindak sebagai
integrator IC2. IC3 adalah penggeser level yang penguat. Dioda D1 dan D2 menyilang pada
menggeser sinyal integrasi dan menghasilkan bagian primer transformator pulsa untuk
gelombang seperti yang ditunjukkan gambar melindungi transistor. Dioda D4 dan D6 pada
2.4 bagian C [2]. gate-circuit melindungi SCR dari voltage-
reverse yang kembali. Dioda D3 dan D5
mencegah aliran balik arus dari gate selama
periode konduksi [2].

3
3. Mikrokontroler AT89S51 h. Kemampuan melakukan operasi
perkalian, pembagian dan operasi
Mikrokontroler merupakan
boolean.
pengembangan dari mikroprosesor yang
berupa suatu serpih IC dalam skala besar VLSI
(Very Large Scale IC) yang diciptakan untuk Interupt 128 Byte Tim er 0
menggantikan rangkaian digital diskrit. Ciri C ontrol RA M Tim er 1

umum dari mikroprosesor dan mikrokontroler


adalah reprogrammable, artinya fungsi dari C PU
mikroprosesor dan mikrokontroler dapat
diubah-ubah dengan hanya mengganti
programnya, tanpa merubah perangkat O SC
Bus
C ontrol
4 I/O
Port
Serial
Port
kerasnya. Secara umum mikroprosesor dan
mikrokontroler memiliki kelebihan
Gambar 2.5 Diagram bus mikrokontroler (Malik,
dibandingkan sistem diskrit antara lain: 1997)
a. Dapat diprogram ulang untuk
mendapatkan fungsi yang berbeda. Gambar 2.5 merupakan diagram bus
b. Rangkaian lebih terintegrasi, lebih mikrokontroler, data dari CPU dikirim dan
ringkas, sederhana dan tidak rumit. diterima dari RAM, timer, port serial, port I/O,
c. Fleksibel dalam pengembangannya. bus kontrol melalui satu jalur penghubung.
Mikrokontroler adalah pengembangan CPU juga terhubung dengan osilator dan
dari mikroprosesor untuk kepentingan fungsi interupsi yang terdiri dari dua buah
instrumentasi yang terintegrasi dengan interupsi eksternal dan tiga buah interupsi
perangkat lain. Ciri-ciri khusus mikrokontroler internal [3].
adalah sebagai berikut: 4. Konverter D/A
a. Memiliki memori internal relatif
sedikit Konverter D/A (Digital to Analog
b. Memiliki unit I/O langsung Converter) adalah pengubah sinyal digital ke
c. Pemrosesan bit, selain byte dalam tegangan analog. Dalam perantara kode
d. Memiliki perintah atau program yang digital ke sinyal analog sering menggunakan
langsung berhubungan dengan I/O penguat (op-amp) seperti terlihat pada gambar
e. Perintah atau program cukup 2.6
sederhana
f. Beberapa varian memiliki EPROM
(erasable programmable read only
memory) (Malik, 1997).
Mikrokontroler MCS-51 merupakan
sebuah serpih semikonduktor yang terintegrasi (a) Op-amp (b) Rangkaian dasar konverter D/A
dan merupakan jenis mikrokontroler yang
didalamnya dilengkapi dengan: Gambar 2.6 Rangkaian dasar konverter D/A
a. Sebuah CPU (Central Processing (Malvino, 1996)
Unit) 8 bit
Gambar 2.6(a) memperlihatkan simbol
b. Osilator internal dan rangkaian
op-amp. Vout adalah tegangan keluaran diukur
pewaktu
terhadap tanah. Penguatan tegangan simpal
c. RAM internal 128 byte (on serpih)
terbuka dari op-amp, biasanya berharga lebih
d. Empat buah programmable port I/O,
dari 100.000. Jika dirangkai sebagai inverter,
masing-masing terdiri atas 8 buah jalur
masukan tidak membalik (masukan +) dari op-
I/O
amp ditanahkan dengan tegangan sinyal akan
e. Dua buah pewaktu/pencacah 16 bit
diterima oleh masukan membalik (masukan -).
f. Lima buah jalur interupsi (dua buah
Kita dapat mengaproksimasikan masukan
interupsi eksternal dan tiga buah
membalik sebagai titik tanah semu karena
interupsi internal)
penguatan dan impedansi masukannya tinggi,
g. Satu buah gerbang serial dengan
akibatnya seluruh tegangan masukan akan
kontrol serial full duplex UART
terdapat pada hambatan masukan, yang berarti

