Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN DISEMINASI AWAL

PRAKTIK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN DI RUANG


TERATAI ATAS RSUD SIDOARJO
PERIODE 17 JANUARI 2021 – 30 JANUARI 2021

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan
laporan“Desiminasi Awal Parktek Profesi Ners Keperawatan Manajamen ”.
Adapun tujuan dalam pembuatan laporan ini adalah untuk memenuhi salah
satu praktek profesi Ners Keperawatan Manajamen. Dalam penyelesaian laporan
ini kami banyak mendapat bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak baik
moril maupun materil. Untuk itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima
kasih kepada Bapak Frengki Apryanto S.Kep., Ners., M.Kep dan Ibu Yuni
Endarwati S.kep., Ners. selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan
dan arahan dalam penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, karena itu
segenap saran dan kritik membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan
untuk perbaikan di masa mendatang. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita
semua.
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.

Sidoarjo, Januari 2021

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perubahan pelayanan keperawatan mempunyai dua pilihan utama,
yaitu perawat melakukan inovasi dan berubah. Perawat harus mempunyai
keterampilan dalam proses perubahan. Proses keperawatan merupakan
pendekatan dalam menyelesaikan masalah yang sistematis dan konsisten
dengan perencanaan perubahan. Keterampilan kedua adalah ilmu teoritis dan
pengalaman praktik. Perawat harus diajarkan ilmu teoritis di kelas dan
mempunyai pengalaman praktik untuk bekerja secara efektif dengan orang
lain. Perubahan pelayanan keperawatan merupakan kesatuan dalam
perkembangan dan perubahan keperawatan di Indonesia. Bahkan, menjadi
hal yang aneh atau tidak semestinya terjadi, apabila masyarakat umum dan
lingkungannya terus berubah, sedangkan keperawatan yang merupakan
bagian masyarakat tersebut tidak berubah dalam menata kehidupan profesi
keperawatan (Nursalam, 2014).
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada
Milenium III, termasuk asuhan keperawatan akan terus berubah karena
masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat terus-menerus mengalami
perubahan. Masalah keperawatan sebagai bagian masalah kesehatan yang
dihadapi masyarakat juga terus-menerus berubah karena berbagai faktor
yang mendasarinya juga terus mengalami perubahan (Nursalam, 2016).
Pada dasarnya mutu pelayanan keperawatan sebagai indikator
kualitas pelayanan kesehatan menjadi salah satu penentu institusi
pelayanan kesehatan di mata masyarakat. Karena keperawatan merupakan
kelompok profesi dengan jumlah terbanyak, paling depan dan terdekat
dengan penderitaan, kesakitan, serta kesengsaraan yang dialami pasien
dan keluarganya. Indikator dari mutu pelayanan keperawatan adalah
tergantung pada kualitas pelayanan medis dan pelayanan keperawatan
yang diberikan memuaskan pasien atau tidak. Karena kepuasan merupakan
perbandingan antara kualitas jasa pelayanan yang didapat dengan
keinginan, kebutuhan dan harapan.
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 18 – 20 Januari 2021 di
Ruang Teratai Atas Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo data perawat
berjumlah (26 orang), dokter spesialis 7 orang, helper 1 orang,
administrasi 2 orang, dan farmasi 2 orang, dengan jumlah tempat tidur
sebanyak 44 tempat tidur untuk Ruang Teratai Atas. Kebutuhan sarana dan
prasarana sebagian besar sudah memenuhi standar. Model Asuhan
Keperawatan Profesional (MAKP) yang dilaksanakan adalah MAKP
modifikasi Tim dan Primer dengan kepala ruangan adalah seorang S1
Keperawatan Ners, dengan 2 orang katim yang terdiri dari S1 Keperawatan
Ners yang beranggotakan beberapa perawat pelaksana dengan 7 orang
berpendidikan Sarjana Keperawatan Ners, 1 orang D4 Keperawatan dan 16
orang D3 Keperawatan. Satu orang Katim bertugas pada satu ruangan, yaitu
Ruang Teratai Atas Barat, Ruang Teratai Atas Timur.
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan pro-aktif
dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Di dalam manajemen
tersebut mencakup kegiatan POAC (Planning, Organizing, Actuating,
Controlling) terhadap staf, sarana, dan prasarana dalam mencapai tujuan
organisasi (Grant dan Massey,1999). Manajemen keperawatan merupakan
suatu proses bekerja dengan melibatkan anggota keperawatan dalam
memberikan pelayanan asuhan keperawatan profesional. Model asuhan
keperawatan profesional saat ini yang sedang menjadi trend dengan metode
Primary Nursing. Metode Primary Nursing merupakan suatu metode yang
memberikan tugas kepada satu orang perawat untuk bertanggung jawab
penuh sampai keluar rumah sakit. Metode primer ini ditandai dengan adanya
keterkaitan kuat dan terus-menerus antara pasien dan perawat yang
ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan
keperawatan selama pasien dirawat (Nursalam, 2016).
Langkah konkret pengelolaan yang dapat digunakan dalam
peningkatan keperawatan profesional berupa penataan sistem model
asuhan keperawatan profesional (MAKP) yang meliputi ketenagaan/pasien,
penetapan sistem MAKP dan perbaikan dokumentasi keperawatan dengan
menerapkan prinsip SME (Sesuai standar, Mudah dilaksanakan, Efektif dan
Efisien). Model keperawatan profesional ini mampu mendorong
keperawatan dalam memperjelas deskripsi kerja, meningkatkan
kemampuan keperawatan dalam mendiskusikan masalah dengan tenaga
kesehatan yang lain dan membantu keperawatan untuk lebih bertanggung
gugat secara profesional terhadap tindakannya (Nursalam, 2016).
Berdasarkan hal di atas, maka mahasiswa program pendidikan profesi
ners (P3N) STIKes Widyagama Husada Malang mencoba menerapkan
Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) dengan metode pemberian
asuhan keperawatan Modifikasi Primer-Tim dimana pelaksanaannya
melibatkan empat tempat tidur kelolaan di Ruang F di Ruang Teratai Atas
Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo dengan perawat yang bertugas di
ruang tersebut. Model asuhan keperawatan tersebut diharapkan mampu
menyelesaikan masalah dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
profesional sehingga mampu memenuhi tuntutan masyarakat.
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan praktek manajemen keperawatan,
mahasiswa diharapkan dapat menerapkan manajemen keperawatan
dan model pemberian asuhan keperawatan yang sesuai dengan teori
Modifikasi Primer-Tim
1.2.2. Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan praktek klinik manajemen keperawatan di
Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo, mahasiswa mampu :
a. Menganalisa kebutuhan tenaga keperawatan (SDM) di Ruang
Teratai Atas Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo.
b. Menganalisa kecukupan sarana dan prasarana di Ruang Teratai
Atas Rumah Sakit Umum Daeah Sidoarjo.
c. Melaksanakan peran sesuai dengan model MAKP Modifikasi
Primer-Tim yang telah ditentukan :
1. Melakukan penerimaan pasien baru
2. Melakukan penerapan sentralisasi obat
3. Melakukan timbang terima keperawatan
4. Melakukan supervisi keperawatan
5. Melakukan ronde keperawatan
6. Melakukan Discharge Planning
7. Mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan salah satu
model penugasan asuhan keperawatan.
d. Menganalisa standarisasi administrasi keuangan di RSUD Sidoarjo.
e. Menganalisa tingkat mutu di Ruang Teratai Atas RSUD Kabupaten
Sidoarjo
1.3. Manfaat
1.3.1 Mahasiswa
a. Mahasiswa mampu menjalankan tugasnya sesuai dengan
perannya masing-masing dalam penerapan MAKP Modifikasi
Primer-Tim.
b. Mahasiswa dapat mengumpulkan data dalam penerapan MAKP
Modifikasi Primer-Timdi Ruang Teratai Atas Rumah Sakit Umum
Daerah Sidoarjo.
c. Mahasiswa dapat mengetahui masalah dalam penerapan MAKP
Modifikasi Primer-Timdi Ruang Teratai Atas Rumah Sakit Umum
Daerah Sidoarjo.
d. Mahasiswa dapat menganalisa masalah dengan metode SWOT
dan menyusun rencana strategi (renstra).
e. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dalam menerapkan
model asuhan keperawatan Modifikasi Primer-Tim di Ruang Teratai
Atas Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo.
f. Meningkatkan pelayanan keperawatan melalui praktik manajemen
pelayanan keperawatan profesional.

1.3.2 Perawat
a. Melalui praktik manajemen keperawatan dapat mengetahui
masalah-masalah yang ada di Rumah Sakit Umum daerah Sidoarjo
yang berkaitan dengan pelaksanaan MAKP Modifikasi Primer-Tim
b. Melalui praktik manajemen keperawatan perawat ruangan dapat
mempelajari penerapan model keperawatanModifikasi Primer-Tim
c. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
d. Terbinanya hubungan yang kondusif antara perawat dengan
perawat, perawat dengan tim kesehatan lain, dan perawat dengan
Ruang Teratai Atas pasien serta keluarga.
e. Meningkatnya kinerja perawat di Teratai Atas Rumah Sakit Umum
Daerah Sidoarjo.
1.3.3 Pasien
Pasien dan keluarga mendapatkan pelayanan yang optimal
sehingga memperoleh kepuasan selama mendapat perawatan di Teratai
Atas Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo.
1.3.4 Institusi
a. Mampu menerapkan ilmu manajemen keperawatan khususnya
terkait penerapan model keperawatan Modifikasi Primer-Tim
b. Mampu menjalin kerjasama yang lebih baik antara institusi
pendidikan dengan institusi pelayanan di Teratai Atas Rumah Sakit
Umum Daerah Sidoarjo.
BAB II
PENGKAJIAN

Bab ini akan menyajikan tentang tahapan proses menejemen keperawatan yang
meliputi pengkajian data, análisis SWOT dan identifikasi masalah.
A. Visi, Misi dan Motto RSUD Sidoarjo
1. Visi RSUD Sidoarjo
Menjadi Rumah Sakit yang terakreditasi internasional dalam pelayanan,
pendidikan, dan penelitian
2. Misi RSUD Sidoarjo
a. Mewujudkan pelayanan yang berkualitas dan terakreditasi dengan
mengutamakan keselamatan pasien serta kepuasan pelanggan
b. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, dan penelitian kesehatan yang
bermutu dan beretika untuk menunjang pelayanan.
c. Mewujudkan tata kelolarumah sakit yang profesional, integritas, dan
beretika
B. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 17 – 20 Januari 2021, meliputi 5M
(Man, Material, Metode, Money, Mutu) data yang diperoleh berdasarkan wawancara,
observasi, kuesioner dan dokumen rumah sakit dianalisis dengan menggunakan
metode SWOT sehingga diperoleh beberapa rumusan masalah dan prioritas masalah.
1. Ketenagaan (M1-Man)
Instalasi Rawat Inap Teratai Atas ini dipimpin oleh seorang kepala ruangan,
dengan jumlah perawat sebanyak 24 orang, 17 orang perawat wanita dan
perawat laki-laki sebanyak 7 orang (S1 Keperawatan + Ners sebanyak 7 orang,
D4 Keperawatan 1 orang dan D3 Keperawatan sebanyak 16 orang). Sedangkan
untuk tenaga dokter spesialis terdiri atas 7 orang, sebanyak 2 orang sebagai
administrasi dan 1 orang lainnya sebagai helper.
Pembagian wilayah penugasan Mahasiswa Program Profesi Ners STIKES
Widyagama Husada Malang mendapat wilayah penugasan di Ruang Teratai Atas.
Ruang Teratai Atas terdiri dari Ruang A – K yang terdiri dari satu ruangan
mempunyai 4 tempat dan Ruang Isolasi. Wilayah kelolaan terpilih adalah Ruang F
yang terdiri dari F1 – F4 yang terbagi dalam 4 orang dinas pagi, 2 orang dinas
siang
dan 3 orang dinas sore. MAKP yang diterapkan di Ruang Teratai Atas adalah
MAKP modifikasi Tim-Primer.
MAKP Tim-Primer ini digunakan secara kombinasi dari kedua sistem. MAKP
ini terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan
keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat di ruangan dibagi menjadi 2
tim yang berbeda-beda, yang terdiri atas tenaga professional, tekhnikal dan
pembantu dalam satu kelompok kecil yang saling membantu. Berdasarkan data
yang diperoleh dari bagian administrasi saat ini Ruang Teratai Atas memilki 1
orang ketua tim, 2 orang perawat primer dan 1 orang perawat associate yang
terbagi dalam 4 orang dinas pagi, 2 orang dinas siang dan 3 orang dinas sore.
Pemilihan penanggung jawab/ketua tim dilakukan oleh kepala ruangan yang
ditentukan secara tetap dan tidak berubah-ubah, sedangkan untuk anggota tim
atau perawat associate dipilih secara berkala setiap bulan. Penempatan anggota
tim di setiap ruangan ditentukan oleh kepala ruangan. Ketua tim ditentukan
dengan kualifikasi lama bekerja dan profesionalitas, sedangkan untuk pembagian
tenaga perawat untuk setiap pasien dibagi berdasarkan jumlah ruangan dan
jumlah perawat pelaksana yang jaga pada shift tersebut. Adapun struktur
organisasi adalah sebagai berikut :
STRUKTUR ORGANISASI RUANG TERATAI ATAS
RSUD SIDOARJO
KEPALA RUANGAN

