Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN SQUAMOUS CELL CARCINOMA (SCC)

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

PROFESI NERS

OLEH

NI KADEK WIRATI

2002621046

PROGRAM STUDI SARJANA ILMU KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2021

1. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. DEFINISI
Karsinoma sel skuamosa merupakan salah satu jenis kanker yang berasal dari
lapisan tengah epidermis. Jenis kanker ini menyusup ke jaringan di bawah kulit
(dermis). Kulit yang terkena tampak berwarna coklat-kemerahan dan bersisik atau
berkerompeng dan mendatar, kadang menyerupai bercak pada psoriasis, dermatitis
atau infeksi jamur. Karsinoma sel skuamosa dapat tumbuh dalam setiap epitel
berlapis skuamosa atau mukosa yang mengalami metaplasia skuamosa. Jadi
bentuk kanker ini dapat terjadi misalnya di lidah, bibir, esofagus, serviks, vulva,
vagina, bronkus atau kandung kencing. Pada permukaan mukosa mulut mulut atau
vulva, leukoplakia merupakan predisposisi yang penting. Tetapi kebanyakan
karsinoma sel skuamosa tumbuh di kulit (90-95%). Sistem yang sering digunakan
dalam klasifikasi stadium kanker adalah sistem tumor-nodus-metastase (TNM),
yaitu T menunjukkan besarnya tumor primer (T1 = kecil; T4 = masif), N untuk
metastase ke kelenjar getah bening, dan M untuk menentukan adanya metastase ke
organ atau tempat lain.
B. EPIDEMIOLOGI
jarang terdeteksi hingga seorang individu mengalami suatu keadaan yang
mengganggu fungsi normal dari mulut. 3 Kanker rongga mulut terdapat pada
posisi teratas dalam urutan enam jenis keganasan yang paling umum terjadi di
Asia. 4 Perkiraan insiden kanker rongga mulut setiap tahunnya adalah 275.000
dan dua pertiga kasus tersebut terjadi di negara berkembang. Beberapa area di
dunia dengan insiden tertinggi untuk kanker rongga mulut adalah di Asia Selatan
dan Asia Tenggara, Eropa bagian Barat dan Timur, Amerika Latin dan Karibia
dan bagian Pasifik. Pada negara-negara yang memiliki risiko tinggi untuk insiden
kanker rongga mulut seperti Sri Lanka, India, Pakistan dan Bangladesh, kanker
rongga mulut pada negara-negara tersebut terjadi lebih sering pada laki-laki.
Tingginya insiden kanker rongga mulut pada beberapa populasi, sangat erat
kaitannya dengan gaya hidup mereka. Sehingga, untuk menurunkan insiden dan
mortalitas dari kanker rongga mulut, dibutuhkan pengukuran kesehatan
masyarakat tersebut. Angka kejadian pada umur yang sudah distandardisasikan
(Age Standardized Incidence Rate) per 100.000 populasi ditemukan dengan angka
terendah pada negara Cina, dan angka tertinggi pada negara Sri Lanka. Sedangkan
nilai Age Standardized Incidence Rate (ASIR) pada negara Sri Lanka, Taiwan,
Bangladesh, India dan Pakistan melebihi nilai ASIR dunia yaitu 10,5 untuk pria
dan 4,02 untuk wanita. Nilai ASIR pada negara Thailand, Hong Kong dan
Singapura dibawah nilai ASIR dunia. Pada penelitian di Taiwan, rata-rata nilai
ASIR per 100.000 populasi adalah 25,74 untuk pria dan 3,61 untuk wanita. Di
India, nilai ASIR pada pria adalah 12,7/100.000 dan pada wanita adalah
10,0/100.000. Negara lain seperti Hong Kong, Filipina, Singapura, Jepang,
Vietnam, Cina dan Israel memiliki angka insiden yang rendah yaitu kurang dari
6/100.000 baik pada pria dan wanita. Penyakit kronik ini merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang terjadi baik di negara maju atau negara berkembang.
Beban dari kanker rongga mulut sangat besar karena berhubungan dengan
tingginya biaya terapi, kecacatan yang bersifat permanen dan tingginya mortalitas.
Prevalensi dari kanker rongga mulut tertinggi terjadi pada negara-negara di Asia,
terutama Asia Tenggara. Orang-orang Asia mempunyai kebiasaan tradisi seperti
mengunyah sirih, konsumsi tembakau yang beragam dan konsumsi alkohol,
dimana hal-hal tersebut merupakan faktor risiko penting untuk kanker rongga
mulut. Hal tersebut didukung oleh studi Syafriadi yang menunjukkan angka
insiden kanker rongga mulut yang cukup tinggi di di Rumah Sakit DR. Soetomo
Surabaya pada tahun 1998 sampai 2007. 5 Oleh karena cukup tingginya angka
kejadian kanker rongga mulut yang terjadi di negara-negara di benua Asia
termasuk di dalamnya negara Indonesia
C. ETIOLOGI

