Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

I. Kasus (Masalah Utama)


Waham
II. Proses Terjadinya Masalah
Proses terjadinya waham meliputi 6 fase, sebagai berikut:
1. Fase of human needm
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara
fisik maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-
orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat
miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang
secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti dengan
self ideal sangat tinggi.
2. Fase lack of self esteem
Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self
ideal dengan self reality (keyataan dengan harapan) serta dorongn kebutuhan
yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui
kemampuannya.
3. Fase control internal external
Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan
keyataan, tetapi menghadapi keyataan bagi klien adalah suatu yang sangat
berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting
dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan
tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien
mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak
benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi
dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif
tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien
tidak merugikan orang lain.
4. Fase envinment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya
menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap
sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya
diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak
berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan
dosa saat berbohong.
5. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap
bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya.
Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari
lingkungannya. Selanjutnya klien sering menyendiri dan menghindari interaksi
sosial (isolasi sosial).
6. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu
keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul
sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang
tidak terpenuhi ( rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk
dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain.
Berdasarkan Faktor, terdiri dari 2 faktor:
1. Faktor predisposisi
a. Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan menggangu hubungan interpersonal
seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakir
dengan gangguan presepsi, klien menekankan perasaan nya sehingga
pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.

b. Faktor sosial budaya

Seseorang yang merasa di asingkan dan kesepian dapat menyebabkan


timbul nya waham

c. Faktor psikologi

Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda bertentangan dapat


menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap
kenyataan

d. Faktor biologis
Waham di yakini terjadi karena ada nya atrofi otak, pembesaran
ventrikel di otak atau perubahan pada sel kortikal dan lindik

2. Faktor presipitasi

a. Faktor sosial budaya

Waham dapat di picu karena ada nya perpisahan dengan orang yang
berarti atau di asingkan dari kelompok.

b. Faktor biokimia

Dopamin, norepinepin, dan zat halusinogen lain nya di duga dapat


menjadi penyebab waham pada seseorang

c. Faktor psikologis

Kecemasan yang memanjang dan terbatasan nya kemampuan untuk


mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk
menghindari kenyataan yang menyenagkan.

III.
1. Pohon Masalah

Resiko tinggi perilaku


kekerasan

Perubahan proses pikir,


Waham

Harga diri rendah

2. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


a. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
b. Perubahan proses pikir : Waham
c. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
Data yang perlu dikaji pada penderita waham:
a. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
1) Data subyektif
Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh,
dan ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya.
2) Data obyektif
Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan
tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.
b. Perubaha proses pikir : waham
1) Data Subyektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesua kenyataannya
2) Data Obyektif
Klien tampak tidak mempunyai orang lan, curiga, bermusuhan, merusak
(diri, orang lain, lingkungan) takut, kadang panik, sangat waspada, tidak
tepat menilai lingkungan/realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah
tersinggung.
c. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
1) Data Subyektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap
diri sendiri.
2) Data Obyektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternative
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
IV. Diagnosa Keperawatan sebagai berikut:
1. Perubahan proses pikir : waham
2. Resiko tinggi perilaku kekerasan : resiko mencederai diri, orang lain
V. Rencana Tindakan Keperawatan
1. Diagnosa I : Perubahan proses pikir : waham
a. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham dan klien akan
meningkat harga dirinya
b. Tujuan khusus:
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan :
- Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas.
- Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
- Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
- Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga
dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki
Tindakan :
- Klien dapat menilai kemampuan yang dapat diskusikan kemmapuan
dan aspek positif yang dimiliki
- Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan
memberi pujian yang realistis
- Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
- Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
- Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang
kerumah
4) Klien dapat menetapkan/merencanakan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
- Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari
sesuai kemampuan
- Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
- Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemapuan
Tindakan :
- Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
- Beri pujian atas keberhasilan klien
- Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
- Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
- Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
- Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah
- Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
2. Diagnosa 2 : Resiko tinggi perilaku kekerasan : resiko mencederai diri,
orang lain
a. Tujuan Umum :
Klien tidak mencederai diri, orang lain, dan lingkungan
b. Tujuan Khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
- Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas
- Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat
menerima keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai
ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukungdisertai
ekspresi ragu dan empat, tidak membicarakan isi waham klien.
- Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi:
katakan perawat akan menemani klien dan kejujuran jangan
tinggalkan klien sendirian
- Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan
perawatan diri
2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
- Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis
- Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu
lalu dan saat imi yang realistis
- Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini
- Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai
keutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien
sangat penting
3) Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan:
- Observasi kebutuhan klien sehari-hari
- Diskusikan kebtuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di
rumah maupun dirumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
- Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham
- Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin)
- Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan
wahamnya
4) Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan:
- Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,
tempat dan waktu)
- Setakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas
- Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
5) Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan:
- Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang :
gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow
up obat
- Beri reinforcoment atas keterlibatan keluarga
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Klien tenang, kooperatif, duduk sendiri
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan proses pikir : Waham
3. Tujuan Khusus :
a. Membina hubungan saling percaya dengan perawat
b. Membantu orientasi realistas
c. Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
d. Membantu pasien memenuhi kebutuhan realistisnya
e. Menganjurkan pasien memasukan dalam jadwal kegiatan hariannya
4. Tindakan Keperawatan :
a. Identifikasi kebutuhan pasien
b. Bicara konteks realita (tidak mendukung atau membantah waham pasien)
c. Latih pasien untuk memenuhi kebutuhan realitasnya
d. Masukan dalam jadwal harian pasien