MANAJEMEN PELAYANAN PASIEN

PERAWAT PRIMER PERAWAT PRIMER PERAWAT PRIMER

PERAWAT PELAKSANA PERAWAT PELAKSANA PERAWAT PELAKSANA

Gambar. 2.1. Bagan struktur yang diterapkan di Ruang Teratai Atas RSUD
Sidoarjo
Berdasarkan hasil identifikasi komponen perawat yang ada di Teratai A
RSUD Sidoarjo, perawat terdiri dari jenjang pendidikan S1 Keperawatan sejumlah
3 orang dan sisanya 7 orang jenjang pendidikan D3 Keperawatan.
a. Tenaga Keperawatan

Tabel 2.1. Tenaga Keperawatan di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo


Januari 2021

No Na Tingkat Status Jabatan


ma Pendidikan Kepegawai
an
1 Nuraini S1, Ners PNS Kepala Ruangan
2 Lailah Nafiah DIV Anak PNS Ketua Tim
3 Linda Marta Sari D3 PNS PJ Shift
4 Defita Indah PNS PJ Shift
Wahyuningtias D3
5 Dewi Astutik D3 PNS Ketua Tim
6 Fendi Suganda D3 BLU PJ Shift
7 Chuluqin Nazidah PNS PJ Shift
Munawar D3
8 Dianita Astrid D3 BLU Perawat Pelaksana
9 Putri Indah Sari D3 BLU Perawat Pelaksana
10 Budi Cahyono S1, Ners BLU Perawat Pelaksana
11 Vivi Febriani D3 BLU Perawat Pelaksana
12 Jujuk Handayani D3 PNS Ketua Tim
13 Andini Rizky W S1, Ners BLU PJ Shift
14 Bayu Hadi W S1, Ners BLU PJ Shift
15 Yuni Endarwati S1, Ners PNS Perawat Pelaksana
16 Linawati D3 BLU PJ Shift
17 Iqbal Zulfianto D3 PNS Perawat Pelaksana
18 Ika Krisnawati Sueb D3 BLU PJ Shift
19 Hanum D3 BLU Perawat Pelaksana
20 Yuniar Fadiroh S1, Ners PNS Perawat Pelaksana
21 Dwi Ismayanti D3 BLU Perawat Pelaksana
22 Rizki Devanti D3 BLU Perawat Pelaksana
23 Arizal Prakoso D3 BLU Perawat Pelaksana
24 M. Wahyu P S1, Ners BLU
Tabel 2.2. Jumlah Tenaga Keperawatan di Ruang Teratai Atas RSUD
Sidoarjo Januari 2021

No Kualifikasi Jumlah Status Laki-laki Perempuan


1 S1 Keperawatan +Ners 7 3 PNS 3 4
4 BLU
2 D4 Keperawatan 1 1 PNS - 1
3 D3 Keperawatan 16 6 PNS 5 11
10 BLU
Total 24 10 PNS 8 16
14 BLU
Tabel 2.3. Tenaga Keperawatan yang Pernah Mengikuti Pelatihan di
Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo

No Nama Pelatihan
1 BLS, BCLS, BTLS, ECG, CI, CC, DALIN

Nuraini
2 BLS, BTLS, HIV, DALIN, ECG, CC

Lailah Nafiah
3 Linda Marta Sari PPGD, BCLS, CC, HIV
4 Defita Indah BLS, BTLS, BCLS
Wahyuningtias
5 PPGD, BCLS, CC, HIV
Dewi Astutik
6 BLS, BCLS, APAR, HIV
Fendi Suganda
7 Chuluqin Nazidah BLS, CC, HIV, RAWAT LUKA, DA
Munawar
8 BLS
Dianita Astrid
9 BTL
Putri Indah Sari
10 BTLS
Budi Cahyono
11 BTLS
Vivi Febriani
12 Jujuk Handayani BLS, BCLS, BTLS, ECG, HIV
13 Andini Rizky W BLS, BTLS, CC, HIV, DALIN
14 Bayu Hadi W BLS
15 Yuni Endarwati BLS, BCLS, ECG, CC
16 Linawati BLS
17 Iqbal Zulfianto BLS
18 Ika Krisnawati Sueb BLS, BCLS, APAR
19 Hanum BLS
20 Yuniar Fadiroh BLS
21 Dwi Ismayanti BLS
22 Rizki Devanti BLS
23 Arizal Prakoso BLS
24 M. Wahyu P BLS
Keterangan :
- BLS : Basic Life Support
- BCLS : Basic Cardiac Life Support
- BTLS : Basic Trauma Life Support
- CC : Creative Commons
- HIV : Human Immunodeficiency Virus
- PPGD : Pertolongan Pertama Gawat Darurat
- CI : Clinical Instructor
- EKG : Electro Cardiogram
- APAR : Alat Pemadam Api Ringan
- TOT Konselor : Training of Trainers Konselor
- SKP : Sasaran Kerja Pegawai
- DALIN : Pengendalian Infeksi

Menurut standar Joint Comission International (JCI) 2011 pelatihan


minimal yang dimiliki perawat ruangan adalah Basic Life Support (BLS) dan
semua karyawan di Ruangan Mawar Merah Barat sudah mengikuti pelatihan
tersebut.

b. Tenaga Non-Keperawatan
Tabel 2.5. Tenaga Non-Keperawatan di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo

No Nama Tingkat Status Jabatan


Pendidikan Kepegawaian
1 Debi Adi O S1, Ners BLU Verifikator
2 Evin Hendri S S1, Ners BLU Admin

Tabel 2.6. Jumlah Tenaga Non- Keperawatan di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo

No Kualifikasi Jumlah Status Laki-laki Perempuan


1 Sarjana 2 2 BLU 1 1

Total 2 1 1

Tabel 2.7. Tenaga Non-Keperawatan yang Pernah Mengikuti


Pelatihan di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo
No Nama Pelatihan
1 Debi Adi O BLS
2 Evin Hendri S BLS, APAR
c. BOR (Bed Occupacy Rate)
Tabel 2.8. BOR Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo Senin, 18
Januari 2021
No Shift Kelas 2 BOR ∑ 𝐁𝐎𝐑 𝒑𝒆𝒓 𝒉𝒂𝒓𝒊

1 Pagi Ada pasien 28/44x100% 63,63%+54,54%+54,54%


28 bed
=63,63% 3
2 Sore Ada pasien 24/44x100% = 57,57%
24 bed
=54,54%
3 Malam Ada pasien 24/44x100%
24 bed
=54,54%

Sumber : Data Primer (2021)


Tabel 2.9. BOR Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo Selasa, 19 Januari 2021

No Shift Kelas 2 BOR ∑ 𝐁𝐎𝐑 𝒑𝒆𝒓 𝒉𝒂𝒓𝒊

1 Pagi 26/44x100 59,10%+61,36%+65,90%


Ada pasien
26 bed =59,10% 3
2 Sore 27/44x100% = 40,90%
Ada pasien
27 bed =61,36%
3 Malam 29/44x100%
Ada pasien
29 bed =65,90%
Sumber : Data Primer (2021)
Tabel 2.10. BOR Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo Rabu, 20 Januari 2021
No Shift Kelas 2 BOR ∑ 𝐁𝐎𝐑 𝒑𝒆𝒓 𝒉𝒂𝒓𝒊

1 Pagi 29/44x100% 65,90%+56,81%+63,63%


Ada pasien
29 bed =65,90% 3
2 Sore 25/44x100% = 77,77%
Ada pasien
25 bed =56,81 %
3 Malam 28/44x100%
Ada pasien
28 bed =63,63%
Sumber : Data Primer (2021)
d. Jumlah Diagnosa Penyakit di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo
Tabel 2.11. Daftar Diagnosa Penyakit terbanyak di Ruang Teratai
Atas RSUD Sidoarjo Periode 01 Desember – 26 Desember 2020.
Ruangan Kode Nama Penyakit Jumlah
Dx
Ruangan K30 Pneumonia, unspecified 54
Teratai Atas E11.9 Non-Insulin Dependent Diabetes 34
Mellitus without Complications
E11.5 Non-Insulin Dependent Diabetes 23
Mellitus with Peripheral Circulatory
Complications
A15.0 34
Anemia, unspecified

N18.0 Dyspepsia 32
A09 24
Acute renal falure, unspecified

E11.2 22
CHRONIC KIDNEY DISEASE, STAGE 5

D64.9 Disorders of Plasma protein 22


metabolism, not elsewhere classifed
R11 Septicaemia, unspecified 22
E11.7 29
Hypoosmolality and hyponatraemia

Diagnosa penyakit yang dimiliki setiap pasien tidak hanya merujuk pada
satu diagnosa. Setiap pasien dapat memiliki lebih dari satu diagnose penyakit.

Tabel 2.12. Daftar Diagnosa Penyakit terbanyak di Ruang Teratai


Atas RSUD Sidoarjo Periode 01 Desember – 26 Desember 2020.
Ruangan No Diagnosa Keperawatan
Ruangan 1 Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
Teratai 2 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
Atas
obstruksi jalannafas oleh mucus
3 Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan
dengandisfungsi ginjal
4 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan asupan diet kurang
5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan
tubuh
6 Penurunan curah jantung berhubungan dengan
peningkatan afterload (Arterial pressure)
7 Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
Hiperventilasi
8 Gangguan istirahat/tidur (insomnia) berhubungan dengan
ketidaknyamanan fisik/ kendala lingkungan/depresi
9 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
nyeri/penurunan kekuatan otot/intoleransi aktivitas
10 Defisit perawatan diri berhubungan dengsn kelemahan

e. Tingkat Ketergantungan Klien dan Kebutuhan Tenaga Perawat


1. Metode Douglas
Bagi klien rawat inap, standar waktu pelayanan klien antara lain :
a. Perawatan minimal memerlukan 1 s/d 2 jam/ 24 jam
b. Perawatan intermediet memerlukan 3 s/d 4 jam/ 24 jam
c. Perawatan maksimal/total memerlukan waktu 5 s/d 6 jam/ 24 jam
Menurut Douglas (1984) dalam Nursalam (2014) menerapkan sistem klasifikasi klien
dengan 3 kategori tersebut adalah sebagaiberikut :
a. Kategori I : Perawatan Mandiri
Kriteria klien pada klasifikasi ini adalah klien masih dapat melakukan sendiri
kebersihan diri, mandi, ganti pakaian, makan, minum, penammpilan secara umum
baik, tidak ada reaksi emosional. Klien perlu diawasi ketika melakukan ambulasi atau
gerakan. Klien perlu dilakukan observasi setiap shift, perawatan minimal dan
persiapan prosedur memerlukan pengobatan.
b. Kategori II : Perawatan Intermediet
Kriteria klien pada klasifikasi ini adalah memerlukan bantuan untuk melakukan
kegiatan sehari-hari seperti makan, mengatur posisi makan, memberikan dorongan
makan, bantuan dalam eliminasi dan kebersihan diri, tindakan keperawatan untuk
memonitor tanda-tanda vital, fungsi fisiologis, status emosional, kelancaran drainage,
bantuan dalam pendidikan kesehatan serta kesiapan pengobatan memerlukan
prosedur
.
c. Kategori III : Perawatan Total
Kriteria klien pada klasifikasi ini adalah tidak dapat melakukan sendiri
kebutuhan sehari-harinya, semua kebutuhan dibantu oleh perawat,
penampilan klien sakit berat, klien memerlukan observasi tanda-tanda
vital setiap 2 jam, menggunakan selang NGT/ nasogastric, menggunakan
terapi intravena, pemakaian alat penghisap (suction) dan kadang klien
dalam kondisi gelisah /disoriented.
Menurut Douglas (1984) dalam Nursalam (2014) menetapkan
jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu unit perawatan
berdasarkan klasifikasi klien, dimana masing-masing kategori
mempunyai nilai standar per shift.
Tabel 2.13. Nilai Standar Jumlah Perawat Per Shift berdasarkan
Klasifikasi Klien
Jumlah Klasifikasi Klien
Klien Minimal Parsial Total
P S M P S M P S M
1 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20
2 0,34 0,28 0,20 0,54 0,30 0,14 0,72 0,60 0,40
3 0,51 0,42 0,30 0,81 0,45 0,21 1,08 0,90 0,60
Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan
dengan metode Douglas di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo Tanggal
18 Januari 2021, adalah sebagai berikut :
Tabel 2.14. Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga
keperawatan dengan Metode Douglas di Ruang Teratai Atas RSUD
Sidoarjo Senin 18 Januari 2021
Kualifikasi Pasien Jumlah Kebutuhan Tenaga
Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam
Ketergantungan Pasien
Total 6 4x0,36=2,16 4x0,30=1,2 4x0,20=0,8
Parsial 9 8x0,27=2,16 8x0,15=1,2 8x0,10=0,8
Minimal 13 5x0,17= 5x0,14=0,7 5x0,07=0,35
0,85
Jumlah 28 4,45 3,1 1,95
28 4 3 2
Total tenaga perawat Jumlah tenaga yang lepas dinas per hari :
Pagi : 4 orang 86 x 8 = 688 = 2,31 = 2 orang
Sore : 2 orang 297 297
Malam : 2 orang
Total : 8 orang

Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk per hari bertugas di


Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo adalah 8 orang + 1 struktural (kepala
ruangan) + 2 lepas dinas = 11 orang. Berdasarkan perhitungan Douglas
didapatkan bahwa kebutuhan perawat di Ruang Teratai Atas Barat
sebanyak 11 orang per hari.
Tabel 2.15 Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga
keperawatan dengan Metode Douglas di Ruang Teratai Atas RSUD
Sidoarjo Selasa, 19 Januari 2021
Kualifikasi Pasien Jumlah Kebutuhan Tenaga
Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam
Ketergantungan Pasien
Total 4 4x0,36=1,44 4x0,30=1,2 4x0,20=0,8
Parsial 13 13x0,27=3,51 13x0,15=1,95 11x0,10=1,
1
Minimal 2 2x0,17=0,34 0 0
Jumlah 19 5,29 3,15 1,9
19 5 3 2

Total tenaga perawat Jumlah tenaga yang lepas dinas per hari :
Pagi : 3 orang 86 x 7 = 602 = 2,02 = 2 orang
Sore : 2 orang 297 297
Malam : 2 orang
Total : 7 orang

Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk per hari bertugas di


Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo adalah 7 orang + 1 struktural (kepala
ruangan) + 2 lepas dinas = 10 orang. Berdasarkan perhitungan Douglas
didapatkan bahwa kebutuhan perawat di Ruang Teratai Atas sebanyak 11
orang per hari.
Tabel 2.16. Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga
keperawatan dengan Metode Douglas di Ruang Teratai Atas RSUD
Sidoarjo Rabu, 20 Januari 2021
Kualifikasi Pasien Jumlah Kebutuhan Tenaga
Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam
Ketergantungan Pasien
Total 2 4x0,36=1,44 2x0,30=0,6 2x0,20=0,4
Parsial 16 12x0,27=3,24 14x0,15=2,1 16x0,10=1,6
Minimal 2 2x0,17=0,34 2x0,14=0,28 2x0,07=0,14
Jumlah 20 5,02 2,98 2,14
5 3 2

Total tenaga perawat Jumlah tenaga yang lepas dinas per hari :
Pagi : 3 orang 86 x 7 = 602 = 2,02 = 2 orang
Sore : 2 orang 297 297
Malam : 2 orang
Total : 7 orang

Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk per hari bertugas di


Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo adalah 7 orang + 1 struktural (kepala
ruangan) + 2 lepas dinas = 10 orang. Berdasarkan perhitungan Douglas
didapatkan bahwa kebutuhan perawat di Ruang Teratai Atas sebanyak 11
orang per hari.
2. Metode Gillies

Rumus : Ax B x C = F = H
(C-D)xE G

Keterangan :
A : Rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari
B : Rata-rata jumlah pasien/hari
C : Jumlah hari/tahun
D : Jumlah hari libur masing-masing perawat
E : Jumlah hari kerja masing-masing perawat
F : Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat/tahun
G : Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat/bulan
H : Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit tersebut
Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan
dengan metode Gillies di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo 18 – 20
Januari 2021 adalah sebagai berikut:
a. Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan
dengan metode Gillies di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo hari Senin,
18 Januari 2021.
1. Keperawatan Langsung :
Keperawatan mandiri 5 orang pasien, 5 x 2 jam = 10 jam
Keperawatan parsial 8 orang pasien, 8 x 3 = 24 jam
Keperawatan total 4 orang pasien, 4 x 6 jam =24jam +
58 am
2. Keperawatan Tidak Langsung :17 orang pasien x 1 jam = 17 jam
3. Penyuluhan Kesehatan : 17 orang pasien x 0,25jam = 4,25 jam
- Total jam = 58 + 17 + 4,25 = 79,25 jam
- Total jam keperawatan yang dibutuhkan per pasien/hari = 79,25
jam : 17 pasien = 4,66 = 5 jam
- Menentukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan pada
ruangan tersebut adalah langsung dengan menggunakan rumus
Gillies di atas, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut :
5jam/pasien/hari x 17 pasien/hari x 365 hari = 31.025 = 16 orang
(365 hari – 86 hari) x 7 jam 1953
20% x 16 = 3,2 (3 orang)
Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan untuk bertugas per hari
adalah 16 + 3 = 19 orang/hari.
b. Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan
dengan metode Gillies di ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga
keperawatan dengan metode Gillies di Ruang Teratai Atas RSUD
Sidoarjo hari Selasa, 24 Desember 2020.
1. Keperawatan Langsung :
Keperawatan mandiri 5 orang pasien, 2 x 2 jam = 4 jam
Keperawatan parsial 8 orang pasien, 13 x 3 = 39 jam
Keperawatan total 4 orang pasien, 4 x 6 jam = 24 jam +
67 jam
2. Keperawatan Tidak Langsung :19 orang pasien x 1 jam = 19 jam
3. Penyuluhan Kesehatan : 19 orang pasien x 0,25jam = 4,75 jam
- Total jam = 67 + 19 + 4,75 = 90,75 jam
- Total jam keperawatan yang dibutuhkan per pasien/hari = 90,75 jam
: 19 pasien = 4,77 = 5 jam
- Menentukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan pada ruangan
tersebut adalah langsung dengan menggunakan rumus Gillies di
atas, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut :
5jam/pasien/hari x 19 pasien/hari x 365 hari = 34.675 = 18 orang
(365 hari – 86 hari) x 7 jam = 1953
20% x 18 =3,6 (4 orang)
Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan untuk bertugas per
hari adalah 18 + 4 = 22 orang/hari.

c. Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan


dengan metode Gillies di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo hari Rabu,
18 Januari 2021.
1. Keperawatan Langsung :
Keperawatan mandiri 5 orang pasien, 2 x 2 jam = 4 jam
Keperawatan parsial 8 orang pasien, 16 x 3 = 48 jam
Keperawatan total 4 orang pasien, 2 x 6 jam = 12 jam +
d. 64 jam RSUD Sidoarjo hari Selasa, 19 Januari 2021.
1. Keperawatan Langsung :
Keperawatan mandiri 5 orang pasien, 2 x 2 jam = 4 jam
Keperawatan parsial 8 orang pasien, 13 x 3 = 39 jam
Keperawatan total 4 orang pasien, 4 x 6 jam = 24 jam +

67 jam
2. Keperawatan Tidak Langsung :19 orang pasien x 1 jam = 19 jam
3. Penyuluhan Kesehatan : 19 orang pasien x 0,25jam = 4,75 jam
- Total jam = 67 + 19 + 4,75 = 90,75 jam
- Total jam keperawatan yang dibutuhkan per pasien/hari = 90,75 jam
: 19 pasien = 4,77 = 5 jam
- Menentukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan pada ruangan
tersebut adalah langsung dengan menggunakan rumus Gillies di
atas, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut :

5jam/pasien/hari x 19 pasien/hari x 365 hari = 34.675 = 18 orang


(365 hari – 86 hari) x 7 jam = 1953
20% x 18 =3,6 (4 orang)
Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan untuk bertugas per
hari adalah 18 + 4 = 22 orang/hari.
e. Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan
dengan metode Gillies di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo hari Rabu,
20 Januari 2021.
1. Keperawatan Langsung :
Keperawatan mandiri 5 orang pasien, 2 x 2 jam = 4 jam
Keperawatan parsial 8 orang pasien, 16 x 3 = 48 jam
Keperawatan total 4 orang pasien, 2 x 6 jam = 12 jam+64 jam
f. Beban Kerja Perawat di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo
Perhitungan beban kerja menggunakan Time anda Motion Study, tekhnik
ini mengamati dan mengikuti dengan cermat kegiatan personal yang diamati.
Tekhnik ini didapatkan dari beban kerja personal dan kualitas kerjanya.
Tabel. 2.17. Tindakan Produktif Keperawatan per Shift di Ruang Teratai Atas
RSUD Sidoarjo
Kegiatan 18 Januari 2021
Pagi Sore Malam
(menit)
Merapikan tempat tidur (verbed) 15 10 10
Persiapan dan pemberian obat 20 20 20
kepada pasien (injeksi)
Penggantian cairan infus 5 5 5
Evaluasi kepatenan aliran infus 3 3 3
Mengikuti visite dokter 10 - -
Menerima pasien baru 0 0 0
Pemberian kemoterapi 0 0 0
Pemberian tranfusi 45 0 0
Pemberian nutrisi melalui NGT 0 0 0
Memberikan nebulizer 15 15 15
Pemasangan IV line 10 10 10
Mengambil darah (vena) 10 10 10
Mengambil darah (BGA) 0 0 0
Total 133 73 73
Operan dinas 30 30 30
Timbang terima pasien 30 30 30
Menulis laporan antar shift 60 60 60
Pembuatan dokumentasi tindakan di 30 30 30
RM
Melengkapi RM 10 10 10
Total 160 160 160
Keterangan :
1. Total waktu diatas merupakan waktu yang dibutuhkan 1 perawat
untuk merawat 1 orang pasien
2. Kegiatan tidak produktif yang dilakukan perawat yaitu makan dan
sholat membutuhkan waktu 40 menit
3. Jumlah waktu kerja per shift yaitu (133 + 160 + 40) x 8 = 2664 menit

Tabel 2.18. Beban Kerja Perawat di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo
Pagi Sore Malam
Waktu produktifitas 2344 menit 1864 menit 1864 menit
Tidak produktif 40 menit 40 menit 40 menit
Jumlah jam kerja 2664 menit 2184 menit 2184 menit
Prosentase produktifitas kerja 87,98% 85,34% 85,34%
Rata-rata beban kerja perawat 86,22%
Keterangan : Tinggi = >80%, Sedang = 60-80%, Rendah =
<60% Berdasarkan metode Time and Motion Study yaitu
86,22% (Kategori tinggi).

g. Kepuasan Kerja Perawat


Tabel 2.19. Persentase Kepuasan Perawat terhadap Struktur Organisasi (n=14)
di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo
No Pernyataan TP CP P SP
1 Persentase kepuasan perawat terhadap 7,14% 7,14% 35,71% 50%
struktur organisasi
2 Persentase kepuasan perawat terhadap 35,71% 64,3%
jobdisk
3 Persentase kepuasan perawat terhadap 14,3% 21,42% 64,3%
kinerja kepala ruangan
4 Persentase kepuasan perawat terhadap 28,6% 71,42%
kinerja ketua tim/perawat primer
5 Persentase kepuasan perawat terhadap 21,42% 78,6%
fasilitas yang diberikan rumah sakit
(beasiswa, pelatihan dan pendidikan)
6 Persentase kepuasan perawat terhadap 21,42 35.71 14,3% 35,71%
Pendapatan % %
24
7 Persentase kepuasan perawat terhadap 42,85 57,14%
peran pembantu perawat %
8 Persentase kepuasan perawat terhadap 100%
jam kerja dalam 1 hari
9 Persentase kepuasan perawat terhadap 85,71 7,14% 7,14%
pengambilan cuti dalam waktu 1 minggu %
10 Persentase kepuasan perawat tehadap 14,3% 71,42 14,3%
tingkat beban kerja berdasarkan tingkat %
ketergantungan pasien.

Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dibagikan kepada 14 perawat, 100%


perawat telah puas terhadap jam kerja dalam 1 hari

2. M2 (Material)
Penerapan proses praktik profesi Ners mahasiswa program studi profesi
ners Stikes Widyagama Husada Malang, mengambil tempat di ruang Teratai lantai
2 Kelas II RSUD Kabupaten Sidoarjo. Pengkajian data awal di lakukan pada
tanggal 18-20 Januari 2021. Adapun data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
DENAH RUANGAN TERATAI LANTAI II

DENAH LETAK APAR & JALUR EVAKUASI


TERATAI LANTAI 2 U
KE MAWAR
R. Linen KUNING ATAS
PANEL

Bersih GUDANG
R. Pantri
TERATAI TERATAI TERATAI TERATAI TERATAI TERATAI TERATAI
D2 C2 B2 A2 F2 G2 H2 KAMAR
1-4 1-4 1-4 1-4 1-4 1-4 1-4 PASIEN

LIFT
R. Kursi
R. Transit Roda

TURUN TERATAI LT.1


R. Linen
R.
Kotor
MAHASISWA

PINTU DARURAT

TERATAI TERATAI TERATAI TERATAI


KAMAR
E2 K1 J1 I1 PASEIN
1-4 1-4 1-4 1-4

R.ADMIN
AREA LAPANG LANTAI 2 DAN PERAWAT
LUAR BEDAH CENTRAL

KETERANGAN
JALUR EVAKUASI

TITIK KUMPUL

TANGGA

25
Keterangan:
1. Kantor perawat
2. Nurse Station
3. R. Mahasiswa (Ruang Transit)
4. Kamar pasien
5. Ruang tindakan
6. Ruang linen bersih dan kotor
7. Ruang panel
a. Lokasi dan denah ruangan
1. Lokasi Ruangan

Lokasi penerapan proses praktik yang digunakan dalam kegiatan profesi manajemen
keperawatan mahasiswa program Studi Profesi Ners STIKES Widyagama Husada
Malang yang terletak dengan uraian sebagai berikut:
 Sebelah barat nursing station pintu keluar dengan jalan ke ruangan mawar
kuning atas
 Sebelah utara gudang dan ruang Cleaning service
 Sebelah selatan berbatasan dengan ruang ITIP
 Sebelah timur taman RSUD Kabupaten Sidoarjo
b. Gambaran umum ruangan
Ruang teratai lantai 2 didalamnya terdapat beberapa ruangan antara lain ada
ruang perawat (nurse station) berada di tengah tempatnya depan pintu keluar, nurse
station antara kamar K dan kamar E (isolasi TMB DR). Kamar A-D ruang rawat inap
penyakit dalam Sedangkan kamar E ruang isolasi, Kamar F dan J ruang rawat inap
pasien non TB, Kamar H ruang rawat inap pneumonia non-covid, kamar I-K ruang
rawat inap pasien TB dengan total 11 ruangan, Ruang linen, Ruang kursi roda, Kamar
mandi perawat, dan setiap ruang rawat inap pasien terdapat satu kamar mandi khusus
pasien.
c. Sarana dan Prasarana Petugas Kesehatan

Fasilitas
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 18- 20 januari 2021 tenaga kesehatan
diruang teratai lantai 2 kelas II dilengkapi fasilitas sebagai berikut :
1. Ruang kepala ruangan berbeda dengan ruang pertemuan perawat, ruang kepala
ruangan terletak dibawah ruangan teratai bawah.
2. Terdapat 2 kamar mandi atau WC khusus perawat
3. Nurse station berada ditengah ruang teratai lantai 2 menjadi satu dengan rawat
inap.
26
4. Meja administrasi berada di dalam nurse station bagian utara nurse station
5. Gudang berada di pojok utara berselahan dengan ruang rawat inap I dan menjadi
satu dengan ruang linen kotor
6. Ruang kantor perawat, tempatnya berada di sebelah belakang nurse station
7. Ruang linen bersih berada didekat pintu keluar arah Mawar kuning atas ruang
rawat inap kelas II didepan ruang panel
8. Ruang kursi roda berada disamping gudang
9. Ruang transit sebelah utara tepatnya disamping ruang D rawat inap

Fasilitas non medis petugas kesehatan


Tabel 1.1 Fasilitas non medis petugas kesehatan
No Nama barang Jumlah
1 AC Kaset 3
2 Lemari es 1
3 Lemari linen 1
3 Lemari penyimpanan alat 2
4 Lemari dokumen 2
5 Lemari es untuk obat 1
6 Lemari penyimpanan BHP 1
7 Apar (alat pemadam api ringan) 5
9 Bed tindakan 1
10 Brankard 1
11 Dispenser 1
14 Gayung 2
15 Klosed 2
16 Handrub 13
18 Loker obat infus 36
19 Meja biro 5
20 Meja pasien 1
21 Nurse station 1
22 Over bed table 37
24 Tempat sampah medis 6
25 Sofa satu set 1
26 Tempat sampah non medis 8
27 Troli injeksi 3
28 Troli stainles 3
32 Spilkit 1
35 Telepon 1
36 Jam dinding 3

Administrasi penunjang RM
1. Buku observasi TTV
2. Buku laborat
3. Buku transfusi
4. Buku harian morning report
5. Buku visit non IPD
6. Buku perlengkapan KRS (surat istrahat dan dirawat)
27
7. Buku PKRS
8. Buku setor status teratai
9. Buku catatan evaluasi sterilisasi
10. Buku KTD
11. Buku kematian
12. Buku perbaikan IPS
13. Buku CSSD
14. Buku VCT (pasien HIV)
15. Buku suspek TBC
16. Buku daftar pasien beresiko
17. Buku sensus
d. Sarana dan Prasarana Pasien (Desember 2020)

Fasilitas :
Prasarana sumber listrik dari PLN, sedang Genset bergabung dengan milik Rumah
Sakit, Untuk sumber air menggunakan air PDAM dengan sistem tandon.
Adapun fasilitas masing-masing ruang adalah sebagai berikut:
1) Fasilitas ruang pasien kelas II : Masing - masing Ruang pasien terdiri dari :

Tabel 1.2 Fasilitas non medis petugas kesehatan


No Fasilitas Jumlah
1 Tempat tidur 44
2 Kasur 44
3 Bantal 44
4 Kamar mandi 11
5 Waskom 7
6 Pispot 11
7 Urinal 22
8 Kipas angin 44
9 Oksigen central 44
10 Standar infus 44
11 Kursi 44
12 Jemuran 11
13 Wastafel 11
14 Shower 11
15 Gantungan baju 11

Berdasarkan hasil pengkajian diatas didapatkan hasil bahwa diruang teratai


lantai 2 tersedia shower, wastafel, WC, jemuran handuk setiap kamar dan terdapat
pispot tersedia kotak sampah non medis namun tidak ada kotak sampah medis.
Kotak sampah medis hanya tersedia didepan nurse station, didalam kamar pasien
setiap tempat tidur sudah tersedia titik oksigen sentral dan terpasang kipas angin,
sedangkan untuk standar infus sudah sesuai dengan jumlah tempat tidur yaitu
dengan jumlah 44 standar infus.
28
e. Sarana Dan Prasarana Peralatan Kesehatan Diruang Teratai Lantai II

Sarana dan prasarana peralatan kesehatan Ruang teratai atas bulan januari 2021
Tabel 1.3 Fasilitas Medis
NO NAMA BARANG JUMLAH
1 Ambubag anak 1
2 Ambubag bayi 1
3 ECG 2
4 Lampu tindakan 1
5 Nebulizer 2
6 Penlight 1
7 Stetoskop anak 1
8 Stetoskop dewasa 3
9 Section pump dewasa 1
10 Syringe pump 9
11 Tensi meter 3
12 Thermometer digital 3

Menurut standar SNARS (2018), Untuk menjamin peralatan medis dapat


digunakan dan layak pakai maka rumah sakit perlu melakukan inventarisasi peralatan
medis yang meliputi peralatan medis yang dimilik oleh rumah sakit dan peralatan
medis kerja sama operasional (KSO) milik pihak ketiga; melakukan pemeriksaan
peralatan medis sesuai dengan penggunaan dan ketentuan pabrik melaksanakan
pemeliharaan preventif dan kalibrasi. Berdasarkan data di atas peralatan medis di
Ruang Teratai Atas RSUD Kabupaten Sidoarjo sudah cukup baik sesuai dengan
standar Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor
340/MENKES/III/2010, namun Masih ada 1 barang yang belum tersedia di Teratai atas
yaitu vein viewer.
f. Inventaris alat tenun

Sarana dan Prasarana Inventaris alat tenun diRuang Teratai lantai II RSUD
Sidoarjo
Tabel 1.4 linen bersih
No Jenis
1 Selimut
2 Seprei
3 Sarung bantal
4 Stick laken
5 Perlak

g. Jumlah tempat tidur pasien

1.5 Tabel jumlah tempat tidur


No Tanggal Ruang Jumlah TT Terpakai Kosong
1 18 Teratai lantai 44 29 15
II
2 19 29
Teratai lantai 44 27 17
II
3 20 Teratai lantai 44 24 20
II
Berdasarkan pengkajian pada Tanggal 18 - 20 Januari 2021 di Ruang Teratai
Lantai 2 bahwa tempat tidur pasien disesuaikan dengan kapasitas jumlah pasien dan
sesuai ukuran ruangan yang ada, serta jenis tempat tidurnya pun disesuaikan dengan
jumlah pasien. Namun berdasarkan hasil observasi di sekitar tempat tidur pasien tampak
keluarga pasien meletakkan barang-barang yang kurang tersusun rapi.

h. Pencahayaan dan Ventilasi

Pencahayaan di Ruang Teratai Atas RSUD Kabupaten Sidoarjo cukup terang, baik
pencahayaan dari luar/cahaya matahari maupun dari dalam/lampu. Semua sudut ruangan
sudah diberikan penerangan umum. Saklar ditempatkan dekat pintu masuk, disekitar
individu ditempatkan pada tempat yang mudah dijangkau. Ventilasi di Ruang Teratai Atas
RSUD Kabupaten Sidoarjo menggunakan ventilasi, jendela, suhu, aliran udara, dan
kelembaban setiap ruangan tidak dapat diatur sesuai permintaan pasien, dan khusus
diruangan Isolasi terdapat ventilasi blower. Berdasarkan Kemenkes
1204/Menkes/SK/X/2010 tentang. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit,
kondisi pencahayaan dan ventilasi di Ruang Teratai Atas RSUD Kabupaten Sidoarjo
sudah memenuhi standart.
Pengertian Manajemen Logistik adalah serangkaian kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, dan pengawasan terhadap kegiatan pengadaan pencatatan,
pendistribusian, penyimpanan, pemeliharaan dan penghapusan logistik guna mendukung
efektivitas dan efisiensi dalam upaya pencapaian tujuan organisasi .
i. Kegiatan Logistik di Irna Teratai
1. Pengendalian inventarisasi/kontrol
Usaha untuk mengawasi dan mengamankan keseluruhan barang / peralatan logistik
2. Pengadaan
Usaha dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan operasional ruangan,sesuai dengan
kebutuhan dan keadaan sebenarnya secara prioritas.
3. Penyimpanan
Kegiatan penerimaan dan penyimpanan sesuai dengan jenis barang / peralatan
4. Pemeliharaan

30
Tulis sisa barang dimodul ASET di sim RS dengan menu PERMINTAAN
Tulis permintaan barang dimodul ASET dengan menu PERMINTAAN

Pengambilan barang digudang umum


Usaha atau proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi teknis dan daya
guna.Setiap hari peralatan dibersihkan,bila ada yang rusak segera dilaporkan sesuai
Cek sisa barang digudang
dengan bagiannya.
5. Pendistribusian Sesuaikan barang yang diterima dengan permintaan dimodul ASET

Kegiatan mendistribusikan barang atau alat sesuai dengan fungsi masing-masing


j. Prosedur Permintaan Kebutuhan Logistik di Irna Teratai
Pengadaan alat kesehatan dilakukan pada tim pengadaan yang kemudian dilaporkan
pada bagian keuangan. Alur pengadaan alat medis
Simpan barangdiajukan
digudangoleh
irna kepala
teratai ruangan dengan me
ngajukan program pengadaan barang yang ditujukan kepada wakil direktur umum. Untuk pen
gadaan alat non medis dengan cara mengajukan surat permohonan dari IRNA ke wakil direkt
ur umum dengan tembusan ke logistik, sedangkan untuk pengajuan barang farmasi dilakuka
n oleh kepala IRNA yang ditujukan ke wakil direktur dengan tembusan ke bidang farmasi. Se
dangkan untuk permintaan kebutuhan logistic di Ruang Teratai II RSUD Kabupaten Sidoarjo
ada tiga yaitu:
1. Permintaan kebutuhan logistic non medis, seperti alat tulis kantor dan alat kebersih
an

Gambar 1.6 Alur Permintaan Logistik Non Medis Irna Teratai


31
Tulis permintaan barang diTulis
formsisa barang dibarang
permintaan modul farmasi yang ada di SIM RS
Pengambilan barang di gudang floor stock
Cek sisa barang di gudang ruangan Form permintaan yang sudah di ACC dibawa ke gudang floor stock untuk pengambilan barang
Tulisuntuk
Form permintaan barang dicopy permintaan
arsip barang di modul farmasi
Form permintaan barang dibawa ke IPE untuk di ACC
Data permintaan barang dikirimkan lewat modul farmasi

Sesuaikan barang yang diterima sesuai dengan permintaan dalam modul farmasi, kemudian klik kotak “diterima”
2. Permintaan kebutuhan logistik medis, seperti bola tensi, manset, kertas EC
Catat barang yang di dapat ke buku catatan ruangan.
G
Simpan form Catat
penerimaan
barangdalam arsip
yang di dapat dalam buku catatan ruangan
Simpan barang ke gudang penyimpanan ruangan
Simpan copy form permintaan barang dan form penerimaan barang dari gudang
Simpan barang ke gudang penyimpanan ruangan

Gambar 1.7 Alur Permintaan Logistik Medis Irna Teratai


1. Permintaan Kebutuhan Logistik BAHP, seperti handschun, masker, aseptan, dressing IV

32
33
. M3 (METODE)

a. Penerapan MAKP

Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) adalah suatu sistem

(struktur, proses dan nilai-nilai) yang memungkinkan perawat profesional

mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk

menopang pemberian asuhan tersebut (Nursalam, 2012). Unsur dasar

dalam menetukan pemilihan MAKP dapat didasarkan pertimbangan yang

sesuai dengan misi dan visi institusi, dapat diterapkan proses asuhan

keperawatan dan asuhan keperawatan, efesien dan efektif penggunaan biaya,

terpenuhinya kepuasan klien keluarga dan masyarakat, kepuasan kinerja kerja

dan MAKP nya. Menurut Grant & Massey (1997) ada 4 model MAKP yang

sudah ada dan terus dikembangkan dalam menghadapi tren pelayanan

keperwatan yaitu MAKP fungsional, MAKP kasus, MAKP primer, MAKP tim.

