Anda di halaman 1dari 13

Rahmawati Prihatini1, Rika Istianingrum2, Maryatin3 BASA TAKA

Universitas Balikpapan

RAGAM BAHASA WARIA DI KOTA BALIKPAPAN


Rahmawati Prihatini1, Rika Istianingrum2, Maryatin3
Universitas Balikpapan1, Universitas Balikpapan2, Universitas Balikpapan3
Pos-el: nengrhama24@gmail.com1, rika@uniba-bpn.ac.id2, maryatin@uniba-bpn.ac.id3

ABSTRAK

Bahasa binan/waria merupakan salah satu bagian dalam bahasa slang. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kosakata bahasa waria/ binan di kota Balikpapan serta
mengetahui faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa waria/binan di Balikpapan. Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif. Data penelitian berupa kata, kalimat, dialog bahasa binan.
Sumber data penelitian yaitu waria di salon WN dan waria di daerah Markoni dan Dusit.
Pengumpulan data dilakukan dengan studi lapangan menggunakan metode simak, catat, dan rekam.
Instrumen penelitian yang digunakan berupa handphone untuk merekam data. Data dianalisis
dengan menggunakan metode padan. Pemeriksaan keabsahan data berupa triangulasi sumber,
metode, dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bentuk –ong dan manasuka
lebih banyak digunakan oleh para waria saat ini. Selanjutnya faktor- faktor yang mempengaruhi
penggunaan bahasa binan di kota Balikpapan diantaranya (1) lajunya arus urbanisasi di kota
Balikpapan tahun 2016, (2) penggunaan bahasa binan sebagai identitas diri kaum waria, (3)
penggunaan bahasa binan disebabkan oleh lingkungan, dan (4) penggunaan bahasa binan yang
menjadi bahasa gaul di masyarakat.

Kata Kunci: ragam bahasa, bahasa binan, dan waria

ABSTRACT

The binan/transgender language is one part of the slang language. This study aims to
describe the vocabulary form of waria/binan language in the city of Balikpapan and to know the
factor that influence the use of transsexual/binan language in Balikpapan. This research is a
qualitative research. Research data in the form of words, sentences, language dialogue binan.
Sources of research data are transvestites in the salon WN and transvestites in the area Markoni
and Dusit. Data collection was done by field study using the method of referring, record, and
record. Research instrument used in the form of mobile phone to record data. Data were analyzed
by using method of padan. The validity of data in the form of triangulation of sources, methods, and
theory. The results showed that the use of forms and manasuka more widely used by transvestites
today. Furthermore, factors affecting the use of binan language in Balikpapan are: (1) the speed of
urbanization in Balikpapan city 2016, (2) the use of binan language as the identity of transvestites,
(3) the use of binan language is caused by the environment, and (4) ) the use of binan language that
became slang language in the community

