Anda di halaman 1dari 5

Tugas Rutin (TR)

Rabu, 17 Februari 2021

Nama : Siti Zaleha

Kelas : Sasindo A 2019

Matkul : Sosiologi Sastra

Dosen Pengampu : Mhd. Anggie Januarsyah Daulay

, S.S., M.Hum

1. Rumuskan konsep sosiologi sastra dari para ahli?

Jawab :

- Pengertian Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah pendekatan sosiologis yang dilakukan kajian terhadap orientasi manusia kepada
alam semesta sehingga objek kajian yang dihasilkan oleh pengarang dan pembaca bisa menghadapi
kenyataan yang terjadi dalam masyarakat dengan sebenar-benarnya.

-Pengertian Sosiologi Sastra Menurut Para Ahli

1. Wolff, Definisi sosiologi sastra adalah cabang dari disiplin ilmu sosiologi dan sastra yang terbentuk dan
terdentifikasi dengan baik antara kesenian atau kesastraan dengan hubungan masyarakat yang ada di
dalamnya.

2. Faruk (2010), Pengertian sosiologi sastra adalah ilmu pengetahuan yang mampu menghubungkan
antara hasil karya manusia dengan kehidupan yang ada dalam masyarakat. Dengan menggunakan teori
dan juga metode penelitian yang berbeda tapi pada prinsipnya memiliki banyak kesamaan di dalamnya.

3. Wellek dan Warren (1956), Pengertian sosiolgi sastra adalah pendekatan terhadap karya sastra yang
mampu mempertimbangkan dengan segi sosial, baik perubahan sosial, lembaga sosial, dan lain
sebagainya. Sehingga karya tersebut mampu hidup dan dipertahankan oleh masyarakat.

4. Ratna (2003), Arti sosiologi sastra adalah ilmu pengetahuan yang memberikan keterkaitan erat antara
kehidupan dalam masyarakat dengan hasil karya yang dihasilkannya. Baik berupa karya nyata atapun
karya yang tidak nyata (abstrak).

5. Eagleton (1983), Pengertian sosiologi sastra adalah ilmu pengetahuan yang mampu menonjolkan
tengan hubungan manusia dengan hasil karya yang diciptakan. Sehingga karya ini sendiri mampu
diadaptasi oleh masyarakat dan bentuk yang nyata.

6. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Dalam KBBI sosiologi sastra adalah sumber ilmu pengetahuan
tentang sifat dan perkembangan suatu masyarakat tertentu yang dinilai dari pada kritikus dan sejarawan
dengan memberikan ungkapan mengenai status sosial, lapisan sosial, ideologi, kondisi ekonomi, dan lain
sebaginya.

2. Jelaskan perbedaan konsep sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra ?

Jawab :

- Konsep Sosiologi Sastra

Menurut Kamus Besar NahasaIndonesia( 1989: 855 ). sosiologi sastra merupakan pengetahuan tentang
sifat dan perkembangan masyarakat dari atau mengenai sastra karya para kritikus dan sejarawan yang
terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia
berasal, ideologi politik dan soaialnya, kondisi ekonimi serta khalayak yang ditujunya.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir daripada
perkembangan ilmu pengetahuan. Sosiologi lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu
pengetahuan, oleh karena sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya. Selanjutnya Camte berkata bahwa sosiologi dibentuk berdasarkan pengamatan
dan tidak pada spekulasi-spekulasi perihal keadaan masyarakat dan hasil- hasil observasi tersebut harus
disusun secara sistematis dan motodologis (Suekanto, 1982: 4 ).

Pendekatan sosiologi sastra jelas merupakan hubungan antara satra dan masyarakat, literature is an
exspreesion of society, artinya sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat. Maksudnya masyarakat
mau tidak mau harus mencerminkan dan mengespresikan hidup ( Wellek and Werren, 1990: 110 ).

Hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat oleh Wellek dan Werren dapat diteliti melalui:

1. Sosiologi Pengarang

Menyangkut masalah pengarang sebagai penghasil Karya satra. Mempermasalahkan status sosial,
ideologi sosial pengarang, dan ketertiban pengarang di luar karya sastra.