34
STRUKTUR ORGANISASI KEPERAWATAN PROFESIONAL
METODE TIM INSTALASI RAWAT INAP TERATAI LANTAI 2
KEPALA RUANGAN

NURAINI MANAJER
PELAYANAN PASIEN

ANIS FARIDAH

PERAWAT PRIMER PERAWAT PRIMER


LAILAH. N JUJUK. H

PERAWAT PELAKSANAN PERAWAT PELAKSANA

DIANITA. A DEWI ASTUTIK


ANDINI. RW YUNI.E

AE BCD FG HI JK

Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan pada taggal 18 Januari 2021,
Model asuhan keperawatan professional di Ruang Teratai atas saat ini menggunakan
metode tim dikarenakan kualifikasi perawat S1 keperawatan berjumlah 7 orang, D3
keperawatan berjumlah 16 orang, D4 keperawatan berjumlah 1 orang Non Medis
berjumlah orang 3. Komunikasi antar profesi terlaksana dengan baik, pendokumentasian
keperawatan sebagian masih belum terlaksana. Secara keseluruhan MAKP tim yang
diterapkan diruangan sudah bisa berjalan dengan lancar dan sudah cukup maksimal. 

Hasil Kuesioner Model Penerapan Asuhan Keperawatan (MAKP) dengan Perawat di


Ruang Teratai Atas RSUD Kabupaten Sidoarjo tanggal 21 Januari 2021

NO PERTANYAAN YA TIDAK
1. Model Asuhan Keperawatan
35

a. Apakah model asuhan keperawatan yang digunakan 100% 0%


perawat saat ini adalah MAKP ?
Moduler Tim
b. Apakah anda mengerti atau memahami dengan model 100% 0%
asuhan keperawatan yang digunakan saat ini ?
c. Menurut anda , apakah model tersebut cocok digunakan 100% 0%
diruangan anda?
d. Apakah model yang digunakan sesui dengan visi dan misi 100% 0%
ruangan ?
2. Efektifitas Dan Efisiensi Model Asuhan Keperawatan

a. Apakah dengan menggunakan model saat ini menjadi 85,7% 14,3%


semakin pendek lama rawat inap bagi pasien?
b. Apakah model yang digunakan saat ini tidak menyulitkan 28,6% 71,4%
dan memberikan beban berat kerja bagi anda?
c. apakah model yang digunakan mendapatkan banyak 14,3% 85,7%
kritikan dari pasien terhadap ruangan?
3. Pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan

a. apakah telah terlaksana komunikasi yang adekuat antara 100% 0%


perawat dan tim kesehatan lain?
b. apakah kontinuitas rencana keperawatan terlaksana? 100% 0%
c. apakah anda sering mendapat teguran dari ketua tim? 14,3% 85,7%
d. apakah anda menjalankan kegiatan sesuai tupoksi? 100%
4. Tanggung Jawab Dan Pembagian Tugas

a. apakah job decription untuk anda selama ini sudah jelas? 100% 0%
b. apakah tugas anda sesuai dengan model asuhan 100% 0%
keperawatan yang saat ini digunakan ruangan ?
c. apakah anda mengenal atau mengetahui kondisi pasien dan 100% 0%
dapat menilai tingkat kebutuhan?
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021)

Berdasarkan hasil pengumpulan data dengan kuesioner dari 7 responden


perawat telah memahami dengan model asuhan keperawatan yang dijalankan,
sedangkan 100% cocok dengan model asuhan keperawatan yang diterapkan di
ruangan serta seluruh perawat menyatakan bahwa MAKP yang digunakan
sesuai dengan visi misi rumah sakit. Setelah dilakukan klarifikasi kembali dengan
Kepala Ruangan, MAKP Ruang Teratai Atas menggunakan MAKP moduler yang
merupakan gabungan dari metode primer dan metode tim. Dalam satu shift Ketua
Tim Teratai Atas akan membagi perawat yang bertugas pada hari tersebut
untuk merawat pasien di 11 ruangan yang berbeda-beda. Tanggung jawab
perawatan pasien terbagi sebagai berikut, 1 perawat bertanggung jawab maximal
4 orang pasien dalam 1 ruangan

2. Penerimaan Pasien Baru


36
Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat pada tanggal 18 Januari

2021 Penerimaan pasien baru di ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo dimulai

pasien yang akan masuk rumah sakit, dari IGD menghubungi terlebih dahulu
Ruang Teratai Atas dan dari poli ataupun ruangan lain. Ruang Teratai Atas akan

menyiapkan kamar, setelah kamar pasien sudah siap, kemudian pasien datang

dilakukan identifikasi pasien dan dicocokkan dengan berkas RM, pasien

ditidurkan sesuai dengan ruang kebutuhan pasien, operan status present

dengan petugas yang mengantar dengan menggunakan lembar transfer dan

harus ditanda tangani oleh pengantar dan penerima pasien, kemudian perawat

melakukan pengkajian keperawatan meliputi

37
Pasien

IGD IRJ

MRS

1. Pelayanan
2. Terapi medis
3.Diagnosa medis 4.Keperawatan
Rawat Jalan

5.Penunjang medis

KRS

Meninggal
Dirujuk Pulang Pulang paksa

Instalasi
 Pemulasaran jenazah
1. Healt education  

2. Kontrol

Gambar 3.4 Alur Penerimaan


38 Pasien Baru di Ruang Teratai Aatas

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 18 Januari 2021 kepada

perawat,Penerimaan Pasien Baru sudah dilakukan oleh perawat / kepala tim


yang menerima pasien baru, serta sudah dijelaskan pada pasien tentang fasilitas

dan tata tertib yang ada di ruangan.

Hasil Kuesioner Model Penerimaan Pasien Baru Dengan Perawat Di Ruang Teratai
Atas RSUD Kabupaten Sidoarjo Tanggal 21 Januari 2021

NO PERTANYAAN YA TIDAK
1. Apakah anda mengerti bagaimana penerimaan pasien 100% 0%
baru?
2. Apakah sudah ada pembagian tugas tentang penerimaan 57,1% 42,9%
pasien baru?
3. Apakah setelah selesai melakukan penerimaan pasien baru 100% 0%
anda melakukan pendokumentasian?
4. Apakah kepala ruangan atau penanggung jawab sif 100% 0%
memberitahu bahwa akan ada pasien baru?
5. Apakah sudah ada media seperti leaflet, booklet, dll yang 100% 0%
digunakan atau diberikan kepada pasien atau keluarga saat
melakukan penerimaan pasien baru?
6. Apakah saat penerimaan pasien baru sudah dilakukan 100% 0%
penjelasan tentang 3P (pengenalan kepada pasien tentang
tenaga kesehatan lain, peraturan rumah sakit, penyakit
serta sentralisasi obat)
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021)

Data didapatkan melalui kuesioner dari 7 perawat dan didapatkan 100%

perawat telah mengerti mengenai penerimaan pasien baru. Penerimaan pasien

baru meliputi sarana prasarana yang telah disediakan di ruang Teratai Atas

yaitu lembar pasien masuk RS, tata tertib pasien dan pengunjung ruangan,

tempat tidur pasien baru, lembar format pengkajian pasien baru, lembar

rekonsiliasi obat dan menvalidasi kembali identitas pasien yang tertera pada

gelang identitas pasien. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebanyak 100%

perawat memiliki masing- masing tugas mengenai penerimaan pasien baru.

Berdasarkan hasil observasi,penerimaan pasien baru dilakukan ketika

akan ada pasien baru. Perawat yang menerima pasien baru adalah perawat yang

bertanggung jawab saat itu sehingga semua perawat harus memiliki kompetensi
39
untuk melakukan penerimaan pasien baru. Berdasarkan wawancara pada kepala

ruangan dan perawat penerimaan pasien baru yang sudah dilakukan di Ruang

Teratai Atas yaitu dimulai sejak pasien datang, perawat akan menyiapkan kamar
dibantu dengan pekarya kesehatan, menyiapkan lembar penerimaan pasien

baru, memperkenalkan diri dan ruangan, memperkenalkan aturan rumah sakit

dan aturan ruangan dari Mawar Merah Barat. Pada saat pasien baru masuk,

perawat akan memvalidasi kembali identitas pasien yang tertera pada gelang

identitas pasien, menjelaskan tujuan pemasangan gelang identitas,

memperkenalkan nama dokter dan perawat yang akan merawat, menjelaskan

mengenai hak dan kewajiban pasien.

Data menunjukkan 100% perawat melakukan pendokumentasian setelah

penerimaan pasien baru dilakukan. Format penerimaan pasien baru telah

disediakan dan terdapat di dalam format pengkajian pasien. Sebesar 100%

perawat diruangan Teratai Atas menyatakan bahwa telah tersedia pemberian

brosur atau leaflet dan booklet saat melakukan penerimaan pasien baru, namun

penggunaannya masih belum optimal.

3. Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi keperawatan adalah suatu tindakan yang memuat seluruh informasi

yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosa keperawatan, menyusun rencana

keperawatan, melaksanakan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang disusun

secara sistematis, valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Jadi, dapat disimpulkan

pendokumentasian adalah informasi mencakup aspek biologis, psikologis, social dan

spiritual yang terjadi pada setiap tahap proses keperawatan yang dicatat secara

menyeluruh serta informasi yang disusun secara sistematis kedalam suatu format yang

telah disetujui dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral maupun hukum.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 18-19 Januari 2021 semua tenaga kesehatan

yang melakukan implementasi ke pasien dicatat dalam satu lembar terintegrasi dan

berkelanjutan.
40
Setelah dilakukan wawancara terhadap perawat, menyatakan sudah ada format

pendokumentasian, dan melakukan pendokumentasian dengan tepat waktu. Didapatkan

pendoku mentasian yang berlaku di Ruang Teratai Atas adalah sistem SOR (Source
Oriented Record) yaitu suatu sistem pendokumentasian yang berorientasi dari berbagai

sumber tenaga kesehatan, misalnya dari Dokter, perawat, ahli gizi, fisioterapi dan lain-

lain. Contoh dokumentasi : lembar indeks diagnose, lembar registsrasi, lembar masuk

dan keluar RS, lembar untuk penempelan surat (MRS, rujukan), daftar masalah, lembar

riwayat penyakit, lembar catatan harian dokter, lembar instruksi dokter, lembar untuk

pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Lembar instruksi dokter dan laporan perawat,

lembar konsultasi, lembar observasi, lembar pengkajian dan asuhan keperawatan.

Pendokumentasian dilakukan sesuai dengan kondisi pada setiap shift dan

pendokumentasian mencakup asuhan keperawatan mulai dari keluhan utama, data

objektif, data subjektif dan tindakan keperawatan. Selama ini pendokumentasian asuhan

keperawatan sudah dilaksanakan pada lembar rekam medis dan format asuhan

keperawatan. Catatan tindakan keperawatan pada rekam medis terkait advice dari

Dokter, sedangkan pada format status pasien meliputi anamnesa, diagnosa, pengkajian,

renpra, intruksi Dokter, laporan perawat dan intervensi serta evaluasi keperawatan.

Lembar observasi pasien tidak ditempel pada bed pasien masing-masing ruangan tapi

terdapat pada lembar observasi di Nurse Station.

Komunikasi via telepon dengan SBAR

S: Situasion (kondisi terkini yang terjadi pada pasien)

 Sebutkan nama pasien, umur, tanggal masuk dan hari perawatan serta dokter

yang merawat

 Sebutkan diagnosis medis dan masalah keperawatan yang belum atau sudah

teratasi/kebutuhan utama

B: Background (info penting yang berhubungan dengan kondisi pasien terkini)

 Jelaskan intervensi yang telah dilakuakan dan respons pasien dari setiap diagnose

keperawatan 41

 Sebutkan riwayat alergi, riwayat pemedahan penanganan alat infasif dan obat-

obatan termasuk cairan infuse yang digunakan

 Jelaskan pengetahuan pasien dan keluarga terhadap penanganan medis


A: Assessment (hasil pengkajian dari kondisi pasien saat ini)

 Jelaskan secara lengkap hasil pengkajian pasien terkini seperti TTV, Skor

nyeri tingkat kesadaran, status restrain, resiko jatuh,status nutrisi kemampuan

elimasi dan lain-lain jelaskan informasi klinik lain yang mendukung

R: Recommendation

 Rekomendasikan intervensi keperawatan yang telah dan perlu dilakukan

termasuk discharge planning dan edukasi pasien dan keluarga.