Faktor-faktor etiologi terbanyak yang berkaitan dengan karsinoma sel skuamosa


adalah pemakaian tembakau, konusmsi alkohol dan adanya infeksi virus.
Termasuk tembakau yang dibakar maupun yang tidak dibaka. Walaupun sebagian
besar penderita perokok dan peminum alkohol, sebanyak 10% penderita
karsinoma sel skuamosa tidak mengaku menggunakan tembakau atau alcohol,
orang-orang ini cenderung pria atau wanita yang lebih tua.
Faktor resiko :
1. Faktor genetik
2. Usia tua lebih dari 50 tahun
3. Jenis kelamin laki-laki
4. Geografi
5. Paparan sinar matahari UV dengan kumulatif tinggi
6. Paparan karsinogen kimia
7. Imunosupresi klinis
8. Infeksi Human Papiloma Virus

D. PATOFISIOLOGI
Karsinoma sel skuamosa dapat tumbuh de novo, tetapi lebih sering suatu proses
evolusi yang mirip dengan yang tampak pada serviks uteri. Perubahan pra kanker
dalam mulut menjelma sebagai dua bantuk klinik. Bercak putih, datar yang tidak
diketahui penyebabnya selain yang ada hubungan dengan pemakaian tembakau
dan tidak hilang bila dikerok, disebut leokoplakisa. Bercak-bercak merah yang
tidak ada hubugan dengan rangsangan radang eritroplakia.
Karsinoma skuamosa invasive kebanyakan didapati pada tepi lateral lidah dan
dasar mulut; sangat jarang pada palatum dan dorum lidah. Pulau-pulau tumor yang
invasive bermetastasis melalui pembuluh darah limfa dan mengenai kelenjar getah
bening supraomohiod dan servikal. Penyebaranya melalui pembuluh darah
merupakan skuele terakhir dan biasanya sebagai akibat, metastasis kelenjar getah
bening yang menjalar ke duktus torakikus masuk vena sistemik

E. GEJALA KLINIS

Karsinoma sel skuamosa invasif secara klinik ditandai lesi yang ulseratif dan
induratif. Sering daerah ulserasi menunjukkan tepi melingkar, melipat dan mukosa
yang berdekatan dapat menunjukkan batas-batas yang tampak leukoplakia dan
atau eritroplakia. Bila kelenjar servikal yang terkena metastasis sudah mencapai
dimensi cukup besar, dapat diraba, membengkak dan melekat (berbeda dengan
limadenopati yang dapat digerakkan, lunak dan nyeri tekan bila sebagai akibat
penyakit radang). Secara mikroskopik, karsinoma skuamosa menunjukkan sarang-
sarang dan pulau-pulau sel epitel invasif dengan berbagai derajat diferensiasi
(misalnya keratinisasi). Stroma jaringan ikat biasanya memiliki infiltrasi sel-sel
radang mononuklear. Derajat radang dapat merupakan ukuran reaktivitas imun
terhadap antigen-antigen tumor.