4
bahwa arus masukan besarnya sama dengan Waktu pemantapan adalah waktu yang
arus keluaran. diperlukan untuk menghasilkan keluaran yang
Rangkaian penjumlah op-amp benar (biasanya dari nanodetik sampai
digunakan untuk menyusun suatu konverter mikrodetik). Nilai waktu pemantapan akan
D/A dengan memakai sejumlah hambatan yang menentukan kecepatan dalam mengubah
diberi bobot biner. Gambar 2.6(b) memberikan masukan digital.
gambaran tentang hal tersebut. Vreff adalah DAC 0808 merupakan salah satu
tegangan acuan dan semua hambatan contoh DAC yang banyak digunakan. DAC
merupakan hambatan presisi untuk 0808 merupakan konverter D/A tangga R-2R
mendapatkan arus masukan yang teliti. 8-bit yang dilengkapi dengan sumber arus
Transistor di sini berfungsi sebagai saklar. acuan dan delapan buah transistor saklar untuk
Apabila suatu bit berharga tinggi, maka bit ini mengarahkan arus biner. Suatu tegangan dan
akan menghasilkan arus basis yang cukup hambatan eksternal digunakan untuk mengatur
besar untuk menjenuhkan transistor yang arus acuan pada nilai yang lazim berlaku yaitu
bersangkutan. Apabila bit dalam keadaan 2 mA. DAC 0808 mempunyai waktu
rendah, transistor menjadi terputus, dengan pemantapan 150 ns dan ketelitian relatif +
membuka dan menutup saklar yang berbeda- LSB[4].
beda maka akan dihasilkan variasi arus yang
5. Optocoupler
berbeda-beda.
Jika rangkaian dasar konverter D/A Pada situasi tertentu, logika dengan
dihubungkan dengan sumber digital tegangan rendah dan arus rendah mengontrol
(mikroprosesor dan sebagainya), maka bila ada tegangan tinggi. Umumnya tidak lazim untuk
masukan akan ditahan atau dikeluarkan, menghubungkan antara rangkaian low power
sehingga arus keluaran menjadi satu tingkat control dengan rangkaian beban high power
lebih tinggi dan ini akan berlangsung terus yang dikontrol. Alasannya adalah adanya noise
menerus sampai mencapai arus maksimum dan dari high power yang mengganggu low power
siklus akan berulang. Jika semua transistor control. Alasan lainnya adalah mungkin saja
identik membentuk anak tangga yang sama tegangan tinggi dari beban terumpan balik ke
satu dengan lainnya disebut penambahan LSB. komponen pengendali yang mengakibatkan
Cara mengukur kualitas konverter D/A kerusakan. Oleh karena itu diperlukan isolasi
adalah dengan resolusinya yang menyatakan sekaligus penguatan dari rangkaian low power
perbandingan antara penambahan LSB dan control[2].
keluaran tegangan masukan yang dapat Optocoupler adalah alat yang dipakai
dituliskan dalam persamaan berikut: untuk mengkopel cahaya dari suatu sumber ke
1 detektor tanpa adanya perantara. Oleh karena
resolusi = (2.1) itu piranti ini disebut juga optoisolator.
2 −1
n
Sinyal listrik (arus) pada input diubah
dengan n adalah bit masukan
menjadi sinyal optik dengan menggunakan
Ketelitian adalah seberapa dekat sumber cahaya (biasanya LED). Sinyal optik
keluaran dari nilai sebenarnya. Ketelitian tersebut akan diterima oleh detektor untuk
bergantung pada nilai tegangan referensi, diubah kembali menjadi sinyal listrik. Bentuk
toleransi resistor dan kecocokan transistor. dan diagram rangkaian optocoupler dapat
Ketelitian ini biasanya dinyatakan sebagai dilihat dalam gambar 2.7[5].
kesalahan dalam penambahan LSB. Kesalahan
1 LSB artinya keluaran yang sebenarnya
berbeda dari keluaran idealnya sebesar 1 LSB.
Kesalahan suatu DAC harus lebih kecil dari ½
LSB.
Monotonisasi adalah keluaran yang Gambar 2.7 Optocoupler (Singh,1998)
terus bertambah bila masukan bertambah 6. Transformator Pulsa
besar. Suatu DAC akan monoton bila
mempunyai kesalahan lebih kecil atau sama Transformator pulsa pada dasarnya
dengan ½ LSB. adalah sebuah transformator dengan pasangan