Keywords : variety of languages, binan language, and transvestites

Vol. 1, No. 1. Juni 2018 1


1. PENDAHULUAN kelas sosial penuturnya terdapat beberapa
Bahasa yang digunakan dalam suatu varasi bahasa seperti akrolek, basilek,
masyarakat erat kaitannya dengan vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan
masyarakat penutur bahasa itu sendiri. ken. Waria merupakan salah satu
Sejauh ini bahasa dalam masyarakat komunitas yang eksistensinya tidak
sangat beragam dan terus berkembang diragukan di dalam masyarakat dan
tidak hanya sebatas menggunakan bahasa sebagai salah satu penyumbang dalam
baku atau resmi. Keragaman bahasa ini penggunaan variasi bahasa terbesar,
muncul akibat kebutuhan penutur dalam bahasa-bahasa baru yang mereka ciptakan
memilih bahasa sesuai dengan situasi terbilang unik dan selain unik kosakata-
konteks sosialnya. kosakata mereka susah dipahami oleh
Soeparno (2002: 71) menjelaskan masyarakat pada umumnya. Waria
bahwa ragam bahasa atau variasi bahasa termasuk dalam bagian LGBT (Lesbi,
adalah keanekaragaman bahasa yang Gay, Bisekusal, Transgender dan
disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Transeksual) yang secara biologis
Faktor-faktor penyebab keragaman itu berkelamin laki-laki tetapi berpenampilan
terjadi diantaranya seperti faktor serta berperilaku seperti perempuan.
kronologis, geografis, faktor sosial, faktor Chaer (2010: 67) mendeskripsikan
fungsional, faktor gaya/ style, kultural, bahwa slang adalah variasi sosial yang
dan faktor individual. bersifat khusus dan rahasia. Artinya
Ragam atau variasi bahasa terbagi variasi ini digunakan oleh kalangan
menjadi dua pandangan. Pertama, variasi tertentu yang sangat terbatas dan tidak
atau ragam bahasa dilihat sebagai akibat boleh diketahui oleh kalangan diluar
adanya keragaman sosial penutur bahasa kelompok itu. Oleh karena itu, kosakata
itu dan keragaman fungsi bahasa itu. yang digunakan dalam slang ini selalu
Artinya bahasa itu terjadi sebagai akibat berubah-ubah. Dapat disimpulkan bahwa
keragaman sosial dan keragaman fungsi slang merupakan variasi bahasa yang
bahasa. Kedua, variasi atau ragam bahasa sifatnya khusus serta rahasia, karena
itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya khusus dan rahasia maka variasi bahasa
sebagai alat interaksi dalam kegiatan ini hanya digunakan oleh komunitas-
masyarakat yang beraneka ragam. Variasi komunitas yang memang memiliki bahasa
atau ragam bahasa itu dapat tersendiri selain itu penggunaan kosakata
diklasifikasikan berdasarkan adanya selalu diubah agar tetap tercipta
keragaman sosial dan fungsi kegiatan di kerahasiaan bahasanya.
dalam masyarakat sosial. Berdasarkan hasil pengamatan yang
Salah satu ragam atau variasi bahasa dilakukan oleh peneliti terhadap
yang kita kenal adalah variasi sosial atau komunitas waria salon WN di kota
sosiolek. Variasi ini disebabkan oleh Balikpapan, penggunaan kosakata slang
perbedaan sosiologis. Variasi ini waria sangatlah unik. Seperti pada kata
menyangkut semua permasalahan pribadi jelong, sutra, organda, pewong, lekong
penuturnya seperti usia, pendidikan, seks, dan masih banyak lagi. Pada kata jelong
pekerjaan, tingkat kebangsawanan, berasal dari kata “jelek”, kata sutra
keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya. berasal dari kata “sudah”, organda
Dalam variasi sosial yang berkenaan berasal dari kata orang, pewong berasal
dengan tingkat, status, golongan, dan dari kata perempuan, lekong berasal dari
kata laki-laki. Kosakata yang diciptakan disebut dengan bahasa khusus selain itu
tidak semata-mata untuk merusak tata bahasa binan termasuk dalam kategori
bahasa baku atau resmi, melainkan bahasa slang.
kosakata tersebut menjadi identitas diri Chaer (2010: 67) menjelaskan bahwa
yang membedakan komunitas waria slang merupakan variasi sosial yang
dengan masyarakat umum. Selain itu bersifat khusus dan rahasia. Artinya
kosakata-kosakata bahasa slang waria ini variasi ini digunakan oleh kalangan
dapat dikaji secara linguistik baik dari tertentu yang sangat terbatas dan tidak
segi fonologi, morfologi, sintaksis, boleh diketahui oleh kalangan di luar
bahkan makna setiap kata dan kalimat kelompok itu. Bahasa binan inilah yang
pada suatu ujarannya. membedakan komunitas waria dan gay
Dalam penelitian ini, peneliti (homoseks) dari orang-orang yang
memilih bahasa slang waria sebagai objek tergolong dalam kelompok sosial diluar
penelitian. Peneliti memilih objek mereka. Seiring berjalannya waktu bahasa
tersebut karena sifat bahasa yang bersifat binan kemudian dikenal menjadi bahasa
arbitrer sehingga memudahkan para gaul. Bahasa slang adalah hasil
penutur bahasa menggunakan atau kombinasi kekurangwajaran bahasa
menciptakan bahasa-bahasa baru dengan reaksi terhadap kosakata yang
sehingga kosakata-kosakata bahasa serius, kaku, muluk, megah, atau tidak
menjadi bertambah. Mengapa bahasa menarik.
slang waria yang peneliti ambil karena Berdasarkan pendapat di atas dapat
waria merupakan suatu komunitas di disimpulkan bahwa bahasa binan
dalam masyarakat yang memiliki merupakan bahasa yang digunakan oleh
eksistensi tersendiri, bahasa yang mereka waria dan gay (homoseks) untuk