F. PEMERIKSAAN FISIK
Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
1) Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah
2) Perasaan gelisah dan ansietas
3) Pembatasan aktivitas/kerja sehubungan dengan proses penyakit
b. Sirkulasi
1) Tanda: Bradikardia (Hiperbilurubinemia berat) ikterik pada sclera, kulit,
membran mukosa.
c. Eliminasi
1) Gejala: Urin gelap. Diare/konstipasi: Feses warna tanah liat.
Adanya/berulangnya Hemodialisa.
d. Makanan/Cairan
1) Gejala: Hilang nafsu makan (Anoreksia), penurunan BB atau meningkat
(Edema), mual/muntah.
2) Tanda: Asites
e. Neurosesori
1) Tanda: Peka terhadap rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis
f. Integritas ego
1) Gejala: Ansietas, ketakutan, perasaan tak berdaya
2) Tanda: menolak, depresi
g. Nyeri/Kenyamanan
1) Gejala: Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas. Mialgia, artalgia,
sakit kepala, gatal (Pruritus).
2) Tanda: Otot tegang, gelisah.
h. Pernafasan
1) Gejala: Tidak minat/enggan merokok (bagi perokok)
i. Keamanan
1) Gejala: Adanya transfusi darah/produk darah
2) Tanda: Demam, urtikaria, lesimakulopapular, eritema tak beraturan, eksaserbasi
jerawat, splenomegals, pembesaran modus servikal posterion.
j. Seksualitas
1) Gejala: Pola hidup/perilaku meningkatkan resiko terpajan (contoh homoseksual
k. Interaksi sosial
1) Gejala: masalah hubungan/peran berkaitan dengan kondisi
2) Ketidakmampuan aktif secara sosial

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosa ditegakkan melalui pemeriksaan klinis dan pemeriksaan mikroskopis
melalui biopsi. Seringkali, biopsi ditunda karena keputusan dari dokter maupun
pasien, terdapat infeksi atau iritasi lokal. Tetapi, penundaan tersebut tidak boleh
lebih dari 3-4 minggu. Kadang, luasnya lesi menyulitkan untuk melakukan biopsi
yang tepat untuk membedakan displasia atau kanker. Oleh sebab itu tambahan
penilaian klinis lainnya dapat membantu mempercepat biopsi dan memilih daerah
yang tepat untuk melakukan biopsi. Penggunaan cairan toluidine blue sangat
berguna sekali, karena keakuratannya (lebih dari 90%), murah, cepat, sederhana
dan tidak invasif. Mekanisme kerjanya dengan afinitas atau menempelnya
toluidine blue dengan DNA dan sulfat mukopolisakarida, sehingga dapat
dibedakan apakah terjadi displasia atau keganasan dengan epitel yang normal dan
lesi jinak. Toluidine blue berikatan dengan membran mitokondria , dimana terikat
lebih kuat pada epitel sel displasia dan sel kanker daripada dengan jaringan
normal. Sitologi eksfoliatif telah membantu dalam menentukan diagnosa. Namun,
kesulitan pengumpulan sel, waktu yang lama dan biaya yang mahal telah
membatasi penggunaannya. Teknik brush biopsy secara luas digunakan pada
sitologi dengan pengumpulan sel yang mewakili keseluruhan epitel berlapis
skuamosa. Prosedurnya tidak menyebabkan sakit, oleh sebab itu tidak perlu
penggunaan anestetikum.

H. KRITERIA DIAGNOSIS
Berdasarkan gambaran histopatologis, terdapat beberapa diagnosis banding KSB,
yaitu KSS dan trikoepitelioma.
1. Diagnosis KSB ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, yaitu
status dermatologis, dan pemeriksaan histopatologis. Sediaan untuk
pemeriksaan histopatologis harus mewakili lesi tumor dan disertai interpretasi
yang akurat. Metode biopsi yang disarankan adalah shave biopsy dan biopsi
plong. Bila dapat diambil jaringan yang lebih luas serta efek samping berupa
pembentukan sikatriks bisa minimal, maka dapat dilakukan eksisi elips (biopsi
eksisional) dengan batas 3 mm - 4 mm. Jika ditemukan lesi yang luas, dapat
dilakukan biopsi insisional, yaitu biopsi plong kecil (2 mm - 3 mm), atau
shave biopsy.
2. Perbedaan utama antara KSB dan KSS adalah pada warna sel. Sel pada KSB
terwarnai sangat basofilik, sedangkan sel KSS (terutama pada lesi dengan
tingkat rendah) terwarnai eosinofilik akibat keratinisasi parsial. Pada KSS
derajat tinggi, sel terlihat basofilik akibat tidak terjadi keratinisasi. Keratinisasi
pada KSB hanya terjadi secara parsial yang kemudian akan menghasilkan
kelompokan parakeratosis dan whorls (seperti ulir), atau proses keratinisasi ini
dapat juga terjadi secara sempurna yang akan memberikan gambaran kista
tanduk (horn cyst). Selain itu, pada KSS terlihat gambaran inti yang lebih
atipikal serta mitosis yang lebih jelas. Pada KSB terdapat gambaran retraksi
masa sel tumor dari jaringan ikat di sekitarnya yang tidak ditemukan pada
KSS.
3. Gambaran histopatologis trikoepitelioma yang menyerupai KSB (terutama tipe
morfeaformis) adalah trikoepitelioma desmoplastik. Kedua tumor ini
menunjukkan gambaran deretan tipis sel basaloid yang berada di stroma
fibrosa dan padat, tetapi trikoepitelioma desmoplastik menunjukkan gambaran
kista tanduk yang banyak dan tidak didapatkan retraksi tumor.
I. THERAPHY / TINDAKAN