5
sumber pulsa energi listrik ke beban yang 7. Semikonverter Satu Fasa
bentuk dan sifatnya tidak berubah. Pulsa dari
Semikonvereter satu fasa adalah
transformator ini dapat berulang maupun tidak
penyearah terkontrol yang merupakan
berulang.
penggabungan antara penyearah terkontrol dan
Transformator pulsa sering digunakan
penyearah tak terkontrol. Penyearah ini juga
untuk pasangan generator pemicu pulsa dengan
disebut half control rectifier seperti terlihat
thyristor, biasanya untuk mendapatkan isolasi
pada gambar 2.10
antara dua rangkaian. Transformator pulsa
yang biasa digunakan adalah untuk mengontrol
SCR adalah dua kumparan dengan
perbandingan 1:1 dan tiga kumparan dengan
perbandingan 1:1:1 Transformator pulsa yang
digunakan pada penelitian ini adalah ZB
transformator pulsa kecil yang hanya dapat
menghantarkan tegangan kecil pada lebar pulsa
pada beberapa mikrodetik[2]. Gambar 2.10 Semikonverter satu fasa
Rangkaian dasar dari transformator (Rashid,1999)
pulsa ditunjukkan pada gambar 2.8. Sinyal
masukan diberi lambang E, Resistor berfungsi Jembatan semikonverter paling banyak
sebagai pembentuk gelombang sinus dari arus digunakan karena alasan ekonomi Jembatan ini
I dan nilai resistor harus lebih kecil dari digunakan pada kondisi tertentu yang tidak
impedansi transformator. memerlukan penyearah gelombang penuh
terkendali. Hal ini akan menghemat biaya
karena harga dioda yang lebih murah dari
SCR.
Konfigurasi jembatan memerlukan
jumlah elemen saklar dua kali dari konfigurasi
mid point (hanya satu terminal yang menuju ke
output DC). Jembatan ini terdiri dari common
katoda (katoda SCR yang dihubung bersama)
Gambar 2.8 Rangkaian dasar transformator pulsa dan common anoda (anoda dioda yang
(Wasito,2001) dihubung bersama) terlihat pada gambar
Inti transformator adalah material 2.10(a)
berlamel yang cepat jenuh, oleh karena itu bila Pada konfigurasi jembatan, arus DC
arus primer mencapai suatu harga, maka mengalir secara bersama melewati dua elemen
medan magnet tidak akan naik lagi. Lilitan pensaklaran; satu pada common katoda dan
sekunder hanya akan terinduksi tegangan bila lainnya pada common anoda. Hal ini tidak
fluks magnetik berubah dan jika fluks menguntungkan dibanding konfigurasi mid
magnetik tetap maka tegangan pada lilitan point. Tetapi keuntungan lainnya dari
kedua akan berharga nol. Bentuk gelombang konfigurasi ini adalah tidak memerlukan
keluaran dari transformator pulsa ditunjukkan transformator, yang berarti penghematan
pada gambar 2.9[6]. bentuk dan ukurannya. Tetapi transformator
mungkin masih diperlukan jika isolasi antara
sisi AC dan DC dibutuhkan. Transformator ini
digunakan untuk menaikkan dan menurunkan
tegangan AC, yang berarti menyediakan
tegangan AC yang berbeda-beda sesuai
kebutuhan tegangan Dcnya[7].
Metode Penelitian
Prosedur penelitian yang dilakukan
dapat digambarkan dengan diagram alir pada
Gambar 2.9 Bentuk gelombang keluaran gambar 3.1
transformator pulsa (Wasito,2001)

6
isolasi optik menggunakan optocoupler dan
gerbang NAND menggunakan IC 4093. TCA
785 adalah modul IC yang di dalamnya sudah
terintegrasi Zero Crossing Detector (ZCD) dan
penggeser pulsa dari 0° sampai 180°.
.1 P3.6
Teg kontrol
.2 10k P3.5
.3 P3.4 12 V
Vcc out
470nf D Zener