2. Sosiologi Karya Sastra

Menyangkut eksistensi karya itu sendiri, yang memuat isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang
tersirat dalam karya sastra itu sendiri, dan yang berkaitan masalah-masalah sosial.

3. Sosiologi Pembaca

Mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya tersebut, yakni sejauh mana dampak sosial
sastra bagi masyarakat pembacanya ( Wellek dan Werren, 1990: 111 ).

Beberapa pengertian dan pendapat di atas menyimpulkan bahwa pendekatan sosiologi sastra adalah
pendekatan terhadap karya sastra dengan tidak meninggalkan segi-segi masyarakat, termasuk latar
belakang kehidupan pengarang dan pembaca karya sastra.
-Konsep Psikologi Sastra merupakan kajian sastra yang pusat perhatiannya pada aktivitas kejiwaan baik
dari tokoh yang ada dalam suatu karya sastra, pengarang yang menciptakan karya sastra, bahkan
pembaca sebagai penikmat karya sastra.

Pendapat Para Ahli tentang Psikologi Sastra

Menurut Endaswara (2011:96), psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai
aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Karya sastra
yang dipandang sebagai fenomena psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-
tokoh jika kebetulan teks berupa drama maupun prosa.

Menurut Roekhan (dalam Endaswara, 2011:97-98) psikologi sastra akan ditopang oleh tiga pendekatan
sekaligus. Pertama, pendekatan tekstual, yang mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra.
Kedua, pendekatan reseptif-pragmatik, yang mengkaji aspek psikologis pembaca sebagai penikmat karya
sastra yang terbentuk dari pengaruh karya yang dibacanya, serta proses resepsi pembaca dalam
menikmati karya sastra. Ketiga, pendekatan ekspresif, yang mengkaji aspek psikologis sang penulis
ketika melakukan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupun
wakil masyarakatnya.

Menurut Semi, (1993:76) pendekatan psikologis adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa
karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Untuk melihat dan mengenal
manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi.

Konsep Dasar dan Kriteria Pelaksanaan Psikologi Sastra

Di dalam pelaksanaan pendekatan psikologis dalam kajian sastra hanya diambil bagian-bagian yang
berguna dan sesuai dengan pembahasan sifat dan perwatakan manusia. Berikut ini beberapa konsepsi
dasar dan kriteria yang digunakan pendekatan psikologis.

Karya sastra merupakan produk dari suatu keadaan kejiwaan pemikiran pengarang yang berada dalam
situasi setengah sadar atau subconcius setelah mendapat bentuk yang jelas dituangkan ke dalam bentuk
tertentu secara sadar atau concius dalam bentuk penciptaan karya sastra.

Mutu sebuah karya sastra ditentukan oleh bentuk proses penciptaan dari tingkat pertama, yang berada
di alam bawah sadar, kepada tingkat kedua yang berada dalam keadaan sadar.

Disamping membahas proses penciptaan dan kedalaman segi perwatakan tokoh, perlu pula mendapat
perhatian dan kajian yaitu aspek makna, pemikiran, dan falsafah yang terlihat di dalam karya sastra.

Karya yang bermutu, menurut pendekatan psikologis, adalah karya sastra yang mampu menyajikan
simbol-simbol, wawasan, perlambangan yang bersifat universal yang mempunyai kaitan dengan
mitologi, kepercayaan, tradisi, moral, budaya, dan lain-lain.
Karya sastra yang bermutu menurut pandangan pendekatan psikologis adalah karya sastra yang mampu
menggambarkan kekalutan dan kekacauan batin manusia karena hakikat kehidupan manusia itu adalah
perjuangan menghadapi kekalutan batinnya sendiri.

Kebebasan individu penulis sangat dihargai, dan kebebasan mencipta juga mendapat tempat yang
istimewa (Semi, 1993:77-78).

Secara umum berdasarkan pemaparan psikologi sastra di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra
merupakan kajian sastra yang pusat perhatiannya pada aktivitas kejiwaan baik dari tokoh yang ada
dalam suatu karya sastra, pengarang yang menciptakan karya sastra, bahkan pembaca sebagai penikmat
karya sastra. Hal tersebut dikarenakan karya sastra merupakan cerminan psikologis pengarang dan
sekaligus memiliki daya psikologis terhadap pembaca.