 Hasil advis dokter

Hasil Kuesioner Dokumentasi Keperawatan Dengan Perawat Di Ruang Teratai Atas


RSUD Kabupaten Sidoarjo Tanggal 21 Januari 2021

NO PERTANYAAN YA TIDAK
1. Apakah bapak/ibu sudah mengerti cara pengisian format
100%
dokuntasi tersebut dengan benar dan tepat?
2. Apakah menurut bapak/ibu format yang digunakan ini bisa
membantu (memudahkan) perawat dalam melakukan pengkajian 100%
pada pasien?
3. Apakah bapak/ibu sudah melaksanakan pendokumentasian
85,7% 14,3%
dengan tepat waktu (segera setelah melakukan tindakan)?
4. Apakah menurut bapak/ibu model dokumentasi yang digunakan
28,6% 71,4%
ini menambah beban kerja perawat?
5. Apakah menurut bapak/ibu model dokumentasian digunakan ini
57,1% 42,9%
menyita banyak waktu?
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021)

Berdasarkan data yang didapatkan, sejumlah 100% perawat ruang teratai atas

mengatakan bahwa format pengkajian yang digunakan memudahkan perawat dalam

melakukan pengkajian pada klien. Pengkajian digunakan sebagai pemikiran dasar dari proses

keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien. Pengkajian

merupakan tahapan proses keperawatan yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari

berbagai sumber melalui cara komunikasi. Pengkajian yang tidak lengkap dapat mengakibatkan

intervensi atau asuhan yang diberikan tidak tepat. Kelengkapan dalam dokumentasi
42
keperawatan sebaiknya dikerjakan untuk mencegah resiko kesalahan dalam pemberian

asuhan keperawatan. Format diagnosis keperawatan, intervensi, dan implementasi terintegrasi

dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT) serta menggunakan sistem


komunikasi SBAR (Situation Background Assessment Reccomendation) yaitu suatu sistem

pendokumentasian yang telah terstandar oleh JCI, sebagai sebuah alat komunikasi bersama

antar tenaga kesehatan yang bertugas sebagai penanggung jawab pasien, antara lain dokter,

perawat, ahli gizi, farmasi klinis dan lain- lain. Berdasarkan hasil observasi, dokter dan

perawat sudah mengisi catatan perkembangan pasien terintegrasi untuk setiap harinya, namun

ahli gizi, farmasi dan tenaga kesehatan lain belum menuliskan di catatan perkembangan yang

dituliskan, sehingga memudahkan perawat jaga selanjutnya untuk melanjutkan rencana

keperawatan pasien

4. Timbang Terima

Berdasarkan wawancara kepada beberapa perawat pada tanggal 18-19 Januari

2021, Timbang terima dilakukan tiga sift dalam sehari atau pergantian sift, dimana

pergantian sift malam ke pagi dilakukan pada jam 07.00 WIB, Sift pagi ke shift sore

dilakukan pada jam 14.00 dan sift sore ke sift malam dilakukan pada jam 21.00 WIB.

Setiap timbang terima dihadiri oleh perawat yang bertugas serta didampingi katim.

Timbang terima dilakukan setiap pergantian shift di ruang Nurse Station setelah itu

perawat yang bertugas berkeliling ke kamar pasien untuk melihat kondisi pasien

secara langsung, serta menginformasikan pergantian perawat yang bertugas kepada

pasien. Timbang terima yang isinya informasi tentang identitas pasien, nomor bed pasien,

diagnosa medis, keadaan umum atau keluhan utama, data objektif, data subjektif,

masalah keperawatan, intervensi baik mandiri maupun kolaborasi dan catatan serta terapi

dan intervensi yang belum dan sudah dilakukan. Pelaksanaan timbang terima ini

dilakukan oleh seluruh perawat kepada perawat yang bertugas berikutnya. Pelaksanaan

timbang terima terdokumentasikan di buku timbang terima yang sudah disediakan oleh

ruangan.

Berdasarkan hasil observasi


43 pada tanggal 18-19 Januari 2021 timbang terima di

lakukan di nurse station oleh kepala ruangan, katim dan perawat pelaksana. Timbang

terima di ruangan Teratai Atas masih terfokus pada tindakan yang direncanakan dan yang

sudah dilakukan serta masalah medis tidak terfokus pada masalah keperawatan yang
ada, pada saat obserfasi keliling ke pasien sudah ditemukan perawat yang

memperkenalkan diri ke pasien dan memperkenalkan perawat pengganti. Dokumentasi

timbang terima menggunakan buku laporan tidak menggunakan status pasien karena

status dipakai visite dokter dan adanya keterbatasan waktu maka menggunakan buku

bantuan laporan.

Hasil Kuesioner Timbang Terima Dengan Perawat Di Ruang Teratai Atas RSUD
Kabupaten Sidoarjo Tanggal 21 Januari 2021

N
PERTANYAAN YA TIDAK
O
1. Apakah timbang terima dilakukan setiap shift ? 100%
2. Apakah timbang terima telah dilaksanakan tepat waktu? 42,9% 57,1%
3. Apakah timbang terima dihadiri oleh semua perawat yang 100% 0%
berkepentingan?
4. Apakah timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan ? 42,9% 57,1%
5. Adakah yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan timbang 57,1% 42,9%
terima?
6. Apakah anda mengetahui apa saja yang harus disampaikan 100% 0%
dalam pelaporan timbang terima?
7. Adakah buku khusus untuk mencatat hasil laporan timbang 71,4% 28,6%
terima?
8. Adakah kesulitan dalam mendokumentasikan laporan timbang 100% 0%
terima?
9. Apakah ada interaksi dengan pasien saat timbang terima 100% 0%
berlangsung?
10. Apakah anda mengetahui bagaimana teknik pelaporan timbang 100% 0%
terima ketika berada di depan pasien?
11. Apakah waktu untuk mengunjungi masing-masing pasien 71,4% 28,6%
antara 5-10 menit?
12. Apakah terdapat persetujuan atas penerimaan timbang terima? 42,9% 57,1%
13. Apakah terdapat evaluasi mengenai kesiapan perawat 100% 0%
pengganti sif selanjutnya oleh kepala ruangan?
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021).

Timbang terima dilakukan di ruang perawat teratai atas RSUD Kabupaten Sidoarjo

yang dihadiri oleh seluruh perawat yang dinas setelah shift, dan perawat yang akan dinas

shift selanjutnya. Semua perawat 57,1% menyatakan bahwa timbang terima tidak diikuti

oleh kepala ruangan dikarenakan Kepala Ruangan memiliki tugas yang tidak dapat

ditinggalkan dan Kepala Ruangan telah melimpahkan wewenang kepada katim yang
44
dipercaya dapat memimpin timbang terima. Seluruh perawat 100% menyatakan ada

interaksi dengan pasien saat timbang terima berlangsung. Dari hasil observasi, selama

pengkajian berlangsung tanggal 18 Januari 2021 validasi dilaksanakan dari shift pagi ke
shift sore, dari shift sore ke shift malam, dan dari shift malam ke shift pagi. Proses

pelaksanaan validasi pasien 71,4% perawat menyatakan waktu yang dibutuhkan hanya

5-10 menit.

5. Ronde Keperawatan

Dari hasil wawancara pada tanggal 18-19 Januari 2021 di ruang Teratai Atas,

diketahui bahwa ronde keperawatan masih belum dilakukan dan masih menggunakan

RDK (Refleksi Diskusi Kasus) yang merupakan suatu metode dalam merefleksikan

pengalaman klinis perawat dalam menerapkan standar dan uraian tugas.

Pengalaman klinis yang direfleksikan merupakan pengalaman actual dan menarik baik

hal-hal yang merupakan keberhasilan maupun kegagalan dalam memberikan pelayanan

keperawatan termasuk untuk menemukan masalah dan menetapkan upaya

penyelesaiannya misal dengan adanya rencana untuk menyusun SOP baru. RDK hanya

dilakukan pada saat menemukan adanya permasalahan dan masih belum terjadwal

karena adanya keterbatasan waktu, dan biasanya RDK ditentukan oleh katim

mengenai permasalahannya dengan melihat permasalahan yang ada dan di sampaikan

ke kepala ruangan, kemudian dipimpin kepala ruangan untuk melakukan RDK yang diikuti

oleh katim, dan perawat pelaksana.

Dari Hasil Observasi tanggal 18-19 januari 2021 di ruang Teratai Atas ronde

keperawatan memang belum dilakukan dan selama ini masih menggunakan RDK

(Refleksi Studi Kasus) dan RDK dilakukan hanya pada saat menemukan permasalahan.

45
Hasil Kuesioner Ronde Kerperawatan Dengan Perawat Di Ruang Teratai Atas RSUD
Kabupaten Sidoarjo Tanggal 21 Januari 2021

N PERTANYAAN YA TIDAK
O
1. Apakah ruangan ini mendukung adanya ronde keperawatan? 85,7% 14,3%
2. Apakah sebagaian besar perawat diruangan ini mengerti 100% 0%
adanya ronde keperawatan?
3. Apakah pelaksanaan ronde keperawatan diruangan ini telah 71,4% 28,6%
optimal?
4. Apakah setiap bulan dilakukan ronde keperawatan? 57,1% 42,9%
5. Apakah keluarga pasien mengerti tentang adanya ronde 57,1% 42,9%
keperawatan?
6. Apakah tim dalam pelaksanaan kegiatan ronde keperawatan 71,4% 28,6%
sudah dibentuk?
7. Apakah yang dibentuk telah mampu melaksanakan kegiatan 100% 0%
ronde keperawatan secara optimal?
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021).

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan, sebanyak 85,7% perawat

mendukung adanya ronde keperawatan. Pelaksanaan ronde keperawatan di Ruang

Teratai Atas masih belum optimal, hal ini ditunjukkan dengan data kuesioner hanya 100%

perawat yang menyatakan pelaksanaan ronde berjalan optimal. Ronde dilakukan di

Ruang Teratai atas dilakukan ronde tiap tiga bulan sekali melalui metode studi kasus

pada pasien dengan masalah penyakit yang tak kunjung mengarah ke perbaikan dan

masalah keperawatan yang sangat kompleks. Pelaksanaan ronde keperawatan menemui

beberapa hambatan, antara lain: jumlah tenaga keperawatan yang ada di ruangan teratai

atas masih terbatas, dengan beban kerja yang tinggi. Perawat Ruang teratai atas akan

saling membantu antar ruangan, jika pekerjaan di ruangannya sudah selesai.

Dalam pelaksanaan ronde keperawatan di ruang teratai atas, perawat juga akan

melakukan diskusi dengan profesi lain seperti dokter dan ahli gizi tanpa melibatkan

keluarga. Diskusi ini sejenis ronde keperawatan, dengan membahas usaha kolaborasi

antara perawat dengan profesi lain untuk menangani kasus tersebut.

6. Sentralisasi Obat

46
Dokter
Resep

Tagihan
langsung
BPJS Umum
Tagihan
Perawat tidak
Perawat langsung

Cholecting oleh farmasi Pasien

Farmasi
Perawat

Perawat
Gambar Alur Sentralisasi Obat di Ruang Teratai Atas RSUD  Si doarjo 

Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat pada tanggal 18-19 Januari 2021

di ruang Teratai Atas sudah dilakukan sentralisasi obat secara UDD (Unit Dose

Dispensing ) adalah suatu system distribusi obat kepeda pasien rawat inap disiapkan

dalam bentuk dosis terbagi siap pakai untuk pemakaian selama 1x24 jam system

distribusi obat UDD merupakan tanggung jawab farmasi, juga terkait dengan staf medis,

perawat, dan administrasi.

Obat diracik UDD dikemas dalam wadah kantong plastik dengan warna etiket yang

berbeda untuk mempermudah perawat dalam memberikan obat sesuai waktu yang

ditentukan dan untuk menghindari kesalahan dalam jadwal penyerahan obat.

Untuk pemberian pagi (jam 07.00) diberi dengan etiket merah muda, siang (jam 19.00)

diberi dengan etiket kuning, malam (jam 24.00) diberi dengan etiket hijau.
47
Alur sentralisasi obat setelah dokter visite memberikan resep, kemudian resep

dicollecting oleh apoteker ruangan apakah obat sudah habis atau belum di loker pasien,

kemudian resep disetorkan ke farmasi oleh apoteker ruangan. Farmasi menyiapkan obat
sesuai resep dokter, setelah itu obat diantar keruangan. Jika ada kelebihan obat maka

perawat menginformasikan ke pasien untuk kemudian dilakukan retur ke bagian farmasi.

Pembagian obat: Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam format

pemberian obat oral/ injeksi. Obat-obat yang telah diterima disimpan untuk selanjutnya

diberikan oleh perawat dengan memperhatikan alur yang telah tercantum format

pemberian obat oral/ injeksi,. Pada saat pemberian obat, perawat memanggil nama pasien

dan melihat gelang yang terpasang pada pasien dan menjelaskan nama obat, kegunaan

obat, namun belum didokumentasikan dalam format pemberian obat oral/injeksi keluarga /

pasien tidak tanda tangan di format pemberian obat.