B. Proses Pelaksanaan Tindakan:


1. Tahap Orientasi
“Selamat pagi Ibu, perkenalkan nama saya anisa nursofa rahmat, sering dipanggil
nisa. Nama Ibu siapa? Lebih suka dipanggil siapa? Ibu, Saya perawat yang dinas
diruang mawar ini, Hari ini saya dinas pagi dari pukul 08.00 – 14.00 WIB. Saya
yang akan merawat Ibu selama Ibu dirumah sakit ini. Hoby Ibu apa?.”
”Bagaimana perasaan ibu hari ini? Bagaimana tidurnya semalam? Apakah
nyenyak bu? Sekarang ibu ada keluhan?
” Baiklah, bagaimana kalau hari ini kita akan berbincang-bincang tentang bidang
yang ibu sukai?”.
”Berapa lama kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit”
”Dimana kita mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau di sini saja?”
2. Tahap kerja
“ Ibu sudah berapa lama disini? Apa yang ibu rasakan hari ini? Waktu dibawa
kesini ada kejadian apa dirumah bu?
“Ibu merasa diri ibu adalah seorang miliarder. Saya mengerti dengan yang ibu
rasakan. Kemarin ibu mengatakan memiliki perusahaan dimana-mana, apakah ibu
suka berbisnis? Mengapa ibu mengatakan kepada teman saya bahwa ingin
membangun perusahaan terbesar di dunia, benar bu? Mengapa ibu lebih
menyukai itu?”
“Karena ibu sekarang berada disini, apakah menurut ibu, ibu bisa menjalankan
bidang itu? Bagaimana caranya? Jadi sebenarnya apa yang sedang ibu butuhkan
untuk kehidupan sehari-hari? Ohh ibu ingin mempunyai kegiatan.
“Coba kita sama-sama tuliskan rencana dan jadwal tersebut ya. Wah bagus sekali,
jadi setiap harinya ibu ingin ada kegiatan diluar karena bosan kalau dirumah terus
ya
3. Terminasi
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang?.”
“Coba sebutkan lagi kegiatan apa saja yang ibu ingin lakukan”
“Saya harap ibu melakukan kegiatan-kegiatan tadi ya dan memasukan kedalam
jadwal kegiatan harian ya bu
“Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi dan berbincang-bincang lagi?
“Di mana sebaiknya kita bertemu besok bu? Bagaimana kalau ditempat ini lagi?”
“ibu untuk besok mau jam berapa kita bertemu ? Bagaimana kalau jam 10.00
pagi? Baiklah bu, saya permisi dulu,sampai jumpa besok.
DAFTAR PUSTAKA

Keliat Budi A . 1999. Proses kepearawatan jiwa . Edisi 1. EGC : Jakarta

Keliat Budi A . 2009. Model praktik keperawatan Professional Jiwa. EGC : Jakarta