KELOMPOK SGD 3:
Ni Wayan Novita Sari Dewi (1902551004)
Nabilah Rafifah Putri Hidayat (1902551005)
Elimia Leoni Putri (1902551008)
Yoshe Kartika Sentosa (1902551012)
Elizabeth Hendrawan (1902551026)
Komang Ayu Juni Adiyanti (1902551027)
I Ketut Suandika Dharma Yanta (1902551030)
Made Nadia Maharani (1902551035)
Nyoman Ari Pranata (1902551047)
TOPIK 9
“KEGAGALAN PADA PERAWATAN ENDODONTIK”
1. Jelaskan definisi kegagalan perawatan endodontik!
Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan
perawatan endodontik. Perawatan saluran akar yang dilakukan dengan benar telah
menunjukkan keberhasilan lebih dari 95% kasus. Kegagalan endodontik merupakan
ketidakberhasilan atau kesalahan dalam perawatan endodontik saat preoperative,
operative, dan post operative serta tidak dapat dinilai dengan kriteria evaluasi tertentu
tetapi sebaliknya, keberhasilan atau kegagalan perawatan endodontik dapat dievaluasi
dari kombinasi berbagai kriteria seperti kriteria klinis, histopatologi, dan radiografi.
Perawatan endodontik yang buruk sering mengakibatkan kegagalan perawatan.
Kegagalan terapi endodontik biasanya didasarkan pada pengamatan gejala klinis atau
radiographic examination. Restorasi akhir perawatan pasca endodontik yang tidak
sempurna akan berdampak pada keberhasilan perawatan. Dan nantinya kegagalan
endodontik harus memerlukan retreatment dengan tingkat keberhasilan yang baik untuk
mencegah lebih banyak masalah yang terjadi di kemudian hari.
Sumber :
Garg, N. & Garg, A. 2019. Textbook of Endodontics. 4th Ed. Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd. Pp. 332
Tabassum, S. & Khan, F. R. 2016. Failure of endodontic treatment: The usual
suspects. European journal of dentistry, 10(1), 144.
- Ledge formation -> adalah deviasi yang dibuat secara artifisial dari dinding saluran
akar yang mencegah instrumen endodontik mencapai panjang kerja yang ditetapkan di
saluran yang paten.
- Missed canals -> dapat menyebabkan kegagalan endodontik karena saluran akan
menahan debris jaringan, bakteri, dan iritan lainnya. Oleh karena itu, gigi harus
dirawat ulang secara konservatif jika terdapat kegagalan endodontik, sebelum
menjalani prosedur bedah endodontik.
2. Instrument Separation
Adalah masalah umum dalam perawatan endodontik yang terjadi karena penggunaan
instrumen yang tidak tepat atau over-instrumentation saat preparasi saluran yang
melengkung, sempit, atau berliku-liku.
- Canal transportation -> adalah memindahkan posisi foramen anatomi normal ke lokasi
baru di permukaan eksternal akar
4. Inadequate Canal Preparation
- Over instrumentation -> Instrumentasi yang berlebihan di luar konstriksi apikal.
Hilangnya konstriksi apikal menyebabkan apeks terbuka dengan peningkatan risiko
overfilling, kurangnya seal apikal yang memadai, dan rasa nyeri dan ketidaknyamanan
bagi pasien. Overinstrumentasi dilihati ketika perdarahan terlihat jelas di bagian
apikal saluran dengan atau tanpa ketidaknyamanan pasien dan ketika resistensi taktil
dari batas ruang saluran hilang. Hal ini dapat dikonfirmasi dengan mengambil
radiograf dan memasukkan paper point ke dalam saluran akar
– Root perforations
• Cervical canal perforations -> Ini biasanya terjadi saat menemukan orifice dan flaring
dari sepertiga koronal. Kemunculan tiba-tiba darah dari saluran ajar adalah tanda
pertama perforasi
• Mid-root perforations -> Ini biasanya terjadi karena instrumentasi yang berlebihan
dan pereparasi yang berlebihan dari dinding tipis saluran akar atau sisi cekung dari
saluran yang melengkung. Kemunculan perdarahan yang tiba-tiba adalah ciri
patognomonik
• Apical perforations -> Ini terjadi jika ketika instrumen melampaui batas saluran akar
dan dengan penggunaan chelating agents yang berlebihan bersama dengan instrumen
berukuran besar yang lurus dan kaku
– Postspace perforations -> biasanya disebabkan oleh penilaian klinis yang buruk dan
orientasi yang tidak tepat dari postpreparation drills. Perforasi dapat dikenali dengan
munculnya darah secara tiba-tiba di saluran akar atau secara radiografi.