gunakan juga terbilang sulit untuk berkomunikasi dengan komunitasnya,
dipahami khalayak umum, tidak dapat selain itu bahasa binan termasuk dalam
kita pungkiri sekarang ini bahasa slang kategori bahasa slang. Bahasa slang
waria sering digunakan oleh masyarakat merupakan bahasa yang bersifat khusus
umum tapi itu hanya beberapa kosakata- dan rahasia. Penggunaan bahasa binan
kosakata saja tidak keseluruhan. Dari oleh komunitas waria tidak semata-mata
latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk merusak kosakata bahasa baku atau
melakukan penelitian dengan judul resmi melainkan sebagai ciri pembeda
“Ragam Bahasa Waria di Kota (dengan kata lain sebagai identitas diri)
Balikpapan”. komunitas waria dengan masyarakat
umum.
Ragam Bahasa Binan
Oetomo (2001: 62) menjelaskan Bentuk Kosakata Bahasa Binan
bahwa dalam dekade 1990-an ini adalah Kosakata bahasa binan dibentuk
meluasnya penggunaan ragam bahasa dengan dua proses, yakni proses
yang awalnya berasal dari ragam yang
perubahan bunyi dalam kata yang berasal
dipakai oleh komunitas waria dan gay
(homoseks). Dengan perkataan lain, dari bahasa daerah atau bahasa Indonesia
ragam bahasa yang dalam komunitas dan proses penciptaan kata atau istilah
asalnya dikenal sebagai bahasa binan. baru ataupun penggeseran makna kata
Bahasa binan sebagai sosiolek dapat atau istilah (plesetan) yang sudah ada
dikatakan sebagai bahasa subkultur yang dalam bahasa daerah atau bahasa
Indonesia. Sejauh ini kita ketahui, di
Indonesia ini tercatat ada enam jenis bencong [béncong] atau bences
proses pembentukan kata-kata bahasa [bénces]. Catatan: penggunaan
binan. Oetomo (2001: 63) memaparkan jenis –ong ataupun - es tidak
proses pembentukan kata-kata bahasa mengikuti suatu kaidah yang
binan seperti berikut: pasti, terkesan orang
1. Bentuk si- menggunakannya secara
Jenis pertama ditemui di manasuka atau sembarang.
Surabaya, Malang, Semarang, 3. Bentuk –in
Solo, Yogyakarta dan kota-kota Jenis keempat tampaknya hanya
berbasis budaya jawa lainnya, dipakai di Jakarta dan Bandung,
dan umumnya berupa perubahan setidaknya pada awalnya namun
bunyi terhadap kata-kata bahasa dalam perkembangannya juga
jawa. Proses pembentukannya: menyebar ke kota-kota lain,
a. berasal dari suatu kata dasar proses pembentukannya:
hanya suku kata pertamanya a. penyisipan –in sesudah
yang dipertahankan, konsonan awal suku kata-
b. bilamana suku kata pertama suku kata pada kata tertentu,
berakhir dengan vokal, maka sehingga kata menjadi dua
konsonan pertama suku kata kali lebih panjang
berikutnya dipertahankan b. kemudian kata yang panjang
pula,
itu dipendekkan lagi.
c. kemudian pada awal
Contohnya: bule binuline
potongan itu ditambahkan
binul, lesbi linesbini lines.
awalan si-.
4. Bentuk –se
Contohnya: banci ban
Jenis kelima mirip dengan jenis
siban, homo hom sihom.
pertama, proses
2. Bentuk –ong dan –es
pembentukannya:
Jenis kedua dan ketiga ditemui
a. yaitu kata asal dipotong
disemua kota di Indonesia pada
sehingga hanya tinggal suku
kalangan yang terpengaruh
kata pertama dan (kalau suku
bahasa Indonesia Jakarta. Jenis
kata pertama berakhir dengan
kedua biasa dinamakan omong
vokal) konsonan pertama
cong atau bahasa ong-ong,
suku kata berikutnya
sedangkan jenis ketiga biasa b. kemudian ditambahkan
dinamakan omong ces atau akhiran –se’.
bahasa es-es. Proses Contohnya: homo hom
pembentukannya: homse’, cina cin cinse’.
a. mengubah suku kata terakhir 5. Bentuk manasuka
sehingga berakhir dengan – Jenis keenam berawal dari
ong (jenis kedua) atau –es Medan dan kemudian menyebar
(jenis ketiga) di semua kota-kota Indonesia.
b. mengubah bunyi/huruf Proses pembentukannya:
vokal suku kata sebelumnya a. pemertahanan suku kata atau
dengan e- (diucapkan [-é-]. bagian suku kata awal kata
Contohnya: laki lekong dasar,
[lékong] atau lekes [lékes], banci
b. kemudian selebihnya diubah oleh peneliti. Adapun sumber data
sehingga seakan-akan sekunder penelitian ini berupa data- data
menjadi kata lain. artikel, jurnal, buku referensi, dan
Contohnya: enak en endang, penelitian yang relevan. Dalam
sudah su sutra, tidak ti tinta, penelitian ini, data yang digunakan
sundal sund sundari. berupa kata, kalimat, dialog bahasa binan
Catatan: jenis inilah yang waria di kota Balikpapan sesuai dengan
pada dekade rumusan masalah penelitian di salon WN
1990-an amat populer, dan daerah Markoni dan Dusit.
berkembang pesat dan Dalam penelitian ini, instrumen
meluas di seluruh Indonesia utamanya adalah peneliti sendiri, namun
dan dipakai sebagai bahasa setelah fokus penelitian menjadi jelas
gaul. maka akan dikembangkan instrumen
penelitian sederhana, yang diharapakan
2. METODE PENELITIAN dapat melengkapi data dan
Jenis penelitian yang digunakan yaitu membandingkan dengan data yang telah
penelitian kualitatif. Sugiyono (2015: 15) ditemukan melalui observasi dan
menjelaskan bahwa penelitian kualitatif wawancara. Untuk mempermudah
adalah penelitian yang berlandaskan pada penelitian yang akan dilakukan, peneliti
filsafat postpositivisme (memandang menggunakan handphone untuk merekam
realitas/gejala/fenomena), digunakan data yang dibutuhkan oleh peneliti serta
untuk meneliti kondisi obyek yang menggunakan kartu data untuk