Evaluasi yang cermat terhadap gejala dan simptom sangat penting, termasuk
didalamnya biopsi dan follow- up yang rutin. Pembedahan dilakukan dengan
biopsi insisi menggunakan skapel bila lesi berukuran 5 mm. Teknik ini cepat,
tidak banyak merobek jaringan dan hanya diangkat sedikit sampling. Apabila
ukuran tumor kecil, dapat dilakukan biopsi insisi ataupun eksisi, apabila sulit
membedakan antara displasia dengan karsinoma, dianjurkan menggunakan biopsi
insisi. Jika hasil biopsi tersebut menunjukkan sel karsinoma skuamosa (terdapat
invasi sel displasia ke jaringan ikat), klinisi dapat merencanakan terapi kanker.
Terapi yang potensial diantaranya pembedahan atupun terapi radiasi. Kadang
kemoterapi digunakan sebagai tambahan, namun beberapa tumor kurang responsif
terhadap kemoterapi. Pemilihan terapi tergantung dari stadium kanker, stadium
dini (kecil dan terlokalisasi), stadium lanjut (besar dan menyebar). Evaluasi
menggunakan teknik pencitraaan yang lebih baik kualitasnya seperti MR
(magnetic resonance) dan CT (computed tomography) sangat dibutuhkan. Teknik
terbaru yaitu menggunakan PET (positron emission tomography), bisa
menentukan metastase ke kelenjar limfe. Teknik ini berguna bagi klinisi untuk
membedakan batas dan rencana terapi, juga menentukan prognosisnya. Follow-up
berkala perlu dilakukan pada lesi prekanker, bahkan bila lesi tersebut menghilang,
dan bila terus berlanjut perlu dilakukan pembedahan. Pada tepi lesi yang secara
klinis dan mikroskopis terlihat normal, bisa menjadi permasalahan dan bisa terjadi
rekurensi. Penggunaan teknik laser sangat berguna pada terapi kanker dan dapat
mengontrol leukoplakia. Pencegahan menggunakan analog vitamin A (retinoid)
dan antioksidan lain (beta karoten, vitamin C, E) kurang efektif, berdasarkan teori,
antioksidan tersebut dapat membantu menjaga sel-sel tubuh dari radikal bebas,
yang merupakan promotor terjadinya mutagenesis kromosom dan karsinogenesis.
Yang menjadi permasalahan pada penggunaan antioksidan ini adalah toksisitasnya
dan rekurensinya ketika antioksidan ini tidak dilanjutkan. Efektifitas antioksidan
tergantung pada dosis, regimen dan individu pasien. Dapat pula dengan
pendekatan nutrisional dengan diet kaya buah-buahan dan sayur-sayuran, karena
banyak mengandung antioksidan dan protein supresor-sel yang membantu
mengurangi aktifitas mutagenesis dan karsinogenesis.
Pengenalan dan pengontrolan lesi pre-kanker efektif mengurangi angka morbiditas
dan mortalitas kanker mulut

J. KOMPLIKASI

Karsinoma sel skuamosa tidak diobati dapat merusak jaringan sehat di dekatnya,
menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lainnya, dan dapat berakibat fatal,
meskipun hal ini jarang terjadi. Risiko karsinoma sel skuamosa agresif dapat
ditingkatkan dalam kasus di mana kanker: Sangat besar atau mendalam;
Melibatkan selaput lendir, seperti bibir; Terjadi pada orang dengan sistem
kekebalan yang lemah, seperti seseorang yang mengambil obat anti-rejection
setelah transplantasi organ

2. KONSEPDASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan adalah identifikasi/analisis masalah (diagnosa
keperawatan), perencanaan, implementasi dan evaluasi. Proses keperawatan
menyediakan pendekatan pemecahan masalah yang logis dan teratur untuk
memberikan asuhan keperawatan sehingga kebutuhan pasien terpenuhi secara
komprehensif dan efektif.

Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
1) Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah
2) Perasaan gelisah dan ansietas
3) Pembatasan aktivitas/kerja sehubungan dengan proses penyakit
b. Sirkulasi
1) Tanda: Bradikardia (Hiperbilurubinemia berat) ikterik pada sclera, kulit,
membran mukosa.
c. Eliminasi
1) Gejala: Urin gelap. Diare/konstipasi: Feses warna tanah liat.
Adanya/berulangnya Hemodialisa.
d. Makanan/Cairan
1) Gejala: Hilang nafsu makan (Anoreksia), penurunan BB atau meningkat
(Edema), mual/muntah.
2) Tanda: Asites
e. Neurosesori
1) Tanda: Peka terhadap rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis
f. Integritas ego
1) Gejala: Ansietas, ketakutan, perasaan tak berdaya
2) Tanda: menolak, depresi
g. Nyeri/Kenyamanan
1) Gejala: Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas. Mialgia, artalgia,
sakit kepala, gatal (Pruritus).
2) Tanda: Otot tegang, gelisah.
h. Pernafasan
1) Gejala: Tidak minat/enggan merokok (bagi perokok)
i. Keamanan
1) Gejala: Adanya transfusi darah/produk darah
2) Tanda: Demam, urtikaria, lesimakulopapular, eritema tak beraturan, eksaserbasi
jerawat, splenomegals, pembesaran modus servikal posterion.
j. Seksualitas
1) Gejala: Pola hidup/perilaku meningkatkan resiko terpajan (contoh homoseksual
k. Interaksi sosial
1) Gejala: masalah hubungan/peran berkaitan dengan kondisi
2) Ketidakmampuan aktif secara sosial
l
Data subjektif Data objektif
Pasien mengatakan nyeri dengan skala Pasien menunjukan ekspresi wajah
5 nyeri
Pasien mengatakan kulit terasa gatal Kulit tampak terdapat bercak
Pasien mengatakan adanya luka terbuka Tampak adanya luka terbuka
Keluarga mengatakan tidak mengetahui Keluarga tampak tidak bisa merawat
carav perawatan pasien pasien dengan baik

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


a. Nyeri berhubungan dengan Agen-agens penyebab cedera (biologis,kimia, fisik
dan psikologis)
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya, gangguan pada
kountiniunitas jaringan
c. Resko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
perawatan di rumah
C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Diagnosis Outcome Intervensi Rasional