- Konsep Antropologi Sastra

Dapat dirunut dari kata antropologi dan sastra. Kedua ilmu itu memiliki makna tersendiri. Masing-
masing sebenarnya merupakan sebuah disiplin keilmuan humanistis. Yang menjadi bahan penelitian
antropologi sastra adalah sikap dan perilaku manusia lewat fakta-fakta sastra dan budaya. Terlebih lagi
jika pembaca mendalami sastra ajaran (niti), tentu dapat menyelami budayanya. Membatasi sastra
memang tidak mudah. Pandangan klasik memang selalu mengajak agar pembaca mendefinisikan sastra
sebagai ekspresi ajaran budaya leluhur. Definisi klasik ini rasanya memang perlu dipugar, dilakukan
redefinisi.

Antropologi adalah penelitian terhadap manusia (Keesing, 1999:2). Yang dimaksud dengan manusia
adalah sikap dan perilakunya. Menurut Haviland (1984:7) antropologi adalah penelitian tentang umat
manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat bagi manusia untuk menuntun perilaku
dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman budaya. Pendapat ini
memang masih tergolong klasik sebab awalnya antropologi memang sering membuat generalisasi.

Antropologi sastra berupaya meneliti sikap dan perilaku yang muncul sebagai budaya dalam karya
sastra. Manusia sering bersikap dan bertindak dengan tata krama. Tata krama memuat tata susila dan
unggah-ungguh bahasa yang menjadi ciri sebuah peradaban. Sastra sering menyuarakan tata krama
dalam interaksi budaya satu sama lain yang penuh simbol. Dalam konteks antropologi sastra, sastra
adalah karya yang merefleksikan budaya tertentu. Secara umum, antropologi diartikan sebagai suatu
pengetahuan atau penelitian terhadap sikap dan perilaku manusia.

Sebagai ilmu, antropologi jelas sudah tua umurnya. Antropologi yang bercirikan meneliti bangsa primitif
kini telah berubah. Antropologi pun belakangan tidak hanya mempelajari manusia secara nyata, tetapi
juga membaca sastra. Sastra adalah karya tentang sikap dan perilaku manusia secara simbolis. Sastra
dan antropologi selalu dekat. Keduanya dapat bersimbiosis dalam mempelajari manusia lewat ekspresi
budaya. Sastra banyak menyajikan fakta-fakta imajinatif. Antropologi yang bergerak dalam fakta
imajinatif dapat disebut antropologi sastra. Interdisiplin ini memang tidak dikenal di Jurusan
Antropologi, tetapi mewarnai penelitian di Jurusan Sastra.
Konsep penting antropologi sastra adalah seperti yang dinyatakan Benson (1993:250) tentang
anthropological poetry, artinya wawasan antropologis terhadap cipta puisi. Biarpun dia belum
menyebutkan istilah antropologi sastra, melainkan istilah antropologi puisi, jelas cukup beralasan kalau
ilmu itu dipelajari lewat antropologi sastra. Antropologi sastra tampaknya merupakan pengembangan
anthropology experience yang digagas Turner dan Bruner (Benson, 1993:46). Pandangan ini tampaknya
terusik oleh gagasan etnografi fiksi yang berkembang di era posmodernisme. Jagat posmodernisme
sastra dan antropologi telah berlari jauh ke depan. Sastra bukan hanya sebuah artefak yang penuh
estetika, melainkan juga memuat sebuah budaya yang berisi etika.

Antropologi sastra dalam pandangan Poyatos (1988:331-335) adalah ilmu yang mempelajari sastra
berdasarkan penelitian antarbudaya. Penelitian budaya dalam sastra tentu diyakini sebagai sebuah
refleksi kehidupan. Memang harus diakui bahwa penelitian yang dimaksud itu sering berkembang pesat
menjadi tiga arah, yaitu (1) penelitian terhadap budaya sastrawan yang disebut antropologi pengarang,
ditelaah sisi antropologisnya dengan mewawancarai dan mengamati kehidupan budaya pengarang; (2)
penelitian teks sastra yang meneliti refleksi sastra sebagai pantulan budaya; (3) penelitian terhadap
antropologi pembaca yang secara reseptif memiliki andil penting dalam pemaknaan sastra.