16

4 70 nf
2n2 1 Vs
Gnd 1k2 8 7
2 15
Q2* Q2

1 0k
1k2 9 6
3 14

T C A 7 85
QU Q1 5
13 10

4093
4 L pha1
D2 D1 Q1* 11 4
5 12 1k2
Vsyn C12 12 3 pha2
6 11
I V11 10nF 2
13

2 2k
2 2k
470k 7 10
QZ C10 14 1
T? 8 9
Vref R9 1k2
2n2 100k

D Zen er
1K

2 20 V A C
22k

Trans 3A 12 V
Gambar 3.1 Diagram alir penelitian
Rancangan penyearah terkendali Gambar 3.3 Rangkaian pengatur fasa modul IC
semikonverter satu fasa ditunjukkan dalam 785
bentuk diagram blok seperti gambar 3.2. Sumber tegangan masukan IC TCA 12
volt dan bekerja pada frekuensi antara 10 Hz
sampai 500 Hz. Gambar 3.3 menjelaskan
prinsip kerja TCA 785 yaitu sinkronisasi dari
tegangan sumber yang dihubungkan dengan
kaki nomor 5 melalui resistor hambatan tinggi.
ZCD akan menentukan letak titik nol dan
disimpan dalam memori sinkron. Detektor ini
kemudian akan mengendalikan generator
gelombang tinggi gigi gergaji yang sesuai
dengan frekuensi sumber tegangan. Kapasitor
C10 dan resistor R9 akan menentukan
Gambar 3.2 Blok diagram semikonverter satu fasa kemiringan dan bentuk gelombang gergaji
Pada gambar 3.2 dapat dijelaskan yang dihasilkan. Nilai kapasitansi kapasitor
sebagai berikut: input biner diperoleh dari antara 500 pF sampai 1 µF dan R9 dapat
dipswitch yang masuk ke mikrokontroler diperoleh dari resistor dengan resistansi antara
AT89S51 kemudian diproses menjadi sinyal 3 kΩ sampai 100 kΩ. Bila tegangan referensi
digital dan dianalogkan menjadi tegangan pada kaki 11 pada posisi terendah, maka sudut
kontrol oleh konverter D/A. Tegangan kontrol penyulutan akan menunjukkan α = 0° sehingga
ini kemudian disinkronkan dengan fasa dari untuk mengatur sudut pemicuan dapat
sumber tegangan AC oleh rangkaian dilakukan dengan menggeser V11 (kontrol
pengontrol fasa IC TCA 785. Keluaran IC 785 Vkontrol
berupa pulsa pemicuan/penyalaan yang dapat tegangan) dengan α = 180o x , VKontrol
Vst
digeser dari 0°-180° yang kemudian mendapat
isolasi dari rangkaian firing. adalah tegangan dari mikrokontroler (V11) dan
Rangkaian semikonverter mendapat Vst merupakan V10 biasanya bernilai 10 Volt.
satu fasa dari sumber tegangan AC dan pulsa Pada TCA 785, jika Vramp, V10
pemicuan dari rangkaian firing. Keluaran dari melebihi tegangan kontrol V11, maka sebuah
semikonverter satu fasa ini berupa tegangan sinyal diproses dalam logika. Proses ini dapat
DC terkendali. dilakukan berdasarkan besarnya tegangan
kontrol V11 sehingga didapatkan sudut α dari
1 Rangkaian Pengatur Fasa Modul IC TCA 0° sampai 180°. Keluaran dari IC ini adalah
785 pada kaki 14 (positif) dan 15 (negatif).
Rangkaian pengatur fasa pada Keluaran dari TCA 785 masih sangat
penelitian ini menggunakan IC TCA 785, kecil, untuk itu perlu dilakukan isolasi