alamiah dimana peneliti adalah sebagai memisahkan data-data yang telah di
instrument kunci. Metode yang dapatkan.
digunakan pada penelitian ini adalah Moleong (2014: 126) menjelaskan
metode deskripsi, dimana metode ini bahwa pada tahap- tahap penelitian
merupakan tata cara menggambarkan kualitatif salah satu ciri pokoknya yaitu
data-data penelitian. Pendekatan peneliti menjadi alat penelitian.
penelitian yang digunakan peneliti adalah Khususnya pada analisis data ciri khasnya
pendekatan sosiolinguistik. sudah dimulai sejak awal pengumpulan
Chaer (2010: 2) sosiolinguistik data. Bogdan (1972) membagi tahapan
merupakan ilmu antardisiplin antara penelitian menjadi tiga bagian
sosiologi dan linguistik. Adapun sumber diantaranya (1) pra- lapangan, (2)
data primer yang digunakan dalam kegiatan lapangan, dan (3) analisis
penelitian ini yaitu komunitas waria di intensif. Pada penelitian ini akan
kota Balikpapan. Komunitas waria yang dipaparkan tahap- tahap penelitian yang
peneliti pilih untuk dijadikan objek dilakukan oleh peneliti dari tahap pra-
penelitian yaitu waria di salon WN yang lapangan hingga tahap analisis intensif
berjumlah 4 orang dan waria di daerah sebagai berikut.
Markoni dan Dusit yang berjumlah 6 1. Tahap Pra- Lapangan
orang. Sumber data sekunder adalah data Pada tahap pra- lapangan,
yang diperoleh secara tidak langsung oleh peneliti memiliki beberapa
peneliti, tapi telah berjenjang melalui tahapan- tahapan kegiatan
tangan kedua dan ketiga. Data sekunder diantaranya yaitu:
dikenal sebagai data pendukung dan a. Menyusun Rancangan
pelengkap utama yang dapat digunakan Penelitian
Pada tahap ini peneliti untuk orang- orang yang akan
sebelum melakukan dijadikan informannya.
penelitian telah e. Menyiapkan Perlengkapan
mempersiapkan rancangan Penelitian
penelitian seperti menentukan Tahap ini peneliti harus
metode dan teknik penelitian mempersiapkan perlengkapan
yang akan digunakan. penelitian baik secara moril
b. Memilih Lapangan Penelitian dan meteriil. Selain
Pada tahap ini peneliti perlengkapan fisik peneliti
dalam menentukan lapangan sendiri yang dipersiapakan,
penelitian dengan jalan peneliti juga mempersiapkan
mempertimbangankan teori alat- alat yang akan
substantif dan dengan digunakan sesuai dengan
mempelajari serta mendalami kebutuhan penelitian.
fokus serta rumusan masalah 2. Tahap Kegiatan Lapangan
penelitian. Sebaiknya Memasuki kegiatan
keterbatasan waktu, biaya, lapangan, peneliti dalam hal ini
dan tenaga perlu harus mempersiapkan dirinya
dipertimbangkan. bertemu dengan informan atau
c. Menjajaki dan Menilai narasumber penelitiannya untuk
Lapangan mendapatkan data penelitian
Sebelum memasuki yang dibutuhkan. Untuk itu
lapangan penelitian yang sebagai seorang peneliti harus
sebenarnya untuk mencari memperhatikan penampilannya,
data, peneliti harus menjaga sopan dan santun, bisa
memahami bagaimana situasi menjalani sebuah hubungan yang
dan kondisi lapangan baik dengan para informannya.
penelitian tersebut. Tahap ini Tidak hanya berperan serta
merupakan tahapan orientasi dalam lingkungan tersebut
lapangan dimana peneliti peneliti tetap harus
hanya melakukan mengumpulkan data- data
pengamatan dan juga menilai penelitiannya dengan
keadaan lapangan dalam hal- mencatatnya atau merekam
hal tertentu. percakapan informan.
d. Memilih dan Memanfaatkan 3. Tahap Analisis Data
Informan Tahapan ini peneliti
Informan merupakan menganalisis data- data yang
orang yang dimanfaatkan telah didapatkan berdasarkan
untuk memberikan informasi hasil dari informasi informan.
tentang situasi dan kondisi Selain menganalisis data peneliti
latar penelitian. Pada saat juga melakukan intepretasi
memilih informan peneliti terhadap data- data tersebut
tidak bisa sembarangan untuk memperoleh arti dan
memilih orang- orang makna yang lebih mendalam dan
tersebut, peneliti harus luas terhadap haasil penelitian
memiliki kriteria- kriteria yang sedang dilakukan.
Teknik Pengumpulan Data Penelitian (2014: 117) padan merupakan kata yang
Penelitian ini menggunakan teknik bersinonim dengan kata banding dan
pengumpulan data berupa studi lapangan sesuatu yang dibandingkan mengandung
dengan menggunakan metode simak. makna adanya keterhubungan sehingga
Mahsun (2014: 92) metode simak padan disini diartikan sebagai hal
merupakan metode atau cara yang menghubung-bandingkan.
digunakan untuk memperoleh data Metode padan intralingual adalah
dilakukan dengan menyimak penggunaan metode analisis dengan cara menghubung-
bahasa. Istilah menyimak di sini tidak bandingkan unsur-unsur yang bersifat
hanya berkaitan dengan penggunaan lingual, baik yang terdapat dalam satu
bahasa secara lisan, tetapi juga bahasa maupun dalam beberapa bahasa
penggunaan secara tertulis. yang berbeda. Dalam pelaksanaan
Data lisan dikumpulkan dengan penelitian yang
metode simak yang dibantu dengan sesungguhnya, penerapan metode ini
teknik dasar yang berwujud teknik sadap. dalam tahap analisis data hanya
Selanjutnya peneliti menggunakan teknik dimungkinkan jika data yang akan
simak libat cakap, teknik catat dan rekam dihubungbandingkan telah tersedia. Oleh
sebagai teknik lanjutannya. Teknik sadap karena itu tahapan penyediaan bahan