Penambahan obat baru: Bilamana terdapat penambahan atau perubahan

jenis, dosis atau perubahan rute pemberian obat, maka informasi ini akan dimasukkan

dalam buku sentralisasi obat dan lembar kontrol obat. Pada pemberian obat

yang bersifat tidak rutin (sewaktu), maka dokumentasi tetap di catat pada buku

sentralisasi obat dan lembar kontrol obat dan tanda tangan pada lembar dokumentasi

serah terima obat.

Hasil Kuesioner Sentralisasi Obat Dengan Perawat Di Ruang Teratai Atas RSUD
Kabupaten Sidoarjo Tanggal 21 Januari 2021

NO PERTANYAAN YA TIDAK
1. Pengadaan Sentralisasi Obat
a. Apakah bapak/ibu mengetahui tentang sentralisasi obat? 100% 0%
Apakah diruangan bapak atau ibu ini terdapat sentralisasi
b. 100% 0%
obat?
Jika Ya, apakah sentralisasi obat yang sudah dilaksanakan
c. 85,7% 14,3%
secara optimal?
Jika tidak, menurut bapak/ibu apakah diruangan ini perlu
d. 100% 0%
diadakan sentralisasi obat?
Apakah selama ini bapak/ibu perna diberi wewenang dalam
e. 100% 0%
sentralisasi obat?
Apakah format daftar pengadaan tiap-tiap macam obat?
f. 100% 0%
(oral-injeksi-supotoria-infus-insulin-obat gawat darurat)
2. Alur Penerimaan Obat
Apakah selama ini ada format persetujuan sentralisasi obat
a. 48 85,7% 14,7%
dari pasien/keluarga pasien?
Apakah proses penerimaan obat langsung dari
b. 71,4% 28,6%
pasien/keluarga pasien?
3. Cara Penyimpanan Obat
Apakah diruangan ini terdapat ruangan khusus untuk
a. 100% 0%
sentralisasi obat?
b. Apakah kelengkapan sarana dan prasarana pendukung 100% 0%
sentralisasi obat sudah terpenuhi?
Apakah selama ini bapak/ibu memisahkan kepemilikan antar
c. 100% 0%
obat-obatan pasien?
Apakah selama ini bapak/ibu memberi etiket dan alamat
d. 100% 0%
pada obat-obat pasien?
4. Cara Penyimpanan Obat
Apakah selama ini sebelum memberikan obat kepada pasien
a. bapak/ibu selalu menginformasikan jumlah kepemilikan obat 85,7% 14,7%
yang telah dipergunakan?
Apakah ada format tiap jenis obat sebelum bapak/ibu
b. 100% 0%
memberikan obat ke pasien?
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021).

Berdasarkan tabel hasil kuesioner dengan 7 perawat didapatkan hasil 100%

perawat menyatakan mengetahui tentang sentralisasi obat, 100% menyatakan di Ruang

Teratai Aatas RSUD Kabupaten Sidoarjo terdapat sentralisasi obat, dan 100% perawat

menyatakan sentralisasi obat sudah dilaksanakan dengan optimal, sebanyak 100%

perawat menyatakan belum pernah diberi wewenanag dalam sentralisasi obat, sebanyak

100% perawat menyatakan ada format daftar pengadaan tiap-tiap macam obat (Oral-

injeksi-supositoria-infus-insulin-obat gawat darurat), dan 100% perawat menyatakan ada

format persetujuan sentralisasi obat dari pasien/keluarga.

7. Perencanaan pulang (discharge planning)

Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat Discharge planning di ruang

teratai atas sudah dilakukan baik saat pasien datang, saat dirawat, saat akan pulang

dengan lisan maupun tulisan oleh perawat. Untuk discharge planing sebelum terbukti

dengan format Assesment pengkajian awal keperawatan, saat akan pulang terbukti

dengan format rawat inap di rumah.

Proses pelaksanaan Discharge planning dilakukan di Nurse Station dengan cara

memanggil keluarga dan pasien. Kartu Discharge planning sudah ada dengan isi sesuai

dengan standart yang telah ditetapkan Rumah Sakit, meliputi : Identitas pasien, tanggal

masuk, diagnosa masuk, ruang rawat, kriteria pasien membutuhkan perencanaan pulang
49 rumah, aturan diet, obat-obatan yang diminum (dosis,
kritis, perawatan dan aktifitas di

warna dan efek samping), rencana hari perawatan, edukasi kesehatan, rincian

pemulangan (hasil yang dibawa pulang, jadwal kontrol klinik). Discharge planning

dilakukan oleh Perawat Pelaksana tepat saat saat pasien dinyatakan boleh pulang oleh
Dokter. Berdasarkan hasil observasi selama 3 hari dalam discharge planning di ruang

Teratai Atas dilakukan langsung kepada keluarga pasien, dan tidak ada pemberian leafleat

atau brosure yang berisi penjelasan terkait penyakit yang diderita pasien dan cara

mengatasi penyakitnya jika kambuh dan tidak ada pendokumentasian tentang HE yang

dilakukan.

50
Alur Discharge Planning Di Ruang Teratai Atas

Dokter menyatakan bahwa pasien


diperbolehkan pulang/ pasien meninggal

Dokter dan perawat melengkapi berkas status


rekam (RM) medis pasien

Berkas RM pasien dikirimkan ke Bag. Administrasi untuk dilakukan proses


perincian biaya dan kelengkapan berkas ( untuk pasien asuransi) serta
proses koding bagi pasien BPJS
dengan iur bayar

Pasien menuju unit farmasi 6 untuk mengambil obat untuk diminum


dirumah serta ke loket pembayaran Rawat Inap untuk
menyelesaikanpembiayaan

Kasir mengecek out

Keluarga pasien menunjukkan kwitansi

 pembayaran kepada petugas administrasi

Perawat menjelaskan sisa obat oral, dan

yang di minum, hasil penunjang dan


surat kontrol

Pasien KRS

Gambar Alur discharge planning di ruang Teratai Atas


Hasil Kuesioner Discharge Planning Dengan Perawat Di Ruang Teratai Atas RSUD
Kabupaten Sidoarjo Tanggal 21 Januari 2021

N PERTANYAAN YA TIDAK
O
1. Apakah bapak/ibu mengetahui tentang Discharge Planning? 100% 0%
2. Apakah bapak/ibu berikan51
saat melakukan Discharge 100% 0%
Planning? jelaskan
3. Apakah bapak atau ibu bersedia melakukan Discharge 100% 0%
Planning? Jelaskan
4. Apakah Discharge Planning dilakukan saat pasien pulang? 100% 0%
5. Apakah sudah ada pembagian tugas Discharge Planning? 42,9% 57,1%
6. Apakah PJ unit telah menginformasikan tentang operasional 100% 0%
Discharge Planning? Jelaskan
7. Apakah sudah ada pemberian browser/leaflet saat melakukan 85,7% 14,3%
Discharge Planning?
8. Apakah Discharge Planning sudah dilakukan dengan SOP 100% 0%
yang ada?
9. Apakah Discharge Planning disampaikan dengan 100% 0%
menggunakan bahasa yang dimengerti oleh pasien dan
keluarga pasien?
10. Apakah bahasa yang bapak/ibu gunakan dalam melakukan 71,4% 27,6%
Discharge Planning, mengalami kesulitan untuk dipahami?
11. Apakah setiap selesai melakukan Discharge Planning 100% 0%
bapak/ibu melakukan pendokumentasian dari Discharge
Planning yang telah bapak atau ibu lakukan?
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021).

Berdasarkan tabel hasil kuesioner dengan 7 perawat didapatkan hasil 100%

perawat menyatakan mengetahui tentang alur dishcarge planning, 100% menyatakan di

Ruang Teratai Atas RSUD Kabupaten Sidoarjo setiap selesai melakukan discharge

planning melakukan pendokumentasian, dan 100% perawat menyatakan discharge

planning sudah dilakukan dengan SOP yang ada, dan sebanyak 14,3% perawat

menyatakan tidak ada pemberian browser/leaflet saat melakukan discharge planning.

8. Supervisi keperawatan

Supervisi keperawatan adalah aktivitas menentukan kondisi atau syarat-syarat

yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan asuhan keperawatan, kegiatan

supervise semacam ini adalah merupakan dorongan dan bimbingan kesempatan bagi

perkembangan keahlian dan kecakapan para perawat, jadi dalam kegiatan supervisi

seluruh staf keperawatan bukan sebagai pelaksana pasif melainkan diperlukan sebgai

patner kerja yang memiliki ide-ide, pendapat dan pengalaman yang perlu di dengar,

dihargai dan diikut sertakan dalam usaha-usaha perbaikan proses keperawatan.

Berdasarkan hasil wawancara tanggal 18-19 Januari 2021 di ruang teratai atas

supervisi belum dilakukan secara maksimal. Supervise sudah dilakukan tapi tidak

terjadwal dan tidak terdokumentasi. Supervisi dilakukan oleh karu kekatim dan perawat
52
pelaksana, dan itu dilakukan sewaktu waktu dan tiba- tiba ketika perawat pelaksana

melakukan tindakan keperawatan tidak sesuai dengan SPO yang ada. Dari pelaksanaan

supervise ini perawat diharapkan dapat meningkat kinerja dalam melakukan asuhan
keperawatan. Dari Hasil Observasi tanggal 18-19 Januari 2021 di ruang teratai atas sudah

melakukan supervisi dan belum terdokumentasi.

Hasil Kuesioner Supervisi Keperawatan Dengan Perawat Di Ruang Teratai Atas


RSUD Kabupaten Sidoarjo Tanggal 21 Januari 2021

NO PERTANYAAN YA TIDAK
1. Apakah bapak/ibu mengerti tentang supervise? 100% 0%
2. Apakah supervisi telah dilakukan diruangan ? 100% 0%
3. Apakah supervisi dilakukan minimal satu kali setiap bulan? 100% 0%
4. Apakah PJ unit melakukan supervise? 100% 0%
Apakah supervisi diruangan sudah sesuai dengan alur yang
5. 100% 0%
ada?
6. Adakah format buku supervisi setiap tindakan? 100% 0%
Apakah format untuk supervise sudah sesuai dengan
7. 100% 0%
standar keperawatan?
Apakah alat (instrument) untuk supervisi tersedia secara
8. 100% 0%
lengkap?
9. Apakah hasil dari supervisor disampaikan kepada perawat? 100% 0%
Apakah selalu ada feed back dari supervisor untuk setiap
10. 100% 0%
tindakan?
Apakah bapak/ibu puas dengan hasil dari feed back
11. 100% 0%
tersebut?
12. Apakah follow up setiap hasil dari supervisi? 100% 0%
Apakah bapak/ibu menginginkan perubahan untuk setiap
13. 100% 0%
tindakan sesuai dengan hasil perbaikan dari supervise?
Apakah bapak/ibu perna mendapatkan pelatihan dan 57,1%
14. 42,9%
sosialisasi tentang supervise?
Sumber Kuesioner: Nursalam (2015); Sumber: Data Primer (2021).

Berdasarkan hasil pengkajian menggunakan kuesioner didapatkan hasil bahwa

sebanyak 100% telah mengetahui mengenai supervisi. Sebanyak 100% perawat

menyatakan supervisi di ruangan sudah terlaksana. Supervisi dilakukan satu bulan

sekali dan tersedianya alur supervisi yang dinyatakan oleh 100% perawat. Untuk

format baku supervisi keperawatan belum ada, SPO yang digunakan berasal dari

Depkes namun belum dilakukan perbaikan.

Penggunaan alat (instrumen) untuk supervisi sebanyak 100% perawat

menyatakan tersedia secara lengkap, semua perawat menyampaikan ada feedback

dan follow up dari supervisi


53 yang telah dilakukan. Terdapat 100% perawat

menginginkan perubahan di setiap tindakan sesuai hasil perbaikan supervisi

dan hanya setengah dari perawat yaitu 57,1% menyatakan mendapat pelatihan dan

sosialisasi tentang supervisi


54
4. M-4 (MONEY)
Sumber kesejahteraan Karyawan PNS baik tenaga medis maupun non medis

diruang Teratai Atas berasal dari:

1. Gaji pokok yang berasal dari APBD dan APBN

2. Jasa Medik

Jasa medik adalah suatu dana yang diperoleh oleh pihak internal rumah sakit

serta dikelola mandiri oleh pihak internal RSUD Sidoarjo. Besar kecilnya pemberian

jasa medik ini berdasarkan beban kerja pegawai, resiko kerja pegawai, jabatan yang

telah di capai oleh pegawai serta masa kerja pegawai.

Untuk tenaga Non PNS baik medis maupun non medis akan menerima

sumber kesejahteraan berasal dari dana murni yang dihasilkan oleh pihak interen

RSUD Sidoarjo. Karyawan ini akan tetap mendapatkan gaji pokok dan jasa medik.

Yang mana cara pemberiannya memalui dua tahap yaitu pada tanggal 1 tiap bulan

atau hari efektif yang terdekat dengan tanggal tersebut, sedangkan pembayaran jasa

medik tertanggal 15 di tiap bulan atau pada hari efektif yang terdekat dengan tanggal

tersebut.

Untuk pengadaan alat maupun pemeliharaan sarana prasarana di Ruang

Teratai Atas di kelola penuh oleh pihak rumah sakit dengan sumber biaya berasal dari

APBD dan APBN. Pihak rumah sakit akan membuat proposal untuk memenuhi

kebutuhan sarana dan parasarana untuk setiap ruangan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan administrasi ruangan dijelaskan bahwa

tidak ada kegiatan yang menghasilkan tambahan keuangan diruangan. Pembayaran

melalui loket pembayaran. Tersedianya pelayanan dokter spesialis. Adanya

kesempatan untuk mengikuti pelatian yang di biayai oleh pihak intern RSUD Sidoarjo

55
namun sebagian ada yang mandiri di biayai oleh pihak terkait.

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan biaya perawatan pasien di ruang

Teratai Atas berasal dari umum/biaya sendiri dan BPJS. BPJS dibagi menjadi 2, yaitu

BPJS kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan yang dimana akan dipakai sewaktu


kecelakaan kerja. JKMM (surat dari dinas sosial khusus untuk warga sidoarjo). Jasa

Raharja (Kecelakaan) dan Biaskes Maskin yaitu untuk pasien tanpa keluarga.

1. Jenis Pembiayaan Rawat Inap pada bulan Oktober 2020 – Desember 2020 di

ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo.

Tabel 5.1 Jenis Pembiayaan di ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo.

Jenis Pembiayaan pada bulan Oktober 2020

Jumlah Pasien Menurut Cara Pembayaran Ruang Teratai Atas

Bulan Oktober Tahun 2020


No Uraian ∑ Prosentase (%)
1 UMUM 29 9,48 %
2 HAIR STAR INDONESIA, PT 1 0,33 %

3 BPJS KESEHATAN 241 78,76 %


4 JASA RAHARJA 5 1,63 %
Jaminan Kesehatan Maskin
5 5 1,63 %
(JKMM)
International Organization for
6 1 0,33 %
Migration (IOM)
7 KEMENKES 24 7,84 %
TOTAL 306 100 %

Jenis Pembiayaan pada bulan November 2020


Laporan Instalasi Rawat Inap
Jumlah Pasien Menurut Cara Pembayaran Ruang Teratai Atas
Bulan November Tahun 2020

Prosentase
No Uraian ∑
(%)
1 UMUM 35 8,37 %
2 BPJS KESEHATAN 329 78,71 %
3 JASA RAHARJA 6 1,44 %
Jaminan Kesehatan Maskin
4 18 4,31 %
(JKMM)
5 BPJS Ketenagakerjaan 1 0,24 %
International Organization for
6 1 0,24 %
Migration (IOM)
7 BIAKES MASKIN 56 2 0,48 %
8 KEMENKES 26 6,22 %
TOTAL 418 100 %
Jenis Pembiayaan pada bulan Desember 2020

Laporan Instalasi Rawat Inap


Jumlah Pasien Menurut Cara Pembayaran Teratai Atas
Bulan Desember Tahun 2020

Prosentase
No Uraian ∑
(%)
1 UMUM 27 7,22 %
2 BPJS KESEHATAN 315 84,22 %
3 JASA RAHARJA 2 0,53 %
Jaminan Kesehatan Maskin
4 11 2,94 %
(JKMM)
International Organization for
5 2 0,53 %
Migration (IOM)
6 KEMENKES 17 4,55 %

TOTAL 374 100 %


Sumber Data: Administrasi Teratai Atas 2021

Berdasarkan tabel diatas dari bulan Oktober sampai Desember 2020 hasil pembiayaan

rawat inap pasien paling besar menggunakan BPJS Kesehatan bulan Desember 2020 yaitu

sebanyak 315 (84,22%).

Daftar Perincian Pembiayaan Perawatan Ruang Teratai Atas Tahun 2018

No
Jenis Tindakan Kelas II
.
1 BAHP Dasar 30.000
2 Biaya Makan 40.000
3 ECG 75.000
4 GDA 23.000
5 Jasa Keperawatan 50.000
6 Kamar 70.000
Konsultasi dr. Spesialis di luar jam
7 60.000
kerja datang
8 Konsultasi dr. Spesialis Via Telpon 25.000
9 Nebul 1x tindakan 50.000
10 Oksigen
Oksigen Masker < 12 jam 94.000
Oksigen Masker > 12 jam 187.000
Oksigen Nasal >12 jam 75.000
Oksigen Nasal <12 jam 55.000
11 Pemasangan NGT 55.000
12 Pemasangan Infuse Pump 57 80.000
13 Pemberian kemoterapi 50.000
14 Perawatan Luka Sedang 75.000
15 Visite Ahli gizi 40.000
16 Visite Apoteker 20.000
17 Visite dokter spesialis 55.000
18 Visite dokter umum 35.000

Sumber: Administrasi Teratai Atas Tahun 2021


Bagi pasien yang kesulitan dalam pembiayaan maka akan mendapat kebijakan khusus

dari manajemen pusat RSUD Sidoarjo, salah satu contohnya adalah dengan mencicil

pembayaran tersebut. Untuk nilai nominal baik bagi pasien umum, BPJS, maupun KSO tidak ada

yang membedakan serta kualitas layanan yang diberikan dari pihak RSUD Sidoarjo baik tenaga

medis maupun non medis juga akan sama.

a. Evaluasi struktur
Sumber keuangan di Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo secara umum berasal dari
umum/biaya sendiri dan BPJS. BPJS dibagi menjadi 2, yaitu BPJS kesehatan, BPJS
Ketenagakerjaan yang dimana akan dipakai sewaktu kecelakaan kerja. JKMM (surat
dari dinas sosial khusus untuk warga sidoarjo). Jasa Raharja (Kecelakaan) dan Biaskes
Maskin yaitu untuk pasien tanpa keluarga. Sumber kesejahteraan Karyawan PNS baik
tenaga medis maupun non medis diruang Teratai Atas berasal dari gaji pokok yang
berasal dari APBD dan APBN serta Jasa Medik.
b. Evaluasi proses
Setiap tindakan medis maupun keperawatan yang diberikan pada pasien Ruang
Teratai Atas terdokumentasikan secara komputerisasi untuk menentukan jumlah total
pembiayaan perawatan.
c. Evaluasi hasil
Selama masa perawatan bulan Oktober sampai Desember 2020 hasil pembiayaan
rawat inap pasien ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo paling besar menggunakan BPJS
Kesehatan bulan Desember 2020 yaitu 315 orang sebanyak (84,22%).

1.4. M5 (Mutu)
Peningkatan mutu pelayanan adalah derajat memberikan pelayanan
secara efisien dan efektif sesuai dengan standart profesi, standart pelayanan
yang di laksanakan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan pasien,
memanfaatkan teknologi tepat guna dan hasil penelitian dalam pengembangan
pelayanan kesehatan 58
atau keperawatan sehingga mencapai derajat kesehatan
yang optimal (Nursalam, 2015)
Mutu asuhan kesehatan sebuah rumah sakit akan selalu terkait dengan
struktur, proses, dan outcome system pelayanan rumah sakit. Secara umum
aspek penilaian meliputi evaluasi, dokumentasi, instrument, dan audit (EDIA)
(Nursalam, 2015).
Menurut Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (2018) dalam rangka
meningkatkan mutu pelayanan pasien dan menjamin keselamatan pasien maka
rumah sakit perlu mempunyai program peningkatan mutu dan keselamatan
pasien (PMKP) yang menjangkau ke seluruh unit kerja di rumah sakit.
Berdasarkan hasil pengkajian yang telah di lakukan pada tanggal 18, 19
dan 20 januari 2021di RSUD Kabupaten Sidoarjo di ruang teratai atas bagian
telah menerapkan upaya penjaminan mutu perawatan pasien, dimana terdapat
beberapa aspek penilaian penting, diantaranya sebagai berikut :
A. Keselamatan pasien (Patient Safety)
a. Sasaran ketepatan identifikasi pasien
Sasaran ini memiliki dua maksud dan tujuan yakni untuk memastikan
ketepatan pasien yang akan menerima layanan atau tindakan dan untuk
menyelaraskan layanan atau tindakan yang di butuhkan oleh pasien.
Identifikasi pasien di lakukan untuk menghindari kesalahan pasien
Identifikasi dilakukan dengan menggunakan gelang untuk identitas pasien
di pasang saat pasien dilakukan penilaian risiko mulai dari IGD atau di
ruang perawatan.Gelang terdiri dari 4 warna yang memiliki definisi
tersendiri pada masing-masing warna.
1. Gelang pink digunakan untuk pasien perempuan.
2. Gelang biru digunakan untuk pasien laki-laki.
3. Gelang kuning digunakan untuk pasien risiko jatuh.
4. Gelang merah digunakan untuk pasien alergi.
5. Gelang ungu digunakan untuk pasien tidak dilakukan resusitasi.
Menurut Kemenkes (2011) standar gelang identitas berwarna pink atau
biru berisi identitas pasien meliputi nama lengkap pasien, nomor rekam
medik, jenis kelamin pasien, dan tanggal lahir. Identifikasi pasien
dilakukan dengan mencocokan gelang identitas yang dipakai pasien.
Proses identifikasi yang digunakan di rumah sakit mengharuskan terdapat
paling sedikit 2 (dua) dari 3 (tiga) bentuk identifikasi, yaitu nama pasien,
tanggal lahir, nomor rekam medik, atau bentuk lainnya (misalnya, nomor
induk kependudukan atau barcode). Nomor kamar pasien tidak dapat
digunakan untuk identifikasi pasien. Identifikasi pasien dilakukan ketika
59
penerimaan pasien baru, pemberian obat, pemberian terapi sebelum
melakukan prosedur/tindakan dan discharge planning.
Sasaran I ketepatan identifikasi pasien meliputi standart yaitu
1. Pasien di identifikasi menggunakan 2 identitas pasien, tidak boleh
menggunakan nomor, kamar, atau lokasi pasien
2. Pasien di identifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk
darah
3. Pasien di identifikasi sebelum pengambilan darah dan spesimen lain
untuk pemeriksaan klinis
4. Pasien di identifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan
atau prosedur
5. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik identifikasi yang konsisten
pada semua situasi dan lokasi (Nursalam, 2015).
Berdasarkan hasil pengkajian 19 januari 2021, penerapan gelang
identitas di Ruang mawar merah atas bagian barat sudah sesuai dengan
kriteria Kemenkes yakni berwarna pink atau biru berisi identitas pasien
meliputi nama lengkap pasien, nomor rekam medik, tanggal lahir, NIK
pada pasien, untuk pasien allergy di berikan label berwarna merah, label
warna kuning untuk pasien beresiko jatuh, pada pengkajian semua pasien
telah diberikan gelang identitas oleh perawat.
b. Sasaran Peningkatan komunikasi yang efektif (SBAR)
Menurut Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 (2018)
komunikasi dianggap efektif bila tepat waktu, akurat, lengkap, tidak
mendua (ambiguous), dan diterima oleh penerima informasi yang
bertujuan mengurangi kesalahan-kesalahan dan meningkatkan
keselamatan pasien. Komunikasi efektif yang digunakan yaitu
menggunakan metode SBAR (Situation, Background, Assesment,
Recommendation). SBAR digunakan pada saat berkomunikasi dengan tim
kesehatan yang lain, timbang terima, berkomunikasi dengan teman
sejawat, konsultasi pasien, dan melaksanakan informed consent.
SBAR juga digunakan pada saat komunikasi atau perintah secara
verbal ataupun telepon, staf yang menerima pesan harus menuliskan dan
membacakan kembali kepada pemberi pesan dan dalam pemberi pesan
harus menandatangani dalam waktu 1x 24 jam. Kolom comunicator yang
ditandatangani oleh perawat yang menerima dan kolom advisor yang
ditandatangani oleh dokter yang memberikan advice. Sasaran
60
Peningkatan komunikasi yang efektif meliputi standart yaitu
1. Perintah lisan dan yang melalui telfon ataupun hasil pemeriksaan yang
di tuliskan secara lengap oleh penerima perintah atau hasil
pemeriksaan tersebut
2. Perintah lisan dan melalui telfon atau hasil pemeriksaan secara
lengkap di bacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil
pemeriksaan tersebut
3. Perintah atau hasil pemeriksaan di konfirmasi oleh individu yang
memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut
4. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik yang konsisten dalam
melakukan verifikasi terhadap akurasi dan komunikasi lisan melalui
telfon.

61
Berdasarkan hasil pengkajian 19
januari 2021 di Ruang Teratai atas
bagian barat penerapan komunikasi
efektif yang sudah diterapkan yaitu
menggunakan metode SBAR.