7
sekaligus penguatan untuk melindungi IC TCA terjadi pada lilitan sekunder. Transformator
dengan optokopler dengan dioda zener sebagai mengalirkan arus tak berarah sehingga inti
pembatas. Pulsa keluaran dari TCA 785 diubah magnetik akan saturasi dan membatasi lebar
menjadi sinyal optik pada satu sisi optokopler pulsa.
kemudian diterima oleh detektor menjadi
3 Rangkaian Pengontrol Tegangan
sinyal listrik kembali dan dikuatkan kembali
melalui resistor. Pulsa keluaran dari optokopler Pada TCA 785, jika Vramp, V10
di-NAND-kan dua kali baik pulsa positif melebihi tegangan kontrol V11, maka sebuah
maupun negatif menggunakan IC 4093. IC sinyal diproses dalam logika. Proses ini dapat
4093 adalah pelipat tegangan. Besar pulsa dilakukan berdasarkan besar tegangan kontrol
keluaran dari IC 4093 adalah empat kali lebih V11 sehingga didapatkan sudut α dari 0°
besar karena di-NAND-kan dua kali. sampai 180°. Pin ini dihubungkan dengan
2 Rangkaian Firing mikrokontroler dan DAC yang berfungsi
sebagai pengatur batasan tegangan seperti
Isolasi kedua dan pemicuan langsung gambar 3.5 berikut:
pada SCR dilakukan oleh rangkaian firing JP2 ISP Chanel

yang mendapat masukan dari rangkaian

1
2
3
4
5
6
V+ V-
JP3

pengatur fasa modul IC TCA 785. Rangkaian


DS1

P15 R12
P16 R13
P17 R14
Reset 330
1 8

1
2
o null NC
R5 2 7

GND
+ in V+

741
Vcc
330 Gnd 3 6 out

Gnd

Vcc
- in out

GND
LED1

tersebut terdiri dari buffer, transistor BD 139


4 5

Vcc
Io o null
JP1
P1.0
1
P1.1
2 1 16 4k7
P1.2 NC Com
3

100nF
dan transformator pulsa seperti ditunjukkan
P1.3 VCC 2 15 6k8
4 5k Gnd Vref-
P1.4
5 V- 3 14
6
P1.5 IC10 VEE Vref+
P1.6 P1.0 1 39 4 13
7 P10/T P00 Io Vcc Vcc
P1.7

DAC0808
8 P1.1 2 38 2k2 5 12
Vcc P11/T P01 A1 A8

gambar 3.4
9 P1.2 3 37 6 11
GND P12 P02 A2 A7
10 P1.3 4 36
P13 P03 10
P1.4 5 35 7 A6
P14 P04 A3
P1.5 6 34 8 9
P15 P05 A4 A5
5V P1.6 7 33
P16 P06
P1.7 8 32 P3.0 P3.7
P17 P07
C7 P3.1 P3.6
10uF P3.213 21
INT1 P20
Reset P3.312 22 P3.2 10k P3.5
INT0 P21

Fasa 1
23 P3.3 P3.4
8K2 P3.415 AT89S8251 P22
24
T1 P23 Vcc
P3.514 25
T0 P24
26
P25
31 27
12 V EA/VP P26
28

Fasa 2
X1 P27 2n2
X1 19
X2 X1
X2 18
X2
11.592 MHz

10k
33pF X1
Reset9 10 P3.0
4001

RESET RXD
11 P3.1
TXD D2
P3.617 30 D1
8ohm/5w6 P3.716
RD ALE/P
29
1N

WR PSEN
pha1 33pF Gnd 470k

Gate 1
T?