digunakan untuk menyadap kosakata- (data) dalam penelitian (bahasa)
kosakata bahasa binan pada komunitas memainkan peran yang sangat penting,
waria di kota Balikpapan, kemudian dalam arti kelengkapan data yang
teknik simak libat cakap dilakukan menggambarkan semua kemungkinan
dengan menyimak serta berpartisipasi keberadaan objek penelitian harus telah
dalam pembicaraan. Peneliti terlibat tersedia. Metode ini selain dapat
langsung dalam dialog baik secara aktif digunakan untuk menganalisis unsur
maupun reseptif. Aktif artinya peneliti lingual yang terdapat dalam bahasa yang
ikut berbicara dalam dialog sedangkan sama, juga dapat digunakan untuk
reseptif artinya hanya mendengarkan menganalisis unsur lingual yang terdapat
pembicaraan informan. Peneliti berdialog dalam bahasa yang berbeda.
sambil menyimak pemakaian bahasa Pada penelitian ini analisis data
informan untuk mendapatkan kosakata- selama di lapangan ditunjang dengan
kosakata bahasa binan waria. Saat menggunakan model Miles and
penerapan teknik simak libat cakap juga Huberman. Miles and Huberman
disertai teknik rekam, yaitu merekam ( Sugiyono 2015: 337) menjelaskan
dialog atau percakapan informan. bahwa aktivitas dalam analisis data
Rekaman ini selanjutnya ditranskripsikan kualitatif dilakukan secara interaktif dan
dengan teknik catat. berlangsung secara terus menerus sampai
tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
Teknik Analisis Data Penelitian Aktivitas dalam analisis data dipaparkan
Tahapan analisis data merupakan sebagai berikut.
tahapan yang sangat menentukan, karena 1. Reduksi Data
pada tahapan ini kaidah-kaidah yang Data-data yang diperoleh dari
mengatur keberadaan objek penelitian lapangan jumlahnya cukup
harus sudah diperoleh. Dalam banyak perlu dicatat secara teliti
menganalisis data pada penelitian ini dan rinci. Mereduksi data berarti
menggunakan metode padan. Mahsun merangkum, memilih hal-hal
pokok yang pokok, memfokuskan kembali ke lapangan
pada hal-hal yang penting, dicari mengumpulkan data, maka
tema dan polanya dan membuang kesimpulan yang dikemukakan
yang tidak perlu. Dengan merupakan kesimpulan yang
demikian data yang telah kredibel. Kesimpulan dalam
direduksi akan memberikan penelitian kualitatif diharapkan
gambaran yang lebih jelas dan adalah merupakan penemuan
mempermudah peneliti untuk baru yang sebelumnya belum
melakukan pengumpulan data pernah ada.
selanjutnya serta mencarinya bila
diperlukan. Reduksi data 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
merupakan proses berfikir sensitif Hasil penelitian yang akan disajikan
yang memerlukan kecerdasan dan pada bab ini sesuai dengan rumusan
keluasan dan kedalaman masalah penelitian. Rumusan masalah
wawasan yang tinggi. Pada pertama berupa deskripsi bentuk kosakata
penelitian ini data- data yang bahasa binan di kota Balikpapan pada
dibuang yaitu tuturan peneliti tahun 2016 dan rumusan masalah kedua
bersama narasumber. berupa faktor- faktor yang mempengaruhi
2. Sajian Data penggunaan bahasa binan di kota
Setelah data direduksi, maka Balikpapan.
langkah selanjutnya adalah Jumlah keseluruhan kalimat yang
menyajikan data. Dalam terdapat bentuk-bentuk kosakata bahasa
penelitian kualitatif penyajian binan adalah sebanyak 80 kalimat, yang
data bisa dilakukan dalam bentuk meliputi: (1) bentuk si- sebanyak 2, (2)
uraian singkat, bagan, hubungan bentuk –ong sebanyak 16, (3) bentuk –es
antar kategori, flowchart dan sebanyak 5, (4) bentuk –in sebanyak 3,
sejenisnya. Dengan menyajikan (5) bentuk –se’ sebanyak 1, dan (6)
data, maka akan mempermudah bentuk manasuka sebanyak 53. Hal
peneliti untuk memahami apa tersebut diperoleh berdasarkan
yang terjadi, merencanakan kerja penyelesaian data yang telah dilakukan
selanjutnya berdasarkan apa yang sebagai bagian dari proses analisis dengan
telah dipahami. mendengarkan rekaman suara secara
3. Kesimpulan cermat dan berulang-ulang kemudian
Langkah selanjutnya setelah ditranskripsikan. Hasil bentuk kosakata
menyajikan data, peneliti bahasa binan yang dituturkan dapat
melakukan penarikan kesimpulan dilihat pada tabel berikut ini.
dan verifikasi. Kesimpulan awal
yang dikemukakan masih bersifat
sementara dan akan berubah bila
tidak ditemukan bukti-bukti yang
kuat yang mendukung pada tahap
pengumpulan data berikutnya.
Tetapi apabila kesimpulan yang
dikemukakan pada tahap awal,
didukung oleh bukti-bukti yang
valid dan konsisten saat peneliti
Tabel 1. Bentuk Kosakata Bahasa Binan
Bentuk Kosakata Bentuk si- merupakan bentuk
No Jumlah
Bahasa Binan kosakata bahasa binan yang proses
1 Bentuk si- 2 pembentukkannya berupa
2 Bentuk –ong 16 perubahan bunyi terhadap kata-kata
3 Bentuk –es 5 bahasa Jawa pada umumnya dan
4 Bentuk –in 3 tidak menutup kemungkinan kata-
kata dalam bahasa Indonesia juga
5 Bentuk -se' 1
mendapatkan perubahan.
Bentuk
6 53 Selanjutnya kata- kata tersebut
manasuka
mendapatkan awalan si, contohnya
Jumlah 80 seperti kata siwed, sihom, siban, dan
silan. Sepert pada data di bawah ini.
Selain hasil yang berupa deskripsi (1/si/1) Kamu laki tapi rasanya
data bentuk kosakata bahasa binan, kayak siban.
peneliti menemukan beberapa faktor yang Data (1/si/1) menggambarkan