• Obturation related
– Over obturation -> Over obturation terjadi ketika obturasi > 2 mm di luar apeks
radiografik
– Under obturation -> Underfilling adalah obturasi saluran akar lebih pendek > 2 mm
dari apeks radiografi
6. Vertical root fracture -> Fraktur akar vertikal dapat terjadi pada setiap fase
perawatan saluran akar. Ini hasil dari kekuatan wedging di dalam kanal. Kekuatan yang
berlebihan ini melebihi kekuatan ikat dari dentin yang ada dan menyebabkan fatigue
dan fraktur
7. Instrument aspiration
- Aspirasi instrumen dapat terjadi selama terapi endodontik jika secara tidak sengaja
instrument masuk ke dalam mulut. Terjadi terutama jika rubber dam tidak digunakan.
High volume suction tips, hemostats dan cotton pliers hanya dapat membantu dalam
beberapa kasus, ketika instrument mudah dijangkau di tenggorokan, jika tidak,
perawatan medis diperlukan. Pasien harus diberikan perawatan medis untuk
pemeriksaan yang meliputi radiografi dada dan perut.
- Kecelakaan ini dapat dicegah dengan menggunakan rubber dam dan mengikat dubber
dam clamp atau alat endodontik dengan floss
Sumber:
Garg, N. and Amit Garg (2019). Textbook of Endodontics. 4th ed. New Delhi: Jaypee
Brothers Medical Publishers. Hal 347-369
2. Faktor Penderita
faktor penderita yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu perawatan
saluran akar adalah sebagai berikut (Cohen, 2011) :
a. Motivasi Penderita
Pasien yang merasa kurang penting memelihara kesehatan mulut dan melalaikannya,
mempunyai risiko perawatan yang buruk. Ketidaksenangan yang mungkin timbul selama
perawatan akan menyebabkan mereka memilih untuk diekstraksi.
b. Usia Penderita
Usia penderita tidak merupakan faktor yang berarti bagi kemungkinan keberhasilan atau
kegagalan perawatan saluran akar. Pasien yang lebih tua usianya mengalami penyembuhan
yang sama cepatnya dengan pasien yang muda. (Ingle, 2019).
c. Keadaan kesehatan umum
Pasien yang memiliki kesehatan umum buruk secara umum memiliki risiko yang buruk
terhadap perawatan saluran akar, ketahanan terhadap infeksi di bawah normal. Oleh
karena itu keadaan penyakit sistemik, misalnya penyakit jantung, diabetes atau hepatitis,
dapat menjelaskan kegagalan perawatan saluran akar di luar kontrol ahli endodontis.
3. Faktor Perawatan
Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu perawatan
saluran akar bergantung kepada (Cohen, 2011) :
a. Perbedaan operator
Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan aplikasi ilmu biologi serta
pelatihan, kecakapan dan kemampuan dalam manipulasi dan menggunakan instrumen-
instrumen yang dirancang khusus. Prosedur- prosedur khusus dalam perawatan saluran
akar digunakan untuk memperoleh keberhasilan perawatan. Menjadi kewajiban bagi
dokter gigi untuk menganalisa pengetahuan serta kemampuan dalam merawat gigi secara
benar dan efektif.
b. Teknik-teknik perawatan
Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang tersedia bagi dokter gigi,
namun keuntungan klinis secara individual dari masing- masing ukuran keberhasilan
secara umum belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian menunjukan bahwa teknik yang
menghasilkan penutupan apikal yang buruk, akan menghasilkan prognosis yang buruk.
c. Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar.
Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran akar yang ideal dan
pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1 mm atau 1-2
mm lebih pendek dari akar radiografis dan disesuaikan dengan usia penderita. Tingkat
keberhasilan yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang berlebih, mungkin
disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan apikal yang buruk.
4. Faktor Anatomi Gigi
Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu perawatan
saluran akar dengan mempertimbangkan (Ingle, 2019):
a. Bentuk saluran akar
Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit, atau bentuk abnormal
lainnya akan berpengaruh terhadap derajat kesulitan perawatan saluran akar yang
dilakukan yang memberi efek langsung terhadap prognosis.
b. Kelompok gigi
Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi tunggal mempunyai hasil
yang lebih baik dari pada yang berakar jamak. Hal ini disebabkan karena ada hubungannya
dengan interpretasi dan visualisasi daerah apikal pada gambaran radiografi. Tulang
kortikal gigi- gigi anterior lebih tipis dibandingkan dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi
resorpsi pada apeks gigi anterior terlihat lebih jelas.
c. Saluran lateral atau saluran tambahan
Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui bagian apikal saja,
tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat ditemukan pada setiap permukaan akar.
Sebagian besar ditemukan pada setengah apikal akar dan daerah percabangan akar gigi
molar yang umumnya berjalan langsung dari saluran akar ke ligamen periodontal (Ingle,
2019).
5. Kecelakaan Prosedural
Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh pada hasil akhir
perawatan saluran akar, misalnya (Grossman, 2020) :
a. Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral.
Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan dinding saluran
akar yang merintangi penempatan instrumen
untuk mencapai ujung saluran.Birai terbentuk karena penggunaan instrumen yang
terlalu besar, tidak sesuai dengan urutan; penempatan instrumen yang kurang dari
panjang kerja atau penggunaan instrumen yang lurus serta tidak fleksibel di dalam
saluran akar yang bengkok. Birai dan ferforasi lateral dapat memberikan pengaruh
yang merugikan pada prognosis selama kejadian ini menghalangi pembersihan,
pembentukan dan pengisian saluran akar yang memadai.
b. Instrumen patah
Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran akar akan
mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan. Prognosisnya
bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan yang masih belum
dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak patahannya. Prognosis yang
baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi ditahap akhir preparasi serta
mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar belum
dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis pada
tahap awal preparasi.
c. Fraktur akar vertikal
Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi yang
berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau pada waktu penempatan pasak.
Sumber :
Ingle, J.L. & Bakland, L.K. 2019. Endodontics. 7th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.
Cohen, Stephen. 2011. Cohen’s Pathways of The Pulp. 10 Ed.
Grossman's Endodontic Practice. 2020. 14th edition: Amazon.in: V.
Gopikrishna:Books.
Pada gigi dengan pasak dan inti, pasak harus dilepas untuk mendapatkan akses ke
sistem saluran akar. Pasak dapat dilepas dari saluran akar dengan metode berikut:
a) Melemahkan retensi pasak dengan menggunakan getaran ultrasonik
b) Pasak dapat diambil dari saluran akar hanya dengan menariknya saja tetapi akan
meningkatkan risiko fraktur akar atau dengan bantuan tang khusus
menggunakan sistem postremoval (PRS)
Setelah mendapatkan akses ke sistem saluran akar, dengan cleaning and shaping
yang menyeluruh serta penanganan komplikasi lainnya, perawatan diselesaikan
dengan prosedur rutin.
Sumber:
Garg, N. and Garg, A. (2019) Textbook of Endodontics. 4th edn. Dhaka: Jaypee
Brothers Medical Publishers (P) LTD. Hal 337-344