1 Nyeri Setelah diberikan asuhan 1. Mengkaji tingkat nyeri, 1. Nyeri tajam, intermitten
berhubunga keperawatan selama 1 x 24jam skala, intensitas, lokasi sekitar daerah perdarahan
n dengan diharapkan nyeri yang dan penyebarannya 2. Perubahan TTV yang
Agen-agens dirasakan pasien dapat 2. Observasi TTV signifikan merupakan
penyebab berkurang dengan kriteria hasil 3. Berikan rasa nyaman indikator nyeri
cedera : (sentuhan, teraupetik) dan 3. Untuk memberikan rasa
(biologis,ki dorong penggunaan teknik nyaman dan mengurangi
mia, fisik 1. Pasien mengungkapkan relaksasi (latihan nafas rasa nyeri
dan peningkatan dalam) 4. Relaksasi dengan nafas
psikologis) kenyamanan 4. Kolaborasi pemberian obat dalam mengurangi rasa
2. Pasien Menunjukkan analgetik nyeri dan memperlancar
efek relaks sirkulasi O2 ke seluruh
3. Klien mengungkapkan tubuh.
rasa nyeri hilang atau
berkurang
4. Tanda-tanda vital
normal
5. Pasien tampak tenang
dan relaks
2 Kerusakan Setelah diberikan asuhan 1. Anjurkan pasien untuk 1. Pakaian yang longgar akan
integritas keperawatan selama 1 x 24 menggunakan pakaian memperlancar sirkulasi
kulit jam diharapkan integritas kulit yang longgar pada kulit
berhubunga pasien membaik dengan 2. Hindari kerutan padaa 2. Kerutan pada tempat tidur
n dengan kriteria hasil : tempat tidur dapat mengakibatkan
terputusnya, Tissue Integrity : Skin and 3. Jaga kebersihan kulit agar tekanan yang dapat merusak
gangguan Mucous Membranes tetap bersih dan kering kulit
pada 1. Integritas kulit yang 4. Mobilisasi pasien (ubah 3. Menjaga kebersihan
kontinuitas baik bisa dipertahankan posisi pasien) setiap dua bertujuan untuk mencegah
jaringan (sensasi, elastisitas,    jam sekali terjadinya proses infeksi
temperatur, hidrasi, 5. Monitor kulit akan adanya 4. Mobilisasi penting
pigmentasi) kemerahan dilakukan untuk
2. Tidak ada luka/lesi 6. Oleskan lotion atau mempertahankan fungsi otot
pada kulit minyak/baby oil pada
3. Perfusi jaringan baik derah yang tertekan
4. Menunjukkan 7. Monitor aktivitas dan
pemahaman dalam mobilisasi pasien
proses perbaikan kulit 8. Monitor status nutrisi
dan mencegah pasien
terjadinya sedera
berulang
5. Mampu melindungi
kulit dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami
3 Resiko Setelah diberikan 1. Mengkaji adanya tanda- 1. Mencegah secara dini tanda-
infeksi asuhankeperawatan selama 1 x tanda infeksi seperti: tanda infeksi dan untuk
berhubunga 24 jam diharapkan pasien kolor, rubor, dolor, tumor memudahkan tindakan
n dengan dapat terhindar dari dan functiolaesia selanjutnya
pertahanan terjadinyaresiko infeksi 2. Observasi TTV 2. Peningkatan TTV
primer tidak dengan kriteria hasil : 3. Bersihkan luka dengan merupakan salah satu
adekuat 1. Luka sembuh dengan teknik septik dan aseptik indikasi adanya infeksi
adekuat 4. Kolaborasi pemberian 3. Menurunkan resiko
2. Jaringan sekitar bersih, antibiotik kolonisasi bakteri
kering dan utuh 4. Antibiotik berguna utk
3. Tidak adanya tanda- menghambat dan mencegah
tanda infeksi seperti perkembangan
pus mikroorganisme penyebab
4. Luka bersih tidak infeksi
lembab dan tidak kotor
5. Tanda-tanda vital
normal
4 Kurang Setelah diberikan asuhan 1. Kaji tingkat kecemasan 1. Mengetahui tingkat
pengetahuan keperawatanselama 1 x 24 jam klien kecemasan klien utk
berhubunga diharapkan pasien mampu 2. Menjelaskan setiap menentukan tindakan
n dengan Mengungkapkan pemahaman langkah/tindakan asuhan keperawatan selanjutnya
kurangnya tentang perawatan nyeri dan yang diberikan sesuai 2. Informasi dan pengetahuan
informasi luka, Berpartisipasi dalam kebutuhan yang diberikan berguna bagi
tentang tindakan yang dibutuhkan dan 3. Berikan kesempatan klien klien untuk mengurangi
perawatan Mendemonstrasikan mengungkapkan kecemasan
kemampuan untuk melakukan perasaannya 3. Memudahkan klien dr stress
perawatan dengan kriteria hasil 4. Anjurkan pada keluarga luar, meningkatkan
: klien agar selalu memberi keterampilan koping
1. Klien dan keluarga motivasi kepada klien. 4. Agar klien dpt mengerti
mengungkapkan tentang penyakitnya
pemahaman tentang
proses penyakit dan
perawatan/pengobatan
DAFTAR PUSTAKA
Damayanti,T.A,Setiawan,I,G,B (2016) Angka Kejadian dan gambaran
Klinopatologi kanker rongga mulut di Bali pada Periode Januari 2015-
oktober 2016. E-Jurnal Medika. Vol.7(2)
Judith,Wilson (2012) Buku Saku Keperawatan. Jakarta : ECG
Mansjoer,Arif (2000) Kapita Selekta Kedokteran . Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Miryana,W (2013) Gambaran Histopatologi Karsinoma Sel Basal. FK Universitas
Brawijaya/ RSU Dr. Saiful Anwar Malang
Suzzane,C.Smeltzer,Brenda G.Bare (2002) Keperawatan Medikal
Bedah.Vol.1:Jakarta:ECG