mempengaruhi penggunaan bahasa binan bahwa pada kalimat tersebut


di kota Balikpapan, diantaranya sebagai sesorang sedang berbicara kepada
berikut. seseorang lelaki. Ia menegur laki-
1. Lajunya pertumbuhan arus laki itu, dengan mengatakan kamu
urbanisasi di kota Balikpapan lelaki tetapi seperti seorang siban
pada tahun 2016. dalam arti lain laki-laki itu seperti
2. Bahasa binan digunakan sebagai banci, terlihat keperempuan-
identitas diri kaum homoseks perempuanan. Pada situasi ini
seperti waria. seseorang itu hanya mengeluarkan
3. Penggunaan bahasa binan oleh candaan kepada lelaki itu, tidak
kaum waria dikarenakan oleh mengatakan dengan sungguh-
lingkungan. sungguh bahwa lelaki itu seperti
4. Penggunaan bahasa binan yang seorang banci.
menjadi bahasa gaul di dalam Berdasarkan kalimat pada data
masyarakat. (1/si/1) kosakata bahasa binan
Setelah didapatkan hasil berdasarkan bentuk si- terdapat dalam kata
dua rumusan masalah penelitian. siban. Siban berasal dari kata dasar
selanjutnya hasil penelitian akan banci, kata tersebut mendapatkan
dipaparkan pada pembahasan berikut. penambahan bentukkan si-.
Pembahasan penelitian yang Prosesnya kata dasar banci
pertama adalah bentuk kosakata bahasa dipertahankan suku kata
binan di kota Balikpapan. Pembahasan ini pertamanya, secara ringkas dapat
dilakukan sebagaimana pengelompokkan dilihat pembentukan kata siban
bentuk kosakata bahasa binan yang terdiri sebagai berikut: banci ban si + ban
atas bentuk si-, bentuk –ong, bentuk –es, = siban.
bentuk –in, bentuk –se’, dan bentuk
manasuka.