20VAC
1K
139

1N4001
2.2K
BD

10K
Katoda 1 Gambar 3.5 Rangkaian pengontrol tegangan
Tr afo pulsa

Pada gambar 3.5 di atas, dipswitch


8ohm/5w6
berfungsi masukan biner ke mikrokontroler
1N4001
pha2

Gate 2
1K
yang dihubungkan dengan port 1. Program
139

1N4001
2.2K
BD

10K dalam mikro hanya membaca masukan dari


Tr afo pulsa Katoda 2 port 1 untuk kemudian dimasukkan dalam
akumulator dan dikeluarkan dalam port 3.
Gambar 3.4 Rangkaian firing Keluaran dari mikrokontroler, port 3 yang
masih berupa bobot biner masuk dalam bit data
Pada gambar 3.4 pulsa dari rangkaian DAC, kaki 5 sampai kaki12, kaki 2 dari DAC
pengontrol fasa dengan tegangan yang 0808 ditanahkan dan kapasitor kompensasi
mencukupi, dengan fasa positif (0°-180°) dan sebesar 100 nF dipasang di antara kaki 16 dan
fasa negatif (180°-360°) diberikan masing- kaki 3. Catu tegangan +12 volt menetapkan
masing ke basis transistor BD 139 melalui arus acuan bagi rangkaian tangga.
resistor 1KΩ. Transistor akan saturasi dan Potensiometer trimer memungkinkan kita
tegangan DC Vcc akan terlihat sepanjang lilitan untuk menetapkan arus acuan pada harga
primer transformator, yang memberikan tertentu. Resistor 4K7 dan resistor 6K8
tegangan pulsa pada lilitan sekunder mengkompensasi tegangan pergeseran (drift)
transformator kemudian diberikan ke gate dan dalam tahapan masukan konverter. Iout
katoda SCR melalui dioda dan resistor. Ketika menggerakkan masukan membalik dari sebuah
sinyal gerbang dihilangkan dari basis BD 139, op-amp, oleh karenanya tegangan keluaran
transistor akan turn-off dan tegangan dengan dapat berkisar antara 0 sampai 12 volt.
polaritas terbalik akan menginduksi lilitan
primer transformator dan membuat dioda Dm 4 Rangkaian Semikonverter Satu Fasa
tersambung. Arus karena energi magnetik Rangkaian semikonverter satu fasa
transformator akan menghilang melalui Dm ke adalah penyearah berupa konfigurasi bridge
nol. Selama masa transien itu, tegangan balik yang terdiri dari dua dioda dan dua SCR dan

8
dioda freewheeling seperti gambar 3.6 di Gambar 4.1 di atas menunjukkan
bawah ini. bahwa sudut pemicuan berbanding terbalik
dengan penambahan masukan dipswitch
rangkaian pengontrol tegangan. Saat diberi
masukan dipswitch 0 – 80, sudut pemicuan
Zb
masih berada pada fasa 180° yang tidak
tampak di layar osiloskop. Ketika diberi
masukan dipswitch 90, sudut pemicuannya
Gambar 3.6 Rangkaian semikonverter satu fasa sebesar 175° dan menurun sampai diberi
masukan senilai 255 (masukan penuh) sebesar
Rangkaian semikonverter satu fasa
35°.
diperlihatkan pada gambar 3.6. Selama
setengah siklus positif yaitu 0°-180°, T1 terbias 2. Hasil Pengujian dengan Beban Lampu
maju. Ketika SCR T1 dipicu α°, beban Pada pengujian dengan beban lampu
dihubungkan dengan suplai masukan melalui 25 watt, sumber yang digunakan adalah 60 volt
T1 dan dioda D2 selama periode α°-180°. dan didapatkan hasil seperti gambar 4.2 dan
Selama periode 180°-360°, tegangan masukan 4.3 di bawah:
negatif dan diode freewheeling Dm terbias
maju. Dm akan tersambung dan memberikan
arus yang kontinyu pada beban. Arus beban 50
tanpa beban
akan ditransfer dari T1 dan D2 ke Dm, dan SCR 40 terbeban

T1 dan dioda D2 dimatikan. Selama setengah Tegangan lampu (volt)


30
siklus negatif tegangan masukan, SCR T2
terbias maju dan menyalakan SCR pada 20

180°+α° akan mengakibatkan Dm terbias 10

mundur. Dioda Dm dimatikan dan beban


dihubungkan ke suplai melalui T2 dan D1. 0

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200


Hasil dan Pembahasan Sudut pemicuan (derajat)

1. Pengujian Hubungan Masukan


Gambar 4.2 Grafik pengaruh penambahan sudut
Rangkaian Pengontrol TeganganTerhadap
pemicuan terhadap tegangan beban
Sudut Pemicuan lampu
Pengujian rangkaian pengontrol fasa Gambar 4.2 menunjukkan pengaruh
bertujuan untuk mengetahui besarnya sudut penambahan sudut pemicuan terhadap
pemicuan/penyalaan SCR yang mengendalikan tegangan lampu pada kondisi terbeban dan
rangkaian semikonverter satu fasa. Apabila tegangan tanpa beban. Pada kondisi tanpa
diambil data hubungan antara masukan dari beban, grafik tegangan hampir menyerupai
rangkaian pengontrol tegangan terhadap sudut grafik sinusoida, saat diberi sudut pemicuan
pemicuan/penyalaan dari rangkaian pengontrol
terendah sebesar 35°, tegangan naik secara
fasa dengan interval masukan dari dipswitch
bertahap dan mencapai nilai tertinggi pada
10, didapatkan hasil seperti pada gambar 4.1.
sudut pemicuan 90° (beban puncak) dan
200

