Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PERCOBAAN PENJERNIHAN AIR

A. Maksud Percobaan
Maksud percobaan adalah mengadakan percobaan penjernihan air
untuk keperluan penyediaan air bersih. Percobaan dilakukan dengan
menggunakan instalasi penjernihan air sederhana.

B. Dasar Teori

1. Macam teknologi penjernihan/pengolahan air


Berkaitan dengan karakteristik air, maka teknologi pengolahan yang
diterapkan akan berbeda pula. Menurut sifat-sifat pengolahannya, dapat
dibedakan atas :
a. Pengolahan fisik (penyaringan bahan kasar, aerasi, pencampuran,
flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi),
b. Pengolahan kimiawi (koagulasi, desinfeksi, pelunakan air, absorbsi,
oksidasi),
c. Pengolahan khusus (penghilangan bau dan rasa, pembuangan besi dan
mangaan, pembuangan garam),
Sedangkan bila ditinjau maksudnya, maka pengolahan air dimaksudkan
untuk :
a. Penghilangan kekeruhan, warna, rasa, dan bau,
b. Penghilangan unsur Fe dan Mn,
c. Penghilangan karbon dioksida agresif,
d. Penghilangan kesadahan,
e. Penghilangan kadar garam,
f. Penghilangan bakteri patogen.

2. Prinsip instalasi penjernihan air sederhana

1
Instalasi ini menggunakan peralatan dan bangunan yang sederhana
sehingga biaya pembangunannya relatip murah. Instalasi ini sesuai untuk
penduduk pedesaan di dataran rendah, apabila sulit didapatkan air bersih.
Debit air bersih yang dihasilkan 1 - 2 liter/detik, sehingga satu instalasi dapat
mensuplai air untuk 1000 - 2000 orang (asumsi 1 liter/detik untuk 1000 orang).
Instalasi yang dimaksud berupa bangunan yang terdiri dari bak
pengendap pendahuluan, saluran pencampur, saluran pengendap, saringan
pasir cepat, dan bak tando (lihat gambar). Adapun perlengkapan yang
diperlukan adalah bak larutan tawas dan pompa air.

2
C. Alat / Instalasi dan Bahan

1. Denah instalasi

3
2. Alat percobaan
a. Flokulator (Alat untuk Jar-test).
b. Perlengkapan instalasi :
1) pompa air & selang,
2) drum larutan tawas.
c. Alat ukur debit :
1) mistar ukur,
2) pelampung (menggunakan bola ping-pong),
3) stopwatch.
d. Alat ukur kualitas air :
1) DHL-meter.
2) pH-meter (pH-stick).
3) Turbidimeter.
e. Alat laboratorium :
1) botol sampel.
2) gelas ukur,
3) tabung reaksi,
4) rak tabung reaksi,
5) pipet tetes,
6) beaker glass,
7) pengaduk.

3. Bahan percobaan
a. Air sungai / selokan.
b. Tawas ( 25 mg/ml )
c. Aquades
d. Larutan standar Fe
e. Larutan Asam Sulfat 4 N ( H2SO4 4N ).
f. Larutan Kalium Permanganat ( KMnO4 0,1 N ).
g. Larutan Ammonium Rodanida ( NH4CNS 20 % ).

4
D. Pelaksanaan
Pelaksanaan percobaan dibagi dalam empat bagian, yaitu : Jar test,
pengoperasian instalasi penjernihan air dan pemeriksaan kualitas air baik di
instalasi (pH, DHL, kekeruhan), maupun di laboratorium (kadar Fe).

1. Jar test
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan dosis optimum dari larutan
tawas yang akan diberikan pada air sungai/selokan yang akan dijernihkan.
a. Isikan air sampel masing-masing sebanyak 1000 ml ke dalam 6 gelas piala
dan pasang pada Flokulator,
b. Tambahkan tawas berturut-turut sejumlah : 0; 2; 4; 6, 8 dan 10 ml ke dalam
masing-masing gelas piala,
c. Aduk air sampel secara serentak dengan mengoperasikan Flokulator (lihat
petunjuk pengoperasian terlampir) pada pengadukan cepat ( 150 rpm )
selama 3 menit dan pengadukan perlahan-lahan ( 75 rpm ) selama 5
menit,
d. Diamkan air sampel selama 20 menit dan amati flok/jonjot-jonjot yang
terbentuk,
e. Ukur kekeruhan air di setiap gelas piala dan catat nilainya,
f. Dosis optimum dapat ditentukan dari gelas yang paling banyak terbentuk
flok/ jonjot, atau air yang nilai kekeruhannya paling rendah.

2. Pengoperasian instalasi penjernihan air


a. Air sungai/selokan dipompa ke bak pengendap awal,
b. Menentukan debit aliran pada saluran pengaduk dan saluran pengendapan,
dengan cara mengukur dimensi (luas tampang basah) saluran dan
mengukur waktu tempuh pelampung untuk jarak 1 m sepanjang saluran,
c. Tentukan debit larutan tawas dari hasil pengukuran debit aliran pada
saluran dan dosis optimum larutan tawas pada jar test,
d. Kran pada drum tawas diatur sedemikian rupa dengan “trial and error”
dengan cara mengukur waktu pengisian larutan ke dalam gelas ukur,
sehingga diperoleh debit larutan tawas yang diinginkan,

5
e. Proses pengadukan akan terjadi di saluran pencampur, dan diendapkan
di saluran pengendapan,
f. Dalam selang waktu sepuluh menit (menit ke 0, 10, 20, 30) ambil sampel
pada tempat-tempat yang telah ditentukan,
g. Ukur pH, DHL dan kekeruhan air pada tiap-tiap sampel berturut-turut
dengan menggunakan pH-meter (atau pH-stick), DHL meter dan
Turbidimeter.

3. Pemeriksaan laboratorium
a. Pembuatan larutan standar Fe
1) Isilah 5 tabung reaksi masing-masing dengan 10 ml aquadest,
2) Tambahkan larutan Fe standar berturut-turut sebanyak 0, 1, 2, 3, 4,
tetes ke dalam tiap tabung reaksi,
3) Tambahkan lima tetes larutan H2SO4 4 N dan lima tetes larutan
KMnO4 0,1 N ke dalam tiap tabung reaksi sehingga berwarna merah
muda,
4) Tambahkan lima tetes larutan NH4CNS 20 % pada tiap tabung,
sehingga warna merah muda hilang, dan timbul deretan larutan yang
warnanya dari jernih ke coklat kekuningan, yang bergradasi sesuai
dengan kandungan Fe yang ditambahkan.

b. Pemeriksaan sampel
1) Siapkan tabung reaksi sesuai jumlah sampel yang akan diperiksa,
dan isi tiap tabung reaksi dengan 10 ml sampel,
2) Tambahkan lima tetes larutan H2SO4 4 N dan lima tetes larutan
KMnO4 0,1 N ke dalam tiap tabung reaksi sehingga berwarna merah
muda. Jika warna merah muda hilang tambahkan beberapa tetes
KMnO4 0,1 N hingga warna menjadi stabil,
3) Tambahkan lima tetes larutan NH4CNS 20 % pada tiap tabung ,
sehingga timbul warna kuning atau coklat atau jernih, dan
bandingkan dengan larutan standar,
4) Kandungan Fe dalam larutan dapat diketahui dari perbandingan
dengan larutan standar, hitung kandungan Fe dalam satuan mg/l.

6
F. Data
Data diperoleh dari hasil pengukuran di instalasi percobaan maupun dari
hasil analisis sampel di laboratorium

G. Hitungan

1. Perhitungan kecepatan aliran air


a. panjang = L cm
b. waktu rerata, tr = 1/3 (t1+t2+t3) detik
c. kecepatan aliran , v = L/ tr (cm/detik)

2. Pengukuran debit aliran


a. luas tampang basah, A = b x h (cm2)
b. debit aliran, Q = A x v (cm3/det) = ... (cm3/det) = L/det

3. Pengukuran debit larutan tawas


a. satu ml larutan tawas mengandung = 0,025 x 103 mg tawas = a mg
b. dosis optimum hasil jar test = n ml/l air (b)
c. dosis optimum tawas = (a) x (b) mg/l
d. debit larutan tawas = Q x (b) ml/detik

4. Perhitungan kadar Fe
a. Fe = ( 100 x n x 0,2 ) / (10 x 20) mg/l
b. n jumlah tetes larutan standar Fe

H. Pembahasan
1. Kualitas air pada percobaan : perubahan kualitas air (pH, DHL, kekeruhan
dan Fe) sejak dari air baku, setelah pembubuhan koagulan, dan air bersih
di reservoir (disertai dengan grafik).
2. Bandingkan kualitas air dari hasil percobaan dengan syarat kualitas air
bersih yang berlaku (Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990).
3. Berdasarkan debit air yang dihasilkan, tentukan jumlah orang yang dapat
disuplai air bersih dari instalasi percobaan.
7
I. Kesimpulan dan saran
Kesimpulan memuat hasil akhir dari percobaan, dapat berupa angka
ataupun uraian penyelesaian.

J. Lampiran
🢧 Sketsa alat

🢧 Laporan sementara