1. Bentuk si- 2. Bentuk –ong


Bentuk –ong merupakan bentuk dirubah menjadi vokal ‘e/é’) lek +
kosakata bahasa binan yang proses ong = lekong atau lékong.
perubahannya dengan mengubah Bentuk –es merupakan bentuk
suku kata terakhir sehingga kosakata bahasa binan yang proses
berakhiran dengan –ong dan perubahannya dengan mengubah
mengubah bunyi/ huruf vokal suku suku kata terakhir sehingga
kata dengan ‘e’, bentuk ini tidak berakhiran dengan –es dan
mengikuti suatu kaidah yang pasti mengubah bunyi/ huruf vokal suku
terkesan orang-orang kata dengan ‘e’, bentuk ini tidak
menggunakannya secara manasuka mengikuti suatu kaidah yang pasti
atau sembarang. Contohnya seperti terkesan orang-orang
pewong, lekong. bencong, dewong, menggunakannya secara manasuka
dan lain sebagainya. Seperti pada atau sembarang. Contohnya seperti
data di bawah ini. bences, lekes, dan lain sebagainya.
Seperti pada data di bawah ini.
(3/ong/3) Laki itu laksana atau nda
lekong (19/es/3) Eike tau say dékes yang
bagus buat pasang gituan biar
Data (3/ong/3) menggambarkan banyak tamara yang datang ke
bahwa pada kalimat tersebut kita.
seseorang sedang menjelaskan
kepada seseorang yang lain Data (19/es/3) menggambarkan
mengenai penggunaan atau bahwa pada kalimat di atas seseorang
penyebutan laki-laki di daerah sedang berbincang dengan orang
Sulawesi dan di Balikpapan berbeda lain. Dia memberitahukan kepada
walaupun kata-kata itu sifatnya temannya dimana dukun yang bagus
nasional (dipakai disetiap daerah), buat pasang susuk. Dapat kita lihat
penyebutan untuk laki-laki di daerah pada kutipan “eike tau say dékes
Sulawesi menggunakan kata laksana yang bagus buat pasang gituan”.
sedangkan di kota Balikpapan Kata ‘gituan’ merujuk pada arti
penyebutan untuk laki-laki susuk. Selanjutnya dia juga
menggunakan kata lekong. menegaskan kepada temannya
Berdasarkan data (3/ong/3) setelah pasang susuk di dukun itu
dapat kita lihat kosakata bahasa jadi banyak tamu yang datang ke
binan bentuk -ong yang terdapat kita, dapat dilihat dalam kutipan
pada kata lekong yang berasal dari “biar banyak tamara yang datang ke
kata laki. Prosesnya pembentukan kita”.
kata-kata tersebut yaitu dengan Berdasarkan data (19/es/3)
mengubah suku kata terakhir, dapat kita lihat kosakata bahasa
kemudian ditambahkan akhiran –ong binan bentuk –es terdapat pada kata
dan mengubah bunyi/huruf vokal dékes. Kata dékes berasal dari kata
suku kata a dengan e- (diucapkan -é- dukun. Proses pembentukkannya
). Secara ringkas dapat dilihat yaitu dengan mengubah suku kata
pembentukan kata lekong sebagai terakhir dengan –es dan mengubah
berikut: Laki lak (vokal ‘a’ bunyi/ huruf vokal dengan ‘e/é).
Secara singkat dapat dilihat proses
pembentukkannya seperti berikut: 4. Bentuk –se’
dukun duk (terjadi perubahan vokal Bentuk se’- merupakan bentuk
‘u’ menjadi vokal e/é pada kata kosakata bahasa binan yang proses
‘duk’) dek + es = dekes atau dékes. pembentukan kata-katanya
ditambahkan dengan akhiran -se’,
3. Bentuk –in kata- kata tersebut dipertahankan
Bentuk –in merupakan bentuk suku kata pertamanya. Contohnya
kosakata bahasa binan yang seperti kata homse’, cinse, dan
prosesnya menyisipkan sisipan –in- lainnya. Seperti pada data di bawah
sesudah konsonan awal sukukata ini.
pada kata tertentu, sehingga kata
tersebut menjadi panjang kemudian (27/se’/3) Ada say itu hari
kata yang panjang itu dihilangkan tamaraku orang cinse’, cucok say.
bagian suku kata terakhir. Contohnya
seperti kata lines, binul, dan lainnya. Data (27/se’/3) menggambarkan
Seperti pada data di bawah ini. bahwa kalimat di atas seseorang
sedang bercerita kepada orang lain
(24/in/2) kemes ini kesukaannya yaitu temannya kalau dia pernah
binul say, pasti banyak yang mau, bersama dengan seorang tamu. Tamu
kan bule bule suka kulitnya yang tersebut orang cina, selain itu dia
coklat coklat gini. menegaskan lagi bahwa tamu
tersebut orangnya cakep. Pada
Data (24/in/2) menggambarkan konteks ini, makna dari kalimat
bahwa pada kalimat di atas seseorang tersebut itu merujuk pada suatu
sedang berbincang dengan orang lain kegiatan hubungan seks yang pernah
di salon. Dia memberitahukan dia lakukan.
kepada orang tersebut, bahwa orang Berdasarkan data (27/se’/3)
asing (bule) menyukai seseorang dapat kita lihat kosakata bahasa
berkulit coklat sawo matang, dapat binan bentuk –se’ terdapat pada kata
kita lihat pada kutipan “kemes ini cinse’. Cinse’ berasal dari kata Cina
kesukaannya binul say” yang artinya (merujuk pada seseorang yang
kamu ini kesukaannya bule. memiliki darah atau keturunan Cina).
Berdasarkan data(24/in/2) Proses pembentukannya dengan
dapat kita lihat bentuk –in terdapat mempertahankan suku kata pertama
pada kata binul. binul berasal dari dan mengubah suku kata terakhir
kata bule (orang barat). Perosesnya dengan akhiran –se’. Secara singkat
adalah dengan penyisipan –in dapat dilihat proses