180
menurun secara bertahap pada sudut pemicuan
160
100° sampai 180°.
Sudut pemicuan (derajat)

Pada kondisi terbeban, tegangan turun


140

120

100

80
secara bertahap dari sudut pemicuan 35° dan
60

40
sampai sudut pemicuan 180° seperti
20 ditunjukkan gambar 4.2. Hal ini sesuai dengan
0
0 50 100 150 200 250 300 karakteristik SCR secara umum, bahwa jika
diberi sudut pemicuan kecil, maka tegangan
Masukan rangkaian pengontrol fasa (desimal)

Gambar 4.1 Grafik hubungan penambahan yang dilalukan akan besar dan sebaliknya.
masukan rangkaian pengontrol
tegangan terhadap sudut pemicuan
rangkaian pengontrol fasa

9
2,0
tanpa beban Seperti pada pengujian lampu, grafik
tegangan motor pada kondisi tebeban dan
1,8 terbeban
1,6

kondisi tanpa beban memperlihatkan hasil


Arus lampu (miliampere)
1,4

1,2
yang berbeda seperti ditunjukkan gambar 4.4.
Pada kondisi tanpa beban, grafik tegangan
1,0

0,8

0,6 hampir menyerupai grafik sinusoida dan pada


0,4
kondisi terbeban, tegangan turun secara
bertahap dari sudut pemicuan minimal (35°)
0,2

0,0
0 20 40 60 80 100 120
Sudut pemicuan (derajat)
140 160 180 200
sampai sudut pemicuan maksimal (180°). Hal
ini sesuai dengan dengan karakteristik SCR
Gambar 4.3 Grafik penambahan sudut pemicuan secara umum, bahwa jika diberi sudut
terhadap arus beban lampu pemicuan kecil, maka tegangan yang dilalukan
akan besar dan sebaliknya.
Pengukuran arus keluaran dari
rangkaian semikonverter satu fasa pada kondisi 1,5 tanpa bebab

terbeban dan kondisi tanpa beban ditunjukkan 1,4


1,3
terbeban

pada gambar 4.3. Baik kondisi terbeban

Arus motor (miliampere)


1,2
1,1
1,0
maupun kondisi tanpa beban, grafik arus 0,9
0,8

menyerupai grafik sinusoida. Nilai tertinggi 0,7


0,6

diperoleh saat sudut pemicuannya 90°.


0,5
0,4
0,3
Arus pada saat terbeban menunjukkan 0,2
0,1

nilai yang lebih tinggi dibandingkan pada 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

Sudut pemicuan (derajat)


kondisi tanpa beban. Hal ini dikarenakan
beban akan menyerap arus saat dihubungkan Gambar 4.5 Grafik pengaruh penambahan sudut
dengan rangkaian semikonverter satu fasa. pemicuan terhadap arus beban motor
Grafik arus berbentuk grafik sinusoida
dikarenakan pada saat dihubungkan awal, Hasil pengukuran arus keluaran dari
kebutuhan arus akan meningkat dan ketika rangkaian semikonverter satu fasa dengan
sudah mencapai beban puncak, kebutuhan arus beban motor pada kondisi terbeban dan kondisi
beban menurun kembali. tanpa beban ditunjukkan pada gambar 4.5.
Baik kondisi terbeban maupun kondisi tanpa
3. Hasil Pengujian dengan Beban Motor beban, grafik arus menyerupai grafik sinusoida
Pada pengujian beban motor, motor dan nilai tertinggi diperoleh saat sudut
yang dipakai adalah motor DC. Kecepatan pemicuan 90°.
putaran dari motor DC bergantung pada Arus pada saat terbeban menunjukkan
tegangan masukan yang diberikan. Semakin nilai yang lebih tinggi dibandingkan pada
besar tegangan yang diberikan, semakin besar kondisi tanpa beban. Hal ini dikarenakan
pula kecepatan yang dihasilkan. Sumber beban akan menyerap arus saat dihubungkan
tegangan masukan yang dipakai adalah dengan rangkaian semikonverter satu fasa.
teganan AC 18 volt dan memberikan hasil Grafik arus berbentuk grafik sinusoida
seperti pada gambar 4.4, 4.5 dan 4.6 di bawah: dikarenakan pada saat dihubungkan awal,
16 kebutuhan arus akan meningkat dan ketika
14 tanpa beban sudah mencapai beban puncak, kebutuhan arus
12
terbeban
beban menurun kembali.
Tegangan motor (volt)

10
100
8
80
6
Kecepatanmotor (rpm)

60
4
40
2
20

0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 0

Sudut pemicuan (derajat) 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200


Sudut pemicuan (derajat)

Gambar 4.4 Grafik pengaruh penambahan sudut Gambar 4.6 Grafik pengaruh penambahan sudut
pemicuan terhadap tegangan beban pemicuan terhadap kecepatan motor
motor

10
Karakteristik dari motor DC adalah sinusoida, sementara tegangan terbeban
kecepatan motor sebanding dengan tegangan meningkat berbanding terbalik terhadap
yang masuk ke motor. Gambar 4.6 sudut pemicuan.
memperlihatkan bahwa kecepatan motor 3. Pergesaran fasa dapat mengakibatkan
menurun sesuai tegangan yang diberikan perubahan kecepatan motor DC dari
seperti pada grafik tegangan terbeban terhadap 99.9 rpm sampai 0 rpm.
sudut fasa (gambar 4.4).
Secara umum dapat dijelaskan bahwa
arus keluaran dari semikonverter saat kondisi Daftar Pustaka
tanpa beban baik pada lampu dan motor relatif [1] Rashid, Muhammad, 1999. Elektronika
sama. Pada saat semikonverter satu fasa Daya, Rangkaian, Devais dan
dihubungkan dengan beban, arus akan naik Aplikasinya Jilid 1. Jakarta: Penerbit PT
karena beban menyerap arus. Arus yang Prehallindo
diserap tergantung dari karakteristik beban. [2] Singh, M.D.1998 Power Electronics, New
Arus maksimal terjadi pada sudut pemicuan Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing
90° yang kemudian akan mengalami Company Limited
penurunan kembali, tetapi tegangan terbeban [3] Malik, MI dan Anistardi, 1997.
akan terus turun sampai pemberian sudut Bereksperimen dengan Mikrokontroler
pemicuan maksimal. 8031, Jakarta: Penerbit Elek Media
Semikonverter daya didasarkan pada Komputindo
pensaklaran yang menghasilkan harmonisa [4] Malvino, Albert Paul. 1996. Elektronika
tegangan dan arus. Harmonisa tegangan dan Komputer Digital, Pengantar
arus menyebabkan terjadinya distorsi tegangan Mikrokomputer edisi kedua, Jakarta:
input, pembangkitan harmonisa pada suplay, Penerbit Erlangga
faktor total harmonik distorsi, faktor [5] www.fairchild-semiconductor.com/an/an-
pergeseran dan faktor daya masukan yang 3001.pdf
semuanya mempengaruhi ukuran dan kualitas [6] Wasito S. 2001. Vademekum Elektronika
bentuk gelombang. Untuk itu diperlukan Edisi Kedua, Jakarta: Penerbit PT
strategi kontrol pada pembangkitan harmonisa Gramedia Pustaka Utama
dan distorsi bentuk gelombang. [7]
Harmonisa arus beban bergantung pada www.electronics.dit.ie/staff/ypanarin/lec
induktansi beban dan faktor daya masukan ture%20notes/k235-
bergantung pada faktor daya beban. Dua hal 1/3%20line%20converter.pdf
tersebut mempengaruhi tegangan keluaran,
kriteria dan unjuk kerja konverter. Penurunan
tegangan terjadi karena induktansi sumber
sama dengan rangkaian semikonverter. Begitu
pula saat sudut pemicuan diubah, sudut
komutasi juga berubah dan kadang terjadi
overlaping sehingga waktu komutasi menjadi
lebih kecil dan tegangan menjadi turun.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan
yaitu:
1. Telah terealisasi semikonverter satu fasa
menggunakan variasi tegangan dengan
sudut pemicuan SCR 35° sampai 180°
2. Pada pengujian semikonverter satu fasa
menggunakan beban lampu dan beban
motor disimpulkan bahwa arus dan
tegangan tanpa beban menyerupai grafik

11