sesudah konsonan awal suku kata pembentukkannya seperti berikut:
pada kata tertentu, sehingga kata Cina cin cin + se’ = cinse’.
menjadi dua kali lebih panjang
kemudian kata itu di pendekan lagi. 5. Bentuk manasuka
Secara singkat proses pembentukan Bentuk manasuka merupakan
kata binul dapat kita lihat seperti kosakata bahasa binan yang proses
berikut: bule b + in + ul - ine binul pembentukannya tidak mengikuti
sistematika penulisan yang ada,
bentuk ini biasa digunakan secara
suka-suka oleh para penggunanya. bentuk kosakata bahasa binan di kota
Pada kata-kata yang digunakan Balikpapan pada tahun 2016. Setelah
secara manasuka terjadi pemertahan peneliti turun ke lapangan dan
bagian awal suku kata dasar mendapatkan data yang berupa tuturan,
selanjutnya suku kata terakhir kata, kalimat bahasa binan selanjutnya
diubah sehingga seakan-akan peneliti melakukan analisis dan
menjadi kata lain. Contohnya mendeskripsikan data-data tersebut.
seperti kata sutra, sundari, tinta, Penemuan penggunaan kosakata bahasa
dan lainnya. Seperti pada data di binan ada enam bentukkan diantaranya
bawah ini. bentuk si-, bentuk –ong, bentuk –es,
bentuk –in, bentuk –se’, dan bentuk
(28/manasuka/1) Cuman itu belum manasuka. Dari keenam bentuk tersebut,
baku tapi, yang ke’ kemandra, bentuk –ong dan manasuka yang paling
akika. banyak digunakan para oleh para waria
ketika berkomunikasi dengan waria
Data (28/manasuka/1) lainnya.
menggambarkan bahwa seseorang Hal ini dapat dibuktikan pada hasil
sedang memberitahukan kepada penggunaan bahasa binan di kota
orang lain bahwa penggunaan kata Balikpapan tahun 2016 yang
kemandra, akika oleh Debby menunjukkan bentuk si- sebanyak 2
Sahertian itu belum baku. tuturan, bentuk –ong sebanyak 16 tuturan,
Sebelumnya seseorang juga bentuk –es sebanyak 5 tuturan, bentuk –in
menjelaskan bahwa kamus bahasa sebanyak 3 tuturan, bentuk –se’ sebanyak
gaul itu ada dijual. 1 tuturan, dan bentuk manasuka sebanyak
53 tuturan dari keseluruhan data sebanyak
Berdasarkan data (28/manasuka/1) 80 data tuturan.
dapat kita lihat kosakata bahasa binan Setelah melakukan pendeskripsian
bentuk manasuka terdapat pada kata data yang didapatkan, barulah peneliti
kemandra. Kata kemandra berasal dari mendapatkan jawaban mengapa bentuk
kata kemana. Prosesnya pemertahanan manasuka dan –ong lebih banyak
bagian awal suku kata, sehingga tercipta digunakan. Penggunaan kosakata bentuk
kata dasar yang berdiri sendiri, sementara –ong dan manasuka yang mendominasi
suku kata lainnya diubah, sehingga kosakata- kosakata bahasa binan saat ini
menghasilkan kata lain yang berbeda dikarenakan oleh beberapa faktor
dengan yang awal. Secara singkat dapat diantaranya: 1) bentuk –ong dan
kita lihat proses pembentukan kata manasuka tidak mengikuti suatu kaidah/
kemandra sebagai berikut: kemana kema aturan yang pasti, terkesan
kemandra. penggunaannya terbilang manasuka atau
sembarang. 2) kata- kata yang sering
4. KESIMPULAN diplesetkan oleh para waria menyebabkan
terciptanya kosakata- kosakata baru
Berdasarkan hasil penelitian dan
Penelitian ini tidak hanya
pembahasan pada bab sebelumnya menampilkan hasil yang berupa deskripsi
terhadap penelitian ini, maka didapatkan bentuk kosakata bahasa binan, melainkan
kesimpulan sesuai dengan rumusan peneliti juga menemukan beberapa faktor
masalah yang ada. Hasil penelitian yang yang mempengaruhi penggunaan bahasa
pertama berkaitan dengan bagaimana
binan di kota Balikpapan diantaranya
sebagai berikut: (1) lajunya arus
urbanisasi di kota Balikpapan pada tahun
2016, (2) penggunaan bahasa binan
sebagai identitas diri kaum waria, (3)
penggunaan bahasa binan oleh kaum
waria dikarenakan oleh lingkungan, dan
(4) penggunaan bahasa binan yang
menjadi bahasa gaul di dalam
masyarakat.
Berdasarkan keempat faktor diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa
penggunaan bahasa binan tidak semata-
mata hanya dilakukan oleh para waria,
keadaan lingkungan dan masyarakat
umum juga dapat turut serta dalam
penyebaran atau penggunaan bahasa
binan itu sendiri. Selain itu bahasa binan
telah menjadi bagian dalam bahasa gaul,
yang saat ini ke populerannya tidak
dipungkiri baik dikalangan yang muda,
remaja, anak-anak, dan orang tua.

5. DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul dan Leoni Agustina.


(2010). Sosiolinguistik Perkenalan
Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mahsun. (2014). Metode Penelitian
Bahasa Tahapan strategi, metode,
dan tekniknya. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Moleong, Lexy J. (2014). Metode
Penelitian Kualitatif. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Oetomo, Dede. (2001). Memberi Suara
Pada Yang Bisu. Yogyakarta: Galang
Press
Soeparno. (2002). Dasar-Dasar
Linguistik Umum. Yogyakarta: PT
Tiara Wacana Yogya
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian
Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta